Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PROYEK TUMBUHAN (BI-2204)

ANALISIS METABOLIT SEKUNDER PADA TUMBUHAN TAPAK DARA


(Catharanthus roseus) , AKAR WANGI (Vetiveria zizanioides), BATANG MINT
(Menta codifolia), BUNGA CENGKEH (Syzygium aromaticum), DAN BUAH
MENGKUDU (Morinda citrifolia) DAN MENENTUKAN STUKTUR
TUMBUHAN MONOKOTIL DAN DIKOTIL
Tanggal Percobaan: 4 Februari 2016
Tanggal Pengumpulan: 10 Februari 2016
Disusun oleh:
Semeru Gita Lestari
10614023
Kelompok 15
Asisten:
Wildan Fauzi Rabbani 10612021

PROGRAM STUDI BIOLOGI


SEKOLAH ILMU DAN TEKNOLOGI HAYATI
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Metabolit sekunder adalah senyawa hasil metabolisme yang tidak
diperlukan secara langsung untuk pertumbuhan dan perkembangan, namun
keberadaannya diperlukan untuk menunjang kedua proses tersebut (Williamson,
1999). Senyawa metabolit sekunder dapat berperan sebagai alat pertahanan
tanaman, atau sebagai atraktan polinator. Senyawa metabolit sekunder umumnya
dibedakan menjadi tiga jenis berdasarkan struktur kimiawinya, yaitu fenolik,
terpenoid, dan alkaloid.
Senyawa metabolit sekunder yang dihasilkan oleh tumbuh tumbuhan
dapat berfungsi untuk mengendalikan pertumbuhan (fitohormon), bahan penarik
(serangga) untuk berkembang biak, senjata kimia untuk mempertahankan diri dari
makhluk lain (alelokimia, fitoaleksin, insect feeding deterrent, insektisida, toksin),
dan sebagai bahan obat-obatan (Achmad, 2001). Sejak dahulu manusia telah
menggunakan tumbuh-tumbuhan untuk menyembuhkan berbagai penyakit.
Penggunaan ramuan tumbuh-tumbuhan secara empirik, diikuti oleh penemuan
senyawa kimia bioaktif, merupakan era baru dalam penggunaan tumbuhtumbuhan obat, dan awal dari penelitian tumbuh-tumbuhan obat secara moderen.
Perkembangan dalam penelitian tumbuh-tumbuhan obat mengalami kemajuan
yang pesat dengan ditemukannya teknik-teknik pemisahan kromatogaft dan
penentuan struktur molekul secara spektroskopi.
Senyawa metabolit sekunder seringkali dimanfaatkan untuk kepentingan
manusia, terutama sebagai obat, ataupun parfum dalam bentuk minyak essensial.
Tanaman akar wangi sering dimanfaatkan sebagai parfum lewat minyak essensial
yang dihasilkannya. Minyak essensial akar wangi mengandung senyawa
sesquiterpenoid, seperti vetivone, vetivone, dan khusinol. Tanaman ini juga
sering digunakan sebagai obat tradisional khususnya untuk penyakit pencernaan,
seperti mual, diare, dan radang usus, demam, batuk, bronchitis, asthma, dan

