Anda di halaman 1dari 30

Asuhan Keperawatan pada Pasien

BUNUH DIRI
Muhammad
Muslih

Overview
Jepang adalah salah satu negara dengan tingkat bunuh diri

tertinggi di dunia. Pada 2009, lebih dari 30.000 orang bunuh


diri.
Alasan untuk bunuh diri di Jepang antara lain karena
pengangguran, tekanan sosial dan depresi. 70% dari pelaku
bunuh diri adalah pria. Lompat di depan kereta menjadi cara
populer untuk bunuh diri di Jepang.
Biaya kerusakan dan kecelakaan kereta ditanggung keluarga
korban. Hotline bunuh diri di jepang mulai menerima lebih dari
1.300 laporan per minggu.

Overview
81% penduduk korea stress setiap harinya, negara

dengan tingkatan orang stress yang paling tinggi di dunia


adalah korea.
Warga Korea Selatan dinobatkan sebagai warga paling
stress didunia karena kerasnya kehidupan di sana
sehingga banyak yg mati bunuh diri
Sekitar 36 orang korea bunuh diri setiap harinya dan
penyebabnya kebanyakan depresi
Salah satu penyebab bunuh diri di korea adl faktor
ekonomi juga & faktor jam belajar yg terlalu panjang (15
jam)
Bunuh diri merupakan penyebab kematian pertama bagi
pria korea antara usia 18 35 tahun
Ada situs bunuh diri di korea, dimana pengunjungnya
chatting dan bertemu untuk bunuh diri bersama.

Definisi
Tindakan agresif yang merusak
diri sendiri dan dapat
mengakhiri kehidupan (Keliat,
1991).
Tindakan bunuh diri merupakan
cara ekspresi orang yang penuh
stress (Agustiansyah,2008)
Segala perbuatan seseorang
dengan sengaja yang tahu akan
akibatnya yang dapat
mengakhiri hidupnya sendiri
dalam waktu singkat (Maramis,
1998)

Definisi
Setiap aktivitas yang jika tidak
dicegah dapat mengarah pada
kematian (Stuart, 2007 dikutip
Dez, 2009).
Berisiko menyakiti diri sendiri
dan cedera yang mengancam
(NANDA-I,2012)

Faktor Predisposisi
1. Faktor Mood dan Biokimiawi otak
pe serotonin, pe dopamin, pe adrenalin
2. Psikososial
separated, divorce, pengalaman kehilangan,
kehilangan dukungan sosial, kejadian negatif
dalam hidup, penyakit kronis
3. Teori Psikologi
Sigmund Freud dan Karl Menninger bunuh diri
merupakan hasil dari marah yang diarahkan pada
diri sendiri.

Faktor Predisposisi
4. Riwayat psikiatrik dan gangguan mental
5. Riwayat keluarga (observasi, stimulasi, adopsi)
6. Tipe kepribadian
tertutup, impulsif, antipati dan depresi
7. Isolasi sosial dan human relationship
kegagalan beradaptasi
8. Faktor religius

Faktor Presipitasi
1. Stres berlebihan kegagalan adaptasi
distress
2. Perasaan terisolasi, dapat terjadi karena
kehilangan hubungan interpersonal atau
gagal melakukan hubungan yang berarti.
3. Perasaan marah atau bermusuhan. Bunuh diri
dapat merupakan hukuman pada diri sendiri.
4. Cara untuk mengakhiri keputusasaan.
5. Tangisan minta tolong
6. Melihat atau membaca melalui media
7. Emosi labil

(NANDA-I, 2012)

1.Faktor Demografi

Gender ( wanita, lebih banyak


berusaha : pria, keberhasilanya
tinggi)
Usia ( < 19 Tahun, > 45 tahun, > 65
tahun).
Perceraian
Janda/duda
Ras

(NANDA-I, 2012)

2. Perilaku

Membeli senjata
Mengubah surat warisan
Memberikan harta/kepemilikan
Riwayat upaya bunuh diri
sebelumnya
Impulsif
Perubahan sikap/perilaku yang nyata
Perubahan performa kerja
Membeli obat dalam jumlah banyak
Pemulihan euforia yang tina-tiba dari
depresi

(NANDA-I, 2012)

