Anda di halaman 1dari 8

Makalah Seminar Kerja Praktek

PREVENTIVE MAINTENANCE MASTER STATION SCADA


(SUPERVISORY CONTROL AND DATA AQUISITION)
PT. PLN (PERSERO) P3B JB REGION JAWA TENGAH DAN
DIY
Nur Hidayat Arief 1, Tejo Sukmadi, Ir., MT.2
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Diponegoro
Jalan Prof. Sudharto, Tembalang, Semarang, Indonesia

Email: nuharief@gmail.com
Abstrak
Dalam memenuhi kebutuhan konsumen tenaga listrik se-Jawa Bali diperlukan suatu sistem yang dapat
menghubungkan masing-masing pembangkit, gardu listrik, dan pusat pengendali se-Jawa Bali. Karena letak
masing-masing pembangkit, gardu induk serta pengendali (control center) saling berjauhan, maka diperlukan
suatu sistem interkoneksi yang menghubungkan semua itu sehingga dapat memberikan keuntungan dalam
pemenuhan kebutuhan daya listrik se-Jawa Bali.
Untuk itu dikembangkanlah suatu sistem yang disebut SCADA (Supervisory Control and Data
Acquistion) yang dapat diartikan sebagai suatu sistem pengawasan, pengendalian, dan pengumpulan data.
Dengan sistem scada ini maka data-data yang diperoleh dari gardu induk maupun dari pusat pembangkit dapat
secara otomatis dikirimkan menuju pusat pengendali dengan cepat, akurat, dan handal.
Sistem SCADA ini diperlukan untuk melaksanakan pengusahaan tenaga listrik terutama pengendalian
operasi secara realtime. Suatu sistem SCADA terdiri dari sejumlah RTU (Remote Terminal Unit), sebuah
Master Station/ACC (Area Control Center), dan jaringan telekomunikasi data antara RTU dan ACC.
Kata Kunci : SCADA, Remote Terminal Unit, Master Station

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tenaga listrik merupakan kebutuhan yang
sangat vital dan dalam kehidupan manusia
sehari-hari baik untuk kepentingan pribadi
maupun dalam kehidupan bermasyarakat.
Selain itu tenaga listrik juga sangat dibutuhkan
untuk industri-industri besar maupun industri
kecil, perkantoran, pertokoan dan lain
sebagainya.
Tenaga listrik harus selalu tersedia dalam
jumlah yang cukup pada waktu yang tepat,
dengan keandalan yang tinggi dan mempunyai
mutu yang baik. Untuk memenuhi hal tersebut
diperlukan pengaturan yang baik dalam
persediaan dan dalam penyaluran sistem
tenaga listrik secara merata dan keandalan
sistem dan mutu yang baik sangat dibutuhkan
suatu sistem yang terintegrasi.
Dalam rangka meningkatkan mutu yang
baik dan kehandalan sistem pasokan listrik,
maka PT. PLN (Persero) menggunakan sistem
SCADA (Supervisory Control And Data
Acquisition) sebagai pengawasan kontrol dan
pengambilan data dari jarak jauh, mulai dari
pengambilan data pada peralatan pembangkit
1
2

