Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Program pemberantasan penyakit TB Paru yang telah digalakkan dan
dilaksanakan dengan strategi DOTS yang direkomendasikan oleh WHO yang terdiri
atas lima komponen berkaitan yaitu : (a) Komitmen politis dari pemerintah yaitu
untuk bersungguh-sungguh menanggulangi TB Paru, (b) Diagnosis penyakit TB Paru
melalui pemeriksaan dahak secara mikroskopis, (c) Pengobatan TB Paru dengan
paduan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) jangka pendek dengan pengawasan langsung
oleh Pengawas Minum Obat (PMO), (d). Kesinambungan persediaan OAT jangka
pendek untuk penderita dan (e) Pencatatan dan pelaporan secara baku untuk
memudahkan pemantauan dan evaluasi program penanggulangan TB Paru (Depkes
RI, 2009).
DOTS adalah strategi yang komprehensif untuk digunakan oleh pelayanan
kesehatan primer di seluruh dunia, untuk mendeteksi dan menyembuhkan pasien TB
Paru. Dengan menggunakan strategi DOTS, maka proses penyembuhan TB Paru
dapat berlangsung dengan cepat. DOTS bertujuan untuk memutuskan rantai
penularan di masyarakat dengan mengobati penderita BTA positif sampai sembuh
(Depkes RI, 2007)
Badan kesehatan dunia WHO (2002), memperkirakan sepertiga dari populasi
dunia telah terinfeksi kuman TB paru. Diperkirakan 95 % penderita TB paru berada
di negara berkembang di Asia pada saat ini terdapat 4.5 juta kasus TB paru dari 9

juta kasus yang di perkirakan terdapat di dunia, berarti lebih kurang 50% penyakit di
negara berkembang

terutama

menyerang umur yang

masih

produktif

yaitu dibawah umur 50 tahun sedangkan pada negara industri pada umur lebih tua
(Surde dkk, 1992).

Diperkirakan sekitar sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh


Mycobacterium tuberculosis, diperkirakan 95% kasus TB dan 98% kematian akibat
TB didunia terjadi pada Negara-negara berkembang. Demikian juga kematian wanita
akibat TB lebih banyak daripada kematian karena kehamilan, persalinan dan nifas.
Sekitar 75% pasien TB adalah kelompok usia produktif secara ekonomis (15-50
tahun). Diperkirakan seorang pasien TB dewasa akan kehilangan rata-rata waktu
kerjanya 3-4 bulan yang berakibat kehilangan pendapatan tahunan rumah tangganya
sekitar 20-30% (Depkes RI, 2008). Tuberkulosis paru (TB paru) adalah penyakit
infeksi yang dapat menyerang berbagai organ tubuh dan merupakan penyakit yang
paling banyak di jumpai di dunia (Depkes RI, 2008). TB paru merupakan penyakit
infeksi yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang penting atau serius
di berbagai bagian dunia termasuk Indonesia.
Jumlah TB paru di Indonesia 10% merupakan yang tertinggi di dunia setelah
India 30% dan Cina 15 %. Diperkirakan jumlah kasus TB paru bertambah lebih dari
setengah juta tiap tahunya dimana separuh diantaranya adalah kasus BTA positip
menular. Penanggulangan TB paru dengan melaksanakan strategi DOTS (Directly
observed

treatmen shortcourse chemoterapi) secara baik akan meningkatkan

harapan hidup dan memperpanjang umur penderita (Depkes RI, 2008).


Pada Tahun 1998 kesembuhan di Indonesia dilaporkan sudah mencapai 87%
namun cakupan penemuan penderita mencapai kurang lebih 10% (Kurang dari70%).

Berdasarkan perkiraan WHO bila cakupan dapat mencapai minimal 70% dengan
angka kesembuhan 85% dan dipertahnkan hingga thun 2005 maka dapat
menurunkan insiden TB sampai 50%. (Depkes RI, 2000). Angka kesembuhan
dibawah 70% dapat mengakibatkan masalah TB dan resistensi obat akan meningkat
Penderita TB Paru dengan BTA Positif yang tidak sembuh dapat menimbulkan
resisten terhadap obat anti tubercolosis (OAI) terutama resisten sekunder yang
dikarenakan pengobatan yang tidak lengkap dan tidak teratur (Aditama, 2000).
Di Indonesia diperkirakan terjadi 140.000 kasus kematian akibat TB Paru. Pada
Tahun 2004-2005 di Indonesia jumlah penderita TB Paru meningkat dari 128.981
kasus (54%) menjadi 156.508 (67%) kasus. Masalah TB di Indonesia sangat besar
karena setiap tahun meningkat/bertambah 250.000 kasus baru TB Paru. Karena
Indonesia menduduki peringkat ke tiga terbesar setelah India dan Cina. Jumlah ini
akan terus bertambah mengingat setiap orang yang terinfeksi TB Paru akan
menularkan kepada 10-15 orang setiap tahunnya. Bahkan dinyatakan setiap detik
orang terinfeksi TB Paru. Berdasarkan data SKRT menunjukkan bahwa penyebab
kematian terbesar setelah kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan dan
merupakan nomor satu terbesar kelompok infeksi (IDI, 2006).
TB paru merupakan salah satu masalah utama kesehatan masyarakat indonesia.
Survei

kesehatan rumah tangga (SKRT) 1995 menunjukan bahwa

TB paru merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit kardiovaskuler


dan penyakir saluran pernapasan pada semua kelompok usia, dan nomor satu dari
golongan penyakit infeksi di indonesia. Sebagian besar penderita TB paru maupun
ekstrapulmonal berasal dari kelompok masyarakat usia produktif dan lapisan
ekonomo sosial ekonomi rendah (Depkes RI 2008).

