Anda di halaman 1dari 22

1.1.PENDAHULUAN

BAB I PENDAHULUAN

Dermatitis kontak iritan (DKI) merupakan reaksi peradangan nonimunologik pada kulit yang disebabkan oleh kontak dengan faktor eksogen maupun endogen. Faktor eksogen berupa bahan-bahan iritan (kimiawi, fisik,maupun biologik) dan faktor endogen memegang peranan penting pada penyakit ini.

Pada tahun 1898, dermatitis kontak pertama kali dipahami memiliki lebih dari satu mekanisme, dan saat ini secara general dibagi menjadi dermatitis kontak iritan dan dermatitis kontak alergi. Dermatitis kontak iritan berbeda dengan dermatitis kontak alergi, dimana dermatitis kontak iritan merupakan suatu respon biologis pada kulit berdasarkan variasi dari stimulasi eksternal atau bahan pajanan yang menginduksi terjadinya inflamasi pada kulit tanpa memproduksi antibodi spesifik.

Dermatitis kontak iritan lebih banyak tidak terdeteksi secara klinis disebabkan karena penyebabnya yang bermacam-macam dan interval waktu antara kontak dengan bahan iritan serta munculnya ruam tidak dapat diperkirakannya. Dermatitis muncul segera setelah pajanan dan tingkat keparahannya ditentukan berdasarkan kuantitas, konsentrasi, dan lamanya terpajan oleh bahan iritan tersebut.

Penanganan dermatitis kontak tidak selamanya mudah karena banyak dan seringnya faktor-faktor tumpang tindih yang memicu setiap kasus dermatitis.

Pencegahan bahan-bahan iritasi kulit adalah strategi terapi yang utama pada dermatitis kontak iritan.

  • 2.1. Defenisi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Dermatitis adalah peradangan kulit, epidermis dan dermis, sebagai respon terhadap pengaruh faktor eksogen dan faktor endogen, menyebabkan kelainan klinis berupa efloresensi polimorfik(eritema, edema, papul, vesikel, skuama, dan likenifikasi) dan keluhan gatal. Tanda polimorfik tidak selalu terjadi bersamaan, bahkan mungkin hanya satu jenis, misalnya hanya berupa papula (oligomorfik). Dermatitis cenderung residif dan menjadi kronis.

Dermatitis kontak adalah dermatitis yang disebabkan oleh bahan atau substansi yang menempel pada kulit. Dermatitis kontak iritan merupakan reaksi peradangan kulit non-imunologik, yaitu kerusakan kulit terjadi secara langsung tanpa didahului proses pengenalan atau sensitisasi.

  • 2.2. Epidemiologi

Dermatitis kontak iritan dapat diderita oleh semua orang dari berbagai golongan umur, ras, dan jenis kelamin. Data epidemiologi penderita dermatitis kontak iritan sulit didapat. Jumlah penderita dermatitis kontak iritan diperkirakan cukup banyak, namun sulit untuk diketahui jumlahnya. Hal ini disebabkan antara lain oleh banyak penderita yang tidak datang berobat dengan kelainan ringan.

Dari

data

yang

didapatkan

dari

U.S.

Bureau

of

Labour

Statistic

menunjukkan bahwa 249.000 kasus penyakit akupasional nonfatal pada tahun 2004 untuk kedua jenis kelamin, 15,6% (38.900 kasus) adalah penyakit kulit yang merupakan penyebab kedua terbesar untuk semua penyakit

okupational.Juga berdasarkan survey tahunan dari institusi yang sama, bahwa incident rate untuk penyakit okupasional pada populasi pekerja di Amerika, menunjukkan

90-95%dari penyakit okupasional adalah dermatitis kontak, dan 80% dari penyakit didalamnya adalah dermatitis kontak iritan.