Mahasiswa Jurusan Teknik Elektro UNDIP Semarang


Staf Pengajar Jurusan Teknik Elektro UNDIP Semarang

atau Gardu Induk, pengolahan informasi yang


diterima, sampai reaksi yang ditimbulkan dari
hasil pengolahan informasi.
Dengan
adanya
sistem
SCADA
penyampaian dan pemrosesan data dari sistem
tenaga listrik akan lebih cepat diketahui oleh
operator (dispatcher). Informasi pengukuran
dan status indikasi dari sistem tenaga listrik
dikumpulkan dengan menggunakan peralatan
yang ditempatkan di Gardu Induk (GI) dan di
pusat pembangkit. Kontrol penyaluran sistem
peralatan memungkinkan penyampaian data
secara remote. Data dapat dilakukan secara
manual atau dengan perhitungan. Data yang
baru dapat juga dihitung dan disimpan dalam
database melalui pengumpulan nilai secara
otomatis. Penyampaian data dan pemrosesan
data dilakukan secara real time. Kecepatan dan
keakuratan
data
informasi
sangatlah
dibutuhkan pada pengaturan sistem tenaga
listrik, sehingga pusat pengatur tenaga listrik
dalam melaksanakan tugas pengaturan
didukung oleh peralatan yang berbasis
komputer
untuk
membantu
operator
(dispatcher) dalam melaksanakan tugasnya.

breaker) sisi 150 kV, baik untuk Line


Feeder maupun untuk Trafo Distribusi.

1.2 Tujuan
Adapun maksud dan tujuan dari laporan
Kerja Praktek ini adalah :
1. Mengetahui Sistem SCADA di PT. PLN
(Persero) P3B JB RJTD.
2. Mengetahui sistem pemeliharaan Master
Station SCADA di wilayah kerja PT.
PLN (Persero) P3B JB RJTD.

Gambar 1. Proses Telecontrol

2. Telesignaling atau teleindikasi, yaitu


mengumpulkan
informasi
mengenai
kondisi sistem dan indikasi operasi,
kemudian menampilkannya pada pusat
kontrol secara real time. Setiap perubahan
kondisi sistem langsung dapat diketahui
tanpa menunggu laporan dari Operator di
Gardu Induk dan pusat tenaga listrik.
Informasi indikasi perlu untuk mengetahui
bahwa operasi yang dijalankan (seperti
pemutusan Circuit Breaker) telah berhasil.
Keadaan yang dapat dipantau adalah
sebagai berikut :
a. Status PMT/PMS.
b. Alarm-alarm seperti proteksi dan
peralatan lain.
c. Posisi kontrol jarah jauh.
d. Posisi perubahan tap transformator.
e. Titik pengesetan unit pembangkit
tertentu.

1.3 Batasan Masalah


Untuk menyederhanakan permasalahan
dalam makalah Kerja Praktek ini maka
diberikan batasan-batasan sebagai berikut :
1. Hanya membahas Preventive Maintenance
Master Station SCADA pada PT. PLN
(Persero) P3B JB RJTD.
2. Tidak membahas Sistem SCADA dan
Master Station SCADA secara mendetail.
II. SISTEM SCADA (Supervisory Control
and Data Acquisition)
Pengaturan tenaga listrik pada sistem
interkoneksi
dilaksanakan
oleh
pusat
pengaturan sistem tenaga listrik. Dalam
pelaksanaanya, pusat pengatur sistem tenaga
listrik PT.PLN (Persero) P3B Region Jateng
dan DIY khususnya dispatcher membutuhkan
peralatan yang berbasis komputer sehingga
data informasi yang dibutuhkan lebih cepat
dan akurat. Sistem pengaturan berbasis
komputer yang digunakan adalah SCADA
yang terdiri dari perlengkapan hardware dan
software.
Suatu sistem SCADA terdiri dari sejumlah
RTU (Remote Terminal Unit), sebuah Master
Station/ACC (Area Control Center), dan
jaringan telekomunikasi data antara RTU dan
ACC. RTU dipasang di setiap Gardu Induk
atau Pusat Pembangkit yang hendak dipantau.
RTU ini bertugas untuk mengetahui setiap
kondisi peralatan tegangan tinggi melalui
pengumpulan besaran-besaran listrik, status
peralatan, dan sinyal alarm yang kemudian
diteruskan ke ACC melalui jaringan
telekomunikasi data.

