Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH ASKEP TRAUMA GINJAL

D
I
S
U
S
U
N
Oleh :
Kelompok 2 :
BILLY MARGO SARAGI
CHRISTIN AYU NEHE
DENNY ALFIANSYAH
DODDY ALFRED WARUWU
YUSRI KARISMA
DOSEN PEMBIMBING

IBU RUMONDANG GULTOM, S.Kep Ns

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN


UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA
MEDAN
2015

BAB I
PEMBAHASAN
A.

PENGERTIAN
Trauma Ginjal adalah suatu penyakit ginjal yang disebabkan oleh trauma tumpul atau trauma
tajam

B.

MACAM - MACAM TRAUMA GINJAL


Macam - macam trauma ginjal itu antara lain :
Trauma tumpul
Trauma tumpul sering menyebabkan luka pada ginjal, misalnya karena kecelakaan kendaraan
bermotor, terjatuh atau trauma pada saat berolahraga. Luka tusuk pada ginjal dapat karena
tembakan atau tikaman. Trauma tumpul dibedakan menjadi :
a. Trauma tumpul dan gross hematuria. Gross hamaturia merupakan indikator terpercaya
untuk mendeteksi adanya trauma urologi yang serius. Kontusio ginjal dapat disertai gross
hematuria, tapi avulsi pedikel atau trombosis arteri segmental sering tanpa disertai
hematuria.
b. Trauma tumpul, microscopic hematuria dan syok. Mikroskopik hematuria yang signifikan
( lebih dari 5 eritrosit/ lpb pada inisial berkemih atau spesimen kateter ). Syok terjadi bila
tekanan sistolik kurang dari 90 mmHg selama transportasi atau di ruang gawat darurat.
Trauma tumpul dengan mikrohematuria dan tanpa syok sebagain besar merupakan
trauma ginjal minor. Jika ginjal mengalami luka berat, bisa terjadi perdarahan hebat dan air
kemih bisa merembes ke jaringan di sekitarnya. Jika ginjal sampai terpisah dari tangkainya yang
mengandung vena dan arteri, maka bisa terjadi perdarahan hebat, syok dan kematian.
2. Trauma tajam
Trauma tajam adalah trauma yang disebabkan oleh tusukan benda tajam misalnya tusukan
pisau.terkena tembakan

C.

TANDA DAN GEJALA


Tanda dan gejala dari trauma ginjal antara lain :
1. Bengkak dan memar daerah pinggang ( swelling & bruising renal angle )
2. Distensi abdomen akibat penimbunan darah atau urine
3. Dapat terjadi ileus
4. Berkurangnya produksi air kemih
5. Bengkak tungkai, kaki atau pergelangan kaki
6. Nyeri pinggang hebat ( kolik )

7. Demam
8. Mual dan muntah
D. PATOFISIOLOGI
Pada pusat trauma utama, ditemukan cidera ginjal kurang dari 5% dari semua kasus
trauma yang ada. Trauma ginjal meliputi separuh dari seluruh tkejadian trauma traktus
urogenitalis. Trauma tumpul merupakan kejadian yang tersering, sekitar 9 kali dari jumlah
trauma tajam.
Ginjal terutama tergantung bebas pada lapisan lemak di dalam fasia Gerota. Ginjal
terfiksasi di 2 tempat yaitu di ureter dan pedikel vaskular. Karena lemahnya fiksasi, ginjal
dengan mudah dislokasi karena gaya deselerasi dan junction atau tunika intima arteri renalis,
sehingga akan terjadi sumbatan total atau aselerasi yang mendadak.
Dislokasi tersebut dapat menyebabkan robekan sistim collecting di ureteropelvic parsial
pembuluh darah. Contoh trauma deselerasi : jatuh dari ketinggian, trauma ekstensi - fleksi yang
berat seperti kecelakaan antara pejalan kaki dan sepeda motor. Secara umum, semua trauma
deselerasi harus dilakukan imaging walaupun tanpa disertai hematuria.
1. Microscopic atau gross hematuria sesudah trauma tembus regio flank, punggung atau trauma
abdomen; atau luka tembak pada proyeksi ginjal. Microscopic atau gross hematuria yang
signifikan ( lebih dari 50 eritrosit/ lp ), atau dengan trauma multi sistim sedang dan berat
(tanpa melihat derajat hematuri) kecurigaan adanya trauma ginjal harus dipikirkan, sehingga
perlu dilakukan imaging
2. Trauma penyerta yang mengarah kemungkinan adanya trauma ginjal. Trauma dan ekimosis
regio flank, fraktur vertebra lumbal atau prosesus transversus, fraktur iga 11- 12Pemeriksaan
sinar X untuk ginjal dan saluran kemih, misalnya urografi intravena dan CT scan, dapat secara
akurat menentukan lokasi dan luasnya cedera. Pengobatan diawali dengan langkah untuk
mengendalikan kehilangan darah dan mencegah syok. Diberikan cairan intravena untuk
menormalkan tekanan darah dan merangsang pembentukan air kemih. Sedangkan untuk
cedera ringan ( misalnya akibat terapi ESWL ), dilakukan pengawasan ketat terhadap asupan
cairan dan penderita menjalani tirah baring.Cedera berat yang menyebabkan perdarahan hebat
atau kebocoran air kemih ke jaringan di sekitarnya seringkali harus diatasi dengan
pembedahan.Jika aliran darah ke ginjal berkurang, maka jaringan ginjal yang normal bisa
mati dan digantikan oleh jaringan parut.Hal ini bisa menyebabkan tekanan darah tinggi yang
terjadi dalam beberapa minggu atau beberapa bulan setelah terjadinya trauma. Biasanya jika
terdiagnosis dan diobati secara tepat dan cepat, maka sebagian besar trauma ginjal memiliki
prognosis yang baik

