Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN

Secara anatomis, nasofaring merupakan suatu rongga hidung yang


berfungsi sebagai saluran untuk udara selama pernafasan. Nasofaring merupakan
suatu struktur otot berbentuk kuboid yang terletak di belakang hidung di daerah
atas dari faring. Batas-batas dari nasofaring termasuk rongga hidung posterior,
sphenoid superior, vertebrae pertama dan kedua posterior, serta palatum mole
inferior. Dinding lateral termasuk tuba eustachius, torus tuberis, dan fossa
rosenmuller. Nasofaring terdiri dari suatu rangkaian tulang yang terfiksasi dalam
keadaan normal. Karsinoma nasofaring merupakan suatu karsinoma sel skuamosa
yang timbul dari lapisan epitel yang melapisi nasofaring. Jenis keganasan ini
dapat timbul dari berbagai macam lokasi dari nasofaring dan leih sering terlihat
pada daerah fosa rossenmuller, suatu struktur yang terletak pada daerah medial
dari tuba eustachius.1,2
Sistem limfatik dari nasofaring berjalan melewati dasar tulang tengkorak
secara antero-posterior, pada daerah tersebut terdapat saraf kranial ke-9 (saraf
glosofaringeal) dan ke-12 (saraf hipoglosus). Jalur sistem limfatik lainnya
termasuk adanya drainase ke arah nodus limfatikus servikal posterior dan ke arah
nodus jugulodigastrik. Limfadenopati merupakan tanda gejala yang paling sering
terjadi pada keganasan nasofaring, sekitar 80% pada semua kasus. Metastasis
jauh, paling sering metastasis ke tulang, sangat berkaitan erat dengan adanya
keterlibatan nodus limfatikus (sebagai contoh pasien dengan kategori N0

mempunyai kemungkinan 17% metastasis, sedangkan pasien dengan kategori N3


mempunyai kemungkinan 73% terjadinya metastasis).1
Keganasan yang terjadi pada nasofaring mempunyai berbagai macam
subtipe, termasuk karsinoma sel skuamosa terkeratinisasi, karsinoma sel
skuamosa tidak terkeratinisasi, tumor yang tidak terdiferensiasi, limfoepitelioma,
dan limfoma. Penemuan histologi yang jarang termasuk jenis tumor sarcoma,
karsinoma kistik adenoid, plasmasitoma, melanoma dan rabdomiosarkoma.
Limfoepitelioma dan tumor yang tidak terkeratinisasi adalah jenis yang paling
sering dan mempunyai prognosis yang paling baik dikarenakan jenis ini
mempunyai sensitifitas yang tinggi terhadap radioterapi. Setiap tahunnya terdapat
sekitar 11.000 kasus baru karsinoma nasofaring. Rasio perbandingan antara lakilaki dengan perempuan sekitar 2,5:1 dan hal ini paling sering terjadi pada individu
yang berasal dari daerah Cina selatan.1
Karsinoma nasofaringeal adalah suatu penyakit keganasan yang tidak
umum pada beberapa negara, dengan angka insidensi <1% per 100.000 penduduk.
Karsinoma ini lebih sering muncul pada daerah Alaska dan suatu etnik di daerah
Cina selatan, terutama pada provinsi Guangdong. Penelitian terbaru menyebutkan
bahwa insidensi dari karsinoma nasofaringeal pada laki-laki dan perempuan di
Hong Kong di selatan provinsi Guangdong berkisar antara 20-30 dari 100.000
penduduk dan 15-20 dari 100.000 penduduk. Insidensi dari karsinoma nasofaring
cukup tinggi pada orang Cina yang telah berimigrasi ke daerah Asia Tenggara atau
Amerika Utara, tetapi angka tersebut tidak berlaku pada orang Cina yang lahir di
daerah Amerika Utara. Hal ini menunjukan bahwa genetik, etnik, dan faktor-

faktor lingkungan mempunyai peranan yang cukup penting dalam etiologi


penyakit ini.2
Penggunaan atau konsumsi ikan asin merupakan salah satu faktor
penyebab dari karsinoma nasofaring. Hal ini kemungkinan berkaitan dengan
adanya zat karsinogenik, nitrosamin yang banyak ditemukan pada ikan asin. Pada
penelitian case-control menunjukan bahwa konsumsi ikan asin sebelum mencapai
usia 10 tahun berkaitan dengan peningkatan risiko terjadinya karsinoma
nasofaring. Epstein-Barr Virus (EBV) juga mempunyai peran yang cukup penting
sebagai suatu onkogenik, suatu pencetus keganasan. Hal ini juga ditunjang dengan
ditemukannya genom dari EBV pada biopsi pasien dengan karsinoma nasofaring.
Pada penelitian terhadap kerabat dekat dari pasien dengan karsinoma nasofaring,
insidensi terjadinya keganasan tersebut lebih tinggi 6x lipat dibandingkan dengan
populasi kontrol. Hal ini menunjukan adanya peranan faktor genetik sebagai
etiologi dari karsinoma nasofaring. Penelitian komparasi hibridisasi genom
menunjukan bahwa adanya perubahan pada kromosom multipel seperti hilangnya
regio atau daerah dari 14q (suatu daerah dari kromosom yang mempunyai gen
supresif tumor), 16p, 1p dan multiplikasi dari 12q dan 4q.2