Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM

STRUKTUR DAN PERKEMBANGAN HEWAN II


PERKEMBANGAN KATAK

OLEH :
NAMA

: FIRMAN DWI ARJULIANDIKA

NIM

: 08041381320003

KELOMPOK

: VIII

ASISTEN

: RIZKI WAHYUDI

LABORATORIUM ZOOLOGI
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2014

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Katak merupakan salah satu hewan vertebrata pada kelas amphibi yang
berasal dari bahasa yunani (amphi = rangkap, bios = hidup). Sebagian besar kelas
ini menunjukkan bahwa hewan ini memiliki fase kehidupan di air dan kemudian
mempuyai fase kehidupan di darat. Pada kedua fase itu struktur dan fungsinya
menunjukkan sifat antara ikan dan reptilia dan menunjukkan bahwa amphibia
merupakan kelompok chordate yang pertama kali keluar dari kehidupan air. Katak
adalah bilateral simetris. Alat pencernaan yang tampak dari luar yaitu cavum oris
dibatasi oleh maxillae (rahang atas) atap pada sebelah atas, sedang sebelah bawah
dibatasi oleh mandibula (rahang bawah) dan os hyoid. Pada katak jantan dari
banyak species memiliki saku udara (Brotowidjoyo, 1994).
Katak adalah hewan amfibia yang berkulit kasar berbintil-bintil sampai
berbingkul-bingkul, kerapkali kering, dan kaki belakangnya pendek, sehingga
kebanyakan kurang pandai melompat jauh. Pada beberapa jenis katak, sisi tubuhnya
terdapat lipatan kulit berkelenjar mulai dari belakang mata sampai di atas pangkal
paha yang disebut lipatan dorsolateral. Katak mempunyai mata berukuran besar,
dengan pupil mata horisontal dan vertikal. Pada beberapa jenis katak, pupil
matanya berbentuk berlian atau segi empat yang khas bagi masing-masing
kelompok. Pada kebanyakan jenis, binatang betina lebih besar daripada yang
jantan. Ukuran katak dan kodok di Indonesia bervariasi dari yang terkecil hanya 10
mm, dengan berat hanya satu atau dua gram (Radiopoetro, 1977).
Katak sawah dimasukkan ke dalam ordo Anura. Nama anura mempunyai arti
tidak memiliki ekor. Seperti namanya, anggota ordo ini mempunyai ciri umum
tidak mempunyai ekor, kepala bersatu dengan badan, tidak mempunyai leher dan
tungkai berkembang baik. Tungkai belakang lebih besar daripada tungkai depan.
Hal ini mendukung pergerakannya yaitu dengan melompat. Amphibi mempunyai
beragam warna dari hijau terang, orange dan emas, ada pula yang berwarna merah
dan hijau namun jarang ditemukan. Warna tubuh ini bisa disebabkan oleh karena

pigmen atau secara struktural atau dihasilkan oleh keduanya. Pigmen pada amfibi
terletak pada kromatofora di kulit (Pujaningsih, 2007).
Seperti yang sudah kita ketahui masuknya sperma katak ke dalam telur katak
memprakarsai beberapa kejadian. Ketika meiosis telur sudah selesai (sempurna)
maka sabit abu-abu muncul berseberangan dengan titik sperma itu memasuki telur
dan nukleus sperma dan nukleus telur melebur. Segera setelah bagian vital dalam
proses pembuahan sudah sempurna maka terjadilah pembelahan pertama. Nukleus
zigot berbelah melalui mitosis dan muncul sebuah telur yang memanjang secara
membujur melalui kutub telur tersebut, maka segeralah telur membelah menjadi
dua paruhan (Radiopoetro, 1977).
Sistem reproduksi pada katak jantan, yaitu sepasang testis berbentuk bulat
memanjang melekat pada selaput mesorehium yaitu selaput yang menghubungkan
testis dengan ginjal berfungsi menghasilkan sperma dan kelenjar gonad. Vas Defferentia,
yaitu saluran yang menguhubungkan testis dengan ginjal pada katak terdapat 5-8
saluran. Ductus urospermaticus, yaitu saluran dari ginjal ke kloaka yang
menyalurkan air seni dan sperma. Vasica seminalis merupakan bagian yang
melebur dari ductus urospermaticus, tempat menyimpan sementara spermatozoa
sebelum dikeluarkan (Brotowidjoyo, 1994).
Sistem reproduksi pada katak jantan, yaitu ovarium terdapat sepasang kiri dan
kanan melekat pada mesovarium yang berhubungan dengan dinding mediodorsal dari
rongga tubuh. Saluran reproduksi, oviduk merupakan saluran yang berkelok-kelok.
Oviduk dimulai dengan bagian yang mirip corong (infudibulum) dengan lubangnya
yang disebut ostium abdominal. Oviduk di sebelah kaudal mengadakan pelebaran yang
disebut dutrus mesonfrus dan akhirnya bermuara di kloaka (Pujaningsih, 2007).

