Anda di halaman 1dari 10

From Puhawang to Ale (blog-man)

DAFTAR PUSTAKA
(tak taruh di depan aja biar gak kaya’ SKRIPSI)

________________. 2010. Jenis Teknik Recording (Online),


(http://fahryadam.blogspot.com/2009/10/jenis-teknik-recording.html, diakses maret
2010).

________________. 2010. Apa Sich Recording? (Online),


(http://www.musiktek.com/e107_plugins/forum/forum_viewtopic.php?29171, diakses
maret 2010).

________________. 2010. Apa Sich recording? Part 2 (Online),


(http://www.musiktek.com/e107_plugins/forum/forum_viewtopic.php?29195, diakses
maret 2010).

________________. 2010. Recording Level & Meter (Online),


(http://www.musiktek.com/e107_plugins/forum/forum_viewtopic.php?29235, diakses
maret 2010).

________________. 2010. Tips Rekaman Buat Para Pemula (Online),


(http://blogs.myspace.com/index.cfm?
fuseaction=blog.view&friendId=425128990&blogId=475892597, diakses maret
2010).
RECORDING ITU APA SIH ?
Recording itu MEREKAM. Merekam audio.
- Apapun audio yang anda rekam ya itulah yang masuk/terekam.
- Audio yang kotor (banyak noise), ya itulah yang anda rekam.
- Audio yang bersih dan tebal, ya itu jugalah yang anda rekam dan dapat di playback
lagi hasilnya.

JENIS TEKNIK RECORDING


Secara garis besar, recording bisa dibagi menjadi beberapa kategori. Menurut
teknik perekaman dan menurut alat yang digunakan.
Menurut alat yang dipakai, rekaman bisa dibagi menjadi dua. Analog dan
Digital. Sedang menurut teknik perekaman, bisa dibagi menjadi teknik Live
Recording dan Multi track Recording.

1. Live recording
Live recording adalah suatu teknik rekaman dimana seluruh player bermain
bersama dalam suatu ruangan dan secara bersamaan pula permainan mereka
direkam ke media tertentu. Dari segi biaya, teknik ini lebih murah dari multi track.
Beberapa studio besar menetapkan tarif yang sedikit miring untuk live recording.
Kelebihan dari live recording kalo menurut saya adalah kita bisa bener-bener
mendapatkan feel dan energi dari lagu yang kita rekam. Sedangkan kelemahannya,
permainan kita harus bener-bener perfect. Semua personel dituntut untuk
menguasai materi dengan benar. Soalnya dalam teknik ini, apabila salah satu
personel melakukan kesalahan, proses rekaman harus diulang dari awal. Oleh
karena itu para praktisi rekaman tidak merekomendasikan teknik ini untuk para
pemula.
(+) lebih murah
(-) permainan harus perfect, apabila salah harus di ulang
2. Multi track recording
Multi track recording adalah teknik perekaman dimana masing-masing instrument
direkam secara bergantian. Teknik ini pertama dikenalkan oleh Les Paul, kalo gak
salah sekitar tahun 60-an. Dalam teknik ini, player bisa sedikit santai karena bisa
mengulang part-nya berkali-kali. Bahkan dengan keajaiban Digital multi track
recording, apabila kita melakukan kesalahan, kita gak perlu mengulang seluruh
bagian. Cukup bagian yang salah aja. Beberapa studio kecil mulai memperkenalan
multi track ini buat band-band pemula yang mau ngrekam demonya. Tentunya
dengan harga yang SUPER miring!
Setelah proses rekaman multi track, kita akan memasuki satu proses yang disebut
mixing. Pada proses ini, seluruh bagian yang sudah kita rekam akan digabung
menjadi satu keseluruhan. Mixing merupakan bagian yang penting dalam proses
rekaman karena ia menentukan hasil akhir rekaman kita. Mixing melibatkan
beberapa proses didalamnya. Proses tersebut antara lain: Equalizing; proses
pewarnaan sound, Panning; pengaturan stereo, dan reverberation; penambahan
efek suara reverb terhadap hasil rekaman.
(+) tidak perlu diulang dari awal
3. Analog
Rekaman dengan cara analog dilakukan dengan menggunakan reel to reel tape.
Sistem rekaman ini memerlukan biaya yang besar karena alatnya sendiri juga gak
murah. Reel to reel tape ini harganya ada yang mencapai 200 jutaan. Otomatis,
hanya studio besar saja yang punya sistem ini. Selain harganya yang selangit,
system analog ini juga terkenal rumit dan butuh perawatan yang mahal pula.
Terlepas dari system yang ribet dan harga yang selangit, cara analog bisa
menghasilkan sound lebih tebal dan hangat.
(+) sound tebal & bagus
(-) mahal dan ribet
4. Digital
Rekaman Digital adalah sistem rekaman yang secara langsung dapat
mengkonversi sinyal analog dari instrument dan vocal ke dalam format digital.
Media perekaman digital ini dapat menggunakan digital recorder maupun
computer. Teknik ini jauh lebih murah dan simpel bila dibandingkan dengan
sistem analog. Cukup sebuah computer dengan soundcard yang memadai dan
anda bisa langsung tancap gas. Pada awal teknik ini muncul, praktisi rekaman
mengeluhkan tentang kualitas sound rekamannya yang tipis. Tapi sekarang hal itu
sudah bisa teratasi dengan munculnya berbagai produk preamp (penguat sinyal)
yang bagus di pasaran. Dewasa ini, hampir seluruh studio rekaman baik besar
maupun kecil lebih memilih digital recording. Karena harganya yang tidak terlalu
mahal, digital recording ini akhirnya mendorong orang- orang untuk membuka
studio rekaman. Hanya dengan 25 juta kita sudah bisa punya sistem ini.
(+) lebih murah dari analog, hampir semua studio memakainya
(-) butuh soundcard yang di atas rata-rata.