Sebuah kusioner penelitian diantara 20.000 orang yang dipilih secara acak di Sweden melaporkan bahwa 25% memiliki perkembangan gejala selama tahun sebelumnya. Orang yang bekerja pada industri berat, mereka yang bekerja bersentuhan dengan bahan kimia keras yang memiliki potensial merusak kulit danmereka yang diterima untuk mengerjakan pekerjaan basah secara rutin memiliki faktor resiko. Mereka termasuk : muda, kuat, laki-laki yang dipekerjakan sebagai pekerja metal, pekerja karet, terapist kecantikan, dan tukang roti. 8

2.3. Etiologi

Dermatitis

kontak

iritan

adalah

penyakit

multifaktor

dimana

faktor

eksogen (iritan dan lingkungan) dan faktor endogen sangat berperan.

 

Faktor Eksogen

 

Selain

dengan

asam

dan

basa

kuat,

tidak

mungkin

untuk

memprediksi potensial iritan sebuah bahan kimia berdasarkan struktur molekulnya . Potensial iritan bentuk senyawa mungkin lebih sulit untuk diprediksi. Faktor- faktor yang dimaksudkan termasuk :

  • 1. Sifat kimia bahan iritan: pH, kondisi fisik, konsentrasi, ukuran molekul, jumlah, polarisasi, ionisasi, bahan dasar, kelarutan (jenis bahan iritan : minyak pelumas, asam, alkali, dan serbuk kayu)

2.

Sifat

dari

pajanan:

lamanya

pajanan

dan

jenis

kontak, pajanan serentak dengan bahan iritan lain dan jaraknya setelah paj

anan sebelumnya.

  • 3. Faktor lingkungan: lokalisasi tubuh yang terpajan dan suhu, dan faktor mekanik seperti tekanan, gesekan atau goresan. Kelembapan lingkungan yang rendah dan suhu dingin menurunkan kadar air pada stratum korneum yang menyebabkan kulit lebih rentan pada bahn iritan.

Faktor Endogen

  • 1. Faktor genetik Ada hipotesa yang mengungkapkan bahwa kemampuan individu untuk mengeluarkan radikal bebas, untuk mengubah level enzym antioksidan,dan kemampuan untuk membentuk perlindungan heat shock protein semuanya dibawah kontrol genetik. Faktor tersebut juga menentukan keberagaman respon tubuh terhadap bahan-bahan ititan. Selain itu, predisposisi genetik terhadap kerentanan bahan iritan berbeda untuk setiap bahan iritan. Pada penelitian, diduga bahwa faktor genetik mungkin mempengaruhi kerentanan terhadap bahan iritan. TNF-α polimorfis telah dinyatakan sebagai marker untuk kerentanan terhadap kontak iritan.

  • 2. Jenis Kelamin Gambaran klinik dermatitis kontak iritan paling banyak pada tangan, dan wanita dilaporkan paling banyak dari semua pasien. Dari hubungan antara jenis kelamin dengan dengan kerentanan kulit, wanita lebih banyak terpajan oleh bahan iritan, kerja basah dan lebih suka perawatan daripada laki-laki. Tidak ada pembedaan jenis kelamin untuk dermatitis kontak iritan yang ditetapkan berdasarkan penelitian.

  • 3. Umur Anak-anak dibawah 8 tahun lebih muda menyerap reaksi-reaksi bahan- bahan kimia dan bahan iritan lewat kulit. Banyak studi yang menunjukkan bahwa tidak ada kecurigaan pada peningkatan pertahanan ku lit denganmeningkatnya umur. Reaksi terhadap beberapa bahan iritan berkurang pada usia lanjut.Terdapat penurunan respon inflamasi dan TEWL, dimana menunjukkan penurunan potensial penetrasi perkutaneus

.

4.

Suku

Tidak ada penelitian yang mengatakan bahwa jenis kulit mempengaruhi berkembangnya dermatitis kontak iritan secara signifikan. Karena eritema sulit diamati pada kulit gelap, penelitian terbaru menggunakan eritema sebagai satu-satunya parameter untuk mengukur iritasi yang mungkin sudah sampai pada kesalahan interpretasi bahwa kulit hitam lebih resisten terhadap bahan iritan daripada kulit putih.

  • 5. Lokasi kulit Ada perbedaan sisi kulit yang signifikan dalam hal fungsi pertahanan,sehingga kulit wajah, leher, skrotum, dan bagian dorsal tangan lebih rentan terhadap dermatitis kontak iritan. Telapak tangan dan kaki jika dibandingkan lebih resisten.