Adapun faktor-faktor yang menyebabkan tidak sembuhnya pasien tubercolosis


paru adalah tingkat pengetahuan pasien penderita tubercolosis paru, lingkungan
tempat tinggal, dukungan dari keluarga, status gizi serta ketidak patuhan pasien
didalam meminum obat Anti Tuberculosis (OAT) selama proses pengobatan
(Depkes, 2002).
Tingkat kesembuhan pada pasien tubercolosis paru dengan pengetahuan yang
lebih tinggi seputar penyakit TB paru dan cara pengobatannya lebih besar dari pasien
dengan berpengetahuan rendah, seperti penelitian yang dilakukan oleh Sri Ningsih
(2004) di kecamatan Tirto Kabupaten Pekalongan menunjukkan nilai OR 10,000
(95% CI:3,091-32,356), artinya pasien yang memiliki pengetahuan yang lebih tinggi
yang menderita Tubercolosis paru mempunyai peluang 10 kali untuk sembuh
dibandingkan dengan pasien dengan berpengetahuan rendah.
Sedangkan tingkat kesembuhan pada pasien tubercolosis paru yang diakibatkan
oleh kepatuhan dalam meminum obat serta peran serta dari pengawas minum obat
memberikan dampak yang positif pada tingkat kesembuhan penderita Tubercolosis
paru, penelitian yang dilakukan oleh Sudarno (2000) menunjukkan bahwa hampir
50% penderita sembuh oleh karena kepatuhan dan peran serta pengawas minum obat
(Ariani, 2006).
Untuk mencapai kesembuhan diperlukan keteraturan atau kepatuhan berobat
bagi setiap penderita. Paduan obat anti tuberkulosis jangka pendek dan penerapan
pengawasan minum obat merupakan strategi untuk menjamin kesembuhan penderita,
walaupun obat yang digunakan baik tetapi bila penderita tidak berobat dengan teratur
maka umumnya hasil pengobatan akan mengecewakan. Kenyataan lain bahwa
penyakit TB Paru sulit untuk disembuhkan karena obat yang diberikan harus

beberapa macam sekaligus serta pengobatannya makan waktu lama, setidaknya 6


bulan sehingga menyebabkan penderita banyak yang putus berobat. Hal ini yang
menjadi penyebabnya adalah kurangnya perhatian pada tuberkulosis dari berbagai
pihak terkait, akibatnya program penanggulangan TB di berbagai tempat menjadi
amat lemah (Dinkes, 2005).
Berdasarkan data tersebut, bahwa angka kesembuhan penderita TB Paru belum
bisa mencapai target yang ditetapkan yaitu angka kesembuhan minimal 85%.
Keadaan ini memperihatinkan, padahal Depkes RI telah menyediakan obat gratis
bagi penderita TB Paru yang berobat ke puskesmas. Masih rendahnya cakupan angka
kesembuhan berdampak negatif pada kesehatan masyarakat dan keberhasilan
pencapaian program, karena masih memberi peluang terjadinya penularan penyakit
TB Paru kepada anggota keluarga dan masyarakat sekitarnya. Selain itu
memungkinkan terjadinya resistensi kuman TB Paru terhadap Obat Anti
Tuberkulosis (OAT), sehingga menambah penyebarluasan penyakit TB Paru,
meningkatkan kesakitan dan kematian akibat TB Paru.
Pelaksana penaggulangan penyakit TB paru di Puskesmas Muara Saring sudah
memberikan hasil yang cukup bermakna, akan tetapi belum memperlihatkan hasil
yang cukup memuaskan tetapi. Data rekam medik puskesmas Muara Saring di
Kabupaten Empat Lawang bahwa tercatat jumlah penderita TB paru positif selama
tahun 2012 sebanyak 52 orang dan tahun 2009 mencapai 109, tahun 2010 berjumlah
112 orang, serta tahun 2011 sebanyak 120 orang, dilihat dari tren cenderung
meningkat, hal ini disebabkan beberapa faktor diantaranya penjaringan yang kurang,
banyaknya penderita yang tidak patuh minum obat dan kurangnya pengetahuan
penderita TB paru.

Data yang diperoleh dari Puskesmas Kelobak pada tahun 2008 terdapat 25
orang BTA positif (+) yang mendapatkan pengobatan, tahun 2009 terdapat 28 orang
BTA (+) serta tahun 2010 sebanyak 29 orang, tahun 2011 sebanyak 32 orang (Data
Puskesmas Kelobak 2008-2011). Dari data tersebut masih tingginya angka kejadian
penyakit TB paru di wilayah puskesmas kelobak, disamping itu yang lebih utama
adalah kurangnya pengetahuan dan kepatuhan penderita, masyarakat dan petugas
kesehatan dalam pencegahan dan penularan TB paru, antara lain tidak teraturnya
penderita minum obat yang dapat mengakibatkan resistensi dan kurangnya promosi
TB paru yang berdaya guna dan berhasil guna. Oleh sebab itu, perlunya upaya
promosi yang lebih intensif. Promosi TB paru yang intensif tersebut diharapkan
dapat meninggkatkan dukungan politis para penentu kebijakan penyandang dana,
dukungan lintas sektoral, meninggkatkan peran aktif LSM dan kelompok potensial
dalam masyarakat, meningkatakan motivasi petugas dalam mengubah prilaki
masyarakat dan penderita dalam pengobatan dengan pendekatan DOTS (Depkes RI
2008).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas permasalahan yang ingin diketahui dalam penelitian
ini adalah masih rendahnya angka kesembuhan penderita TB paru di bandingkan
dengan target sehingga pertanyaan penelitian adalah apakah ada hubungan antara
kepatuhan minum obat dengan tingkat kesembuhan penderita tuberculosis paru?

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kepatuhan
minum obat penderita penyakit tuberculosis paru dengan kesembuhan di
Puskesmas Kelobak Kepahiang.
2. Tujuan Khusus
a. Diketahuinya gambaran kepatuhan penderita minum obat, dan kesembuhan
penderita tuberculosis paru di Puskesmas Kelobak Kepahiang.
b. Diketahuinya hubungan kepatuhan minum obat penderita tuberculosis paru
dengan kesembuhan.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Puskesmas
Hasil penelitiani ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi pihak terkait,
terutama puskesmas kelobak dan Dinas Kesehatan Kabupaten Kepahiang. Hasil
penelitian ini di harapkan dapat menjadi pertimbangan bagi puskesmas dan dinas
kesehatan dalam melaksanakan program penanggulngan penyakit TB paru
dimasa yang akan datang.
2. Bagi Instansi Terkait
Dapat menjadi pertimbangan bagi dinas kesehatan kepahiang dalam pelaksaan
program penanggulangan penyakit tuberculosis paru dimasa yang akan datang.
3. Bagi Instansi Pendidikan
Dari hasil penelitian nanti dapat dijadikan bahan masukan dan pertimbangan
dalam penelitian terutama yang berhubungan dengan penyakit tuberculosis paru

4. Bagi Penulis
Sebagai sarana untuk menerapkan teori yang telah diperoleh selama mengenal
metodelogi penelotian dan dapat mengetahui hubungan kepatuhan minum obat
penderita tuberculosis paru dengan kesembuhan di puskesmas kelobak

