Anda di halaman 1dari 10

Barokallahu Laka

Kutatap layar komputer di depanku sekali lagi. Aku masih tak percaya dengan
tulisan yang tertera di sana. Alhamdulillah, Ya Allah. Aku lulus SPMB. Diterima di UI.
Segera kumatikan komputer dan membayar di kasir warnet. Aku ingin segera pulang dan
memberitahukan kabar gembira ini pada ibu.
“Gimana, Mbak, hasilnya?” tanya penjaga warnet sambil memberikan uang
kembalianku. Dia tahu kalau aku ingin melihat pengumuman SPMB.
“Alhamdulillah, diterima, Mas. Makasih ya,” jawabku seraya keluar warnet.
Kugoes sepeda dengan cepat. Aku gemetar. Mungkin karena terlalu senang. Ya,
siapa yang nggak senang bisa diterima di universitas ternama itu? Lewat jalus SPMB
lagi, mengalahkan ribuan orang lainnya yang ingin kuliah di sana juga.
“Bu! Ibu! Ica diterima, Bu!” ucapku begitu masuk rumah.
“Alhamdulillah, Sayang,” ucap Ibu seraya sujud syukur bersamaku. “Diterima di
mana?” tanya Ibu lagi.
“Di pilihan pertama, Bu. Di UI,” jawabku sambil tersenyum. Kulihat Ibu ikut
tersenyum. Senyum bangga yang sudah kutunggu. Aku segera mengabarkan berita
gembira ini ke Ayah. Ayah pun langsung memberi tahu berita ini ke nenek. Begitu
seterusnya. Dan dalam waktu singkat, berita Fellica Zahara masuk UI menyebar ke
seantero jagad. Eh, nggak segitunya ding. Hehehe.
ΨΨ Ψ
Waktu daftar ulang di UI sudah dekat. Sebentar lagi perkuliahan akan dimulai.
Namun aku belum mempersiapkan apa-apa. Tempat kos saja aku belum tahu di mana.
Aku bingung. Di keluargaku tidak ada yang kuliah di UI. Ke sana pun mereka belum
pernah. Aku harus cari info sendiri nih. Kira-kira siapa yang tahu seluk beluk UI ya?
Sebuah nama terlintas di benakku. Kak Rio. Ya, dia mantan guru bimbel aku. Dia kan
lulusan UI. Mmh, aku coba tanya dia aja.
From: Ica (085677xxx....)
Asw. Ka, mau tanya. Tahu tempat kos buat cw di sekitar UI g? Ica
lg cari kosan. Alhmd, ica diterima d UI.
From: Ka Rio (085694xxx....)
Wasw. Alhmd, bgs donk. Mau nyari kpn? Aq tmnin aja d. Nnti km
nyasar lagi.
From: Ica (085677xxx....)
Ica sih mau ke UI bsk, ada briefing. Y ud, ktmu di sana y.
Aku sedikit tenang sekarang. Besok aku mau cari tempat kos, ditemenin Ka Rio.
Aku bilang pada Ibu. Beliau memberi aku uang secukupnya untuk mem-booking tempat
kos. Beliau benar-benar mempercayakan semua padaku.
ΨΨ Ψ
Aku datang briefing hari ini dengan perasaan senang. Senang kenapa ya? Apa
gara-gara nanti mau ketemu Ka Rio? Ya, aku memang sudah lama sekali tidak bertemu
dia. Wajar donk, kalau aku kangen. Aku dan dia teman baik.
Acara briefing sudah selesai. Aku menunggu Ka Rio di halte seperti janji
kemarin. Tapi kok nggak dateng-dateng ya? Sudah mau ashar nih. Tak lama kemudian
terdengar bunyi sms masuk.
From: Ka Rio (085694xxx....)
Ca, maaf bgt. Tiba2 ada rapat mendadak di sekolah. Smua guru
hrs ikut. Bisa tunggu sampe jm 5 g? Nnti aq k sna.
