Anda di halaman 1dari 41

SHALAT

Shalat (bahasa Arab: )atau Salat (ejaan KBBI), merujuk kepada


salah satu ritual ibadat pemeluk agama Islam.
Menurut syariat Islam, praktik shalat harus sesuai dengan segala
petunjuk tata cara Rasulullah SAW sebagai figur pengejawantah
perintah Allah. Rasulullah SAW bersabda, Shalatlah kalian sesuai
dengan apa yang kalian lihat aku mempraktikkannya.[1]

Etimologi
Secara bahasa shalat berasal dari bahasa Arab yang memiliki arti,
do'a. Sedangkan menurut istilah shalat bermakna serangkaian
kegiatan ibadah khusus atau tertentu yang dimulai dengan
takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam Hukum Shalat
Hukum shalat
Dalam banyak hadits, Muhammad telah memberikan peringatan
keras kepada orang yang suka meninggalkan shalat, diantaranya ia
bersabda: "Perjanjian yang memisahkan kita dengan mereka adalah
shalat. Barangsiapa yang meninggalkan shalat, maka berarti dia
telah kafir."[2]
Orang yang meninggalkan shalat maka pada hari kiamat akan
disandingkan bersama dengan orang-orang laknat, berdasarkan
hadits berikut ini: "Barangsiapa yang menjaga shalat maka ia
menjadi cahaya, bukti dan keselamatan baginya pada hari kiamat
dan barangsiapa yang tidak menjaganya maka ia tidak
mendapatkan cahaya, bukti dan keselamatan dan pada hari kiamat
ia akan bersama Qarun, Fir'aun, Haman dan Ubay bin Khalaf."[3]
Hukum shalat dapat dikategorisasikan sebagai berikut :
Fardhu, Shalat fardhu ialah shalat yang diwajibkan untuk
mengerjakannya. Shalat Fardhu terbagi lagi menjadi dua,
yaitu :
Fardhu Ain : ialah kewajiban yang diwajibkan kepada
mukallaf langsung berkaitan dengan dirinya dan tidak
boleh ditinggalkan ataupun dilaksanakan oleh orang
lain, seperti shalat lima waktu, dan shalat jumat(Fardhu
'Ain untuk pria).
Fardhu Kifayah : ialah kewajiban yang diwajibkan kepada
mukallaf tidak langsung berkaitan dengan dirinya.
Kewajiban itu menjadi sunnah setelah ada sebagian
orang yang mengerjakannya. Akan tetapi bila tidak ada
orang yang mengerjakannya maka kita wajib

mengerjakannya dan menjadi berdosa bila tidak


dikerjakan. Seperti shalat jenazah.
Nafilah (shalat sunnat),Shalat Nafilah adalah shalat-shalat
yang dianjurkan atau disunnahkan akan tetapi tidak
diwajibkan. Shalat nafilah terbagi lagi menjadi dua, yaitu
Nafil Muakkad adalah shalat sunnat yang dianjurkan
dengan penekanan yang kuat (hampir mendekati wajib),
seperti shalat dua hari raya, shalat sunnat witir dan
shalat sunnat thawaf.
Nafil Ghairu Muakkad adalah shalat sunnat yang
dianjurkan tanpa penekanan yang kuat, seperti shalat
sunnat Rawatib dan shalat sunnat yang sifatnya
insidentil (tergantung waktu dan keadaan, seperti shalat
kusuf/khusuf hanya dikerjakan ketika terjadi gerhana).
11 Rukun Shalat :
1. Takbiratul ihram
2. Berdiri bagi yang sanggup
3. Membaca surat Al Fatihah pada tiap raka'at
4. Ruku' dengan thuma'ninah
5. I'tidal dengan thuma'ninah
6. Sujud dua kali dengan thuma'ninah
7. Duduk antara dua sujud dengan thuma'ninah
8. Duduk dengan thu'maninah serta membaca tasyahud akhir
dan shalawat nabi
9. berlindung kepada Allah dari siksa jahannam &kubur serta
fitnah hidup dan mati dan kekejian fitnah dajjal
10.

Membaca salam yang pertama

11.

Tertib (melakukan rukun secara berurutan)

Shalat Berjamaah
Shalat tertentu dianjurkan untuk dilakukan secara bersamasama(berjama'ah). Pada shalat berjama'ah seseorang yang

dianggap paling kompeten akan ditunjuk sebagai Imam Shalat, dan


yang lain akan berlaku sebagai Makmum.
Shalat yang dapat dilakukan secara berjama'ah antara lain :
Shalat Fardhu
Shalat Tarawih
Shalat yang mesti dilakukan berjama'ah antara lain:
Shalat Jumat
Shalat Hari Raya (Ied)
Shalat Istisqa'

Shalat Berjama'ah
Shalat tertentu dianjurkan untuk dilakukan secara bersamasama(berjama'ah). Pada shalat berjama'ah seseorang yang
dianggap paling kompeten akan ditunjuk sebagai Imam Shalat, dan
yang lain akan berlaku sebagai Makmum.
Shalat yang dapat dilakukan secara berjama'ah antara lain :
Shalat Fardhu
Shalat Tarawih
Shalat yang mesti dilakukan berjama'ah antara lain:
Shalat Jumat
Shalat Hari Raya (Ied)
Shalat Istisqa'

Landasan Hukum
Berikut adalah landasan hukum yang terdapat dalam Al Qur'an
maupun Hadits mengenai shalat berjama'ah:
Dalam Al Qur'an Allah SWT berfirman: "Dan apabila kamu
berada bersama mereka lalu kamu hendak mendirikan shalat
bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari
mereka berdiri (shalat) bersamamu dan menyandang
senjata,..." (QS. 4:102).
Rasulullah SAW bersabda: "Demi Dzat yang jiwaku berada di
tanganNya, sungguh aku bermaksud hendak menyuruh orang-

orang mengumpulkan kayu bakar, kemudian menyuruh


seseorang menyerukan adzan, lalu menyuruh seseorang pula
untuk menjadi imam bagi orang banyak. Maka saya akan
mendatangi orang-orang yang tidak ikut berjama'ah, lantas
aku bakar rumah-rumah mereka." (HR. Bukhari dan Muslim
dari Abu Hurairah RA).
Dari Ibnu Abbas RA berkata: "Saya menginap di rumah bibiku
Maimunah (isteri Rasulullah SAW). Nabi SAW bangun untuk
shalat malam maka aku bangun untuk shalat bersama beliau.
Aku berdiri di sisi kirinya dan dipeganglah kepalaku dan
digeser posisiku ke sebelah kanan beliau." (HR. Jama'ah,
hadits shahih).
Adapun keutamaan shalat berjama'ah dapat diuraikan sebagai
berikut:
Berjama'ah lebih utama dari pada shalat sendirian. Rasulullah
SAW bersabda: "Shalat berjama'ah itu lebih utama dari pada
shalat sendirian sebanyak dua puluh tujuh derajat." (HR.
Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar RA)
Dari setiap langkahnya diangkat kedudukannya satu derajat
dan dihapuskan baginya satu dosa serta senantiasa dido'akan
oleh para malaikat. Rasulullah SAW bersabda: "Shalat
seseorang dengan berjama'ah itu melebihi shalatnya di rumah
atau di pasar sebanyak dua puluh lima kali lipat. Yang
demikian itu karena bila seseorang berwudhu' dan
menyempurnakan wudhu'nya kemudian pergi ke masjid
dengan tujuan semata-mata untuk shalat, maka setiap kali ia
melangkahkan kaki diangkatlah kedudukannya satu derajat
dan dihapuslah satu dosa. Dan apabila dia mengerjakan
shalat, maka para Malaikat selalu memohonkan untuknya
rahmat selama ia masih berada ditempat shalat selagi belum
berhadats, mereka memohon: "Ya Allah limpahkanlah
keselamatan atasnya, ya Allah limpahkanlah rahmat
untuknya.' Dan dia telah dianggap sedang mengerjakan shalat
semenjak menantikan tiba waktu shalat." (HR. Bukhari dan
Muslim dari Abu Huraira RA, dari terjemahan lafadz Bukhari).
Terbebas dari pengaruh/penguasaan setan. Rasulullah SAW
bersabda: "Tiada tiga orangpun di dalam sebuah desa atau
lembah yang tidak diadakan di sana shalat berjama'ah,
melainkan nyatalah bahwa mereka telah dipengaruhi oleh
setan. Karena itu hendaklah kamu sekalian membiasakan
shalat berjama'ah sebab serigala itu hanya menerkam
kambing yang terpencil dari kawanannya." (HR. Abu Daud
dengan isnad hasan dari Abu Darda' RA).

Memancarkan cahaya yang sempurna di hari kiamat.


Rasulullah SAW bersabda: "Berikanlah khabar gembira orangorang yang rajin berjalan ke masjid dengan cahaya yang
sempurna di hari kiamat." (HR. Abu Daud, Turmudzi dan
Hakim).
Mendapatkan balasan yang berlipat ganda. Rasulullah SAW
bersabda: "Barangsiapa yang shalat Isya dengan berjama'ah
maka seakan-akan ia mengerjakan shalat setengah malam,
dan barangsiapa yang mengerjakan shalat shubuh berjama'ah
maka seolah-olah ia mengerjakan shalat semalam penuh. (HR.
Muslim dan Turmudzi dari Utsman RA).
Sarana penyatuan hati dan fisik, saling mengenal dan saling
mendukung satu sama lain. Rasulullah SAW terbiasa
menghadap ke ma'mum begitu selesai shalat dan
menanyakan mereka-mereka yang tidak hadir dalam shalat
berjama'ah, para sahabat juga terbiasa untuk sekedar
berbicara setelah selesai shalat sebelum pulang kerumah.
Dari Jabir bin Sumrah RA berkata: "Rasulullah SAW baru berdiri
meninggalkan tempat shalatnya diwaktu shubuh ketika
matahari telah terbit. Apabila matahari sudah terbit, barulah
beliau berdiri untuk pulang. Sementara itu di dalam masjid
orang-orang membincangkan peristiwa-peristiwa yang mereka
kerjakan di masa jahiliyah. Kadang-kadang mereka tertawa
bersama dan Nabi SAW pun ikut tersenyum." (HR. Muslim).
Membiasakan kehidupan yang teratur dan disiplin. Pembiasaan ini
dilatih dengan mematuhi tata tertib hubungan antara imam dan
ma'mum, misalnya tidak boleh menyamai apalagi mendahului
gerakan imam menjaga kesempurnaan shaf-shaf shalat. Rasulullah
SAW bersabda: "Imam itu diadakan agar diikuti, maka jangan sekalikali kamu menyalahinya! Jika ia takbir maka takbirlah kalian, jika ia
ruku' maka ruku'lah kalian, jika ia mengucapkan 'sami'alLaahu liman
hamidah' katakanlah 'Allahumma rabbana lakal Hamdu', Jika ia
sujud maka sujud pulalah kalian. Bahkan apabila ia shalat sambil
duduk, shalatlah kalian sambil duduk pula!" (HR. Bukhori dan
Muslim, shahih).
Dari Barra' bin Azib berkata: "Kami shalat bersama Nabi SAW.
Maka diwaktu beliau membaca 'sami'alLaahu liman hamidah'
tidak seorang pun dari kami yang berani membungkukkan
punggungnya sebelum Nabi SAW meletakkan dahinya ke
lantai. (Jama'ah)
Merupakan pantulan kebaikan dan ketaqwaan. Allah SWT
berfiman: "Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah
ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir,
serta tetap mendirikan shalat." (QS. 9:18).

