Anda di halaman 1dari 8

TUGAS MATA KULIAH

APPLIED STATISTICS

PENGARUH KEMACETAN LALU LINTAS

NAMA
NIM

:
:

SEDERHANA GULO

157 016 002

FAKULTAS TEKNIK
PROGRAM STUDI MAGISTER TEKNIK SIPIL
KONSENTRASI MANAJEMEN PRASARANA PUBLIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

A. Latar Belakang
Indonesia termasuk negara sedang berkembang, permasalahan yang ada
di negara berkembang lebih kompleks dibandingkan dengan negara-negara
maju, mulai dari pertumbuhan penduduk yang tinggi, kesenjangan sosial, hingga
kurangnya sarana dan prasarana yang menunjang pembangunan itu sendiri.
Diantara banyak permasalahan itu adalah kemacetan atau kongesti. Kemacetan
adalah situasi atau keadaan tersendatnya atau bahkan terhentinya lalu lintas
yang disebabkan oleh banyaknya jumlah kendaraan melebihi kapasitas jalan.
Kemacetan banyak terjadi di kota-kota besar, terutamanya yang tidak
mempunyai transportasi publik yang baik atau memadai ataupun juga tidak
seimbangnya kebutuhan jalan dengan kepadatan penduduk, misalnya Jakarta
dan Bangkok. Kemacetan lalu lintas menjadi permasalahan sehari-hari di Jakarta,
Surabaya, Bandung, Medan dan kota-kota besar lainnya di Indonesia.
Kemacetan sering dijumpai di kota-kota besar di negara berkembang
seperti Bangkok dan Jakarta. Kemacetan juga sering dijumpai pada daerahdaerah perdagangan (CBD) di kota-kota seluruh dunia.

B. Permasalahan
Berdasarkan latar belakang diatas maka yang menjadi permasalahan
adalah:
1. Apa yang menyebabkan kemacetan lalu lintas
2. Apa dampak negatif dari kemacetan lalu lintas
3. Bagaimana upaya mengurangi kemacetan lalu lintas

C. Teori Pendukung
1. Komponen lalu lintas
Sebelum kita membahas komponen lalu lintas, sebaiknya harus diketahui
dulu apa itu lalu lintas, menurut undang-undang No. 22 tahun 2009 lalu lintas
didefinisikan sebagai gerak kendaraan dan orang di ruang lalu lintas jalan,
sedangkan yang dimaksud dengan ruang lalu lintas jalan adalah prasarana yang
diperuntukkan bagi gerak pindah kendaraan, orang dan atau barang yang
berupa jalan dan fasilitas pendukung.
Pemerintah mempunyai tujuan untuk mewujudkan lalu lintas dan angkutan
jalan yang selamat, aman, cepat, lancar, tertib dan teratur, nyaman dan efisien
melalui manajemen lalu lintas dan rekayasa lalu lintas.
Seperti terlihat di bagan, komponen lalu lintas terdiri atas manusia,
kendaraan dan jalan yang saling berinteraksi dalam pergerakan kendaraan yang
memenuhi persyaratan kelaikan untuk dikemudikan oleh pengemudi yang
mengikuti aturan lalu lintas yang ditetapkan berdasarkan peraturan
perundangan yang menyangkut lalu lintas dan angkutan jalan melalui jalan yang
memenuhi persyaratan.

