Anda di halaman 1dari 10

BAB I PENDAHULUAN

  • 1.1 Latar Belakang Makhluk hidup yang ada di bumi tidak hanya terdiri dari makhluk hidup yang dapat dilihat oleh mata telanjang, tetapi ada juga mikroorganisme yang berukuran kecil dan hanya dapat dilihat dengan menggunakan teknik dan peralatan khusus. Mikroorganisme (jasad renik) merupakan jasad hidup yang mempunyai ukuran sangat kecil. Mikroorganisme mempengaruhi kehidupan manusia baik secara langsung maupun tidak langsung yang bisa berperan sebagai kawan maupun lawan bagi kehidupan manusia. Mikroorganisme juga merupakan makhluk hidup, untuk memeliharanya dibutuhkan medium yang harus mengandung semua zat yang diperlukan untuk pertumbuhannya, antara lain senyawa-senyawa organik (protein, karbohidrat, lemak, mineral dan vitamin). Mikroorganisme dapat berkembang biak secara alami atau dengan campur tangan manusia. Mikroorganisme yang dikembangkan oleh manusia di antaranya melalui pertumbuhan menggunakan media. Pada pembuatan media ini, haruslah dimengerti jenis-jenis nutrien yang diperlukan oleh bakteri dan juga keadaan lingkungan fisik yang dapat menyediakan kondisi optimum bagi pertumbuhannya. Pembiakan mikroba secara buatan memerlukan media pertumbuhan untuk menjadi tempat tumbuh dan penyedia nutrien bagi mikroba. Media pertumbuhan terdiri dari garam organik, sumber energi (karbon), vitamin dan zat pengatur tumbuh (ZPT). Pembuatan media ini dapat pula ditambahkan komponen lain seperti senyawa organik dan senyawa kompleks lainnya. Oleh karena itu, dilakukan percobaan ini untuk mengetahui cara pembuatan medium pertumbuhan mikroba.

  • 1.2 Tujuan

Adapun

tujuan

dari

percobaan

ini

yaitu

untuk

mengetahui

media

pertumbuhan

mikroorganisme dan mempelajari cara pembuatannya.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Mikroorganisme sebagai makhluk hidup sama dengan organisme hidup lainnya, sangat membutuhkan energi dan bahan-bahan untuk membangun pertumbuhannya, seperti dalam sintesa protoplasma dan bagian-bagisn sel yang lainnya. Bahan-bahan tersebut disebut nutrien. Untuk memanfaatkan bahan-bahan tersebut, maka sel memerlukan sejumlah kegiatan, sehingga menyebabkan perubahan kimia di dalam selnya. Semua reaksi yang terarah yang berlangsung di dalam sel ini disebut metabolisme. Metabolisme yang melibatkan berbagai macam reaksi di dalam sel tersebut, hanya dapat berlangsung atas bantuan dari suatu senyawa organik yang disebut katalisator organik atau biasa disebut biokatalisator yang dinamakan enzim. Untuk dapat memahami tentang nutrisi dan metabolisme ini, pengetahuan dasar biokimia angat dibutuhkan (Natsir dan Sartini, 2006). Medium adalah substansi yang terdiri atas campuran zat-zat makanan (nutrien) yang digunakan untukpemeliharaan dan pertumbuhan mikroorganisme. Mikroorganisme juga merupakan makhluk hidup, untuk memeliharanya dibutuhkan medium yang harus mengandung semua zat yang dibutuhkan untuk pertumbuhannya, yaitu senyawa-senyawa organik yang terdiri atas protein, karbohidrat, lemak, mineral dan vitamin. Medium digunakan untuk melihat gerakan dari suatu mikrooranisme apakah bersifat motil atau nonmotil, medium ini ditambahkan bahan pemadat 50% (Ratna, 1990). Peran utama nutrien adalah sebagai sumber energi, bahan pembangun sel dan sebagai akseptor elektron dalam reaksi bioenergetik (reaksi yang menghasilkan energi). Oleh karenanya bahan makanan yang diperlukan terdiri dari air, sumber energi, sumber karbon, sumber akseptor elektron, sumber mineral, faktor pertumbuhan dan nitrogen. Selai itu, secra umum nutrien dalam media pembenihan harus mengandung seluruh elemen yang penting untuk sintesis biologik organisme baru (Arfiandi, 2009). Mikroorganisme dapat menggunakan makanan dalam bentuk padat dan dapat pula hanya menggunakan bahan-bahan dalam bentuk cairan atau larutan. Mikroorganisme yang menggunakan makanannya dalam bentuk padat tergolong tipe holozoik. Mikroorganisme yang dapat menggunakan makanannya dalam bentuk cairan atau larutan disebut holofitik. Ada beberapa mikroorganisme yang dapat menggunakan makanannya dalam bentuk padatan, tetapi makanan tersebut sebelumnya harus dicerna di luar sel dengan bantuan enzim ekstraseluler (Iptek, 2009).