Shalat Wajibyaitu shalat yang tidak wajib berjamaah tetapi


sebaiknya berjamaah

Shalat dalam kondisi khusus


Dalam situasi dan kondisi tertentu kewajiban melakukan shalat
diberi keringanan tertentu. Misalkan saat seseorang sakit dan saat
berada dalam perjalanan (safar).
Bila seseorang dalam kondisi sakit hingga tidak bisa berdiri maka ia
dibolehkan melakukan shalat dengan posisi duduk, sedangkan bila
ia tidak mampu untuk duduk maka ia diperbolehkan shalat dengan
berbaring, bila dengan berbaring ia tidak mampu melakukan
gerakan tertentu ia dapat melakukannya dengan isyarat.
Sedangkan bila seseorang sedang dalam perjalanan, ia
diperkenankan menggabungkan (jama) atau meringkas (qashar)
shalatnya. Menjama' shalat berarti menggabungkan dua shalat pada
satu waktu yakni dzuhur dengan ashar atau maghrib dengan isya.
Mengqasar shalat berarti meringkas shalat yang tadinya 4 raka'at
(dzuhur,ashar,isya) menjadi 2 rakaat.

Shalat dalam Al Qur'an


Berikut ini adalah ayat-ayat yang membahas tentang shalat di
dalam Al Qur'an, kitab suci agama Islam.
Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman:
Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan
sebahagian rezki yang Kami berikan kepada mereka secara
sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari
(kiamat) yang pada hari itu tidak ada jual beli dan
persahabatan (QS.Ibrahim :31)14:31
Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatanperbuatan) keji (zinah) dan mungkar. Dan sesungguhnya
mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya
dari ibadat-ibadat lain) Dan Allah mengetahui apa yang kamu
kerjakan (al-Ankabut : 45) 29:45
Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang
menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya,
maka mereka kelak akan menemui kesesatan (Maryam:
59)19:59
Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi
kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh-kesah, dan
apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-

orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap


mengerjakan shalatnya (al-Maarij : 19-23)70:19

Sejarah Shalat Fadhu


Shalat yang mula-mula diwajibkan bagi Nabi Muhammad SAW dan
para pengikutnya adalah Shalat Malam, yaitu sejak diturunkannya
Surat al-Muzzammil (73) ayat 1-19. Setelah beberapa lama
kemudian, turunlah ayat berikutnya, yaitu ayat 20:
Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu
berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau
seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula)
segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah
menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui
bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas
waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu,
karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran.
Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang
yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi
mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain
lagi berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah
(bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah sembahyang,
tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah
pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu
perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya
di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling
besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah;
sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Dengan turunnya ayat ini, hukum Shalat Malam menjadi sunat. Ibnu
Abbas, Ikrimah, Mujahid, al-Hasan, Qatadah, dan ulama salaf
lainnya berkata mengenai ayat 20 ini, "Sesungguhnya ayat ini
menghapus kewajiban Shalat Malam yang mula-mula Allah wajibkan
bagi umat Islam

Catatan kaki
1.

^ Hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim.

2.

^ Hadits riwayat Imam Ahmad dan Tirmidzi.

3.

^ Hadits shahih riwayat Imam Ahmad, At-Thabrani dan Ibnu Hibban.

Referensi
http://rosyidi.com Download tatacara shalat Fardhu dan Jenazah interaktif
dalam format flash.
PDF Ilustrasi Posisi Imam dan Makmum dalam Sholat Berjamaah

Shalat Lima Waktu adalah shalat fardhu (shalat wajib) yang


dilaksanakan lima kali sehari. Hukum shalat ini adalah Fardhu 'Ain,
yakni wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim yang telah menginjak
usia dewasa (pubertas), kecuali berhalangan karena sebab tertentu.
Shalat Lima Waktu merupakan salah satu dari lima Rukun Islam.
Allah menurunkan perintah sholat ketika peristiwa Isra' Mi'raj.
Kelima shalat lima waktu tersebut adalah:
1. Shubuh, terdiri dari 2 raka'at. Waktu Shubuh diawali dari
munculnya fajar shaddiq, yakni cahaya putih yang melintang di
ufuk timur. Waktu shubuh berakhir ketika terbitnya matahari.
2. Zhuhur, terdiri dari 4 raka'at. Waktu Zhuhur diawali jika
matahari telah tergelincir (condong) ke arah barat, dan berakhir
ketika masuk waktu Ashar.
3. Ashar, terdiri dari 4 raka'at. Waktu Ashar diawali jika panjang
bayang-bayang benda melebihi panjang benda itu sendiri.
Khusus untuk madzab Imam Hanafi, waktu Ahsar dimulai jika
panjang bayang-bayang benda dua kali melebihi panjang benda
itu sendiri. Waktu Ashar berakhir dengan terbenamnya
matahari.
4. Maghrib, terdiri dari 3 raka'at. Waktu Maghrib diawali dengan
terbenamnya matahari, dan berakhir dengan masuknya waktu
Isya'.
5. Isya', terdiri dari 4 raka'at. Waktu Isya' diawali dengan
hilangnya cahaya merah (syafaq) di langit barat, dan berakhir
hingga terbitnya fajar shaddiq keesokan harinya. Menurut Imam
Syi'ah, Shalat Isya' boleh dilakukan setelah mengerjakan Shalat
Maghrib.
Khusus pada hari Jumat, Muslim laki-laki wajib melaksanakan shalat
Jumat di masjid secara berjamaah (bersama-sama) sebagai
pengganti Shalat Zhuhur. Shalat Jumat tidak wajib dilakukan oleh
perempuan, atau bagi mereka yang sedang dalam perjalanan
(musafir).
Berdasarkan hadist, dari Abdullah bin Umar ra, Nabi Muhammad
bersabda: Waktu shalat Zhuhur jika matahari telah tergelincir, dan
dalam keadaan bayangan dari seseorang sama panjangnya selama
belum masuk waktu Ashar. Dan waktu Ashar hingga matahari belum
berwarna kuning (terbenam). Dan waktu shalat Maghrib selama
belum terbenam mega merah. Dan waktu shalat Isya' hingga

pertengahan malam bagian separuhnya. Waktu shalat Subuh dari


terbit fajar hingga sebelum terbit matahari. (Shahih Muslim)
Waktu shalat dari hari ke hari, dan antara tempat satu dan lainnya
bervariasi. Waktu shalat sangat berkaitan dengan peristiwa
peredaran semu matahari relatif terhadap bumi. Pada dasarnya,
untuk menentukan waktu sholat, diperlukan letak geografis, waktu
(tanggal), dan ketinggian.

Syuruq
Syuruq adalah terbitnya matahari. Waktu syuruq menandakan
berakhirnya waktu Shubuh. Waktu terbit matahari dapat dilihat pada
almanak astronomi atau dihitung dengan menggunakan algoritma
tertentu.

Zhuhur
Waktu istiwa' (zawaal) terjadi ketika matahari berada di titik
tertinggi. Istiwa' juga dikenal dengan sebutan "tengah hari" (Bahasa
Inggris: midday/noon). Pada saat istiwa', mengerjakan ibadah shalat
(baik wajib maupun sunnah) adalah haram. Waktu zhuhur tiba
sesaat setelah istiwa', yakni ketika matahari telah condong ke arah
barat. Waktu "tengah hari" dapat dilihat pada almanak astronomi
atau dihitung dengan menggunakan algoritma tertentu.
Secara astronomis, waktu Zhuhur dimulai ketika tepi "piringan"
matahari telah keluar dari garis zenith, yakni garis yang
menghubungkan antara pengamat dengan pusat letak matahari
ketika berada di titik tertinggi (istiwa'). Secara teoretis, antara
istiwa' dengan masuknya zhuhur membutuhkan waktu 2,5 menit,
dan untuk faktor keamanan, biasanya pada jadwal shalat, waktu
zhuhur adalah 5 menit setelah istiwa'.[rujukan?]

Ashar
Menurut mazhab Syafi'i, Maliki, dan Hambali, waktu Ashar diawali
jika panjang bayang-bayang benda melebihi panjang benda itu
sendiri. Sementara madzab Imam Hanafi mendefinisikan waktu
Ashar jika panjang bayang-bayang benda dua kali melebihi
panjang benda itu sendiri. Waktu Ashar dapat dihitung dengan
algoritma tertentu yang menggunakan trigonometri tiga dimensi.

Maghrib
Waktu Maghrib diawali ketika terbenamnya matahari. Terbenam
matahari di sini berarti seluruh "piringan" matahari telah "masuk" di
bawah horizon (cakrawala).

Isya dan Shubuh


Waktu Isya didefinisikan dengan ketika hilangnya cahaya merah
(syafaq) di langit, hingga terbitnya fajar shaddiq. Sedangkan waktu

Shubuh diawali ketika terbitnya fajar shaddiq, hingga sesaat


sebelum terbitnya matahari (syuruq).
Perlu diketahui, bahwa sesaat setelah matahari terbenam, langit
kita tidak langsung gelap, karena bumi kita memiliki atmosfer
sehingga meskipun matahari berada di bawah horizon (ufuk barat),
masih ada cahaya matahari yang direfraksikan di langit.
Dari sisi astronomis, cahaya di langit yang terdapat sebelum
terbitnya matahari dan setelah terbenamnya matahari dinamakan
twilight, yang secara harfiah artinya "cahaya diantara dua", yakni
antara siang
dan malam. Dalam Bahasa Arab, "twilight" disebut syafaq. Secara
astronomis, terdapat tiga definisi twilight:
Twilight Sipil, yakni ketika matahari berada 6 di bawah
horizon
Twilight Nautikal, yakni ketika matahari berada 12 di
bawah horizon
Twilight Astronomis, yakni ketika matahari berada 18 di
bawah horizon
Astronom menganggap "Twilight Astronomis Petang" menandakan
dimulainya malam hari; namun definisi ini adalah untuk keperluan
praktis saja.
Secara astronomis, waktu Shubuh merupakan kebalikan dari waktu
Isya'. Menjelang pagi hari, fajar ditandai dengan adanya cahaya
yang menjulang tinggi (vertikal) di ufuk timur; Ini dinamakan "fajar
kadzib". Cahaya tersebut kemudian menyebar di cakrawala (secara
horizontal), dan ini dinamakan "fajar shaddiq".
Bagi penentuan jadwal waktu shalat (yakni munculnya "fajar
shaddiq" dan hilangnya syafaq di petang hari), terdapat variasi
penentuan sudut "twilight" oleh berbagai organisasi. Banyak
diantara umat Islam menggunakan Twilight Astronomis (yakni ketika
matahari berada 18 di bawah horizon) sebagai waktu fajar shaddiq.
Sebagian yang lain menetapkan kriteria fajar shaddiq atau syafaq
terjadi ketika matahari berada 17, 19, 20, dan bahkan 21.
Sebagian yang lain bahkan menggunakan kriteria penambahan 90
menit, 75 menit, atau 60 menit.
Sebuah penelitian dan observasi di berbagai tempat di dunia
menunjukkan bahwa penentuan sudut twilight tertentu ternyata
tidak valid (tidak bisa berlaku) untuk seluruh tempat di bumi ini
terhadap peristiwa fajar shaddiq dan hilangnya syafaq [1]. Peristiwa

tersebut merupakan fungsi dari letak lintang dan musim yang


bervariasi di tempat satu dan lainnya

Imsak
Ketika menjalankan ibadah puasa, waktu Shubuh menandakan
dimulainya ibadah puasa. Untuk faktor "keamanan", ditetapkan
waktu Imsak, yang umumnya 5-10 menit menjelang waktu Shubuh.

Referensi:
Rukyatul Hilal Indonesia, waktu Shalat
moonsighting.com
Seputar Fajr Shaddiq

Kriteria Imam
Kriteria pemilihan Imam shalat tergambar dalam hadits Nabi
Muhammad SAW. yang diriwayatkan oleh Abu Mas'ud Al-Badri:
"Yang boleh mengimami kaum itu adalah orang yang paling
pandai di antara mereka dalam memahami kitab Allah (Al
Qur'an) dan yang paling banyak bacaannya di antara mereka.
Jika pemahaman mereka terhadap Al-Qur'an sama, maka yang
paling dahulu di antara mereka hijrahnya ( yang paling dahulu
taatnya kepada agama). Jika hijrah (ketaatan) mereka sama,
maka yang paling tua umurnya di antara mereka".

