Anda di halaman 1dari 10

DEFINISI

Depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan dengan alam
perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan pada pola tidur dan nafsu
makan, psikomotor, konsentrasi, anhedonia, kelelahan, rasa putus asa dan tak berdaya, serta
gagasan bunuh diri.

ETIOLOGI
Dasar umum untuk gangguan depresi tidak diketahui. Banyak usaha untuk mengenali suatu
penyebab biologis atau psikososial untuk gangguan mood telah dihalangin oleh heterogenitas
populasi pasien yang ditentukan oleh system diagnostic yang didasarkan secara klinis yang ada,
termasuk DSM IV. Factor penyebab dapat secara buatan dibagi menjadi faktor genetika, faktor
psikososial dan faktor biologis.

1. faktor genetika
a. Penelitian keluarga
Penelitian pada keluarga menemukan bahwa pada sanak saudara derajat
pertama (contoh : kakak) dari penderita gangguan depresi berkemungkinan 2 3
kali lebih besar daripada sanak saudara derajat pertama subjek kontrol untuk
menderita gangguan depresi.
b. Penelitian adopsi

Pada penelitian ini menemukan bahwa anak biologis dari orang tua yang
menderita tetap berada dlam resiko menderita gangguan mood, bahkan jika
mereka dibesarkan oleh keluarga angkat yang tidak mengalami gangguan.
c. Penelitian kembar
Berdasarkan penelitian, angka kesesuiaian pada kembar monozigotik
kira-kira 50% sedangkan pada kembar dizigotik kira-kira 10-25%
2. faktor psikososial
a. peristiwa kehidupan dan stress lingkungan
peristiwa kehidupan yang menyebabkan stress lebih sering mendahului
episode pertama gangguan mood daripada episode selanjutnya. Suatu teori yang
diajukan bahwa stress yang menyertai episode pertama menyebabkan perubahan
biologi otak yang bertahan lama. Perubahan tersebut dapat meyebabkan
perubahan keadaan fungsional berbagai neurotransmitter dan sistem pemberi
signal intraneuronal.
b. faktor kepribadian promorbid
semua manusia, apapun pola kepribadiannya, dapat dan memang
menjadi depresi. Tidak ada suatu sifat atau tipe kepribadian tunggal yang secara
unik mempredispodidikan seseorang kepada depresi.

c. faktor psikoanalitik dan psikodinamik


d. ketidakberdayaan yang dipelajari

menurut teori ketidakberdayaan bahwa depesi dapat membaik jika klinisi


mengisi pada pasien yang terdepresi suatu rasa pengendalian dan penguasaan
lingkungan. Klinis dapat memberikan dorongan yang menyenangkan dan positif.
e. teori kognitif
menurut teori ini, interpretasi yang keliru kognitif yang sering adalah
melibatkan distorsi negative pengalaman hidup, penilaian diri yang negative,
pesimisme dan keputusasaan. Pandangan negative tersebut yang dipelajari
tersebut selanjutnya menyebabkan perasaan depresi.
3. Faktor Biologis
Sejumlah besar penelitian telah melaporkan berbagai kelainan di dalam
metabolit amin biogenic di dalam darah, urin, cairan serebrospinalis pada pasien dengan
gangguan mood. Norepinefrin dan serotonin merupakan dua neurotransmitter yang
paling berperan dalam patofsiologis gangguan mood selain itu juga terdapat dopamine
yang juga mempunyai peranan penting.

GEJALA KLINIS DAN KALSIFIKASI


Gejala utama
-

afek depresif

kehilangan minat dan kegembiraan

berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah dan


menurunnya aktivitas

Gejala lainnya
a. konsentrasi dan perhatian berkurang

b. harga diri dan kepercayaan berkurang


c. gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna
d. pandangan masa depan yang suram dan pesimistis
e. gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri
f. tidur terganggu
g. nafsu makan berkurang

Kategori episode depresif ringan (F32.0), sedang (F32.1) dan berat (F32.2) yang dirinci di
bawah ini hendaknya digunakan hanya untuk episode depresif tunggal (pertama). Episode
depresif berikutnya harus diklasifikasi di bawah salah satu subdivisi ganguan depresif
berulang (F33.-).

F30.0 Episode Depresif Ringan


Pedoman Diagnostik

Suasana perasaan (mood) yang depresif, kehilangan minat dan kesenangan, dan
mudah menjadi lelah biasanya dipandang sebagai gejala dari depresi yang paling
khas; dan sekurang-kurangnya dua dari ini,

ditambah sekurang-kurangnya dua gejala lain (untuk F32.-) harus ada untuk mene gakkan diagnosis pasti.

