Anda di halaman 1dari 20

MORFOLOGI KOLONI DAN PENGUKURAN BAKTERI

LAPORAN PRAKTIKUM
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Mikrobiologi
Yang dibina oleh Prof. Dr. Dra. Utami Sri Hastuti, M.Pd
disajikan pada Hari Selasa, 9 Februari 2016

Oleh:
Kelompok 1/ Off A/ 2014
Alfiani Nanda Indrayanti

(140341605192)

Desnaeni Wahyuningtyas

(140341606222)

Dinar Ajeng Nur Aziza

(140341605926)

Eka Imbia Agus Diartika

(140341601648)

Evi Kusumawati

(140341601274)

Fiqih Dewi Maharani

(140341606456)

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


UNIVERSITAS NEGERI MALANG
JURUSAN BIOLOGI
Februari 2016

A. Waktu Pelaksanaan Praktikum


Selasa, 2 Februari 2016
B. Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk :
1. Untuk mengamati morfologi koloni bakteri.
2. Untuk memperoleh keterampilan menera harga skala mikrometer okuler.
3. Untuk mengukur sel bakteri.
C. Dasar Teori
Bakteri memiliki bentuk dan struktur yang berbeda.Bentuk dan struktur ini
yang disebut dengan morfologi bakteri.Setiap bakteri memiliki bentuk yang
berbeda.Ini juga dipengaruhi oleh kondisi tempat hidupnya. Bakteri dapat hidup
di setiap tempat misalnya ; udara, diantara rambut, di sela-sela gigi , didalam
tanah dan sebagainya (Hastuti, 2012).
Pada umumnya ada tiga bentuk bakteri yang berbeda yaitu, bentuk kokus
atau bulat, basil atau silinder (batang), dan spiral atau melengkung melingkar
(Volk & Wheeler, 1988).
1

Kokus bentuknya seperti buah beri kecil.bakteri ini terdapat dalam beberapa
pola atau pengelompokan yang berbeda dan oleh karen itu dapat dijadikan ciri
setiap marga yang berbeda. Beberapa kokus secara khas hidup sendiri-sendiri,
sedangkan yang lainnya dapat dijumpai berpasangn, kubus atau rantai panjang,
bergantung caranya membelah diri dan berlekatan satu sama yang lain.
Kokus yang senantiasa membelah dalam satu bidang namun tidak
memisahkan diri, sering membentuk rantai kokus, ini merupakan bentuk

khas Strepcoccus.
Kokus yang membelah dalam tiga bidang tegak lurus satu sama lain

membentuk paket kubus, cara ini dijumpai pada merga Sarcina.


Kokus yang membelah dalam dua bidang untuk membentuk gugusan yang
tidak teratur diklasifikasikan dalam marga Staphylococcus atau marga

Micrococcus.
Basil adalah bakteri yang bentuknya menyerupai batang atau silinder. Basil
memiliki ukuran yang beraneka ragam, beberapa diantaranya menyerupai

rokok sigaret. Bentuk lainnya adalah basil berebantuk gelendong dengan


ujung-ujung yang meruncing lebih menyerupai cerutu. Beberapa basil panjang
dan lebarnya sama dan bentuknya lonjong, basil-bail ini menyerupai kokus
sehingga disebut koko-basil.
3 Bentuk Spiral
a Vibrio adalah batang yang melengkung menyerupai koma. Kadang-kadang
b

vibrio tumbuh sebagai benang-benang membelit atau membentuk S.


Spiril adalah spiral atau lilitan yang sebenarnya, seperti kotrek (pembuka

gabus). Tubuh selnya kokoh.