Kehadiran Jama'ah Wanita di dalam Masjid


Wanita diperbolehkan hadir berjama'ah di masjid dengan syarat
harus menjauhi segala sesuatu yang menyebabkan timbulnya
syahwat ataupun fitnah. Baik karena perhiasan atau harumharuman yang dipakainya.
Rasulullah SAW bersabda: "Janganlah kamu larang wanitawanita itu pergi ke masjid-masjid Allah, tetapi hendaklah
mereka itu keluar tanpa memakai harum-haruman." (HR.
Ahmad dan Abu Daud dari Abu Huraira RA).
"Siapa-siapa diantara wanita yang memakai harum-haruman,
janganlah ia turut shalat Isya bersama kami." (HR. Muslim,
Abu Daud dan Nasa'i dari Abu Huraira RA, isnad hasan).
Bagi kaum wanita yang lebih utama adalah shalat di rumah,
berdasarkan hadits dari Ummu Humaid As-Saayidiyyah RA
bahwa Ia datang kepada Rasulullah SAW dan mengatakan: "Ya
Rasulullah, saya senang sekali shalat di belakang Anda."

Beliaupun menanggapi: "Saya tahu akan hal itu, tetapi


shalatmu di rumahmu adalah lebih baik dari shalatmu di
masjid kaummu, dan shalatmu di masjid kaummu lebih baik
dari shalatmu di masjid Umum." (HR. Ahmad dan Thabrani).
Rasulullah SAW bersabda: "Janganlah kalian melarang para
wanita untuk pergi ke masjid, tetapi (shalat) di rumah adalah
lebih baik untuk mereka." (HR. Ahmad dan Abu Daud dari Ibnu
Umar RA).

Kiblat
Sejarah
Pada mulanya, kiblat mengarah ke Yerusalem. Menurut Ibnu Katsir,[1]
Rasulullah SAW dan para sahabat shalat dengan menghadap Baitul
Maqdis. Namun, Rasulullah lebih suka shalat menghadap kiblatnya
Nabi Ibrahim, yaitu Ka'bah. Oleh karena itu beliau sering shalat di
antara dua sudut Ka'bah sehingga Ka'bah berada di antara diri
beliau dan Baitul Maqdis. Dengan demikian beliau shalat sekaligus
menghadap Ka'bah dan Baitul Maqdis.
Setelah hijrah ke Madinah, hal tersebut tidak mungkin lagi. Ia shalat
dengan menghadap Baitul Maqdis. Ia sering menengadahkan
kepalanya ke langit menanti wahyu turun agar Ka'bah dijadikan
kiblat shalat. Allah pun mengabulkan keinginan beliau dengan
menurunkan ayat 144 dari Surat al-Baqarah:
Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke
langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke
kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah
Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah
mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi
dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang
mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah
benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari
apa yang mereka kerjakan (Maksudnya ialah Nabi Muhammad
SAW sering melihat ke langit mendoa dan menunggu-nunggu
turunnya wahyu yang memerintahkan beliau menghadap ke
Baitullah).[2]
Juga diceritakan dalam suatu hadits riwayat Imam Bukhari:[3]
Dari al-Bara bin Azib, bahwasanya Nabi SAW pertama tiba di
Madinah beliau turun di rumah kakek-kakek atau pamanpaman dari Anshar. Dan bahwasanya beliau shalat
menghadap Baitul Maqdis enam belas atau tujuh belas bulan.
Dan beliau senang kiblatnya dijadikan menghadap Baitullah.
Dan shalat pertama beliau dengan menghadap Baitullah
adalah shalat Ashar dimana orang-orang turut shalat
(bermakmum) bersama beliau. Seusai shalat, seorang lelaki

yang ikut shalat bersama beliau pergi kemudian melewati


orang-orang di suatu masjid sedang ruku. Lantas dia berkata:
"Aku bersaksi kepada Allah, sungguh aku telah shalat bersama
Rasulullah SAW dengan menghadap Makkah." Merekapun
dalam keadaan demikian (ruku) merubah kiblat menghadap
Baitullah. Dan orang-orang Yahudi dan Ahli Kitab senang
beliau shalat menghadap Baitul Maqdis. Setelah beliau
memalingkan wajahnya ke Baitullah, mereka mengingkari hal
itu. Sesungguhnya sementara orang meninggal dan terbunuh
sebelum berpindahnya kiblat, sehingga kami tidak tahu apa
yang akan kami katakan tentang mereka. Kemudian Allah
yang Maha Tinggi menurunkan ayat "dan Allah tidak akan
menyia-nyiakan imanmu" (al-Baqarah, 2:143).[2]
Hal itu terjadi pada tahun 624. Dengan turunnya ayat tersebut,
kiblat diganti menjadi mengarah ke Ka'bah di Mekkah. Selain arah
shalat, kiblat juga merupakan arah kepala hewan yang disembelih,
juga arah kepala jenazah yang dimakamkan.
Perhitungan geometris arah kiblat
Dalam 1000 tahun terakhir, sejumlah matematikawan dan astronom
Muslim seperti Biruni telah melakukan perhitungan yang tepat untuk
menentukan arah kiblat dari berbagai tempat di dunia. Seluruhnya
setuju bahwa setiap tahun ada dua hari dimana matahari berada
tepat di atas Ka'bah, dan arah bayangan matahari dimanapun di
dunia pasti mengarah ke Kiblat. Peristiwa tersebut terjadi setiap
tanggal 28 Mei pukul 9.18 GMT (16.18 WIB) dan 16 Juli jam 9.27
GMT (16.27 WIB) untuk tahun biasa. Sedang kalau tahun kabisat,
tanggal tersebut dimajukan satu hari, dengan jam yang sama.
Tentu saja pada waktu tersebut hanya separuh dari bumi yang
mendapat sinar matahari. Selain itu terdapat 2 hari lain dimana
matahari tepat di "balik" Ka'bah (antipoda), dimana bayangan
matahari pada waktu tersebut juga mengarah ke Ka'bah. Peristiwa
tersebut terjadi pada tanggal 28 November 21.09 GMT (4.09 WIB)
dan 16 Januari jam 21.29 GMT (4.29 WIB)
Qiamullail adalah merujuk kepada amalan beribadat pada malam
hari dengan mengerjakan solat-solat sunat seperti solat Sunat
Taubat, Tahajjud, Witir dan lain2, serta amalan2 seperti membaca
Al-Quran , berzikir , beristighfar, berdoa dan sebagainya . Ibadah
Qiamullail sangat digalakan di dalam Islam. Qiamullail boleh
dikerjakan secara berseorangan atau secara beramai-ramai.

Kelebihan
Banyak ayat Al-Qur'an dan hadith nabi yang menerangkan tentang
kelebihan bagi mereka yang mengerjakan ibadah Qiamullail. Di
antaranya ialah firman Allah S.W.T.:
Maksudnya:

"Dan bangunlah pada sebahagian dari waktu malam serta


kerjakanlah "Sembahyang Tahajjud" padanya sebagai
sembahyang tambahan bagimu, semoga Tuhanmu
membangkitkan dan menempatkanmu pada hari akhirat di
tempat yang terpuji".
(Surah al-Isra': 79)
Ketika melakukan digalakkan melakukan solat sunat seperti
berikut :1. Solat Sunat Awwabin
2. Solat Sunat Tahajjud
3. Solat Sunat Hajat
4. Solat Sunat Taubat
5. Solat Sunat Tasbih
6. Solat Sunat Witir
Safar (bahasa Arab )secara harfiah berarti melakukan
perjalanan. Orang yang melakukan safar disebut dengan musafir.

Safar dan Shalat


Dalam ajaran agama Islam, bagi mereka yang sedang dalam
keadaan safar (melakukan perjalanan) diberikan keringanan dalam
melakukan ibadah shalat. Keringanan yang didapatkan antara lain:
Dapat meringkas shalat (Qashar), yakni mengurangi jumlah
raka'at shalat yang tadinya 4 raka'at menjadi 2 raka'at
(Dzhuhur, Ashar, Isya).
Dapat melakukan dua shalat pada satu waktu
(Jamak/digabungkan), baik diawal (Taqdim) maupun diakhir
(Takhir). Yakni pasangan shalat Dzuhur dengan Ashar
dikerjakan di waktu dzuhur (Taqdim) atau diwaktu Ashar
(Takhir) atau pasangan shalat isya dan maghrib dikerjakan
pada waktu Maghrib atau Isya
Shalat Awwabin adalah satu jenis shalat sunnat. Awwabin sendiri
berasal dari bahasa arab yang berarti (orang yang sering
bertaubat). Ada perbedaan pendapat mengenai shalat ini
dikalangan para ulama. Ada yang mengatakan bahwa shalat
awwabin dilakukan antara waktu maghrib dan isya, sementara yang
lain mengatakan shalat awwabin adalah nama lain dari shalat
dhuha.

Hadits terkait
"Shalatnya orang-orang awwabin (yang sering bertaubat
kepada Allah) adalah ketika anak unta merasa kepanasan"
(HR. Muslim : 848)
"Tidak ada yang menjaga shalat dhuha kecuali orang awwab
(sering bertaubat). Rasulullah bersabda: "Itu adalah shalatnya
orang-orang yang sering bertaubat" (HR Ibnu Khuzaimah
dalam Shahihnya: 1224, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 1/313
Ath Thabarani dalam Al-Ausath: 4322. Disahihkan Al Hakim
dan disepakati Adz-Dzahabi. Dan dihasankan Al-Albani dalam
silsilah Ash-Shahihah no. 707).
Dari Zaid bin Arqam ra. Berkata :" Nabi SAW keluar ke
penduduk Quba dan mereka sedang shalat dhuha. Ia
bersabda,'Shalat awwabin (duha) berakhir hingga panas
menyengat (tengah hari)' ". (HR Ahmad Muslim dan Tirmizy)
Shalat Dhuha adalah shalat sunnat yang dilakukan seorang
muslim ketika waktu dhuha. Waktu dhuha adalah waktu ketika
matahari mulai naik kurang lebih 7 hasta sejak terbitnya (kira-kira
pukul tujuh pagi) hingga waktu dzuhur. Jumlah raka'at shalat dhuha
bisa dengan 2,4,8 atau 12 raka'at. Dan dilakukan dalam satuan 2
raka'at sekali salam

Hadits terkait
Hadits Rasulullah SAW terkait shalat dhuha antara lain :
Barang siapa shalat Dhuha 12 rakaat, Allah akan
membuatkan untuknya istana disurga (H.R. Tirmiji dan Abu
Majah)
"Siapapun yang melaksanakan shalat dhuha dengan
langgeng, akan diampuni dosanya oleh Allah, sekalipun dosa
itu sebanyak buih di lautan." (H.R Tirmidzi)
"Dari Ummu Hani bahwa Rasulullah SAW shalat dhuha 8
rakaat dan bersalam tiap dua rakaat." (HR Abu Daud)
"Dari Zaid bin Arqam ra. Berkata,"Nabi SAW keluar ke
penduduk Quba dan mereka sedang shalat dhuha. Ia
bersabda,?Shalat awwabin (duha) berakhir hingga panas
menyengat (tengah hari)." (HR Ahmad Muslim dan Tirmidzi)
"Rasulullah bersabda di dalam Hadits Qudsi, Allah SWT
berfirman, Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau
malas mengerjakan empat rakaat shalat dhuha, karena

dengan shalat tersebut, Aku cukupkan kebutuhanmu pada


sore harinya. (HR Hakim & Thabrani)
"Barangsiapa yang masih berdiam diri di masjid atau tempat
shalatnya setelah shalat shubuh karena melakukan itikaf,
berzikir, dan melakukan dua rakaat shalat dhuha disertai tidak
berkata sesuatu kecuali kebaikan, maka dosa-dosanya akan
diampuni meskipun banyaknya melebihi buih di lautan. (HR
Abu Daud)

