Anda di halaman 1dari 25

Laporan Posisi Keuangan

Makalah Teori Akuntansi

Disusun Oleh:
Kelompok 1

Ghifari Luthfan Pratama (1202120014)


Tyas Ninditha Arih (1202120033)
Azzahra Salsabiila S. (1202124044)
Kelas:

Akuntansi C 2012

Program Studi S-1 Akuntansi


Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Telkom
Bandung
2015

Kata Pengantar
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Puji syukur kehadirat Allah SWT. karena atas rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan
makalah ini dengan semaksimal mungkin dan teapat pada waktunya.
Tujuan kami membuat makalah ini, yaitu untuk memenuhi salah satu nilai mata kuliah
Teori Akuntansi yang diberikan oleh Bapak Achmad Effendi, SE.AK., MM.
Dalam makalah ini, kami membahas materi mengenai Laporan Keuangan, yaitu
mencakup sub-bab Laporan posisi keuangan; Aset dan Kewajiban; Klasifikasi Aset dan
Kewajiban; serta Pengakuan, Pengukuran dan Penilaian.
Untuk lebih menyempurnakan penyusunan makalah, kami tetap mengharapkan saran
dan kritik yang membangun dari para pembaca.
Tak lupa kami juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Achmad Effendi, SE.AK.,
MM. yang telah membimbing kami dalam pembuatan makalah ini. Kami juga berterima
kasih kepada orang tua yang telah mendukung kami selama pembuatan makalah ini.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Bandung, Februari 2015

Penulis

Daftar Isi

Kata Pengantar............................................................................................................................i
Daftar Isi....................................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN..........................................................................................................1
1.1. Latar Belakang.................................................................................................1
1.2. Ruang Lingkup................................................................................................2
1.3. Tujuan..............................................................................................................2
1.4. Metode.............................................................................................................2
1.5. Manfaat............................................................................................................2
1.6. Sistematika Penulisan......................................................................................3
BAB II PEMBAHASAN...........................................................................................................4
2.1. Laporan Posisi Keuangan................................................................................4
2.1.1. Potret Ripley.............................................................................................................4
2.1.2. Aktiva dan Kewajiban..............................................................................................4
2.1.3. Tiga Sifat Dasar Aktiva.............................................................................................5
2.1.4. Tiga Sifat Dasar Kewajiban......................................................................................5
2.2. Klasifikasi Aset dan Kewajiban.......................................................................6
2.2.1. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 9 Penyajian Aktiva Lancar...............6
dan Kewajiban Jangka Pendek...........................................................................................6
2.2.2. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 9 Penyajian Aktiva Lancar.............12
dan Kewajiban Jangka Pendek.........................................................................................12
2.3. Pengukuran, Pengakuan dan Penilaian..........................................................14
2.3.1. IAS 39 Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran....................................14
2.3.2. Keuntungan dan Kerugian......................................................................................17
2.3.3. Penurunan dan Tidak Tertagihnya Aset Keuangan.................................................18
2.3.4. Nilai Lindung..........................................................................................................18
2.3.5. Penilaian..................................................................................................................20
BAB III PENUTUP..................................................................................................................22
3.1. Kesimpulan.................................................................................................22
3.2. Saran...........................................................................................................22
Daftar Pustaka..........................................................................................................................23

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Tidak bisa dipungkiri lagi perkembangan dunia usaha di Indonesia yang semakin
kompetitif menuntut setiap perusahaan untuk dapat mengolah dan melaksanakan
manajemen perusahaan menjadi lebih profesional. Bertambahnya pesaing disetiap saat,
baik pesaing yang berorientasi lokal maupun pesaing yang berorientasi international
(multinational corporation), maka setiap perusahaan harus berusaha menampilkan yang
terbaik, baik dalam segi kinerja perusahaan, juga harus ditunjang dengan strategi yang
matang dalam segala segi termasuk dalam manajemen keuangan.
Manajemen keuangan sangat berpengaruh terhadap kelangsungan kegiatan dan
eksistensi suatu perusahaan serta berpengaruh pula pada setiap individu yang ada dalam
perusahaan tersebut. Oleh karena itu, seorang manajer keuangan dituntut untuk dapat
menjalankan manajemen keuangan dengan baik, hal ini dilakukan agar perusahaan dapat
melaksanakan kegiatan operasional perusahaan dengan lebih efektif dan efisien,
sehingga perusahaan dapat mengembangkan dan mempertahankan aktivitas serta
keberadaan perusahaan.
Selain manajemen yang baik, dalam suatu perusahaan juga memerlukan analisis
terhadap laporan keuangan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam mengatasi
masalah-masalah keuangan perusahaan serta mengambil keputusan yang cepat dan tepat.
Melalui analisis laporan keuangan, manajemen dapat mengetahui posisi keuangan,
kinerja keuangan dan kekuatan keuangan (financial strength) yang dimiliki perusahaan.
Selain berguna bagi perusahaan dan manajemennya, analisis laporan keuangan juga
diperlukan oleh pihak-pihak yang berkepentingan lain seperti kreditor, investor dan
pemerintah untuk menilai kondisi keuangan perusahaan dan perkembangan dari
perusahaan tersebut.
Seorang akuntan dituntut untuk mempu menilai kondisi dan perkembangan
perusahaan melalui laporan keuangan agar dapat mempertahankan keberadaaan
perusahaan dan mampu meningkatkan pertumbuhan perusahaan ditengah pertumbuhan
ekonomi yang semakin pesat dan persaingan usaha yang semakin ketat
1