Spirochaeta berbentuk spiral tetapi bedanya dengan spiril dalam hal
kemampuannya melenturkan dan melekuk-lekukkan tubuhnya sambil
bergerak.
Untuk mengidentifikasi suatu bakteri dapat diamati dari bentuk koloni,

warna koloni, tepi koloni, elevasi koloni, serta tipe pertumbuhannya pada medium
miring.
1

Bentuk Koloni
Bentuk koloni yang umunya ditemukan yaitu bundar, bundar dengan

tepian kerang, bundar dengan tepian timbul, keriput, konsentris, tak beraturan dan
menyebar, berbenang-benang, bentuk l, bundar dengan tepian menyebar, filiform,
rizoid, atau kompleks.
2

Bentuk Tepi Koloni


Bentuk tepian koloni bakteri umunya yaitu licin, berombak, berlekuk, tak

beraturan, siliat, bercabang, seperti wol, seperti benang, atau seperti ikal rambut.
3

Elevasi Koloni
Selain dapat diamati dan diidentifikasi dari bentuk, warna, dan tepian

koloninya,

pengamatan

koloni

juga

dapat

di

lakukan

pada

elevasi

koloninya.Beberapa elevasi dari koloni bakteri yaitu, datar, timbul, cembung,


seperti tetesan, seperti tombol, berbukit-bukit, tumbuh kedalam medium, atau
seperti kawah.
4

Tipe Pertumbuhan pada Medium Agar Miring


Tipe pertumbuhan koloni bakteri pada medium agar miring juga dapat

digunakan untuk mengidentifikasi jenis bakteri. Menurut Fardiaz dalam Hatuti

(2012) ada beberapa tipe koloni bakteri pada medium agar miring yaitu bentuk
serupa pedang, bentuk berduri, bentuk serupa tasbih, bentuk titik-titik, bentuk
berupa batang, dan bentuk serupa akar.
Medium agar padat miring merupakan medium nutrien cair yang ditambah
agar sebagai pemadatnya dan dibirakan mengeras pada posisi miring.Pada
medium agar padat miring, bakteri Eschercia coli, bentuknya spreadling dengan
elevasi low convex, tidak berbau, berwarna krem dan pertumbuhannya sedikit saja
namun membentuk koloni. Pada Bacillus subtilis pertumbuhannya tipis dan
merata tanpa koloni dengan elevasi low convex berbentuk echinulate, tidak berbau
dan berwarna krem.
Bentuk tubuh bakteri itu terpengaruhi oleh keadaan medium dan oleh
usia. Maka untuk membandingkan bentuk serta ukuran sel bakteri perlu
diperhatikan bahwa kondisi bakteri itu harus sama, temperatur dimana piaraan itu
disimpan harus sama, penyinaran oleh sumber cahaya apapun harus sama, dan
usia piaraan itu juga harus sama. Pada umumnya, bakteri dari piaraan yang masih
muda, yaitu sekitar 6 sampai 12 jam, itu nampak lebih besar daripada bakteri
berasal dari koloni yang lebih tua (Dwidjoseputro. 1978).
Sel bakteri sangat beragam panjangnya; sel beberapa spesies dapat
berukuran 100 kali lebih panjang daripada sel spesies yang lain. Satuan ukuran
bakteri adalah mikrometer (m), yang setara dengan 1/1000 mm atau 10 -3 mm.
Bakteri yang paling umum dipelajari di dalam praktikum mikrobiologi berukuran
kira-kira 1,0 x 2,0-5,0 m. Bentuk batang yang berukuran rata-rata seperti bakteri
tifoid dan disentri mempunyai lebar 0,5 sampai 1 m dan panjang 2 sampai 3 m.
Sel beberapa spesies bakteri amat panjang; panjangnya dapat melebihi 100 m
dan diameternya berkisar dari 0,1 sampai 0,2 m. Sekelompok bakteri yang
dikenal sebagai mikroplasma, ukurannya khas amat kecil-demikian kecilnya
sehingga hampir-hampir tak tampak di bawah mikroskon cahaya. Mereka juga
pleomorfik; yaitu morfologinya amat beragam. Ukurannya berkisar dari 0,1
sampai 0,3 m (Pelczar dan Chan.1986).
Beberapa contoh spesies yang telah diukur memiliki panjang dan diameter
seperti berikut: (1) Salmonella typhosa dengan lebar 0,6 0,7 m dan panjang 2
3 m, (2) Streptococcus lactis dengan diameter 0,5 1 m, (3) Bacillus subtilis