From: Ica (085677xxx....)
Y ud, ica cari kosnya sma tmn aja d.
Kuhembuskan napas kecewa. Akhirnya aku mencari tempat kos dengan Hana,
teman baruku. Dia juga belum dapat tempat kos. Lumayan lama juga mencarinya. Kami
berdua memang tidak tahu medan. Tapi alhamdulillah, ketemu juga kosan yang cocok
dengan uang yang diberikan Ibu.
Kulihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul 17.20. sebentar lagi magrib.
Aduh, aku menepuk keningku. Aku nggak tahu jalan pulang. Aku benar-benar baru sekali
ini ke Depok. Gimana nih? Tanya Ka Rio aja deh.
From: Ica (085677xxx....)
Ka, kl mau k Bekasi dr Dpok naek apa?
From: Ka Rio (085694xxx....)
Udah ktmu kosannya? Skr aku lg d jln mau ke sna. Km tunggu
aja. Nnti aq anter smp rumah.
Aku bingung. Terima tidak ya, tawarannya? Kalau aku terima, aku malu. Masa
akhwat berjilbab pulang dianter laki-laki yang bukan muhrim? Naik motor lagi. Tapi
kalau kutolak, aku juga takut pulang malam-malam sendirian. Mana belum ada
pengalaman pergi Bekasi-Depok lagi. Ah, ini kan darurat. Allah pasti ngerti.
Adzan magrib berkumandang. Ka Rio belum datang juga. Lingkungan universitas
sudah sepi. Kupeluk diriku sendiri untuk menghangatkan badan. Udara mulai terasa
dingin.
Sekarang adzan sudah berhenti berkumandang. Kutatap sekeliling. UI di waktu
malam ternyata seram. Kudengar deru motor mendekat. Akhirnya Ka Rio datang juga.
“Lama ya, Ca?”
“Lumayan. Solat magrib dulu,” aku mengingatkan. Dia mengangguk sambil
memberikan helm padaku.
Setelah solat magrib, Ka Rio mengantarku pulang. Sebelumnya dia meminjamkan
jaketnya padaku. Badanku kini jadi hangat. Di sepanjang jalan, Ka Rio memberi tahu
angkutan apa saja yang harus aku naiki kalau mau menuju Bekasi. Dia juga menunjukkan
yang mana angkutannya.
Aku sudah sampai rumah. Kuajak dia mampir, lalu kukenalkan pada Ayah dan
Ibu. Tak lama kemudian dia pulang. Aku diintrogasi sama Ibu. Katanya, aku tidak boleh
lagi-lagi minta diantar pulang oleh laki-laki. Padahal kan bukan aku yang minta. Dia
yang nawarin. Tapi biarlah.
Aku sedang bersiap untuk tidur ketika Hpku berbunyi. Ada sms.
From: Ka Rio (085694xxx....)
Ca, ortumu marah ga kamu dianter aq plang?
From: Ica (085677xxx....)
Ga. Makasih y.
From: Ka Rio (085694xxx....)
Y. it’s my pleasure. Met bobo y. Miss u...
Keningku berkerut. Apa maksud sms itu? Ah, peduli amat. Aku ngantuk.
ΨΨ Ψ
Keadaan sekitarku sangat berantakan. Aku sedang menyiapkan barang-barang
yang mau dibawa ke tempat kos. Kudengar bunyi sms masuk dari Hpku.
From: Ka Rio (085694xxx....)
Ca, lg ngpain? Ca, skr kan udah kliah, apa rncna km slnjtnya? Aq
mau tny ttg twrn yg lalu. Apa skr bisa dtrima?
From: Ica (085677xxx....)
Lg beres2 brg2 yg mau dibawa k kosan. Twran? Ap?
From: Ka Rio (085694xxx....)
Kpn km mrncnakan nikah? Tahun depan bisa?