1.2. Tujuan Praktikum


1. Untuk mempelajari tingkatan perkembangan telur katak (Rana sp.) dari
tingkatan fertilisasi, segmentasi sampai menjadi larva (preparat basah).
2. Untuk mempelajari perkembangan dalam tubuh embrio, juga mengenai proses
yang terjadi yaitu blastulatio, gastrulatio, neurulatio dan organogenesis (preparat
awetan/section).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Katak adalah hewan amfibia yang berkulit kasar berbintil-bintil sampai


berbingkul-bingkul, kerapkali kering, dan kaki belakangnya pendek, sehingga
kebanyakan kurang pandai melompat jauh. Pada beberapa jenis katak, sisi tubuhnya
terdapat lipatan kulit berkelenjar mulai dari belakang mata sampai di atas pangkal
paha yang disebut lipatan dorsolateral. Katak mempunyai mata berukuran besar,
dengan pupil mata horisontal dan vertikal. Pada beberapa jenis katak, pupil
matanya berbentuk berlian atau segi empat yang khas bagi masing-masing
kelompok. Pada kebanyakan jenis, binatang betina lebih besar daripada yang
jantan. Ukuran katak dan kodok di Indonesia bervariasi dari yang terkecil hanya 10
mm, dengan berat hanya satu atau dua gram (Radiopoetro, 1977).
Sekitar satu jam dari pembelahan pertama dalam telur katak juga melalui
kutub tapi tegak lurus pada yang pertama. Empat sel yang terbentuk kemudian
secara serempak membelah lagi dalam bidang horizontal. Bidang ini terletak lebih
dekat dengan kutub animal daripada kutub vegetal, sehingga akibatnya sel-sel
kutub hewan lebih kecil daripada sel-sel yang berisi kuning telur pada kutub
vegetal. Pembelahan akan terus berlanjut sehingga akan membentuk kumpulankumpulan seperti buah arbei (Pujaningsih, 2007).
Pembelahan awal yang terjadi pada embrio katak bersifat sinkron atau
bersamaan waktunya, namun membentuk struktur yang asimetris. Perbedaan
pembelahan ini dipengaruhi oleh kutub yang terjadi pada sel embrio hewan, yaitu
kutub animal dan kutub vegetal. Pada katak, bagian kutub vegetal yang berisi
kuning telur terdapat dalam jumlah yang lebih sedikit atau membelah lebih sedikit
(Radiopoetro, 1977).
Pada awalnya, katak betina dewasa akan bertelur, kemudian telur tersebut
akan menetas setelah 10 hari. Setelah menetas, telur katak tersebut menetas menjadi
berudu. Setelah berumur 2 hari, berudu mempunyai insang luar yang berbulu untuk
bernapas. Setelah berumur 3 minggu insang berudu akan tertutup oleh kulit.
Menjelang umur 8 minggu, kaki belakang berudu akan terbentuk kemudian