2.4. Patogenesis

Kelaianan kulit akibat bahan iritan terjadi karena kerusakan sel secara kimiawi atau fisis. Bahan iritan merusak lapisan tanduk, denaturasi keratin, menyingkirkan lemak lapisan tanduk, , dan mengubah daya ikat kulit terhadap air

Kebanyakan bahan iritan merusak membran lemakkeratinosit, namun sebagian dapat menembus membran sel dan merusak lisosom, mitokondria, atau komponen inti. Kerusakan membran mengaktifkan dan melepskan asam arakidonat (AA), diasilgliserida (DAG), platelet activating factor (PAF), dan inotisida (IP3). AA diubah menjadi prostaglandin (PG) dan leukotrien (LT). PG dan LT menginduksi vasodilatsi, dan meningkatkan permeabelitas vaskular sehingga mempermudah transudasi pengeluaran komplemen dan kinin. PG dan LT bertindak sebagai kemoatraktan kuat untuk limfosit dan netrofil, serta mengaktivasi sel mas untuk melepas histamin, LT, PG lain dan PAF , sehingga terjadi perubahan vaskular

DAG dan second messengers lain menstimulasi ekspresigen dan sintesis protein, misalnya interleukin-i (IL-1) dan granulosite makrophage colony stimulating factor (GMCSF). IL-1 mengaktifkan sel T-penolong mengeluarkan IL-

2 dan mengekspresi reseptor IL-2, yang mengakibatkan stimulasi autokrin dan proliferasi sel tersebut.

Pada kontak dengan iritan, keratinosit juga melepaskan TNF-α, suatu sitokin proinflamasi yang dapat mengaktifkan sel-T , makrofag dan granulosit., menginduksi ekspresi molekuladesi sel dan pelepasan sitokin.

Rentetan kejadian tersebut mengakibatkan gejala peradangan klasik di tempat terjadinya kontak dengan kelainan, berupa eritema, edema, panas, nyeri, bila iritan kuat. Bahan iritan lemah akan mengakibatkan kelainan kulit setelah kontak berulang kali, yang dimulai dengan kerusakan stratum korneum karena delipidasi menyebabkan desikasi sehingga kuloit kehilangan fungsi sawarnya. Hal tersebut akan mempermudah kerusakan dilapisan kulit yang lebih dalam.

2.5. Manifestasi klinis

Dermatitis

kontak

iritan

dibagi

tergantung

sifat

iritan.

Iritan

kuat

memberikan gejala akut, sedang iritan lemah memberi gejala kronis. Selain

itu juga banyak hal yang mempengaruhi sebagaimana yang disebutkan sebelumnya. Berdasarkan penyebab tersebut dan pengaruh faktor tersebut, dermatitis kontak iritan dibagi menjadi sepuluh macam, yaitu:

  • 1. Dermatitis Kontak Iritan Akut Penyebab DKI akut adalah iritan kuat, misalnya larutan asam sulfat dan asam hidroklorid, atau basa kuat, misalnya natrium dan kalium hidroksida. Biasanya terjadi karena kecelakaan ditempat kerja, dan reaksi segera timbul. Intensitas reaksi sebanding dengan konsentrasi dan lama kontak, serta reaksi terbatas hanya pada tempat kontak. Kulit terasa pedih, panas, rasa terbakar, kelainan terlihat berupa eritema edema, bula, mungkin juga nekrosis. Tepi kelainan berbatas tegas, dan umumnya asimetris,. Luka bakar oleh bahan kimia juga termasuk dermatitis kontak iritan akut.

Gambar 2 : DKI akut akibat penggunaan pelarut industri. 2. Dermatitis Kontak Iritan Akut Lambat Gambaran

Gambar 2 : DKI akut akibat penggunaan pelarut industri.

  • 2. Dermatitis Kontak Iritan Akut Lambat Gambaran klinis dan gejala sama dengan DKI akut, tetapi terjadi 8 sampai 24 jam setelah berkontak. Bahan iritan yang dapat menyebabkan DKI akut lambat misalnya podofilin, antralin, tretionin, etilen oksida, benzalkonium klorida, asam hidroflourat. Sebagai contoh ialahdermatitis yang disebabkan oleh bulu serangga ( dermatitis venenata); keluhan dirasakan pedih keesokan harinya, sebagai gejala awal terlihat eritema, kemudian terjadi vesikel atau bahkan nekrosis.