Standard routing signal dari INSTRUMENT/MIC ke SOUNDCARD

1. Jika menggunakan keyboard/sayanthesizer, maka langsung colok


output keyboard tersebut ke soundcard. Ke input yang bertuliskan LINE IN.
Jangan colok ke input bertuliskan MIC.
2. Jika menggunakan guitar dan bass, colok output dari instrument tadi
ke soundcard ke input yang bertuliskan INSTRUMENT IN. Atau DI (Direct
Injection) Atau Hi-Z input.
3. Jika menggunakan Microphone, colok out dari mic ke MIC IN.

Bagaimana kalau colok out keyboard ke MIC IN?


Overload (pecah) dan noise bung !!! Kecuali memang anda suka suaranya seperti itu.

Colok dari output Microphone ke LINE IN ?


Bunyinya akan sangat kecil. Bahkan bisa tidak ada suara sama sekali. Kalaupun
dikeraskan gainnya, akan ada noise yang lumayan.

Suara yang sudah pecah dan kotor/noisaya akan susah diperbaiki. Jadi prinsipnya, saat
merekam itu harus sudah mendapat suara yang bersih tidak noise dan tebal/Full.

SOUND PECAH DAN NOISE: LEBIH BAIK MENCEGAH DARI PADA


MENGOBATI
Hindari/jangan nyalakan lampu neon/flourescent yang menggunakan trafo ballast saat
recording, karena radiasi electro-magnetic nya akan masuk dan mengganggu sinyal
yang direkam. Biasanya akan ada bunyi 'krrrrrrrrrrr' kecil yang bercampur dengan
sinyal audio.

Wah ditempat saya tidak ada lampu neon panjang gitu om, tapi kok masih bunyi
ngebrem/dengung juga neh audio-nya ?
Kalau masih pakai layar monitor tabung (CRT) coba validasikan guitar/bass-nya om
dari layar. Radiasi-nya CRT bisa juga penyebabnya. Cari posisi guitar/bass sampai
dengung hilang. Biasanya pada posisi berlawanan atau tidak searah dengan layar CRT.