Doa shalat dhuha


Pada dasarnya doa setelah shalat dhuha dapat menggunakan do'a
apapun. Doa yang biasa dilakukan oleh Rasulullah selepas shalat
dhuha adalah :
"Ya Allah, bahwasanya waShalat Dhuha
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Langsung ke:
navigasi, cari Shalat Dhuha adalah shalat sunnat yang dilakukan
seorang muslim ketika waktu dhuha. Waktu dhuha adalah waktu
ketika matahari mulai naik kurang lebih 7 hasta sejak terbitnya
(kira-kira pukul tujuh pagi) hingga waktu dzuhur. Jumlah raka'at
shalat dhuha bisa dengan 2,4,8 atau 12 raka'at. Dan dilakukan
dalam satuan 2 raka'at sekali salam.
[sunting] Hadits terkait Hadits Rasulullah SAW terkait shalat dhuha
antara lain :
Barang siapa shalat Dhuha 12 rakaat, Allah akan membuatkan
untuknya istana disurga (H.R. Tirmiji dan Abu Majah) "Siapapun
yang melaksanakan shalat dhuha dengan langgeng, akan diampuni
dosanya oleh Allah, sekalipun dosa itu sebanyak buih di lautan."
(H.R Tirmidzi) "Dari Ummu Hani bahwa Rasulullah SAW shalat dhuha
8 rakaat dan bersalam tiap dua rakaat." (HR Abu Daud) "Dari Zaid
bin Arqam ra. Berkata,"Nabi SAW keluar ke penduduk Quba dan
mereka sedang shalat dhuha. Ia bersabda,?Shalat awwabin (duha)
berakhir hingga panas menyengat (tengah hari)." (HR Ahmad
Muslim dan Tirmidzi) "Rasulullah bersabda di dalam Hadits Qudsi,
Allah SWT berfirman, Wahai anak Adam, jangan sekali-kali engkau
malas mengerjakan
empat rakaat shalat dhuha, karena dengan shalat tersebut, Aku
cukupkan kebutuhanmu pada sore harinya. (HR Hakim & Thabrani)
"Barangsiapa yang masih berdiam diri di masjid atau tempat
shalatnya setelah shalat shubuh karena melakukan itikaf, berzikir,
dan melakukan dua rakaat shalat dhuha disertai tidak berkata
sesuatu kecuali kebaikan, maka dosa-dosanya akan diampuni
meskipun banyaknya melebihi buih di lautan. (HR Abu Daud)
[sunting] Doa shalat dhuha Pada dasarnya doa setelah shalat dhuha
dapat menggunakan do'a apapun. Doa yang biasa dilakukan oleh
Rasulullah selepas shalat dhuha adalah :

"Ya Allah, bahwasanya waktu Dhuha itu adalah waktu Dhuha-Mu,


kecantikan ialah kecantikan-Mu, keindahan itu keindahan-Mu, dan
perlindungan itu, perlindungan-Mu". "Ya Allah, jika rezekiku masih di
atas langit, turunkanlah dan jika ada di dalam bumi , keluarkanlah,
jika sukar mudahkanlah, jika haram sucikanlah, jika masih jauh
dekatkanlah, berkat waktu Dhuha, keagungan, keindahan, kekuatan
dan kekuasaan-Mu, limpahkanlah kepada kami segala yang telah
Engkau limpahkan kepada hamba-hamba-Mu yang shalehktu Dhuha
itu adalah waktu Dhuha-Mu, kecantikan ialah kecantikan-Mu,
keindahan itu keindahan-Mu, dan perlindungan itu, perlindunganMu". "Ya Allah, jika rezekiku masih di atas langit, turunkanlah dan
jika ada di dalam bumi , keluarkanlah, jika sukar mudahkanlah, jika
haram sucikanlah, jika masih jauh dekatkanlah, berkat waktu
Dhuha, keagungan, keindahan, kekuatan dan kekuasaan-Mu,
limpahkanlah kepada kami segala yang telah Engkau limpahkan
kepada hamba-hamba-Mu yang shaleh".

Referensi
Kumpulan Shalat-Shalat Sunnat, Drs. Moh. Rifa'i, CV Toha
Putra, Semarang, 1993
Tuntunan shalat sunnat, Dzikir.org
Keajaiban Shalat Dhuha. Muhammad Abu Ayyas.
QultumMedia. Jakarta. 2007.
www.qultummedia.com
Shalat Fardhu adalah shalat dengan status hukum Fardhu, yakni
wajib dilaksanakan. Shalat Fardhu sendiri menurut hukumnya terdiri
atas dua golongan yakni :
Fardhu 'Ain yakni yang diwajibkan kepada individu. Termasuk
dalam shalat ini adalah shalat lima waktu dan shalat Jumat
untuk pria.
Fardhu Kifayah yakni yang diwajibkan atas seluruh muslim
namun akan gugur dan menjadi sunnat bila telah
dilaksanakan oleh sebagian muslim yang lain. Yang termasuk
dalam kategori ini adalah shalat jenazah.
Shalat Gerhana atau shalat kusufain sesuai dengan namanya
dilakukan saat terjadi gerhana baik bulan maupun matahari. Shalat
yang dilakukan saat gerhana bulan disebut dengan shalat khusuf
sedangkan saat gerhana matahari disebut dengan shalat kusuf.

Latar Belakang
Hadits yang mendasari dilakukannya shalat gerhana ialah:

"Telah terjadi gerhana matahari pada hari wafatnya Ibrahim


putera Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam. Berkatalah
manusia: Telah terjadi gerhana matahari kerana wafatnya
Ibrahim. Maka bersabdalah Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa
sallam "Bahwasanya matahari dan bulan adalah dua tanda
dari tanda-tanda kebesaran Allah. Allah mempertakutkan
hamba-hambaNya dengan keduanya. Matahari gerhana,
bukanlah kerana matinya seseorang atau lahirnya. Maka
apabila kamu melihat yang demikian, maka hendaklah kamu
shalat dan berdoa sehingga habis gerhana." (HR. Bukhari &
Muslim)

Niat Shalat
Niat shalat ini, sebagaimana juga shalat-shalat yang lain cukup
diucapkan didalam hati, yang terpenting adalah niat hanya semata
karena Allah Ta'ala semata dengan hati yang ikhlas dan
mengharapkan Ridho Nya, apabila ingin dilafalkan jangan terlalu
keras sehingga mengganggu Muslim lainnya, memang ada
beberapa pendapat tentang niat ini gunakanlah dengan hikmah
bijaksana.

Tata Cara
Shalat gerhana dilakukan dua rakaat dengan 4 kali ruku yaitu pada
rakaat pertama, setelah ruku dan Itidal membaca Al Fatihah lagi
kemudian ruku dan Itidal kembali setelah itu sujud sebagaimana
biasa. Begitu pula pada rakaat kedua.
Bacaan Al Fatihah pada shalat gerhana bulan dinyaringkan
sedangkan pada gerhana matahari tidak. Dalam membaca surat
yang sunnat pada tiap raka'at, disunnatkan membaca yang panjang.
Hukum shalat gerhana adalah sunnat muakkad berdasarkan hadits
Aisyah Radhiallaahu anha. Nabi dan para shahabat melakukan di
masjid dengan tanpa adzan dan iqamah.

Referensi
Kumpulan Shalat-Shalat Sunnat, Drs. Moh. Rifa'i, CV Toha
Putra, Semarang, 1993
Tuntunan shalat sunnat, Dzikir.org
Shalat Hajat adalah shalat sunnat yang dilakukan seorang muslim
saat memiliki hajat tertentu dan ingin dikabulkan Allah. Shalat Hajat
dilakukan antara 2 hingga 12 raka'at dengan salam di setiap 2
rakaat. Shalat ini dapat dilakukan kapan saja kecuali pada waktuwaktu yang dilarang untuk melakukan shalat.

Niat Shalat
Niat shalat ini, seperti juga shalat-shalat lain, diucapkan didalam
hati, yang terpenting adalah niat hanya semata karena Allah dengan
hati yang ikhlas dan mengharapkan ridha-Nya, apabila ingin
dilafalkan jangan terlalu keras sehingga mengganggu Muslim
lainnya, memang ada beberapa pendapat tentang niat ini
gunakanlah dengan hikmah bijaksana.
Niat dilakukan di dalam hati ketika sedang takbiratul ihram
(mengangkat tangan). Lafazh niat shalat hajat:


Ushollii sunnatal haajati rokaataini lillaahi taaala.
Artinya: Aku berniat shalat hajat sunah hajat dua rakaat karena
Allah Taala.

Bacaan Surat
[[Membaca Ayat Kursi dan surah Al-Ikhlash pada tiap rakaat.
Diriwayatkan dari Wahiib ibn Al-Ward, ia mengatakan bahwa dari
doa yang dikabulkan adalah seorang hamba yang shalat 12 rakaat,
ia membaca pada tiap rakaatnya ayat Kursi dan surah Al-Ikhlas.
(Abdullah ibn Ahmad ibn Qudamah Al-Maqdisi Abu Muhammad. AlMughni fi Fiqhi Al-Imam Ahmad ibn Hanbal As-Syaibaani. 1405
H.Daarul Fiqr: Beirut.

Hadits terkait
Hadits Rasulullah SAW terkait shalat hajat antara lain :
"Siapa yang berwudhu dan sempurna wudhunya, kemudian shalat
dua rakaat (Shalat Hajat) dan sempurna rakaatnya maka
Allah berikan apa yang ia pinta cepat atau lambat"
( HR.Ahmad )
Barangsiapa yang memunyai kebutuhan (hajat) kepada Allah
atau salah seorang manusia dari anak-cucu adam, maka
wudhulah dengan sebaik-baik wudhu. Kemudian shalat dua
rakaat (shalat Hajat), lalu memuji kepada Allah, mengucapkan
salawat kepada Nabi ? Setelah itu, mengucapkan Laa illah
illallohul haliimul kariimu, subhaana.... (HR Tirmidzi dan Ibnu
Majah)
Diriwayatkan dari Abu Sirah an-Nakhiy, dia berkata, Seorang
laki-laki menempuh perjalanan dari Yaman. Di tengah perjalan
keledainya mati, lalu dia mengambil wudhu kemudian shalat
dua rakaat, setelah itu berdoa. Dia mengucapkan, Ya Allah,

sesungguhnya saya datang dari negeri yang sangat jauh guna


berjuang di jalan-Mu dan mencari ridha-Mu. Saya bersaksi
bahwasanya Engkau menghidupkan makhluk yang mati dan
membangkitkan manusia dari kuburnya, janganlah Engkau
jadikan saya berhutang budi terhadap seseorang pada hari ini.
Pada hari ini saya memohon kepada Engkau supaya
membangkitkan keledaiku yang telah mati ini. Maka, keledai
itu bangun seketika, lalu mengibaskan kedua telinganya. (HR
Baihaqi; ia mengatakan, sanad cerita ini shahih)
Ada seorang yang buta matanya menemui Nabi saw, lalu ia
mengatakan, Sesungguhnya saya mendapatkan musibah
pada mata saya, maka berdoalah kepada Allah (untuk)
kesembuhanku. Maka Nabi saw bersabda, Pergilah, lalu
berwudhu, kemudian shalatlah dua rakaat (shalat hajat).
Setelah itu, berdoalah.... Dalam waktu yang singkat, laki-laki
itu terlihat kembali seperti ia tidak pernah buta matanya.
Kemudian Rasulullah saw bersabda, Jika kamu memiliki
kebutuhan (hajat), maka lakukanlah seperti itu (shalat hajat).
(HR Tirmidzi)

Referensi
Keajaiban Shalat Hajat - Membuat Keinginan Menjadi
Kenyataan. Ibnu Thahir Qultummedia,Jakarta 2007
Kumpulan Shalat-Shalat Sunnat, Drs. Moh. Rifa'i, CV Toha
Putra, Semarang, 1993
Tuntunan shalat sunnat, Dzikir.org
Nursyifa.net,Shalat Hajat
The Power of Shalat Hajat. DR. Ahmad Sudiman Abbas,
M.A.. Qultummedia. Jakarta. 2008
http://www.qultummedia.com
Shalat Ied adalah ibadah shalat sunnat yang dilakukan setiap hari
raya Idul Fitri dan Idul Adha. Shalat Ied termasuk dalam shalat
sunnat muakkad, artinya shalat ini walaupun bersifat sunnat namun
sangat penting sehingga sangat dianjurkan untuk tidak
meninggalkannya

Niat Shalat
Niat shalat ini, sebagaimana juga shalat-shalat yang lain cukup
diucapkan didalam hati, yang terpenting adalah niat hanya semata
karena Allah Ta'ala semata dengan hati yang ikhlas dan
mengharapkan Ridho Nya, apabila ingin dilafalkan jangan terlalu

keras sehingga mengganggu Muslim lainnya, memang ada


beberapa pendapat tentang niat ini gunakanlah dengan hikmah
bijaksana.

