Anda di halaman 1dari 10

Borang Portofolio Kasus Bedah

Nama Peserta : dr. Tita Luthfia Sari


Nama Wahana : RSUD dr. Wahidin Sudirohusodo Kota Mojokerto
Topik : Appendisitis Akut
Tanggal (kasus) :

No. RM : S-1503097401

Nama Pasien :

Nama Pendamping :

Tanggal Presentasi : -

dr. Wawan Setyo Purnomo


dr. Wiwiek Andayani

Tempat Presentasi : Obyektif Presentasi :Keilmuan

Keterampilan

Diagnostik

Manajemen Masalah

Neonatus

Bayi

Penyegaran

Anak

Tinjauan Pustaka

Istimewa
Remaja

Dewasa

Lansia

Bumil

Deskripsi: Laki-laki, 19 tahun, nyeri perut kanan bawah


Tujuan: Membahas mengenai diagnosis dan penatalaksanaan kasus appendisitis akut
Bahan Bahasan :

Tinjauan Pustaka

Riset

Kasus

Audit

Cara membahas:
Data pasien:

Diskusi

Presentasi dan diskusi

Nama: Sdr. N / 19 th / BB 60 kg / TB 160 cm

Nama klinik:

Email

Pos

Nomor Registrasi: S-1503097401


Terdaftar sejak: 18 Juni 2015

Data utama untuk bahan diskusi:


1.
-

Diagnosis/GambaranKlinis :
Diagnosis :
Appendisitis akut
Gambaran Klinis :
Pasien mengeluh nyeri perut kanan bawah sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit. Nyeri awalnya dirasakan di ulu hati
kemudian menjalar ke perut kanan bawah. Pasien juga mengeluh demam tinggi sejak 2 hari ini, mual (+), muntah (-), BAB
-

dan BAK normal. Makan/minum mau.


KU: tampak sakit sedang, GCS: 456, Nadi: 90x/m kuat regular, TD: 120/70, Tax: 37,8 OC, RR: 24x/m SaO 2 98% tanpa O 2
K/L : Anemi (-), Ikterik (-), Cyanosis (-) Pembesaran KGB coli (-)
Thorax : Cor/ S1 S2 tunggal, M (-), G (-), batas jantung kanan dan kiri dbn. Pulmo : Vesikular, Rh (-), Wh (-)
Abdomen : BU (+) normal, hepar/lien tidak teraba, nyeri tekan dan nyeri lepas di titik McBurney, defans muscular (-),
Rovsing sign (+), Obturator sign (+), Psoas sign (+).
Pada pemeriksaan rectal toucher ditemukan nyeri tekan pada arah jam 9 dan jam 11.
Ekstremitas : Akral dingin, CRT < 2, edema (-)

Hasil pemeriksaan penunjang :


DL : 12,7 g/dl/ 37%, 14.100/uL/ 312.000/uL

Diff count : Gr / Lym / Mo 87% / 8% / 3,7 %

- Hasil Foto X Ray BOF dan LLD :


Tidak didapatkan gambaran udara bebas ekstra luminal
- ALVARADO Score : 9
2. Riwayat penyakit dahulu :
- Riwayat HT (-)
- Riwayat DM (-)
- Riwayat MRS sebelumnya (-)
- Riwayat alergi (-)
3. Riwayat pengobatan :
-

Pasien sering mengkonsumsi obat penghilang nyeri yang dijual bebas di warung bila timbul gejala sakit perut atau sakit kepala.

4. Riwayat keluarga :
- Tidak ada keluarga pasien yang mengalami keluhan seperti pasien.
5. Riwayat pekerjaan :
- Pasien kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Surabaya
6. Riwayat kebiasaan :
- Pasien sering telat makan, 1-2 kali per hari