Medium yang digunakan untuk menumbuhkan dan mengembangbiakkan mikroorganisme harus sesuai susunannya dengan kebutuhan jenis-jenis mikroorganisme yang bersangkutan. Beberapa mikroorganisme dapat hidup baik pada medium yang sangat sederhana yang hanya mengandung garam anargonik di tambah sumber karbon organik seperti gula. Sedangkan mikroorganime lainnya memerlukan suatu medium yang sangat kompleks yaitu berupa medium ditambahkan darah atau bahan-bahan kompleks lainnya

(Volk, 1993). Memformulasikan suatu medium atau bahan yang akan digunakan untuk menumbuhkan mikroorganisme di dalamnya harus memperhatikan berbagai macam ketentuan seperti jika yang ingin kita membuat medium untuk organisme bersel tunggal, biasanya air sangat penting sebagai komponen utama protoplasmanya serta untuk masuknya nutrien ke dalam sel. Pembuatan medium agar padat, digunakan agar-agar, gelatin atau gel silika agar merupakan media tumbuh yang ideal yang diperkenalkan melalui metode bacteriaological (Hadioetomo, 1993). Medium dapat diklasifikasikan berdasar atas susunan kimia, konsistensi dan fungsinya. Klasifikasi medium berdasarkan susunan kimianya, yakni medium organik, yaitu medium yang tersusun dari bahan-bahan organik; medium anorganik, yaitu medium yang tersusun dari bahan-bahan anorganik; medium sintetik, yaitu medium yang susunan kimiawinya dapat diketahui dengan pasti; dan medium nonsintetik, yaitu medium yang susunan kimiawinya tidak dapat diketahui dengan pasti (Anonim, 2011). Menurut Anonim (2011), supaya mikroba dapat tumbuh dengan baik, dalam suat medium perlu dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

1)

Medium harus mengandung semua nutrisi yang mudah digunakan oleh mikroba;

2)

Medium harus mempunyai tekanan osmosis;

3)

Medium tidak mengandung zat-zat yang menghambat;

4)

Medium harus steril, tidak ada kontaminan dari mikroorganisme yang tidak diinginkan. Menurut Kusnadi (2003), bahan-bahan media pertumbuhan mikroba meliputi:

A. Bahan dasar

  • 1. Air (H 2 O) sebagai pelarut

  • 2. Agar (dari rumput laut) yang berfungsi untuk pemadat media. Agar sulit didegradasi oleh mikroorganisme pada umumnya dan mencair pada suhu 45 o C.

  • 3. Gelatin juga memiliki fungsi yang sama seperti agar. Gelatin adalah polimer asam amino yang diproduksi dari kolagen. Kekurangannnya adalah lebih banyak jenis mikroba yang mampu menguraikannya dibanding agar.

  • 4. Silika gel, yaitu bahan yang mengandung natrium silikat. Fungsinya juga sebagai pemadat media. Silika gel khusus digunakan untuk memadatkan media bagi mikroorganisme autotrof obligat.

B. Nutrisi atau zat makanan Media harus mengandung unsur-unsur yang diperlukan untuk metabolisme sel yaitu berupa unsur makro seperti Carbon (C), Hidrogen (H), Oksigen (O), Nitrogen (N), Phospor (P), dan unsur mikro seperti Fe, Mg dan unsur pelikan/trace element. Sumber karbon dan energi yang dapat diperoleh berupa senyawa organik atau anorganik sesuai dengan sifat mikrobanya. Jasad heterotrof memerlukan sumber karbon organik antara lain dari karbohidrat, lemak, protein, dan asam organik. Sumber nitrogen mencakup asam amino, protein atau senyawa bernitrogen lain. Sejumlah mikroba dapat menggunakan sumber N anorganik seperti urea.