Tidak boleh ada gejala yang berat di antaranya.

Lamanya seluruh episode berlangsung ialah sekurangkurangnya sekitar 2 minggu.

Individu yang mengalami episode depresif ringan biasanya resah tentang gejalanya dan
agak sukar baginya untuk meneruskan pekerjaan biasa dan kegiatan sosial, namun
mungkin ia tidak akan berhenti berfungsi sama sekali.

F32.1 Episode Depresif Sedang


Pedoman Diagnostik

Sekurang-kurangnya harus ada dua dari tiga gejala paling khas yang ditentukan
untuk episode depresif ringan (F32.0),

ditambah sekurang-kurangnya tiga (dan sebaiknya empat) gejala lainnya. Beberapa


gejala mungkin tampil amat menyolok, namun ini tidak esensial apabila secara
keseluruhan ada cukup banyak variasi gejalanya.

Lamanya seluruh episode berlangsung minimal sekitar 2 minggu.

Individu dengan episode depresif taraf sedang biasanya menhadapi kesulitan nyata
untuk meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan dan urusan rumah tangga.

F32.2 Episode Depresif Berat tanpa gejala Psikotik


Pada episode depresif berat, penderita biasanya menunjukkan ketegangan atau
kegelisahan yang amat nyata, kecuali apabila retardasi merupakan ciri terkemuka.
Kehilangan harga diri dan perasaan dirinya tak berguna mungkin mencolok, dan bunuh diri
merupakan bahaya nyata terutama pada beberapa kasus berat. Anggapan di sini ialah bahwa
sindrom somatik hampir selalu ada pada episode depresi berat.

Pedoman Diagnostik

Semua tiga gejala khas yang ditentukan untuk episode depresif ringarn dan sedang
(F32.0,F32.1) harus ada,

ditambah sekurang-kurangnya empat gejala lainnya, dan beberapa di antaranya harus


berintensitas berat.

Namun, apabila gejala penting (misalnya agitasi atau retardasi) menyolok, maka
pasien mungkin tidak mau atau tidak mampu untuk melaporkan banyak geja!anya
secara terinci. Dalam hal demikian, penentuan menyeluruh dalam sub kategori
episode berat masih dapat dibenarkan.

Episode depresif biasanya sehatrusnya berlangsung sekurang-kurangnya 2 minggu,


akan tetapi jika gejala amat berat dan beronset sangat cepat, maka mungkin
dibenarkan untuk menegakkan diagnosis dalam waktu kurang dari 2 minggu.

Selama episode depresif berat, sangat tidak mungkin penderita akan mampu
meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan atau urusan rumah tangga, kecuali pada taraf
yang sangat terbatas.

F32.3 Episode Depresif Berat dengan Gejala Psikotik


Pedoman Diagnostik

Episode depresif berat yang memenuhi kriteria menurut F32.2 tersebut di atas,

disertai

waham,

halusinasi

atau

stupor

depresif.

Wahamnya

biasanya

memeperlihatkan ide tentang dosa, kemiskinan atau malapetaka yang mengancam,


dan pasien dapat merasa bertangungjawab atas hal itu. Halusinasi auditorik atau
olfaktorik biasanya berupa suara yang menghina atau menuduh atau bau kotoran
atau daging membusuk. Retardasi psikomotor yang berat dapat menuju pada

stupor. Jika diperlukan, waham atau halusinasi dapat ditenyukan sebagai serasi
atau tidak serasi dengan suasana perasaan (mood).

PENATALAKSANAAN
1. PSIKOTERAPI
Psikoterapi yaitu terapi yang digunakan untuk menghilangkan keluhan-keluhan
dan mencegah kambuhnya gangguan psikologik atau pola perilaku maladaptif. Terapi ini
dilakukan dengan jalan pembentukan hubungan profesional antara terapis dengan pasien.
dapat diberikan secara individu, kelompok, atau pasangan sesuai dengan gangguan
psikologik yang mendasarinya. Beberapa pasien dan klinisi sangat meyakini manfaat
intervensi psikoterapi tetapi ada pula yang sebaliknya yaitu tidak percaya. Berdasarkan
hal ini,keputusan untuk melakukan psikoterapi sangat dipengaruhi oleh penilaian dokter
atau pasiennya.
2. TERAPI KOGNITIF
Ada dugaan bahwa penderita depresi adalah orang yang belajar menjadi tak
berdaya". Depresi diterapi dengan memberikan pasien latihan ketrampilan dan memberikan pengalaman-pengalaman tentang kesuksesan. Terapi ini bertujuan untuk
menghilangkan simptom depresi melalui usaha yang sistematis yaitu mengubah cara pikir
maladaptif dan otomatik pada pasien-pasien depresi. Dasar pendekatannya adalah suatu
asumsi bahwa kepercayaan-kepercayaan yang mengalami distorsi tentang diri sendiri,
dunia, dan masa depan dapat menyebabkan depresi. Pasien harus menyadari cara
berpikirnya yang salah. Kemudian ia harus belajar cara merespons cara pikir yang salah
tersebut dengan cara yang lebih adaptif. Dari perspektif kognitif, pasien dilatih untuk