  • 3. Dermatitis Kontak Iritan Kronis Kumulatif. Juga disebut dermatitis kontak iritan kumulatif. Disebabkan olehiritan lemah (seperti air, sabun, detergen, dll) dengan pajanan yang berulang-ulang, biasanya lebih sering terkena pada tangan. Kelainan kulit baru muncul setelah beberapa hari, minggu, bulan, bahkan tahun. Sehingga waktu dan rentetan pajanan merupakan factor yang paling

penting. Dermatitis kontak iritan kronis ini merupakan dermatitis kontak iritan yang paling sering ditemukan.Gejala berupa kulit kering, eritema,skuama, dan lambat laun akan menjadi hiperkertosis dan dapat

terbentuk fisura jika kontak terus berlangsung. Distirbusi penyakit ini biasanya pada tangan. Pada dermatitis kontak iritan kumulatif, biasanya dimulai dari sela jari tangan dan kemudian menyebar ke bagian dorsal dan telapak tangan. Pada ibu rumah tangga, biasanya dimulai dari ujung jari

(pulpitis).

DKI

kumulatif

sering berhubungan dengan pekerjaan, oleh karena itu lebih banyak ditemu kan pada tangan dibandingkan dengan bagian lain dari tubuh (contohnya:

tukang cuci, kuli bangunan, montir bengkel, juru masak, tukang kebun, penata rambut).

penting. Dermatitis kontak iritan kronis ini merupakan dermatitis kontak iritan yang paling sering ditemukan.Gejala berupa kulit

Gambar 3 : DKI kronis akibat efek korosif dari semen

  • 4. Reaksi Iritan Secara klinis menunjukkan reaksi akut monomorfik yang dapat berupa skuama, eritema, vesikel, pustul, serta erosi, dan biasanya terlokalisasi di dorsum dari tangan dan jari. Biasanya hal ini terjadi pada orang yang terpajan dengan pekerjaan basah. Reaksi iritasi dapat sembuh,menimbulkan penebalan kulit atau dapat menjadi DKI kumulatif.

Gambar 4 : Reaksi Iritan. 5. Reaksi Traumatik (DKI Traumatik) Kelainan kulit berkembang lambat setelah trauma

Gambar 4 : Reaksi Iritan.

  • 5. Reaksi Traumatik (DKI Traumatik) Kelainan kulit berkembang lambat setelah trauma panas atau laserasi. Gejala seperti dermatitis numularis, penyembuhan lambat, paling cepat 6 minggu. Paling sering terjadi di tanggan.

  • 6. Dermatitis Kontak Iritan Noneritematous DKI noneritema merupakan bentuk subklinis DKI, ditandai perubahan fungsi sawar stratum korneum tanpa disertai kelainan klinis.

  • 7. Dermatitis Kontak Iritan Subyektif (Sensory ICD) Kelainan kulit tidak terlihat, namun penderita mengeluh gatal, rasa tersengat, rasa terbakar, beberapa menit setelah terpajan dengan iritan.Biasanya terjadi di daerah wajah, kepala dan leher. Asam laktat biasanya menjadi iritan yang paling sering menyebabkan penyakit ini.

2.6. Diagnosis

Diagnosis dermatitis kontak iritan didasarkan atas anamnesis yang cermat dan pengamatan gambaran klinis yang akurat. DKI akut lebih mudah diketahui

karena munculnya lebih cepat sehingga penderita lebih mudah mengingat penyebab terjadinya. DKI kronis timbul lambat serta mempunyai gambaran klinis yang luas, sehingga kadang sulit dibedakan dengan DKA. Selain anamnesis, juga perlu dilakukan beberapa pemeriksaan untuk lebih memastikan diagnosis DKI.