1.2. Ruang Lingkup


Materi yang kami bahas dalam makalah ini dan yang ingin kami beritahukan
kepada para pembaca adalah mengenai Laporan Keuangan, yaitu mencakup sub-bab
Laporan posisi keuangan; Aset dan Kewajiban; Klasifikasi Aset dan Kewajiban; serta
Pengakuan, Pengukuran dan Penilaian.
1.3. Tujuan
Makalah ini dibuat bertujuan untuk memberikan informasi mengenai laporan
keuangan kepada para pembaca agar pembaca dapat menjelaskan karakteristik aset dan
kewajiban; menjelaskan makna dan keterbatasan laporan posisi keuangan; menjelaskan
pendekatan dalam penyusunan laporan posisi keuangan; menjelaskan penyajian pos-pos
aset dalam laporan posisi keuangan beserta klasifikasinya; menjelaskan penyajian pospos kewajiban dalam laporan posisi keuanganbeserta klasifikasinya; menjelaskan
manfaat laporan posisi keuangan; serta menjelaskan manfaat klasifikasi dalam laporan
posisi keuangan dan kritik terhadap klasifikasi.
Adapun harapan penulis, agar makalah ini tidak hanya bermanfaat bagi diri
sendiri, akan tetapi bermanfaat juga bagi mereka yang membtuhkan untuk referensi
ataupun bahan bacaan semata.
1.4. Metode
Dalam penulisan makalah ini, metode yang kami gunakan adalah mencari data-data
yang berkaitan dengan materi yang kami bahas. Dalam hal ini, kami mencari dan
menggabungkan data-data dari berbagai sumber yang kami dapat, yaitu dari buku,
internet, dan buku internet (e-book).
1.5. Manfaat
1.5.1. Manfaat bagi Pembaca
Kami berharap agar para pembaca dapat mengetahui secara rinci mengenai materi yang
kami bahas, yaitu mengenai laporan keuangan, mengidentifikasi kegunaannya, dan cara
pemakaiannya di dalam kehidupan sehari-hari.
1.5.2. Manfaat bagi Penulis
Sama seperti yang telah disebutkan di atas, kami selaku penulis juga harus dapat
mempelajari dan menerapkan pemakaian laporan keuangan dalam kegiatan sehari-hari.

1.6. Sistematika Penulisan


Dalam penulisan makalah ini, kami menggunakan sistem bab yang terdiri dari tiga
bab disertai dengan daftar pustaka, yaitu:
Bab I
Bab II
Bab III
Daftar Pustaka

BAB II PEMBAHASAN

2.1. Laporan Posisi Keuangan


2.1.1. Potret Ripley
Konsep professor William Ripley dari Harvard, yaitu neraca sebagai sebuah
potret diam, yang memberi kita gambar suatu perusahaan pada titik waktu
tertentu. Neraca kadang-kadang disebut sebagai laporan simpanan (statement of
stocks) sebagai lawan dari laporan arus (statement of flows).
Pendekatan yang lebih tua terhadap penciptaan neraca disebut metode aktiva
kewajiban. Dalam pendekatan ini kita cukup membuat daftar aktiva dan
kewajiban perusahaan. Selisih antara keduanya menunjukkan hak residual pemilik
dan jumlah yang membuat kedua sisi itu seimbang.
Dalam pendekatan terhadap akuntansi yang didasarkan pada penghasilan,
neraca menjadi laporan residual sebuah jenjang antara dua laporan rugi laba.
Dengan demikian, neraca seringkali hanya memberikan sedikit informasi karena
tidak memiliki interpretabilitas. Neraca kadang-kadang disebut sebagai titik
kedatangan dan pemberangkatan dalam proses akuntansi, tetapi bila diturunkan
dari pendekatan pendapatan-beban, neraca lebih berkaitan dengan masa lalu
daripada masa depan.
2.1.2. Aktiva dan Kewajiban
FASB mendefinisikan aktiva dalam SFAC 6 sebagai berikut:
Kemungkinan manfaat ekonomi masa depan yang diperoleh atau dikendalikan oleh
satuan usaha tertentu sebagai hasil dari transaksi atau peristiwa di masa lalu.
FASB mendefinisikan kewajiban dalam pernyataan yang sama dengan gaya yang
paralel:
Kemungkinan pengorbanan manfaat ekonomi di masa depan, yang timbul dari
kewajiban satuan usaha pada saat ini untuk menyerahkan aktiva atau memberikan
jasa kepada satuan-satuan usaha lain di masa depan sebagai hasil dari transaksi
atau peristiwa di masa lalu.
Definisi aktiva dan kewajiban menurut Professor John Canning:

Aktiva adalah setiap manfaat masa depan dalam bentuk uang atau setiap
manfaat masa depan yang bisa dikonversikan menjadi uang. Hak atas manfaat itu
secara legal atau karena keadilan dijamin bagi orang atau sekelompok orang
tertentu. Manfaat seperti itu merupakan aktiva hanya bagi orang atau sekelompok
orang itu.
Kewajiban adalah suatu manfaat, yang bisa dinilai denga uang, yang secara
legal (atau karena keadilan) harus diserahkan oleh pemilik [pemegang aktiva]
kepada orang (atau sekelompok orang).
APB Statement No. 4 mendefinisikan aktiva dan kewajiban sebagai:
Aktiva adalah sumberdaya ekonomi suatu badan usaha yang diakui dan diukur
sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum (termasuk) bebanbeban tertentu yang ditangguhkan, yang tidak merupakan sumberdaya.
Kewajiban adalah kewajiban (obligation) ekonomi suatu badan usaha yang
diakui dan diukur sesuai dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum.
2.1.3. Tiga Sifat Dasar Aktiva
Menurut FASB, suatu aktiva mempunyai tiga karakteristik dasar, yaitu:
a. Aktiva menyimpan kemungkinan manfaat masa depan yang menyangkut
kapasitas, secara sendiri-sendiri atau dalam kombinasi dengan aktiva lain,
untuk secara langsung atau tidak langsung memberi sumbangan pada arus
masuk kas bersih di masa depan.
b. Satuan usaha tertentu dapat memperoleh manfaat itu dan mengendalikan akses
pihak lain pada aktiva itu.
c. Transaksi atau peristiwa lain yang menimbulkan hak atau kendali satuan usaha
atas manfaat tersebut sudah terjadi.
2.1.4. Tiga Sifat Dasar Kewajiban
Menurut FASB, suatu kewajiban mempunyai tiga karakteristik esensial
berikut ini, yaitu:
a. Kewajiban mengandung tugas atau tanggung jawab saat ini bagi satu atau
lebih satuan usaha, yang memerlukan penyelesaian berupa kemungkinan
penyerahan atau penggunaan aktiva di masa depan pada tanggal tertentu atau
yang dapat ditentukan, bila terjadi suatu peristiwa tertentu, atau berdasarkan
permintaan.