C. Bahan tambahan Bahan-bahan tambahan yaitu bahan yang ditambahkan ke medium dengan tujuan tertentu, misalnya phenol red (indikator asam basa) ditambahkan untuk indikator perubahan pH akibat produksi asam organik hasil metabolisme. Antibiotik ditambahkan untuk menghambat pertumbuhan mikroba non-target/kontaminan. Bahan yang sering digunakan dalam pembuatan media, antara lain:

  • 1. Agar Agar dapat diperoleh dalam bentuk batangan, granula atau bubuk dan terbuat dari beberapa jenis rumput laut. Kegunaannya adalah sebagai pemadat (gelling) yang pertama kali digunakan oleh Fraw & Walther Hesse untuk membuat media. Jika dicampur dengan air dingin, agar tidak akan larut. Untuk melarutkannya harus diaduk dan dipanasi, pencairan dan pemadatan berkali-kali atau sterilisasi yang terlalu lama dapat menurunkan kekuatan agar, terutama pada pH yang asam.

  • 2. Peptone Peptone adalah produk hidrolisis protein hewani atau nabati seperti otot, liver, darah, susu, casein, lactalbumin, gelatin, dan kedelai. Komposisinya tergantung pada bahan asalnya dan bagaimana cara memperolehnya.

  • 3. Meat extract Meat extract mengandung basa organik terbuat dari otak, limpa, plasenta, dan daging sapi.

  • 4. Yeast extract Yeast extract terbuat dari ragi pengembang roti atau pembuat alkohol. Yeast extract mengandung asam amino yang lengkap & vitamin B kompleks.

  • 5. Karbohidrat Karbohidrat ditambahkan untuk memperkaya pembentukan asam amino dan gas dari karbohidrat. Jenis karbohidrat yang umumnya digunakan dalam amilum, glukosa, fruktosa, galaktosa, sukrosa, manitol, dan lain-lain. Konsentrasi yang ditambahkan untuk analisis fermentasi adalah 0,5-1%. Menurut Pelczar (1996), klasifikasi medium berdasarkan fungsinya digolongkan menjadi 7 golongan, yaitu:

  • 1. Medium umum, merupakan media yang ditambahkan bahan-bahan yang bertujuan menstimulasi pertumbuhan mikroba secara umum. Contoh: Nutrien Agar (NA) untuk menstimulasi pertumbuhan bakteri, Potato Dextose Agar (PDA) untuk menstimulasi pertumbuhan fungi.

  • 2. Medium khusus, merupakan medium untuk menentukan tipe pertumbuhan mikroba dan kemampuannya untuk mengadakan perubahan-perubahan kimia tertentu. Contoh: medium tetes tebu untuk Saccharomyces cerevisiae.

  • 3. Media diperkaya (enrichment media), merupakan media yang ditambahkan bahan-bahan tertentu untuk menstimulasi pertumbuhan mikroba yang diinginkan. Hal ini dilakukan untuk menstimulasi pertumbuhan mikroba yang jumlahnya sedikit dalam suatu campuran berbagai mikroba. Contoh: Chocolatemedia dan Yeast-Extract-poptasium Nitrat Agar.

  • 4. Media selektif, merupakan media yang ditambahkan bahan-bahan tertentu yang akan menghambat pertumbuhan mikroba yang tidak diinginkan yang ada dalam suatu spesimen. Inhibitor yang digunakan berupa antibiotik, garam dan bahan-bahan kimia lainnya.

Medium penguji (Assay medium), merupakan medium dengan susunan ertentu yang digunakan untuk pengujian senyawa-senyawa tertentu dengan bantuan bakteri. Contoh:

6.

medium untuk menguji vitamin-vitamin, antibiotik, dan lain-lain.

  • 7. Medium perhitungan jumlah mikroba yaitu medium spesifik yang digunakan untuk menghitung jumlah mikroba dalam suatu bahan. Contoh: medium untuk menghitung jumlah bakteri E. Coli air sumur.

BAB III

METODOLOGI

  • 3.1 Waktu dan Tempat Percobaan ini dilakukan pada hari Senin, tanggal 09 Desember 2013, pukul 13.30 WITA sampai selesai, bertempat di laboratorium biologi dasar FMIPA UNTAD.