  • 1. Anamnesis Anamnesis yang detail sangat dibutuhkan karena diagnosis dari DKI tergantung pada anamnesis mengenai pajanan yang mengenai pasien.Anamnesis yang dapat mendukung penegakan diagnosis DKI (gejala subyektif) adalah:

    • a. Pasien mengklain adanya pajanan yang menyebabkan iritasi kutaneus

    • b. Onset dari gejala terjadi dalam beberapa menit sampai jam untuk DKI akut. DKI lambat dikarakteristikkan oleh causa pajanannya, seperti benzalkonium klorida (biasanya terdapat pada cairan disinfektan), dimana reaksi inflamasinya terjadi 8-24 jam setelah pajanan.

    • c. Onset dari gejala dan tanda dapat tertunda hingga berminggu-minggu ada DKI kumulatif (DKI Kronis). DKI kumulatif terjadi akibat pajanan berulang dari suatu bahan iritan yang merusak kulit.

    • d. Penderita merasakan sakit, rasa terbakar, rasa tersengat, dan rasa tidak nyaman akibat pruritus yang terjadi.

  • 2. Pemeriksaan Fisis Menurut Rietschel dan Flowler, kriteria dignosis primer untuk DKI sebagai berikut: a.

Makula

eritema,

terbentuk vesikel

hiperkeratosis,

atau

fisura

predominan

setelah

  • b. Tampakan kulit berlapis, kering, atau melepuh

  • c. Bentuk sirkumskrip tajam pada kulit

  • d. Rasa tebal di kulit yang terkena pajanan

  • 3. Pemeriksaan Penunjang.

Tidak ada pemeriksaan spesifik untuk mediagnosis dermatitis

kontak iritan. Ruam kulit biasanya sembuh setelah bahan iritan

dihilangkan.

Terdapat

beberapa tes yang dapat memberikan indikasi dari substansi yang berpoten si menyebabkan DKI. Tidak ada spesifik tes yang dapat memperlihatkan efek yang didapatkan dari setiap pasien jika terkena dengan bahan iritan. Dermatitis kontak iritan dalam beberapa kasus, biasanya merupakan hasil dari efek berbagai iritans.

  • 1. Patch Test

Patch test digunakan untuk menentukan substansi yang menyebabkan kontak dermatitis dan digunakan untuk mendiagnosis DKA. Konsentrasi yang digunakan harus tepat. Jika terlalu sedikit, dapat memberikan hasil negatif palsu oleh karena tidak adanya reaksi. Dan jika terlalu tinggi dapat terinterpretasi sebagai alergi (positif palsu). Patch test dilepas setelah 48 jam, hasilnya dilihat dan reaksi positif dicatat. Untuk pemeriksaan lebih lanjut, dan kembali dilakukan pemeriksaan pada 48 jam berikutnya. Jika hasilnya didapatkan ruam kulit yang membaik, maka dapat didiagnosis sebagai DKI. Pemeriksaan patch tes digunakan untuk pasien kronis,dengan dermatitis kontak yang rekuren.

  • 2. Kultur Bakteri

Kultur

bakteri

dapat

dilakukan

pada

kasus-kasus

komplikasi

infeksi sekunder bakteri

  • 3. Pemeriksaan KOH

Dapat dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui adanya mikology pada infeksi jamur superficial infeksi candida, pemeriksaan ini tergantung tempat dan morfologi dari lesi.

4.

Pemeriksaan IgE

Peningkatan imunoglobulin E dapat menyokong adanya diathetis atopic atau riwayat atopi.

2.7. Diagnosis Banding

  • 1. Dermatitis Kontak Alergi Berbeda dengan DKI, pada DKA, terdapat sensitasi dari pajanan iritan.Gambaran lesi secara klinis muncul pada pajanan selanjutnya setelah interpretasi ulang dari antigen oleh sel T (memori), dan keluhan utama pada penderita DKA adalah gatal pada daerah yang terkena pajanan. Pada patch tes, didapatkan hasil positif untuk alergen yang telah diujikan,dan sensitifitasnya berkisar antara 70–80%.

  • 2. Dermatitis Atopi Merupakan keadaan radang kulit kronis dan residif, disertai dengan gatal yang umumnya sering terjadi selama masa bayi dan anak-anak. Sering berhubungan dengan peningkatan kadar IgE dalam serum dan riwa yat atopi pada keluarga penderita. Oleh karena itu, pemeriksaan IgE pada penderita dengan suspek DKI dapat dilakukan untuk mengurangi kemungkinan diagnosis dermatitis atopi.