E.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan radiologi
Sebagian besar trauma tumpul ginjal adalah derajat 1 ( kontusio ginjal ) yang dapat sembuh
spontan tanpa komplikasi lanjutan.
b. Intravenous Urography
Tujuan pemeriksaan ini untuk melihat adanya ekstravasasi urin dan pada trauma tajam untuk
melihat alur peluru. Pemeriksaan ini sangat akurat untuk melihat adanya trauma ginjal. Tetapi
tidak sensitif dan spesifik untuk melihat adanya cidera parenkim ginjal.
c. CT scan
Pada pasien yang stabil dapat dilakukan pemeriksaan CT, yang merupakan pemeriksaan yang
sensitif dan spesifik untuk menentukan laserasi parenkim, ekstravasasi urin, infark segmental,
dan melihat hematom retroperitoneal atau cidera organ intra abdomen yang lain ( hepar,
limpa, pankreas, danusus ).
d. Ultrasonography
Pemeriksaan ini terutama ditujukan untuk melihat adanya hemoperitoneum pada trauma
tumpul abdomen. Tapi tidak dianjurkan untuk mengevaluasi pada trauma ginjal yang akut,
mengingat terbatasnya visualisasi ginjal dan lebih tergantung pada operator yang melakukan
pemeriksaan\
e. Arteriography
Mempunyai peran selektif hanya untuk mengevaluasi dan terapi persistent delayed renal
bleeding atau symptomatic post traumatic arterio - venous fistulas.
Pemeriksaan sinar X untuk ginjal dan saluran kemih, misalnya urografi intravena dan CT
scan, dapat secara akurat menentukan lokasi dan luasnya cedera.
f. Pemeriksaan laboratorium\
g. emeriksaan darah rutin
h. Pemeriksaan kimia darah
Pada stroke akut dapat terjadi hiperglikemia. Gula darah dapat mencapai 250 mg dalam serum
dan kemudian berangsur - angsur turun kembali ( Jusuf Misbach, 1999 )
i. Pemeriksaan darah lengkap
Untuk mencari kelainan pada darah itu sendiri ( Linardi Widjaja, 1993 )
j. Analisa Data
Analisa data adalah kemampuan mengkaitkan data dan menghubungkan data tersebut dengan
konsep, teori dan prinsip yang relevan untuk membuat kesimpulan dalam menentukan
masalah kesehatan dan keperawatan klien
( Nasrul Effendy, 1995 )

BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN TRAUMA GINJAL

1. PENGKAJIAN
Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan proses keperawatan untuk mengenal
masalah klien, agar dapat memberi arah kepada tindakan keperawatan. Tahap pengkajian terdiri
dari tiga kegiatan, yaitu pengumpulan data, pengelompokkan data dan perumusan diagnosis
keperawatan ( Lismidar, 1990 )
a. Pengumpulan data
Pengumpulan data adalah mengumpulkan informasi tentang status kesehatan klien yang
menyeluruh mengenai fisik, psikologis, sosial budaya, spiritual, kognitif, tingkat perkembangan,
status ekonomi, kemampuan fungsi dan gaya hidup klien ( Marilynn E. Doenges et al, 1998 )
b. Identitas klien
Meliputi nama, umur (kebanyakan terjadi pada usia tua), jenis kelamin, pendidikan,
alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam MRS, nomor register, diagnose medis
Pada pola kehidupan sehari hari dapat dilihat dari :
Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat
Biasanya ada riwayat perokok, penggunaan alkohol, penggunaan obat kontrasepsi oral.
Pada pola eliminas
Biasanya terjadi inkontinensia urine dan pada pola defekasi biasanya terjadi konstipasi akibat
penurunan peristaltik usus.
Pola aktivitas dan latihan
Adanya kesukaran untuk beraktivitas karena kelemahan, kehilangan sensori atau paralise/
hemiplegi, mudah lelah.
Pola tidur dan istirahat
Klien mengalami kesukaran untuk istirahat karena kejang otot/ nyeri otot
Pola hubungan dan peran
Adanya perubahan hubungan dan peran karena klien mengalami kesukaran untuk beraktivitas.
Pola persepsi dan konsep diri
Klien merasa tidak berdaya, tidak ada harapan, mudah marah, tidak kooperatif.
Pola sensori dan kognitif
Pada pola sensori klien mengalami gangguan penglihatan/ kekaburan pandangan, perabaan/
sentuhan menurun pada muka dan ekstremitas yang sakit. Pada pola kognitif biasanya terjadi
penurunan memori dan proses berpikir.
Pola tata nilai dan kepercayaan
Klien biasanya jarang melakukan ibadah karena tingkah laku yang tidak stabil, kelemahan/
kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh. ( Marilyn E. Doenges, 2000 )
2. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik yang diperiksa mencakup :
a. Keadaan umum : nyeri pada pinggang