penyakit kulit (Caldecott, 2010). Begitu juga senyawa metabolit sekunder eugenol
dalam tanaman Cengkeh (Syzygium aromaticum) berkhasiat sebagai antikanker.
(Banerjee, et. al., 2006). Bagian akar dan herba tanaman tapak dara
(Catharanthus roseus) sering digunakan sebagai obat tradisional untuk mengobati
hipertensi, diabetes, hepatitis, malaria, dan Hodskins lymphoma (Dalimartha,
1999). Senyawa terpenoid C10 banyak menjadi penyusun rasa dan aroma pada
mint (Mentha piperita), senyawa ini sering ditambahkan pada bahan makanan,
parfum, produk pasta gigi, dan obat-obatan. (Ringer, et. al., 2005). Buah
mengkudu (Morinda citrifolia) telah lama dikenal sebagai tanaman yang
berkhasiat sebagai antioksidan.
1.2 Tujuan
1. Menentukan letak metabolit sekunder tumbuhan secara histokimia
2. Menentukan jenis metabolit sekunder secara kalorimetri
3. Menentukan perbedaan tumbuhan monokotil dan dikotil
1.3 Hipotesis
Menurut Taiz & Zeiger (2002):
1. Senyawa metabolit sekunder pada tanaman akar wangi adalah golongan
terpenoid yang terdapat pada bagian akar tanaman.
2. Senyawa metabolit sekunder pada tanaman mint adalah golongan alkaloid
yang terkosentrasi di bagian batang tanaman.
3. Senyawa metabolit sekunder pada tanaman tapak dara adalah golongan
alkaloid dan terkonsentrasi pada bagian daun tanaman.
4. Senyawa metabolit sekunder pada tanaman cengkeh adalah golongan alkaloid
yang terkosentrasi di bunga tanaman.
5. Senyawa metabolit sekunder pada buah mengkudu adalah golongan alkaloid
dan terpenoid.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Metode Histokimia dan Kalorimetri
Beberapa metode pengidentifikasian senyawa metabolit sekunder pada
tanaman adalah secara histokimia dan kolorimetri. Histokimia adalah suatu
metode untuk menganalisis susunan zat kimia yang ada pada jaringan
tumbuhan.Metode dan teknik kerja histokimia pada umumnya menggunakan
reagen khusus untuk mendeteksi adanya senyawa kimia dalam tumbuhan
tersebut. Pengujian secara histokimia ini dilakukan melalui penambahan
reagen tertentu (Dey, 1989). Contoh reagennya adalah reagen Jeffrey. Indikasi
positif larutan Jeffrey adalah adanya warna kuning tua pada preparat yang
menandakan adanya kandungan alkaloid (Raffauf, 1962).
Kolorimetri adalah metode analisis berdasarkan tampilan visual berupa
warna larutan yang telah diberi reagen dibandingkan terhadap warna larutan
standar yang dijadikan acuan (Heidcamp, 2005). Pengujian secara kolorimetri
diawali dengan pembuatan ekstrak suatu komponen yang ingin diuji,
kemudian dilanjutkan dengan uji dengan reagen berdasarkan uji yang
dilakukan (Raffauf, 1962).
2.2 Jenis jenis Struktur Sekretori
Pada tumbuhan terdapat struktur sekresi khusus yang berupa sel atau
sekelompok sel mensekresikan senyawa-senyawa tertentu yang tidak
dikeluarkan dari tubuh. Berdasarkan tempat penyimpanan materi yang akan
disekresikan, sel penghasil metabolit sekunder terdiri dari 2 macam, yaitu :
a. Sekresi intraseluler.
Sekresi yang menyekresikan materinya di dalam sel. Salah satu
contohnya yaitu Idioblas sel. Idioblas sel merupakan sel yang terspesialisasi
untuk

