Anda di halaman 1dari 7

LUKA TERBUKA

PENGERTIAN
Luka adalah rusaknya struktur dan fungsi anatomis kulit normal akibat proses
patalogis yang berasal dari internal dan eksternal dan mengenai organ tertentu (Lazarus,et
al., 1994 dalam Potter & Perry, 2006). Luka adalah kerusakan kontinyuitas kulit, mukosa
membran dan tulang atau organ tubuh yang lain. Ketika luka timbul, beberapa efek akan
muncul seperti hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ, respon stress simpatis,
perdarahan dan pembekuan darah, kontaminasi bakteri, dan kematian sel (Kozier, 1995).
ANATOMI KULIT

Fungsi kulit:
1. Sebagai pelindung tubuh atau protektor.
Kulit merupakan benteng pertahanan pertama dari berbagai ancaman yang datang dari
luar, seperti: bakteri, Sel-sel langerhans bagian dari sistem kekebalan tubuh
2. Sebagai alat pengeluaran sekresi.
Minyak yang dihasilkan kelenjar minyak dikeluarkan melalui kulit. Kandungan urea hasil
metabolisme tubuh sebagian dikeluarkan melalui kulit (yaitu dengan berkeringat)
3. Sebagai thermoregulator atau pengatur suhu tubuh.
Dalam kulit juga terdapat syaraf-syaraf yang jika terstimulasi akan diteruskan ke otak
sehingga dapat memberikan sensasi panas, dingin, tekanan, getaran, rasa sakit. Kulit
juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan air dan lemak, sekaligus mensintesa vitamin
D, dengan bantuan sinar matahari yang mengandung ultraviolet.
4. Menyimpan kelebihan lemak
KLASIFIKASI
Berdasarkan lama waktu penyembuhannya, luka dibagi menjadi 2 jenis, yaitu:

a. Luka Akut
Luka akut adalah luka trauma yang biasanya segera mendapat penanganan dan
biasanya dapat sembuh dengan baik bila tidak terjadi komplikasi. Kriteria luka akut
adalah luka baru, mendadak dan penyembuhannya sesuai dengan waktu yang
diperkirakan. Contohnya adalah luka sayat, luka bakar, luka tusuk.
b. Luka Kronik
Luka akut adalah luka yang berlangsung lama atau sering timbul kembali (rekuren)
atau terjadi gangguan pada proses penyembuhan yang biasanya disebabkan oleh
masalah multi faktor dari penderita. Pada luka kronik luka gagal sembuh pada waktu
yang diperkirakan, tidak berespon baik terhadap terapi dan punya tendensi untuk
timbul kembali. Contohnya adalah ulkus tungkai, ulkus vena, ulkus arteri (iskemi),
penyakit vaskular perifer ulkus dekubitus, neuropati perifer ulkus dekubitus (Briant,
2007).
Berdasarkan kehilangan jaringan.
a. Superficial : luka hanya terbatas pada lapisan epidermis
b. Parsial (partial thickness) luka meliputi epidermi dan dermis
c. Penuh(full thickness) luka meliputi epidermis, dermis dan jaringan sub kutan bahan
dengan juga melibatkn otot, tendon, dan tulang
Berdasarakan stadium
a.
b.

Stage 1
Lapisan epidermis utuh, namun terdengan eritema atau perubahan warna
Stage 2
Kehlangan kulit superficial dengan kerusakan lapisan epidermis dan dermis, eritema

c.

di jaringan yang nyeri panas, dan edema.


Stage 3
Kehilangan jaringan sampai dengan jaringan sub kutan, dengan terbentuknya

d.

rongga (cavity), eksudat sedang samapi banyak


Stage 4
Hilangnya jaringan sub kutan dengan terbentuknya rongga yang melibatkan otot,
tendon, dan atau tulang. Eksudat sedang sampai banyak.

