Anda di halaman 1dari 15

Bagaimana cara mengetahui tas Louis Vuitton palsu?

Louis Vuitton merupakan salah satu brand ekslusif yang paling banyak diminati oleh para
pecinta mode. Hal itulah yang membuat Louis Vuitton banyak ditiru, terutama produksi tas
palsu Louis Vuitton yang bisa dijumpai dimana saja.

Agar terhindar dari pembelian tas palsu, Anda harus memiliki pengetahuan untuk dapat
membedakan mana tas palsu dan mana tas Louis Vuitton yang asli. Berikut ini 6 cara
mengetahui tas Louis Vuitton palsu :
1. Kunjungi butik resmi Semua produk Louis Vuitton yang asli tidak dijual bebas, Anda
hanya bisa membelinya di butik resmi Louis Vuitton saja. Pembelian tas pun dibatasi
untuk menghindari penjualan produk Louis Vuitton kembali. Jika Anda menemukan tas
Louis Vuitton di sembarang toko atau tas second hand sebaiknya jangan mudah percaya
dan periksa kembali keaslian tas tersebut.
2. Ketahui harga barang Tas Louis Vuitton di Amerika biasanya dijual dengan harga lebih
dari US$ 300 atau sekitar Rp 2,5 jutaan. Misalnya saja, tas Louis Vuitton monogram
canvas dijual dengan harga US$ 375 sampai US$ 1895 atau seharga Rp. 3,2 jutaan
hingga Rp 16,3 jutaan. Oleh karena itu, Anda sebaiknya curiga jika ada yang
menawarkan tas Louis Vuitton dengan harga yang lebih rendah dari harga aslinya. Harga
memang berbeda di setiap negara, untuk mengetahuinya Anda bisa mendatangi butik
resmi Louis Vuitton yang ada di kota terdekat.
3. Perhatikan kualitas dust bag Setiap tas branded pasti memiliki dust bag atau sarung
pembungkus tas. Salah satu cara mengetahui tas branded palsu atau asli bisa dengan
merasakan sarung tersebut. Tas branded yang asli memiliki dust bag yang berat dan
berukuran lebih besar dari ukuran tasnya. Sebaliknya, sarung pembungkus tas Louis
Vuitton palsu ukurannya sangat pas dengan ukuran tas.
4. Cermati material yang digunakan Tas Louis Vuitton menggunakan material kulit yang
bermutu baik tetapi tas yang palsu akan menggunakan bahan bermutu rendah agar dapat
terjual dengan harga lebih murah. Tas asli memiliki pegangan tas yang terbuat dari kulit
sapi asli yang digulung, sedangkan tas palsu biasanya terbuat dari bahan ala kadarnya.
Selain itu, warna tas Louis Vuitton asli juga tidak akan mudah pudar.

5. Perhatikan logo Louis Vuitton Telah menjadi ciri khas bagi Louis Vuitton memberikan
logo LV di permukaan tasnya. Namun tas Louis Vuitton yang palsu dapat dikenali
dengan pemasangan huruf LV yang terlihat tidak sejajar pada kedua sisi. Logo LV
pada tas Louis Vuitton palsu umumnya terpotong akibat jahitan tas.
6. Buruknya jahitan Tas Louis Vuitton yang asli memiliki struktur tas yang kokoh dan
pola jahitan yang sangat rapih. Untuk memudahkan Anda mnegenali tas palsu, carilah
nomor seri yang tersembunyi pada bagian dalam tas. Nomor tersebut bukanlah hanya
sekedar urutan angka, namun merupakan tanggal produksi tas tersebut.
Tips:

Jangan ragu untuk ke butik resmi Louis Vuitton untuk minta di buktikan keasliannya

Restsleting tas yang asli memiliki bahan yang kasar dan terdapat logo LV. Biasanya
beda model tas, akan beda pula model restsletingnya.

Biasanya tas asli dilengkapi buku kecil yang menerangkan jenis tas dan cara
perawatannya.

