Anda di halaman 1dari 12

PRESENTASI KASUS

MORBUS HANSEN TIPE MID BORDERLINE-MB

Disusun oleh:

Ayuningtyas Anatika S (FK UPH)


Astari Asrini (FK UPH)

Dipresentasikan pada tanggal 4 November 2010

DEPARTEMEN KULIT DAN KELAMIN


RUMAH SAKIT PUSAT ANGKATAN DARAT GATOT SOEBROTO
JAKARTA
2010
STATUS PASIEN
I.

IDENTITAS PASIEN
Nama
: Tn.D.A.P
Umur
: 30 tahun
Jenis kelamin
: Laki-laki

Agama
: Islam
Suku
: Jawa
Alamat
: Cibinong
Tanggal Periksa
: 1 November 2010
II. ANAMNESIS
Dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 1 November 2010.
Keluhan Utama

: Bercak kemerahan tersebar di beberapa bagian tubuh.

Keluhan Tambahan
: Baal dan bengkak pada jari-jari tangan dan kaki
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang dengan keluhan bercak kemerahan yang tersebar di beberapa bagian tubuh
dan terasa tebal, pada daerah belakang telinga kanan, perut kiri bawah, pinggang kanan, lengan
kanan bawah, paha kanan dan kiri, dan lutut kiri sejak 3 bulan Sebelum Masuk Rumah Sakit.
Awalnya timbul sebuah bercak putih yang mendadak, tidak gatal, tidak sakit, berbentuk
oval di bagian perut kiri bawah. Keluhan ini dirasakan sejak 3 bulan SMRS. Pasien menganggap
ini sebagai panu sehingga pasien hanya membiarkannya saja (pasien tidak memberikan
pengobatan apapun untuk bercak tersebut). Tidak lama kemudian, muncul bercak yang sama
dibawah bercak awal, kemudian timbul berturut-turut di pinggang kanan (2 buah), lengan kanan
bawah (1 buah), paha kanan (2 buah), paha kiri (1 buah), lutut kiri (1 buah), dan terakhir di
belakang telinga kanan (1buah). Semakin lama bercak putih ini membesar. Pasien tidak ingat
jangka waktu timbulnya antara bercak pertama dan kedua, dan bercak-bercak lainnya. Bercak
tersebut yang awalnya berupa bercak putih berukuran kecil menjadi semakin melebar, meninggi
di bagian tepi dan berubah warna menjadi kemerahan.
Sekitar 3 minggu yang lalu, penderita mengeluh tidak dapat merasakan apa-apa ketika
bercak tersebut disentuh, kulit pada bercak kemerahan tersebut terasa menebal. Pasien juga
mengeluh kesemutan dan baal di jari telunjuk dan jari tengah, tangan kanan dan juga baal di
jempol kaki dan jari kedua dari jempol pada kaki kiri.
Oleh karena keluhan tersebut, pasien berobat ke poliklinik kulit dan kelamin RSPAD.
Pasien juga sudah melakukan pemeriksaan lab pada tanggal 1 november 2010 di RSCM,
hasilnya pemeriksaan BTA (+) dengan indeks bakteri : 1/6 dan indeks morfologi : 0 %.
Riwayat Penyakit Dahulu
Tidak ada
Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada
III. STATUS GENERALIS
Keadaan Umum

: Baik

Kesadaran

: Compos Mentis

Tanda vital

Tekanan darah

: 120/80 mmHg

Nadi

: 80 kali /menit

Pernafasan

: 20 kali / menit

Suhu

: Afebris

BB

: 70 kg

Kepala

: Normocephali

Mata

: Konjungtiva anemis (-/-), Sklera Ikterik (-/-)

Paru

: Bunyi nafas vesikuler,

Jantung

: Bunyi jantung I-II regular, murmur (-), gallop (-)

Abdomen

: datar, supel. Hepar dan Lien tidak ada pembesaran, bising usus (+)
normal

Ekstrimitas

: Akral hangat, edema (-/-)

Rhonki -/-, Wheezing -/-

IV. STATUS DERMATOLOGIKUS


Regio
Aurikularis posterior kanan, Lengan
bawah kanan, Genu kiri
Punggung kanan bawah, Kuadran kiri
atas, Femoralis medial kanan dan kiri

Aurikularis posterior kanan

Effloresensi
Bercak eritematosa berbatas tegas
Bercak eritematosa berbatas tegas dengan tepi lebih
tinggi daripada tengahnya