  • 3.2 Alat dan Bahan

    • A. Alat Adapun alat yang digunakan pada percobaan ini antara lain autoklaf, batang pengaduk, gelas kimia, cutter, corong, erlenmeyer, gelas ukur, hot plate, kulkas, neraca ohaus, oven, spatula dan neraca analitik.

    • B. Bahan Adapun bahan yang digunakan pada percobaan ini antara lain aquades, Agar, aluminium foil, gula, kentang, tauge, daging, dan kapas.

  • 3.3 Prosedur Kerja

    • A. Potato Dextrose Agar (PDA)

      • 1. Menyiapkan alat dan bahan.

      • 2. Mengupas kentang dan memotong kecil-kecil dan mencuci kentang dengan bersih.

      • 3. Menimbang kentang sebanyak 200 gram, agar-agar 20 gram dan gula 20 gram.

      • 4. Merebus kentang dengan aquades sebanyak1000 ml hingga mendidih lalu menyaring dan mengambil ekstraknya.

  • Medium penguji (Assay medium), merupakan medium dengan susunan ertentu yang digunakan untuk pengujian senyawa-senyawa tertentu dengank 1000 ml hingga mendidih lalu menyaring dan mengambil ekstraknya. 5. Mencampur ekstrak kentang dengan gula dan agar-agar sambil memanaskan kembali agar zat tersebut larut sempurna dan campuran menjadi homogen. 6. Memasukkan ke dalam erlenmeyer dan menyumbat dengan kapas, menutup mulut erlenmeyer dengan kertas aluminium foil dan plastik tahan panas. 7. Mensterilkan medium dalam autoklaf pada suhu 121 C selama 15 menit. 8. Mendinginkan medium dan menyimpan di dalam kulkas. B. Nutrient Agar (NA) 1. Menyiapkan alat dan bahan. 2. Memotong kecil-kecil dan mencuci daging sapi dengan bersih. 3. Menimbang daging sapi sebanyak 100 gram, agar-agar 10 gram dan gula 10 gram. Merebus daging dengan aquades sebanyak 500 ml hingga mendidih lalu Menyaring dan mengambil ekstraknya. 4. " id="pdf-obj-4-42" src="pdf-obj-4-42.jpg">
    • 5. Mencampur ekstrak kentang dengan gula dan agar-agar sambil memanaskan kembali agar zat tersebut larut sempurna dan campuran menjadi homogen.

    • 6. Memasukkan ke dalam erlenmeyer dan menyumbat dengan kapas, menutup mulut erlenmeyer dengan kertas aluminium foil dan plastik tahan panas.

    • 7. Mensterilkan medium dalam autoklaf pada suhu 121 o C selama 15 menit.

    • 8. Mendinginkan medium dan menyimpan di dalam kulkas.

    • B. Nutrient Agar (NA)

      • 1. Menyiapkan alat dan bahan.

      • 2. Memotong kecil-kecil dan mencuci daging sapi dengan bersih.

      • 3. Menimbang daging sapi sebanyak 100 gram, agar-agar 10 gram dan gula 10 gram.

    Mencampur ekstrak daging dengan gula dan agar-agar sambil memanaskan kembali agar zat tersebut larut sempurna dan campuran menjadi homogen.

    5.

    • 6. Memasukkan ke dalam erlenmeyer dan menyumbat dengan kapas, menutup mulut erlenmeyer dengan kertas aluminium foil dan plastik tahan panas.

    • 7. Mensterilkan medium dalam autoklaf pada suhu 121 o C selama 15 menit.

    • 8. Mendinginkan medium dan menyimpan di dalam kulkas.

    • C. Tauge Extract Agar (TEA)

      • 1. Menyiapkan alat dan bahan.

      • 2. Mencuci tauge dengan bersih.

      • 3. Menimbang tauge sebanyak 100 gram, agar-agar 10 gram dan gula 10 gram.

      • 4. Merebus tauge dengan aquades sebanyak 500 ml hingga mendidih lalu Menyaring dan mengambil ekstraknya.

      • 5. Mencampur ekstrak tauge dengan gula dan agar-agar sambil memanaskan kembali agar zat tersebut larut sempurna dan campuran menjadi homogen.