Bagaimana, mudah bukan cara mengetahui tas Louis Vuitton palsu? Jadi jangan sampai Anda
tertipu.
PLEASE NOTE, MOTIF n CORAK itu BEDA ama MODEL !!! Setiap Corak n warna punya
model B-E-J-I-B-U-N !! Ada cara yg amat mudah diliat secara kasat mata, asli palsunya juga,
tapi kalo ude masuk yang EPI LEATHER series, gua nyerah deh, ASLI PALSUNYA LV EPI
LEATHER series gua mesti megang n ngecek jeroannya dulu baru bisa bilang ASLI ato KAWE.
Contoh poto di atas adalah LV MONOGRAM CANVAS WILHELM, liat corak logo LV n
BINTANG, liat dari kiri ke kanan. TAS LV ASLI CORAK n LOGO LV-NYA SELALU
SIMETRIS !! LV gak bakal ngeluarin produk MONOGRAM yang NGGAK SIMETRIS LOGO
MONOGRAM-NYA, jarak n sela antara logo ke STRAP antara STRAP KIRI n STRAP KANAN
semua sama, baik LOGO LV, BINTANG maupun BUNDERAN posisinya antara KIRI, KANAN
n TENGAH jarak ke TEMPELAN KULIT STRAP semua sama n SIMETRIS !!!! Ini adalah cara
pertama tuk ngenalin LV Handbags ASLI ato KAWE secara kasat mata. KALO JARAKNYA gak
simetris IT MEANS tas LV elo adalah FAKE ato KAWE. Ngerti kan ??
Cara kedua untuk ngenalin tas LV asli ato palsu setelah dari segi PATTERN PLACEMENT yang
SIMETRIS adalah dengan cara menghitung jumlah STITCH atau JAHITAN !!
Jumlah JAHITAN ??? Yappp bener sekali, asal lu pade tau aje yah, tas LV handbags uda di
produksi sejak 1854 !! Gaya dan kualitasnya meuni fenomenal pisan, LOUIS VUITTON
HANDBAGS yang dikerjakan dengan tangan amat menjaga kualitas ampe jumlah jahitannya-

pun jadi perhatian serius. Jadi bisa diliat pada gambar kiri adalah LEATHER PATCH untuk
SQUARE RING HANDLE dari MONOGRAM CANVAS SPEEDY, liat PATCH yang
jahitannya berbentuk SEGI LIMA, jumlah STITCH sebelah KIRI n KANAN adalah sama yaitu
SEBELAH KIRI n KANAN BAWAH masing2 ada 5 STITCH, KIRI n KANAN ATAS masing2
ada 4 STITCH dan atas ada 5 STITCH, lu boleh cek untuk mbuktiin semua tas LV sekarang n
hitung jumlah STITCH ato JAHITAN, PASTI SISI KANAN n SISI KIRI jumlahnya adalah
SAMA !!! Itulah yang membuat TAS LV bgitu FENOMENAL, kalo jumlah STITCH aja gak
sama walo mirip mampus boleh jadi tas LV elo adalah FAKE ato KAWE !!
Cara ketiga untuk bisa ngenalin LV HANDBAGS itu asli atau palsu, walo agak susah karna
mesti elo cari adalah NOMOR PRODUCTION CODE !! Untuk ngecek PRODUCTION CODE
elu kudu musti nyari.
Production Code ini adalah kode RAHASIA untuk kalangan internal LV sendiri untuk
menghindari PEMALSUAN, elu2 pade yang TOUR LEADER EROPA destination mesti tau n
hafal, placement n arti dari PRODUCTION CODE di semua LV HANDBAGS. Semua LV
HANDBAGS produksiera 80-an punya PRODUCTION CODE, tapi sejak era 90-an maka smua
produk LV punya keseragaman PRODUCTION CODE yaitu format 2 HURUF diikuti oleh 4
ANGKA.
LV HANDBAGS setau gua HANYA DIPRODUKSI di 5 NEGARA yaitu PRANCIS,
AMERIKA, SPANYOL, ITALY n JERMAN. Tolong kasih tau gua kalo salah, mungkin aja ude
apdet ada buatan CUNGKWO, KOREA ato HONGKONG tapi gua yakin LV gak ada yang
dibikin di CUNGKWO, KOREA n HONGKONG kecuali yang PALSU wuakakakakaka ..
BTW ENIWE BASWE LV bakal mbuka unit produksi di INDIA, tapi hanya untuk PRODUK
SEPATU doang.
Ini beberapa panduan ttg KODE dari negara mana LV HANDBAGS yang di beli adalah produksi
negara mana :
France: A0, A1, A2, AA, AN, AR, AS, BA, BJ, CT, DU, ET, FL, MB, MI, NO, RA, RI, SD, SL,
SN, SP, SR, TH, VI
USA: FC, FH, LA, OS, SD
Spain: CA, LO, LB, LM, LW
Italy: CE, SA
Germany: LP