Kuadran kiri atas

Kuadran Kiri Atas

Ekstensor lengan bawah kanan

Punggung kanan bawah

PEMERIKSAAN TAMBAHAN
5A
Akromia

Genu kiri

Hipopigmentasi (+) pada lesi


Anestesi

Tes raba, tes tajam tumpul, dan tes suhu : anestesi (+) pada lesi
Anhidrosis

Tes Gunawan / tes pensil tinta : kulit kering (+)


Alopesia

Madarosis (-/-)
Atrofi

Atrofi tenar (-/-)


Atrofi hipotenar (-/-)

Pemeriksaan saraf tepi


N. Auricularis magnus: menebal D/S (-/-), nyeri D/S (-/-)
N. Ulnaris

: menebal D/S (-/-), nyeri D/S (-/-)

N. Peroneus Lateralis : menebal D/S (-/-), nyeri D/S (-/-)


N.Tibialis Posterior

: menebal D/S (-/-), nyeri D/S (-/-)

Pemeriksaan fungsi motorik


Lagoftalmus (-/-)
Claw hand (-/-)
Wrist drop (-/-)
Foot drop (-/-)
V. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak ada
VI. RESUME
Pasien laki-laki, usia 30 tahun, datang dengan keluhan bercak kemerahan di beberapa
bagian tubuh dan terasa tebal pada daerah belakang telinga kanan, perut kiri bawah, pinggang
kanan, lengan kanan bawah, paha kanan dan kiri, dan lutut kiri sejak 3 bulan SMRS.
Sekitar 3 minggu yang lalu, penderita mengeluh tidak dapat merasakan apa-apa ketika
bercak tersebut disentuh, kulit pada bercak kemerahan tersebut terasa menebal. Pasien juga
mengeluh kesemutan dan baal di jari telunjuk dan jari tengah, tangan kanan dan juga baal di
jempol kaki dan jari disebelah jempol pada kaki kiri.
Status generalis dalam batas normal. Pada status dermatologis ditemukan bercak eritematosa
berbatas tegas dengan tepi berwarna lebih merah daripada tengahnya pada regio aurikularis
posterior kanan, lengan bawah kanan, punggung kanan bawah, kuadran kiri atas, femoralis
medial kanan dan kiri, dan genu kiri. Pada pemeriksaan tambahan didapatkan hipopigmentasi (+)
pada lesi, anestesi (+) pada lesi, dan dengan tes Gunawan / tes pensil tinta didapat kulit kering (+).

VII. DIAGNOSIS KERJA


Morbus Hansen tipe Mid Borderline-Multibasiler
VIII. DIAGNOSIS BANDING
Tidak Ada
IX.

PEMERIKSAAN ANJURAN

Pemeriksaaan bakteriologis
Pemeriksaan histopatologi

IX. PENATALAKSANAAN
Non-medikamentosa:
1. Menjelaskan pada pasien bahwa penyakit ini bisa disembuhkan, tetapi pengobatan akan
berlangsung lama sampai 12 bulan, untuk itu pasien harus rajin kontrol ke dokter dan
sebaiknya tidak putus untuk berobat.
2. Jika dalam masa pengobatan, tiba-tiba badan pasien menjadi demam, nyeri di seluruh
tubuh, disertai bercak-bercak kemerahan, maka harus segera mencari pertolongan ke
saranan pelayanan kesehatan.
3. Menghindari kontak yang lama dan erat dengan individu lain.
Medikamentosa:
MDT (Multi Drug Therapy) untuk tipe MB
Hari ke-1

Hari ke- 2 28

Rifampicin 600 mg
Clofazimine 300 mg
Dapsone 100mg

Clofazimine 50 mg
Dapsone 100 mg

Pengobatan diulang setiap 28 hari sesuai aturan dan diberikan selama selama 12 bulan

X. PROGNOSIS
Quo ad vitam

: bonam

Quo ad fungtionam

: bonam

Quo sanationam

: bonam

TINJAUAN PUSTAKA
LEPRA (MORBUS HANSEN)
Kusta merupakan penyakit tertua yang sampai sekarang masih ada. Kusta berasal dari
bahasa India kustha, dikenal sejak 1400 tahun sebelum masehi.Kusta merupakan penyakit yang
sangat ditakuti oleh masyarakat karena dapat menyebabkan ulserasi, mutilasi dan deformitas.
Penderita kusta tidak hanya menderita akibat penyakitnya saja tetapi juga karena dikucilkan
masyarakat sekitarnya. Oleh sebab itu, penulis akan membahas penyakit kusta lebih mendalam
dalam makalah ini1.
Kusta

merupakan

penyakit

infeksi

yang

kronik,

dan

penyebabnya

ialah

Mycobacterium Leprae yang bersifat intrasellular obligat. Mycobacterium leprae ini ditemukan
oleh G.A. HANSEN pada tahun 1874 di Norwegia. Mycobacterium Leprae merupakan basil
tahan asam dan tahan alkohol, dengan pewarnaan giemsa akan menunjukkan hasil Gram positif
(berwarna ungu) dan tidak dapat dikultur dalam media buatan. Saraf perifer sebagai afinitas
pertama, lalu kulit dan mukosa traktus respiratorius bagian atas, kemudian dapat ke organ lain
kecuali susunan saraf pusat1.