3. Psikologis

Penganiayaan masa kanak-kanak


Riwayat bunuh diri dalam keluarga
Rasa bersalah
Remaja homoseksual
Gangguan/penyakit psikiatrik
Penyalahgunaan zat

(NANDA-I, 2012)

4. Situasional
Remaja yang tinggal di tatanan
nontradisional
Ketidakstabilan ekonomi
Institusionalisai
Tinggal sendiri
Kehilangan otonomi
Kehilangan kebebasan
Adanya senjata di dalam rumah
Relokasi/pindah rumah
Pensiun

(NANDA-I, 2012)

5. Sosial

Bunuh diri masal/berkelompok


Gangguan kehidupan keluarga
Masalah disiplin
Berduka, tak berdaya, putus asa, kesepian
Masalah legal
Kehilangan hubungan yang penting
Sistem dukungan yang buruk
Isolasi sosial

(NANDA-I, 2012)

6. Verbal
Menyatakan keinginan untuk mati
Megancam bunuh diri

7. Fisik
Nyeri kronik
Penyakit fisik
Penyakit terminal

No.

SAD PERSONS

Keterangan

Sex (jenis kelamin)

Age ( umur)

Depression (depresi)

Previous
attempts 65-70% orang yang melakukan bunuh diri sudah pernah melakukan percobaan
(Percobaan sebelumnya)
sebelumnya
ETOH ( alkohol)
20%-90% bunuh diri yang berhasil dilakukan dikaitkan dengan penyalahgunaan obat
atau alcohol berat.

Laki-laki lebih komit melakukan bunuh diri 3 kali lebih tinggi dibanding wanita,
meskipun wanita lebih sering 3 kali dibanding laki-laki melakukan percobaan bunuh
diri
Kelompok resiko tinggi : umur 19 tahun atau lebih muda, 45 tahun atau lebih tua dan
khususnya umur 65 tahun lebih.
3579% oran yang melakukan bunuh diri mengalami sindrome depresi.

Rational
thinking
Loss Orang skizofrenia dan demensia lebih sering melakukan bunuh diri dibanding
(Kehilangan berpikir rasional) general populasi.

Sosial
support
lacking Orang yang melakukan bunuh diri biasanya kurang adanya dukungan dari teman
(Kurang dukungan social)
dan saudara, pekerjaan yang bermakna serta dukungan spiritual keagaamaan

Organized plan (perencanaan Adanya perencanaan yang spesifik terhadap bunuh diri merupakan resiko tinggi.
yang teroranisasi)

No spouse (Tidak memiliki Orang duda, janda, single adalah lebih rentan dibanding menikah
pasangan) atau tidak adanya
orang terdekat

10

Sickness (penyakit)

Penyakit terminal, penyakit kronik, dan penyakit yang melemahkan meningkatkan


resiko bunuh diri.

POIN
02
: Dapat tinggal di rumah dengan
dukungan
orang terdekat dan terapi rawat jalan
34
: Dukungan orang terdekat dengan
asuhan rawat
jalan yang lebih intens; dapat
mempertimbangkan
hospitalisasi
56
: Hospitalisasi sangat dipertimbangkan
7 : Hospitalisasi di rekomendasikan

Tanda dan Gejala


Mempunyai ide bunuh diri
Keinginan untuk mati (berbicara tentang kematian)
Mengungkapkan rasa bersalah dan keputusasaan
Impulsif
Perilaku yang mencurigakan (biasanya sangat patuh)
Cemas, panik, marah dan mengasingkan diri
Depresi, psikosis dan penyalahgunaan napza
Penyakit kronik/terminal
Pengangguran
Kegagalan perkawinan
Orientasi seksual
Korban PK sejak kecil

Rentang Respon
Adaptif

Maladaptif

Pertumbuhan
Perilaku
Peningkatan peningkatan
Pencederaan
destruktif diri
diri
berisiko
diri
tak langsung
destruktif

Bunuh diri

Proses
Terjadinya
Suicidal ideation
Masalah
Suicidal intent

Suicidal threat
Suicidal gesture
Suicidal attempt
Suicide

Suicidal ideation
Pada tahap ini tidak akan
mengungkapkan idenya
apabila tidak ditekan

Suicidal intent
Pada tahap ini klien mulai
berpikir dan sudah melakukan
perencanaan yang konkrit
untuk melakukan bunuh diri.