2. Manajemen lalu lintas


Manajemen lalu lintas bertujuan untuk keselamatan, keamanan, ketertiban
dan kelancaran lalu lintas. Manajemen lalu lintas meliputi:
a. Kegiatan perencanaan lalu lintas
Kegiatan perencanaan lalu lintas meliputi inventarisasi dan evaluasi
tingkat pelayanan. Maksud inventarisasi antara lain untuk mengetahui
tingkat pelayanan pada setiap ruas jalan dan persimpangan. Maksud
tingkat pelayanan dalam ketentuan ini adalah merupakan kemampuan
ruas jalan dan persimpangan untuk menampung lalu lintas dengan tetap
memperhatikan faktor kecepatan dan keselamatan.
b. Kegiatan pengaturan lalu lintas
Kegiatan pengaturan lalu lintas meliputi: penataan sirkulasi lalu lintas,
penentuan kecepatan minimum dan maximum, larangan atau perintah
penggunaan jalan bagi pemakai jalan.
c. Kegiatan pengawasan lalu lintas
Kegiatan pengawasan lalu lintas meliputi:
1. Pemantauan dan penilaian terhadap kebijaksanaan lalu lintas,
dimaksudkan untuk mengetahui efektifitas dari kebijaksanaankebijaksanaan tersebut untuk mendukung ketercapaian tingkat
pelayanan yang telah ditentukan. Kegiatan pemantauan meliputi,
inventarisasi kebijaksanaan-kebijaksanaan lalu lintas yang berlaku
pada ruas jalan, jumlah pelanggaran dan tindakan-tindakan koreksi
yang telah dilakukan atas setiap pelanggaran tersebut. Kegiatan
penilaian meliputi, penentuan kriteria penilaian, analisis
pelanggaran dan usulan tindakan perbaikan.
2. Tindakan korektif terhadap pelaksanaan kebijaksanaan lalu lintas,
dimaksudkan untuk menjamin tercapainya sasaran tingkat
pelayanan yang sudah ditentukan. Tindakan korektif diantaranya:
peninjauan ulang terhadap kebijaksanaan apabila didalam
pelaksanaannya menimbulkan masalah.
d. Kegiatan pengendalian lalu lintas
Kegiatan pengendalian lalu lintas meliputi:
1. Pemberian arahan dan petunjuk dalam pelaksanaan kebijaksanaan
lalu lintas, dengan maksud agar diperoleh keseragaman dalam
pelaksanaannya serta dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya
untuk menjamin tercapainya tingkat pelayanan yang telah
ditetapkan.
2. Pemberian bimbingan dan penyuluhan kepada masyarakat
mengenai hak dan kewajiban masyarakat dalam pelaksanaan
kebijaksanaan lalu lintas.

D. Pembahasan
1. Penyebab Kemacetan lalu lintas
Kemacetan lalu lintas bisa terjadi karena beberapa hal:
a. Arus kendaraan yang melewati jalan tersebut telah melampaui
kapasitas jalan tersebut. Dapat dilihat dari tabel bahwasanya tiap

tahun jumlah kendaraaan dari berbagai jenis selalu meningkat,


sedangkan panjang jalan dan pertambahan panjang dan luasnya tidak
sebanding dengan pertambahan jumlah kendaraan tiap tahunnya.

Jumlah Kendaraan Bermotor menurut Jenisnya, Indonesia


1987-2005

1987

Mobil
Penumpa
ng
1 170 103

1988

1 073 106

1989

1 182 253

1990

1 313 210

1991

1 494 607

1992

1 590 750

1993

1 700 454

1994

1 890 340

1995

2 107 299

1996

2 409 088

1997

2 639 523

1998

2 769 375

1999*)

2 897 803

2000

3 038 913

2001

3 261 807

2002

3 403 433

2003

3 885 228

2004

4 464 281

2005

5 494 034

Tahun

Bis
303
378
385
731
434
903
468
550
504
720
539
943
568
490
651
608
688
525
595
419
611
402
626
680
644
667
666
280
687
770
714
222
798
079
933
199
1 184
918

Truk
953 694
892 651
952 391
1 024
296
1 087
940
1 126
262
1 160
539
1 251
986
1 336
177
1 434
783
1 548
397
1 586
721
1 628
531
1 707
134
1 759
547
1 865
398
2 047
022
2 315
779
2 920
828

Sepeda
Motor
5 554
305
5 419
531
5 722
291
6 082
966
6 494
871
6 941
000
7 355
114
8 134
903
9 076
831
10 090
805
11 735
797
12 628
991
13 053
148
13 563
017
15 492
148
17 002
140
19 976
376
23 055
834
28 556
498