b. Tugas atau tanggung jawab itu menimbulkan kewajiban bagi satuan usaha
tertentu, dengan tidak atau sedikit menyisakan kebebasan untuk menghindari
pengorbanan masa depan itu.
c. Transaksi atau peristiwa lain yang menimbulkan kewajiban satuan usaha itu
sudah terjadi.
2.2. Klasifikasi Aset dan Kewajiban
2.2.1. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 9 Penyajian Aktiva Lancar
dan Kewajiban Jangka Pendek
a. Pendahuluan
Pernyataan ini menjelaskan tentang pengertian dan penyajian aktiva lancar
dan kewajiban jangka pendek dalam laporan keuangan. Pernyataan ini tidak
menjelaskan tentang dasar penilaian aktiva dan kewajiban tersebut.
b. Penjelasan
Pengidentifikasian aktiva lancar dan kewajiban jangka pendek dianggap
berguna untuk membantu pemakai laporan keuangan dalam menganalisis posisi
keuangan suatu perusahaan. Selisih lebih aktiva lancar dari kewajiban jangka
pendek sering disebut sebagai aktiva lancar bersih (net current assets) atau
modal kerja bersih (net working capital)
c. Pandangan tentang Aktiva Lancar dan Kewajiban Jangka Pendek
Terdapat anggapan bahwa pengklasifikasian aktiva dan kewajiban menjadi
"lancar" dan "tak lancar" dimaksudkan untuk mengukur tingkat likuiditas suatu
perusahaan.

Likuiditas

adalah

tingkat

kemampuan

perusahaan

untuk

melanjutkan aktivitas usahanya sehari-hari tanpa mengalami kesulitan


pendanaan/keuangan. Anggapan lain adalah bahwa pengklasifikasian tersebut
memberikan identifikasi tentang sumber dana dan kewajiban suatu perusahaan
yang terus menerus berputar (continuously circulating).
Tujuan tersebut sampai suatu batas tertentu menjadi tidak selaras,
berhubung dalam mengukur tingkat likuiditas, kriteria untuk pengklasifikasian
aktiva dan kewajiban menjadi lancar dan tidak lancar adalah apakah aktiva atau
kewajiban tersebut dapat dicairkan atau direalisasikan dalam jangka pendek,
sedangkan kriteria untuk pengklasifikasian aktiva dan kewajiban sebagai suatu
perputaran (circulating), adalah apakah aktiva atau kewajiban tersebut
digunakan atau diselesaikan dalam rangka menghasilkan pendapatan selama
siklus operasi normal dari suatu perusahaan. Misalnya, pekerjaan kontstruksi

dalam proses, dengan kriteria pertama, sebagian besar akan dikeluarkan dari
klasifikasi aktiva lancar, sementara dengan kriteria kedua termasuk dalam
aktiva lancar.
d. Praktek Yang Berlaku Saat Ini
Dalam praktek, yang diklasifikasikan sebagai aktiva lancar adalah aktiva
yang diharapkan dapat direalisasikan dalam waktu satu tahun atau dalam siklus
operasi normal perusahaan, yang mana yang lebih lama; yang diklasifikasikan
sebagai kewajiban jangka pendek adalah kewajiban yang akan dilunasi sesuai
dengan permintaan kreditor atau yang akan dilunasi dalam waktu satu tahun.
Meskipun pendekatan ini digunakan sebagai peraturan umum, tidak menutup
kemungkinan bahwa ada aktiva atau kewajiban tertentu yang dimasukkan ke
dalam atau dikeluarkan dari aktiva lancar atau kewajiban jangka pendek
berdasarkan kriteria yang berbeda. Oleh sebab itu, klasifikasi lancar dan tak
lancar di dalam praktek lebih berdasarkan pada konvensi dan bukan pada suatu
konsep tertentu. Sub-materi di bawah ini menggambarkan cakupan aktiva
lancar dan kewajiban jangka pendek yang berlaku dalam praktek saat ini.
e. Cakupan Aktiva Lancar
Kas dan Bank
Yang dimaksud dengan kas ialah alat pembayaran yang siap dan bebas
dipergunakan untuk membiayai kegiatan umum perusahaan. Sedangkan,
yang dimaksud dengan bank adalah sisa rekening giro perusahaan yang
dapat dipergunakan secara bebas untuk membiayai kegiatan umum
perusahaan. Di bawah ini adalah pos-pos yang tidak dapat digolongkan
sebagai bagian dari kas dan bank pada neraca:
o dana yang disisihkan untuk tujuan tertentu,
o persediaan perangko,
o cek mundur,
o cek kosong dari pihak ketiga,
o rekening giro pada bank di luar negeri yang tidak dapat segera dipakai.
Kas dan bank yang penggunaannya dibatasi dapat dimasukkan dalam aktiva
lancar hanya jika pembatasan tersebut dilakukan untuk menyisihkan dana
untuk melunasi kewajiban jangka pendek atau jika pembatasan tersebut
hanya berlaku selama satu tahun. Saldo kredit pada perkiraan bank
disajikan pada kelompok kewajiban sebagai kewajiban jangka pendek.
Saldo kredit dan debit rekening giro pada bank yang sama dapat digabung
dan disajikan pada neraca sebagai satu kesatuan.
7

Surat-surat berharga yang mudah dijual dan tidak dimaksudkan untuk


ditahan
Surat berharga yang mudah dijual merupakan bentuk penyertaan sementara
dalam rangka pemanfaatan dana yang tidak digunakan. Bentuk penyertaan
sementara ini harus mempunyai sifat sebagai berikut:
o Mempunyai pasaran dan dapat diperjualbelikan dengan segera.
o Dimaksudkan untuk dijual dalam jangka waktu dekat bila terdapat

kebutuhan dana untuk kegiatan umum perusahaan.


o Tidak dimaksudkan untuk menguasai perusahaan lain.
Deposito jangka pendek
Wesel tagih yang akan jatuh tempo dalam waktu satu tahun
Piutang
Menurut sumber terjadinya, piutang digolongkan dalam dua kategori yaitu
piutang usaha dan piutang lain-lain. Piutang usaha meliputi piutang yang
timbul karena penjualan produk atau penyerahan jasa dalam rangka
kegiatan usaha normal perusahaan. Piutang yang timbul dari transaksi di
luar kegiatan usaha normal perusahaan digolongkan sebagai piutang lainlain. Piutang usaha dan piutang lain-lain yang diharapkan dapat tertagih
dalam satu tahun atau siklus usaha normal, diklasifikasikan sebagai aktiva
lancar. Kadang-kadang seluruh piutang usaha diklasifikasikan sebagai
aktiva lancar tanpa memandang jangka waktu tertagihnya. Dalam kasus
demikian, jumlah piutang usaha yang jangka waktu penagihannya lebih dari
satu tahun atau siklus usaha normal, harus diungkapkan dalam catatan atas
laporan keuangan.
Piutang yang diperkuat dengan promes disebut wesel. Piutang usaha, wesel
tagih dan piutang lain-lain harus disajikan secara terpisah dengan
identifikasi yang jelas.
Piutang dinyatakan sebesar jumlah kotor tagihan dikurangi dengan taksiran
jumlah yang tidak dapat ditagih. Jumlah kotor piutang harus tetap disajikan
pada neraca diikuti dengan penyisihan untuk piutang yang diragukan atau
taksiran jumlah yang tidak dapat ditagih.
Saldo kredit piutang individual jika jumlahnya material harus disajikan
dalam kelompok kewajiban. Jumlah piutang yang dijaminkan harus
diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan. Kewajiban bersyarat
dalam hubungannya dengan penjualan piutang yang disertai perjanjian
untuk dibeli kembali (sale of accounts receivable/notes receivable