Masih ngebrem juga ?


Ground lift. Cek [Klik Link ini] dan [Klik Link ini]
Lanjuuuuut ...

Soundcard saya cuma ada line in dan mic in. NGGAK ADA [instrument in] atau
[DI IN] atau [HI-Z IN]. Bisa tidak buat merekam guitar dan bass?
Waktunya untuk cari PREAMP untuk instrument bozz ! Bisa aja colok dari bass ke
line in-nya soundcard. Tapi karena impedansi-nya berbeda, suara yang ditatidakap
tidak maksimal.

Soundcard saya cuma ada line in aja.


Sama seperti diatas. Berarti anda perlu 2 preamp sekarang Satu preamp untuk
instrument dan satu preamp untuk Mic.

Saya kepingin sound yang tebal.


Selama mengikuti standard routing di atas, dan anda sudah setel dengan baik, dan
yakin source-nya baik (good guitar, good bass, good vocal, good multi fx/processor)
anda akan mendapatkan sound yang bersih/full/tebal yang siap untuk direkam.

GOOD SOURCE THEN GOOD RECORDING CHAIN, THEN GIVE IT TO


GOOD PLAYER/SINGER & HAVE A VERY GOOD DAY

PISAHKAN ANTARA PROBLEM DALAM BERMAIN MUSIK DAN


PROBLEM DALAM AUDIO ENGINEERING. IT'S TOTALLY A
DIFFERENT WORLD !
Oke ... lanjuut ...

Diulang ... diulang ... dan ... diulang sekali lagi


- Out dari keyboard colok ke LINE IN
- Out dari instrument bass / guitar colok ke DI IN atau HI-Z IN
- Out dari microphone di colok ke MIC IN

Saya punya Guitar FX (misal) Korg AX3000, nyoloknya kemana ya ?


Biasanya output dari multi fx/processor itu adalah LINE OUT, silahkan dicolok ke
LINE-IN nya soundcard. Jangan ke INSTRUMENT IN atau MIC IN.

Itu L dan R OUTPUT-nya silahkan colok ke LINE IN di soundcard (untuk stereo).


Kalau hanya mono, silahkan colok dari OUTPUT L MONO ke LINE IN 1 atau LINE
IN L di soundcard.

Ane ngotot neh kepingin nyolok ke MIC IN atau INSTRUMENT IN


Bunyinya pecaaah dan noise ya !

Untuk alat yang lain ?


Misalnya ? Kaoss Pad gitu ? Ya
LINE OUT nya colok ke LINE IN di
soundcard. As simple as that.

Ane suka scratching nih pake


turntable om (DJ) kalau output
turntable colok kemana ya?

Nah, anda mesti punya alat yang


namanya PHONO PREAMP. Dari
turntable colok ke input-nya phono
preamp, nanti dari LINE OUT-nya
phono preamp colok ke LINE IN nya
soundcard.
Ane ada Guitar akustik elektrik nih Ovation (misal) ada
output-nya, colok kemana nih ?

Silahkan colok ke INSTRUMENT IN atau HI-Z IN.


Ane ada Bass ACTIVE neh, pakai baterai gitu, colok kemana neh ? Ke
LINE IN atau INSTRUMENT IN.

Nah, kalau alat yang active gini, coba dulu deh ke LINE IN. Kalau sound-
nya udah dapat silahkan di situ aja. Tapi kalau belum dapat bisa coba
colok ke INSTRUMENT IN atau HI-Z IN.

Kalau tidak dapat2 sound bass-nya ? Noisaya dan kecil banget ?


Ya ganti dulu baterai-nya boss ! Bisa aja baterai-nya udah mau abis

Output dari mobil2an/Stompbox kemana nih ?

Out dari stompbox silahkan


colok ke INSTRUMENT IN.
Jangan ke LINE IN atau
MIC IN.