TOUR LEADER EROPA mesti HAFAL ttg KODE PRODUKSI ASAL NEGARA INI, bukan
sekedar buat SOTOY tapi kalo ampe peserta kita ada yang mbeli LV HANDBAGS di BUTIK2
LV kita bisa bantu meyakinkan dengan SOK YAKIN n PAKAR bahwa dengan melihat
PRODUCTION CODE kita bisa nyombong n bilang begini, Ooooohhh ini LV Monogram
Damier ibu buatan Prancis, diproduksi bulan Maret taun 2009, ini keliatan kok saya liat dari
KODE PRODUKSINYA.
Nyari PRODUCTION CODE jangan suka SOTOYYY, karna gua pernah kelabakan sendiri
nyari2 ini KODE gak ketemu ampe itu ibu2 mbongkar ngeluarin semua isi tasnya dihadapan
orang banyak tapi tetep aja gak ketemu, minta tolng aja ama SPG LV BUTIQUE dimana lokasi
PRODUCTION CODE di handbags yang mo dibeli trus baru deh elo TL bisa sotoyyy. Biasanya
lokasi PRODUCTION CODE ada di belakang PATCH yang ada D-RING-nya (D-RING tu
cincin berbentuk HURUP D)
Cara mbaca kodenya contoh SL 0059, ini artinya SL = BUATAN PRANCIS, angka 5 = dibuat
pada minggu ke 5 (artinya BULAN FEBRUARY/JANUARY) n angka 9 = TAHUN 2009. Jadi
produk LV terbaru 2011 maka formatnya akan jadi XX 0X11 karna angka 11 nandain LV
HANDBAGS diproduksi taun 2011 (jadi ada 3 DIGIT ANGKA). Jadi bisa aja semua model
terbaru LV HANDBAGS akan keluar production Codenya dengan format untuk contoh FL 1211
yang artinya buatan PRANCIS produksi bulan MARET taun 2011 karna angka 12 artinya
MINGGU ke 12 atau dibulan MARET.
Dibawah ini adalah ciri-ciri tas asli
1. Harga Barang.
Jangan pernah percaya barang bermerek asli jika harganya jauh atau 30 % dibawah harga
counter.
Barang seperti Tas Hermes dan Tas LV tidak pernah diskon di outlet resminya, Channel di Asia
tidak pernah diskon, Prada di Asia diskon tidak pernah besar. Kalau dibilang setelah potong GST
Refund, paling banyak 13-19 % di Paris, di Milan 10 % di Sing 7 %.
2. Struktur Tas
Tas- tas yang asli biasanya kokoh, sekalipun dari kanvas ,parasut atau kain.
3. ZIPPER
Coba lihat dari resletingnya. Kalau barang asli resleting nya halus banget dan biasanya zippernya
khas sekali karena di embos dengan logo merek itu.
Tiap season dan tiap model zippernya berbeda, misalnya chanel atau dior. Jadi kalau zippernya
polos bisa diartikan palsu atau meragukan ???

4 Dustbag
Lihat dari Dustbag/ tas pembungkusnya. Kalau yang asli biasanya halus sekali bahannya dan
lebar/longgar ( biasanya tas palsu dustbagnya pas-pasan dengan tasnya).
5. Pelapis dalam /base
Pelapis dalam tas biasanya kalau asli bahan atau kulit balik yang halus (LV ), dan untuk Prada
atau GUCCI biasanya kain pelapis didalamnya bermotif logo dan namanya( bisa berbeda tiap
season ).
Kenali logo dan bentuk huruf merek per season tersebut karena yang palsu sering berbeda bentuk
hurufnya.
6. Seam / Jahitan
Jahitan dalam dan luar tas biasanya berbeda antara asli dan palsu baik dari kualitas jahitan dan
benang yang digunakan ( hanya yang ahli dan sering berurusan dengan barang asli yang paham
betul ).
7. Serial Number
Date Code / serial code( biasanya tersembunyi ) ada dibagian dalam tas dijahit diatas kain /kulit
perlapisnya. Misalnya LV SP0037 artinya dibuat bulan maret tahun 2007.
Untuk LV biasanya ada di bagian bawah jahitan di dalam, tersembunyi dan butuh ketelitian
untuk melihatnya ( tiap model letaknya berbeda ).
Date Code bisa dicek di http://purseblog.com/ atau http://www.mypoupette.com/ atau
http://www.caroldiva.com/ (ada fee untuk konsultasinya ).
8. Handle
Ganggang Tas ( handle ), yang asli biasanya kokoh dan untuk LV biasanya bisa adjustable
dengan talinya.
Sehingga panjang-pendek tas itu ketika dijinjing di pundak bisa disesuaikan selera.
9. Tulisan Made in Italy atau Made in France ???
Untuk Chanel pasti Made in Italy atau Made in France bukan Made in Paris Kalau flapbag
Chanel semua made in France. coco cabas yang terbaru semuanya made in Italy.
10. Tag/Kartu /Sticker
erial Code ada di tag / sticker. Dalam bentuk seperti kartu kredit ada yang berhologram ada juga
yang tidak dengan huruf serial code ada yang di embos ada yang hanya diprint.

