Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN KEGIATAN PPDH

ROTASI KLINIK
Yang dilaksanakan di
ANIMAL CLINIC JAKARTA

Oleh :
Very Iqbal Mathlubi, S.KH
NIM. 150130100111026

PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN


PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

KASUS INTERNA 1
CANINE BABESIOSIS
1. TAHAPAN PEMERIKSAAN
A. Anamnesa
Seekor anjing Mix Labrador-Beagle jantan bernama Juno datang ke
Animal Clinic Jakarta (ACJ) pada tanggal 27 Oktober 2015 dengan keluhan 2-3
hari terakhir muntah berwarna kuning, diare dengan feses berwarna gelap, tidak
mau makan dan lemas.
B. Signalemen
NamaHewan

: Juno

JenisHewan

: Anjing

Jenis Kelamin

: Jantan

Ras/ Breed

: Mix Labrador dan Beagle

Warna

: Hitam

Suhu

: 38oC

Umur

: 9 bulan

Beratbadan

: 13.7 Kg

C. Pemeriksaan Fisik
A.

Keadaan umum
Perawatan

: Baik

Habitus

: Tidak aktif

Gizi

: Baik

Pertumbuhan badan

: Sedang

Sikap berdiri

: Berdiri dengan 4 kaki

Suhu Tubuh

: 38oC

Frekuansi Nadi

:-

Frekuensi nafas

:-

Adaptasi Lingkungan : baik

B. Kulit dan Rambut


Aspek Rambut

: Halus dan bersih

Kerontokan

: tidak ada

Kebotakan

: tidak ada

Turgor kulit

: 3 detik

Permukaan kulit

: Baik

Bau kulit

: Tidak ada kelainan / khas

C. Kepala
Ekspresi wajah
Pertulangan kepala
Posisi tegak telinga
Posisi kepala

: Normal
: Kompak, simetris
: Tegak simetris
: Tegak

D. Mata dan orbita kiri


Palpebrae
Cilia
Conjunctiva
Membrana nictitans
E. Mata dan orbita kanan
Palpebrae
Cilia
Conjunctiva
Membrana nictitans

: Membuka dan menutup dengan sempurna


: Tidak ada kelainan
: Pucat, kering
: Tersembunyi
: Membuka dan menutup dengan sempurna
: Tidak ada kelainan
: Pucat, kering
: Tersembunyi

F. Bola mata kiri


Sclera
Cornea
Iris
Limbus
Pupil
Reflek pupil
Vasa injectio
G. Bola mata kanan

: Putih
: Bening
: Hitam, tidak ada kelainan
: Rata
: Tidak ada kelainan
: Ada
: Tidak ada

Sclera
Cornea
Iris
Limbus
Pupil
Reflek pupil
Vasa injectio
Hidung dan sinus-sinus
H. Mulut dan rongga mulut

: Putih
: Bening
: Hitam, tidak ada kelainan
: Rata
: Tidak ada kelainan
: Ada
: tidak ada
: Tidak ada kelainan

Rusak/luka bibir
Mukosa
Gigi geligi
Lidah
I. Leher
Perototan

: Tidak
: Sediki tpucat
: Lengkap
: Tidak ada perlukaan
: Teraba

Trachea
Esofagus
J. Telinga

: Tidak ada batuk


: Tidak teraba

Posisi
: Tegak
Bau
: Khas Cerumen
Permukaan daun telinga : Halus
Krepitasi
: Tidak ada
Reflek panggilan
: Ada
K. Thorak
Sistem Pernafasan
Inspeksi
Bentuk rongga thorak
Tipe pernafasan
Ritme
Intensitas
Frekuensi

: Simetris
: Costae
: Teratur
: Dalam
:-

Palpasi
Penekanan rongga thorak : tidak ada rasa sakit
Palpasi intercostal
: tidak ada rasa sakit
Perkusi
Lapangan paru-paru
Gema perkusi

: tidak ada perluasan


: Nyaring

Auskultasi
Suara pernafasan
: bersih
Suara ikutan antara in dan expirasi : tidak ada
Sistem peredaran darah
Inspeksi
Ictus cordis