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tuberculosi Paru
1. Pengertian
TB Paru merupakan penyakit infeksi menular langsung yang di sebabkan
oleh kuman (mycobacterium tuberculosis) dan miobacterium bovis. Kuman ini
ditemukan oleh Robert Koch pada tahun 1882. Sebagian besar kuman TB paru
menyerang paru, tetapi dapat juga menyerang organ tubuh lainya (Depkes RI,
2008).
TB paru adalah suatu infeksi yang disebabkan oleh bakteri myobacterium
tuberculosis dengan gejala yang bervariasi (Mansjoer, 1999). Menurut Brunner
dan Sudarth tahun 2001 bahwa TB paru adalah penyakit infeksi yang terutama
menyerang parenkrim paru dan menurut pengertian prience tahun 1995 bahwa
TB paru adalah penyakit yang di kendalikan oleh respon imunitas perantara sel.
Kuman ini berbentuk batang mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap
asam pada pewarna. Oleh karena itu disebut pula sebagai Basil Tahan Asam
(BTA). Kuman TB paru cepat mati dengan matahari langsung, tetapi dapat
bertahan hidup beberapa jam di tempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan
tubuh kuman ini dapat dormant, tertidur lama selama beberapa tahun. Sebagian
besar kuman tuberculosis menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ lain
(Depkes RI, 2008).
TB paru adalah penyakit menular langsung yang di sebabkan oleh kuman
myobacterium lainya, kuman tuberculosis dapat di tularkan oleh penderita

10

tuberculosis paru BTA positif dengan cara batuk-batuk, bersin dan bicara,
penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak (Droplet
9
Nuclei). Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak.droplet
yang mengandung kuman dapat bertahan di udara pada suhu kamar beberapa
jam,orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup ke dalam saluran
pernafasan. Setelah kuman TB paru masuk ke dalam tubuh manusia melalui
pernafasan, kuman TB paru tersebut dapat menyebar dari paru, saluran nafas atau
penyebaran langsung ke bagian bagian tubuh lainnya. Daya penularan dari
seorangpenderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari
parunya.makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak, makin menular
penderita tersebut. Bila hasil pemeriksaan dahak negatif (tidak terlihat
kuman),maka penderita tersebut dianggap tidak menular (Depkes RI, 2008).
2. Diagnosis Penderita Tuberculosis
Diagnosis TB paru dapat ditegakkan melalui pemeriksaan anamnesis,
pemeriksaan fisik, pemeriksaan radiologik, pemeriksaan bakteriologik dan
pemeriksaan uji tuberkulin.
a. Diagnosis penderita tuberkulosis
Gambaran klinik TB paru dibagi atas dua golongan,yaitu gejala
sistemik dan gejala respirotorik.gejala sistemik berupa demam, lesu,
anoreksia, berat badan menurun, rasa kurang enak, badan (malise), mudah
lelah, berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan. Gejala respirotorik yang
dapat dijumpai adalah batuk terus menerus dan berdahak selama 3 minggu
atau lebih, dahak bercampur darah, batuk juga ditanyakan riwayat berikut :
1) Pernah menderita TB paru atau kontak dengan pasien TB paru
2) Pengobatan dengan OAT :jenis obat,lama pengobatan,hasil pengoabatan
3) Imunisasi BCG

11

Sedangkan pada pasien aanak perlu ditambah kan anamnesis untuk


mengidentifikasikan hal-hal berikut : panas > 2 episode tanpa sebab,
riwayat tes tuberkulin positif.
b. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik perlu di catat kesadaran dan keadaan umum
pasien, keadaan gizi, serta tinggi dan berat badanya. Meskipun seringkali di
temukan passien yang kurus, ada juga pasien gemuk dengan TB paru.hasil
pemeriksaan paru bergantung pada luas dan kelainan struktur paru.pada
permulaan penyakit, umumnya tidak didapati kelinan (Depkes RI, 2008)
c. Pemeriksaan Radilogik
Tidak ada gambaran foto rongent dada yang khas untuk TB paru.
Beberapa gambaran yang patut dicurigai sebagai proses spesifik, adalah infiltrat,
kavitas, kalsivikasi dan fibrosis (pembentukan jaringan ikat pada proses
pemulihan atau reaktif) dengan lokasi lapangan atas paru (Depkes RI, 2008).
gambaran non spesifik yang ditemukan pada foto rontgen dada pada seorang
penderita yang diduga infeksi paru lain dan tidak menunjukan perbaikan pasa
pengobatan dengan atibiotik, ada kemungkinan penyebabnya adalah TB paru.
Pemeriksaan rongent toraks mutlak dikerjakan dengan maksud :
1) Untuk diagnosis (hanya bila BTA negatif )
2) Untuk mengetahui luasnya kerusakan paru
3) Untuk memantau kemajuan pengobatan
d. Pemeriksaan bakteriologik (Depkes RI,2008)
Dalam program penaggulangan TB paru, diagnosis ditegakkan melalui
pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung. Diagnosis pasti TB paru
ditegakkan bila ditemukan hasil mtibacterium tuberculosis pada pemeriksaan
langsung dan/kultur dahak. Pemeriksaan biakan /kultur dahak dilakukan bila
fasilitas memungknkan .
Pasien dengan dahak positif adalah pasien dengan :

12

1) Pemeriksaan dahak dengan sekurang-kurangnya 2 sediaan positif secara


mikroskopik,atau
2) Pemeriksaan dahak 1 sediaan positif secara mikroskopik dengan gambaran
radiologik yang sesuai,atau
3) Pemeriksaan dahak 1 sediaan positif secara mikroskopik dan biakan positif
dengan cara :
a) Dahak yang diperiksa adalah dahak pada waktu datang pemeriksaan
pertama kali (sewaktu, S), esok pagi (P), dan sewaktu (S) ketika datang
mengatur dahak (SPS).
b) Dahak kemudian dibuat sediaan lalu dilakukan pewarnaan Zielh Nielsen
dan diperiksa dibawah mikroskop
e. Pemeriksaan Uji Tuberkulin
Uji tuberkulin masih merupakan pemeriksaan yang paling murah dan
penting untuk mengethui dan mendeteksi infeksi tuberkulosis. Uji ini sangat
bermanfaat pada penduduk yang tinggal di daerah prev alensi tuberkulosis
rendah, sedangkan di indonesia kurang bermanfaat kecuali bila di dapatkan
konversi dari uji yang dilakkukan atau kepositifan uji yang didapat besar
sekali.
3. Klasifikasi Penyakit dan tipe Penyakit
Penentuan klasifikasi penyakit dan tipe penderita penting dilakukan untuk
menetapkan panduan OAT yang sesuai dan dilakukan sebelum pengobatan
dimulai.
a. Klasifikasi penyakit
1) Tuberkulosis Paru
Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan paru,tidak
termasuk pleura (selaput paru) Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak, TB
paru dibagi dalam :
a) Tuberkulosis paru BTA Positip

13

Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA

positif
1 spesimen dahak SPS haslnya BTA positif dan foti rongent dada

menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif.