Berdasarkan mekanisme terjadinya :


a.Luka Insisi (incised wounds), terjadi karena teriris oleh instrument yang tajam. Misalnyayang
terjadi akibat pembedahan. Luka bersih (aseptic), biasanya tertutup oleh sutura atau
setelahseluruh pembuluh darah yang luka di ikat (ligasi).
b.Luka memar (contusion Wound), terjadi akibat benturan oleh suatu tekanan dan
dikarakteristikan oleh cedar pada jaringan lunak, perdarahan dan bengkak
c. Luka lecet (Abraded Wound), terjadi akibat kulit bergesekan dengan benda lain yang
biasanya dengan benda yang tidak tajam.
d.Luka tusuk (punctured wound), terjadi akibat adanya benda seperti peluru atau pisau yang
masuk kedalam kulit dengan diameter yang kecil.
e.Luka gores (lacerated wound), terjadi akibat benda yang tajam seperti oleh kaca / kawat.

f. Luka tembus (penetrating wound), luka yang menembus organ tubuh biasanya pada bagian
awal luka masuk diameternya kecil tetapi pada bagian ujung biasanya lukanya akan
melebar.
g.Luka bakar (Combutsio), luka yang disebabkan oleh trauma panas, listrik, kimiawi, radiasi
atau suhu dingin yang ekstrim
Berdasarkan penampilan
a. Nekrotik, (hitam), Eschar yang mengeras dan nekrotik, mungkin kering atau lembab
b. Sloughy (kuning), jaringan mati yang fibrous
c. Terinfeksi (kehijauan), terdengan tanda-tanda klinis adanya infeksi seperti nyeri,
panas, bengkak, kemerahan dan peningkatan eksudat.
d. Granulasi (merah), jaringan granulasi yang sehat
e. Epitalisasi (pink), terjadi epitelisasi.
Proses Fisiologis Penyembuhan Luka
Proses fisiologis Penyembuhan Luka dapat dibagi ke dalam 4 fase utama, yaitu:
a. Hemostasis
Hemostatis : Pada fase ini terjadi peningkatan perlekatan platelet. Platelet akan bekerja
untuk menutup kerusakan pembuluh darah. Jaringan yang rusak akan merangsang
adenosin diphosphat (ADP) membentuk platelet. Platelet yang dibentuk berfungsi untuk
merekatkan kolagen

dan mensekresi faktor yang merangsang pembekuan darah.

Pembekuan darah diawali dengan produksi trombin yang akan membentuk fibrin dari
fibrinogen. Hubungan fibrin diperkuat oleh agregasi platelet menjadi hemostatik yang
stabil. Platelet juga mensekresi platelet yang terkait dengan faktor pertumbuhan jaringan
(platelet-associated growth factor). Hemostatis terjadi dalam waktu beberapa menit
setelah injuri kecuali ada gangguan faktor pembekuan.
b. Inflamasi
Pada proses penyembuhan ini biasanya terjadi proses pembersihan debris.

Respon

jaringan yang rusak : jaringan yang rusak dan sel mast melepaskan plasma dan
polimorfonuklear ke sekitar jaringan.

Neutropil memfagositosis

mikroorganisme dan

berperan sebagai pertahanan awal terhadap infeksi. Jaringan yang rusak juga akan
menyebabkan vasodilatasi dari pembuluh darah sekeliling yang masih utuh serta
meningkatkan

penyediaan darah ke daerah tersebut, sehingga menjadi merah dan

hangat. Permeabilitas kapiler-kapiler

darah meningkat dan cairan yang kaya akan

protein mengalir kedalam spasium intertisial, menyebabkan edema lokal dan mungkin
hilangnya fungsi di atas sendi tersebut. Makrofag mengadakan migrasi ke luar dari
kapiler dan masuk ke dalam darah yang rusak sebagai reaksi terhadap agens kemotaktik
yang dipacu oleh adanya cedera. Makrofag mampu memfagosit bakteri. Makrofag juga
mensekresi faktor pertumbuhan seperti faktor

pertumbuhan fibrobalas (FGF), faktor

pertumbuhan epidermal (EGF), faktor pertumbuhan beta trasformasi (tgf) dan interleukin1 (IL-1).
c. Fase Proliferasi
Fibroblas meletakkan subtansi dasar dan serabut-serabut kolagen serta pembuluh darah
baru mulai menginfiltrasi luka. Begitu kolagen diletakkan, maka terjadi peningkatan yang
cepat pada

kekuatan regangan luka. Kapiler-kapiler dibentuk oleh tunas endothelial,

suatu proses yang disebut angiogenesis. Bekuan fibrin yang dihasilkan pada fase I
dikeluarkan begitu kapiler baru menyediakan enzim yang diperlukan. Tanda-tanda
inflamasi mulai berkurang. Jaringan yang dibentuk dari gelung kapiler baru, yang
menopang