Gambar 2. Proses Telesignaling

3. Telemetering,
yaitu
melaksanakan
pengukuran besaran-besaran sistem tenaga
listrik pada seluruh bagian sistem, lalu
menampilkannya pada Pusat Kontrol.
Besaran-besaran yang dapat diukur adalah
sebagai berikut:
a. Tegangan bus bar.
b. Daya aktif dan reaktif unit pembangkit.
c. Daya aktif dan reaktif trafo 500/ 150
KV, 150/30 KV dan 150/22 KV.
d. Daya
aktif
dan
reaktif
penghantar/penyulang.
e. Frekuensi Sistem
Besaran seperti daya, arus dan tegangan di
seluruh
bagian
sistem
nantinya
berpengaruh pada perencanaan maupun
pelaksanaan operasi sistem tenaga.

2.1 Fungsi Sistem SCADA

Fungsi utama sistem SCADA ada 3


macam :
1. Telecontrolling,
yaitu
pengoperasian
peralatan switching pada Gardu Induk atau
Pusat Pembangkit yang jauh dari pusat
kontrol. Telecontrolling digunakan untuk:
Membuka dan menutup PMT (circuit

Gambar 3. Proses Telemetering

2.2 Komunikasi SCADA

2.2.3 Sistem Jaringan Telepon


Agar saluran telekomunikasi baik yang
berupa saluran dari Perusahaan Umum
Telekomunikasi, PLC atau saluran Radio dapat
dimanfaatkan oleh sebanyak mungkin orang,
maka pada ujung-ujung saluran ini dipasang
Sentral Telepon Lokal Otomat (STLO).
Pesawat-pesawat cabang dari setiap
STLO dapat berbicara intern melalui STLO
saja. Sedangkan jika akan berbicara dengan
pesawat cabang pada STLO lainnya harus
melalui
saluran
telekomunikasi
yang
menghubungkan kedua STLO.
2.2.4 Sistem Fiber Optik
Dengan adanya teknologi fiber optik
(FO), perusahaan listrik menggunakan saluran
FO untuk keperluan operasinya, karena bisa
dipasang dalam kawat tanah pelindung
sambaran petir dari saluran transmisi. Pada
saluran transmisi yang sudah beroperasi tetapi
belum ada saluran FO-nya, saluran FO bisa
diberikan pada kawat tanah dalam keadaan
operasi atau dipasang di bawah kawat fasa.
Kelebihan dari FO ini bila dibandingkan
dengan PLC atau radio adalah sinyal yang
dikirim bisa lebih banyak dan lebih tahan dari
interferensi sinyal lain karena media
pengirimannya berupa cahaya.

Saluran komunikasi pada sistem SCADA


dapat berupa kabel kawat, sistem gelombang
mikro ataupun sistem PLC. Sirkuit komunikasi
manapun dapat digunakan untuk transmisi data
sejauh mempunyai ratio sinyal-noise dan lebar
pita yang mampu dilewati oleh sinyal-sinyal
data dengan rate yang memadai.
2.2.1 Sistem Radio
Sistem radio banyak dipakai untuk
keperluan komunikasi operasi sistem tenaga
listrik. Sistem radio yang banyak dipakai
adalah :
a. Sistem Simplex satu atau dua frekuensi
Yaitu frekuensi untuk penerima
(receiver) dan Frekuensi untuk pengirim
(transmitter). Sistem radio simplex
dengan satu atau dua frekuensi ini
kebanyakan
memakai
modulasi
frekuensi sehingga distorsi relatif tidak
banyak tetapi jarak komunikasinya
pendek.
b. Sistem Duplex
Sistem ini selalu digunakan frekuensi
yang lain antara penerima dan pengirim
walaupun tanpa repeater, sehingga
penerima dan pengirim dapat berfungsi
bersamaan. Dibandingkan dengan sistem
simplex, sistem duplex memerlukan
lebih banyak alokasi frekuensi.
c. Sistem Single Side Band (SSB)
Sistem ini mengguanakan modulasi
amplitudo dengan hanya satu band yang
dipakai, upper atau lower side band.
Sistem ini kualitas suaranya tidak sebaik
yang mengguanakan modulasi frekuensi,
tetapi jangkauannya lebih jauh.