      • 6. Memasukkan ke dalam erlenmeyer dan menyumbat dengan kapas, menutup mulut erlenmeyer dengan kertas aluminium foil dan plastik tahan panas.

      • 7. Mensterilkan medium dalam autoklaf pada suhu 121 o C selama 15 menit.

      • 8. Mendinginkan medium dan menyimpan di dalam kulkas.

    BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

    No

    Nama dan Gambar

    Fungsi

    1

    PDA

    Untuk menumbuhkan atau mengidentifikasi yeast dan kapang. Dapat juga digunakan untuk enumersi yeast dan kapang dalam sampel atau produk makanan ..

    2

    NA

    Untuk pertumbuhan mayoritas dari mikroorganisme yang tidak selektif dalam artian mikroorganisme heterotrof.

    3

    TEA

    Medium umum yang dapat ditumbuhi oleh mikroorganisme secara umum yang berfungsi untuk pertumbuhan bakteri dan jamur.

    4.2 Pembahasan Medium adalah suatu bahan yang terdiri atas campuran nutrisi yang dipakai untuk menumbuhkan mikroba. Selain untuk menumbuhkan mikroba, medium dapat digunakan pula untuk isolasi, memperbanyak, pengujian sifat-sifat fisiologi dan perhitungan mikroba. Berdasarkan komposisi kimianya dikenal medium sintetik dan medium nonsintetik atau medium kompleks. Komposisi kimia medium sintetik diketahui dengan pasti dan biasanya dibuat dari bahan-bahan kimia yang kemurniannya tinggi dan ditentukan dengan tepat. Diantara medium yang dibuat dalam percobaan ini yang termasuk dlam medium sintetik adalah medium yang mengandung agar, seperti halnya medium nutrient agar yang dignakan untuk mempelajari kebutuhan makanan mikroba. Di pihak lain komposisi nonsintetik tidak

    diketahui dengan pasti. Seperti bahan-bahan yang terdapat dalam kaldu nutrient yaitu ekstrak daging dan pepton. Dalam pembuatan medium digunakan sebagai sumber makanan bagi mikroba. Seperti halnya pepton merupakan sumber nitrogen organik yang juga diperuntukan bagi mikroorganisme heterotrof. Laktosa dan Dextrose merupakan sumber energi bagi sebagian besar bakteri yang termasuk heterotrof. Selain itu kentang dan tauge yang banyak mengandung karbohidrat merupakan sumber karbon yang baik bagi pertumbuhan mikroorganisme. Dalam pembuatan medium harus digunakan aquades atau air murni, karena air sadah pada umumnya mengandung kadar ion kalsium dan ion magnesium yang tinggi. Pada medium yang mengandung pepton dan ekstrak daging, air dengan kualitas semacam ini dapat menyebabkan terbentuknya endapan fosfat dan megnesium fosfat. Medium yang akan dibuat dalam percobaan ini adalah Potato Dextrose Agar (PDA), Nutrient Agar (NA) dan Tauge Ekstrak Agar (TEA). Medium Potato Dextrose Agar (PDA) berdasarkan susunannya merupakan medium organik semi alamiah atau semi sintetis sebab terdiri dari bahan alamiah yang ditambah dengan senyawa kimia. Berdasarkan konsistensinya merupakan medium padat karena mengandung agar yang memadatkan medium, berdasarkan kegunaannya merupakan medium untuk pertumbuhan jamur. Medium PDA terdiri dari kentang yang berfungsi sebagai sumber energi, nitrogen organik, karbon dan vitamin, dekstrosa sebagai sumber karbon, agar sebagai bahan pemadat medium dan aquades sebagai pelarut untuk menghomogenkan medium dan sumber O 2 . Nutrient Agar (NA) merupakan suatu medium yang berbentuk padat ynag merupakan perpaduan antara bahan alamiah dan senyawa-senyawa kimia. NA dibuat dari campuran ekstrak daging dan peptone dengan menggunakan agar sebagai pemadat. Dalam hal ini agar digunakan, karena sifatnya yang mudah membeku dan mengandung karbohidrat yang berupa galaktam sehingga tidak mudah diuraikan oleh mikroorganisme. Dalam hal ini ekstrak beef dan pepton digunakan sebagai bahan dasar karena merupakan sumber protein, nitrogen, vitamin serta karbohidrat yang sangat dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk tumbuh dan berkembang. Medium Nutrient Agar (NA) merupakan medium yang berwarna coklat muda yang memiliki konsistensi yang padat dimana medium ini berasal dari sintetik dan memiliki kegunaan sebai medium untuk menumbuhkan bakteri. Medium Tauge Ekstrak Agar (TEA) berdasarkan susunannya merupakan medium organik semi alamiah atau semi sintetis sebab terdiri dari bahan alamiah yang ditambah dengan senyawa kimia, berdasarkan konsistensinya merupakan medium padat karena mengandung agar yang memadatkan medium, berdasarkan kegunaannya merupakan medium umum yang dapat ditumbuhi mikroorganisme secara umum yang dapat ditumbuhi oleh mikroorganisme secara umum yang berfungsi untuk pertumbuhan bakteri dan jamur serta memiliki warna cream. Medium TEA terdiri dari tauge yang berfungsi sebagai sumber energi, nitrogen organik, karbon dan vitamin. Sukrosa sebagai sumber karbon , agar sebagai bahan pemadat medium dan aquades sebagai pelarut untuk menghomogenkan medium dan sumber O 2 . Medium TEA digunakan untuk menumbuhkan jamur (khamir dan kapang). Medium TEA ini berdasarkan konsistensinya termasuk dalam medium (solid medium). Berdasarkan fungsinya, TEA termasuk medium penguji (assay medium), karena dapat digunakan untuk pengujian vitamin, asam-asam amino dan lain-lain. Melalui medium ini dapat diamati bentuk-bentuk koloni dan benuk pertumbuhan jamur. Faktor-faktor yang memungkinkan terjadinya kontaminasi medium adalah :