discounted with recourse) kepada suatu lembaga keuangan harus dijelaskan

secukupnya.
Persediaan
Pembayaran uang muka untuk pembelian aktiva lancar
Pembayaran pajak di muka
Biaya dibayar di muka
Biaya dibayar di muka dimaksudkan sebagai biaya yang telah terjadi, yang
akan digunakan untuk aktivitas perusahaan yang akan datang, misalnya:
premi asuransi, bunga, alat tulis dan keperluan kantor dan lain sebagainya.
Bagian dari biaya dibayar di muka yang akan memberikan manfaat untuk

beberapa periode kegiatan diklasifikasikan sebagai aktiva tak lancar


Pos-pos berikut ini tidak dapat diklasifikasikan sebagai aktiva lancar:
Kas/bank maupun sumber lain yang dibatasi penggunaannya, seperti dana
yang disisihkan untuk perolehan aktiva tetap atau pelunasan kewajiban

jangka panjang.
Pernyertaan dalam surat berharga atau pembayaran uang muka dengan

maksud untuk menguasai atau melakukan afiliasi dengan perusahaan lain.


Piutang lain-lain yang timbul dari transaksi di luar kegiatan utama
perusahaan yang tidak diharapkan pencairannya dalam jangka waktu satu

tahun, seperti uang muka pada pemegang saham atau direksi.


Aktiva yang dapat disusutkan maupun aktiva tetap lainnya.
f. Cakupan Kewajiban Jangka Pendek
Pinjaman bank dan pinjaman lainnya.
Jika suatu pinjaman dilunasi sesuai dengan jadual yang disetujui oleh
kreditor, maka pinjaman tersebut diklasifikasikan sesuai dengan jadual
pelunasannya, dengan mengabaikan bahwa hak kreditor sesungguhnya

memiliki hak untuk meminta pelunasan sewaktu-waktu.


Bagian kewajiban jangka panjang yang akan jatuh tempo dalam waktu satu

tahun sejak tanggal neraca, dengan pengecualian seperti di atas.


Hutang usaha dan biaya yang masih harus dibayar.
Uang muka penjualan.
Hutang pembelian aktiva tetap, pinjaman bank dan rupa-rupa hutang

lainnya yang harus diselesaikan dalam waktu satu tahun.


Penyisihan kewajiban pajak.
Hutang dividen.
Pendapatan yang ditangguhkan dan uang muka dari pelanggan.
Kewajiban kontinjen (sehubungan dengan Pernyataan Standar Akuntansi
Keuangan No. 8 tentang Kontinjensi dan Peristiwa Setelah Tanggal Neraca)

Pinjaman yang dinyatakan dapat dilunasi sewaktu-waktu sesuai permintaan


kreditur biasanya diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka pendek. Akan
tetapi, jika kreditur telah menyetujui suatu jadual pelunasan atas suatu
pinjaman, maka pinjaman tersebut diklasifikasikan sesuai dengan jadual
pelunasannya, dengan mengabaikan bahwa kreditur memiliki hak untuk
meminta pelunasan sewaktu-waktu.
Bagian kewajiban jangka panjang yang akan jatuh tempo dalam waktu satu
tahun setelah tanggal neraca disajikan dalam neraca sebagai bagian dari
kewajiban jangka pendek, kecuali jika perusahaan bermaksud melunasinya
dengan cara menimbulkan kewajiban jangka panjang baru. Begitupun, bagian
dari kewajiban jangka panjang yang akan dilunasi dalam waktu satu tahun
seringkali diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka panjang bila aktiva yang
akan digunakan untuk pelunasan kewajiban tersebut pada tanggal neraca telah
dikeluarkan dari aktiva lancar.
Apabila suatu perusahaan mengeluarkan suatu kewajiban dari klasifikasi
jangka pendek sehubungan dengan paragraf sebelumnya, maka jumlah dan
keterangan lain yang relevan harus diungkapkan secukupnya.
g. Penyajian dalam Laporan Keuangan
Dengan adanya pengelompokan dan penjumlahan aktiva lancar dan
kewajiban jangka pendek di neraca, maka akan meningkatkan kegunaan
informasi yang disajikan.
Untuk memungkinkan pengidentifikasian secukupnya atas pemisahan
aktiva dan kewajiban suatu perusahaan, jumlah aktiva lancar dan kewajiban
jangka pendek yang tersajikan lazimnya tidak dikurangkan dengan aktiva
lancar dan kewajiban jangka pendek lainnya. Akan tetapi saling menghapuskan
(offsetting) demikian mungkin benar, bila dibenarkan menurut hukum dan
saling

menghapuskan

(offsetting)

tersebut

merupakan

realisasi

atau

penyelesaian aktiva atau kewajiban yang diharapkan.


h. Keterbatasan Pengklasifikasian Lancar dan Tidak Lancar
Klasifikasi lancar dan tidak lancar pada umumnya dipercaya dapat
memberikan identifikasi tentang bagian modal perusahaan yang relatif likuid
yang dapat digunakan untuk memenuhi kewajiban perusahaan dalam siklus
operasi yang normal. Akan tetapi selama usaha perusahaan tetap berlangsung,