2.3 Konfigurasi Sistem SCADA

Pada dasarnya sistem scada terdiri dari


Control Center (Master Station), konfigurasi
sistem komunikasi dan RTU (Remote Station).
Variasi
konfigurasi
yang
digunakan
bergantung pada sistem yang diperlukan,
ketersediaan kanal komunikasi dan faktor
harga.
Beberapa
konfigurasi
sistem
komunikasi SCADA yang bisa digunakan
antara lain:
a) Konfigurasi titik ke titik (point to point)
b) Konfigurasi banyak titik ke satu titik
(multipoint to point)
c) Konfigurasi
banyak
titik-bintang
(multipoint - star)
d) Konfigurasi
banyak
titik-saluran
bersamaan (partyline)
e) Konfigurasi banyak titik-cincin (loop)
f) Konfigurasi gabungan

2.2.2 Sistem PLC (Power Line Carrier)


Sistem
telekomunikasi
yang
menggunakan SUTT dan SUTET sebagai
saluran, biasa disebut Power Line Carrier
(PLC) dan hanya dipakai di lingkungan
perusahaan listrik. Dalam sistem PLC, SUTT
atau SUTET selain menyalurkan energi listrik
juga
mengirimkan
sinyal
komunikasi
telekomunikasi. Sinyal telekomunikasi yang
disalurkan adalah untuk pembicaraan dan juga
untuk data. Untuk keperluan ini harus ada
peralatan khusus yang berfungsi memasukkan
(mencampur)
dan
mengeluarkan
(memisahkan) sinyal telekomunikasi di ujungujung saluran transmisi dari frekuensi 50 Hz
yaitu frekuensi energi listrik yang disalurkan
melalui saluran transmisi.

Human Machine Interface (HMI)


Peralatan
pendukung
(UPS,

(a)

Telekomunikasi)
Front-end
komputer
merupakan
komputer yang menangani pembacaan data
dan memindahkan kumpulan data ke komputer
utama serta menangani output dari komputer
utama. Data-data dari Gardu Induk atau pusat
listrik dikirimkan ke pusat pengatur beban atau
control center melalui saluran komunikasi.
Data ini diterima oleh Front-end komputer dan
selanjutnya
didistribusikan
ke
fungsi
pengolahan, baik ke master komputer maupun
langsung ke Mimic Board dan peralatan
monitor (HMI) yang ada diruang pengendalian
sistem.
Dalam pengoperasian tenaga listrik,
seorang Dispatcher membutuhkan alat bantu
untuk untuk mempermudah pengaturan tenaga
listrik. Untuk kepentingan dimaksud di atas,
Dispatcher akan dibantu dengan sistem
SCADA (Supervisory Control and Data
Acquisition) yang berada di Control Center.
Master
Station
mempunyai
fungsi
melaksanakan
telekontrol
(telemetering,
telesignal, dan remote control) terhadap
remote station. Sistem SCADA terdiri dari 3
bagian utama yaitu: Master Station, Link
Komunikasi Data, dan Remote Station.Remote
Station adalah stasiun yang dipantau, atau
diperintah dan dipantau oleh master station,
yang terdiri dari gateway, IED, local HMI,
RTU, dan meter energi. Blok diagram sistem
SCADA dapat dilihat pada Gambar di bawah.