  • 3. Tinea Pedis Merupakan penyakit pada jaringan yang mengandung zat tanduk, misalnya stratum korneun pada epidermis, rambut, dan kuku yang disebabkan oleh jamur dermatofitosis. Penderita bisa merasa gatal dan kelainan berbat as tegas, terdiri atas macam-macam effloresensi kulit. Bagian tepi lesi lebih aktif (lebih jelas tanda-tanda peradangan) daripada bagian tengah. Pada tinea pedis, khususnya bentuk mocassin foot, pada seluruh kaki

terlihat kulit menebal, dan bersisik serta eritema yang ringan terutama di tempat yang terdapat lesi.

2.8. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan dari dermatitis kontak iritan dapat dilakukan dengan melakukan dengan memproteksi atau menghindakan kulit dari bahan iritan. Selain itu, prinsip pengobatan penyakit ini adalah dengan menghindari bahan iritan,melakukan proteksi (seperti penggunaan sarung tangan), dan melakukan substitusi dalam hal ini, mengganti bahan-bahan iritan dengan bahan lain .

Selain

itu,

beberapa

strategi

pengobatan

yang

dapat dilakukan

pada penderita dermatitis kontak iritan adalah sebagai berikut:

  • 1. kortikosteroid topikal Efek topical dari kortikosteroid pada penderita DKI akut masih kontrofersional karena efek yang ditimbulkan, namun pada penggunaan yang lama dari kortikosteroid dapat menimbulkan kerusakan kulit pada stratum korneum. Pada pengobatan untuk DKI dapat diberikan kortikosteroid topikal yaitu Hidrokortison.

  • 2. Antibiotik dan antihistamin Ketika pertahanan kulit rusak, hal tersebut berpotensial untuk terjadinya infeksi sekunder oleh bakteri. Perubahan pH kulit dan mekanisme antimikroba yang telah dimiliki kulit, mungkin memiliki peranan yang penting dalam evolusi, persisten, dan resolusi dari dermatitis akibat iritan, tapi hal ini masih dipelajari. Secara klinis, infeksi diobati dengan menggunakan antibiotik oral untuk mencegah perkembangan selulit dan untuk mempercepat penyembuhan. Secara bersamaan, glukokortikoid topical, emolien, dan antiseptik juga digunakan. Sedangkan antihistamin mungkin dapat mengurangi pruritus yang disebabkan oleh dermatitis akibat iritan. Terdapat percobaan klinis secara acak mengenai efisiensi antihistamin untuk dermatitis kontak iritan, dan secara klinis

 

antihistamin

biasanya

diresepkan

untuk

mengobati

beberapa

gejala

simptomatis.

3.

Emolien

Pelembab yang digunakan 3-4 kali sehari adalah tatalaksana yang sangat berguna. Menggunakan emolien ketika kulit masih lembab dapat meningkatkan efek emolien. Emolien dengan perbandingan lipofilik :hidrofilik yang tinggi diduga paling efektif karena dapat menghidrasi kulit lebih baik.

2.9. Prognosis

Prognosisnya kurang baik jika bahan iritan penyebab dermatitis tersebut tidak dapat disingkirkan dengan sempurna. Keadaan ini sering terjadi pada DKI kronis yang penyebabnya multifaktor, juga pada penderita atopi.

BAB III ILUSTRASI KASUS

3.1.Identitas pasien

Nama

: Ny. L

Umur

: 35 Tahun

Jenis kelamin : Perempuan

Pekerjaan

: Wiraswasta

Alamat

: Bukittinggi

Status

: Belum menikah

Negeri Asal

: Bukittinggi, sumbar

3.2.Anamnesis

Pasien wanita berusia 25 tahun, belum berkeluarga, negeri asal bukittinggi, berobat ke poliklinik RSAM pada tanggal 20 januari 2016

Keluhan utama :

Kemerahan pada perut dengan rasa perih dikulit sejak 2 hari yang lalu.