Hanya sedikit orang yang akan terjangkit kusta setelah kontak dengan penderita, hal ini
disebabkan karena adanya imunitas. M. leprae termasuk kuman obligat intraseluler dan sistem
kekebalan yang efektif adalah sistem kekebalan seluler. Faktor fisiologik seperti pubertas,
menopause, kehamilan, serta faktor infeksi dan malnutrisi dapat meningkatkan perubahan klinis
penyakit kusta. Sebagian besar (95%) manusia kebal terhadap kusta, hampir sebagian kecil (5%)
dapat ditulari. Dari 5% yang tertular tersebut, sekitar 70% dapat sembuh sendiri dan
hanya 30% yang dapat menjadi sakit1.
Gambaran Klinis
Keluhan utama biasanya sebagai akibat kelainan saraf tepi, yang dalam hal ini dapat berupa
bercak pada kulit yang mati rasa, rasa tebal, kesemutan, kelemahan otot-otot dan kulit kering
akibat gangguan pengeluaran kelenjar keringat. Gejala klinis yang terjadi dapat berupa kelainan
pada saraf tepi, kulit, rambut, otot, tulang, mata, dan testis1.

Ada 3 tanda kardinal, yang kalau salah satunya ada sudah cukup untuk menetapkan diagnosis dari
penyakit kusta yakni1:
1. Lesi kulit yang anestesi,
2. Penebalan saraf perifer, dan
3. Ditemukannya M. leprae sebagai bakteriologis positif.

Klasifikasi2
Klasifikasi Internasional : Klasifikasi Madrid (1953)

Indeterminate (I)
Tuberkuloid (T)
Borderline-Dimorphous (B)
Lepromatosa (L)

Klasifikasi untuk kepentingan riset : Klaisfikasi Ridley-Jopling (1962)

Tuberkuloid (TT)
Borderline tuberkuloid (BT)
Mid-borderline (BB)
Borderline lepromatous (BL)
Lepromatosa (LL)

Klasifikasi untuk kepentingan program kusta : Klasifikasi WHO(1981) dan modifikasi


WHO(1988)

Pausibasiler (PB)
Multibasiler (MB)

Tabel 1. BAGAN DIAGNOSIS KLINIS MENURUT WHO (1995) 2

Jumlah lesi
Penebalan saraf yang disertai gangguan
fungsi saraf

Paucibacillary

Multibacillary

1-5

>5

Hanya 1 saraf

>1 saraf

Tabel

2.

Gambaran
Klinis,
Bakteriologik,

dan Imunologik Kusta Multibasilar (MB)


Sifat
LESI

Bentuk

Jumlah

Lepromatous (LL)
Makula, Infiltrat difus,
Papul, Nodul
Tidak terhitung, praktis
tidak ada kulit yang
sehat

Borderline lepromatous (BL)


Makula, Plakat, Papul

Punched out
Dapat dihitung, kulit

kulit sehat

sehat jelas ada

Distribusi

simetris

hampir simetris

Permukaan

Halus berkilat

Halus berkilat

Batas
Anestesia
BTA
Lesi kulit
Sekret hidung
Tes Lepromin

Plakat, Dome-shape,

Sukar dihitung, masih ada

Mid-borderline (BB)

asimetris
Agk kasar, agk berkilat

Tidak jelas
Biasanya tak jelas

Agak jelas
Tak jelas

Agak jelas
Lebih jelas

Banyak (ada globus)


Banyak (ada globus)
(-)

banyak
Biasanya (-)
(-)

Agak banyak
(-)
Biasanya (-)

Gambaran Klinis, Bakteriologik, dan Imunologik Kusta Pausibasilar (PB) 2


Sifat

Tuberculoid (TT)

Borderline tuberculoid (BT)

Indeterminate (I)