Untuk Merek-merek tertentu disertai buku kecil yang menerangkan jenis tas dan cara
perawatannya( mis Chanel dan LV ).Untuk Chanel, Tagnya jika difoto tidak menimbulkan flash
dihasil fotonya.
11. Protective Metal Base.
Pada tas-tas bermerek biasanya ada protective metal base di dasar tas gunanya agar kulit di dasar
tas tidak mudah tergores jika diletakkan.
12. Kancing dan Rantai Metal
yang menghubungi badan tas dan ganggang tas untuk LV setiap kancing2nya bertulisan LV
mengelilingi kancing tersebut. Kalau Chanel biasanya ada logo kecilnya.(Ndh/berbagai sumber)
Walau motifnya sama dengan Damier milik LV, tas ini bisa dipastikan palsu karena LV tidak
pernah mengeluarkan jenis seperti ini.
MASIH terkait peringatan ulang tahun Louis Vuitton yang ke-190. Tengoklah ke sekeliling
Anda, adakah wanita yang menenteng tas tangan berwarna dasar cokelat dengan motif kotakkotak atau inisial LV? Kami yakin, ada saja pengguna tas LV yang berseliweran di depan Anda
nyaris setiap hari. Asli atau palsu, entahlah, yang penting pakai tas (bermotif) LV.
Popularitas LV juga dimanfaatkan sejumlah orang yang ingin menjaring keuntungan sebesarbesarnya dengan menjual tas LV berembel-embel original, padahal abal-abal.
Agar tak terjebak produk imitasi, berikut ini kami tampilkan 7 cara cepat untuk membedakan
mana tas LV yang asli dan palsu.
1. Harga Tak Pernah Bohong
Ada peribahasa Jawa yang berbunyi ono rego ono rupo (ada harga, ada barang). Seperti dikutip
dari Bagbliss.com, harga satu tas LV yang asli berkisar antara $375 - $1.895. Jika Anda
menemukan produk LV yang lebih murah dari itu, lebih baik waspada. Ditambah lagi, LV tidak
pernah memberi diskon atau menerima pembelian dalam partai besar alias grosir.
2. Lokasi Penjualan
Produk LV hanya dijual di tiga lokasi, yaitu di toko-toko resminya yang tersebar di beberapa
negara (termasuk Indonesia) yang secara khusus menjual produk berlabel LV, website
eLUXURY.com, serta melalui nomor telepon 1-866-VUITTON (8848866). Jika Anda
menemukan produk LV di luar ketiga lokasi resmi itu, seperti di online shop atau toko-toko yang
juga menjual beberapa brand di luar LV, kemungkinan besar produk itu palsu atau bekas.
3. Perhatikan Bahannya
Tas LV yang asli dibalut kanvas bermutu tinggi dan dibingkai lining dari kulit sapi asli. Semakin
lama, warnanya akan berubah menjadi lebih gelap dan membuat tas nampak lebih mewah. Jika
warnanya awet dan tidak berubah, bisa dipastikan tas itu palsu.

4. Komponen yang Tangguh

Komponen tas LV asli terbuat dari bahan logam kuningan yang berat dan berkilau
Selain bahan bermutu tinggi, tas LV juga dilengkapi komponen yang kuat dan berkualitas.
Resleting kancing, atau bagian kunci tas terbuat dari logam kuningan yang cukup berat.
5. Penempatan Logo dan Motif LV

Motif dan logo tas LV asli (bawah) tetap lurus rapi walau terdapat lekukan pada bahan, tidak
seperti tas palsu (atas) yang nampak melenceng.
Untuk tas bermotif Monogram, penempatan logo tetap lurus dan rapi walau terdapat lipitan pada

kain. Berbeda dengan tas LV palsu yang logonya terlihat melenceng dan bengkok, terutama di
sisi lain tas atau di bagian yang terdapat lipitan bahan. Atau yang lebih kacau lagi, motifnya
dipasang terbalik!
6. Varian Tidak Berubah-ubah
Untuk melihat desain tas LV dari awal didirikan hingga kini, cukup kunjungi situs resminya,
LouisVuitton.com. Di situ, Anda dapat melihat jenis-jenis tas LV yang cukup banyak ragamnya.
Jika Anda menemukan tas berlogo LV dengan bentuk yang tak pernah Anda lihat di situsnya,
Anda harus waspada karena bisa dipastikan tas itu palsu.
7. Perhatikan Kemasan Luar