menyimpan senyawa metabolit. Sel

idioblas

sedikit

berbeda

dibandingkan dengan sel-sel di sekitarnya, tersusun tunggal atau dalam

barisan yang panjang misalnyalatisifer, litosis pada ficus. Idioblas dapat


mengandung resin, tannin, lendir, kristal, minyak dll (Kimani, 2012).
b. Sekresi ekstraseluler.
Sekresi ekstraseluler adalah materi disekresikan ke luar sel.Struktur
sekresi ekstraseluler dapat terbentuk secara schizogenous atau lysigenous.
Kehadiran sel epitel dapat digunakan sebagai penanda asal mula pembentukan
struktur sekresi secara skizogen. Kantung sekresi yang terbentuk secara
lisigen tidak akan memiliki sel epitel sebagai pembatasnya, karena
kantung/saluran terbentuk secara lisis (Kimani, 2012).
2.3 Pathway Biosintetik Metabolit Sekunder Golongan Terpenoid, Alkaloid, dan
Fenol pada Tumbuhan
Senyawa metabolit sekunder dibedakan menjadi tiga golongan, yaitu
alkaloid, fenolik, dan terpenoid. Berikut adalah gambaran umum dari ketiga
golongan senyawa metabolit sekunder tersebut.
Alkaloid
Senyawa alkaloid memiliki ciri khas, yaitu memiliki atom nitrogen
pada cincin heterosikliknya. Pada tanaman, alkaloid berperan sebagai salah
satu alat pertahanan, karena bersifat toksik. Beberapa senyawa alkaloid
bersifat stimulan dan sedatif, seperti nikotin dan kafein (Taiz & Zeiger, 2002).
Fenolik
Senyawa fenolik dapat dikenali lewat adanya gugus fenol. Terdapat
dua jalur biosintesis utama (biosynthetic pathway) bagi senyawa fenolik, yaitu
shikimic acid pathway dan malonic acid pathway. Beberapa senyawa fenolik
bersifat allelopatik, yaitu menghambat pertumbuhan tanaman lain di sekitar
area tumbuhnya individu penghasil senyawa fenolik, sehingga survival rate
individu tersebut meningkat. Senyawa golongan fenolik dari kelas flavonoid
bersifat sebagai atraktan bagi polinator lewat tampilan visual, misalnya
anthosianin. Beberapa senyawa fenolik juga berfungsi untuk memperkokoh
bagian tanaman tertentu, seperti lignin dan tanin (Taiz & Zeiger, 2002).
Terpenoid

Senyawa terpenoid terdiri dari isopentana dengan rantai karbon


bercabang, atau disebut juga isoprene unit. Terpenoid bersifat water insoluble.
Terdapat dua jalur biosintesis utama bagi senyawa terpenoid, yaitu mevalonic
acid pathway dan methylerythritol phosphate pathway. Senyawa terpenoid
tertentu berperan sebagai penunjang pertumbuhan dan perkembangan,
misalnya gibberelin. Beberapa senyawa terpenoid bersifat detterent atau
pengusir bagi predator, seperti limonoid (Taiz & Zeiger, 2002).
2.4 Perbedaan Akar, Batang, dan Daun Tumbuhan Dikotil dan Monokotil

Gambar 1. Struktur tanaman pada mookotil & dikotil (Campbell et


all, 2012)
Jaringan tumbuhan terdiri dari tiga jaringan utama, yaitu jaringan
dermal, jaringan dasar (ground tissue), dan jaringan pembuluh/vaskuler. Pada
gambar, jaringan dermal ditunjukan dengan warna coklat, jaringan dasar
ditunjukan dengan warna kuning, dan jaringan pembuluh ditunjukan dengan
warna ungu. Pada tanaman dikotil (sebelah kanan), struktur batang (kanan
tengah) ditandai oleh vascular bundle yang tersusun sedemikian rupa
membentuk cincin, dan pada akar (kanan bawah), jaringan vaskuler terpusat
di tengah dengan xylem membentuk tetrarch. Pada tanaman monokotil,

struktur batang (kiri tengah) ditandai dengan vascular bundle yang tersebar
secara acak. Vascular bundle pada akar monokotil (kiri bawah) terpusat di
tengah, dengan xylem membentuk cincin (Campbell et all, 2012).
Ciri pembeda lainnya dari tumbuhan monokotil dan dikotil adalah
pada batangnya. Tumbuhan dikotil mempunyai batang yang mempunyai
kambium dan batangnya bisa bercabang-cabang menjulang tinggi dan
menjulur panjang. Sedangkan pada tumbuhan monokotil batang tumbuhan
tidak mempunyai kambium dan tidak bercabang-cabang. Bentuk daun juga
menjadi salah satu pembeda dari tumbuhan monokotil dan dikotil. Daun pada
tumbuhan monokotil mempunyai bentuk yang memanjang seperti pita dan
daunnya berbentuk lebar dengan bentuk yang berbeda dan beraneka ragam.
Sedangkan pada daun dikotil mempunyai tulang daun yang sejajar ataupun
melengkung dengan bentuk daun yang menjari atau seperti sirip (Mauseth, J.
D, 2003).
Berkas pengangkut yang ada pada tumbuhan dikotil dan monokotil
sangat berbeda. Pada tumbuhan monokotil berkas pengangkutnya tersebar
pada batang baik pembuluh tapis maupun pembuluh kayunya. Sedangkan
pada tumbuhan dikotil berkas pengangkutnya terletak teratur dengan
pembuluh kayu yang terletak pada bagian dalam pembuluh tapis. Perbedaan
lain dari tumbuhan dikotil dan monokotil yaitu terdapat pada pelindung akar
dan batangnya. Untuk tumbuhan dikotil tidak memiliki pelindung berupa
koleoptil ataupun koleorhiza. Sedangkan tumbuhan monokotil memiliki
pelindung akar dan juga batang lembaga (Mauseth, J. D, 2003).