1 spesimen dahak SPS hasilnya BTApositif dan biakan kuman TB

positif.
1 atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3 sepesimen
dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif

dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotik non OAT


b) Tuberkulosis paru BTA negatif
- Pemeriksaan 3 spesimen daha SPS hasilnya BTA negatif
- Foto rongent dada menunujkan gambaran tuberkulosis aktif.
- Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT
- Ditentukan
(dipertimbangkan ) oleh dokter untuk diberi
pengobatan ( Depkes RI,2008)
2) Tuberkulosis ekstra paru
Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru, misalnya
pleura, selaput otak, selaput jantung, kelenjar limfe, tulang, persendian,
kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat kalamin dan lain-lain. Berdasarkan
tingkatan penyakit ini dibedakan menjadi dua golongan yaitu TBC ekstra
paru ringan dan TBC ekstra paru berat (Depkes RI 2008).
b. Tipe penyakit
Menurut Depkes RI 2008 tipe penderita dibedakan berdasarkan riwayat
pengobatan yaitu sebagai berikut :
1) Kasus baru
Adalah penderita yang belim pernah diobati dengan OAT atau sudah
pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (30 dosis harian).
2) Kambuh (relaps)
Adalah penderita tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat
pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh, kemudian kembali
lagi berobat dengan hasil pemeriksaan dahak BTA positif (apusan atau
kultur ).

14

3) Pengobatan setelah putus berobat (defult)


Adalah pasien yang telah berobat dan putus berobat 2 bulan atau lebih
dengan BTA positif.
4) Gagal (failur)
Adalah penderita BTA positif yang masih tetap positif atau kembali
menjadi positif pada akhir bulan ke 5 (satu bulan sebelum, akhir
pengobatan).
5) Pindahan (Transfer in)
Adalah pasien yang di pindahkan dari UPK yang memiliki register TB lain
untuk melanjutkan pengobatannya.
6) Lain-lain
Adalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan di atas. Dalam
kelompok ini termasuk kronik, yaitu pasien dengan hasil pemeriksaan masih
BTA positif setelah selesai pengobatan ulangan.
4. Hasil Pengobatan Tuberkulosis Paru
Tujuan pemberian OAT adalah untuk menyembuhkan penderita, mencegah
kematian, mencegah kekambuhan dan menurunkan tingkat penularan. Prinsip
pengobatan adalah menggunakan kombinasi beberapa jenis obat dalam jumlah
cukup dan dosis serta jangka waktu yang tepat (Depkes RI 2008).
Obat TB paru diberikan dalam bentuk kombinasi dari beberapa jenis,
dalam julah cukup dan dosis tepat selam 6-8 bulan, supaya semua kuman
(termasuk kuman persister) dapat dibunuh. Dosis tahap intensif dan dosis tahap
lanjutan ditelan sebagai dosis tunggal, sebaiknya saat perut kosong. Apabila
panduan obat yang digunakan tidak adekuat (jenis, dosis dan jangka waktu
pengobatan) kuman TB paru akan berkembang menjadi kuman kekal obat
(resisten). Untuk menjamin kepatuhan penderita menelan obat, pengobatan perlu
dilakukan dengan pengawasan langsung oleh seorang pengawas menelan obat
(PMO) (Depkes RI 2008). Hasil pengobatan seorang penderita dapat

15

dikategorikan sebagai sembuh, pengobatan lengkap, meninggal, pindah, lalai dan


drop out.
5. Pengobatan Tuberkulosis Paru
a. Prinsip Pengobatan
Obat TB paru diberikan dalam bentukkombinasi dari beberapa jenis dalam
jumlah cukup dan dosis tepat selama 6-8 bulan supaya semua kuman termasuk
persister dapat di bunuh. Dosi tahap intensif dan dosis tahap lanjjutan ditelan
sebagai dosis tunggal, sebaiknya pada saat perut kosong. Pengobatan TBC
diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif dan lanjutan.
1) Tahap intensif
Pada tahap awpenderita mendapat obat setiap hari dan diawasi langsung
untuk mencegah terjadinya kekebalan terhadap semua OAT.bila diberikan
secara tepat maka penderita yang menular dalam kurun 2 minggu.
Penderita TBC positif menjadi negatif pada akhir pengobatan intensif.
2) Tahap lanjutan
Pada tahap ini penderita mendapat jenis obat lebih sedikit namu dalam
jangka waktu lebih lama. Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman
persister sehingga mencegah terjadinya kekambuhan (Depkes RI,2008).
b. Panduan Obat
Tahap intensif terdiri dari Isoniazid (H), Rimfampisin (R), Pirasinamid (Z)
dan Etambutol (E). Obat-obatan tersebut diberikan setiap hari selama 2 bulan
(2 HRZE). Kemudian dilanjutkan dengan tahap lanjutan yang terdiri dari
Isoniazid (H) dan Rimfampisin (R), diberikan 3 kali dalam seminggu selama 4
bulan (4 H3R3). Satu paket kombipak kategori 1 berisi 114 blister harian yang

16

terdiri dari 60 blister HRZE untuk tahap intensif dan 54 blister HR untuk
tahap lanjjutan masing-masing dikemas dalam 1 dos besar (Depkes RI 2008).
1) Panduan obat untuk kategori I
a) Fase intensif 2 HRZE
Bila setelah fase intensif BTA menjadi negatif,pengobatan
diteruskan dengan fase lanjutan.
Bila setelah 3 bulan dahak masih tetap positif, fase intensif

diperpanjang 1 bulan lagi dengan HRZE. Bila setelah 4 bulan dahak


masih tetap positif, pengobatan dihentikan 2-3 hari, lalu diperiksa
Dan tes resisten kemudian fase lanjutan diteruskan tanpa menunggu
hasil tes. Bila hasil tes menunjukkan adanya MDR, bila
memungkunkan penderita dirujuk ke unit pelayanan spesialistik
untuk dipertimbangkan pengobatan dengan obat sekunder.
Bila pasien mempunyai data resisten sebelumnya dan ternyata

kuman masih sensitif terhadap semua obat dan setelah fase intensif
dahak menjadi negatif, fase lanjutan diubah seperti pada kategori
dengan pengawasan yang ketat.
b) Fase lanjutan 5 H3R3E3 atau 5 HRE
- Dilakukan pemeriksaan ulang dahak pada sebulan sebelum akhir
pengobatan (bulan ke-7) bila negatif teruskan pengobatan, bila
-

positif menjadi kronik.