Dustbag LV asli hanya memiliki tulisan LV atau Louis Vuitton di bagian luarnya.
LV selalu menjamin ketelitian dan kerapian setiap produknya, mulai dari pengerjaan, dekorasi,
hingga pengemasan. Anda pun dapat membedakan produk LV yang asli dan palsu melalui
kemasan luarnya. Setiap produk LV dilengkapi dengan dustbag yang membungkusnya. Dustbag
yang asli hanya dibubuhi tulisan Louis Vuitton atau LV di bagian depannya, tanpa ada tulisan
lain.
Untuk bagian pegangan tas, LV tak pernah membungkusnya dengan plastik atau tissue, seperti
tas-tas lainnya.
Cara cepat membedakan tas asli atau palsu:
Harga Barang
Tas asli tidak pernah berada 30% dari harga asli. Tas super brand seperti Louis Vuitton, Channel,
dan Gucci tidak pernah menggelar diskon di outlet resmi.
-

Struktur Tas

Apapun bahan material tas, tas asli dipastikan memiliki struktur yang kokoh. Ini disokong
melalui pemasangan tulang rangka hingga pola jahitan yang rapi dengan sistem double stich atau
benang rangkap dua kali.
-

Tas Pembungkus

Setiap membeli tas asli, Anda akan diberikan tas pembungkus berbahan halus dengan ukuran
lebar untuk menjaga tas tersebut dari segala resiko kerusakan. Bahkan dilengkapi dengan lap
pembersih tas.
-

Nomor Seri

Tas berkualitas prima dilengkapi dengan nomor seri yang tersembunyi di bagian dalam tas.
Nomor seri memiliki arti juga, lho. Ingin ketahui keaslian nomor seri, klik http://purseblog.com ,
www.mypoupette.com , atau www.caroldiva.com .
-

Resleting

Cukup mudah mengetahui tas asli dengan memperhatikan resleting. Tas asli menggunakan bahan
agak kasar dan kaitnya diembos dengan logo brand sehingga tetap kokoh. Setiap brand tas juga
memiliki ukuran standar tertentu.
-

Made In

Hati-hati dengan tulisan made in di setiap tas yang Anda beli. Tas Louis Vuitton dipastikan
bertulisankan made in France, bukan made in Paris.
Warna Kulit
Anda bisa ketahui apakah tas tersebut asli atau tidak melalui kejelian mata membedakan warna
tas, khususnya bermaterialkan kulit. Walaupun sama-sama warna cokelat, kepekatan warna
memang sulit dipalsukan.
Miliki Tas KW? Siap-Siap Berurusan dengan Hukum

Apr 27, '12 5:03 AM


untuk semuanya

Okezone.com TAS KW banyak memenuhi lemari wanita. Selain untuk tampil trendi, tas KW menjadi
pemenuhan hasrat memiliki barang branded asli dengan harga selangit.
Anda termasuk pengoleksi tas KW selama ini? Jika ya, waspadalah karena UndangUndang bakal menjerat pemilik tas KW yang punya lebih dari dua. Tidak tanggung-tanggung,
ancaman hukum yang ditawarkan yakni penjara tujuh tahun. Aturan tersebut seperti tertuang
dalam pasal 481 KUHP, yang menjelaskan ancaman bagi para konsumen yang memiliki tas KW
lebih dari dua karena dianggap memanfaatkan barang ilegal.
Bunyi dari pasal 481 ayat 1 berbunyi, Barang siapa menjadikan sebagai kebiasaan untuk
sengaja membeli, menukar, menerima gadai, menyimpan, atau menyembunyikan barang yang
diperoleh dari kejahatan, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.
Sementara bagi produsen, mereka terancam terkena hukuman maksimal lima tahun penjara dan
denda hingga Rp1 miliar, seperti diatur dalam UU HAKI No. 15 Tahun 2001 tentang merek pasal
90 yang berbunyi, Barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak menggunakan merek yang sama
pada keseluruhannya dengan merek terdaftar milik pihak lain untuk barang dan atau jasa sejenis
yang diproduksi dan/atau diperdagangkan, dipidana dengan pidana penjara paling lama lima
tahun dan/atau denda paling banyak Rp1 miliar.
Di Indonesia sendiri, pasar tas KW memang tinggi. Keinginan untuk tampil modis dan gaya
memicu orang memiliki barang branded. Namun, faktor kocek yang kurang mendukung kerap
melegalkan keinginan tersebut untuk membeli tas palsu alias KW.
Hangatnya isu yang sedang bergulir tersebut, ternyata justru menimbulkan reaksi berbeda dari
konsultan HKI, Dwi Anita Daruherdani. Anita mengatakan, bahwa sebenarnya dirinya kurang
sepakat dengan aturan tersebut.
Pertama, bukan berarti saya melegalkan keberadaan tas KW. Namun, permasalahan ini harus
dicermati bahwa dalam menghadapi suatu masalah atau menerapkan hukum yang berlaku
memang harus cermat dan tidak bisa asal. Jadi, harus tepat, tuturnya saat berbincang dengan
Okezone melalui ponsel, Rabu (25/4/2012).