: tidak terlihat

Perkusi
Lapangan jantung
Auskultasi

: tidak ada perluasan

Frekuensi
:Intensitas
: Dangkal
Ritme
: Ritmis
Suara sistolik dan diastolik : Tidak ada kelainan
Ekstrasistolik
: Tidak ada
Lapangan jantung
: tidak ada perluasan
Sinkron pulsus dan jantung : sikron
L. Abdomen
Inspeksi
Besarnya
Bentuknya
Legok lapar
Suara peristaltik lambung
Palpasi

: tidak ada perubahan


: simetris
: tidak terlihat
: Tidakterdengar

Epigastricus
Mesogastricus
Hypogastricus
Isi usus halus
Isi usus besar

: tidak ada kelainan


: tidak ada kelainan
: tidak ada kelainan
: teraba
: teraba

Auskultasi
Peristaltik usus
: tidak terdengar
M. Anus
Sekitar anus
: bersih
Refleks sphinter ani
: ada
Pembesaran kolon
: tidak ada
Kebersihan daerah perineal : bersih
N. Sistem perkemihan dan kelamin
Penis
: rose
Preputium
: normal
Glans penis
: warna rose, bentuk normal, bersih
Scrotum
: normal
Jumlah testis
: normal
O. Alat Gerak
Inspeksi
Perototan kaki depan

: Bagus, tidak ada kelainan

Perototan kaki belakang


Spasmus otot
Tremor
Sudut persendian
Cara bergerak-berjalan
Cara bergerak-berlari

: Bagus
: tidak ada
: tidak ada
: tidak ada kelainan
: koordinatif
: koordinatif

Palpasi
Struktur pertulangan
Kaki kiri depan
: kompak
Kaki kanan depan
: kompak
Kaki kiri belakang
: kompak
Kaki kanan belakang
: kompak
Konsistensi pertulangan
: baik
Reaksi palpasi
: baik
Letak reaksi sakit
:Panjang kaki depan ka/ki : sama
Panjang kaki belakang ka/ki : sama
P. Lain-lain
Palpasi
Lymphonodus popliteus
Ukuran
Konsistensi
Lobulasi
Perlekatan
Panas
Kesimetrisan

: normal
: kenyal
: tidak ada
: tidak ada
: panas
: tidak simetris

Kestabilan pelvis
Konformasi
Kesimetrisan
Tuber ischii
Tuber coxae
Pemeriksaan Lanjutan

: kompak
: simetris
: teraba
: teraba
: Complete Blood Count (CBC) dan Kimia
Darah, X-ray, blood smear, Pemeriksaan

Diagnosa

Elektrolit, pemeriksaan feses.


: Suspect Canine Babesiosis

Differential Diagnosa

: Leptospirosis , Infectious Canine Hepatitis,


Erlichiosis,

Prognosa
Terapi

Babesiosis,

Disseminated

Intravascular Coagulation (DIC)


: Dubius - fausta
: Terapi cairan (Infus RL), Amcilin, Urdafalk,
doxicyclin, Nofivit

2. PEMBAHASAN

2.1 Intepretasi Hasil pemeriksaan klinik


Seekor Anjing Mix beagle-labrador bernama juno datang ke Animal Clinic
Jakarta (ACJ) dengan keluhan muntah-muntah berwarna kuning, tidak nafsu
makan, diare dengan feses berwarna hitam. Hasil pemeriksaan fisik menunjukan
bahwa anjing mengalami dehidrasi yang disebabkan oleh muntah dan diare. Diare
dan muntah menyebabkan ketidakseimbangan cairan elektrolit dalam tubuh,
muntah menyebabkan metabolisme acidosis. Terapi cairan yang dilakukan adalah
pemberian infus berupa Laktat ringer (RL) sebanyak 300 ml. Laktat ringer
merupakan Alkalinizing fluid yang mengandung Sodium (Na+), Potassium (K+),
Kalsium (Ca++), Chloride (Cl-) dan laktat (Cornelius, 1992). Selanjutnya
pemeriksaan

feses dilakukan

untuk mengetahui

penyebab diare. Hasil

pemeriksaan feses dengan metode natif adalah positif terdapat Amoeba.


Pemeriksaan rapid test erlichia, Blood smear, complete blood count (CBC), kimia

darah, urinalysis dan elektrolit dilakukan untuk membantu menegakan diagnosa.