Pemeriksaan ulang dahak pada akhir pengobatan bila negatif
penderita sembuh bila positif menjadi kasus kronik (Depkes RI

2008).
2) Panduan obat untuk kategori II
a) Fase intensif 2 HZR
- Bila setelah dua bulan dahak menjadi tetap negatif,fase lanjutan
-

dapat dimulai.
Bila setelah 2 bulan dahak masi tetap positif,ubah panduan
pengobatan menjadi kategori II.

17

b) Fase lanjutan 4 HR atau 4 H3R3 atau 6 HE


c) Tidak ada pemeriksaan ulang dahak sebulan sebelum akhir pengobatan
atau diakhir pengobatan (Depkes RI 2008).
3) Panduan obat kategori III
a) Prioritas pengobatan rendah karena kemingkkinan keberhasilan
pengobatan kecil sekali.
b) Untuk pasien yang kurang mampu dapat diberikan H saja seumur
hidup.
c) Untuk pasien mampu,pemberian obat dicoba berdasarkan hasil uji
resistensi dan obat-obatan sekunder. (Depkes RI 2008).
6. Efek Samping Obat Anti Tuberkulosis (OAT)
a. efek samping ringan
Adapun efek samping ringan dari OAT adalah tidak ada nafsu makan, mual,
sakit perut, nyeri, kesemutan sampai dengan rasa terbakar di kaki dan warna
kemerahan pada air seni (urine)
b. Efek samping berat
Sedangkan efek samping berat dari OAT yaitu gatal dan kemerahan kulit, tuli,
gangguan keseimbangan, ikterus tanpa penyebab lain, muntah-muntah,
gangguan penglihatan dan syok (Depkes RI 2008)
7. Pengawas Menelan Obat (PMO)
Istilah ini diartikan sebagai pengawasan langsung menelan obat jangka pendek
setiap hari oleh pengawasan menelan obat (PMO) (Depkes RI 2008). Strategi
DOTS sesuai dengan rekomendasi WHO yang terdiri dari 5 komponen komitmen
politis dari para pengambil keputusan, termasuk dukungan dana
a. Diagnosa tuberkulosis paru dengan pemeriksaa dahak secara mikroskopik

18

b. Pengobatan dengan panduan OAT jangka pendek dengan PMO


c. Keseimbangan persediaan OAT jangka pendek dengan mutu jaminan
d. Pencatatan dan pelaporan secara baku untuk memudahkan pemantauan dan
evaluasi program penanggulangan tuberkulosis paru.
1) Tujuan DOATS
Program ini bertujuan untuk mencapai angka kesembuhan yang tinggi,
mencegah putus berobat, mengatasi efek samping obat jika timbul dan
mencegah resistensi.
2) Pasien Berobat jalan
Bila pasien diperkirakan mampu datang teratur, mosal tiap minggu sekali,
paramedis atau petugas sosial dapat berfungsi sebagai PMO serta
menampingi penderita menelan setiap dosis pengobatan baik setiap hari
mampu secara berkala 3 kali seminggu, sehingga prinsip DOTS
terlaksana.tetapi bila pasien diperkirakan tidak mampu datang secara
teratur, sebaiknya dilakukan koordinasi dengan puskesmas terdekat.
Rumah PMO harus dekat dengan rumah pasien TBC untuk pelaksanaan
DOTS ini.
3) Pelaksaan DOATS
Sebelum pengobatan dimulai, pasien diberitahukan bahwa harus
ditetapkan dahulu seorang PMO. PMO kemudian harus datang ke
poloklinik untuk diberi pelatihan singkat tentang DOTS.
4) Persyaratan PMO yaitu :

19

a) Seseorang yang di kenal, di percaya dan di setujui, baik oleh petugas


kesehatan mampu pasien, selain itu harus disegani dan di hormati oleh
pasien.
b) Seseorang yang tinggal dekat dengan pasien
c) Bersedia di latih dan atau mendapat penyuluhan bersama-sama dengan
pasien
5) Tugas PMO yaitu :
a) Mengawasi pasien TB agar menelan obat secara teratur sampai selesai
pengobatan
b) Memeberikan dorongan kepada pasien agar mau berobat teratur.
c) Mengigatkan pasien untuk periksa ulang dahak pada waktu yang telah
di tentukan.
d) Memberi penyuluhan pada anggota keluarga pasien TB untuk segera
memeriksakan diri ke unit pelayanan kesehatan.
6) Informasikan penting yang di pahami PMO untuk di sampaikan kepada
pasien da keluarganya :
a) TB disebabkan kuman,bukan penyakit keturunan atau kutukan
b) TB dapat di sembuhkan dengan berobat secara teratur
c) Cara penularan TB, gejala-gejala yang mencurigakan dan cara
pencegahannya.
d) Cara pemberian pengobatan pasien (tahap intensif dan lanjutan)
e) Pentingnya pengawasan supaya pasien berobat secara teratur
f) Kemingkinan terjadinya efek samping obat dan perlunya segera
meminta pertolongan ke UPK (Depkes RI 2008)

20

B. Motivasi
C. Hubungan Motivasi Pasien Tuberkulosis Paru Dengan Kesembuhan
Perilaku kesehatan pada dasarnya adalah respon seseorang (organisme) terhadap
stimulasi yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan,
makanan serta lingkungan. Batasan ini mempunyai 2 unsur pokok yaitu respon dan
stimulasi atau rangsangan.respon atau reaksi manusia atau baik bersifat pasif
(pengetahuan, sikap) maupun bersifat aktif (tindakan nyata) sedangkan stimulasi atau
rangsangan disni terdiri dari 4 unsur pokok yaitu sakit dan penyakit, sistem pelayanan
kesehatan, makanan dan lingkungan (Notoatmodjo, 2003).
Menurut Notoatmodjo, (2003) perilaku kepatuhan minum obat tidak mempunyai
batasan yang jelas atau tegas, adapun pembagian perilaku kepatuhan tersebut yaitu
terdiri dari :
1) Sikap
Merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap
sesuatu stimulus atau objek (Notoatmodjo, 2003). Sikap mempunyai 3 komponen
pokok yaitu kepercayaan, kehidupan emosional atau evaluasi emosional terhadap
objek dan kecenderungan bertindak
2) Praktek atau tindakan
Menurut teori funsi dalam Notoatmodjo (2003) bahwa tindakan idividu dilatar
belakangi oleh kebutuhan individu yang bersangkutan. Menurut teori fungi tindakan
mempunyai fungsi instrumental artinya dapat berfungsi sebagai mekanisme
pertahanan dalam menghadapi lingkungannya, dapat sebagai fungsi penerima objek
dan pemberi arti yang senantiasa menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan
dapat juga sebagai fungsi nilai ekspresif dari diri seseorang dalam menjawab suatu
situasi yang berasal dari konsep diri dan merupakan pencerminan dari hati sanubari.
D. Kerangka Konsep

21

Berdasarkan latar belakang dan tinjauan pustaka di atas maka kerangka


konseptual tentang hubungan tingkat pengetahuan dan kepatuhan minum obat pada
pasien tuberculosis dengan kesembuhan di Puskesmas Kelobak Kepahiang pada
penelitian ini adalah :

Kepatuhan minum Obat

Status Gizi

Pelayanan Kesehatan

Pengetahuan

Gambar 2.1. Kerangka Konsep Variabel independen dan dependen

KESEMBUHAN

Keterangan
= Faktor Yang Diteliti
= Faktor Yang Tidak Diteliti
E. Hipotesis
Adanya hubungan antara kepatuhan minum obat penderita TB paru dengan tingkat
kesembuhan dalam pengobatan penyakit TB paru di puskesmas kelobak kepahiang.