Daftar Pustaka:
1. De Jong, Wim. 2004. Apendisitis Akut, dalam Buku Ajar Ilmu Bedah, edisi II. Hal 640- 645. Jakarta: EGC.
2. Mansjoer, Arif dkk. 2000. Apendisitis, dalam Kapita Selekta Kedokteran, edisi III, jilid II. Hal 307-313. Jakarta: Media
Aesculapius.
3. Rudi Ali Arsyad. 2006. Pemakaian Sistem Skor dalam Menegakkan Diagnosis Apendisitis Akut pada Anak Usia 6-14 Tahun di
Bagian Bedah Anak RS. DR. Sardjito Tahun 2004-2006. Diunduh dari http://arc.ugm.ac.id
4.
Hasil Pembelajaran:
1. Definisi appendisitis akut
2. Diagnosis appendisitis akut
3. Tatalaksana appendisitis akut

Rangkuman hasil pembelajaran portofolio:


1. Subjektif :
Pasien mengeluh nyeri perut kanan bawah sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit. Nyeri awalnya dirasakan di ulu hati
kemudian menjalar ke perut kanan bawah. Pasien juga mengeluh demam tinggi sejak 2 hari ini, mual (+), muntah (-), BAB
-

dan BAK normal. Makan/minum mau.


Gejala klinis yang dialami pasien ini mengarah ke diagnosis appendisitis akut.

2. Objektif :
Hasil pemeriksaan fisik yang mengarah ke diagnosis appendisitis akut :
KU: tampak sakit sedang, GCS: 456, Nadi: 90x/m kuat regular, TD: 120/70, Tax: 37,8 OC, RR: 24x/m SaO2 98% tanpa O2
Abdomen : BU (+) normal, nyeri tekan dan nyeri lepas di titik McBurney, defans muscular (-), Rovsing sign (+),
-

Obturator sign (+), Psoas sign (+)


Pada pemeriksaan rectal toucher ditemukan nyeri tekan pada arah jam 9 dan jam 11
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan DL menunjukkan leukositosis dengan dominasi sel granulosit (PMN)
Pemeriksaan X Ray BOF dan LLD tidak didapatkan gambaran udara bebas ekstra luminal, yang artinya tidak ada tanda-tanda
perforasi organ berongga
Skor ALVARADO : 9

3. Assessment
Appendisitis Akut
Definisi
Appendisitis disebabkan karena adanya obstruksi pada lumen appendiks vermiformis, penyebab sumbatan lumen yang paling
sering adalah fecolit, diikuti hiperplasia jaringan limfoid submukosa yang dikenal dengan gut associate limphoid tissue (GALT),
tumor, parasit usus atau benda asing seperti biji buah-buahan atau bubur barium dari pemeriksaan radiologi sebelumnya. Faktor lain

yang sangat berperan dalam perjalanan penyakit appendisitis akut adalah kuman dalam lumen appendiks. Kuman yang ada dalam
lumen apendiks sama dengan kuman yang ada di dalam kolon, seperti kuman E.coli, Klebsiella, Pseudomonas, Peptostrepcoccus, dll.
Setelah terjadi obstruksi lumen, appendiks akan menyerupai suatu kantong tertutup yang disebut closed loop, di dalam lumen
akan terjadi penumpukan sekret appendiks dan pada saat bersamaan terjadi perkembangbiakan kuman-kuman dalam lumen, yang
mengakibatkan terjadinya reaksi peradangan dan distensi appendiks. Distensi ini mengakibatkan bendungan aliran limfe, aliran vena
dan arteri, yang pada akhir proses peradangan ini akan mengenai seluruh dinding appendiks.
Patogenesis
Pada tahap awal terjadinya reaksi peradangan appendiks, yang mengalami iritasi baru mukosa dari appendiks sehingga pada saat
ini keluhan nyeri semata hanya akibat distensi dari appendiks atau akibat kontraksi otot polos appendiks dalam usaha menghilangkan
sumbatan lumen tadi. Secara patologi stadium ini disebut stadium kataral atau akut fokal. Jika reaksi peradangan telah sampai ke
serosa disertai adanya proses supuratif akibat ekspansi kuman ke dinding disebut appendisitis supurativa. Stadium selanjutnya bila
telah terdapat daerah yang mengalami gangren makan disebut appendisitis akut stadium gangrenosa, yang jika tidak dilakukan
pertolongan akan menjadi appendisitis perforasi.
Perjalanan penyakit appendisitis akut bisa terhenti pada stadium akut fokal, namun mukosa yang telah mengalami iritasi akan
menyisakan jaringan parut dalam proses penyembuhannya, sehingga hal ini akan mengakibatkan keluhan nyeri sekitar pusar berulang,
secara patologi stadium ini disebut appendisitis kronis. Pada stadium supuratif gangrenosa atau mikroperforasi akibat adanya daya
tahan tubuh yang baik yang salah satu tandanya adanya proses pendindingan dari appendiks yang meradang oleh omentum (walling
off) makan akan terbentuk suatu infiltrasi di kanan bawah yang disebut appendisitis infiltrat.
Manifestasi Klinis
Gejala utama pada apendisitis akut adalah nyeri abdomen. Pada mulanya terjadi nyeri visceral, yaitu nyeri yang sifatnya hilang
timbul seperti kolik yang dirasakan di daerah umbilikus dengan sifat nyeri ringan sampai berat. Hal tersebut timbul oleh karena
apendiks dan usus halus mempunyai persarafan yang sama, maka nyeri visceral itu akan dirasakan mula-mula di daerah epigastrium