Hasil pemeriksaan tersebut adalah sebagai berikut :

Tabel 2.1 Pemeriksaan CBC


Parameter

WBC

Nilai

27

30

Normal

oktober

Oktober

November

November

November

6 - 17

7.86

3.93 103/l

6.56 103/l

22.98 103/l 13.40 103/l

0.39 103/l

0.71 103/l

1.59 103/l

1.12 103/l

0.21 103/l

0.26 103/l

1.34 103/l

0.77 103/l

3.26 103/l

5.31 103/l

19.64 103/l 11.14 103/l

0.07 103/l

0.25 103/l

0.33 103/l

0.29 103/l

0.00 103/l

0.03 103/l

0.08 103/l

0.08 103/l

3.89 106/l

5.01 106/l

4.39 106/l

5.13 106/l

103/l
Limfosit

1 - 4.6

0.38
103/l

Monosit

0.2 1.5

0.45
103/l

Neutrofil

3 - 12

6.99
103/l

Eusinofil

0 0.16

0.04
103/l

Basofil

0 0.4

0.00
103/l

RBC

5.5 8.5

3.88
106/l

Hemoglobin 12 - 18

7.0 g/dl

7.3 g/dl

9.9 g/dl

9.1 g/dl

10 g/dl

Hematokrit

22.4 %

22.6 %

29.13 %

25.57 %

29.62 %

37 - 55

MCV

60 - 77

MCH

19.5

58 fl

58 fl

58 fl

58 fl

58 fl

18.9 pg

19.8 pg

20.8 pg

19.5 pg

31.0 g/dl

32.4 g/dl

34.1 g/dl

35.7 g/dl

33.8 g/dl

8 103/l

0 103/l

102 103/l

206 103/l

242 103/l

17.9 pg

24.5
MCHC

31 - 34

Platelet

Tabel 2.2 Pemeriksaan Kimia Darah

Parameter

Nilai Normal

27

30 Oktober

November

7 November

November

Ureum

15 - 40

143.57 mg/dl

-mg/dl

73

18.28

Kreatinin

0.5 1.5

5.74 mg/dl

- mg/dl

4.2

2.63

AST

8.9 48.5

32.84 IU/L

- IU/L

ALT

8.2 57.3

103.01 IU/L

122.67 IU/L

164.62

ALP

10.6 100.7

101.5 IU/L

111.87 IU/L

165.67

Bilirubin

0.0 0.6

0.26 mg/dl

GGT

17

12.18 g/dl

20.25 g/dl

9.45

Total

5.7 7.7

8.63 g/dl

8.63 g/dl

9.79

Total

Protein
Albumin

2.5 4.5

1.55

3.4

Tabel 2.3 Pemeriksaan Urinalysis tanggal 30 Oktober 2015


Parameter

Nilai Normal

Hasil

Urobilinogen

Normal

Normal

Glucosa

Negatif

Normal

PH

5.5 7.0

5.5

Tabel 2.4 Pemeriksaan urinalysis tanggal 4 november 2015


Parameter

Nilai Normal

Hasil

Urobilinogen

Negatif

Normal

Glukosa

Negatif

Normal

Protein

Negatif

+1

Nitrite

0.05 0.1

Normal

PH

5.5 7.0

Specific Gravity

1.001 1.065

1.010

Blood

Negatif

Negatif

Bilirubin

Negatif

Negatif

Protein

Negatif

Negatif

Nitrit

0.05 0.1

Negatif

2.17

Keton

Negatif

Negatif

Glukosa

Negatif

Negatif

Leukosit

Negatif

Negatif

Albumin

Negatif

Negatif

Tabel 2.5 Pemeriksaan kidney profile plus elektrolit tanggal 2 november 2015.
Parameter

Nilai Normal

Hasil

BUN

7-25 mg/dl

73

Kreatinin

0.3 1.4 mg/dl

4.2

Albumin

2.5 4.4 g/dl

3.4

Kalsium

8.6 11.8 mg/dl

11.9

fosfor

2.9 6.6 Mmol/L

7.7

Natrium

138 160 Mmol/L

134

Kalium

3.7 5.8 Mmol/L

3.3

Chloride

106 120 Mmol/L

103

Total CO2

12-27 Mmol/L

28

Keterangan : Warna Merah


Warna Biru

: Meningkat
: Menurun

Gambar
2.1 Hasil Blood smear menunjukan sel darah merah lisis (ditunjukan
oleh panah) pada inti sel, Anemia Normositik normokromik.