b. Suara bicara : tidak mengalami gangguan


c. Tanda-tanda vital : tekanan darah meningkat, denyut nadi bervariasi
d. Pemeriksaan integumen
Kulit : jika klien kekurangan O2 kulit akan tampak pucat dan jika kekurangan cairan maka
turgor kulit akan jelek. Di samping itu perlu juga dikaji tanda-tanda dekubitus terutama pada
daerah yang menonjol karena klien stroke hemoragik harus bed rest 2-3 minggu
Kuku : perlu dilihat adanya clubbing finger, cyanosis
Rambut : umumnya tidak ada kelainan
e. Pemeriksaan kepala dan leher
Kepala : bentuk normal
Muka : simetris
Leher : tidak ada pembesaran kelenjar karotis
f. Pemeriksaan dada
Pada pernafasan kadang didapatkan suara nafas terdengar ronchi, wheezing ataupun suara nafas
tambahan, pernafasan tidak teratur akibat penurunan refleks batuk dan menelan.
g. Pemeriksaan abdomen
Didapatkan penurunan peristaltik usus akibat bed rest yang lama, dan kadang terdapat kembung.
h. Pemeriksaan inguinal, genetalia, anus
Kadang terdapat incontinensia atau retensio urine
i. Pemeriksaan ekstremitas
Sering didapatkan kelemahan anggota gerak
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan ditetapkan berdasarkan analisa dan interpretasi data yang
diperoleh dari pengkajian keperawatan klien. Diagnosa keperawatan memberikan gambaran
tentang masalah atau status kesehatan klien yang nyata ( aktual ) dan kemungkinan akan terjadi
( potensial ) di mana pemecahannya dapat dilakukan dalam batas wewenang perawat. ( Nasrul
Effendy, 1995 )
Adapun diagnosa yang mungkin muncul adalah :
1. Resiko tinggi kurangnya volume cairan berhubungan dengan output yang tidak normal
( vomiting, diare ), hipermetabolik, kurangnya intake

2. Nyeri ( akut ) berhubungan dengan iritasi mukosa : distensi bladder, renal colic, infeksi
saluran kemih, therapi radiasi ditandai dengan pasien menyatakan nyeri ( bladder/ rectal ),
penurunan tonus otot, grimase, distraksi, kelelahan, respon otonomik.
3. Cemas/ Takut berhubungan dengan perubahan status kesehatan : pada prosedur bedah,
kehilangan kepercayaan diri terhadap kemampuan seksual ditandai dengan peningkatan
ketegangan, keragu-raguan, mencemaskan konsekwensi yang tidak logis.
4. Deficit pengetahuan ( kebutuhan belajar ) tentang kondisi, prognosis, dan pengobatan
berhubungan dengan kurangnya kemampuan menangkap informasi, misinterpretasi, tidak
terbiasa dengan sumber informasi ditandai dengan pasien bertanya-tanya, mengungkapkan
problemnya secara verbal/nonverbal, tidak akurat dalam mengikuti intruksi.
3. PERENCANAAN
Rencana asuhan keperawatan merupakan mata rantai antara penetapan kebutuhan klien
dan pelaksanaan keperawatan. Dengan demikian rencana asuhan keperawatan adalah petunjuk
tertulis yang menggambarkan secara tepat mengenai rencana tindakan yang dilakukan terhadap
klien sesuai dengan kebutuhannya berdasarkan diagnosa keperawatan.
Rencana asuhan keperawatan disusun dengan melibatkan klien secara optimal agar dalam
pelaksanaan asuhan keperawatan terjalin suatu kerjasama yang saling membantu dalam proses
pencapaian tujuan keperawatan dalam memenuhi kebutuhan klien. ( Nasrul Effendy, 1995 )
Rencana keperawatan dari diagnosa keperawatan diatas adalah :
a. Nyeri ( akut ) berhubungan dengan iritasi mukosa : distensi bladder, renal colic, infeksi saluran
kemih, therapi radiasi ditandai dengan pasien menyatakan nyeri ( bladder/ rectal ), penurunan
tonus otot, grimase, distraksi, kelelahan, respon otonomik.
1. Tujuan :
Nyeri berkurang atau terkontrol
Pasien merasa rileks
Pasien dapat tidur dan beristirahat dengan tenang
2. Tindakan :
Kaji nyeri, amati lokasi dan intensitasnya ( skala 0 10 ), durasi
Pertahankan bedrest jika diindikasikan
Pertahankan rasa nyaman pada pasien misalnya menolong pasien mencari posisi yang
nyaman, menganjurkan tehnik relaksasi/nafas dalam serta aktivitas diversional
Anjurkan rendaman duduk
3. Kolaboratif
Lakukan kateterisasi untuk drainase urine
Lakukan masase prostat
Berikan pengobatan sesuai indikasi