Riwayat penyakit sekarang :

Kemerahan pada perut dengan rasa perih dikulit sejak 2 hari yang lalu

Awalnya pasien mengoleskan minyak kayu putih keperut (sekita pusar( dua kali sehari pagi dan siang.

Timbul bercak diikuti rasa pedih dan sedikit gatal

Keesokan harinya timbul bercak kulit ari

Riwayat penyakit dahulu :

Tidak pernah menderita sakit yang sama sebelumnya

Tidak ada riwayat alergi obat oles atau kosmetik

Riwayat penyakit keluarga

Tidak ada keluarga yang menderita penyakit yang sama

Riwayat pengobatan :

Belum pernah diobati

3.3.Pemeriksaan fisik :

Status generalisata Keadaan umum

: tampak sakit ringan

Kesadaran

: kompos menstis kooperativ

Status gizi

: baik

Pemeriksaan thorax

: diharapkan dalam batas normal

Pemeriksaan abdomen: diharapkan dalam batas normal Status dermatologicus

Lokasi

: perut

Distribusi

: regional

Bentuk

:tidak teratur

Susunan

: polisiklik

Batas

: tidak tegas

Ukuran

: plakat

Effloresensi

: makula eritema, makula hiperpigmentasi,

dengan skuama diatasnya.

Status veneroligicus Kelainan selaput Kelainan kuku Kelainan rambut Kelainan kelenjar limfe

: tidak ditemukan kelainan : tidak ditemukan kelainan : tidak ditemukan kelainan :tidak ditemukan kelainan : tidak teraba pembesaran KGB.

 Effloresensi : makula eritema, makula hiperpigmentasi, dengan skuama diatasnya. Status veneroligicus Kelainan selaput Kelainan kuku
3.4.Pemeriksaan anjuran  Patch test 18
3.4.Pemeriksaan anjuran  Patch test 18

3.4.Pemeriksaan anjuran

Patch test

3.5.Diagnosis

Dermatitis kontak iritan et causa minyak kayu putih

3.6.Penatalaksanaan

  • a. Terapi umum Menghindari bahan iritan

 

Pemberian pelembab untuk memperbaiki sawar kulit

  • b. Terapi khusus

 
 

Topical : hidrokortison krim 1 % 2 x sehari pada pagi dan malam hari

3.7.Prognosis

 

Quo ad vitam

: bonam

Quo ad functionam

: bonam

Quo ad sanationam

: bonam

Quo ad cosmeticum

: bonam

RSUD ACHMAD MOCHTAR Ruangan Poliklinik kulit dan kelamin Dokter : dr. M Sip No.123/sip/2016

R/ hidrocortison cream 1% tube No.1 S2dd applic loc dol

Pro

: Ny.L

Umur

: 25 tahun

Alamat

: Bukittinggi

Bukittinggi, 20 Januari 2016

DISKUSI

Pasien wanita berusia 25 tahun, belum berkeluarga, negeri asal bukittinggi, berobat ke poliklinik RSAM pada tanggal 20 januari 2016. Dengan keluhan kemerahan pada perut dengan rasa perih dikulit sejak 2 hari yang lalu. Awalnya pasien mengoleskan minyak kayu putih keperut sekita pusar dua kali sehari pagi dan siang Kemudian timbul bercak diikuti rasa pedih dan sedikit gatal. Keesokan harinya timbul bercak kulit ari. Pasien tidak pernah menderita sakit yang sama sebelumnya dan pasien tidak ada riwayat alergi obat oles atau kosmetik. Pasien mengaku belum pernah mengobati penyakitnya. Dari hasil anamnesa dan pemeriksaan fisik dapat ditegakkan diagnosa Dermatitis kontak iritan et causa minyak kayu putih dengan tipe dermatitis kontak iritan akut lambat. Pada pasien ini diberikan nasihat agar menghidari bahan iritan yaitu minyak kayu putih dan disarankan untuk mengoleskan pelembab dan juga pasien dapat diberikan kortikosteroid topikal. Katakan pada pasien bahwa penyakit yang dideritanya bukanlah penyakit yang berbahaya.

DAFTAR PUSTAKA

  • 1. Menaldi, Sri. (ed) 2015. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. Jakarta : FK-UI