Gambar 2.2 Rapid test E. Canis menunjukan hasil negatif

Pemeriksaan Rapid test erlichia menunjukan hasil negatif berarti hewan


tidak terinfeksi erlichia, pemeriksaan blood smear menunjukan bahwa inti sel
darah merah mengalami lisis , hal tersebut mengrah ke Anemia hemolitik yang
disebabkan oleh parasit darah pada sel darah merah. Hasil pemeriksaan CBC
tanggal 27 oktober 2015 menunjukan bahwa Limfosit mengalami penurunan
(Limfopenia). Limfosit adalah sumber imunoglobulin yang penting dalam tubuh.
Limfopenia dapat disebabkan oleh penyakit hodgkins, luka bakar dan trauma.
Eritrosit, Hemoglobin, Hematocrit, MCV dan MCH mengalami penurunan.
Penurunan nilai eritrosit dapat disebabkan oleh anemia, leukimia, penurunan
fungsi ginjal, hemolisis dan pengunaan obat. Penurunan Hemoglobin dapat
disebabkan karena anemia (terutama defisiensi zat besi), sirosis dan perdarahan.
Penurunan Hematokrit indikator terjadinya anemia, leukimia, sirosis, reaksi

hemolitik dan perdarahan. MCV merupakan indeks untuk menentukan ukuran sel
darah merah, penurunan MCV disebut anemia mikrositik. Indeks MCH
mengindikasikan berat rata-rata hemoglobin dalam darah dan menentukan
kuantitas warna dari darah (normokromik, hipokromik, hiperkromik), penurunan
MCH mengindikasikan anemia mikrositik. Indeks MCHC merupakan ukuran
konsentrasi rata-rata hemoglobin dalam eritosit. MCHC menurun pada pasien
kekurangan zat besi, anemia mikrositik dan anemia hipokromik.
Trombosit mengalami penurunan (trombositopenia) signifikan dalam hasil
pemeriksaan. Trombositopenia berhubungan dengan idiopatik trombositopenia
purpura (ITP), anemia hemolitik, aplastik, dan pernisiosa. Leukimia, multiple
myeloma dan multipledysplasia syndrome. Penurunan trombosit di bawah 20.000
berkaitan dengan perdarahan spontan dalam jangka waktu yang lama, peningkatan
waktu perdarahan petekia/ekimosis (Kementerian Kesehatan RI, 2011).

Pemeriksaan CBC pada tanggal 30 oktober dan 2 November 2015 masih


menunjukan hasil yang hampir sama. Pemeriksaan CBC tanggal 30 oktober
menunjukan bahwa Leukosit

menunjukan penurunan juga (Leukositopenia).

Leukositopenia biasanya disebabkan oleh infeksi virus, leukimia, anemia


pernisiosa, leukimia, mieloma dan pengobatan. Pemeriksaan CBC tanggal 2
November tidak menunjukan Leukopenia, akan tetapi Limfopenia masih ada.
Pemeriksaan CBC pada tanggal 4 november menunjukan hasil yang berbeda
Leukosit meningkat (Leukositosis) dan Neutrofil menurun (Neutropenia) ,
sedangkan Limfositopenia sudah tidak terjadi. Biasanya terjadi akibat peningkatan
1 tipe saja (neutrofil/ neutrofilia). Bila tidak ditemukan anemia dapat digunakan
untuk membedakan antara infeksi dengan leukemia, selain itu kemungkinan
leukositosis akibat pemberian obat. Perdarahan, trauma, obat (mis: merkuri,
epinefrin, kortikosteroid), nekrosis, toksin, leukemia dan keganasan adalah
penyebab lain leukositosis. Neutropenia yaitu penurunan persentase neutrofil,
dapat disebabkan oleh penurunan produksi neutrofil, peningkatan kerusakan sel,