Waktu dan tata cara pelaksanaan


Waktu shalat hari raya adalah setelah terbit matahari sampai
condongnya matahari. Syarat, rukun dan sunnatnya sama seperti
shalat yang lainnya. Hanya ditambah beberapa sunnat sebagai
berikut :
Berjamaah
Takbir tujuh kali pada rakaat pertama, dan lima kali pada rakat
kedua
Mengangkat tangan setinggi bahu pada setiap takbir.
Setelah takbir yang kedua sampai takbir yang terakhir
membaca tasbih.
Membaca surat Qaf dirakaat pertama dan surat Al Qomar di
rakaat kedua. Atau surat Ala dirakat pertama dan surat Al
Ghasiyah pada rakaat kedua.
Imam menyaringkan bacaannya.
Khutbah dua kali setelah shalat sebagaimana khutbah jumat
Pada khutbah Idul Fitri memaparkan tentang zakat fitrah dan
pada Idul Adha tentang hukum hukum Qurban.
Mandi, berhias, memakai pakaian sebaik-baiknya.
Makan terlebih dahulu pada shalat Idul Fitri pada Shalat Idul
Adha sebaliknya.

Hadits berkenaan
Diriwayatkan dari Abu Said, ia berkata : Adalah Nabi SAW.
pada hari raya idul fitri dan idul adha keluar ke mushalla
(padang untuk shalat), maka pertama yang beliau kerjakan
adalah shalat, kemudian setelah selesai beliau berdiri
menghadap kepada manusia sedang manusia masih duduk
tertib pada shaf mereka, lalu beliau memberi nasihat dan
wasiat (khutbah) apabila beliau hendak mengutus tentara
atau ingin memerintahkan sesuatu yang telah beliau
putuskan,beliau perintahkan setelah selesai beliau pergi.
(H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

Telah berkata Jaabir ra: Saya menyaksikan shalat 'ied bersama


Nabi saw. beliau memulai shalat sebelum khutbah tanpa
adzan dan tanpa iqamah, setelah selesai beliau berdiri
bertekan atas Bilal, lalu memerintahkan manusia supaya
bertaqwa kepada Allah, mendorong mereka untuk taat,
menasihati manusia dan memperingatkan mereka, setelah
selesai beliau turun mendatangai shaf wanita dan selanjutnya
beliau memperingatkan mereka. (H.R : Muslim)
Diriwayatkan dari Ummu 'Atiyah ra. ia berkata : Rasulullah
SAW. memerintahkan kami keluar pada 'idul fitri dan 'idul
adhha semua gadis-gadis, wanita-wanita yang haid, wanitawanita yang tinggal dalam kamarnya. Adapun wanita yang
sedang haid mengasingkan diri dari mushalla tempat shalat
'ied, mereka menyaksikan kebaikan dan mendengarkan
da'wah kaum muslimin (mendengarkan khutbah). Saya
berkata : Yaa Rasulullah bagaimana dengan kami yang tidak
mempunyai jilbab? Beliau bersabda : Supaya saudaranya
meminjamkan kepadanya dari jilbabnya. (H.R : Jama'ah)
Diriwayatkan dariAnas bin Malik ra. ia berkata : Adalah Nabi
SAW. Tidak berangkat menuju mushalla kecuali beliau
memakan beberapa biji kurma, dan beliau memakannya
dalam jumlah bilangan ganjil. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim)
Diriwayatkan dari Zaid bin Arqom ra. ia berkata : Nabi SAW.
Mendirikan shalat 'ied, kemudian beliau memberikan ruhkshah
/ kemudahan dalam menunaikan shalat Jumat, kemudian
beliau bersabda : Barang siapa yang mau shalat jumat, maka
kerjakanlah. (H.R : Imam yang lima kecuali At-Tirmidzi)
Diriwayatkan dari Amru bin Syu'aib, dari ayahnya, dari
neneknya, ia berkata : Sesungguhnya Nabi SAW. bertakbir
pada shalat 'ied dua belas kali takbir. dalam raka'at pertama
tujuh kali takbir dan pada raka'at yang kedua lima kali takbir
dan tidak shalat sunnah sebelumnya dan juga sesudahnya.
(H.R : Amad dan Ibnu Majah)
Diriwayatkan bahwa Ibnu Mas'ud ra. bertakbir pada hari-hari
tasyriq dengan lafadz sbb (artinya) : Allah maha besar, Allah
maha besar, tidak ada Illah melainkan Allah dan Allah maha
besar, Allah maha besar dan bagiNya segala puji. (H.R Ibnu
Abi Syaibah dengan sanad shahih)
Diriwayatkan dari Abi Umair bin Anas, diriwayatkan dari seorang
pamannya dari golongan Anshar, ia berkata : Mereka berkata :
Karena tertutup awan maka tidak terlihat oleh kami hilal syawal,
maka pada pagi harinya kami masih tetap shaum, kemudian
datanglah satu kafilah berkendaraan di akhir siang, mereka

bersaksi dihadapan Rasulullah saw.bahwa mereka kemarin


melihat hilal. Maka Rasulullah SAW. memerintahkan semua
manusia (ummat Islam) agar berbuka pada hari itu dan keluar
menunaikan shalat 'ied pada hari esoknya. (H.R : Lima kecuali
At-Tirmidzi)
Diriwayatkan dari Azzuhri, ia berkata : Adalah manusia (para
sahabat) bertakbir pada hari raya ketika mereka keluar dari
rumah-rumah mereka menuju tempat shalat 'ied sampai
mereka tiba di mushalla (tempat shalat 'ied) dan terus
bertakbir sampai imam datang, apabila imam telah datang,
mereka diam dan apabila imam ber takbir maka merekapun
ikut bertakbir. (H.R: Ibnu Abi Syaibah)

Referensi
Kolom Aa GymDetik.com, Panduan Shalat Idul Fitri & Idul Adha
Tuntunan shalat sunnat, Dzikir.org
Shalat Istikharah adalah shalat sunnat yang dikerjakan untuk
meminta petunjuk Allah oleh mereka yang berada diantara
beberapa pilihan dan merasa ragu-ragu untuk memilih. Spektrum
masalah dalam hal ini tidak dibatasi. Seseorang dapat shalat
istikharah untuk menentukan dimana ia kuliah, siapa yang lebih
cocok menjadi jodohnya atau perusahaan mana yang lebih baik ia
pilih. Setelah shalat istikharah, maka dengan izin Allah pelaku akan
diberi kemantapan hati dalam memilih.

Waktu Pengerjaan
Pada dasarnya shalat istikharah dapat dilaksanakan kapan saja
namun dianjurkan pada waktu sepertiga malam terakhir.

Niat Shalat
Niat shalat ini, sebagaimana juga shalat-shalat yang lain cukup
diucapkan didalam hati, yang terpenting adalah niat hanya semata
karena Allah Ta'ala semata dengan hati yang ikhlas dan
mengharapkan Ridho Nya.

Tata Cara
Shalat istikharah boleh dikerjakan dua rakaat atau hingga dua belas
rakaat (enam salam)
Selepas membaca Al-Fatihah pada rakaat yang pertama, baca Surah
Al-Kafiruun (1 kali). Selepas membaca Al-Fatihah pada rakaat yang
kedua, baca 1 Surah Al-Ikhlas (1 kali). Ada pula bacaan lainnya,
selepas membaca Al-Fatihah pada rakaat yang pertama, baca ayat

Al-Kursi (7 kali). Selepas membaca Al-Fatihah pada rakaat yang


kedua, baca Surah Al-Ikhlas (11 kali).
Setelah salam dilanjutkan do'a shalat istikharah kemudian
memohon petunjuk dan mengutarakan masalah yang dihadapi.
Sebuah hadits tentang do'a setelah shalat istikharah dari Jabir r.a
mengemukakan bahwa do'a tersebut dapat berbunyi :
"Ya Allah, aku memohon petunjuk kebaikan kepada-Mu
dengan ilmu-Mu. Aku memohon kekuatan dengan kekuatanMu. Ya Allah, seandainya Engkau tahu bahwa masalah ini baik
untukku dalam agamaku, kehidupanku dan jalan hidupku,
jadikanlah untukku dan mudahkanlah bagi dan berkahilah aku
di dalam masalah ini. Namun jika Engkau tahu bahwa
masalah ini buruk untukku, agamaku dan jalan hidupku,
jauhkan aku darinya dan jauhkan masalah itu dariku.
Tetapkanlah bagiku kebaikan dimana pun kebaikan itu berada
dan ridhailah aku dengan kebaikan itu". (HR Al Bukhari)

Referensi
Kumpulan Shalat-Shalat Sunnat, Drs. Moh. Rifa'i, CV Toha
Putra, Semarang, 1993
Tuntunan shalat sunnat, Dzikir.org
Shalat sunat Istikharah
Shalat tahajjud adalah shalat sunnat yang dikerjakan di malam
hari setelah terjaga dari tidur. Shalat tahajjud termasuk shalat
sunnat mu'akad (shalat yang dikuatkan oleh syara'). Shalat tahajjud
dikerjakan sedikitnya dua rakaat dan sebanyak-banyaknya tidak
terbatas.[1]

Niat shalat
Niat shalat ini, sebagaimana juga shalat-shalat yang lain cukup
diucapkan didalam hati, yang terpenting adalah niat hanya semata
karena Allah Ta'ala semata dengan hati yang ikhlas dan
mengharapkan Ridho Nya, apabila ingin dilafalkan jangan terlalu
keras sehingga mengganggu Muslim lainnya, memang ada
beberapa pendapat tentang niat ini gunakanlah dengan hikmah
bijaksana.

Waktu utama
Shalat tahajjud dapat dilakukan kapanpun pada malam hari asalkan
pelakunya sempat tertidur. Namun waktu paling utama untuk
melakukannya adalah pada sepertiga akhir dari malam.

Keistimewaan shalat tahajjud


Shalat tahajjud merupakan kehormatan bagi seorang muslim, sebab
mendatangkan kesehatan, menghapus dosa-dosa yang dilakukan
siang hari, menghindarkannya dari kesepian dialam kubur,
mengharumkan bau tubuh, menjaminkan baginya kebutuhan hidup,
dan juga menjadi hiasan surga. [2] Selain itu, shalat tahajjud juga
dipercaya memiliki keistimewaan lain, dimana bagi orang yang
mendirikan shalat tahajjud diberikan manfaat, yaitu keselamatan
dan kesenangan di dunia dan akhirat, antara lain wajahnya akan
memancarkan cahaya keimanan, akan dipelihara oleh Allah dirinya
dari segala macam marabahaya, setiap perkataannya mengandung
arti dan dituruti oleh orang lain, akan mendapatkan perhatian dan
kecintaan dari orang-orang yang mengenalinya, dibangkitkan dari
kuburnya dengan wajah yang bercahaya, diberi kitab amalnya
ditangan kanannya, dimudahkan hisabnya, berjalan diatas shirat
bagaikan kilat.[1]
Ketika menerangkan shalat tahajjud, Nabi Muhammad SAW
bersabda, Shalat tahajjud adalah sarana (meraih) keridhaan Tuhan,
kecintaan para malaikat, sunah para nabi, cahaya pengetahuan,
pokok keimanan, istirahat untuk tubuh, kebencian para setan,
senjata untuk (melawan) musuh, (sarana) terkabulnya doa, (sarana)
diterimanya amal, keberkatan bagi rezeki, pemberi syafaat diantara
yang melaksanakannya dan diantara malaikat maut, cahaya di
kuburan (pelaksananya), ranjang dari bawah sisi (pelaksananya),
menjadi jawaban bagi Munkar dan Nakir, teman dan penjenguk di
kubur (pelaksananya) hingga hari kiamat, ketika di hari kiamat
shalat tahajud itu akan menjadi pelindung diatas (pelaksananya),
mahkota di kepalanya, busana bagi tubuhnya, cahaya yang
menyebar didepannya, penghalang diantaranya dan neraka, hujah
(dalil) bagi mukmin dihadapan Allah SWT, pemberat bagi
timbangan, izin untuk melewati Shirath al-Mustaqim, kunci surga...[2]
[3]

Ayat al-Qur'an dan hadits terkait


Ayat Al Qur'an terkait shalat tahajjud:
Al Isra' ayat 79 yang artinya :"Dan pada sebagian malam hari
bershalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan
bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ketempat
yang terpuji" (Q.S. 17:79 ).
Hadits terkait shalat tahajjud:
"Perintah Allah turun ke langit dunia di waktu tinggal
sepertiga akhir dari waktu malam, lalu berseru:Adakah
orang-orang yang memohon (berdo'a), pasti akan
Kukabulkan, adakah orang-orang yang meminta, pasti
akan Kuberi dan adakah yang mengharap/memohon

ampunan, pasti akan Kuampuni baginya. Sampai tiba


waktu Shubuh." (Al Hadits).