Narkotik ( meperidine ), antibakterial ( methenamine hippurate ), antispasmodik dan


sedative bladder )
b. Resiko tinggi deficit volume cairan berhubungan dengan diuresis postobstruktive dari
drainase, endokrin, ketidakseimbangan elektrolit ( disfungsi renal )
1. Tujuan :
Mempertahankan hidrasi secara adekuat yang ditandai vital signs stabil, pulse periferal teraba,
capilary refill baik, dan mukosa membran yang normal.
2. Tindakan :
Monitor output secara hati-hati, setiap jam bila diindikasikan.
Anjurkan pasien meningkatkan intake oral sesuai kebutuhan individual
Monitor tekanan darah dan denyut nadi secara teratur. Evaluasi kapilary refill dan
membran mukosa mulut.
Berikan bedrest dengan kepala ditinggikan
3. Kolaboratif
Monitor elektrolit, khususnya sodium
Berikan cairan IV (hipertonik saline) jika diperlukan
c. Cemas / Takut berhubungan dengan perubahan status kesehatan
Pada prosedur bedah, kehilangan kepercayaan diri terhadap kemampuan seksual ditandai dengan
peningkatan ketegangan, keragu-raguan, mencemaskan konsekwensi yang tidak logis.
1. Tujuan :
Pasien dapat rileks
Mengungkapkan informasi yang akurat tentang keadaannya
Menunjukkan penurunan kecemasan & ketakutan
2. Tindakan :
Berikan perhatian kepada pasien, ciptakan hubungan saling percaya dengan pasien dan
support person.
Berikan informasi tentang prosedur spesifik, kateterisasi, urine berdarah, iritasi bladder.
Berikan informasi sesuai kebutuhan pasien.
Informasikan sebelum melakukan prosedur dan pertahankan privacy pasien
Anjurkan pasien dan keluarga mengungkapkan perasaannya
Deficit pengetahuan ( kebutuhan belajar ) tentang kondisi, prognosis, dan pengobatan
Tujuan :
-

Pasien dapat mengungkapkan pengertian terhadap proses penyakit dan prognosa

Mengidentifikasi tanda dan gejala yang berhubungan dengan penyakitnya


Mempunyai inisiatif perubahan gaya hidup yang menunjang penyembuhan penyakitnya
Berpartisipasi dalam pengobatan dan perawatan

Tindakan :
-

Review proses penyakit, prognosa, tanda dan gejala serta pengobatannya


Anjurkan pasien untuk mengungkapkan kecemasan dan tingkat perhatian terhadap
penyakitnya
Beri informasi bahwa penyakitnya tidak menular melalui hubungan seksual
Rekomendasikan kepada pasien untuk menghindari makanan pedas, kopi, alkohol,
mengendarai sepeda motor dalam jangka waktu lama.
Berikan informasi tentang hubungan seks, hindari pada fase akut tetapi akan lebih baik
pada fase kronik.
Dukung pasien untuk mengikuti pengobatan secara teratur termasuk latihan rectal dan
urinalisis.

4. PELAKSANAAN
Pada tahap ini dilakukan pelaksanaan dari perencanaan keperawatan yang telah ditentukan
dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan klien secara optimal.
Pelaksanaan adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah di susun
pada tahap pencanaan ( Nasrul Effendy, 1995 )
5. EVALUASI
Evaluasi merupakan langkah akhir dalam proses keperawatan. Evaluasi adalah kegiatan
yang di sengaja dan terus-menerus dengan melibatkan klien, perawat, dan anggota tim kesehatan
lainnya. Dalam hal ini diperlukan pengetahuan tentang kesehatan, patofisiologi, dan strategi
evaluasi. Tujuan evaluasi adalah untuk menilai apakah tujuan dalam rencana keperawatan.