membesar ketika kaki depan mulai muncul. Umur 12 minggu, kaki depannya mulai
berbentuk, ekornya menjadi pendek serta bernapas dengan paru-paru. Setelah
pertumbuhan anggota badannya sempurna, katak tersebut akan berubah menjadi
katak dewasa. Selain pada katak, metamorphosis sempurna juga terjadi pada kupukupu (Brotowidjoyo, 1994).
Katak mengalami pertumbuhan embrio yang sama, setelah mengalami
perkembangan embrio dari fase morula, blastula, gastrula, dan specialisasi dan
defferensiasi, maka akan dilanjutkan masa metamorfosis. Adapun metamorfosis
pada katak meliputi telur, berudu berinsang luar, berudu berinsang dalam, berudu
bertungkai belakang, berudu bertungkai depan, katak dengan ekor mulai mereduksi,
katak muda usia 3 bulan dan katak dewasa usia 6 bulan (Radiopoetro, 1977).
Metamorfosis amphibi umumnya digabungkan dengan perubahan persiapan
yang mana dari organisme aquatik untuk menjadi organisme daratan. Perubaan ini
meliputi hilangnya gigi dan insang internal pada anak katak, seperti hilangnya ekor,
kemudian akan terjadi proses pembentukan seperti berkembangnya anggota tubuh
dan morfogenesis kelenjar dermoid. Perubahan lokomosi terjadi dari pergerakan
ekor menjadi terbentuknya lengan depan dan lengan belakang. Gigi yang digunakan
untuk mencabik tanaman hilang dan digantikan dengan perubahan bentuk baru dari
mulut dan rahangnya, otot dari lidah juga berkembang, insang mengalami
degenerasi, paru-paru membesar, otot dan tulang rawan berkembang untuk
memompa udara masuk dan keluar pada paru-paru (Pujaningsih, 2007).
Pada berudu, fotopigmen ratina yang utama adalah porphyropsin. Selama
metamorfosis, pigmen ini merubah karakterisik fotopigmen dari darat dan
vertebrata perairan. Pengikatan hemoglobin (Hb) dengan O 2 juga mengalami
perubahan. Enzim yang terdapat pada hati juga mengalami perubahan, hal ini
disebabkan adanya perubahan habitat. Kecebong bersifat ammonotelik yaitu
mensekresikan amonia, sedangkan katak dewasa bersifat ureotelic yaitu
mensekresikan urea. Selama metamorfosis, hati mensintesis enzim untuk siklus
urea agar dapat membentuk atau menghasilkan urea dari CO 2 dan amonia
(Brotowidjoyo, 1994).
Tahap embrio dimulai dari proses fertilisasi (penyatuan sel telur dan sperma).
Pada fase morula mengalami pembelahan berkali-kali. Pembelahan yang cepat