Referensi
1. ^ a b Anonim, Keutamaan dan keistimewaan shalat tahajjud, shalat hajat,
shalat istikharah, shalat dhuha beserta wirid, zikir, dan doa-doa pilihan,
Ampel Suci, Surabaya:1995
2. ^ a b Anonim, Maka bertahajjudlah, berdua dengan Tuhan, Al-Huda,
Jakarta:2006
3. ^ Bihar al-Anwar, 87:161

Kumpulan Shalat-Shalat Sunnat, Drs. Moh. Rifa'i, CV Toha


Putra, Semarang, 1993
Tuntunan shalat sunnat, Dzikir.org
Shalat Tahiyyatul Masjid adalah shalat sunnat dua raka'at yang
dilakukan ketika seorang muslim memasuki masjid.

Niat Shalat
Niat shalat ini, sebagaimana juga shalat-shalat yang lain cukup
diucapkan didalam hati dan apabila ingin dilafalkan jangan terlalu
keras sehingga mengganggu Muslim lainnya, memang ada
beberapa pendapat tentang niat ini gunakanlah dengan hikmah
bijaksana.

Hadits terkait
Hadits Rasulullah SAW terkait shalat tahiyyatul masjid antara lain :
Apabila seseorang diantara kamu masuk masjid, maka
janganlah hendak duduk sebelum shalat dua rakaat lebih
dahulu (H.R. Bukhari dan Muslim)

Referensi
Kumpulan Shalat-Shalat Sunnat, Drs. Moh. Rifa'i, CV Toha
Putra, Semarang, 1993
Tuntunan shalat sunnat, Dzikir.org
Shalat Rawatib adalah shalat sunnat yang dilakukan sebelum atau
sesudah shalat lima waktu. Shalat yang dilakukan sebelumnya
disebut shalat qabliyah, sedangkan yang dilakukan sesudahnya
disebut shalat ba'diyah.

Sunnat muakkad dan sunnat ghoiru muakkad


Sembahyang sunnat rawatib ini terbag kepada dua bagian yaitu,
sunnat muakkad dan sunnat ghairu muakkad. Shalat sunnat rawatib
muakkad amat besar fadilahnya dan dijanjikan ganjaran yang besar
apabila menunaikannya. Solat sunat rawatib ghairu muakkad kurang
sedikit fadilahnya berbanding dengan solat sunat muakkad

Jumlah Raka'at
Jumlah raka'at shalat rawatib berbeda-beda tergantung shalat apa
yang dia iringi dan kapan (sebelum/sesudahnya) dia dilaksanakan.
Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada daftar berikut.

Sunnat muakkad
Shalat Lima Waktu

Qabliyah

Ba'diyah

Shubuh

2 raka'at

Dzuhur

2 raka'at

2 raka'at

Ashar

Maghrib

2 raka'at

Isya'

2 raka'at

Sunnat ghoiru muakkad


Shalat Lima Waktu

Qabliyah

Ba'diyah

Shubuh

Dzuhur

2 raka'at

2 raka'at

Ashar

4 raka'at

Maghrib

2 raka'at

Isya'

2 raka'at

Niat Shalat
Niat shalat ini, sebagaimana juga shalat-shalat yang lain, niat
tempatnya dihati, karena niat adalah pekerjaan hati, bukan
pekerjaan mulut. Jadi, niat tidak pernah diucapkan, entah itu pelan
ataupun keras. [1][2]

Sumber Hadits
Berikut adalah beberapa hadits tentang shalat rawatib:
Dari Aisyah r.a bahwa Nabi SAW bersabda :" Dua raka'at fajar
(shalat sunnat yang dikerjakan sebelum shubuh) itu lebih baik
daripada dunia dan seisinya. " (HR Muslim)
Dari Ummu Habibah Radhiallaahu anha , ia berkata: "Aku
telah men-dengar Rasulullah shallallahu alaihi wasalam
bersabda, Barangsiapa shalat dalam sehari semalam dua
belas rakaat akan dibangun untuknya rumah di Surga, yaitu;
empat rakaat sebelum Dhuhur dan dua rakaat sesudahnya,
dua rakaat sesudah maghrib, dua rakaat sesudah Isya dan
dua rakaat sebe-lum shalat Subuh." (HR. At-Tirmidzi, ia
mengatakan, hadits ini hasan shahih)
Dari Ibnu Umar Radhiallaahu anhu dia berkata: "Aku shalat
bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasalam dua rakaat
sebelum Dhuhur dan dua rakaat sesudahnya, dua rakaat
sesudah Jumat, dua rakaat sesudah Maghrib dan dua rakaat
sesudah Isya." (Muttafaq alaih)
Dari Abdullah bin Mughaffal radhiallahu anhu , ia berkata:
"Bersabda Rasulullah shallallahu alaihi wasalam , Di antara
dua adzan itu ada shalat, di antara dua adzan itu ada shalat,
di antara dua adzan itu ada shalat. Kemudian pada ucapannya
yang ketiga beliau menambahkan: bagi yang mau". (Muttafaq
alaih)
Dari Ummu Habibah Radhiallaahu anha, ia berkata :
Rasulullah shallallahu alaihi wasalam bersabda, Barangsiapa
yang menjaga empat rakaat sebelum Dhuhur dan empat

rakaat sesudahnya, Allah mengharamkannya dari api


Neraka." (HR. Abu Daud dan At-Tirmidzi, ia mengatakan hadits
ini hasan shahih)
Dari Ibnu Umar Radhiallaahu anhu, bahwa Nabi shallallahu
alaihi wasalam bersabda : "Semoga Allah memberi rahmat
bagi orang yang shalat empat rakaat sebelum Ashar." (HR.
Abu Daud dan At-Tirmidzi, ia mengatakan, hadits ini hasan)

Referensi
Kumpulan Shalat-Shalat Sunnat, Drs. Moh. Rifa'i, CV Toha
Putra, Semarang, 1993
Tuntunan shalat sunnat, Dzikir.org
Situs Dakwah dan Informasi Islam Al Sofwah, shalat sunnah
rawatib
Shalat Jenazah adalah jenis shalat yang dilakukan untuk jenazah
muslim. Setiap muslim yang meninggal baik laki-laki maupun
perempuan wajib dishalati oleh muslim yang masih hidup dengan
status hukum fardhu kifayah.

Syarat penyelenggaraan
Adapun syarat yang harus dipenuhi dalam penyelenggaraan shalat
ini adalah:
Yang melakukan shalat harus memenuhi syarat sah shalat
secara umum (menutup aurat, suci dari hadas, menghadap
kiblat dst)
Jenazah/Mayit harus sudah dimandikan dan dikafani.
Jenazah diletakkan disebelah mereka yang menyalati, kecuali
dilakukan di atas kubur atau shalat ghaib

Rukun Shalat Jenazah


Shalat jenazah tidak dilakukan dengan ruku', sujud maupun iqamah,
melainkan dalam posisi berdiri sejak takbiratul ihram hingga salam.
Berikut adalah urutannya:
1. Berniat, niat shalat ini, sebagaimana juga shalat-shalat yang
lain cukup diucapkan didalam hati dan tidak perlu dilafalkan,
tidak terdapat riwayat yang menyatakan keharusan untuk
melafalkan niat. [1][2]
2. Takbiratul Ihram pertama kemudian membaca surat Al Fatihah

3. Takbiratul Ihram kedua kemudian membaca shalawat atas


Rasulullah SAW minimal :"Allahumma Shalli 'alaa
Muhammadin" artinya : "Yaa Allah berilah salawat atas nabi
Muhammad"
4. Takbiratul Ihram ketiga kemudian membaca do'a untuk
jenazah minimal:"Allahhummaghfir lahu warhamhu wa'aafihi
wa'fu anhu" yang artinya : "Yaa Allah ampunilah dia, berilah
rahmat, kesejahteraan dan ma'afkanlah dia".Apabila jenazah
yang dishalati itu perempuan, maka bacaan Lahuu diganti
dengan Lahaa. Jadi untuk jenazah wanita bacaannya menjadi:
"Allahhummaghfir laha warhamha wa'aafiha wa'fu anha". Jika
mayatnya banyak maka bacaan Lahuu diganti dengan Lahum.
Jadi untuk jenazah banyak bacaannya menjadi:
"Allahhummaghfir lahum warhamhum wa'aafihim wa'fu
anhum"
5. Takbir keempat kemudian membaca do'a minimal:"Allahumma
laa tahrimnaa ajrahu walaa taftinna ba'dahu waghfirlanaa
walahu."yang artinya : "Yaa Allah, janganlah kiranya
pahalanya tidak sampai kepadanya atau janganlah Engkau
meluputkan kami akan pahalanya, dan janganlah Engkau
memberi kami fitnah sepeninggalnya, serta ampunilah kami
dan dia." Jika jenazahnya adalah wanita, bacaannya menjadi:
"Allahumma laa tahrimnaa ajraha walaa taftinna ba'daha
waghfirlanaa walaha."
6. Mengucapkan salam

Shalat Ghaib
Bila terdapat keluarga atau muslim lain yang meninggal di tempat
yang jauh sehingga jenazahnya tidak bisa dihadirkan maka dapat
dilakukan shalat ghaib atas jenazah tersebut. Pelaksanaannya
serupa dengan shalat jenazah, perbedaan hanya pada niat
shalatnya.
Niat shalat ghaib :"Ushalli 'alaa mayyiti (Fulanin) al ghaaibi arba'a
takbiraatin fardlal kifaayati lillahi ta'alaa" Artinya : "aku niat shalat
gaib atas mayat (fulanin) empat takbir fardu kifayah sebagai
(makmum/imam) karena Allah""
kata fulanin diganti dengan nama mayat yang dishalati.

Referensi
Kumpulan Shalat-Shalat Sunnat, Drs. Moh. Rifa'i, CV Toha
Putra, Semarang, 1993
Tuntunan shalat, Dzikir.org

Shalat Jamak adalah menggabungkan dua buah shalat pada satu


waktu shalat. Adapun pasangan shalat yang bisa dijama' adalah
shalat Dzuhur dengan Ashar atau shalat Maghrib dengan Isya.
Shalat jamak dibedakan menjadi dua tipe yakni:
Jama' Taqdim atau pelaksanaan shalat pada waktu awal, yaitu
melaksanakan shalat Ashar setelah shalat Dzuhur dan
melaksanakan shalat Isya setelah shalat Maghrib.
Jama' Ta'khir atau pelaksanaan shalat pada waktu akhir, yaitu
melaksanakan shalat Dzuhur dan Ashar bersamaan di sore
hari dan melaksanakan shalat Maghrib dan Isya sedikitnya
setelah matahari terbenam.

Perbedaan Pandangan antara Sunni dan Syi'ah


Menurut Sunni

Pendapat dari Empat Mazhab Sunni:


1. Pendapat Mazhab Hanafi
o

Hanafi meyakini bahwa pelaksanaan men-jama' shalat


tidaklah memiliki kekuatan hukum, baik dalam
perjalanan ataupun tidak, dengan segala macam
masalah kecuali dalam dua kasus-Hari Arafah dan pada
saat malam Muzdalifah dalam berbagai kondisi tertentu.