infeksi bakteri, infeksi virus, penyakit hematologi, gangguan hormonal dan infeksi
berat (Kementrian kesehatan RI, 2011).
Pemeriksaan Kimia darah dilakukan untuk mengetahui fungsi ginjal dan
hati pasien. Pemeriksaan kimia darah dilakukan sebanyak dua kali pada tangal 27
oktober dan 30 oktober 2015. Pada pemeriksaan pertama diketahui bahwa kadar
ureum dan kreatinin meningkat signifikan. Kreatinin dihasilkan selama kontraksi
otot skeletal melalui pemecahan kreatinin fosfat. Kreatinin diekskresi oleh ginjal
dan konsentrasinya dalam darah sebagai indikator fungsi ginjal. Pada kondisi
fungsi ginjal normal, kreatinin dalam darah ada dalam jumlah konstan. Nilainya
akan meningkat pada penurunan fungsi ginjal. Konsentrasi kreatinin serum
meningkat pada gangguan fungsi ginjal baik karena gangguan fungsi ginjal
disebabkan oleh nefritis, penyumbatan saluran urin, penyakit otot atau dehidrasi
akut. Kreatinin mempunyai waktu paruh sekitar satu hari. Oleh karena itu
diperlukan waktu beberapa hari hingga kadar kreatinin mencapai kadar normal
untuk mendeteksi perbaikan fungsi ginjal yang signifikan (Kementrian kesehatan
RI, 2011).
Peningkatan kadar urea disebut uremia. Azotemia mengacu pada
peningkatan semua senyawa nitrogen berberat molekul rendah (urea, kreatinin,
asam urat) pada gagal ginjal. Penyebab uremia dibagi menjadi tiga, yaitu
penyebab prarenal, renal, dan pascarenal. Uremia prarenal terjadi karena gagalnya
mekanisme yang bekerja sebelum filtrasi oleh glomerulus. Mekanisme tersebut
meliputi : 1) penurunan aliran darah ke ginjal seperti pada syok, kehilangan darah,
dan dehidrasi; 2) peningkatan katabolisme protein seperti pada perdarahan
gastrointestinal disertai pencernaan hemoglobin dan penyerapannya sebagai
protein dalam makanan, perdarahan ke dalam jaringan lunak atau rongga tubuh,
hemolisis, leukemia (pelepasan protein leukosit), cedera fisik berat, luka bakar,
demam. Pemeriksaan ureum dan kreatinin pada tanggal 2 november masih
menunjukan hasil yang meningkat signifikan.
Pada profil hati didapatkan hasil ALT, ALP, GGT dan total protein
mengalami peningkatan dan pada pemeriksaan kedua ALT, ALP dan GGT
semakin meningkat sedangkan total protein konstan. ALT berguna untuk diagnosa

penyakit hati dan memantau lamanya pengobatan

penyakit hepatik, sirosis

postneurotik dan efek hepatotoksik obat. Peningkatan kadar ALT dapat terjadi
pada penyakit hepatoseluler, sirosis aktif, obstruksi bilier dan hepatitis
(Kementrian kesehatan RI, 2011).
Peningkatan ALP terjadi karena faktor hati atau non-hati. Peningkatan
ALP karena faktor hati terjadi pada kondisi : obstruksi saluran empedu, kolangitis,
sirosis, hepatitis metastase, hepatitis, kolestasis, infi ltrating hati disease.
Peningkatan ALP karena faktor non-hati terjadi pada kondisi : penyakit tulang,
kehamilan, penyakit ginjal kronik, limfoma, beberapa malignancy, penyakit infl
amasi/infeksi, pertumbuhan tulang, penyakit jantung kongestif (Kementrian
kesehatan RI, 2011).
GGT adalah enzim yang diproduksi di saluran empedu sehingga
meningkat nilainya pada gangguan empedu. Peningkatan kadar GGT dapat terjadi
pada kolesistitis, koletiasis, sirosis, pankreatitis, atresia billier, obstruksi bilier,
penyakit ginjal kronis, diabetes mellitus, pengggunaan barbiturat, obat-obat
hepatotoksik (khususnya yang menginduksi sistem P450). GGT sangat sensitif
tetapi tidak spesifik. Jika terjadi peningkatan hanya kadar GGT (bukan AST, ALT)
bukan menjadi indikasi kerusakan hati (Kementrian kesehatan RI, 2011).
Bilirubin terjadi dari hasil peruraian hemoglobin dan merupakan produk
antara dalam proses hemolisis. Bilirubin dimetabolisme oleh hati dan diekskresi
ke dalam empedu sedangkan sejumlah kecil ditemukan dalam serum. Peningkatan
bilirubin terjadi jika terdapat pemecahan sel darah merah berlebihan atau jika hati
tidak dapat mensekresikan bilirubin yang dihasilkan. Peningkatan kadar bilirubin
terkonjugasi lebih sering terjadi akibat peningkatan pemecahan eritrosit,
sedangkan peningkatan bilirubin tidak terkonjugasi lebih cenderung akibat
disfungsi atau gangguan fungsi hati (Kementrian kesehatan RI, 2011).
Pada pemeriksaan urinalysis pada tanggal 30 oktober diketahui bahwa
Urobilinogen, Glukosa dan PH dalam keadaan normal. Pada pemeriksaan
elektrolit didapatkan hasil bahwa tidak terjadi peningkatan dan penurunan yang
signifikan dari Kalium, fosfor, kalsium, natrium, chloride.