10

maka perusahaan harus secara terus-menerus menggantikan persediaan yang


sudah direalisasi dengan persediaan baru agar terjadi kesinambungan usaha.
Aktiva lancar juga mungkin mencakup persediaan yang diperkirakan tidak
dapat direalisasi dalam jangka waktu dekat. Sebaliknya, banyak perusahaan
membiayai operasinya dengan pinjaman bank yang dinyatakan dapat dilunasi
sewaktu-waktu sesuai dengan permintaan bank dan karenanya diklasifikasikan
sebagai kewajiban jangka pendek, walaupun pada kenyataannya persyaratan
pelunasan sesuai permintaan bank tersebut merupakan proteksi bagi bank, dan
kenyataannya telah merupakan kesepakatan antara peminjam dan pemberi
pinjaman bahwa pinjaman tersebut akan berlangsung untuk jangka waktu yang
cukup lama.
Banyak pihak yang berpendapat bahwa adanya selisih lebih aktiva lancar
atas kewajiban jangka pendek merupakan indikasi bahwa kondisi keuangan
suatu perusahaan dalam keadaan baik, sedangkan selisih lebih kewajiban
jangka pendek atas aktiva lancar dipandang sebagai indikasi adanya masalah
keuangan. Pengambilan kesimpulan yang demikian tidak tepat tanpa
mempertimbangkan karakteristik usaha perusahaan tersebut dan setiap
komponen aktiva lancar dan kewajiban jangka pendeknya.
Pengklasifikasian lancar dan tidak lancar untuk aktiva dan kewajiban
biasanya tidak dipandang tepat untuk laporan keuangan dari perusahaan yang
periode siklus operasi normalnya tidak dapat ditentukan atau sangat panjang.
Sementara banyak pihak yang berpendapat bahwa identifikasi aktiva
lancar dan kewajiban jangka pendek adalah sarana yang berguna untuk
melakukan analisis keuangan, pihak lain menganggap pengklasifikasian
tersebut kurang kegunaannya bahkan dapat menyesatkan. Untuk mengurangi
kekaburan. Pernyataan ini dimaksudkan untuk mengharmonisasikan praktek
perusahaan yang memilih menyajikan aktiva lancar dan kewajiban jangka
pendek dalam laporan keuangannya.
2.2.2. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 9 Penyajian Aktiva Lancar
dan Kewajiban Jangka Pendek
a. Pendahuluan
Perusahaan wajib menyajikan aktiva dan kewajibannya berdasarkan
klasifikasi lancar dan tidak lancar pada waktu menyusun laporan keuangan,
11

kecuali pengklasifikasian lancar dan tidak lancar untuk aktiva dan kewajiban
biasanya tidak dipandang tepat untuk laporan keuangan dari perusahaan yang
periode siklus operasi normalnya tidak dapat ditentukan atau sangat panjang
dan yang diatur secara khusus untuk jenis industri tertentu.
b. Penerapan Klasifikasi Lancar dan Tidak Lancar Aktiva Lancar
Aktiva lancar adalah aktiva yang dapat direalisasikan dalam satu tahun
atau dalam siklus operasi normal perusahaan, mana yang lebih lama, antara lain
meliputi:
Kas dan bank.
Surat-surat berharga yang mudah dijual dan tidak dimaksudkan untuk

ditahan.
Deposito jangka pendek.
Wesel tagih yang akan jatuh tempo dalam waktu satu tahun.
Piutang usaha
Piutang usaha dapat seluruhnya dimasukkan sebagai aktiva lancar, bila
jumlah yang jangka waktu penagihannya lebih dari satu tahun atau siklus

usaha normal diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan.


Piutang lain-lain yang diharapkan akan direalisasikan dalam waktu satu

tahun.
Persediaan.
Pembayaran uang muka pembelian aktiva lancar.
Pembayaran pajak di muka.
Biaya dibayar di muka yang akan menjadi beban dalam waktu satu tahun

sejak tanggal neraca.


c. Kewajiban Jangka Pendek
Kewajiban jangka pendek adalah kewajiban yang diharapkan akan dilunasi
dalam waktu satu tahun atau satu siklus operasi normal perusahaan, mana yang
lebih lama, antara lain meliputi:
Pinjaman bank dan pinjaman lainnya.
Jika suatu pinjaman dilunasi sesuai dengan jadual yang disetujui oleh
kreditor, maka pinjaman tersebut diklasifikasikan sesuai dengan jadual
pelunasannya,

dengan

mengabaikan

hak

kreditor

untuk

meminta

pembayaran sewaktu-waktu.
Bagian kewajiban jangka panjang yang akan jatuh tempo dalam waktu satu
tahun sejak tanggal neraca, dengan pengecualian seperti tersebut pada

paragraf sebelumnya.
Hutang usaha dan biaya yang masih harus dibayar.
Uang muka penjualan.

12

Hutang pembelian aktiva tetap, pinjaman bank dan rupa-rupa hutang

lainnya yang harus diselesaikan dalam waktu satu tahun.


Penyisihan kewajiban pajak.
Hutang dividen.
Pendapatan yang ditangguhkan dan uang muka dari pelanggan.
Kewajiban kontinjen (sehubungan dengan Pernyataan Standar Akuntansi
Keuangan No. 8 tentang Kontinjensi dan Peristiwa Setelah Tanggal
Neraca).

Bagian kewajiban jangka panjang yang akan jatuh tempo dalam waktu satu
tahun setelah tanggal neraca dapat tidak diklasifikasikan sebagai kewajiban
jangka pendek jika perusahaan bermaksud untuk membiayai kembali
(refinance) kewajiban tersebut dengan pendanaan jangka panjang dan terdapat
jaminan bahwa perusahaan akan mampu melakukannya. Kemampuan
perusahaan tersebut ditunjukkan dengan adanya:

Penerbitan modal saham atau kewajiban (obligation) jangka panjang baru

setelah tanggal neraca; atau


Perjanjian pendanaan yang tidak dapat dibatalkan dan tidak akan jatuh
tempo dalam satu tahun setelah tanggal neraca serta kreditor atau investor
yang bersangkutan mempunyai kemampuan keuangan untuk memenuhi
perjanjian tersebut.