Dalam hal ini, lanjut Anita, pasal 481 KUHP yang disebutkan sebenarnya sudah ada dari zaman
dahulu. Hanya saja, sekarang ini dilakukan sebuah terobosan oleh para lawyer supaya para
pemilik tas KW dapat dijerat dengan sanksi pidana tersebut.
Tetapi dalam hal ini memang belum dicoba dan belum pernah ada yang dijerat, ungkapnya.
Pasal tersebut, terang Anita, akan sulit untuk membuktikannya mengingat tidak terpenuhinya
unsur pidana dalam pasal tersebut.
Jadi, apa benar ada unsur kejahatan di situ, tuturnya.
Selain itu, Anita juga menggarisbawahi bahwa ada satu hal penting adanya UU tentang merek
yang digunakan untuk menjerat produsen pada pasal 90 merupakan sebuah pelanggaran semata.
Pasalnya, pada pasal 94 disebutkan bahwa, Barang siapa memperdagangkan barang dan/atau
jasa yang diketahui atau patut diketahui bahwa barang dan/atau jasa tersebut merupakan hasil
pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam pasal 90, pasal 91, pasal 92 dan pasal 93 dipidana
dengan pidana kurungan paling lama satu tahun atau denda paling banyak Rp200 juta.
Jelas UU merek tersebut menyebutkan bahwa tindak pidana untuk menjual barang palsu
merupakan pelanggaran dan bukan kejahatan. Jadi, saya melihat unsur yang dimaksud hasil
kejahatan adalah hanya hasil pelanggaran. Saya tidak setuju itu merupakan kejahatan, tapi
pelanggaran dalam UU merek, seperti tercantum dalam pasal 94 ayat 2 yang berbunyi, Tindak
pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pelanggaran, jelasnya.
Bagaimana dengan konsumen?
Anita melihat, bahwa produsen memang dapat terkena UU merek tersebut, namun untuk
konsumen sulit untuk dijerat.
Jadi ketika membeli barang tentu karena ada demand, maka ada supply. Makin banyak orang
minta barang palsu, makin banyak yang jualan. Itu saya melihat secara hukum ekonomi.
Sementara dari undang-undang, tidak ada UU di Indonesia yang menjerat konsumen untuk
barang palsu bermerek. Makanya, ini suatu terobosan, tapi saya tidak yakin ini bisa dilaksanakan
mengingat tidak terpenuhinya unsur pidana tadi, tutupnya.
Source: http://lifestyle.okezone.com/read/2012/04/26/29/619302/miliki-tas-kw-siap-siapberurusan-dengan-hukum
Teman-teman ku yang baik hati :)
Walaupun sejujurnya memiliki tas KW masih menjadi kebiasaan saya selain memiliki beberapa
authentic handbag.. Artikel ini hanya sebagai awareness saja ya terutama guna menghindari diri
kita dirugikan akibat ketidakjelasan peraturan ataupun penanganan khusus kepemilikan tas KW
ini, apakah hanya bersifat pelanggaran ataupun bisa dianggap kejahatan nantinya.