Jumlah
7 981 480
7 771 019
8 291 838
8 889 022
9 582 138
10 197
955
10 784
597
11 928
837
13 208
832
14 530
095
16 535
119
17 611
767
18 224
149
18 975
344
21 201
272
22 985
193
26 706
705
30 769
093
38 156
278

Sumber : Kepolisian Republik


Indonesia
*)
sejak 1999 tidak termasuk
Timor Timur

Jumlah kendaraan tentu berbanding lurus dengan pertumbuhan penduduk,


karena semakin banyak penduduk tentu kebutuhan akan kendaraan terus
meningkat.
Laju Pertumbuhan Penduduk menurut Provinsi
Laju Pertumbuhan Penduduk menurut Provinsi

Provinsi
Nanggroe Aceh
Darussalam
Sumatera Utara
Sumatera Barat
Riau
Jambi
Sumatera Selatan
Bengkulu
Lampung
Kep. Bangka
Belitung
DKI Jakarta
Jawa Barat
Jawa Tengah
DI Yogyakarta
Jawa Timur
Banten
Bali
Nusa Tenggara
Barat
Nusa Tenggara
Timur
Kalimantan Barat
Kalimantan Tengah
Kalimantan Selatan
Kalimantan Timur
Sulawesi Utara
Sulawesi Tengah
Sulawesi Selatan
Sulawesi Tenggara
Gorontalo
Maluku

Laju Pertumbuhan Penduduk per


Tahun
1971-1980
1980-1990
1990-2000
2,93
2,72
1,46
2,6
2,21
3,11
4,07
3,32
4,39
5,77

2,06
1,62
4,3
3,4
3,15
4,38
2,67

1,32
0,63
4,35
1,84
2,39
2,97
1,17
0,97

3,93
2,66
1,64
1,1
1,49

2,42
2,57
1,18
0,57
1,08

1,69
2,36

1,18
2,15

0,17
2,03
0,94
0,72
0,7
3,21
1,31
1,82

1,95

1,79

1,64

2,31
3,43
2,16
5,73
2,31
3,86
1,74
3,09

2,65
3,88
2,32
4,42
1,6
2,87
1,42
3,66

2,88

2,79

2,29
2,99
1,45
2,81
1,33
2,57
1,49
3,15
1,59
0,08

Maluku Utara
0,48
Papua
2,67
3,46
3,22
INDONESIA
2,31
1,98
1,49
Catatan : Tidak Termasuk Timor
Timur
Sumber : Sensus Penduduk 1971, 1980 , 1990 , 2000 , dan
Sensus Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 1995
b. Terjadinya kecelakaan lalu lintas di jalan tersebut sehingga
menimbulkan rasa ingin tahu warga yang menyebabkan warga
berkerumun memadati jalan atau kendaraan yang terlibat kecelakaan
yang belum dibersihkan atau disingkirkan dari badan jalan.
Jumlah Kecelakaan Lalu Lintas, Korban Mati, Korban
Luka Berat, Luka Ringan, dan Perkiraan Kerugian
Materi Indonesia, 1992-2005
Tahun
Kecelak
Korb Korban Korban Kerugi
aan Lalu an
luka
Luka
an
Lintas
Mati
Berat
Ringan Materi
(Juta
Rp)
1992
19 920
9 819 13 363
14 846
15 077
1993
17 323
10
11 453
13 037
14 714
038
1994
17 469
11
11 055
12 215
16 544
004
1995
16 510
10
9 952
11 873
17 745
990
1996
15 291
10
8 968
10 374
18 411
869
1997
17 101
12
9 913
12 699
20 848
308
1998
14 858
11
8 878
10 609
26 941
694
1999*)
12 675
9 917 7 329
9 385
32 755
2000
12 649
9 536 7 100
9 518
36 281
2001
12 791
9 522 6 656
9 181
37 617
2002
12 267
8 762 6 012
8 929
41 030
2003
13 399
9 856 6 142
8 694
45 778
2004
17 732
11
8 983
12 084
53 044
204
2005
18 116
11
9 253
11 168
51 355
451
Sumber : Kepolisian Republik Indonesia
*)
sejak 1999 tidak termasuk Timor Timur

c. Terjadinya banjir yang merendam badan jalan sehingga para


pengendara
d. Adanya perbaikan jalan.
e. Kepanikan yang melanda akibat adanya sirene tsunami atau kepanikan
untuk mengevakuasi diri ke tempat yang lebih aman.
f. Adanya bagian jalan yang rusak atau longsor.