mengenal dan menghilangkan pikiran-pikiran negatif dan harapan-harapan negatif. Cara


ini dipraktekkan di luar sesi terapi dan menjadi modal utama dalam mengubah gejala.
3. TERAPI PRILAKU
Intervensi perilaku terutama efektif untuk pasien yang menarik diri dari
lingkungan sosial dan anhedonia. Terapi ini sering digunakan bersama-sama terapi
kognitif. Tujuannya adalah meningkatkan aktivitas pasien, mengikutkan pasien
dalam tugas-tugas yang dapat meningkatkan perasaan yang menyenangkan.
Fase awal pasien diminta memantau aktivitasnya, menilai derajat kesulitan
aktivitasnya, kepuasannya terhadap aktivitasnya. Pasien diminta melakukan sejumlah
aktivitas yang menyenangkan. Latihan ketrampilan sosial, asertif, dapat me
ningkatkan hubungan interpersonal dan dapat menurunkan interaksi submisif.
Fase akhir fokus berpindah ke latihan mengontrol diri dan pemecahan masalah.
Diharapkan ilmu yang didapat dalam terapi dapat digeneralisasi dan dipertahankan dalam
lingkungan pasien sendiri
4. PSIKOTERAPI SUPORTIF
Psikoterapi ini hampir selalu diindikasikan. Memberikan kehangatan, empati,
pengertian dan optimisme. Bantu pasien mengidentifikasi dan mengekspresikan
emosinya dan bantu untuk ventilasi. Mengidentifikasi faktor-faktor presipitasi dan
membantu mengoreksi. Bantu memecahkan problem eksternal (misalnya masalah
pekerjaan, rumah tangga). Latih pasien untuk mengenal tanda-tanda dekompensasi yang
akan datang.
5. TERAPI BIOLOGIK

Terapi antidepresi yang pasti dengan obat atau kejang listrik (ECT)
membutuhkan beberapa minggu atau lebih lama dan tidak dilakukan dalam UGD.
Namun demikian, agitasi, ansietas, dan insomnia dapat diobati.
Informasi yang penting untuk menentukan ialah: (1) apakah pasien psikotik,
(2) apakah pasien telah minum obat atau alkohol, dan (3) adakah gangguan medik yang
ditemukan. Kecuali bila pasien mengidap gangguan organik, agitasi, ansietas, dan
insomnia akut dapat diatasi dengan benzodiazepin, seperti lorazepam (Ativan) 1-2
mg per oral atau IM, alprazolam (Xanax) 0,5-1 mg per oral, atau oksazepam (Serax)
10-30 mg per oral, semua diberikan tiap 4 jam dan seperlunya. Dosis ini masih dapat
diulang atau ditingkatkan, seperlunya kecuali telah timbul toksisitas (contoh, ataksia,
disartria, dan nistagmus). Biasanya, sedasi dapat dimulai dengan pemberian
benzodiazepin.
Bila gejala psikotik timbul, benzodiazepin dapat digunakan, tetapi antipsikotika
perlu dipertimbangkan-contoh, haloperidol (Haldol) 2-5 mg per oral atau IM, flufenazin
(Prolixin, Anatensol) 2-5 mg per oral atau IM, atau tiotiksen (Navane) 2-5 mg per oral
atau IM, semua diberikan tiap 4 jam seperlunya.
Bila terdapat kondisi organik, pilihan obat bergantung pada kondisi pasien.
Antipsikotika menurunkan ambang terhadap kejang, dan harus digunakan dengan hati-hati
pada pasien epilepsi. Benzodiazepin meningkatkan ambang kejang juga, tetapi juga
mudah menyebabkan amnesia, masalah kognitif lainnya, atau agitasi pada pasien yang
sebelumnya memang menderita delirium, bingung, atau demensia. Pasien harus dirujuk
demi terapi psikiatrik yang mencakup psikoterapi, atau farmakoterapi, atau keduanya.
Rujukan-Silang:

Agitasi, intoksikasi alkohol, ansietas, intoksikasi dan gejala putus kokain, mensia, sedih dan
berkabung, perawatan di rumah sakit, mania, bunuh diri.