BAB III
METODOLOGI
3.1 Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum adalah sebagai berikut:
Tabel 3.1 Alat dan Bahan
Alat

Bahan

Mikroskop

Tapak dara (Catharanthus roseus)

Silet

Akar wangi (Vetiveria zizanioides)

Pelat tetes

Batang mint (Menta codifolia)

Mortar

Bunga cengkeh (Syzygium aromaticum)

Pestel

Buah mengkudu (Morinda citrifolia)

Jarum jara

5 ml etanol 96%

Kaca preparat & kaca objek

Reagen Dragendorff

Pipet

Reagen Lieberman-Burchard
Reagen Jeffrey
Reagen Neutral-Red
Aquades

3.2 Cara Kerja


3.2.1 Preparat Sayatan
Analisa Alkaloid (Reagen jefferey)
Sampel tanaman disayat tipis menggunakan silet dengan bantuan
holder gabus atau empulur singkong. Sayatan diletakan diatas kaca objek yang
sudah ditetesi aquades. Kaca objek ditutup perlahan menggunakan cover glass

diusahakan tidak ada udara tertinggal. Diteteskan reagen Jefferey pada salah
satu sisi kaca objek, aquades berlebih ditarik dengan tissue. Didiamkan
selama 2-3 menit lalu diamati dibawah mikroskop. Alkaloid diindikasikan jika
terdapat warna coklat atau orange yang diamati dari bawah mikroskop.
Analisa terpenoid (Reagen Neutral Red)
Sampel tanaman disayat tipis menggunakan silet dengan bantuan
holder gabus atau empulur singkong. Sayatan diletakan diatas kaca objek yang
sudah ditetesi aquades. Kaca objek ditutup perlahan menggunakan cover glass
diusahakan tidak ada udara tertinggal. Diteteskan reagen Neutral Red pada
salah satu sisi kaca objek, aquades berlebih ditarik dengan tissue. Didiamkan
selama 2-3 menit lalu diamati dibawah mikroskop. Terpenoid diindikasikan
jika terdapat warna merah muda yang diamati dari bawah mikroskop.
3.2.2 Analisa Ekstrak Tanaman
Analisa Alkaloid (Reagen dragendorff)
Sampel tanaman disayat tipis menggunakan silet dengan bantuan
holder gabus atau empulur singkong. Sayatan diletakan diatas kaca objek yang
sudah ditetesi aquades. Kaca objek ditutup perlahan menggunakan cover glass
diusahakan tidak ada udara tertinggal. Diteteskan reagen Dragendorff pada
salah satu sisi kaca objek, aquades berlebih ditarik dengan tissue. Didiamkan
selama 2-3 menit lalu diamati dibawah mikroskop. Alkaloid diindikasikan jika
terdapat warna merah bata atau orange yang diamati dari bawah mikroskop.

Analisa Terpenoid (Regen Lieberman - Burchard)


Sampel tanaman disayat tipis menggunakan silet dengan bantuan
holder gabus atau empulur singkong. Sayatan diletakan diatas kaca objek yang
sudah ditetesi aquades. Kaca objek ditutup perlahan menggunakan cover glass
diusahakan tidak ada udara tertinggal. Diteteskan reagen Lieberman Burchard
pada salah satu sisi kaca objek, aquades berlebih ditari dengan tissue.