(b)

(c)

(d)

(e)

(f)
Gambar 4. (a) Konfigurasi Point to Point, (b)
Konfigurasi Multipoint to Point, (c) Konfigurasi
Multipoint - Star, (d) Konfigurasi Partyline, (e)
Konfigurasi Loop, (f) Konfigurasi Gabungan

2.4 Peralatan SCADA

Pada sistem SCADA terdapat komponenkomponen peralatan seperti Master Station,


HMI (Human Machine Interface), dan RTU
(Remote Terminal Unit).
2.4.1 Master Station
Master station berfungsi untuk mengolah
data yang diterima dari sistem tenaga listrik
(Pusat listrik, Gardu Induk dll) yang dimonitor
oleh operator melalui peralatan bantu yang
disebut Human Machine Interface (HMI).
Master station terdiri dari :
Komputer utama (Main Computer)
Front-end computer

Gambar 5. Blok Diagram Sistem SCADA

Master station merupakan kumpulan


perangkat keras dan lunak yang ada di control
center. Biasanya desain untuk sebuah master
station tidak sama.
2.4.2 Human Machine Interface (HMI)
Human Machine Interface adalah suatu
peralatan diruang control yang berfungsi
sebagai perantara antara operator (dispatcher)
dengan sistem komputer. Dengan adanya

Human Machine Interface memudahkan


operator memonitor sistem jaringan tenaga
listrik yang ada di wilayahnya. Peralatan
Human Machine Interface diantaranya adalah:
VDU Monitor, Keyboard, Printer, Logger,
Recorder, Hard Copy dll.
2.4.3 Remote Terminal Unit (RTU)
Remote Terminal Unit (RTU) berfungsi
untuk mengumpulkan data status dan
pengukuran peralatan tenaga listrik, kemudian
mengirimkan data dan pengukuran tersebut ke
Master Station (pusat control) setelah diminta
oleh Master Station. SCADA untuk dimonitor
oleh operator melalui peralatan bantu yang
disebut Human Machine Interface. Data-data
dari Gardu Induk atau pusat listrik dikirimkan
ke pusat pengatur beban atau control center
melalui saluran komunikasi. Disamping itu
RTU berfungsi melaksanakan perintah dari
master station (remote control).
RTU terpasang pada setiap Gardu Induk
(GI) atau pusat pembangkit yang masuk dalam
sistem jaringan tenaga listrik. Remote
Terminal Unit (RTU) terdiri dari komponenkomponen antara lain:
Central Processing Unit (CPU)
Memory
Modul Input / Output (I / O)
Modul Power supply

d. Ijin kerja pemeliharaan;


e. Kelengkapan peralatan kerja;
Peralatan yang digunakan untuk pengujian
master station yaitu:
a. Tools kit dan Tools proprietary;
b. AVO meter;
c. Alarm generator;
d. LAN tester;
e. Firewall tester;
f. Earth resistance tester;
g. Stopwatch;
h. Laptop;
3.2.1 Jenis-Jenis Pemeliharaan
Pemeliharaan dapat dibagi menjadi
empat jenis pemeliharaan, yaitu:
1. Pemeliharaan Preventive (Time Base
Maintenance)
Pemeliharaan preventive dilaksanakan
untuk mencegah terjadinya kerusakan
peralatan secara tiba-tiba dan juga dapat
mempertahankan unjuk kerja yang
optimum sesuai unsur teknisnya.
Pemeliharaan ini disebut juga dengan
pemeliharaan berdasarkan waktu (Time
Base Maintenance). Pemeliharaan ini
dilakukan secara berkala berdasarkan
waktu yang direncanakan.
2. Pemeliharaan Prediktif (Condition
Base Maintenance)
Pemeliharaan
prediktif
adalah
pemeliharaan yang dilakukan dengan
cara mempredisi kondisi suatu peralatan
listrik,
apakah
dan
kapan
kemungkinannya
peralatan
listrik
tersebut
menuju
kegagalan.
Pemeliharaan ini disebut juga dengan
pemeliharaan
berdasarkan
kondisi
(conditional maintenance).
3. Pemeliharaan Korektif (Corective
maintenance)
Pemeliharaan
korektif
adalah
pemeliharaan yang dilakukan secara
terencana ketika peralatan listrik
mengalami kelainan atau unjuk kerja
rendah pada saat menjalankan fungsinya
dengan tujuan untuk mengembalikan
pada kondisi semula disertai perbaikan
dan
penyempurnaan
instalasi.
Pemeliharaan ini disebut juga dengan
pemeliharaan
berencana
(curative
maintenance), yang biasa berupa trouble
shooting atau penggantian part atau
bagian yang rusak atau kurang berfungsi
yang dilaksanakan dengan terencana.