2. Pendapat Mazhab Syafi'i


o

Syafi'i meyakini diperbolehkannya pelaksanaan menjama' shalat bagi para musafir perjalanan jauh (safar)
dan saat hujan serta salju dalam kondisi tertentu. Bagi
mereka, pelaksanaan men-jama' shalat seharusnya
tidak diperbolehkan dalam keadaan gelap, berangin,
takut atau sakit.

3. Pendapat Mazhab Maliki


o

Maliki menganggap alasan untuk melaksanakan menjama' shalat sebagai berikut: sakit, hujan, berlumpur,
keadaan gelap pada akhir bulan purnama dan pada Hari
Arafah serta Malam Muzdalifah untuk yang sedang
melaksanakan haji dalam kondisi tertentu.

4. Pendapat Mazhab Hambali

Hambali memperbolehkan pelaksanaan men-jama'


shalat saat Hari Arafah dan Malam Muzdalifah dan bagi
para musafir, pasien-pasien, ibu menyusui, wanita
dengan haid berlebihan, orang yang terus-menerus
buang air kecil, orang yang tidak dapat membersihkan
dirinya sendiri, orang yang tidak dapat membedakan
waktu, dan orang yang takut kehilangan barang
kepemilikannya, kesehatannya atau reputasinya dan
juga dalam kondisi hujan, salju, dingin, berawan dan
berlumpur. Mereka juga menyebutkan beberapa kondisi
lainnya.

Pendapat Perawi Hadits lainnya


1. Pendapat Ibnu Syabramah
o

Ibnu Syabramah memperbolehkan pelaksanaan menjama' shalat karena beberapa alasan dan bahkan tanpa
kondisi khusus selama hal tersebut tidak berubah
menjadi suatu kebiasaan.

2. Pendapat Ibnu Mundzir dan Ibnu Sirin


o

Ibnu Mundzir dan Ibnu Sirin, menurut Qaffal,


memperbolehkan pelaksanaan men-jama' shalat dalam
segala kondisi tanpa syarat apapun.

Dalil yang memperkuat adalah:


Dari Muadz bin Jabal: Bahwa Rasulullah SAW pada saat
perang Tabuk, jika matahari telah condong dan belum
berangkat maka menjama shalat antara Dzuhur dan Asar.
Dan jika sudah dalam perjalanan sebelum matahari condong,
maka mengakhirkan shalat dzuhur sampai berhenti untuk
shalat Asar. Dan pada waktu shalat Maghrib sama juga, jika
matahari telah tenggelam sebelum berangkat maka
menjama antara Maghrib dan Isya. Tetapi jika sudah
berangkat sebelum matahari matahari tenggelam maka
mengakhirkan waktu shalat Maghrib sampai berhenti untuk
shalat Isya, kemudian menjama keduanya. (HR Abu Dawud
dan at-Tirmidzi).

Menurut Syi'ah
Mazhab Syi'ah seperti Dua Belas Imam berpendapat bahwa setiap
orang walaupun tidak dalam perjalanan jauh, berdiam di rumahnya,
tidak berada dalam keadaan sakit, dapat menjama' shalat, baik
jama' taqdim maupun jama' ta'khir. Dalil yang memperkuat hal
tersebut adalah:

Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai


gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh.
Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).
(QS. al-Israa' [17]:78)
Dalil-dalil lain yang memperkuat hal ini ada dalam Ringkasan Shahih
Muslim, Kitab Shalat Musafir, Bab 6: Menjamak Dua Shalat ketika
Bermukim (Di Rumah, Tidak Bepergian);
Ibnu Abbas r.a. berkata, "Rasulullah pernah menjama' shalat
Dzuhur dan shalat Ashar, dan menjama' Maghrib dan Isya di
Madinah bukan karena khauf (sedang berperang) dan bukan
karena hujan."
Menurut hadits Waki', dia berkata, "Aku tanyakan kepada Ibnu
Abbas, 'Mengapa beliau melakukan hal itu?" Ibnu Abbas
menjawab, 'Agar beliau tidak menyulitkan umatnya.'"
Menurut hadits Mu'awiyah, ditanyakan kepada Ibnu Abbas,
"Apa maksud Nabi berbuat demikian?" Dia menjawab, "Beliau
bermaksud tidak menyulitkan umatnya." (Muslim 2/152)[1]

Referensi
1. ^ (id) AL-ALBANI, M. Nashiruddin. Ringkasan Shahih Muslim. Gema Insani:
Jakarta. ISBN 979-561-967-5

Pranala luar
Shalat dan adab musafir, PKS ANZ
Sholat Jama' Dan Sholat Qashar, Media Muslim INFO
Menjamak Shalat Karena Hujan. Muslim.or.id.
Shalat Qashar adalah melakukan shalat dengan
meringkas/mengurangi jumlah raka'at shalat yang bersangkutan.
Shalat Qashar merupakan keringanan yang diberikan kepada
mereka yang sedang melakukan perjalanan (safar). Adapun shalat
yang dapat diqashar adalah shalat dzhuhur, ashar dan isya, dimana
raka'at yang aslinya berjumlah 4 dikurangi/diringkas menjadi 2
raka'at saja.

Dalil Shalat Qashar


Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah
mengapa kamu menqashar shalat(mu), jika kamu takut
diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir
itu adalah musuh yang nyata bagimu. (QS an-Nisaa 101)
Dari Aisyah ra berkata : Awal diwajibkan shalat adalah dua
rakaat, kemudian ditetapkan bagi shalat safar dan

disempurnakan ( 4 rakaat) bagi shalat hadhar (tidak safar).


(Muttafaqun alaihi)
Dari Aisyah ra berkata: Diwajibkan shalat 2 rakaat kemudian
Nabi hijrah, maka diwajibkan 4 rakaat dan dibiarkan shalat
safar seperti semula (2 rakaat). (HR Bukhari) Dalam riwayat
Imam Ahmad menambahkan : Kecuali Maghrib, karena
Maghrib adalah shalat witir di siang hari dan shalat Subuh
agar memanjangkan bacaan di dua rakaat tersebut.

Siapa Yang Diperbolehkan Sholat Qashar


Shalat qashar merupakan salah satu keringanan yang diberikan
Allah. Shalat qashar hanya boleh dilakukan oleh orang yang sedang
bepergian (musafir). Dan diperbolehkan melaksanakannya bersama
Shalat Jamak

Jarak Qashar
Seorang musafir dapat mengambil rukhsoh shalat dengan
mengqashar dan menjama jika telah memenuhi jarak tertentu.
Beberapa hadits tentang jarak yang diijinkan untuk melakukan
shalat qashar :
Dari Yahya bin Yazid al-Hana?i berkata, saya bertanya pada
Anas bin Malik tentang jarak shalat Qashar. Anas menjawab:
Adalah Rasulullah SAW jika keluar menempuh jarak 3 mil atau
3 farsakh beliau shalat dua rakaat. (HR Muslim)
Dari Ibnu Abbas berkata, Rasulullah SAW bersabda: Wahai
penduduk Mekkah janganlah kalian mengqashar shalat kurang
dari 4 burd dari Mekah ke Asfaan. (HR at-Tabrani, adDaruqutni, hadits mauquf)
Dari Ibnu Syaibah dari arah yang lain berkata: Qashar shalat
dalam jarak perjalanan sehari semalam.
Adalah Ibnu Umar ra dan Ibnu Abbas ra mengqashar shalat dan
buka puasa pada perjalanan menempuh jarak 4 burd yaitu 16
farsakh.
Ibnu Abbas menjelaskan jarak minimal dibolehkannya qashar shalat
yaitu 4 burd atau 16 farsakh. 1 farsakh = 5541 meter sehingga 16
Farsakh = 88,656 km. Dan begitulah yang dilaksanakan sahabat
seperti Ibnu Abbas dan Ibnu Umar. Sedangkan hadits Ibnu Syaibah
menunjukkan bahwa qashar shalat adalah perjalanan sehari
semalam. Dan ini adalah perjalanan kaki normal atau perjalanan
unta normal. Dan setelah diukur ternyata jaraknya adalah sekitar 4
burd atau 16 farsakh atau 88,656 km. Dan pendapat inilah yang
diyakini mayoritas ulama seperti imam Malik, imam asy-Syafii dan
imam Ahmad serta pengikut ketiga imam tadi.

Lama Waktu Qashar


Jika seseorang musafir hendak masuk suatu kota atau daerah dan
bertekad tinggal disana maka dia dapat melakukan qashar dan
jama shalat. Menurut pendapat imam Malik dan Asy-Syafii adalah 4
hari, selain hari masuk kota dan keluar kota. Sehingga jika sudah
melewati 4 hari ia harus melakukan shalat yang sempurna. Adapaun
musafir yang tidak akan menetap maka ia senantiasa mengqashar
shalat selagi masih dalam keadaan safar.
Berkata Ibnul Qoyyim: Rasulullah SAW tinggal di Tabuk 20
hari mengqashar shalat. Disebutkan Ibnu Abbas dalam
riwayat Bukhari: Rasulullah SAW melaksanakan shalat di
sebagian safarnya 19 hari, shalat dua rakaat. Dan kami jika
safar 19 hari, shalat dua rakaat, tetapi jika lebih dari 19 hari,
maka kami shalat dengan sempurna.

Adab Sholat Qashar


Seorang musafir boleh berjamaah dengan Imam yang muqim (tidak
musafir). Begitu juga ia boleh menjadi imam bagi makmum yang
muqim. Kalau dia menjadi makmum pada imam yang muqim, maka
ia harus mengikuti imam dengan melakukan shalat Imam (tidak
mengqashar). Tetapi kalau dia menjadi Imam maka boleh saja
mengqashar shalatnya, dan makmum menyempurnakan rakaat
shalatnya setelah imammya salam.

Untuk Musafir Yang Lebih Dari 4 Hari


Menurut Jumhur (mayoritas) ulama seorang musafir yang sudah
menentukan lama musafirnya lebih dari empat hari maka ia tidak
boleh mengqashar shalatnya. Tetapi kalau waktunya empat hari
atau kurang maka ia boleh mengqasharnya. Dan jika Seseorang
mengalami ketidakpastian jumlah hari dia musafir boleh saja
menjama dan mengqashar shalatnya.

Adab Sholat Sunnah Bagi Musafir


Sunah bagi musafir untuk tidak melakukan shalat sunah rawatib
(shalat sunah sesudah dan sebelum shalat wajib), Kecuali shalat
witir dan Tahajjud, karena Rasululloh Shallallahu alaihi wa sallam
selalu melakukannya baik dalam keadaan musafir atau muqim. Dan
begitu juga shalat- shalat sunah yang ada penyebabnya seperti
shalat Tahiyatul Masjid, shalat gerhana, dan shalat janazah.

Referensi
Safar dan Asab Musafir PKS ANZ
Fatawa As-Sholat, Asy-Syaikh Al Imam Abdul Aziz bin Baz

Al-Wajiz fi Fiqh As-Sunnah wal kitab Al-Aziz, Abdul Adhim bin


Badawi Al-Khalafi
Sholat Jama' Dan Sholat Qashar - Media Muslim INFO
Shalat Witir adalah shalat sunnat dengan raka'at ganjil yang
dilakukan setelah melakukan shalat lainnya di waktu malam (misal:
tarawih dan tahajjud). Hal ini didasarkan pada hadits Nabi
Muhammad SAW: "Sesungguhnya Allah adalah witr [ganjil] dan
mencintai witr [HR. Abu Daud]. Shalat ini dimaksudkan sebagai
pemungkas waktu malam untuk "mengganjili" shalat-shalat yang
genap. Karena itu, dianjurkan untuk menjadikannya akhir shalat
malam.