22

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Sifat penelitian adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional
study. Dalam penelitian ini dicari hubungan antara variabel indenpenden (perilaku
kepatuhan minum obat penderita tuberkulosis) dengan variabel dependen
(kesembuhan penderita TBC paru) sekaligus dalam satu waktu.
B. Desain penelitian

Sembuh
Baik

Kepatuhan
Minum Obat

PENDERITA
TB PARU

Tidak Sembuh

Sembuh
Tidak Baik
Tidak Sembuh
Gambar 3.2. Desain penelitian penderita Tuberkulosis

C. Definisi Operasional
Tabel 3.1 Definisi Operasional Variable Independet Dan Dependen
27
NO

Variable

Definisi Operasional

Perilaku
Kepatuhan
Minum Obat
Pendrita TB
Paru

Penderita TB Paru yang


telah
melaksanakan
pengobatan
dengan
minum obat setiap hari
tanpa
berhenti/putus
selama
6
bulan

Cara Ukur

Wawancara

Hasil ukur

1= Patuh
2= Tdk Patuh

Skala
Ukur
Nomina
l

23
pengobatan.
3

Kesembuhan

Pasien
telah
menyelesaikan
pengobatannya secara
lengkap
dan
pemeriksaan
ulang
dahak
(Follow-up)
hasilnya negatif pada
akhir pengobatan (AP)
dan
minimal
satu
pemeriksaan follow-up
sebelumnya negatif

Studi
Dokumentas
i

1= Sembuh

Nomina
l

2= Tdk Sembuh

D. Populasi dan Sampel


1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan dari objek penelitian atau yang diteliti
(Notoatmodjo, 2005). Populasi dalam penelitian semua penderita TB paru BTA
(+) di wilayah kerja Puskesmas Kelobak Kepahiang tahun 2011 yang berjumlah
2.

32 orang.
Sampel
Sampel adalah sebagian besar keseluruhan objek penelitian yang dianggap
mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2005). Dalam penelitian ini sampel
yang digunakan adalah total sampling

E. Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilaksnakan di wilayah Dinas Kesehatan Kabupaten Kepahiang
yang melaksanakan Strategis DOTS dalam penanggulangan penyakit TB Paru
sedangkan waktu penelitian dilakukan pada bulan Maret 2012.
F. Metode Pengambilan Data
Metode pengambilan data dalah cara yang digunakan untuk mengumpulkan
data (Arikunto, 2003). Adapun pengumpulan data dilakukan dengan cara
mengunjungi rumah responden lalu melakukan wawancara terstruktur dengan
menggunakan kuesioner yang telah dirancang khusus dan wawancara tidak

24

terstruktur untuk data kualitatif. Sedangkan untuk menemukan penderita


Tuberculosis paru diperoleh dari data Puskesmas dan waktu kunjungan diikut
sertakan petugas Puskesmas.
G. Teknik Analisa Data
Tekhnik analisa data yang digunakan adalah
1. Analisis Univariat
Data-data ditampilkan dalam bentuk distribusi frekuensi, selanjutnya
dilakukan interpretasi secara deskriptif. Analisa univariat ini untuk memperoleh
gambaran pada masing-masing variabel
Analisa ini bertujuan untuk menggambarkan distribusi frekuensi masingmasing variabel penelitian dengan menggunakan ukuran proporsi (Arikunto,
2002)
Dengan Rumus
P=

f
= x 100%
n

Keterangan : P : Proporsi / jumlah persentase


f : Jumlah responden setiap kategori
n : Jumlah Sampel
2. Analisis Bivariat
Untuk melihat hubungan antara variabel idependen (Kepatuhan minum
obat) dengan variabel dependen (Kesembuhan), Uji Statistik yang digunakan
adalah Chi-Square, jika df = 1, dengan tingkat kemaknaan 95% (=0,05). Analisa
ini bertujuan untuk mengetahui hubungan atau perbedaan antara satu variabel
independen dengan variabel dependen. Setelah data terkumpul dalam bentuk

25

tabel distribusi frekuensi, selanjutnya harga Chi-Square dapat dihitung dengan


rumus sebagai berikut (Prasetyo, 2002).

Keterangan :
X

: Chi-Square

: Jumlah Populasi

Untuk melihat keeratan hubungan dua variabel yaitu :

N (ad-bc)
X =
(a+c) (b+d) (a+d) (c+d)

1. Jika P value (0,05), Ho ditolak, berarti ada hubungan bermakna antara


variabel dependen dengan independen.
2. Jika P value > (0,05), Ho diterima, berarti tidak ada hubungan bermakna
antara variabel dependen dengan independen.

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
1.
Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Puskesmas Kelobak merupakan Puskesmas yang ada di Kabupaten
Kepahiang yang merupakan puskesmas perawatan dan mempunyai tenaga
kesehatan yang terdiri dari 2 orang dokter umum, 2 orang sarjana kesehatan
masyarakat, 3 orang sarjana keperawatan, 15 orang akademi kebidanan, 12 orang

26

akademi keperawatan, 2 orang D1 kebidanan, 1 orang tenaga perawat kesehatan, 1


orang tenaga Farmasi, 1 orang tenaga laboratorium, 1 orang tenaga SPAG dan 1
orang tenaga SD (PTT).
2.

Alur Penelitian
Izin penelitian diperoleh dari Puskesmas Kelobak dengan cara mengurus izin
penelitian dari STIKES Dehasen Bengkulu yang diteruskan ke Pemda Kepahiang
bagian Kesbanglinmas dengan melampirkan proposal yang sudah diuji, setelah itu
diteruskan ke Puskesmas Kelobak Kepahiang. Surat masuk ke ruang Tata Usaha
untuk diagendakan, kemudian dilanjutkan ke ruang Poli Umum yang ada di
Puskesmas Kelobak.
Pengisian kuesioner dilakukan oleh responden dimana pengumpulan data
dilakukan selama 1 bulan dimulai dari bulan Mei sampai dengan bulan Juni 2012,
dimana tempat penelitian adalah di Puskesmas Kelobak Kabupaten Kepahiang.