III. PREVENTIVE MAINTENANCE MASTER


STATION SCADA PADA PT. PLN
(PERSERO) P3B JB RJTD

3.1 Pengertian Preventive Maintenance


atau Pemeliharaan
Preventive Maintenance atau biasa di
sebut pemeliharaan dalam instalasi tenaga
listrik adalah proses kegiatan untuk menjaga
dan mempertahankan suatu peralatan instalasi
tenaga listrik agar tetap bekerja dengan baik
dan sesuai dengan fungsinya sehingga dapat
mencegah terjadinya gangguan yang dapat
menyebabkan terjadinya kegagalan peralatan.
3.2 Pedoman Pemeliharaan
Pengoperasian dan pemeliharaan Master
Station harus mengacu kepada dokumendokumen terkait misalnya Manual Book. Yang
harus diperhatikan dalam pengoperasian dan
pemeliharaan Master Station adalah sebagai
berikut:
a. Kelengkapan
dokumen
prosedur
pengoperasian;
b. Hak akses yang diperlukan untuk
mengoperasikan aplikasi master station;
c. Kelengkapan dokumen wiring instalasi;

Tabel 1. In Service Function Check Master Station

4. Pemeliharaan Darurat (Breakdown


maintenance)
Kegiatan pemeliharaan yang dilakukan
apabila terjadi kerusakan mendadak
yang waktunya tidak dapat ditentukan
dan tidak dapat direncanakan karena
sifatnya darurat.
3.2.2 In Service Inspection
In Service Inspection adalah kegiatan
pemeliharaan dalam bentuk inspeksi yang
dilakukan pada saat Master Station dalam
kondisi beroperasi (in service). Kegiatan ini
dilakukan setiap hari dengan menggunakan
formulir
standar
(checklist).
Adapun
komponen Master Station yang harus
diperhatikan pada In Service Inspection
adalah:
a. Kondisi Lingkungan
Suhu Ruangan, Kelembaban,kebersihan,
dan Lampu Penerangan
b. Kondisi Fungsi Server
Server SCADA
Server Sub Sistem Komunikasi
Server Historikal
Server EMS
Server DTS
c. Kondisi Fungsi Workstation
Workstation Dispatcher
Workstation Engineer
Workstation Update Database
Workstation DTS
d. Kondisi Fungsi LAN
Switch, Router, dan Network/LAN
e. Kondisi Fungsi Peripheral
Power Supplay
GPS
Master Clock
Storage
Mimic/Layar Tayang
Projector
Static Display
Recorder
Printer
f. Kondisi Fungsi Penunjang
Hotline, Voice Recorder, Server Offline
Database, Server Pengukur Frekuensi

3.2.4 In Service Measurement


Pekerjaan
ini
dilakukan
saat
pemeliharaan rutin maupun saat investigasi
ketidaknormalan.
Adapun
komponenkomponen Master Station yang perlu
diperhatikan pada In Service Measurement
dapat dilihat pada Tabel 4.2 adalah formulir In
Service Measurement.
Tabel 2. In Service Measurement

3.2.3 In Service Function Check


Pekerjaan
ini
dilakukan
saat
pemeliharaan rutin (1 bulan sekali) maupun
saat investigasi ketidaknormalan. Komponenkomponen In Service Function Check dapat
dilihat pada Tabel 1.