Didiamkan selama 2-3 menit lalu diamati dibawah mikroskop. Terpenoid


diindikasikan jika terdapat warna coklat kehitaman yang diamati dari bawah
mikroskop.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Pengamatan
Berikut ini data hasil pengamatan yang disajikan dalam tabel sebagai berikut.
Tabel 4.1.1 Struktur Akar, Batang, Daun Tumbuhan Dikotil
Bagian

Hasil Pengamatan

Literatur

Akar

Gambar 4.1
Akar Ranunculus
Perbesaran 100 x
(Dokumentasi Pribadi, 2016)

Gambar 4.2
Akar Ranunculus
Perbesaran 400 x
(Roberts, 1998)

Batang
Gambar 4.3
Batang Helianthus annus
Perbesaran 400 x
(Dokumentasi Pribadi, 2016)

Gambar 4.4
Batang Helianthus annus
(Roberts, 1998)

Daun

Gambar 4.5
Daun Ficus sp.
Perbesaran 100 x
(Dokumentasi Pribadi, 2016)

Gambar 4.6
Daun Ficus sp.
Perbesaran 40x
(Roberts, 1998)

Tabel 4.1.2 Struktur Akar, Batang, Daun Tumbuhan Monokotil


Bagian

Hasil Pengamatan

Literatur

Gambar 4.7
Akar Zea mays
Perbesaran 100 x
(Dokumentasi Pribadi, 2016)

Gambar 4.8
Akar Zea mays
Perbesaran 100 x
(Roberts, 1998)

Akar

Batang

Gambar 4.9
Batang Zea mays
Perbesaran 100 x
(Dokumentasi Pribadi, 2016)

Gambar 4.10
Batang Zea mays
Perbesaran 400 x
(Roberts, 1998)

Epidermi
s

Daun
palisa
de

Gambar 4.11
Daun Jeruk
Perbesaran 400 x
(Dokumentasi Pribadi, 2016)

Gambar 4.12
Daun Jeruk
Perbesaran 400 x
(Roberts, 1998)

Tabel 4.1.3 Hasil Uji Histokimia Tanaman


No
.

Bagian yang di uji

Hasil Uji Terpenoid

Hasil Uji Alkaloid

epiderm
xyle
m

Akar

(Akar

Wangi)
Gambar 4.13
Akar Vetiveria zizanioides
(Dokumentasi Pribadi,
2016)
Perbesaran 100 x
Terjadi perubahan warna

epidermi
s

Batang (Mint)

floe
Gambar 4.14
m

Akar Vetiveria zizanioides


(Dokumentasi Pribadi, 2016)
Perbesaran 100 x
Terjadi perubahan warna
menjadi kecoklatan pada

menjadi merah di bagian

bagian epidermis dan

epidermis

pembuluh angkut

epiderm

Gambar 4.15
Batang Menta codifolia
(Dokumentasi Pribadi,

epiderm

Ga

2016)
Perbesaran 100x
Terjadi perubahan warna

mbar 4.16
Batang Menta codifolia
(Dokumentasi Pribadi, 2016)
Perbesaran 100 x
Terjadi perubahan warna pada

pada jaringan dasar dan

bagian epidermis yang

epidermis yang menunjukan

menunjukan adanya alkaloid

adanya triterpenoid

namun jumlahnya sedikit

epiderm

Daun (Tapak dara)

Gambar 4.17
Daun Catharanthus roseus
(Dokumentasi Pribadi,
2016)
Perbesaran 100 x
Terjadi perubahan warna
pada bagian epidermis dan
jaringan bunga karang yang
menunjukan adanya

Jaringan

Ga
mbar 4.18
Daun Catharanthus roseus
(Dokumentasi Pribadi, 2016)
Perbesaran 100 x
Terjadi perubahan warna pada
bagian jaringan parenkim yang
menunjukan adanya alkaloid

triterpenoid

Tabel 4.1.4 Hasil Uji Kolorimetri Tanaman


Hasil
No

Bagian yang

Hasil Uji

Uji

di uji

Terpenoid

Alkaloi
d

Buah
(Mengkudu)