Jika bagian kewajiban jangka panjang yang akan jatuh tempo dalam waktu satu
tahun setelah tanggal neraca tidak diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka
pendek sehubungan dengan paragraf sebelumnya, maka jumlah kewajiban
tersebut dan persyaratan pendanaan kembali harus diungkapkan.
d. Penyajian Dalam Laporan Keuangan
Jumlah aktiva lancar dan kewajiban jangka pendek yang disajikan dalam
laporan keuangan tidak dapat saling menghapus (offset), kecuali dimungkinkan
menurut hukum.
Jumlah aktiva lancar yang dijaminkan harus diungkapkan dalam catatan
atas laporan keuangan.
e. Tanggal Efektif
Pernyataan ini berlaku untuk penyusunan laporan keuangan yang
mencakupi periode laporan yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari
1995. Penerapan lebih dini sangat dianjurkan.
13

2.3. Pengukuran, Pengakuan dan Penilaian


2.3.1. IAS 39 Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran
Tujuan Pernyataan ini adalah untuk menetapkan prinsip untuk pengakuan dan
pengukuran aset keuangan, kewajiban keuangan dan kontrak pembelian atau
penjualan item non-keuangan. Persyaratan untuk menyajikan informasi tentang
instrumen keuangan dalam PSAK 32 Instrumen Keuangan: Penyajian. Persyaratan
untuk mengungkapkan informasi mengenai instrumen keuangan dalam IFRS 7
Instrumen Keuangan: Pengungkapan.
a. Awal Pengakuan
Entitas harus mengakui aset keuangan atau kewajiban keuangan pada
neraca jika, dan hanya jika, entitas menjadi pihak dalam ketentuan-ketentuan
kontrak dari instrumen.
b. Penghentian Pengakuan Kewajiban Keuangan
Entitas harus menghapus kewajiban keuangan (atau bagian dari kewajiban
keuangan) dari neraca jika, dan hanya jika, itu dipadamkan-yaitu ketika
kewajiban yang ditentukan dalam kontrak habis atau dibatalkan atau berakhir.
c. Awal Pengukuran Aset Keuangan dan Kewajiban Keuangan
Ketika aset keuangan atau kewajiban keuangan diakui pada awalnya, suatu
entitas harus mengukurnya pada nilai wajarnya ditambah, dalam hal aset
keuangan atau kewajiban keuangan tidak pada nilai wajar melalui laporan laba
rugi, biaya transaksi yang secara langsung dengan akuisisi atau isu dari aset
keuangan atau kewajiban keuangan.
Nilai wajar adalah nilai dimana suatu aset dapat dipertukarkan atau
kewajiban diselesaikan, antara pihak yang memahami dan berkeinginan untuk
transaksi lengan panjang.
d. Setelah Pengukuran Aset Keuangan
Untuk tujuan pengukuran aset keuangan setelah pengakuan awal, standar
ini mengklasifikasikan aset keuangan ke dalam empat kategori berikut,
didefinisikan dalam ayat 9:
aset keuangan pada nilai wajar melalui laporan laba rugi;
investasi dimiliki hingga jatuh tempo;
kredit dan piutang, dan
aset keuangan yang tersedia untuk dijual.
Amandemen terhadap Standar, yang diterbitkan pada bulan Juni 2005,
memperbolehkan entitas untuk menunjuk aset keuangan atau kewajiban
keuangan (atau kelompok aset keuangan, kewajiban keuangan atau keduanya)
14

pada pengakuan awal sebagai satu yang akan diukur pada nilai wajar, dengan
perubahan nilai wajar diakui dalam laporan laba rugi. Untuk menerapkan
disiplin pada kategori ini, suatu entitas yang dilarang reklasifikasi instrumen
keuangan ke dalam atau keluar dari kategori ini.
Setelah pengakuan awal, suatu entitas harus mengukur aset keuangan,
termasuk derivatif yang merupakan aset, dengan nilai wajar, tanpa
pengurangan untuk biaya transaksi mungkin dikenakan pada penjualan atau
pelepasan lainnya, kecuali untuk aset keuangan sebagai berikut:

kredit dan piutang sebagaimana dimaksud dalam ayat 9, yang harus diukur
pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode bunga

efektif;
dimiliki hingga jatuh tempo investasi sebagaimana dimaksud dalam ayat 9,
yang harus diukur pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan

metode bunga efektif, dan


investasi dalam instrumen ekuitas yang tidak memiliki harga pasar yang
berlaku di pasar yang aktif dan nilai wajarnya tidak dapat diukur secara
andal dan derivatif yang terkait dengan dan harus diselesaikan dengan
penyerahan seperti instrumen ekuitas kuotasi, yang harus diukur pada
biaya (lihat Lampiran A ayat AG80 dan AG81).

Aset keuangan yang ditetapkan sebagai unsur yang dilindungi nilainya tunduk
pada pengukuran berdasarkan persyaratan akuntansi lindung nilai dalam
paragraf 89-102. Semua aset keuangan kecuali yang diukur pada nilai wajar
melalui laporan laba rugi ini akan ditinjau kembali untuk penurunan sesuai
dengan paragraf 58-70 dan paragraf Lampiran A AG84-AG93.
e. Setelah Pengukuran Kewajiban Keuangan
Setelah pengakuan awal, suatu entitas harus mengukur semua kewajiban
keuangan pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode
bunga efektif, kecuali:
kewajiban keuangan pada nilai wajar melalui laporan laba rugi. Kewajiban
tersebut, termasuk derivatif yang kewajiban, harus diukur pada nilai wajar
kecuali untuk kewajiban derivatif yang terkait dengan dan harus
diselesaikan dengan penyerahan instrumen ekuitas kuotasi nilai wajarnya

15

tidak dapat diukur secara andal, yang harus diukur sebesar biaya

perolehan.
kewajiban keuangan yang muncul ketika pengalihan aset keuangan tidak
memenuhi syarat untuk penghentian pengakuan atau ketika pendekatan
terlibat secara berlaku. Paragraf 29 dan 31 berlaku untuk pengukuran

kewajiban keuangan tersebut.


jaminan keuangan tertular sebagaimana dimaksud dalam ayat 9. Setelah
pengakuan awal, sebuah penerbit dari kontrak tersebut harus (kecuali
paragraf 47 (a) atau (b) berlaku) mengukur pada nilai tertinggi antara:
o jumlah yang ditentukan sesuai dengan PSAK 37 Kewajiban
Diestimasi, Kewajiban Kontinjensi dan Aktiva Kontinjensi, dan
o jumlah awalnya diakui (lihat paragraf 43) kurang, bila sesuai,

amortisasi kumulatif diakui sesuai dengan IAS 18 Pendapatan.


komitmen untuk memberikan pinjaman pada tingkat bunga di bawah pasar.
Setelah pengakuan awal, sebuah penerbit komitmen seperti itu harus
(kecuali paragraf 47 (a) berlaku) mengukur pada nilai tertinggi antara:
o jumlah yang ditentukan sesuai dengan IAS 37; dan
o jumlah awalnya diakui (lihat paragraf 43) kurang, bila sesuai,
amortisasi kumulatif diakui sesuai dengan IAS 18.