dengan diameter 0,5 0,8 m dan panjang 1,6 4 m, (4) Bacillus megaterium
dengan diameter 1 1,5 m dan panjang 3 6 m (Tarigan. 1988).
Pengukuran yang tepat sel mikroorganisme dapat dilakukan dengan cara
menyisipkan suatu mikrometer okuler pada lensa okuler mikroskop yang
digunakan untuk mengamati sel tersebut. Mikrometer okuler pada umumnya
merupakan suatu piringan kaca bundar pada salah satu permukaannya terukir
skala pengukuran. Sebelum digunakan untuk mengukur sel, mikrometer okuler ini
terlebih dahulu harus ditera terhadap mikrometer pentas yang sudah memiliki
skala yang pasti (Hadioetomo, 1985).
D. Alat dan Bahan
Alat
Pengamatan Morfologi Koloni Bakteri
1. Inkubator
2. Loupe
Pengukuran Sel Bakteri
1. Mikroskop
2. Mikrometer okuler (occuler micrometer)
3. Mikrometer meja (stage micrometer)
Bahan
Pengamatan Morfologi Koloni Bakteri
2 buah medium lempeng NA
Pengukuran Sel Bakteri
1. Sediaan bakteri yang telah diwarnai

5.

Lisol

2. Kertas penghisap

6.

Sabun cuci

3. Kertas lensa

7.

Lap

4. Alkohol 70%

E. Prosedur
1. Pengamatan Morfologi Koloni Bakteri

DS2ientckaluwbh nsipkeatnrikbedruisa bm rekd1aiuxnm2p4aldejm peantgudm2ibxalewm4pkjaengt,m ipdlaktsyuhang pbeangy mk dtilan uei ohradngp,klaou tni bupkctaewri yna pgetruimd buhkap sdelam ed1i0u- 5 m enit,kem udian ditu p
3 7 C . le m p e n g k e m b a li
DH Diahps iatlluikhpnuegdk gjuanammp leaantchg akm od lkia outnlliisbnmadi kabo tlarefkrmoitleyTragianbgke otul m n bi ud ha .r iD diutaan d a i d e n g a n b e n tu k s e p e r ti le n d ir ,
m
a
c
m
k
o
l
n
i
b
a
k
t
e
r
i
tyPeae n sg aatnmu ma tbe nun theB.g aak, tteer i s a n s a r i b u a h .
2. Pembuatan Biakan Murni Bakteri

DBDaituiesresdkpdaailnkihnoku2mlabsruciahecmkaeoridlyiunsmegblatdeikctpkprleihnmygpaddaiunme2rbsuiarulhnmdg,reidbnpakagndcraamhpluuerrdaisnm(sulmaiarddenygpaermkuoklaninymanegdiduimam itripnagdbapeinngam t n
Dicnktubaesntpukd o3l7nCibdaknterilay ug tnmp bughamp dt set l h bi k n b kte ib r r1 x 24 j
m e d iu m ir n g . te la h te rs d ia . m o rf l g i k o l n i b a k te ri).
bmtaewudi2hmxm e4niurajnmgk.e at s
3. Menera Mikrometer Okuler

MDP oasmiiktrgoamriestmkreojlaka udmlieprekabdrsoipmnaagepstpnargadohpkdamudalejirbmdaagenkirmdonaimkperitokdmraoestkkuorlpm yeyajanngdgibabitauesrasndeyhaipndgidp aakstiiuksegnbaoarilgskiednuga mn igkaroims ektarl bmeriakd o mp aedt r m eja
m ik ro sk o p . tem p at len sa o k sualetr.g aris lu r s.
(s e la in t ik n o l).
4. Mengukur Sel Bakteri

M
i
k
r
o
m
e
t
e
r
m
e
j
a
S
e
d
i
a
a
n
b
a
k
t
e
r
i
y
P
o
s
s
s
e
l
s
e
l
b
a
k
t
e
r n i g d i t a e t l u a rh s e h i n g g a
M ik r m e te r
d i d l bei wpe ra a s r dkn a ni p da id a p ar a i sb m a i dn e ag j na gp b a es dkn a d lat e m pi k a rt o m e t e r
o k u l e r m i k r o t es rk s o e p bo uk tu l e r
d ip u ta r