Pemeriksaan X-ray diperlukan untuk menunjang penegakan diagnosa. Xray dilakukan pada hewan dengan posisi Latero lateral untuk melihat apakah
terjadi perubahan bentuk dari organ hati, ginjal, Vesica Urinaria, adanya
Cholelitiasis dan cystic calculi. Hasil pemeriksaan x-ray adalah sebagai berikut:

Gambar 2.3 Pemeriksaan X-ray menunjukan ukuran semua organ


normal dan tidak ada kelainan
Hasil pemeriksaan X-ray pada tanggal 4 november 2015 menunjukan
bahwa tidak diteukan perubahan atau abnormalitas pada organ. Pemeriksaan
Blood smear menunjukan hasil bahwa eritrosit anjing intinya mengalami lisis dan
tidak terdapat parasit darah. Pada pemeriksaan feses didapatkan hasil bahwa feses
positif amoeba. Pada pemeriksaan rapid test erlichiosis didapatkan hasil negatif.
Feses berwarna hitam menunjukan bahwa terjadi perdarahan pada usus yang
diasosiaikan dengan penurunan jumlah platelet pada pemeriksaan darah
2.2

Diagnosa dan Penanganan


Hasil pemeriksaan fisik dan klinik menujukan bahwa hewan tidak demam,

Diare, anorexia, dehidrasi, Anemia, Azotemia pre renal dan gangguan fungsi hati.
Pemeriksaan tersebut dapat memberikan differential diagnosa terhadap penyakit

Dessiminated Intravascular Coagulation (DIC), Leptospirosis, Anaplasmosis,


Erlichiosis, Babesiosis dan Haemobartonela. Berdasar gejala klinis yang ada
diagnosa yang paling tepat adalah Canine Babesiosis. Hal tersebut dikarenakan
dari pemeriksaan blood smear menujukan bahwa sel darah merah mengalami lisis
pada intinya, hal tersebut dapat diartikan bahwa terjadi anemia hemolitik dimana
sel darah merah normositik normokromik. Hal yang lain yang mendukung adalah
trombositopenia yang ditunjukan dari pemeriksaan CBC, dan juga peningkatan
ureum dan kretainin yang menandakan adanya gangguan pada ginjal. Menurut
Krause, et al. (2007) infeksi babesia pada eritrosit dapat menyebabkan
peningkatan ekpresi molekul adhesi yang memicu penempelan eritrosit di
pembuluh darah dan dapat menyebabkan obstruksi yang menimbulkan gejala
klinis seperti anemia, peningkatan tekanan darah, kerusakan organ vital, hewan
menjadi depresi, dan menyebabkan kematian. Peningkatan tekanan darah
menyebabkan penuluran aliran darah ke ginjal dan menyebabkan penurunan
Glomerular filtration ratio (GFR) sehingga terjadi peningkatan BUN dan
kreatinin pada darah atau yang disebut Azotemia. Azotemia pada kasus ini
disebabkan oleh adanya peningkatan darah dan menyebabkan penurunan aliran
darah ke ginjal maka disebut Azotemia pre-renal.
Canine Babesiosis adalah