Walau agak miris saat membacanya, tapi lebih baik menghindari hal-hal yg dapat merepotkan
kita sebagai langkah pencegahan merupakan hal yg bijaksana.
Buat saya pribadi, sepakat ataupun tidak sepakat.. segala sesuatu yang dapat menyulitkan diri
kita dengan alasan apapun hendaknya semaksimal mungkin dihindari.
So I will put my Replica bag into my walking closet for a while.
Also say to myself.. Being a Bag addict should keep to think sensibly or logically :)
Cheers, BLUE CARROUSEL
tidak ada komentar

Hati-hati Membawa Tas Bermerek Palsu!

Sep 15, '11 12:27 AM


untuk semuanya

KOMPAS.com - Hati-hati membawa tas palsu dari merek terkenal. Sudah banyak cerita di
kalangan ibu-ibu, ketika mendarat di pelabuhan internasional, tas palsu itu disita petugas. Masih
mending cuma disita, kadang barang tersebut dihancurkan di depan merekamungkin untuk
mempermalukan.
Pengawasan barang palsu memang semakin ketat. Seperti diceritakan Cicilia King,
Communication Manager Louis Vuitton (Indonesia), terutama di Eropa pihak perusahaan
melakukan pendidikan termasuk kepada petugas-petugas di bandara sehingga mereka mampu
mengidentifikasi suatu barang asli atau palsu. Louis Vuitton, menurut berbagai catatan, adalah
merek terkenal paling banyak dipalsu.

Meski kualitas barang palsu makin hari semakin canggihkadang sulit bagi yang tak akrab
dengan dunia konsumsi untuk membedakannya dari yang aslipetugas toko pasti bisa
membedakan. Ada cerita, seorang wanita dari Indonesia berbelanja di sebuah butik merek
terkenal di Singapura. Tas yang dipakainya asli. Hanya ketika mengeluarkan dompet kecil dari
dalam tas, pihak toko sempat melihat sepintas dompetnya. Tak berapa lama sepulang ke
Indonesia, wanita itu menerima surat dari merek terkenal tadi yang isinya peringatan berikut
konsekuensi hukumnya, bahwa dia memakai dompet palsu dari merek mereka.
Soal pemalsuan dianggap serius oleh merek-merek terkenal. Mereka merasa perlu melindungi
merek dagangnya, desain, berikut hak ciptanya. Cicilia King mengatakan, di Indonesia urusan
legal berkaitan dengan pemalsuan dibawahi oleh departemen yang mengurusi hal ini untuk
kawasan Asia Pasifik. Ia menunjukkan catatan yang pernah dilakukan Louis Vuitton, misalnya
penggerebekan empat pabrik dan tiga gudang di Gyeonggi, Korea, penangkapan truk yang
memuat 40.000 produk palsu di Guangzhou, China, dan lain- lain. Bukan hanya di Asia, operasi
seperti itu juga menemukan berbagai produksi palsu di Eropa, Amerika, serta Amerika Latin.
Logo, simbol
Kalau pada kenyataannya barang palsu masih terdapat di mana-mana di sekitar kita, itu sematamata menunjukkan memberantas pemalsuan memang bukan soal mudah. Dana Thomas, penulis
buku berjudul Deluxe (2007) yang menceritakan ihwal barang-barang mewah, menuturkan
pengalaman ketika dengan seorang pejabat urusan legal dari sebuah merek mewah mengunjungi
Guangzhou, China. Guangzhou dikenal dunia sebagai tempat diproduksinya berbagai tiruan
merek mewah.
Katanya, memberantas pemalsuan di China tidak mudah. Konfusius mendemokratisasikan
pendidikan di China pertama-tama dengan mendorong pengopian karya pemikir-pemikir besar,
agar pengetahuan cepat menyebar ke semua kelas. Tambah rumit, pemerintahan komunis
mengisyaratkan semua properti milik negarabukan individual, perusahaan, atau korporasi.
Tahun 1980-an mulai ditetapkan undang-undang berhubungan dengan paten dan merek dagang.
Selama berabad-abad mereka terbiasa mengopi apa saja, tiba-tiba harus stop, apakah persoalan
kemudian sesederhana itu? Di situ terjadi semacam dilema kebudayaan.
Sejarah peniruan atau pemalsuan konon setua peradaban ini sendiri. Di Roma pada 100 tahun
sebelum Masehi, muncul kelompok kaya baru. Kekayaan tidak serta-merta memberikan status,
kata Jonathan Stamp, ahli sejarah klasik dan pembuat film dokumenter seperti dikutip Thomas.
Dibutuhkan kekayaan plus sesuatu yang lain, misalnya obyek.
Untuk mendapatkan status seperti kelompok kaya sebelumnya, kelompok kaya baru ini mulai
meniru-niru perkakas dan berbagai peranti orang kaya lama. Lahirlah barang-barang tiruan,
meluas seiring meluasnya kelompok kaya baru itu.
Nyaris menjadi kodrat, orang mengekspresikan status lewat simbol-simbolpakaian, ornamen,
dan barang-barang kepemilikan lain. Juga melekat pada sebagian besar orang, kecemasan
mengenai bagaimana orang lain menilai status sosial mereka. Di situ simbol semakin
menemukan signifikansi peran.