Hukum Shalat Witir


Shalat sunnah witir adalah sunnah muakkad. Dasarnya adalah
hadits Abu Ayyub Al-Anshaari Radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah
Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,Witir adalah hak atas setiap
muslim. Barangsiapa yang suka berwitir tiga rakaat hendaknya ia
melakukannya. Dan barangsiapa yang berwitir satu rakaat,
hendaknya ia melakukannya
Demikian juga dengan hadits Ali Radhiyallahu anhu ketika ia
berkata : Witir tidaklah wajib sebagaimana shalat fardhu. Akan
tetapi ia adalah sunnah yang ditetapkan oleh Rasulullah Shallallahu
alaihi wa sallam
Di antara yang menunjukkan bahwa witir termasuk sunnah yang
ditekankan (bukan wajib) adalah riwayat shahih dari Thalhah bin
Ubaidillah, bahwa ia menceritakan : Ada seorang lelaki dari
kalangan penduduk Nejed yang datang menemui Rasulullah
Shallallahu alaihi wa sallam dengan rambut acak-acakan. Kami
mendengar suaranya, tetapi kami tidak mengerti apa yang
diucapkannya, sampai dekat, ternyata ia bertanya tentang Islam. Ia
berkata Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku shalat apa yang
diwajibkan kepadaku? Beliau menjawab: Shalat yang lima waktu,
kecuali engkau mau melakukan sunnah tambahan. Lelaki itu
bertanya lagi : Beritahukan kepadaku puasa apa yang diwajibkan
kepadaku? Beliau menjawab ; Puasa di bulan Ramadhan, kecuali
bila engkau ingin menambahkan. Lelaki itu bertanya lagi :
Beritahukan kepadaku zakat apa yang diwajibkan kepadaku?
Beliau menjawab : (menyebutkan beberapa bentuk zakat). Lelaki itu
bertanya lagi : Apakah ada kewajiban lain untuk diriku? Beliau
menjawab lagi : Tidak, kecuali bila engkau mau menambahkan.
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memberitahukan kepadanya
syariat-syariat Islam. Lalu lelaki itu berbalik pergi, sambil berujar :
Semoga Allah memuliakan dirimu. Aku tidak akan melakukan
tambahan apa-apa, dan tidak akan mengurangi yang diwajibkan
Allah kepadaku sedikitpun. Maka Rasulullah Shallallahu alaihi wa

sallam bersabda : Sungguh ia akan beruntung, bila ia jujur, atau ia


akan masuk Surga bila ia jujur
Juga berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma bahwa
Nabi pernah mengutus Muadz ke Yaman. Dalam perintahnya :
Beritahukan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada
mereka shalat lima waktu sehari semalam. Kedua hadits ini
menunjukkan bahwa witir bukanlah wajib. Itulah madzhab mayoritas
ulama. Shalat witir adalah sunnah yang ditekankan sekali. Oleh
sebab itu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam tidak pernah
meninggalkan shalat sunnah witir dengan sunnah Shubuh ketika
bermukim atau ketika bepergian.

Keutamaan Shalat Witir


Witir memiliki banyak sekali keutamaan, berdasarkan hadits
Kharijah bin Hudzafah Al-Adwi. Ia menceritakan Nabi Shallallahu
alaihi wa sallam pernah keluar menemui kami. Beliau bersabda
Sesungguhnya Allah Taala telah menambahkan kalian dengan satu
shalat, yang shalat itu lebih baik untuk dirimu dari pada unta yang
merah, yakni shalat witir. Waktu pelaksanaannya Allah berikan
kepadamu dari sehabis Isya hingga terbit Fajar [8]
Di antara dalil yang menujukkan keutamaan dan sekaligus di
sunnahkannya shalat witir adalah hadits Ali bin Abi Thalib
Radhiyallahu anhu bahwa menceritakan :Rasulullah pernah
berwitir, kemudian bersabda : Wahai ahli Quran lakukanlah shalat
witir, sesungguhnya Allah itu witir (ganjil) dan menyukai sesuatu
yang ganjil

Raka'at Shalat
Shalat witir dapat dilaksanakan satu, tiga, lima rakaat atau jumlah
lain yang ganjil langsung dengan sekali salam.

Niat Shalat
Niat shalat ini, sebagaimana juga shalat-shalat yang lain cukup
diucapkan didalam hati, yang terpenting adalah niat hanya semata
karena Allah Ta'ala semata dengan hati yang ikhlas dan
mengharapkan Ridho Nya, apabila ingin dilafalkan jangan terlalu
keras sehingga mengganggu Muslim lainnya, memang ada
beberapa pendapat tentang niat ini gunakanlah dengan hikmah
bijaksana.

Waktu Pelaksanaan
Shalat Witir dilakukan pada malam hari setelah shalat-shalat yang
lain. Ia harus berfungsi sebagai shalat penutup. Apabila seseorang
berkehendak untuk shalat tahajjud pada malam hari, maka
sebaiknya ia tidak menunaikan salat witir menjelang tidur, tapi

melaksanakannya setelah shalat tahajjud. Namun jika ia tidak


bermaksud demikian, maka sebelum tidur, ia dianjurkan untuk
menunaikannya.

Hadits terkait
Hadits terkait shalat witir:
"Sesungguhnya Allah adalah witr [ganjil] dan mincintai witr"
[HR. Abu Daud]
"Jadikanlah witir akhir shalat kalian di waktu malam". [HR.
Bukhari]
"Barang siapa takut tidak bangun di akhir malam, maka
witirlah pada awal malam, dan barang siapa berkeinginan
untuk bangun di akhir malam, maka witirlah di akhir malam,
karena sesungguhnya shalat pada akhir malam masyhudah
(disaksikan)" [HR. Muslim]

Referensi
Kumpulan Shalat-Shalat Sunnat, Drs. Moh. Rifa'i, CV Toha
Putra, Semarang, 1993
Pesantren Virtual, Antara tarawih, tahajjud dan witir
Tuntunan shalat sunnat, Dzikir.org
Shalat Tarawih (terkadang disebut teraweh atau taraweh) adalah
shalat sunnat yang dilakukan khusus hanya pada bulan ramadhan.
Tarawih dalam bahasa Arab adalah bentuk jama dari yang
diartikan sebagai "waktu sesaat untuk istirahat". Waktu pelaksanaan
shalat sunnat ini adalah selepas isya', biasanya dilakukan secara
berjama'ah di masjid. Fakta menarik tentang shalat ini ialah bahwa
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam hanya pernah melakukannya
secara berjama'ah dalam 3 kali kesempatan. Disebutkan bahwa
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam kemudian tidak melanjutkan
pada malam-malam berikutnya karena takut hal itu akan menjadi
diwajibkan kepada ummat muslim (lihat sub seksi hadits tentang
tarawih).

Raka'at Shalat
Terdapat beberapa praktek tentang jumlah raka'at dan jumlah salam
pada shalat tarawih, pada masa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
Sallam jumlah raka'atnya adalah 8 raka'at dengan dilanjutkan 3
raka'at witir. Dan pada zaman khalifah Umar menjadi 20 raka'at
dilanjutkan dengan 3 raka'at witir. Perbedaan pendapat menyikapi

boleh tidaknya jumlah raka'at yang mencapai bilangan 20 itu adalah


tema klasik yang bahkan bertahan hingga saat ini. Sedangkan
mengenai jumlah salam praktek umum adalah salam tiap dua
raka'at namun ada juga yang salam tiap empat raka'at. Sehingga
bila akan menunaikan tarawih dalam 8 raka'at maka formasinya
adalah salam tiap dua raka'at dikerjakan empat kali, atau salam tiap
empat raka'at dikerjakan dua kali dan ditutup dengan witir tiga
raka'at.

Niat Shalat
Niat shalat ini, sebagaimana juga shalat-shalat yang lain cukup
diucapkan didalam hati, yang terpenting adalah niat hanya semata
karena Allah Ta'ala semata dengan hati yang ikhlas dan
mengharapkan Ridho Nya, apabila ingin dilafalkan jangan terlalu
keras sehingga mengganggu Muslim lainnya, memang ada
beberapa pendapat tentang niat ini gunakanlah dengan hikmah
bijaksana.
Secara lengkap, niat shalat tarawih 2 rakaat adalah: " Ushalli
sunnatat taraawiihi rak'ataini (ma'muman/imaaman) lillahi ta'aalaa"
ARTINYA: " Aku niat Shalat Tarawih dua rakaat ( menjadi
makmum/imam) karena Allah Ta'ala"
Walaupun demikian, ada beberapa cara dalam mengerjakan salat
Tarawih, salah satunya dengan formasi 2 kali 4 rakaat masing
masing dengan sekali salam setiap selesai 4 rakaat. Oleh karena itu,
dalam niat shalat tarawih, niatnya disesuaikan menjadi "arbaa
raka'ataini".

Beberapa Hadits Terkait


Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam pada
suatu malam shalat di masjid lalu para sahabat mengikuti
shalat Beliau, kemudian pada malam berikutnya (malam
kedua) Beliau shalat maka manusia semakin banyak (yang
mengikuti shalat Nabi n), kemudian mereka berkumpul pada
malam ketiga atau malam keempat. Maka Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa Sallam tidak keluar pada mereka, lalu
ketika pagi harinya Beliau bersabda: Sungguh aku telah
melihat apa yang telah kalian lakukan, dan tidaklah ada yang
mencegahku keluar kepada kalian kecuali sesungguhnya aku
khawatir akan diwajibkan pada kalian, dan (peristiwa) itu
terjadi di bulan Ramadhan. (Muttafaqun alaih)
"Artinya : Dari Jabir bin Abdullah radyillahu 'anhum, ia
berkata : Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam pernah
shalat bersama kami di bulan Ramadhan (sebanyak) delapan
raka'at dan witir (satu raka'at). Maka pada hari berikutnya

kami berkumpul di masjid dan mengharap beliau keluar (untuk


shalat), tetapi tidak keluar hingga masuk waktu pagi,
kemudian kami masuk kepadanya, lalu kami berkata : Ya
Rasulullah ! Tadi malam kami telah berkumpul di masjid dan
kami harapkan engkau mau shalat bersama kami, maka
sabdanya "Sesungguhnya aku khawatir (shalat itu) akan
diwajibkan atas kamu sekalian".(Hadits Riwayat Thabrani dan
Ibnu Nashr)
"Aku perhatikan shalat malam Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
Sallam, yaitu (Ia) shalat dua raka'at yang ringan, kemudian ia
shalat dua raka'at yang panjang sekali, kemudian shalat dua
raka'at, dan dua raka'at ini tidak sepanjang dua raka'at
sebelumnya, kemudian shalat dua raka'at (tidak sepanjang
dua raka'at sebelumnya), kemudian shalat dua raka'at (tidak
sepanjang dua raka'at sebelumnya), kemudian shalat dua
raka'at (tidak sepanjang dua raka'at sebelumnya), kemudian
witir satu raka'at, yang demikian adalah 13
raka'at".Diriwayatkan oleh Malik, Muslim, Abu Awanah, Abu
Dawud dan Ibnu Nashr.
"Artinya : Dari Abi Salamah bin Abdurrahman bahwasanya ia
bertanya kepada 'Aisyah radyillahu anha tentang shalat
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam di bulan Ramadhan.
Maka ia menjawab ; Tidak pernah Rasulullah Shalallahu 'alaihi
wa Sallam kerjakan (tathawwu') di bulan Ramadhan dan tidak
pula di lainnya lebih dari sebelas raka'at 1) (yaitu) ia shalat
empat (raka'at) jangan engkau tanya tentang bagus dan
panjangnya, kemudian ia shalat empat (raka'at) 2) jangan
engkau tanya panjang dan bagusnya kemudian ia shalat tiga
raka'at".[Hadits Shahih Riwayat Bukhari dan Muslim]

Referensi
Kumpulan Shalat-Shalat Sunnat, Drs. Moh. Rifa'i, CV Toha
Putra, Semarang, 1993
Tuntunan shalat sunnat, Dzikir.org
Assunnah Tentang Tarawih
Pesantren Virtual Panduan Puasa Ramadhan
Eramuslim, Konsultasi Seputar Jumlah Rakaat dan Salam
Shalat Tarawih
Materi diatas diunduh dari:
HTTP: ID.WILIPEDIA.ORG/WIKI/KATEGORI SHALAT