penyakit infeksius yang disebabkan oleh

Babesia canis (subfilum: apicomplexa, ordo: piroplasmida, genus: babesia,


spesies Babesia canis ) yang diperantai oleh caplak (tick-borne) yaitu caplakanjing coklat Rhipicephalus sanguineus sebagai vektor utama (Shaw et al., 2001).
Siklus hidup Babesia canine pada hospes anjing dimulai saat caplak yang
mengandung Babesia menghisap darah anjing. Dari saliva caplak ditularkan
sporozoid yang masuk ke peredaran darah hospes dan menginfeksi eritrosit. Di
dalam eritrosit, sporozoid berkembang menjadi tropozoid, kemudian menginfeksi
eritrosit lain dan menjadi merozoid serta pre-gametosit. Apabila ada caplak yang
menghisap darah anjing yang telah terinfeksi babesia, stadium pre-gametosit dapat
masuk ke dalam tubuh caplak dan berada di epitel usus caplak. Pada usus caplak
ini terjadi gametogoni (diferensiasi gamet dan pembentukan zigot). Kemudian

menjadi kinate yang yang dapat ditransmisi secara trans-stadial maupun transovarial. Pembentukan stadium infektif babesia ini terjadi di glandula saliva caplak
sebagai sporozoid (Cahuvin et al., 2009).

Gambar 2.4 Siklus hidup Babesia canis.


Babesia merupakan parasit intraeritrosit, masuknya babesia melalui gigitan
caplak ke tubuh anjing memicu respon imun pada hospes (anjing). Infeksi babesia
di intraeritrosit di peredaran darah menimbulkan respon imun yang sifatnya
sistemik. Caplak yang menghisap darah akan meneyabbakan molekul saliva dan
babesia (sporozoid) masuk ke peredaran darah. Saliva maupun babesia akan
memicu sel makrofag sebagai antigen presenting cell (APC) yang akan
menangkap dan memproses antigen untuk disampaikan ke sel limfosit T. sel Th2
akan mengeluarkan sitokin untuk mengaktifkan sel-sel lain, termasuk sel B untuk
menghasilkan antibodi terhadap babesia (Shaw et al., 2001).
Sitokin yang dihasilkan akibat infeksi yang sitemik selain berperan dalam
manisfestasi demam, pada konsentrasi yang tinggi dapat menyebabkan kerusakan
mitokondria. Kerusakan pada mitolondria akan menyebabkan jaringan mengalami
anoreksia. Selain itu semakin banyak infeksi babesia pada eritrosit dapat
menyebabkan peningkatan ekpresi molekul adhesi yang memicu penempelan

eritrosit di pembuluh darah dan dapat menyebabkan obstruksi yang menimbulkan


gejala klinis seperti anemia, peningkatan tekanan darah, kerusakan organ vital,
hewan menjadi depresi, dan menyebabkan kematian (Krause et al., 2007).
2.3 Penanganan dan pengobatan
Pengobatan pada kasus Babesiosis fokus perhatian harus diarahkan untuk
mempertahankan oksigenasi, mengoreksi asidosis (dengan menggunakan solusi
kristaloid sesuai seperti natrium bikarbonat atau larutan Ringer laktat),
mengoreksi adanya anemia dan trombositopenia yang diakibatkan infeksi Babesia.
Penanganan yang dilakukan pada Anjing Juno didasarkan pada gejala
klinis yang ditimbulkan, penangannya adalah pemberian Infus RL untuk
menggantikan cairan elektrolit akibat dehidrasi. Pada awalnya hewan diberi
antibiotik berupa Ampicilin 2 mg/kg BB (27-30 November 2015) dikarenakan
diduga awalnya hewan terinfeksi Leptospira. Kemudian setelah diduga terinfeksi
parasit darah maka diberikan Antibiotik dan anti parasit darah berupa Doxycicline
10 mg/Kg BB, setelah pemberian doxyciline hewan mengalami perbaikan
ditunjukan dengan jumlah RBC, MCV,MCHC dan platelet yang semakin
mendekati normal. Pemberian Urdafalk 1 caps dan Nofivit-M 1 tablet untuk
memperbaiki fungsi hati. Renal Canine 1 cup per hari untuk memperbaiki fungsi
ginjal.
Doxycycline adalah antibiotika dengan aktivitas antimikroba yang luas.
Efektif terhadap bakteri Gram-positif dan Gram-negatif. Doxycycline diabsorsi
dengan cepat dan baik dari saluran pencernaan dan tidak tergantung dari adanya
makanan. Doxycycline diekskresi melalui urin dan feses. Doxycycline bekerja
sebagai schizontisidal dalam darah. Obat ini dapat melakukan penetrasi ke
jaringan dengan baik, aktivitas obat ini melawan jaringan schizon primer. Sebagai
kemoprofi laksis diberikan sebelum paparan, selama perjalanan, dan sesudah
terpapar. Kemoprofilaksis yang efektif akan membunuh parasit dalam eritrosit
sebelum jumlahnya bertambah dan dapat menyebabkan gejala klinis (Wangi dan
Sumardika, 2015).