2.3.2. Keuntungan dan Kerugian


Keuntungan atau kerugian dari perubahan nilai wajar dari aset keuangan atau
kewajiban keuangan yang bukan bagian dari hubungan lindung nilai, diakui,
sebagai berikut:
a. keuntungan atau kerugian dari aset keuangan atau kewajiban keuangan yang
diklasifikasikan pada nilai wajar melalui laporan laba rugi diakui dalam
laporan laba rugi,
b. keuntungan atau kerugian atas aset keuangan yang tersedia untuk dijual harus
diakui langsung dalam ekuitas melalui laporan perubahan ekuitas, kecuali
untuk kerugian penurunan nilai dan keuntungan dan kerugian selisih kurs,
sampai aset keuangan tidak lagi diakui, pada yang waktu keuntungan atau
kerugian kumulatif yang sebelumnya telah diakui dalam ekuitas harus diakui
dalam laporan laba rugi.
Namun demikian, bunga dihitung dengan menggunakan metode bunga efektif
diakui dalam laporan laba rugi. Dividen atas instrumen ekuitas tersedia untuk
dijual diakui dalam laporan laba rugi ketika hak entitas untuk menerima
pembayaran ditetapkan.
16

Untuk aset keuangan dan kewajiban keuangan yang dicatat pada biaya perolehan
diamortisasi keuntungan atau kerugian diakui dalam laporan laba rugi pada saat
aset keuangan atau kewajiban keuangan tidak lagi diakui atau mengalami
penurunan nilai, dan melalui proses amortisasi. Namun, untuk aset keuangan atau
kewajiban keuangan yang unsur yang dilindungi nilainya akuntansi untuk
keuntungan atau kerugian harus mengikuti ayat 89-102.
2.3.3. Penurunan dan Tidak Tertagihnya Aset Keuangan
Suatu entitas harus menilai pada setiap tanggal neraca untuk menentukan
apakah terdapat bukti obyektif bahwa aset keuangan atau kelompok aset keuangan
terganggu.
2.3.4. Nilai Lindung
Jika ada hubungan nilai lindung yang ditunjuk antara instrumen nilai lindung
dan item yang nilai dilindungi seperti yang dijelaskan dalam paragraf 85-88 dan
paragraf Lampiran A-AG102 AG104, akuntansi untuk keuntungan atau kerugian
atas instrumen nilai lindung dan kewajiban yang dilindungi harus mengikuti ayat
89-102.
Hubungan nilai lindung dari tiga jenis:
a. Nilai lindung atas nilai wajar
Instrumen nilai lindung terhadap risiko perubahan nilai wajar suatu aktiva atau
kewajiban yang diakui atau terhadap komitmen teguh yang belum diakui, atau
bagian diidentifikasi seperti komitmen aset, kewajiban atau perusahaan, yang
disebabkan risiko tertentu dan dapat mempengaruhi laba rugi.
b. Nilai lindung arus kas: instrumen nilai lindung terhadap eksposur terhadap
variabilitas arus kas yang:
dihubungkan dengan risiko tertentu yang dihubungkan dengan pengakuan
aset atau kewajiban (seperti semua atau beberapa pembayaran bunga masa
depan utang variable rate) atau yang diperkirakan dalam transaksi dan
dapat mempengaruhi laba rugi.
c. melakukan nilai lindung atas investasi bersih dalam operasi asing sebagaimana
didefinisikan dalam PSAK 21.
Jika nilai lindung atas nilai wajar memenuhi persyaratan dalam ayat 88 dalam
periode tertentu, hal itu akan dicatat sebagai berikut:

17

a. keuntungan atau kerugian dari penilaian instrumen lindung nilai pada nilai
wajar (untuk instrumen lindung nilai) atau komponen mata uang asing dari
nilai tercatatnya diukur sesuai dengan IAS 21 (untuk instrumen lindung nilai
non-derivatif) harus diakui dalam laba rugi; dan
b. keuntungan atau kerugian atas item yang dilindung nilai yang berhubungan
dengan risiko lindung nilai wajib menyesuaikan nilai tercatat dari item yang
dilindung nilai dan diakui dalam laporan laba rugi. Hal ini berlaku jika item
yang dilindung nilai dinyatakan berdasarkan biaya. Pengakuan keuntungan
atau kerugian yang berhubungan dengan risiko lindung nilai dalam laporan
laba rugi berlaku jika item yang dilindung nilai merupakan aset keuangan
tersedia untuk dijual.
Jika nilai lindung arus kas memenuhi persyaratan dalam ayat 88 dalam periode
tertentu, hal itu akan dicatat sebagai berikut:
a. Bagian keuntungan atau kerugian instrumen nilai lindung yang ditentukan
untuk menjadi nilai lindung efektif (lihat paragraf 88) diakui langsung dalam
ekuitas melalui laporan perubahan ekuitas, dan
b. Bagian yang tidak efektif dari keuntungan atau kerugian instrumen nilai
lindung diakui dalam laporan laba rugi.
Nilai lindung investasi bersih pada kegiatan operasi luar negeri, termasuk
instrumen nilai lindung suatu pos moneter yang dicatat sebagai bagian dari
investasi bersih (lihat IAS 21), harus diperlakukan sama seperti pada nilai lindung
arus kas:
a. Bagian keuntungan atau kerugian instrumen nilai lindung yang ditentukan
untuk menjadi nilai lindung efektif (lihat paragraf 88) diakui langsung dalam
ekuitas melalui laporan perubahan ekuitas, dan
b. Bagian yang tidak efektif akan diakui dalam laporan laba rugi.
2.3.5. Penilaian
Penilaian adalah penentuan jumlah rupiah yang harus dilekatkan pada suatu
pos aset pada saat akan dilaporkan atau disajikan dalam statemen keuangan pada
tanggal tertentu. Tujuan penilaian aset adalah mempresentasikan atribut pos-pos
aset yang berpaut dengan tujuan pelaporan keuangan dengan menggunakan basis
penilaian yang sesuai. Hendriksen dan Van breda membahas konsep dasar
18