Gambar

Batang
(Mint)

Daun (Tapak
dara)

+
D
D

L
L

Bunga

(Cengkeh)

+
D

Gambar 4.20
Hasil Uji Kolorimetri
(Dokumentasi Pribadi, 2016)
4.2. Pembahasan
Pada praktikum ini dilakukan pengujian kualitatif metabolit sekunder
pada sejumlah tumbuhan yaitu akar wangi (Vetiveria zizanioides), batang mint
(Menta codifolia), daun tapak dara (Catharanthus roseus), buah mengkudu
(Morinda citrifolia) dan pada bunga cengkeh (Syzygium aromaticum). Uji
kualitatif metabolit sekunder ini dilakukan dengan metode histokimia dan
metode kolorimetri. Sampel tumbuhan yang diuji melalui metode histokimia
yaitu akar dari akar wangi (Vetiveria zizanioides), batang mint (Menta
codifolia), daun tapak dara (Catharanthus roseus) dan bunga cengkeh
(Syzygium aromaticum) sedangkan pengujian kolorimetri menggunakan
sampel batang mint (Menta codifolia), daun tapak dara (Catharanthus roseus)
dan buah mengkudu (Morinda citrifolia). Pengujian histokimia menggunakan
reagen

Jeffrey

untuk

menganalisis

kandungan

alkaloid

dan

untuk

menganalisis triterpenoid digunakan reagen Neutral Red. Sedangkan pada


kolorimetri menggunakan reagen Dragendorff untuk analisa alkaloid dan
reagen Liebermann Buschard untuk menganalisa triterpenoid.
Hasil pengujian kandungan alkaloid dan triterpenoid secara histokimia
pada daun tapak dara (Catharanthus roseus) menunjukan hasil positif yaitu
terjadi perubahan warna menjadi kemerahan ketika ditambahkan reagen
Neutral Red serta terjadi perubahan warna menjadi kecoklatan setelah
ditambahkan reagen Jeffrey. Selain pada daun tapak dara, senyawa alkaloid
dan terpenoid juga teridentifikasi pada batang mint (Menta codifolia), bunga
cengkeh (Syzygium aromaticum) dan pada akar wangi (Vetiveria zizanioides).
Pengujian dengan metode kolorimetri juga menunjukan hasil positif pada
semua sampel tumbuhan yaitu pada batang mint (Menta codifolia), daun tapak
dara (Catharanthus roseus) dan buah mengkudu (Morinda citrifolia) yang
teridentifikasi mengandung senyawa alkaloid dan triterpenoid.
Berdasarkan hasil pengamatan dari semua sampel tumbuhan, senyawa
triterpenoid dan alkaloid banyak tersimpan pada jaringan epidermis. Pada
tumbuhan akar wangi (Vetiveria zizanioides), alkaloid teridentifikasi juga pada
bagian jaringan pengangkut yaitu pada xilem dan floem. Selain itu pada daun
tapak dara (Catharanthus roseus), senyawa triterpenoid dan alkaloid tersebar
pada jaringan parenkim dan jaringan bunga karang. Hasil pengamatan ini
sesuai dengan literatur. Senyawa metabolit terakumulasi pada jaringan dasar
(parenkim) dan pada lapisan epidermis. Jaringan dasar atau parenkim
merupakan jaringan penyusun sebagian besar organ tumbuhan seperti akar,
batang, daun dan buah. Pada batang dan akar, parenkim dapat ditemukan
sebagai penyusun pada bagian diantara epidermis dan pembuluh angkut, yaitu
sebagai korteks. Parenkim dapat pula dijumpai sebagai empulur batang, Pada
daun, parenkim merupakan penyusun utama bagian mesofil daun, yang dapat
terdiferensiasi menjadi jaringan tiang dan jaringan bunga karang, Sedangkan
pada biji dan buah, parenkim dapat ditemukan sebagai penyimpan cadangan