PDT eianu pgk u kr eup ra n j adtnigl apsk ieu lkha t3n usp edliua mn s eu ltk- rd si ue kl udr ai,l mal us mn gi l- m aesti n rg b e r d a s r k a n h a r g a t i a p s k a l
kmd ohilk trnuo im yg ea tn gr aodt ki pnu yl eairk ys a n g t e l a h d it e r a
F. Data Hasil Pengamatan
1 Peneraan Mikrometer
Perbesaran 400x

Perbesaran 1000x

M. Ok = 20

M. Ok = 10

M. Ob = 5

M. Ob = 1

Pengamatan Morfologi Koloni Bakteri


CIRI

Morfologi Koloni
a. Warna koloni
b. Bentuk Koloni
c. Tepi Koloni
d. Elevasi koloni
e. Mengkilat/Suram
f. Diameter Koloni
g. Kepekatan Koloni
h. Jumlah Koloni
Ciri Lain
Asal Bakteri

KOLONI 1
Putih
Bundar dengan tepian
menyebar
Licin
Seperti Tombol
Suram
0,35 cm
Pekat
5
Kantin FMIPA UM

KOLONI 2
Orens
Benang-benang
Tak Beraturan
Berbukit-bukit
Suram
0,35 cm
Pekat
8
Kantin FMIPA UM

Tipe pertumbuhan pada


medium miring
3

Bentuk serupa pedang

Bentuk serupa tasbih

Pengukuran Sel Bakteri


Bakteri Koloni 1
P1 = 4 Skala
P2 = 5 Skala
P3 = 4 Skala

d1 = 1 Skala
d2 = 1 Skala
d3 = 1 Skala

Bakteri Koloni 2
P1 = 1 Skala
P2 = 1 Skala
P3 = 1 Skala

d1 = 1 Skala
d2 = 1 Skala
d3 = 1 Skala

G. Analisis Data
1 Peneraan Mikrometer
a. Perbesaran 400x
M. Ok = 20
M. Ob = 5
20 Skala M. Ok

=
=
=

1 Skala M. Ok

1 Skala M. Ok
1 Skala M. Ok

=
=

5 Skala M. Ob
5 x 0,01 mm
0,05 mm
0,05
20
0, 0025 mm
2,5 m

Jadi 1 skala mikrometer okuler = 0, 0025 mm = 2,5 m pada perbesaran


400x.

b. Perbesaran 1000x
M. Ok = 10
M. Ob = 1
10 Skala M. Ok

1 Skala M. Ob

1 Skala M. Ok

1 x 0,01 mm

=
=

0,01 mm
0,01
10

0,001 mm

1 m

Jadi 1 skala mikrometer okuler = 0,001 mm = 1 m pada perbesaran


1000x
d Pengamatan Morfologi Koloni Bakteri
a. Koloni 1
Bakteri pada koloni 1 memiliki warna putih dengan bentuk bundar dan
menyebar. Tepi dari koloni ini licin dengan elevasi seperti tombol dan
suram. Memiliki diameter 0,35, berjumlah 5 koloni dan pekat.
b. Koloni 2
Bakteri pada Koloni 2 memiliki warna orens, suram, berbentuk benangbenang dan pekat. Tepi koloni tak beraturan dengan elevasi berbukitbukit. Diameter bakteri 0,35 cm dengan jumlah koloni 8 koloni.
Kesimpulan jenis bakteri pada koloni 1 berbeda dengan jenis bakteri
pada koloni 2
e

Pengukuran Sel Bakteri


Pengukuran bakteri pada perbesran 1000x, jadi 1 skala = 1 m
a. Bakteri Koloni 1
P1 =

4 Skala

d1

1 Skala

4 x 1 m

1 x 1 m

4 m

1 m

1 Skala

1 x 1 m

P2 =
=

5 Skala
5 x 1 m

d2

=
P3 =

5 m
4 Skala

d3

1 m

1 Skala

4 x 1 m

1 x 1 m

4 m

1 m

= 9 m

d3

3 m

Rerata

= 4,83 m

Rerata =

1 m

Jadi panjang sel bakteri pada koloni satu adalah 4,83 m dan
diameternya adalah 1 m.
b. Bakteri Koloni 2
P1 =