Suicidal threat
Pada tahap ini klien
mengekspresikan adanya
keinginan dan hasrat yang
dalam , bahkan ancaman
untuk mengakhiri hidupnya

Suicidal gesture (isyarat bunuh


diri) crying for help
Pada tahap ini klien menunjukkan perilaku
destruktif yang diarahkan pada diri sendiri
yang bertujuan tidak hanya mengancam
kehidupannya tetapi sudah pada
percobaan untuk melakukan bunuh diri

Suicidal attempt (upaya


bunuh diri)
Pada tahap ini perilaku destruktif klien
yang mempunyai indikasi individu ingin
mati dan tidak mau diselamatkan

Suicide
Tindakan yang bermaksud membunuh diri
sendiri

Jenis Bunuh Diri


oBunuh diri anomik (faktor lingkungan dan tekanan)
Bunuh diri karena kesulitan dalam berhubungan
dengan orang lain dan
beradaptasi dengan stressor.
oBunuh diri altruistik (terkait kehormatan seseorang)
Melakukan bunuh diri untuk kebaikan masyarakat
Misalnya : Harakiri di Jepang
oBunuh diri egoistik (faktor dalam diri seseorang)
Misalnya : putus cinta, tidak lulus kuliah
Umumnya meminta perhatian untuk eksistensi diri

Pengkajian
1. Lingkungan dan upaya bunuh
diri
2. Gejala
3. Penyakit psikiatrik
4. Riwayat psikososial
5. Faktor kepribadian
6. Riwayat keluarga

Diagnosa Keperawatan
(NANDA-I, 2012)
Domain 11 : Keamanan/Perlindungan
Kelas 3 : Perilaku Kekerasan
Resiko bunuh diri
Resiko mutilasi diri
Mutilasi diri
Resiko PK terhadap diri sendiri
Resiko PK terhadap orang lain

SP isyarat bunuh diri dengan Dx. HDR


Pasien
SP 1 : Melindungi pasien dari isyarat bunuh diri
SP 2 : Meningkatkan HDR pasien
SP 3 : Meningkatkan kemampuan dalam menyelesaikan
masalah pasien
Keluarga
SP 1 : Mengajarkan pada keluarga tentang cara melindungi
anggota keluarga berisiko bunuh diri
SP 2 : Melatih keluarga cara merawat pasien resiko bunuh
diri/isyarat bunuh diri
SP 3 : Membuat perencanaan pulang bersama keluarga

SP resiko bunuh diri


Pasien
SP 1 : Melindungi klien dari percobaan bunuh diri
Keluarga
SP 1 : Mendiskusikan dengan keluarga untuk melindungi pasien
yang mencoba bunuh diri

Nursing Intervention
Clasification (NIC)

Tentukan kemungkinan resiko bunuh diri


Dorong psien untuk berbicara tentang
perasaannya
Ambil tindakan untuk mencegah pasien
dari bahaya bunuh diri
Singkirkan semua benda yang
berbahaya dari lingkungan pasien
Gunakan restrain

Implementasi
Singkirkan semua benda yang berbahaya dari
lingkungan klien.
Lakukan pembatasan pada klien tentang percobaan
bunuh diri
Berikan obat-obatan sesuai dengan hasil kolaborasi,
pantau keefektifan, dan efek samping.
Gunakan restrain mekanis bila keadaan memaksa
sesuai prosedur tetap.
Observasi klien dalam restrain tiap 15 menit /sesuai
dengan prosedur tetap dengan mempertimbangkan
keamanan, sirkulasi darah, dan kebutuhan dasar.
Informasikan kepada keluarga dan saudara klien
bahwa klien membutuhkan dukungan sosial yang
adekuat.

Evaluasi
S
Waalaikums
alam
Nama saya
Z, baik, saya
ingin bunuh
diri
Apabila
saya ingin
bunuh diri
saya akan
memanggil
perawat

SP 1
Pasien mampu
menyebutkan nama pasien
tercapai
Pasien dapat
mempraktekan cara
mengendalikan
dorongan buuh diri
Kontak mata
tajam
Kooperatif
Tidak ada barang
yang berbahaya di
kamar

P
Perawat :
Lanjutkan
SP 2 hari
Senin, 10
Juni 2013
jam 08.00
di ruang
perawatan
Pasien :
Memotivas
i pasien
melatih
cara
mengendal

Terimakasih