3.

Analisis Penelitian

31

Berdasarkan hasil pengumpulan data melalui pengisian kuesioner dan


wawancara langsung kepada responden sebanyak 32 orang yang kemudian diolah
dengan bantuan komputer dengan analisa data menggunakan uji statistik Chi
Square Test. maka disajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut :
a. Analisis Univariat
Analisis ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran distribusi frekuensi
variabel yang diteliti berdasarkan subjek penelitian.
1) Pengukuran Kepatuhan Minum Obat

27

Tabel 4.2
Distribusi Frekuensi Kepatuhan Minum Obat Pada Pasien TB Paru
Puskesmas Kelobak Kepahiang Tahun 2012
No
1

Kepatuhan Minum Obat


Tidak Patuh

Frekuensi
13

Persentase
40,6

Patuh
Jumlah

19
32

59,4
100

Berdasarkan tabel 4.2 dapat diketahui bahwa dari 32 orang responden


sebagian besar yaitu 59,4% adalah responden yang patuh minum obat.
2) Pengukuran Kesembuhan Pasien TB Paru
Tabel 4.3
Distribusi Frekuensi Kesembuhan Pasien TB Paru
Puskesmas Kelobak Kepahiang Tahun 2012
No
1

Kesembuhan
Tidak Sembuh

Frekuensi
15

Persentase
46,9

Sembuh
Jumlah

17
32

53,1
100

Berdasarkan tabel 4.3 dapat diketahui bahwa dari 32 orang responden


sebagian besar yaitu 53,1% adalah responden yang sembuh dari penyakit TB
Paru.
b. Analisis Bivariat
Analisis bivariat dilakukan untuk mengetahui hubungan variabel
independen (Kepatuhan Minum Obat) dengan variabel dependen (Kesembuhan)
pada pasien TB Paru di Puskesmas Kelobak Kepahiang Tahun 2012 dengan
analisis Chi-Square yang diolah menggunakan sistem komputerisasi. Dengan
hasil sebagai berikut :
Tabel 4.4
Hubungan Kepatuhan Minum Obat dengan Kesembuhan pada pasien TB Paru
di Puskesmas Kelobak Kepahiang Tahun 2012

28

Kesembuhan
Kepatuhan
Minum Obat

Tidak Patuh
Patuh
Jumlah

Jumlah
Tidak Sembuh

Sembuh

10

76,9

23,1

13

100

26,3

14

73,3

19

100

15

49,9

17

53,1

32

100

6,036

0,014

OR (95%
CI)

9,333
(1,29-5,95)

Berdasarkan tabel 4.4 di atas dapat diketahui bahwa dari 13 responden


yang tidak patuh minum obat, hampir seluruh responden 76,9% adalah
responden yang tidak sembuh dari penyakit TB Paru. Sedangkan dari 19
responden yang patuh minum obat, sebagian besar responden 73,3% sembuh
dari penyakit TB Paru. Hasil analisis Chi Square diperoleh nilai p = 0,014.
Karena nilai P < (0,05) maka secara statistik Ho ditolak dan Ha diterima,
artinya terdapat hubungan yang signifikan antara kepatuhan minum obat
dengan kesembuhan pada pasien TB Paru di Puskesmas Kelobak Kepahiang
Tahun 2012. Analisis hubungan 2 variabel menunjukan nilai OR 9,33 (95%
CI:1,80-48,37), artinya penderita TB Paru yang tidak patuh dalam minum obat
mempunyai resiko 9 kali untuk tidak sembuh dari penyakit TB Paru
dibandingkan dengan penderita yang patuh dalam minum obat.

B. Pembahasan
1.
Gambaran Kepatuhan Minum Obat dan Kesembuhan pada Penderita TB
Paru
Berdasarkan analisis distribusi frekuensi dari 32 orang responden sebagian
besar yaitu 59,4% adalah responden yang patuh minum obat dan sebagian besar

29

yaitu 53,1% adalah responden yang sembuh dari penyakit TB Paru. Hal ini bisa
dikarenakan bertambahnya pengetahuan baik melalui informasi yang didapat dari
tenaga kesehatan maupun dari pengawas minum obat keluarga penderita itu
sendiri.
Kepatuhan adalah apabila seseorang selama menjalani pengobatan sesuai
ketentuan yang telah dianjurkan (tidak lalai) yaitu minum obat setiap hari tanpa
berhenti atau putus selam enam sampai delapan bulan pengobatan. Kepatuhan
merupakan manifestasi salah satu bentuk perilaku seseorang dalam bertindak dan
menggunakan pelayanan untuk memenuhi kebutuhannya (Notoatmodjo, 2001).
Kepatuhan adalah derajat dimana pasien mengikuti anjuran klinis dari dokter
yang mengobatinya (Kaplan dkk 1997).
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi ketidakpatuhan penderita TB
Paru dalam minum obat menurut Niyen (2002) yaitu pemahaman tentang
intruksi, instruksi jika ia salah paham tentang instruksi yang diberikan
kepadanya, kualitas dimana kualitas interaksi antara profesional kesehatan dan
pasien merupakan bagian yang penting dalam menentukan derajat kepatuhan dan
Isolasi sosial dan keluarga yang dapat sangat berpengaruh dalam menentukan
keyakinan dan nilai kesehatan individu serta juga dapat menetukan tentang
program pengobatan yang dapat mereka terima serta keyakinan, sikap dan
kepribadian yang berguna untuk memperkirakan adanya ketidakpatuhan.
2.