terjadi pada bagian vertikal yang memiliki kutub hewan dan kutub vegetative.
Morula dikatakan sebagai embrio yang terdiri dari 16-64 sel. Blastula adalah bentuk
lanjutan dari morula yang terus mengalami pembelahan, bentuk blastula ditandai
dengan mulai adanya perubahan sel dengan mengadakan pelekukan yang tidak
beraturan, di dalam blastula terdapat cairan sel yang disebut dengan blastosoel.
Adapun proses pembentukan blastula di sebut blastulasi. Blastulasi menunjukan
perbedaan pada tingkat takson masing-masing. Proses blastulasi akan diiringi oleh
suatu proses berikutnya yaitu gastrulasi (Pujaningsih, 2007).
Pada tingkat gastrula akan terjadi proses dinamisasi daerah-daerah bakal
pembentuk alat pada blastula, diatur dan dideretkan sesuai bentuk dan susunan
tubuh spesies yang bersangkutan. Dalam gastrulasi sel masih terus membelah dan
memperbanyak sel. Selain terjadi perbanyakan sel, di dalam proses gastrulasi juga
terjadi berbagai gerakan untuk mengatur dan menyusun deretan sesuai dengan
bentuk dan susunan tubuh dari individu spesies (Brotowidjoyo, 1994).
Proses gastrulasi pada katak juga melibatkan beberapa gerak yang dimulai
dengan berinvaginasinya hypoblast pada celah yang terbentuk pada awal proses
(bibir dorsal blastopore). Invaginasi ini disertai oleh pre-chorda di daerah dorsomedian bibir dorsal yang bergerak ke arah anterior bakal embrio. Gerakan ini
diikuti oleh bakal notochord yang bergerak ke posterior ke arah bibir dorsal yang
kemudian berinvolusi di daerah dorso-median menyertakan pre-chorda. Sel-sel
notochord yang terletak di bibir lateral berkonvergensi secara perlahan menuju bibir
dorsal. Notochord akan berada persis di bawah bakal ectoderm saraf di dorsalmedian. Bakal mesoderm yang terletak pada kedua sisi bakal notochord
berkonvergensi ke bibir dorsal kemudian berinvolusi (Pujaningsih, 2007).
Neurulasi adalah proses penempatan jaringan yang akan tumbuh menjadi
saraf, jaringan ini berasal dari diferensiasi ectoderm, sehingga disebut neural
ectoderm. Sebagai inducer pada proses neurulasi adalah chorda mesoderm yang
terletak di bawah neural ectoderm. Neurulasi sering juga disebut dengan proses
awal pembentukan sistem saraf yang melibatkan perubahan sel-sel ektoderm bakal
neural, dimulai dengan pembentukan keping neural (neural plate), lipatan neural
(neural folds) serta penutupan lipatan ini untuk membentuk neural tube, yang
terbenam dalam dinding tubuh (Radiopoetro, 1977).

BABA III
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1. Waktu dan Tempat


Praktikum ini dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 20 Oktober 2014, pukul
13.30 sampai dengan pukul 16.00 WIB. Bertempat di laboratorium Zoologi,
Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas
Sriwijaya, Indralaya.
3.2. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum ini, antara lain Loop atau Binokuler
Loop, gelas arloji, pipet tetes, botol flakon dan mikroskop. Sedangkan bahan yang
digunakan, antara lain telur katak, kecebong/berudu, katak berekor atau katak muda
dan katak dewasa.

3.3. Cara Kerja


A. Preparat Basah
Amatilah semua preparat telur katak dari semua tingkatan perkembangan
dengan menggunakan Loop atau Binokuler Loop, dimulai dari tingkatan telur yang
belum dibuahi sampai tingkat penutupan insang sempurna. Bandingkan preparat
basah yang diamati dengan foto seri perkembangan telur katak untuk memastikan
tingkatan dari preparat basah tersebut. Gambarlah preparat yang diamati dan beri
keterangan sejelas-jelasnya. Deskripsikan stadium dari preparat yang diamati.
B. Preparat Awetan (Section)
Mula-mula dilihat dengan perbesaran lemah supaya semua bagian penampang
tampak dalan suatu bidang pandangan. Kemudian dengan perbesaran kuat untuk
melihat struktur selnya. Preparat yang diamati adalah preparat awetan penampang
vertikal tingkat 2 sel, 8 sel, blastula dan gastrula. Gambarlah dan beri keterangan
dengan jelas, catat perbesaran mikroskop yang digunakan. Untuk pengamatan
preparat awetan penampang transversal neurula (seri), dimulai juga dengan
perbesaran lemah, baru kemudian perbesaran kuat. Gambarlah penampang melalui
tengah-tengah badan: neurula awal, neurula pertengahan, dan neurula akhir. Untuk
preparat awetan penampang sagittal stadium 20, preparat seri yang digunakan

diamati dan diperiksa dengan perbesaran lemah saja (catat perbesaran yang
digunakan). Gambarlah bagian yang terbesar dari penampang mid sagittal dan
bagian-bagian yang tampak. Untuk preparat awetan penampang transversal berudu
stadium 22, diamati dan diperiksa dengan perbesaran lemah (catat perbesaran yang
digunakan). Ikuti penampang seri dari bagian kepala sampai bagian ekor.
Perhatikan struktur organ tubuh yang sudah terbentuk. Amati dengan seksama dan
gambarlah. Beri keterangan sejelas-jelasnya.