dan periumbilikal. Secara klasik, nyeri di daerah epigastrium akan terjadi beberapa jam (4-6 jam) seterusnya akan menetap di kuadran
kanan bawah dan pada keadaan tersebut sudah terjadi nyeri somatik yang berarti sudah terjadi rangsangan pada peritoneum parietale
dengan sifat nyeri yang lebih tajam, terlokalisir serta nyeri akan lebih hebat bila batuk ataupun berjalan kaki.
Hampir tujuh puluh lima persen penderita disertai dengan vomitus akibat aktivasi N.vagus, namun jarang berlanjut menjadi
berat dan kebanyakan vomitus hanya sekali atau dua kali. Penderita apendisitis juga mengeluh obstipasi sebelum datangnya rasa nyeri
dan beberapa penderita mengalami diare, hal tersebut timbul biasanya pada letak apendiks pelvikal yang merangsang daerah rektum.
Gejala lain adalah demam yang tidak terlalu tinggi, yaitu suhu antara 37,50 38,50C tetapi bila suhu lebih tinggi, diduga telah terjadi
perforasi.
Pemeriksaan Fisik
Pada palpasi didapatkan titik nyeri tekan kuadran kanan bawah atau titik Mc Burney. Nyeri lepas muncul karena rangsangan
peritoneum, sementara rebound tenderness (nyeri lepas tekan) adalah rasa nyeri yang hebat (dapat dengan melihat mimik wajah) di
abdomen kanan bawah saat tekanan secara tiba-tiba dilepaskan setelah sebelumnya dilakukan penekanan yang perlahan dan dalam di
titik Mc Burney. Pada apendisitis retrosekal atau retroileal diperlukan palpasi dalam untuk menentukan adanya rasa nyeri. Dengan
pemeriksaan Rectal Toucher akan ditemukan nyeri tekan pada arah jam11. Pemeriksaan uji psoas dan uji obturator merupakan
pemeriksaan yang lebih ditujukan untuk mengetahui letak apendiks. Rigiditas psoas dapat ditemukan bila appendiks letak retrocaecal,
terutama bila appendiks melekat pada otot psoas.
Pemeriksaan jumlah leukosit membantu menegakkan diagnosis apendisitis akut. Pada kebannyakan kasus terdapat leukositosis,
terlebih pada kasus dengan komplikasi.
Diagnosis
Skor Alvarado

Semua penderita dengan suspek Appendicitis acuta dibuat skor Alvarado dan diklasifikasikan menjadi 2 kelompok yaitu: skor <6
dan >6. Selanjutnya dilakukan Appendectomy, setelah operasi dilakukan pemeriksaan PA terhadap jaringan Appendix dan hasilnya
diklasifikasikan menjadi 2 kelompok yaitu: radang akut dan bukan radang akut.
Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik pasien pada kasus ini, dapat dilakukan penilaian Alvarado score:
Migration of pain : 1
Anorexia
:Nausea/vomiting : 1
RLQ tenderness
:2
Rebound
:1
Elevated Tax
:1
Leukocytosis
:2
Left shift
:1
Total points
:9
Dari penilaian Alvarado score dapat ditarik kesimpulan bahwa pasien ini kemungkinan besar menderita Appendisitis akut.
4. Plan
Pengobatan:
- IVFD RL 20 tpm
- Inj Ceftriaxone 2x1 gr IV
- Inj Ranitidin 2x1 amp IV
- Pro appendectomy cito
Follow Up
Selesai dilakukan appendectomy emergency dalam spinal anestesi. Anjuran post :
- Immobilisasi
- Sementara puasa
- Awasi VS
- Jika BU(+) mulai minum
- Rawat bangsal bedah
Terapi :
IVFD RL 20 tpm
Inj Ceftriaxone 2x1 gr IV