    1.

    Sterilisasi medium yang kurang sempurna

    1. Sterilisasi medium yang kurang sempurna
    1. Sterilisasi medium yang kurang sempurna
    • 2. Medium memenuhi semua kebutuhan nutrien

    • 3. Proses praktikum yang tidak aseptis

    • 4. Lingkungan laboratorium yang kurang steril

    5.1 Kesimpulan

    BAB V

    PENUTUP

    Berdasarkan percobaan yang dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa:

    • 1. Medium adalah suatu bahan yang terdiri atas campuran nutrisi yang dipakai untuk menumbuhkan mikroba juga medium dapat digunakan pula untuk isolasi, memperbanyak, pengujian sifat-sifat fisiologi dan perhitungan mikroba.

    • 2. Dalam pembuatan medium terdapat tiga jenis preparasi yaitu : Agar slant (miring), Agar petri

    dan Agar tegak (deep)

    • 3. Medium semi alamiah adalah medium yang tersusun atas bahan-bahan alamiah dan sintetis.

    • 4. Medium Potato Dextrose Agar (PDA), Nutrient Agar (NA) dan Tauge Ekstrak Agar merupakan medium semi alamiah.

    5.2 Saran Pada praktikum selanjutnya, diharapkan percobaan pembuatan medium ini dilakukan agar praktikan dapat mengetahui teknik oembuatan medium secara jelas.

    DAFTAR PUSTAKA Anonim, 2011, Pembuatan Media Mikroorganisme, http://wikipedia.org, diakses pada 10 Desember 2013, Palu. Arfiandi, Media Pertumbuhan Bakteri, http://freebussines.blogspot.com, diakses pada 10 Desember 2013, Palu.

    Hadioetomo, Ratna, 1990, Mikrobiologi Dalam Praktek, PT Gramedia, Jakarta. Iptek, 2009, Pembuatan Medium, http://beritaiptek.com, diakses pada 10 Desember 2013, Palu.

    Kusnadi, Peristiwati dkk,

    2003,

    Mikrobiologi, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.

    Natsir, Djide dan Sartini, 2006, Mikrobiologi Farmasi Dasar, Universitas Hasanuddin, Makassar.

    Pelczar, 1996, Dasar-Dasar Mikrobiologi, Universitas Indonesia, Jakarta. Ratna, 1993, Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek, PT Gramedia, Jakarta.

    Volk dan Wheeler, 1993, Mikrobiologi Dasar

    Jilid 1 Edisi ke 5, Erlangga, Jakarta.