1 Skala

d1

1 Skala

1 x 1 m

1 x 1 m

1 m

1 m

1 Skala

P2 =

1 Skala

d2

1 x 1 m

1 x 1 m

1 m

1 m

1 Skala

P3 =

1 Skala

d3

1 x 1 m

1 x 1 m

1 m

1 m

= 3 m

d3

3 m

Rerata

= 1 m

Rerata =

1 m

Jadi panjang sel bakteri pada koloni satu adalah 1 m dan diameternya
adalah 1 m.
H. Pembahasan
Koloni merupakan sekelompok masa sel yang dapat dilihat dengan mata
langsung, dan semua sel dalam koloni itu sama; dianggap semua sel itu
merupakan keturunan (progeny) satu mikroorganisme dan karena itu mewakili
sebagai biakan murni (Kusnadi, et a.l, 2003).

Beberapa karakteristik utama

bakteri adalah ukuran, bentuk, struktur, dan penataan selnya atau dapat dikatakan
dapat diamati melalui morfologinya. Menurut Dwijoseputro (1978), sifat-sifat
khusus suatu koloni dalam medium padat pada agar-agar lempengan memiliki
bentuk titik-titik, bulat, berbenang, takteratur, serupa akar, serupa kumparan.

Permukaan koloni dapat datar, timbul mendatar, timbul melengkung, timbul


mencembung, timbul membukit, timbul berkawah. Tepi koloni ada yang utuh,
berombak, berbelah- belah, bergerigi, berbenang-benang dan keriting.
Berdasarkan hasil pengamatan pada koloni 1 warna koloni putih, bentuk
koloni bundar dengan tepian menyebar, tepi koloni licin. Elevasi koloninya seprti
tombol, permukaannya suram, diameter 0,35 cm, dan saat diambil dengan jarum
inokulasi yang sudah disterilkan koloninya pekat. Jumlah koloni pada satu cawan
ada 5 koloni. Koloni 2 memiliki warna koloni orange, bentuk koloni benangbenang, tepi koloni tak beraturan. Elevasi koloninya seperti berbukit-bukit,
permukaannya suram, diameter 0,35 cm, dan saat diambil dengan jarum inokulasi
yang sudah disterilkan koloninya pekat. Jumlah koloni pada satu cawan ada 8
koloni. Koloni bakteri ini didapat dari pengambilan sampel di kantin FMIPA UM.
Dapat dilihat bahwa dari kedua koloni bakteri yang diamati, ada beberapa aspek
yang berbeda. Hal ini dapat menjadi karakteristik dari koloni bakteri tersebut.
Ukuran diameter pada kedua koloni bakteri 1 dan 2 sama yaitu 0,35 cm.
Menurut Acharya (2007), diameter ini dapat menjadi karakteristik yang berguna
untuk identifikasi. Diameter koloni dapat diukur dalam milimeter atau dijelaskan
secara relatif seperti titik pin, kecil, menengah, dan besar. Koloni yang lebih besar
dari sekitar 5mm cenderung organisme motil. Jika dijadikan satuan milimeter
maka diameternya 3,5 mm dan cenderung organisme motil.
Pada

kedua

koloni

memiliki

perbedaan

jumlah

bakteri

yang

berkembangbiak dalam satu cawan. Pada koloni 1 terdapat 5 koloni dan koloni 2
terdapat 8 koloni. Pebedaan jumlah koloni yang tumbuh salah satunya disebabkan
oleh tangan praktikan yang sudah dicuci dengan sabun (disterilkan) antibakteri.
Ketika sudah mencuci tangan, tangan praktikan yang mengambil sampel memiliki
lebih sedikit bakteri dibandingkan tangan yang belum dicuci. Hal ini terjadi
karena sabun antiseptik memiliki komposisi khusus yang dapat menghambat
perkembangan bakteri. Didukung oleh pernyataan dari Ngan (2005) bahwa
antiseptic merupakan bahan kimia yang mencegah multiplikasi organisme pada
permukaan tubuh, dengan cara membunuh mikroorganisme tersebut atau
menghambat pertumbuhan dan aktivitas metaboliknya. Selain menggunakan