Logo Louis Vuitton yang terkenal dengan huruf L dan V saling kunci disertai motif floral
diciptakan Georges Vuitton tahun 1896, untuk mengenang ayahnya, Louis Vuitton. Kini, simbol
itu dipalsu di mana-mana.
Kalau melihat dinamika bisnis sekarang di mana simbol dan merek dikedepankan sebagai ujung
tombak untuk menjual produk, bisa dibayangkan nilai sebuah simbol, sebuah logo. Perusahaanperusahaan modern menginvestasikan ribuan sampai jutaan dollar untuk sebuah logo, simbol
istilah bisnisnya branding. Untuk barang-barang luks, investasi bagi citra yang diwujudkan
lewat logo bisa mengungguli investasi untuk produknya sendiriobyek yang diingini publik.
Suatu kali mengunjungi Paris dan berkesempatan melihat workshop Louis Vuitton, terlihat
betapa rumit mereka menciptakan produk untuk menghindari peniruan. Diciptakan kode-kode
khusus, termasuk variasi kunci bagi trunk mereka, yang kalau kunci hilang, hanya pabrik mereka
yang bisa membetulkan variasi kunci itu. Barang harus dikirim ke workshop di Paris.
Penyelesaian produk secara manualbukan mesinadalah cara lain lagi untuk mencapai
eksklusivitas dan otentisitas. Sentuhan tangan akan menghasilkan ketidaksempurnaan yang
dicapai mesin (nah, akhirnya bukankah kembali ke kebesaran manusia?).
Persoalannya, untuk tas perempuan bermerek yang harganya puluhan sampai ratusan juta rupiah,
berapa orang bisa mencapainya? Bagaimana para sekretaris, guru, pegawai negeri bisa membeli
tas yang harganya puluhan juta? Seperti Hermes dengan edisi bernama Birkin, yang semua
wanita kelas atas mejeng di majalah dengan merelakan tangannya sekadar jadi gantungan? Tak
heran, kalau kemudian muncul Birkin-Birkin tiruan dengan harga murah, yang dipelesetkan
sebagai birkinan Tajur, birkinan Yogya, dan seterusnya.
Antarkelas
Sejak lama sebenarnya antara asli dan palsu menjadi ajang kontestasi antarkelas, antara kelas
atas versus kelas-kelas di bawahnya. Sekali apa yang diakui sebagai selera kelas atas ditiru oleh
kelas di bawahnya, seperti diteorikan Bourdieu, mereka akan segera melakukan investasi
finansial dan kultural yang baru dalam simbol-simbol untuk pembedaan. Begitu tas mahal bisa
digapai banyak pihak, kelas sosial yang tadinya mengonsumsi secara eksklusif akan pindah ke
perwujudan selera berkelas lain, misalnya kesenian. Seni rupa menjadi obyek konsumsi baru,
seni pertunjukan menjadi klangenan. Itu contohnya.
Begitu berjalan terus-menerus. Menurut Coco Chanel, Being copied is the ransom of success
(ditiru adalah tebusan bagi sebuah sukses).
Catatan tambahan: kalau Anda sebagai pemimpin tidak sukses, jangankan palsunya, aslinya pun
tak laku dijual dalam pemilu.
(Bre Redana)
source:
http://female.kompas.com/read/2011/09/15/09295668/Hati.hati.Membawa.Tas.Bermerek.Palsu

Teman-teman ku yang baik hati :)


Artikel ini hanya sebagai awareness saja ya terutama utk kalian yg sering bepergian keluar
negeri. Walau tersenyum saat membaca, tapi saya mengerti bahwa ada alasan yg tepat mengapa
setiap negara memberikan peraturan di setiap negaranya. Pada intinya ingin melindungi industri
yg dimiliki negara tersebut.
Buat saya pribadi, tas bukanlah status sosial yg perlu diberikan tag kemewahan tertentu.. namun
lebih kepuasan bagi pemakainya. So Authentic bag or Replica ?
Love yourself first then choose the entitlement to reward your effort :)