Apa? Nikah? Oh, iya, aku ingat. Dua tahun yang lalu Ka Rio memang pernah
berniat melamarku. Tapi aku nggak nyangka kalau dia serius. Aku kira dia bercanda. Jadi
waktu itu aku tanggepin sambil bercanda juga. Gimana nih? Dia ngajak nikah lagi?
Tahun depan? Alamak, aku belum siap. Kuliah aja baru masuk. Umur juga baru 17. Mana
kepikiran nikah? Jadi apa nanti rumah tanggaku?
From: Ka Rio (085694xxx....)
Ca, gmn? Ko g dbls?
From: Ica (085677xxx....)
Mav br bls. Ica blm mkrin itu. Gmn nnti aja itu mah.
From: Ka Rio (085694xxx....)
Oh, gitu. Y ud, met brs2 y.
Aku tersenyum lega karena Ka Rio memutuskan pembicaraan. Tapi tak lama
kemudian smsnya kembali mampir ke Hpku.
From: Ka Rio (085694xxx....)
Aku ingin mencintaimu dg sederhana. Dg kata yang tak sempat
diucapkan kayu kpd api yg menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu
dg sederhana. Dg isyarat yang tak sempat disampaikan awan kpd
hujan yg menjadikannya tiada. (Sapardi Djoko Damono)
Ya, Allah, apa maksud Ka Rio mengirimkan sms ini? Kurasakan hatiku berdebar
tak karuan. Ada berbagai rasa di sana: cemas, takut, senang. Tapi aku tak bisa
mengartikan perasaan ini.
ΨΨ Ψ
Perkuliahan sudah dimulai. Aku menyambutnya dengan semangat. Ternyata tidak
mudah menjadi mahasiswa. Banyak hal yang membuatku bingung. Tapi selalu ada orang
yang bisa kutanya saat ada yang tak kumengerti dan saat aku butuh pertolongan. Ka Rio.
Aku tak tahu kenapa aku harus bertanya padanya. Tapi aku juga tak menemukan alasan
untuk tak bertanya padanya.
Tak terasa bulan Ramadhan kembali menyapa. Aku menyambutnya dengan
bahagia. Ternyata Allah masih mempertemukan aku dengan Ramadhan. Aku semakin
sibuk di bulan Ramadhan ini. Banyak acara dan kepanitiaan yang kuikuti. Hubungan
denga Ka Rio juga semakin baik. Dia semakin sering meng-sms aku. Menayakan kabar,
kesibukan, bahkan hanya sekadar menanyakan sudah solat apa belum. Sesuatu yang
kupikir tak perlu dia tanyakan.
Suatu hari aku sms-an lagi dengan dia. Dia membicarakan masalah nikah lagi.
From: Ka Rio (085694xxx....)
Ca, menurut km, usia yg cocok buat akhwat utk menikah brp?
From: Ica (085677xxx....)
G tau. 20 mungkin.
From: Ka Rio (085694xxx....)
Berarti aku harus nunggu ica 3 tahun lagi donk. Lama banget.
Tahun depan aja gmn?
From: Ica (085677xxx....)
Siapa yang suruh nunggu? Kalo udah mau nikah, nikah aja sama
yg udah siap. Kalo perlu nnti ica bantuin cari calonnya.
From: Ka Rio (085694xxx....)
Ga mau. Mau nunggu ica aja. Udah dzuhur belom? Aq solat dulu
y.
Aku tak habis pikir. Mengapa dia mau nunggu aku? Aku jadi risih. Aku nggak
mau ditunggu siapa-siapa. Aku solat dzuhur untuk menenangkan pikiran. Setelah solat,
aku melihat HP. Di sana sudah ada satu pesan. Dari Ka Rio.
From: Ka Rio (085694xxx....)
