Anda di halaman 1dari 5

cara untuk uji kadar zat organik agregat halus

I. REFERENSI
1. ASTM C 40 79
Organic Impurities in Fine Aggregate for Concrete
2. SNI 03 2816 1992
Metode pengujian kotor organik dalam pasir untuk campuran beton dan mortar
3. PBI 1971 N.I 2 Spesifikasi bahan
II. TUJUAN
Menentukan kadar zat organik dalam agregat halus dengan memperhatikan warna cairan di atas
permukaan agregat halus dalam botol susu bayi dan membandingkan warnanya dengan larutan
pembanding.
III. DASAR TEORI
Zat organik yang terkandung dalam agregat halus umumnya berasal dari penghancuran zat-zat
tumbuhan, terutama yang berbentuk humus dan Lumpur organk. Zat organik yang merugikan
diantaranya gula, minyak dan lemak. Gula dapat menghambat pengikatan semen dan
pengembangan kekuatan beton, sedangkan minyak dan lemak dapat mengurangi daya ikat
semen. Oleh sebab itu diperlukan pengujiana gregat untuk menentukan bisa tidaknya agregat
digunakan dalam campuran pembuatan beton.
Salah satu cara untuk menguji adanya zat organic dalam agregat halus adalah dengan cara kalori
meter. Pada pengukuran calorimeter, zat organic dinetralkan dengan larutan NaOH 3% dan
warna yang terjadi dibandingkan dengan warna standar setelah didiamkan selama 24 jam.
Sesuaikan warna larutan yang terlihat pada botol bayi dengan warna yang terdapat pada tabel
warna standar:
1-2 untuk kadar lumpur rendah
3 untuk kadar lumpur normal
4-5 untuk kadar lumpur tinggi
(Semakin besar no warna semakin tua warnanya)
Menurut metoda SNI untuk uji warna, apabila warna hasil uji terletak pada no3 adn no2 maka
dapat digunakan untuk beton normal, apabila terletak pada no1 dapat digunakan untuk beton
mutu tinggi.
IV. PERALATAN DAN BAHAN
1. Peralatan
No. Alat Gambar Keterangan dan Spesifikasi
1. Botol susu bayi berskala
Alat yang digunakan untuk mencampurkan antara agregat halus dengan larutan NaOH 3 % + air.
Minimal skala 200 ml.

2. Sendok makan

Alat untuk mengambil agregat halus dari cawan untuk dipindahkan ke botol susu bayi.
3.
Sendok adukan

4. Ayakan 4,75 mm
Untuk menyaring agregat halus agar seragam.
5. Corong plastik
Alat untuk membantu memasukkan agregat halus dan larutan NaOH ke dalam botol susu bayi.
6. Alat Pembagi contoh (riffle sampler)
Dengan jumlah genap(paling sedikit 8 untuk agregat kasar dan 12 untuk agregat halus).arah
aliran pengeluaran berlawanan.

2. Bahan
No. Nama Alat Gambar Keterangan
1 Agregat halus
Agregat halus yang lolos ayakan 4,75mm.

2. Larutan NaOH 3%
Larutan penetral.

2 Warna pembanding Alat untuk menentukan kadar zat organic yang terkandung dalam agregat.

V. PROSEDUR PELAKSANAAN
1. Siapkan peralatan dan bahan yang akan digunakan dan pastikan semuanya dalam kondisi yang
baik dan dapat digunakan.
2. Ayak agregat halus dengan ayakan 4,75 mm.
3. Masukan agregat halus yang telah diayak dengan ayakan 4,75 mm kedalam botol susu bayi
berskala setinggi 130 ml.
4. Tambahkan larutan NaOH 3 % sanpai setinggi 200 ml dan tutup dengan rapat, lalu kocok
selama 10 menit.
5. Simpan botol susu tersebut selama 24 jam
6. Amati cairan permukaan agregat halus dalam botol dan bandingkan warnanya dengan cairan
pembanding.
VI. DATA DAN ANALISA
1. Tinggi agregat halus 130 ml
2. Tinggi cairan NaOH 3 % 200 ml
3. Cairan pembanding

UJI ORGANIK AGREGAT HALUS


(SNI 03-2816-1992 C.40-97)
Contoh : Dikerjakan : Kelompok 2
Asal : Diperiksa :
Tanggal uji : 19 September 2011 Tanggal :
Nomor contoh I II III IV
Volume sample (ml) 130 130 130 130
Volume sampel + Larutan pengekstrak (ml) 200 200 200 200
Warna Larutan setelah 24 jam dibandingkan dengan warna standar 1 1 1 1
Catatan :
ASTM C.33-95
- Lebih muda (negatif), organik rendah sehingga tidak membahayakan
- Lebih tua (positif), organik tinggi sehingga membahayakan

Diperiksa Dikerjakan

VII. KESIMPULAN
Dari hasil pengujian dengan membandingkan warna larutan, dapat disimpulkan bahwa agregat
halus yang diuji memiliki kadar zat organik yang rendah karena terletak pada no1 pada tabel
warna pembanding. Sehingga agregat dapat digunakan untuk campuran beton mutu tinggi.

Agregat halus yang digunakan pada campuran beton dapat berupa pasir alam sebagai
disintegrasi alami dari batu-batuan (natural sand) atau pasir buatan (artificial sand) yang
dihasilkan alat-alat pemecah batu.
Sebagai salah satu komponen beton, agregat halus yang digunakan harus memenuhi
syarat-syarat tertentu, salah satunya ialah pasir tidak boleh banyak mengandung bahan organik.
Bahan-bahan organik seperti sisa-sisa tanaman dan humus umumnya banyak tercampur pada
pasir alam. Adapun bahan-bahan organik ini berpengaruh negatif pada semen.
Zat organik yang tercampur dapat membuat asam-asam organis dan zat lain bereaksi
dengan semen yang sedang mengeras. Hal ini dapat mengakibatkan berkurangnya kekuatan
beton dan juga menghambat hidrasi semen sehingga proses pengerasan berlangsung lambat.
Kandungan bahan organik dalam agregat halus dibuktikan dengan pemeriksaan warna
dari Abraham Harder (dengan memakai larutan NaOH). Pada pemeriksaan ini agregat halus atau
pasir dimasukkan dalam jumlah tertentu kedalam botol dan ditambahkan dengan larutan NaOH
3%. Setelah mengalami beberapa proses dan didiamkan dalam jangka waktu yang ditetapkan,
bandingkan warna campuran dengan warna standar hellige tester No. 3. Apabila warna campuran
lebih tua berarti agregat halus mempunyai kadar organik yang tinggi (kotor).