makanan. Fungsi dari jaringan parenkim ini yaitu sebagai tempat


penyimpanan metabolit sekunder dan sebagai penyokong bagi tumbuhan
(Fahn, 1995).
Selain pada jaringan parenkim, metabolit sekunder juga banyak
terdistribusi pada jaringan epidermis. Jaringan epidermis merupakan jaringan
paling luar yang berfungsi sebagai pelindung jaringan dibawahnya. Jaringan
epidermis ini menutup seluruh permukaan organ tumbuhan (Fahn, 1995).
Menurut Brossi (1990), senyawa alkaloid tersebar di beberapa bagian organ
tumbuhan yaitu pada epidermis, kambium gabus, gabus, ovule, pembuluh
angkut serta pada buah dan biji. Selain itu, senyawa alkaloid ini tersebar pula
pada organ daun tepatnya pada mesofil daun.
Pada jaringan tumbuhan terdapat banyak sel yang menghasilkan
metabolit sekunder, salah satunya yaitu sel idioblas. Idioblas adalah
sekumpulan sel yang bentuk dan fungsinya berbeda dengan sel sel yang ada
disekitarnya, karena sel ini tersusun secara tunggal ataupun dalam barisan
yang memanjang. Di dalam jaringan tumbuhan, sel idioblas ini dapat berupa
alat sekresi ataupun kelenjar. Sel idioblas merupakan sel yang terspesialisasi
sebagai tempat penyimpanan senyawa metabolit. Ada beberapa senyawa yang
terkandung dalam idioblas yaitu contohnya resin, tannin, lendir, kristal,
minyak dan lain-lain (Fahn, 1995).
Konsentrasi senyawa metabolit pada suatu tumbuhan dapat berbeda
beda. Hal ini di sebabkan karena adanya faktor faktor yang dapat
mempengaruhi jumlah produksi metabolit sekunder. Menurut Simbala (2009),
ada beberapa faktor yang mempengaruhi produksi metabolit sekunder yaitu
diantaranya komposisi media kultur, faktor fisik (suhu, cahaya, kelembaban),
faktor genetik, serta faktor tekanan lingkungan (logam berat, sinar UV).
Pada praktikum ini selain menguji kandungan senyawa metabolit
sekunder pada sampel tumbuhan, dilakukan juga identifikasi struktur organ
pada tumbuhan dikotil dan monokotil yang meliputi akar, batang dan daun.
Berdasarkan literatur, ada beberapa perbedaan struktur organ pada tumbuhan

dikotil dan monokotil. Berikut ini merupakan perbedaan struktur organ


tumbuhan dikotil dan monokotil menurut Keeton (1980).
Tabel 4.2.1 Perbedaan Struktur Organ Dikoti dan Monokotil
Bagian Organ

Dikotil
Xilem terletak dibagian tengah akar,
berbentuk bintang dan floem terletak

Akar

di antara jari jari yang dibentuk


xilem. Tipe pembuluh ini disebut
dengan tipe kolateral.
Xilem terletak di bagian dalam

Batang

kambium sedangkan floem terletak


di bagian luar kambium

Monokotil
Letak xilem dan floem saling
berdekatan
kambium.

karena
Xilem

tidak
dan

ada
floem

berselang seling mengelilingi


empulur. Tipe pembuluh ini disebut
tipe radial.
Xilem dan floem tersebar pada
jaringan meristem dasar
Lapisan epidermis dan kutikula

Daun

Lapisan kutikula lebih tebal pada

terletak di bagian atas dan bawah

bagian atas dan letak stomata hanya

dan memiliki stomata di bagian atas

ada di bagian epidermis bawah

dan bawah yang berderet di antara


urat daun

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari praktikum ini yaitu sebagai berikut :
1. Tumbuhan akar wangi (Vetiveria zizanioides), batang mint (Menta codifolia),
daun tapak dara (Catharanthus roseus), buah mengkudu (Morinda citrifolia)
dan bunga cengkeh (Syzygium aromaticum) mengandung senyawa metabolit
sekunder berupa senyawa alkaloid dan terpenoid.
2. Letak senyawa metabolit sekunder pada tumbuhan akar wangi (Vetiveria
zizanioides), batang mint (Menta codifolia), daun tapak dara (Catharanthus
roseus), terkonsentrasi di jaringan epidermis, jaringan pembuluh serta jaringan
parenkim.