ABSTRAK

Praktikum Struktur dan Perkembangan Hewan II yang berjudul


Perkembangan Katak ini dilaksanakan pada hari Senin tanggal 20 Oktober 2014
pukul 13.30-16.00 WIB di Laboratorium Zoologi, Jurusan Biologi, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sriwijaya, Indralaya. Adapun

tujuan praktikum ini adalah untuk mempelajari tingkatan perkembangan telur katak
(Rana sp.) dari tingkatan fertilisasi, segmentasi sampai menjadi larva (preparat
basah), dan untuk mempelajari perkembangan dalam tubuh embrio, juga mengenai
proses yang terjadi yaitu blastulatio, gastrulatio, neurulatio dan organogenesis
(preparat awetan/section). Alat yang digunakan dalam praktikum ini, antara lain
Loop atau Binokuler Loop, gelas arloji, pipet tetes, botol flakon dan mikroskop.
Sedangkan bahan yang digunakan, antara lain telur katak, kecebong/berudu, katak
berekor atau katak muda dan katak dewasa.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, didapatkan hasil sebagai
berikut:
a. Telur Katak
Keterangan:
1.
2.
3.

b. Kecebong
Keterangan:
1.

2.
3.

c. Berudu
Keterangan:
1.
2.
3.
d. Katak Berekor
Keterangan:
1.
2.
3.

e. Katak Muda
Keterangan:
1.
2.
3.

f. Katak Dewasa
Keterangan:
1.
2.
3.

4.2. Pembahasan

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, diketahui bahwa perkembangan


katak dimulai dari telur, kecebong, berudu, katak berekor, katak muda dan terakhir
katak dewasa. Menurut Pujaningsih (2007), bahwa sekitar satu jam dari
pembelahan pertama dalam telur katak juga melalui kutub tapi tegak lurus pada
yang pertama. Empat sel yang terbentuk kemudian secara serempak membelah lagi
dalam bidang horizontal. Bidang ini terletak lebih dekat dengan kutub animal
daripada kutub vegetal, sehingga akibatnya sel-sel kutub hewan lebih kecil daripada
sel-sel yang berisi kuning telur pada kutub vegetal. Pembelahan akan terus berlanjut
sehingga akan membentuk kumpulan-kumpulan seperti buah arbei.
Sebelum terbentuknya telur katak terjadilah proses pembentukan embrio.
Menurut Pujaningsih (2007), bahwa tahap embrio dimulai dari proses fertilisasi
(penyatuan sel telur dan sperma). Pada fase morula mengalami pembelahan berkalikali. Pembelahan yang cepat terjadi pada bagian vertikal yang memiliki kutub
hewan dan kutub vegetative. Morula dikatakan sebagai embrio yang terdiri dari
16-64 sel. Blastula adalah bentuk lanjutan dari morula yang terus mengalami
pembelahan, bentuk blastula ditandai dengan mulai adanya perubahan sel dengan
mengadakan pelekukan yang tidak beraturan, di dalam blastula terdapat cairan sel
yang disebut blastosoel. Adapun proses pembentukan blastula di sebut blastulasi.
Proses blastulasi akan diiringi oleh suatu proses berikutnya yaitu gastrulasi.
Metamorfosis juga tejadi pada katak. Katak dewasa sebelumnya melewati
fase menjadi berudu. Menurut Brotowidjoyo (1994), bahwa pada berudu,
fotopigmen ratina yang utama adalah porphyropsin. Selama metamorfosis, pigmen
ini merubah karakterisik fotopigmen dari darat dan vertebrata perairan. Pengikatan
hemoglobin (Hb) dengan O2 juga mengalami perubahan. Enzim yang terdapat pada
hati juga mengalami perubahan, hal ini disebabkan adanya perubahan habitat.
Kecebong bersifat ammonotelik yaitu mensekresikan amonia, sedangkan katak
dewasa bersifat ureotelic yaitu mensekresikan urea. Selama metamorfosis, hati
mensintesis enzim untuk siklus urea agar dapat membentuk atau menghasilkan urea
dari CO2 dan amonia.
Katak mengalami perkembangan embrio dari fase morula, blastula, gastrula,
dan spesialisasi dan defferensiasi, maka akan dilanjutkan fase metamorfosis.
Menurut Pujaningsih (2007), bahwa metamorfosis amphibi umumnya digabungkan