Hubungan Kepatuhan Minum Obat dengan Kesembuhan Pada Penderita


TB Paru

30

Berdasarkan analisis bivariat dapat diketahui bahwa dari 13 responden


yang tidak patuh minum obat, hampir seluruh responden 76,9% adalah
responden yang tidak sembuh dari penyakit TB Paru. Sedangkan dari 19
responden yang patuh minum obat, sebagian besar responden 73,3% sembuh
dari penyakit TB Paru. Hubungan antara kepatuhan minum obat dengan
Kesembuhan pada pasien TB Paru di Puskesmas Kelobak Kepahiang Tahun
2012 diperoleh nilai p = 0,014 < (0,05) artinya terdapat hubungan yang
signifikan antara kepatuhan minum obat dengan kesembuhan pada pasien TB
Paru di Puskesmas Kelobak Kepahiang Tahun 2012. Analisis hubungan 2
variabel menunjukan penderita TB Paru yang tidak patuh dalam minum obat
mempunyai resiko 9 kali untuk tidak sembuh dari penyakit TB Paru.
Hasil penelitian ini sesuai dengan pernyataan Hendrawan (1996)
menyatakan bahwa prilaku patuh minum obat

dapat berpengaruh pada

kesembuhan pasien TB Paru karena dosis obat yang telah ditetapkan merupakan
syarat mutlak untuk bisa sembuh dari penyakit TB Paru.
Hasil penelitian ini menunjukkan adanya kesamaan teori yang
dikemukakan oleh Solaiman (2009) bahwa pasien TB paru yang baik seperti
patuh dalam berobat, kontrol rutin dan ikut dalam banyak kegiatan akan
mempengaruhi kesembuhan pada penderita TB Paru.
Perilaku kesehatan pada dasarnya adalah respon seseorang (organisme)
terhadap stimulasi yang berkaitan dengan sakit dan penyakit. Batasan ini
mempunyai 2 unsur pokok yaitu respon dan stimulasi atau rangsangan.respon
atau reaksi manusia atau baik bersifat pasif (pengetahuan, sikap) maupun
bersifat aktif (tindakan nyata) sedangkan stimulasi atau rangsangan disini terdiri

31

dari 4 unsur pokok yaitu sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan,
makanan dan lingkungan (Notoatmodjo, 2003).
Menurut Notoatmodjo, (2003) perilaku kepatuhan minum obat tidak
mempunyai batasan yang jelas atau tegas, adapun pembagian perilaku
kepatuhan tersebut yaitu terdiri dari sikap dan praktek atau tindakan
Menurut teori funsi dalam Notoatmodjo (2003) bahwa tindakan idividu
dilatar belakangi oleh kebutuhan individu yang bersangkutan. Menurut teori
fungi tindakan mempunyai fungsi instrumental artinya dapat berfungsi sebagai
mekanisme pertahanan dalam menghadapi lingkungannya, dapat sebagai fungsi
penerima objek dan pemberi arti yang senantiasa menyesuaikan diri dengan
lingkungannya dan dapat juga sebagai fungsi nilai ekspresif dari diri seseorang
dalam menjawab suatu situasi yang berasal dari konsep diri dan merupakan
pencerminan dari hati sanubari.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Indri
Rizkiyani, (2008) yang menyatakan bahwa bayak faktor yang menyebabkan
sembuhnya penderita dari penyakit TB Paru. Faktor tersebut adalah Patuh
dalam minum obat, menghindari kontak langsung dengan penderita TB Paru
lainnya, lingkungan dan soaial budaya.
Penelitan ini juga sama dengan penelitian Sukamto, (2007) yang
berjudul hubungan pengetahuan, pelayanan kesehatan (OAT, penyuluh),
pengewas minum obat dan kepatuhan minum obat dengan kesembuhan
penderita TB Paru. Ternyata hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan
antara variabel-variabel diatas.

32

Penelitian yang dilakukan Suhartono, (2008) menyatakan ada hubungan


antara keteraturan dalam minum obat dan cukup bulan dengan kesembuhan
penderita TB Paru.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tentang hubungan kepatuhan minum obat
penderita penyakit tuberculosis paru dengan kesembuhan di Puskesmas Kelobak
Kepahiang. Peneliti dapat menyimpulkan sebagai berikut :
1.

Hasil penelitian pada penderita TB Paru di Puskesmas Kelobak tahun


2012 menunjukkan bahwa sebagian besar yaitu 59,4% adalah responden yang
patuh minum obat.

33

2.

Hasil penelitian pada penderita TB Paru di Puskesmas Kelobak tahun


2012 menunjukkan bahwa sebagian besar yaitu 53,1% adalah responden yang
sembuh dari penyakit TB Paru.

3. Terdapat hubungan yang signifikan antara kepatuhan minum obat dengan


kesembuhan pada pasien TB Paru di Puskesmas Kelobak Kepahiang Tahun 2012
B. Saran
1.

Bagi Puskesmas
Diharapkan agar lebih mengintensifkan upaya penyuluhan tentang
pentingnya

penderita TB paru untuk patuh dalam minum obat sehingga

kesembuhan penderita TB Paru bisa tercapai sesuai dengan tujuan.

2.

Bagi Akademik

38

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan oleh mahasiswa Stikes


Dehasen sebagai referensi untuk menambah wawasan mengenai hubungan
kepatuhan minum obat penderita penyakit tuberculosis paru dengan kesembuhan
di Puskesmas Kelobak Kepahiang.
3.

Bagi Peneliti Lain


Bagi peneliti lain untuk dapat meneliti masalah ini lebih lanjut dari faktor
predisposisi yang lain seperti faktor pengawas minum obat (PMO), status gizi,
dalam kesembuhan penderita TB Paru dengan menggunakan metode lain dalam
waktu yang berbeda.

34

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto. 2003; Metode Pengambilan Data. Jakarta.; P.T.Rineka Cipta.


Arikunto. 2002; Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta.; P.T.Rineka
Cipta.
Asnawi. 2007; Keberhasilan Konvers. Diakses dari http://www.jmpk.online.net. tanggal
28 Desember 2011
Cecil dan Leob. 1993; Ilmu Penyakit Dalam Bahasa Inggris. EGC. Jakarta
Dinkes Provinsi Bengkulu, 2009. Profil Kesehatan Provinsi Bengkulu Tahun 2008.
Bengkulu
Depker. 1997; Penemuan dan Pengobatan Penderita Tuberkulosis Paru. Jakarta; Depkes
RI
Depkes RI. 2002; Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis Cetakan ke-8.
Jakarta
_________ . 2007; Program Penanggulangan Tuberkulosis, Cetakan ke-8, Ditjen PPM
& PL, Jakarta
_________ . 2008; Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Cetakan ke-8,
Ditjen PPM & PL, Jakarta
Hendrawan, N, 1996. Penyebab Pencegahan dan Pengobatan TBC Cetakan I, Jakarta :
Puspa Swara.
Menteri Kesehatan RI. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
No.829/MenKes/SK/VII/1999 tentang Persyaratan Kesehatan Perumahan
Notoatmodjo. S, 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat (Prinsip-prinsip Dasar). PT. Rineka
Cipta, Jakarta
Solaiman.2009; Faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan berobat penderita
TB Paru di Rumah Sakit Khusus (RSK) Paru Propinsi Sumsel Tahun 2009, Tesis
UKB.
Wikipedia Bahasa Indonesia. 2008; Ensiklopedia
www.google.sehat.com Tanggal 26 Desember 2011

40

Bebas.

Diakses

dari