kolagen

dan

subtansi

dasar,

disebut

jaringan

granulasi

karena

penampakannya yang granuler dan warnanya merah terang. Fase ini berlangsung
selama 3-24 hari.
d. Maturasi (Remodelling)
Pada tahap maturasi terjadi proses epitelisasi, kontraksi dan reorganisasi jaringan ikat.
Setiap cedera yang mengakibatkan hilangnya kulit, sel epitel pada pinggir luka dan sisasisa folikel rambut, serta glandula sebasea dan glandula sudorivera membelah dan mulai
bermigrasi diatas jaringan glandula baru. Karena jaringan tersebut hanya dapat bergerak
diatas jaringan yang hidup, maka mereka hidup dibawah eskar atau dermis yang
mengering. Apabila jaringan tersebut bertemu dengan sel-sel epitel lain, yang juga
mengalami migrasi, maka mitosis berhenti, akibat inhibisi kontak. Kontraksi luka
disebabkan karena miofibroblas kontraktil membantu menyatukan tepi-tepi luka. Terdapat
suatu penurunan progresif alam vaskularitas jaringan parut, yang berubah dalam
penampilannya dari merah kehitaman menjadi putih. Serabut-

serabut kolagen

mengadakan reorganisasi dan kekuatan regangan meningkat (OLeary, 2007).


Faktor-Faktor yang dapat Penghambat Penyembuhan Luka
Meskipun proses penyembuhan luka sama bagi setiap penderita, ada banyak faktor yang
mempengaruhi proses penyembuhan luka, yaitu (Morrison, 2004):
a. Faktor intrinsik
Faktor intrinstik meliputi faktor-

faktor patofisiologi umum (misalnya, gangguan

kardiovaskuler, malnutrisi, gangguan metabolik dan endokrin, penurunan daya tahan


terhadap infeksi) dan faktor fisiologi normal yang berkaitan dengan usia dan kondisi
lokal yang merugikan pada tempat luka (misalnya, eksudat yang berlebihan,
dehidrasi, infeksi luka, trauma kambuhan, penurunan suhu luka, pasokan darah yang
buruk, edema, hipoksia lokal, jaringan nekrotik, pengelupasan jaringan yang luas,
produk metabolik yang berlebihan, dan benda asing).
b. Faktor ekstrinsik

Faktor ekstrinsik meliputi penatalaksanaan luka yang tidak tepat (misalnya,


pengkajian luka yang tidak tepat, penggunaan bahan perawatan luka primer yang
tidak sesuai, dan teknik penggantian balutan yang ceroboh).
PENATALAKSANAAN
1. Obat
Obat anti inflamasi (seperti steroid dan aspirin), heparin dan anti neoplasmik
mempengaruhi penyembuhan luka. Penggunaan antibiotik yang lama dapat membuat
seseorang rentan terhadap infeksi luka.
- Steroid : Akan menurunkan mekanisme peradangan normal tubuh terhadap cedera.
- Antikoagulan : Mengakibatkan perdarahan
- Antibiotik : Efektif diberikan segera sebelum pembedahan untuk bakteri penyebab
kontaminasi yang spesifik. Jika diberikan setelah luka pembedahan tertutup, tidak
akan efektif akibat koagulasi intravaskular.
2. Perawatan luka
Perawatan luka adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk merawat luka agar
dapat mencegah terjadinya trauma (injuri) pada kulit membran mukosa atau jaringan lain,
fraktur, luka operasi yang dapat merusak permukaan kulit. Serangkaian kegiatan itu
meliputi pembersihan luka, memasang balutan, mengganti balutan, pengisian (packing)
luka, memfiksasi balutan, tindakan pemberian rasa nyaman yang meliputi membersihkan
kulit dan daerah drainase, irigasi, pembuangan drainase, pemasangan perban.

Komplikasi Penyembuhan Luka


Menurut Potter & Perry (2006) komplikasi penyembuhan luka meliputi :
a. Infeksi
Invasi bakteri pada luka dapat terjadi pada saat trauma, selama pembedahan atau
setelah pembedahan. Gejala dari infeksi sering muncul dalam 2-7 hari setelah
pembedahan. Gejalanya berupa infeksi termasuk adanya purulen, peningkatan
drainase, nyeri, kemerahan, bengkak disekeliling luka, peningkatan suhu, dan
peningkatan jumlah sel darah putih.
b. Dehisen
Dehisen adalah terpisahnya lapisan luka secara parsial atau total. Dehisen sering
terjadi pada luka pembedahan abdomen dan terjadi setelah regangan mendadak,
misalnya batuk, muntah atau duduk tegak di tempat tidur.
c. Eviserasi
Terpisahnya lapisan luka secara total dapat menimbulkan eviserasi (keluarnya organ
viseral melalui luka yang terbuka). Bila terjadi evisersasi, perawat meletakkan handuk