sabun cuci tangan, praktikan juga membersihkan tangan dengan alkohol 70%
karena konsentrasi alkohol ini cocok untuk menjadi disinfektan.
Pengukuran sel bakteri pada koloni 1 dan koloni 2, bakteri memiliki
panjang rata-rata 4,83 m dan diameter rata-rata 1 m. Hal ini menunjukkan
bahwa ukuran bakteri rata-rata sama atau mirip. Dalam hal mengidentifikasi kita
tidak boleh hanya mengandalkan pengukuran panjang dan diameter bakteri saja,
melainkan juga dapat diamati pada morfologinya.
I. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan, dapat disimpulkan bahwa.
1. Pengamatan morfologi bakteri meliputi warna koloni, bentuk koloni, tepi
koloni, elevasi koloni, mengkilat atau suram permukaan koloni, diameter
koloni, kepekatan koloni, dan jumlah koloni. Kedua koloni yang diamati
memiliki perbedaan dari beberapa aspek, hal ini menjadi dapat menjadi
karakteristik dari setiap koloni bakteri.
2. Bakteri pada koloni 1 dan koloni 2 memiliki panjang dan diameter yang
sama.

J. Diskusi
Pengamatan Morfologi Koloni Bakteri
1. Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi jumlah dan jumlah macam
bakteri pada suatu tempat? Jelaskan!
Jawab :
a) Nutrien: mikroba memerlukan suplai nutrisi sebagai sumber energi
dan pertumbuhan selnya. Unsur-unsur dasar yang diperlukan adalah
karbon,nitrogen, hidrogen, oksigen, sulfur, fosfor, zat besi dan sejumlah
kecil logam lainnya.
b) Tingkat keasaman (pH): kebanyakan mikroba tumbuh baik pada pH
sekitarnetral dan pH 4,6 7,0 merupakan kondisi optimum untuk
pertumbuhan bakteri.

c) Suhu: setiap mikroba mempunyai kisaran suhu dan suhu optimum


tertentuuntuk pertumbuhannya. Pada suhu yang tepat (optimal),
mikroba dapatmemperbanyak diri dan tumbuh sangat cepat.
d) Oksigen: kebutuhan oksigen mikroba berbeda-beda, ada mikroba aerob,
yaitu mikroba yang membutuhkan oksigen untuk pertumbuhannya;
anaerob, yaitu mikroba yang tumbuh tanpa membutuhkan oksigen;
anaerob fakultatif, yaitu mikroba yang dapat tumbuh dengan atau tanpa
adanya oksigen; mikroaerofil,yaitu mikroba yang membutuhkan oksigen
pada konsentrasi yang lebih rendah dari pada konsentrasi oksigen yang
normal di udara.
e) Kelembaban: mikroba membutuhkan kelembaban yang tinggi, pada
umumnya

untuk

pertumbuhan

mikroba

yang

baik

dibutuhkan

kelembaban di atas 85%.


f) Pencahayaan:

cahaya

yang

berasal

dari

sinar

matahari

dapat

mempengaruhi pertumbuhan mikroba, mikroba lebih menyukai kondisi


gelap, karena terdapatnya sinar matahari secara langsung dapat
menghambat pertumbuhannya.
2. Apakah kegunaan biakan murni bakteri?
Jawab :
Kegunaannya supaya kita mendapatkan satu spesies saja dalam satu piaraan
dan bukan spesies yang bermacam-macam. Spesies itu dipisahkan dari
mikroba lain yang berasal dari campuran bermacam-macam mikroba. Setelah
itu dapat dipelajari morfologi, fisiologi, biokimia, genetika, atau kegiatan
apapun dari mikroba yang telah dibiakan murni tersebut. Piaraan murni
tersebut dapat disimpan, dan pada waktu tertentu harus diadakan peremajaan
dengan memindahkannya ke medium baru. Piaraan-piaraan yang diperoleh
dari piaraan murni pertama dapat diambil dan dikembangbiakan lagi menjadi
piaraan turunan (sub-culture).
Pengukuran Sel Bakteri

1. Tulislah hasil perhitungan harga skala mikrometer okuler pada pembesaran


400x dan 1000x. Mengapa perlu dilakukan peneraan pada kedua macam
pembesaran tersebut?
Jawab:
Perbesaran 400x
M. Ok = 20
M. Ob = 5
20 Skala M. Ok =