2. Dampak negatif kemacetan lalu lintas


Kemacetan lalu lintas menyebabkan dampak negatif yang besar antara
lain:
a. Kerugian waktu, karena kecepatan yang rendah.
b. Pemborosan energy
c. Meningkatkan polusi udara, karena pada kecepatan rendah
konsumsi energi lebih tinggi, dan mesin tidak beroperasi pada
kondisi yang optimal.
d. Meningkatkan stress pengguna jalan.
e. Mengganggu kelancaran kendaraan darurat seperti: ambulans,
pemadam
kebakaran
dalam
menjalankan
tugasnya.Upaya
mengurangi kemacetan lalu lintas
3. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi kemacetan
lalu lintas yang harus direncanakan secara komperhensif, diantaranya:
a. Peningkatan kapasitas jalan.
Salah satu langkah mengurangi kemacetan jalan adalah dengan
meningkatkan kapasitas jalan, misalnya: memperlebar jalan,
menambah lajur lalu lintas jika memungkinkan, mengurangi konflik
di persimpangan dengan membatasi arus belok kanan.
b. Keberpihakan kepada angkutan umum
Untuk meningkatkan daya dukung jaringan jalan dengan
mengoptimalkan kepada angkutan yang efisien dalam penggunaan
ruang jalan. Misal: pengembangan jaringan pelayanan angkutan
umum, pengembangan jalur khusus bus, seperti busway di Jakarta,
pengembangan kereta api kota yang dikenal dengan metro di
Perancis, Subway di Amerika Serikat, MRT di Singapura. Juga
dengan keringanan pajak dan bea masuk untuk kendaraan
angkutan umum.
c. Pembatasan kendaraan pribadi
Kebijakan ini memang tidak populer, namun jika kemacetan
semakin parah maka harus dilakukan manajemen lalu lintas yang
lebih ekstrim sebagai berikut:
1) Pembatasan penggunaan kendaraan pribadi menuju suatu
kawasan tertentu yang akan dibatasi lalu lintasnya, bentuk
lainnya adalah dengan penerapan tarif parkir yang tinggi di
kawasan tersebut, sistem ini berhasil di Singapura, London dan
Stokholm.
2) Pembatasan pemilikan kendaraan pribadi melalui peningkatan
biaya kepemilikan, pajak bahan bakar, pajak kendaraan
bermotor, bea masuk yang tinggi.

3) Pembatasan lalu lintas tertentu memasuki kawasan atau jalan


tertentu dengan menerapkan kawasan 3 in 1, atau bentuk lain
pembatasan sepeda motor masuk tol, pembatasan mobil pribadi
masuk jalur busway.
d. Menerapkan jam kerja berbeda
Walaupun terkesan hanya memindahkan jam macet tetapi solusi ini
memberikan kontribusi mengurai kemacetan lalu lintas.

E. Kesimpulan
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kemacetan
disebabkan oleh:
1. Arus kendaraan yang melewati jalan tersebut telah melampaui
kapasitas jalan tersebut.
2. Kecelakaan lalu lintas.
3. Bencana
4. Perbaikan
5. Kepanikan

F. Saran
1. Memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang pentingnya
mematuhi peraturan dan kebijaksanaan berlalu lintas demi kenyamanan
dan keselamatan juga menghindari kemacetan.
2. Memberikan prioritas kepada transortasi masal atau angkutan kota guna
mengurangi kepadatan kendaraan di jalan namun dengan memperhatikan
kenyamanan transportasi massal tersebut sehingga pemilik kendaraan
mau beralih menggunakan transportasi ini.

G. Daftar Pustaka
https://imranjamaluddin.wordpress.com/2010/07/05/makalah-kemacetan/,
Diakses 17 Januari 2016