Nabi SAW bersabda, “Adam hidup di surga sebelum Hawa. Maka,
ia merasa kesepian. Lalu diciptakanlah Hawa. Adam berkata pada
Hawa, ‘Siapa engkau dan mengapa engkau diciptakan?’ Hawa
menjawab, ‘aku adalah penentram untukmu.’”
Tak kubalas sms itu karena kupikir memang tak membutuhkan balasan. Segera
aku menuju kelas fisika yang sebentar lagi dimulai. Sms itu tak kupikirkan lagi.
ΨΨ Ψ
Suatu hari, iseng aku sms Ka Rio.
From: Ica (085677xxx....)
Ka, knp sih mau sama ica? Tau kan ica orgnya kaya gmn?
Urakan, kasar, cerewet. G ada bgsnya.
From: Ka Rio (085694xxx....)
Y, krn g ada yg laen. Dulu aq prnh suka sm akhwat n brniat utk
menikahinya. Tp keduluan sm org lain. Skr ngincer km aja deh.
From: Ica (085677xxx....)
Jd, ica cadangan nih?
From: Ka Rio (085694xxx....)
Yah, tak ada akar, rotan pun jadi.
From: Ica (085677xxx....)
Jadi gitu y? Ternyata selama ini ica suma dianggap akar.
Aku kesal. Ternyata aku cuma akar buat dia. Aku memang nggak berniat untuk
nikah sama dia. Aku cuma ingin tahu alasan dia mengejar aku. Padahal sudah kutolak.
Hpku berbunyi lagi.
From: Ka Rio (085694xxx....)
Lho kok marah sih, Ca? Kan cuma becanda. Ica tuh pinter, imut,
manis, lucu, baik, bawel, dll. Masa dijadiin akar sih? Rugi kali, kalo ga
jadiin ica rotan.
Hatiku berbunga tak karuan membaca sms itu. Ternyata aku berarti buat dia. Tapi
sebuah pikiran aneh terlinyas di pikiranku. Bagaimana kalau aku ternyata cinta mentok-
nya? Aku tak punya perasaan apa-apa ke dia. Tapi sepertinya dia benar-benar punya
perasaan ke aku.
Aku jadi ingat kejadian beberapa tahun yang lalu, saat aku masih sekolah dan
mengikuti bimbel di dekat rumah. Dia salah satu guru di sana. Saat itu dia masih kuliah.
Dia sangat perhatian kepadaku. Dia yang selalu menghibur saat aku punya masalah. Dia
punya cara unik untuk menghiburku, yaitu dengan ledekannya. Dia tidak akan berhenti
meledek kalau aku belum cemberut. Setelah itu dia akan tertawa yang membuat orang
lain mau tak mau ikut tertawa.
Ada satu lagi. Waktu itu tempat bimbelku mengadakan satu acara. Dia bertugas
sebagai sie dokumentasi. Dia mengabadikan momen-momen penting dengan kamera.
Saat foto-foto hasil jepretannya dicetak, hampir di semua foto terdapat wajahku. Aku
sangat heran waktu itu. Apakah itu karena perasaanya kepadaku? Karena dia
menyukaiku?
ΨΨ Ψ
Hatiku tidak tenang. Semua karena ta’lim tadi sore. Tadi sore aku ta’lim dengan
teman-teman satu fakultas. Masalah yang dibahas adalah adab berhubungan antara
ikhwan dan akhwat. Semua yang dikatakan kakak mentorku bagaikan menamparku. Aku
jadi tahu bahwa hubungan yang aku jalin dengan Ka Rio sudah melenceng. Kami sudah
mulai saling mengirim taushiah, bertanya kabar, sudah solat apa belum, dan masih
banyak hal yang seharusnya tidak perlu kami tanyakan. Hubungan ini mengundang
fitnah. Tapi aku bingung. Tiba-tiba HPku bergetar karena ada sms masuk.
From: Ka Rio (085694xxx....)
Tok tok tok... “Assalamu’alaikum,” kuketuk pintu hatimu.
Tok tok tok... “Assalamu’alaikum,” kuketuk lagi.