UrdafalkTM memiliki kandungan Ursodeoxycholic acid. Ursodeoxycholic


acid berasal dari empedu normal. Empedu adalah cairan berwarna hijau
kecoklatan yang diproduksi di hati dan disimpan di gall bladder. Empedu
dilepaskan ke usus setelah proses makan, untuk membantu pencernaan dan
absorbsi makanan. Ursodeoxycholic acid juga berfungsi membantu melindungi
hati dan sel dari sistem billiary untuk melawan kerusakan diakibatkan toxin yang
diabsorbsi dari konten usus (BSAVA, 2015).
NofivitTM memiliki kandungan berupa S-adenosylmethionine (SAMe),
berfungsi penting dalam regulasi pertumbuhan, kematian dan diferensiasi
hepatosit. Biosintesis dari SAMe terjadi di semua sel mamalia sebagai tahap
pertama katabolisme metionin pada reaksi yang dikatalisasi oleh methionine
adenosyltransferase (MAT) (Mato, et al., 2013).
Renal advance for dogsTM

memiliki kandungan berupa Antioksidan,

Probiotik dan Suplemen yang berfungsi untuk mengurangi atau menurunkan


terjadinya azotemia dan anemia karena berkurangnya fungsi ginjal. Selain itu juga
berfungsi sebagai antioksidan yang berperan mencegah stress oksidatif pada
jaringan ginjal.

3. KESIMPULAN
Anjing mix beagle-labrador jantan bernama juno dengan anamnesa berupa
muntah berwarna kuning selama beberapa hari, diare, anorexia dan penurunan
berat badan. Pemeriksaan klinis dilakukan untuk menegakkan diagnosa antara lain
pemeriksaan rapid test Erlichia canis, CBC, kimia darah, urinalysis, Blood smear
dan native feses. Hasil pemeriksaan menunjukan bahwa hewan mengalami
Canine babesiosis. Progonosa dari kasus ini adalah dubius-fausta. Penangannya
adalah dengan pemberian antibiotik berupa Doxycicline dan ampicilin,
Ursodeoxycholic acid, Renal advance dan infus RL.

DAFTAR PUSTAKA
British Small Animal Veterinary Association (BSAVA). 2011. Ursodeoxycholic
Acid. Client Leaflet information, Updated May, 2011.
Cahuvin, A., E. Moreau., S. Bonnet, O. Plantard, and L. Malandrin. 2009. Babesia
and its hosts: adaptation to long-lasting interactions as a way to achieve
efficient. Vet. Res. 40:37.
Kementerian Kesehatan RI. 2011. Pedoman Intepretasi Data Klinik. Jakarta
Krause, P.J., Daily, J., Telford, S.R., Vannier, E., Lantos, P., dan Spielman,
A.,2007. Shared features in the pathobiology of babesiosis and malaria.
Trends in Parasitology 23(12): 605-610.
Mato, J.M., M.L. Martinez-chantar and S.C. Lu. 2013. S-Adenosyl Methionine
Metabolism and Liver Disease. Annals of Hepatology, Vol 12 No. 2: 183189.
Shaw, S.E.,M.J. Day, R.J. Birtles and E.B. Breitshwerdt. 2001. Tick-borne
infectious diseases of dogs. Trends in Parasitilogy. 17(2): 74-80.
Wangi, Y.S. dan I.W. Sumardika. 2015. Doxycicline sebagai Kemoprofilaksis
Malaria untuk Wisatawan. CDK-229, Vol. 42 No. 6: 462-465.