dengan perubahan persiapan yang mana dari organisme aquatik untuk menjadi
organisme daratan. Perubaan ini meliputi hilangnya gigi dan insang internal pada
anak katak, seperti hilangnya ekor, kemudian akan terjadi proses pembentukan
seperti berkembangnya anggota tubuh dan morfogenesis kelenjar dermoid.
Perubahan lokomosi terjadi dari pergerakan ekor menjadi terbentuknya lengan
depan dan lengan belakang. Gigi yang digunakan untuk mencabik tanaman hilang
dan digantikan dengan perubahan bentuk baru dari mulut dan rahangnya.
Proses pembentukan gastrula disebut dengan gastrulasi. Menurut Pujaningsih
(2007), bahwa gastrulasi pada katak juga melibatkan beberapa gerak yang dimulai
dengan berinvaginasinya hypoblast pada celah yang terbentuk pada awal proses
(bibir dorsal blastopore). Invaginasi ini disertai oleh pre-chorda di daerah dorsomedian bibir dorsal yang bergerak ke arah anterior bakal embrio. Gerakan ini
diikuti oleh bakal notochord yang bergerak ke posterior ke arah bibir dorsal yang
kemudian berinvolusi di daerah dorso-median menyertakan pre-chorda. Sel-sel
notochord yang terletak di bibir lateral berkonvergensi secara perlahan menuju bibir
dorsal. Notochord akan berada persis di bawah bakal ectoderm saraf di dorsal
median.
Gastrulasi pada katak juga terjadi proses-proses tertentu. Menurut
Brotowidjoyo (1994), bahwa pada tingkat gastrula akan terjadi proses dinamisasi
daerah-daerah bakal pembentuk alat pada blastula, diatur dan dideretkan sesuai
bentuk dan susunan tubuh spesies yang bersangkutan. Dalam gastrulasi sel masih
terus membelah dan memperbanyak sel. Selain terjadi perbanyakan sel, di dalam
proses gastrulasi juga terjadi berbagai gerakan untuk mengatur dan menyusun
deretan sesuai dengan bentuk dan susunan tubuh dari individu spesies
Katak juga mengalami proses pembentukan neurula atau neuralasi. Menurut
Radiopoetro (1977), bahwa neurulasi adalah proses penempatan jaringan yang akan
tumbuh menjadi saraf, jaringan ini berasal dari diferensiasi ectoderm, sehingga
disebut neural ectoderm. Sebagai inducer pada proses neurulasi adalah chorda
mesoderm yang terletak di bawah neural ectoderm. Neurulasi sering juga disebut
dengan proses awal pembentukan sistem saraf yang melibatkan perubahan sel-sel
ektoderm bakal neural.
BAB V
KESIMPULAN

Dari praktikum yang telah dilakukan, diperoleh beberapa kesimpulan sebagai


berikut:
1. Perkembangan katak dimulai dari telur, kecebong, berudu, katak berekor, katak
muda dan terakhir katak dewasa.
2. Blastula adalah bentuk lanjutan dari morula yang terus mengalami pembelahan.
3. Katak juga mengalami metamorfosis.
4. Gastrulasi pada katak juga melibatkan beberapa gerak yang dimulai dengan
berinvaginasinya hypoblast.
5. Proses awal pembentukan sistem saraf pada katak yang melibatkan perubahan
sel-sel ektoderm bakal neural (neurulasi).

DAFTAR PUSTAKA

Brotowidjoyo, M. D. 1994. Zoologi Dasar. Jakarta: Erlangga.


Radiopoetro. 1977. Zoologi. Jakarta: Erlangga.
Pujaningsih, R. I. 2007. Kodok Lembu. Yogyakarta: Kanisius.