steril yang dibasahi dengan salin normal steril di atas jaringan yang keluar untuk
mencegah masuknya bakteri dan kekeringan pada jaringan tersebut.
d. Fistul
Fistul adalah saluran abnormal yang berada diantara dua buah organ atau diantara
organ dan bagian luar tubuh.
ASUHAN KEPERAWATAN LUKA
A. PENGKAJIAN LUKA
1. Anamnesa
- Tggl & waktu pengkajian Mengetahui pkembangan penyakit
- Biodata nama,umur,jenis kelamin,pekerjaan,alamat
- Keluhan utama
- Riwayat kesehatan kes.sekarang (PQRST), riwayat penyakit dahulu, status
kes.keluarga & status pkembangan
- Aktivitas sehari-hari
- Riwayat psikososial
2. Pemeriksaan Kulit
Menurut Bursaids (1998), teknik pemeriksaan Kulit dpt dilakukan melalui metode
a.

inspeksi & palpasi.


Melihat penampilan luka (tanda penyembuhan luka) seperti :
- Adanya perdarahan
- Proses inflamasi (kemerahan & pembengkakan)
- Proses granulasi jaringan (yaitu menurunnya reaks inflamasi pada saat
pembekuan berkurang)
Adanya parut atau bekas luka (scar) akibat fibroblas dlm jaringan granulasi

mengeluarkan kolagen yang membentuknya serta berkurangnya ukuran parut


b.

yang merupakan indikasi terbentuknya keloid.


Melihat adanya benda asing atau bahan2 pengontaminasi pada luka mis : tanah,

c.
d.

pecahan kaca atau benda asing lain


Melihat ukuran, kedalaman & lokasi luka
Adanya dariainase, pembengkakan, bau yang kurang sedap. & nyeri pada daerah

luka
B. DIAGNOSSA KEPERAWATAN
1. Risiko terjadi infeksi berhubungan dengan kurangnya perawatan pada daerah luka
2. Nyeri akibat terputusnya kontinuitas jaringan
3. Kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan Cedera fisik, kimia, biologis
4. Risiko kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan Imobilisasi fisik
C. INTERVENSI KEPERAWATAN
Tujuan :
1. Meningkatkan hemostasis luka
2. Mencegah infeksi
3. Mencegah cedera jaringan yang lebih lanjut
4. Meningkatkan penyembuhan luka
5. Mempertahankan integritas kulit
6. Mendengankan kembali fungsi normal
7. Memperoleh rasa nyaman (mengurangi nyeri)
Rencana tindakan

1. Mencegah terjadinya infeksi dengan cara menjaga atau mempertahankan agar luka
tetap dalam keadaan bersih
2. Mengurangi nyeri & memperceoat proses penyembuhan luka dengan cara
melakukan perawatan luka secara aseptik
D. EVALUASI
1. Evaluasi terhadap masalah luka secara umum dpt dinilai dari sempurnanya prose
penyembuhan luka, tidak ditemukan adanya tanda radang, tidak ada perdarahan, luka
dlm keadaan bersih & tidak ada keloid/skiatrik
2. Mengevaluasi penyembuhan luka secara terus menerus yang dilakukan selama
mengganti balutan, saat terapi diberikan & saat klien berusaha melakukan sendiri
3.

perawatan lukanya
Mengevaluasi setiap intervensi yang dilakukan untuk mempercepat penyembuhan

4.

luka & membandingkan kondisi luka dengan data pengkajian


Mencari tahu kebutuhan klien & keluarga tentang peralatan bantuan tambahan

DAFTAR PUSTAKA
Core Principle and Practice of Medical Surgical Nursing. Ledmanns. Kapita Selekta
Kedokteran. Edisi II. Medica Aesculaplus FK UI. 1998.
Keperawatan Medikal Bedah. Swearingen. Edisi II. EGC. 2001.
Keperawatan Medikal Bedah. Charlene J. Reeves, Bayle Roux, Robin Lockhart. Penerjemah
Joko Setyono. Penerbit Salemba Media. Edisi I. 2002.
Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Bagian Bedah Staf Pengajar UI. FK UI.