Om, stompbox-nya noise


banget sama kecil banget
suaranya ? Pan udah
dicolok ke INSTRUMENT
IN ?
Baterai-nya udah mau abis !

Ane ada piano akustik


beneran nih om, nyolok-nya kemana ya ?

Ya pakai mic om ngerekamnya. Pasang mic menghadap ke


piano, kemudian kirim out dari mic ke input MIC IN di
soundcard.

Ane udah beli preamp nih om bisa buat


instrument dan vocal, terus nyoloknya
gimana ?

Yang jelas LINE OUT-nya preamp ke LINE IN


nya soundcard. Jangan ke MIC IN atau
INSTRUMENT IN. Kemudian di input-nya
preamp, terserah, mau colok mic ya ke MIC IN.
Mau colok instrument ya ke INSTRUMENT IN
atau HI-Z IN.
Udah kepingin nyanyi neh om !

Good, pasang mic yang benar ya om, colok out mic ke MIC IN
di soundcard (atau di preamp yang om baru beli tadi) Jangan
lupa nyalain phantom power-nya untuk mic condenser !
RECORDING LEVEL & M E T E R

Ada dua macam soundcard:


- Yang tidak ada input meter-nya seperti DIGIDESIGN Mini Mbox2
- yang ada input meter -nya seperti STEINBERG MI4 & EMU
0404usb

So gimana caranya mengukur sinyal yang masuk ?

Untuk soundcard yang tidak


ada input meter-nya, bisa cek
level sinyal-nya dari meter di
track masing-masing di dalam
daw (cubase, nuendo, pro
tools, sonar).

Untuk soundcard yang ada


input meter-nya, hanya cek
level dari meter bawaan
soundcard-nya aja. Jangan cek
dari meter di track-nya daw
saat RECORDING.
Ada lampu Hijau, Kuning dan Merah nih di soundcard?

Ya, di track meter-nya DAW


(cubase, nuendo, pro tools)
juga begitu. Ada warna hijau,
kuning dan merah kok.

Sinyal di lampu hijau, berarti


anda masih punya banyak
ruang level (headroom) untuk
merekam.

Sinyal dilampu kuning, siap-


siap anda sebentar lagi
kehabisan headroom.

Sinyal dilampu merah, stop!


jangan lebih dari itu karena
bisa pecah/over.
Sebenarnya kalau ada sinyal sampai ke lampu merah, itu biasanya masih ada sisa
headroom sekitar 1 s/d 3dB lagi. Tapi baiknya jangan ambil resiko.

Kalau sinyal benar-benar sudah lewat dari lampu merah dan kehabisan headroom,
biasanya akan terdengar bunyi pecah seperti 'kraaak'.

Soundcard saya ada soft-limit/soft-clipper nya itu buat apa ya?


Anda bisa merekam sampai sinyal melewati lampu merah, tanpa terdengar pecah.
Tapi, kompensasi-nya bunyi akan terdengar 'ditekan'. Karena prinsip kerjanya soft-
limit itu sama dengan kerja limiter.

Tidak kepakai dong soft-limit gitu?


Enaknya biasanya buat ngerekam sound yang banyak transient-nya. Misal sound
drums (kick, snare). Kalau tidak buat ngerekam drums, baiknya tidak usah dipasang
soft-clipper-nya. Beberapa orang merasa jika soft-clipper dimatikan, bunyi yang
terekam lebih 'terbuka'/clear.

Jadi gimana nih level yang oke buat ngerekam?


Saya tidak akan panjang lebar untuk ngebahas meter disini. Untuk mendapatkan hasil
yang optimal, baiknya merekam itu dengan besar sinyal audio berada rata2 di lampu
hijau dan kuning. Jika kena lampu merah, langsung turunkan input gain kemudian
rekam ulang.

Bisa aja merekam sampai merah kalau bunyi masih oke. That's fine. Tapi bukan suatu
kebiasaan yang baik dan layak dicontoh.

JUST TRUST YOUR EARS !