5 Skala M. Ob

5 x 0,01 mm

0,05 mm

1 Skala M. Ok

1 Skala M. Ok

0, 0025 mm

1 Skala M. Ok

2,5 m

0,05
20

Perbesaran 1000x
M. Ok = 10
M. Ob = 1
10 Skala M. Ok

1 Skala

M. Ok

1 Skala M. Ob

1 x 0,01 mm

0,01 mm

0,01
10

0,001 mm

1 m

Perlu dilakukan peneraan pada pembesaran 400x dan 1000x karena sel
bakteri pada pengamatan mikroskop minimal bisa terlihat pada perbesaran
400x dan 1000x. Peneraan harga skala mikrometer okuler perlu dilakukan
agar dapat diketahui harga skala mikrometer pada mikroskop yang
digunakan. Hal ini disebabkan setiap mikroskop memiliki harga skala yang
berbeda. Begitu pula dengan perbesaran yang digunakan. Jika perbesarannya
berbeda maka harga skalanya juga akan berbeda. Jadi perlu diketahui masing-

masing harga skalanya, sebab kedua jenis perbesaran ini yang digunakan
dalam pengukuran.
2. Tulislah hasil pengukuran sel bakteri yang diamati dalam 3 ulangan, lalu
hitunglah nilai reratanya. Mengapa sel bakteri yang berbentuk basil harus
diukur panjang dan diameter selnya, sedangkan sel bakteri yang berbentuk
kokus hanya diukur diameter sel saja?
Jawab :
Bakteri Koloni 1
P1 =

4 Skala

d1

1 Skala

4 x 1 m

1 x 1 m

4 m

1 m

1 Skala

P2 =

5 Skala

d2

5 x 1 m

1 x 1 m

5 m

1 m

1 Skala

P3 =

4 Skala

d3

4 x 1 m

1 x 1 m

4 m

1 m

P= 9 m

d3

3 m

Rerata

Rerata =

1 m

d1

1 Skala

= 4,83 m

Bakteri Koloni 2
P1 =

1 Skala

1 x 1 m

1 x 1 m

1 m

1 m

1 Skala

P2 =

1 Skala

d2

1 x 1 m

1 x 1 m

1 m

1 m

1 Skala

P3 =

1 Skala

d3

1 x 1 m

1 x 1 m

1 m

1 m

P= 3 m

d3

3 m

Rerata

Rerata =

1 m

= 1 m

Sel bakteri yang berbentuk basil harus diukur panjang dan diameter selnya
karena bakteri bentuk basil atu batang memiliki ukuran yang berbeda antara
panjang dan lebarnya. Sedangkan bakteri bentuk kokus hanya diukur
diameternya saja karena dari semua bidang pengukuran menunjukkan
diameter yang sama sehingga cukup dilakukan pengukuran pada diameternya
saja.
K. Daftar Rujukan
Acharya, Tankeshwar. 2007. Colony Morphology of Bacteria; How to describe
Bacterial Colonies? (online) di http://microbeonline.com/. Nepal:
Department of Microbiology and Immunology, Patan Academy of Health
Sciences.
Dwidjoseputro. 1978. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: Djambatan.
Hadioetomo, Ratna Siri. 1985. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek: Teknik dan
Prosedur Dasar Laboratorium. Jakarta: PT Gramedia.
Hastuti, Sri Utami. 2012. Penuntun Praktikum Mikrobiologi. Malang: UMM
Press.
Ngan, V. 2005. Antiseptics. New Zaeland Dermatological Society Inc.
Pelczar, Michael J. dan E.C.S. Chan. 1986. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta:
Universitas Indonesia Press.
Tarigan, Jeneng. 1988. Pengantar Mikrobiologi. Jakarta: Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan Direktorat Pendidikan Tinggi.
Volk, Wesley A & Wheeler, Margaret F. 1988. Mikrobiologi Dasar. Jakarta:
Erlangga.

L. Lampiran
Morfologi Bakteri pada Medium Miring
Koloni 1

Morfologi Bakteri pada Medium Miring


Koloni 2