Inj. Ranitidin 2x1 amp IV


Inj. Ketorolac 2x1 amp IV
Penatalaksanaan
Bila diagnosis appendisitis telah ditegakkan, maka tindakan yang paling tepat adalah appendektomi dan merupakan pilihan
terbaik. Penundaan tindakan bedah sambil pemberian antibiotik dapat mengakibatkan abses dan perforasi. Pada appendisitis yang
diagnosisnya tidak jelas sebaiknya dilakukan observasi, maka dianjurkan melakukan pemeriksaan laboratorium dan ultrasonografi
Penatalaksanaan pasien yang dicurigai Appendicitis :
- Puasakan
- Berikan analgetik dan antiemetik jika diperlukan untuk mengurangi gejala (penelitian menunjukkan bahwa pemberian analgetik
-

tidak akan menyamarkan gejala saat pemeriksaan fisik)


Pertimbangkan KET terutama pada wanita usia reproduksi
Berikan antibiotika IV pada pasien dengan gejala sepsis dan yang membutuhkan Laparotomy
Perawatan appendicitis tanpa operasi
Penelitian menunjukkan pemberian antibiotika intravena dapat berguna untuk Appendicitis acuta bagi mereka yang sulit

mendapat intervensi operasi (misalnya untuk pekerja di laut lepas), atau bagi mereka yang memilki resiko tinggi untuk dilakukan
operasi :
- Rujuk ke dokter spesialis bedah
- Antibiotika preoperative
Pemberian antibiotika preoperative efektif untuk menurunkan terjadinya infeksi post operasi. Diberikan antibiotika
broadspectrum dan juga untuk gram negative dan anaerob. Antibiotika preoperative diberikan dengan order dari ahli bedah. Antibiotik
profilaksis harus diberikan sebelum operasi dimulai. Biasanya digunakan antibiotik kombinasi, seperti Cefotaxime dan Clindamycin,
atau Cefepime dan Metronidazole. Kombinasi ini dipilih karena frekuensi bakteri yang terlibat, termasuk Escherichia coli,
Pseudomonas aeruginosa, Enterococcus, Streptococcus viridans, Klebsiella, dan Bacteroides.
Prognosis
Kematian dari appendisitis di Amerika Serikat telah terus menurun dari tingkat 9,9 per 100.000 pada tahun 1939, dengan 0,2 per
100.000 pada 1986. Diantara faktor-faktor yang bertanggung jawab adalah kemajuan dalam anestesi, antibiotik, cairan intravena, dan

produk darah. Faktor utama dalam kematian adalah apakah pecah terjadi pengobatan sebelum bedah dan usia pasien. Angka kematian
keseluruhan untuk anestesi umum adalah 0,06%. Angka kematian keseluruhan dalam apendisitis akut pecah adalah sekitar 3%peningkatan 50 kali lipat. Tingkat kematian appendisitis perforasi pada orang tua adalah sekitar 15% peningkatan lima kali lipat dari
tingkat keseluruhan
Pendidikan:
Kepada pasien dan keluarganya dijelaskan penyebab timbulnya penyakit yang dideritanya dan menjelaskan tindakan yang seharusnya diambil
jika anggota keluarga yang lain mengalami gejala-gejala awal appendisitis akut.
Konsultasi:
- Kontrol post-operasi : tiga hari setelah pulang dari rumah sakit, dan jika diperlukan kunjungan lagi tiga hari berikutnya.
- Nasihat setiap kali kunjungan dengan harapan meningkatkan kualitas hidup pasien

Anda mungkin juga menyukai