Tok tok tok... “Assalamu’alaikum,” kuketuk lagi dengan sabar.
(selanjutnya terserah)
Sms Ka Rio menambah rasa bingungku. Aku tak bisa memutuskan apa-apa.
Namun aku mencoba untuk menjauh. Aku jadi lebih jarang mengirim sms lagi padanya.
Jika perlu bantuan pun aku akan mencari orang lain untuk ditanya. Namun dia tak pernah
berhenti mengirimiku sms. Memang isi smsnya hanya taushiah, tapi aku tahu ada maksud
lain dari sms itu.
Suatu hari dia menanyakan tentang perubahan sikapku. Aku jawab, mungkin aku
sedang bete waktu itu. Aku juga terus menyarankannya untuk berhenti menungguku dan
mencari yang lain saja. Dan akhirnya pertanyaan itu muncul. Dia bertanya mengapa aku
seperti tidak mau dia menungguku.
Aku ceritakan saja semua yang kudengar dari kakak mentorku. Aku bilang kalau
hubunganku dengannya sudah melampaui batas, dan mungkin malah berdosa. Dan cara
yang ampuh untuk mengakhiri dosa ini dengan menikah, atau memutuskan hubungan
sama sekali. Kalau untuk menikah, jujur aku belum siap. Memutuskan hubungan pun
akan sulit kalau dia tidak mau.
From: Ka Rio (085694xxx....)
Cinta, awalnya permainan dan akhirnya kesungguhan. Ia tidak
dapat dilukiskan tetapi harus dialami agar diketahui. Agama tidak
menolaknya dan syariat pun tidak melarangnya, karena hati ada di
tangan Tuhan, Dia yang membolak-baliknya. (Ibnu Hazm: Thauq Al-
Hamamah)
Aku tidak menghiraukan sms Ka Rio barusan. Aku sudah bertekad tidak akan
membalas sms-nya kalau itu tidak penting. Mungkin dalam hatiku juga telah tersemat
sebuah rasa untuknya. Rasa yang seharusnya hadir setelah ijab qabul. Namun aku tak
akan membiarkan diriku dilenakan perasaan cinta semu ini. Kecuali aku sudah siap untuk
menikah dengannya.
ΨΨ Ψ
Tak terasa sudah hampir empat bulan aku tidak menerima sms dari Ka Rio. Ka
Rio mungkin akhirnya menyerah karena aku jarang sekali membalas sms-smsnya. Tapi
aku merasakan sesuatu yang aneh. Ada rasa kehilangan yang, ah, sangat sulit kuartikan.
Wajarkah itu? Tidak ada lagi yang mengingatkan untuk solat, mengingatkan untuk
makan, atau sekadar menanyakan kabar. Memang aneh, ada yang mengejar aku
menghindar. Yang mengejar sudah berhenti aku malah kangen. Namun ada rasa gengsi
dan malu yang memaksaku untuk tidak meng-sms-nya.
Malam itu aku sangat capek. Hari ini kuliah full dari pagi sampai sore.
Sesampainya di kosan, langsung kuincar kasur empuk di pojok ruangan. Rasanya enggan
sekali bangun saat tubuh ini sudah menempel dengan benda empuk itu. Aku hampir
tertidur saat Hpku berbunyi. Ada sms masuk.
From: Ka Rio (085694xxx....)
Assalamu’alaikum,Ca. Lama ya, ga smsan. Apa kabar? Sibuk ya,
sama kegiatan di kampus? Jaga kesehatan juga ya..
Aku terkejut sekaligus senang menerima sms tersebut. Segera kubalas sms dengan
wajah tersenyum lebar. Dalam hati aku jadi meragukan perasaanku pada Ka Rio. Apa aku
suka padanya?
From: Ica (085677xxx....)
‘Alaikum salam, Ka Rio. Ica alhmd baik. Kk gimana kabarnya? Ya,
lumayan sibuk lah. Tapi seru ko.