Sedangkan

pada

bunga

cengkeh

(Syzygium

aromaticum)

terkosentrasi pada bagian bakal buah.


3. Perbedaan tumbuhan monokotil dan dikotil secara umum ialah pada tumbuhan
dikotil struktur batang ditandai oleh vascular bundle yang tersusun
sedemikian rupa membentuk cincin, dan pada akar, jaringan vaskuler terpusat
di tengah dengan xylem membentuk tetrarch. Sedangkan pada tumbuhan
monokotil, struktur batang ditandai dengan vascular bundle yang tersebar
secara acak. Vascular bundle pada akar monokotil terpusat di tengah, dengan
xylem membentuk cincin
5.2 Saran
Saran untuk pratikum ini ialah :
1. Praktikan disarankan untuk menghemat pemakaian reagen agar semua
kelompok mendapatkan reagen untuk melakukan uji metabolit sekunder.
2. Pada saat menutup kaca objek, diusahakan untuk tidak membentuk
gelembung air, karena akan mengganggu pengamatan dalam menentukan
letak metabolit sekunder tanaman.

DAFTAR PUSTAKA
Achmad, S. A., 2001, Kimia Organik Bahan Alam, Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan , Universitas Terbuka, Jakarta Ames
Banerjee, S., & al., e. 2006. "Clove (Syzygium aromaticum L.), a potential
chemopreventive". Carcinogenesis vol.27 no.8, : 16451654.
Brossi, Arnold. 1990.The Alkaloids. San Diego : Academic Press
Dey, P.M., Harborne, J.B. 1989. Methods in Plant Biochemistry. San Diego :
Academic Press
Caldecott,
Todd.
2010.
Ushira.
http://www.toddcaldecott.com/index.php/herbs/learning-herbs/338
diakses
pada tanggal 6 Februari 2016 pukul 15.34.
Campbell, N A., J. B. Reece., M. R. Taylor., E. J. Simon., J. L. Dickey. 2012. Biology,
Concept & Connection. San Francisco. Pearson Education, Inc.
Dalimartha, Setiawan. 1999. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Ungaran. Trubus
Agriwidya
Fahn, A. 1995. Anatomi Tumbuhan Edisi Ketiga. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Heidcamp, William. H. 2005. Cell Biology Labroratory Manual.
http://homepages.gac.edu/~cellab/contents.html#chpt diakses pada tanggal 6
Februari 2016 pukul 19.16.
Keeton, W. T. (1980). Biological Science. 3rd Ed. W. W. Norton and Company, New
York, 844-845.
Kimani Murage. 2012. Patterns and Determinants and Breastfeeding and
Complamantary Feeding Practices. BMC Public Health. 11(396):1-11.
Mauseth, J. D. (2003). Botany: an introduction to plant biology. Sudbury: Jones and
Barlett Publisher.
Raffauf, R.F. 1962. A Simple Field Test for Alkaloid-containing Plants. New York:
Economic Botany.
Ringer, K. L., & al., e. 2005. "Monoterpene Metabolism. Cloning, Expression, and
Characterization of ()-Isopiperitenol/()-Carveol Dehydrogenase of
Peppermint and Spearmint1". Plant Physiology 137 (3), : 863-872.
Roberts, Alison. 1998. http://www.uri.edu/cels/bio/plant_anatomy/89.html diakses
pada tanggal 6 Februari 2016 pukul 20.12
Simbala, H.E.I., 2009. Analisis Senyawa Alkaloid Beberapa Jenis Tumbuhan Obat
sebagai
Bahan Aktif Fitofarmaka. Pacific Journal. Juli 2009. Vol 1 (4):489-494
Taiz, Lincoln., Zeiger, Eduardo. 2002. Plant Physiology.Sinauer Associates.
Williamson. 1999. Macroscale and Microscale Organic Experiments 3rd Edition.
Boston: Prenctice Hall Inc.