Tabel 5. Standard dan Rekomendasi Hasil Pemeliharaan


In Service Measurement Master Station

3.3 Analisa Hasil Pemeliharaan


Berikut adalah standard dan rekomendasi
hasil pemeliharaan :
Tabel 3. Standard dan Rekomendasi Hasil Pemeliharaan
In Service Inspection Master Station

IV. PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil kerja praktek yang telah
penulis laksanakan maka penulis dapat
menyimpulkan bahwa :
1. Pemeliharaan Master Station SCADA
bertujuan untuk menjaga keandalan dan
mencegah kerusakan/kegagalan yang akan
terjadi pada Sistem SCADA. Serta untuk
menambah umur kerja Sistem SCADA
tersebut.
2. Terdapat 4 jenis pemeliharaan yang
dilakukan, yaitu predictive maintenance,
preventive
maintenance,
corrective
maintenance,
dan
breakdown
maintenance.
3. Preventive maintenance Master Station
SCADA bertujuan untuk mencegah
kerusakan dan kegagalan internal yang
mungkin terjadi pada Sistem SCADA
yang akan menggangu kinerjanya dan
mengurangi umur kerja Sistem SCADA
tersebut, dan dilakukan pada saat Peralatan
SCADA beroperasi dilakukan secara
harian, mingguan, ataupun bulanan.
4. Kondisi lingkungan seperti suhu ruangan,
kelembaban, kebersihan, dan Lampu
Penerangan merupakan bagian dari
preventive maintenance yang perlu dijaga
kondisinya.

Tabel 4. Standard dan Rekomendasi Hasil Pemeliharaan


In Service Function Check Master Station

5. Bagian Peralatan Master Station yang


perlu diberikan preventive maintenance
yaitu Server, Workstation, LAN, Switch
dan Router, Peripheral, dan komponen
penunjang lainnya. Seperti PSU, GPS,
Storage, Printer, VDU, Master Clock.
Recorder, dan lain sebagainya.
4.2 Saran
Adapun saran yang penulis sampaikan
dalam laporan ini, meliputi :
1. Laporan ini dapat dikembangkan lebih
lanjut dengan membahas lebih sepesifik
peralatan pada sistem SCADA ( Remote
Terminal Unit, Power Line Carrier,
Multiplexer, dll ).
2. Selain itu dapat dibahas pula mengenai
settingan pada RTU, Sistem Proteksi pada
Sistem SCADA ini, jaringan Komunikasi
Datanya, dll.

BIODATA PENULIS
Nur Hidayat Arief lahir di
Semarang pada 28 Januari
1990. Penulis mengawali
pendidikannya di TK Yesus
Semarang,
kemudian
melanjutkan di SD Marsudirini
Semarang selama 6 Tahun.
Setelah itu melanjutkan ke
SMP Negeri 7 Semarang. Tahun berikutnya
melanjutkan di SMA Negeri 3 Semarang. Saat
ini sedang menempuh pendidikan tinggi di
Jurusan
Teknik
Elektro
Universitas
Diponegoro. Konsentrasi Energi Listrik.
Semarang,

Februari 2013

Menyetujui,
Dosen Pembimbing

DAFTAR PUSTAKA
[1] Bahan Ajar Pemeliharaan Peralatan Gardu
Induk : PT PLN (Persero) Penyaluran dan
Pusat Pengatur Beban Jawa Bali.
[2] http://dunialistrik.blogspot.com/2010/02/b
elajar-dasar-scada.html
[3] http://dunialistrik.blogspot.com/2010/01/d
aftar-istilah-scada.html
[4] http://dunialistrik.blogspot.com/2010/01/s
cada.html
[5] http://www.rifqion.com/menulis/scada
dan-plc/
[6] http://codingjuve.wordpress.com/2011/07/
24/scada-supervisory-control-and-dataacquisition-systems/
[7] Literatur Laporan Kerja Praktek dari
perpustakaan PT. PLN
[8] Team PLN Sektor Jakarta.O & M SCADA
: Perusahaan Umum Listrik Negara
Pembangkitan dan Penyaluran Jawa
Bagian Barat

Ir. Tejo Sukmadi, MT.


NIP. 19611117 198803 1 001