LESI

Bentuk

Jumlah
Distribusi
Permukaan
Batas
Anestesia
BTA
- Lesi kulit
Tes Lepromin

Makula

saja,

makula

dibatasi infiltrat
1, dapat beberapa
asimetris
Kering bersisik
Jelas
Jelas

Makula

dibatasi

infiltrat,

infiltrat saja
Beberapa/1 dengan satelit
Masih simetris
Kering bersisik
Jelas
Jelas

Hampir selalu (-)

(-) atau hanya 1+

Positif kuat (3+)

Positif lemah

Hanya infiltrat
1/beberapa
variasi
Halus, agak berkilat
Dapat Jelas/dpt tdk Jelas
Tdk ada sampai tdk Jelas
Biasanya (-)
Dapat positif lemah/ (-)

Diagnosis
Diagnosis penyakit kusta didasarkan gambaran tanda dan gejala yang dimiliki. Di antara
semuanya, diagnosis secara klinislah yang terpenting dan paling sederhana. Hasil pemeriksaan
bakteri memerlukan waktu yang paling sedikit 15-30 menit, sedang pemeriksaan sel memerlukan
3-7 hari. Kalau masih memungkinkan, baik juga dilakukan tes lepromin (Mitsuda) untuk
membantu penentuan tipe, yang hasilnya baru dapat diketahui setelah 3-4 minggu1.
Penatalaksanaan
Tujuan utama yaitu memutuskan mata rantai penularan untuk menurunkan insiden
penyakit, mengobati dan menyembuhkan penderita, mencegah timbulnya penyakit, untuk
mencapai tujuan tersebut, strategi pokok yg dilakukan didasarkan atas deteksi dini dan
pengobatan penderita. Dapson, diamino difenil sulfon bersifat bakteriostatik yaitu menghalangi
atau menghambat pertumbuhan bakteri. Lamprene atau Clofazimin, merupakan bakteriostatik
dan dapat menekan reaksi kusta. Rifampicin, bakteriosid yaitu membunuh kuman. Rifampicin
bekerja dengan cara menghambat DNA- dependent RNA polymerase pada sel bakteri dengan
berikatan pada subunit beta1.
Regimen pengobatan kusta disesuaikan dengan yang direkomendasikan oleh
WHO/DEPKES RI (1981) dengan memakai regimen pengobatan MDT (multi drug therapy).
Kegunaan MDT untuk mengatasi resistensi Dapson yang semakin meningkat, mengatasi

ketidakteraturan penderita dalam berobat, menurunkan angka putus obat pada pemakaian
monoterapi Dapson, dan dapat mengeliminasi persistensi kuman kusta dalam jaringan1.

Reaksi Kusta
Reaksi kusta adalah suatu episode akut dalam perjalan kronis penyakit kusta yang
dianggap sebagai suatu kelaziman atau bagian dari komplikasi penyakit kusta. Ada dua tipe
reaksi dari kusta yaitu reaksi kusta tipe I dan reaksi kusta tipe II. Reaksi kusta tipe I sering
disebut reaksi lepra non nodular merupakan reaksi hipersensitifitas tipe IV (Delayed Type
Hipersensitivity Reaction ). Reaksi tipe I sering kita jumpai pada BT dan BL. M. Leprae akan
berinteraksi dengan limfosit T dan akan mengakibatkan perubahan sistem imunitas selluler yang
cepat. Hasil dari reaksi ini ada dua yaitu upgrading reaction / reversal reaction , dimana terjadi
pergeseran ke arah tuberkuloid (peningkatan sistem imunitas selluler) dan biasanya terjadi pada
respon terhadap terapi, dan downgrading, dimana terjadi pergeseran ke arah lepromatous
(penurunan sistem imunitas selluler) dan biasanya terjadi pada awal terapi1.
Bila reaksi tidak ditangani dengan cepat dan tepat maka dapat timbul kecacatan berupa
kelumpuhan yang permanen seperti claw hand , drop foot , claw toes , dan kontraktur. Untuk
mengatasi hal-hal tersebut diatas dilakukan pengobatan. Prinsip pengobatan reaksi Kusta yaitu

immobilisasi / istirahat, pemberian analgesik dan sedatif, pemberian obat-obat anti reaksi, MDT
diteruskan dengan dosis yang tidak diubah1

DAFTAR PUSTAKA

1. Wahyuni, Sri. Kusta. Available at http://www.scribd.com/doc/25883212/Kusta-LepraPenyakit-Morbus-Hansen-Penyakit-Hansen. Diakses tanggal 3 november 2010.


2. Djuanda, Adhi dkk. Kusta. Adhi Djuanda, Mochtar Hamzah, dan Siti Aisah. Ilmu
Penyakit Kulit dan Kelamin edisi kelima. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
2007.