Kutunggu balasan darinya dengan hati tak karuan. Ah, aku jadi malu.
From: Ka Rio (085694xxx....)
Ca, aku sedang dalam proses ta’aruf dengan seorang akhwat
nih. Doakan supaya lancar ya.. 
Lama, kubaca tulisan yang tertera di layar Hpku. Mataku mulai berkaca. Ah,
mengapa aku menangis? Bukankah aku yang menyuruhnya untuk tidak menungguku dan
mencari orang lain saja? Tapi mengapa sekarang aku merasa sedih?
Kuhapus air mata yang mulai menetes. Kuketik huruf per huruf untuk membalas
sms-nya. Rasanya lama sekali. Aku sudah tak tahu tanganku mengetik apa. Pikiranku
sedang tidak bersamaku. Dia pergi entah kemana.
From: Ica (085677xxx....)
Ya, selamat ya, Ka. Semoga lancar..
Terbersit sebuah pikiran di kepalaku, ini kan masih proses ta’aruf, bisa saja tidak
berujung pada pernikahan. Ah, jahat sekali pikiranku itu. Segera kutepis pikiran itu dan
kucoba untuk tidur. Tiga jam kemudian, aku baru bisa terlelap, dengan mata sembab dan
bengkak.
ΨΨ Ψ
Beberapa hari aku berada dalam keadaan berkabung. Mungkin patah hati. Aku
teringat lagunya Audy yang berjudul Pergi Cinta. Liriknya cocok sekali dengan
keadaanku saat ini. Buku catatan kuliahku penuh dengan lirik lagu itu.
Terlambatku menyusuri jalan ini
Tersesat disaat kau menjauh
Terlambatku mengartikan cintamu
Kusadari setelah kau pergi
Berat hati menerima kehilanganmu
Tegarkan aku saat kau memilih dirinya
Pergi cinta, lupakanlah aku cinta
Kurelakan dia ada di pelukmu
Pergi cinta, hapus bayanganku cinta
Bahagiakan dia cinta
Sampai akhir waktu engkau bersamanya
Terlambatku memenangkan hatimu
Setelah kau menyerah padaku
Ku tak tahu sampai kini kau berlalu
Tersadar dirimu slalu di hatiku
Ah, mengapa aku jadi melankolis begini ya? Sudahlah, barangkali dia memang
bukan jodohku. Aku akan mencoba membiarkannya pergi dari hatiku, walau mungkin
sulit. Aku tak ingin bersedih saat saudaraku sedang bahagia.
ΨΨ Ψ
Tiga bulan telah berlalu sejak sms Ka Rio waktu itu. Aku tak pernah tahu
bagaimana kelanjutan proses Ka Rio dengan akhwat itu. Ka Rio tidak pernah meng-sms-
ku lagi. Aku juga malu untuk menanyakan langsung padanya.
Kutemukan e-mail itu saat sedang iseng mengecek e-mail yang masuk. Email dari
Ka Rio. Isinya undangan pernikahannya dengan seorang akhwat yang bernama Wulan,
lengkap dengan denah tempat resepsi pernikahannya. Kutarik nafas panjang, lalu
kuhembuskan sambil tersenyum. Kurasa senyum itu tulus. Sebait do’a meluncur dari
bibirku. Lancar, tanpa cela. Karena hatiku sudah bebas lepas tanpa beban.
“Barokallahu laka, wa barokallahu ‘alaika, wa jama’a bainakum fii khoiir.
Semoga Allah karuniakan barokah kepadamu, dan semoga Ia limpahkan barokah atasmu,
dan semoga Ia himpun kalian berdua dalam kebaikan”.
ΨΨ Ψ
Depok, 09 Oktober 2008
Jauza Al Khansa
Untuk my teacher, HM, selamat menempuh hidup baru...
Doakan agar aku segera mengikuti jejakmu. 