penilaian aset untuk tujuan pelaporan keuangan dari dua dimensi yaitu arah aliran
aset dan waktu.
Basis pengukuran untuk menilai aset yang paling valid adalah harga atau nilai
pertukaran. Nilai pertukaran dijadikan basis karena dianggap objektif sehingga
memenuhi kualitas keterandalan informasi. Nilai pertukaran itu sendiri dapat
dipandang dari dua sisi yaitu pertukaran dalam pemerolehan aset (nilai masukan)
dan pertukaran dalam pemanfaatan aset (nilai keluaran).
Secara umum nilai masukan tersebut terdiri atas kos historis, kos pengganti
dan kos harapan sedangkan nilai keluaran terdiri atas harga jual masa lalu, harga
jual sekarang, dan nilai terrealisasi harapan.
Konsep nilai masukan dan keluaran sebenarnya berkaitan dengan konsep
kesatuan usaha yang dianggap menguasai sumber ekonomik (aset) dan harus
mempertanggungjelaskan aset tersebut. Oleh karena itu yang dimaksud masukan
tidak lain adalah transaksi pertukaran (exchange) dalam rangka memperoleh suatu
aset, sedangkan keluaran adalah transaksi pertukaran dalam rangka menjual suatu
pos aset atau objek jasa tertentu. Nilai aset secara umum didasarkan pada nilai
pertukaran dengan mempertimbangkan objektivitas penilaian dan relevansi
terhadap aliran kas. Oleh karena itu, tiap dasar penilaian mempunyai keunggulan
dan kelemahan serta kondisi keterterapannya.
Kewajiban mempunyai tiga karakteristik utama, yaitu pengorbanan manfaat
ekonomik masa datang, menjadi keharusan sekarang, dan timbul akibat transaksi
atau kejadian masa lampau.
Kewajiban secara umum dinilai atas dasar jumlah rupiah yang harus
dikorbankan seandainya pada saat tersebut kewajiban harus dilunasi. Jumlah ini
disebut nilai pelunasan sekarang.
Sesuai dengan atributnya, kewajiban dapat dinilai atas dasar harga pasar
sekarang, nilai pelunasan neto, dan nilai diskunan aliran kas masa datang.
Kewajiban dapat diakui atas dasar kriteria pengakuan yaitu definisi, keterukuran ,
keterandalan, dan keterpautan. Saat untuk menandai bahwa kriteria pengakuan
dipenuhi adalah kaidah pengakuan yaitu: ketersediaan dasar hukum, keterterapan

19

konsep dasar konservatisme, ketertentuan substansi ekonomik transaksi, dan


keterukuran nilai kewajiban.
Pengukur yang paling objektif untuk menentukan kos kewajiban pada saat
terjadinya adalah penghargaan sepakatan. Penghargaan sepakatan suatu kewajiban
merefleksikan nilai setara tunai atau nilai sekarang kewajiban yaitu jumlah rupiah
pengorbanan sumber ekonomik seandainya kewajiban dilunasi pada saat
terjadinya.
Kendala pengukuran Hutang dapat dilihat dari konsep konservatisme. Konsep
konservatisme sebagai preferensi terhadap metode-metode akuntansi yang
menghasilkan nilai paling rendah untuk aset dan pendapatan di satu sisi, dan
menghasilkan nilai paling tinggi untuk utang dan biaya, di sisi lain. Atau dengan
kata lain, konservatisme menghasilkan nilai buku ekuitas yang paling rendah.
Berdasarkan definisi tersebut, maka praktik konservatisme akuntansi sering
memperlambat atau menunda pengakuan pendapatan yang mungkin terjadi, tapi
mempercepat pengakuan biaya yang mungkin terjadi. Sementara itu, dalam
penilaian aset dan utang, aset dinilai pada nilai yang paling rendah dan sebaliknya,
utang dinilai pada nilai yang paling tinggi. Hal inilah yang menjadi dasar mengapa
konservatisme merupakan salah satu kendala pengukuran.

20

BAB III PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Pelaporan keuangan meliputi laporan keuangan dan cara lain untuk
melaporkan informasi. Laporan keuangan merupakan unsur utama pelaporan
keuangan terdiri dari neraca, laporan rugi laba, laporan perubahan modal, dan
laporan perubahan posisi keuangan laporan arus zas.
Memberikan informasi guna membantu investor dan kreditur yang ada dan
yang potensial dalam menaksir jumlah, waktu, dan ketidakpastian penerimaan kas
di masa yang akan datang dari dividen atau bunga dan hasil dari penjualan,
pelunasan, atau jatuh tempo dari sekuritas atau pinjaman.
Memberikan informasi mengenai sumber daya ekonomi perusahan dan
klaim atas sumber daya itu (kewajiban untuk mentransfer sumber daya kepada
kesatuan lain dan ekuitas pemilik) dan dampak dari transaksi, kejadian dan situasi
yang akan memperngaruhi sumber daya dan klaim terhadap sumber daya itu.
3.2. Saran
Dalam penulisan makalah ini masih banyak terdapat kesalahan yang perlu
diperbaiki. Maka dari itu penulis sangat berharap kritik dan sarannya kepada
setiap pembaca agar makalah ini bisa lebih baik.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi yang membaca dan yang
menulis sekian trimakasih.

21

Daftar Pustaka
Hendriksen, Eldon S dan Michael F. Van Breda. Accounting Theory, atau Teori
Akunting, Terj. Herman Wibowo, Tangerang: Interaksara.
Ardika, Kadek. 2012. Pengukuran dan Penilaian Akun-akun Neraca (Aktiva dan
Hutang). http://kdardika.blogspot.com/2012/09/pengukuran-dan-penilaian-akunakun.html. (diakses pada tanggal 20 Februari 2015)
Sarah, Siti Adi. 2013. Tugas Kuliah Makalah Akuntansi Teori Akuntansi dan
Laporan Keuangan. https://sitisarahadi.wordpress.com/2013/05/31/tugas-kuliahmakalah-akuntansi-teori-akuntansi-dan-laporan-keuangan/. (diakses pada tanggal
20 Februari 2015)
Wahyu,
Seh
Lestari.

2013.

Laporan

Posisi

Keuangan.

http://sehwahyulestari.blogspot.com/2013/04/laporan-posisi-keuangan.html.
(diakses pada tanggal 20 Februari 2015)
Pedoman
Standar
Akuntansi
Keuangan

(PSAK)

No.

https://alengwee.files.wordpress.com/2011/10/psak-09-penyajian-aktiva-lancardan-kewajiban-jangka-pendek.pdf. (diakses pada tanggal 20 Februari 2015)

22

9.