Anda di halaman 1dari 21

CLINICAL SCIENCE SESSION (CSS)

Diajukan untuk memenuhi tugas Program Pendidikan Profesi Dokter (P3D)


SMF Kedokteran Jiwa

Disusun oleh:
Rieza Nurdinsyah H
Irma Amalia

12100112008
12100112031

Preseptor:
dr. Elly SpKj

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER (P3D)


BAGIAN KEDOKTERAN JIWA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
RS JIWA PROVINSI JAWA BARAT
2013
GANGGUAN KECEMASAN

Definisi
Kecemasan merupakan hal yang normal terjadi pada setiap individu, reaksi
umum terhadap stress kadang dengan disertai kemunculan kecemasan. Namun
kecemasan itu dikatakan menyimpang bila individu tidak dapat meredam
(merepresikan) rasa cemas tersebut dalam situasi dimana kebanyakan orang mampu
menanganinya tanpa adanya kesulitan yang berarti.
Kecemasan dapat muncul pada situasi tertentu seperti berbicara didepan
umum, tekanan pekerjaan yang tinggi, menghadapi ujian. Situasi-situasi tersebut
dapat memicu munculnya kecemasan bahkan rasa takut. Namun, gangguan
kecemasan muncul bila rasa cemas tersebut terus berlangsung lama, terjadi perubahan
perilaku, atau terjadinya perubahan metabolisme tubuh.
Penyebab
Terdapat 3 teori psikologikal: psikoanalitik, behavioral, dan eksistensial.
Teori Psikoanalitik
Menurut Freud, kecemasan adalah sinyal akan adanya bahaya di alam bawah sadar.
Kecemasan adalah hasil konflik fisik antara keinginan agresif atau sexual di alam
bawah sadar dan ancaman yang ada dari superego atau kenyataan eksternal. Sebagai
respon terhadap sinyal ini, ego memobilisasi mekanisme pertahanan diri untuk
mencegah pikiran atau perasaan yang tidak bisa diterima saat muncul sebagai
kewaspadaan alam sadar. Menurut Freud juga, kecemasanlah yang menghasilkan
represi.
Neurologist menemukan bahwa amigdala berkontribusi dalam respon takut tanpa
adanya memori secara sadar, hal ini mendukung pernyataan Freud. Namun
berdaarkan gejala-gejala yang muncul, kecemasan merupakan gangguan bukan sinyal
karena penyebabnya dapat diabaikan.

Dari pandangan psikodinamika, terdapat hubungan antara kecemasan dengan


masalah-masalah perkembangan. Pada tahap sangat awal, disintegrasi kecemasan
dapat muncul. Hal ini muncul dari ketakutan bahwa diri sendiri akan hancur akibat
orang lain tidak sesuai dengan pemenuhan kebutuhannya. Kecemasan persecutory
(menyiksa) berhubungan dengan persepsi bahwa diri diserang dan dibinasakan oleh
orang lain yang merasa dengki pada dirinya. Sumber kecemasan lain adalah anak
yang ketakutan akan kehilangan cinta orang tuanya, takut tidak diterima orang
tuanya, atau kehilangan objek cintanya. Kecemasan castration (pengebiri)
berhubungan dengaan fase oedipal pada anak laki-laki yang tubuhnya atau alat
genitalnya disakiti oleh figure parentalnya, biasanya ayah. Pada level paling mature,
kecemasan superego berhubungan dengan perasaan bersalah tidak hidup sesuai
standar internal moral yang diturunkan orang tua.
Teori Behavioral
Kecemasan adalah respon yang dikondisikan pada stimulus lingkungan tertentu.
Misalnya adalah seorang anak perempuan yang dibesarkan oleh ayah abuser, menjadi
cemas saat melihat seorang ayah abuser, bahkan bisa tidak mempercayai semua pria.
Di kehidupan sosial, seorang anak dapat menunjukan respon cemas dengan
mencontoh kecemasan di lingkungan, seperti orang tua yang cemas.
Teori Eksistensial
Teori yang cocok dengan kecemasan menyeluruh, dimana tidak ada stimulus spesifik
yang teridentifikasi untuk perasaan cemas yang kronis. Konsep utamanya adalah,
oarang tersebut merasakan hidup di dunia yang tanpa tujuan. Kecemasan merupakan
respon terhadap perasaan kekosongan akan kehidupan dan artinya.
Patofisiologi
Terdapat beberapa kontribusi ilmu biologis:
Aspek Genetik
Hereditary merupakan faktor predisposisi

Sistem Syaraf Otonom


Adanya stimulus sistem syaraf otonom yang berlebihan pada pasien cemas
menimbulkan gejala-gejala pada kardiovaskular (contoh: takikardi), muskular
(contoh: nyeri kepala), gastrointestinal (contoh: diare), dan respirasi (contoh:
takipnea). Respon ini juga beradaptasi secara lambat terhadap stimulus yang berulang
pada pasien cemas.
Hormon
Hypothalamic-Pituitary-Adrenal Axis
Stres pelepasan Corticotropin-Releasing Hormon [CRH] meningkat
pelepasan kortisol meningkat mobilisasi dan pemulihan energi, serta
berkontribusi

dalam

arousal,

kewaspadaan,

perhatian

terfokus,

dan

pembentukan memory; inhibisi sistem pertumbuhan dan reproduksi;


penurunan respon imun.
CRH juga menginhibisi fungsi neurovegetatif seperti makan.
Neurotransmitter
1. Norepinefrine [NE]
Terdapat gangguan regulasi sistem noradrenergic yang badan selnya terutama
terdapat di locus ceruleus di rostral pons ledakan-ledakan aktifitas
gejala-gejala kronis gangguan cemas, seperti serangan panik, insomnia,
terkejut, dan hyperarousal autonomik.
2. Serotonin
Badan sel serotonergic neurons berada di raphe nuclei rostral brainstem.
Tingginya kadar serotonin meningkatnya kecemasan
3. GABA

fungsi abnormal dari reseptor GABA tipe A di sistem limbik aktifitas


GABA rendah kecemasan

Epidemiologi
Gangguan kecemasan diperkirakan diidap 1 dari 10 orang. Menurut
data National Institute of Mental Health (2005) di Amerika Serikat terdapat 40 juta
orang mengalami gangguan kecemasan pada usia 18 tahun sampai pada usia lanjut.
Ahli psikoanalisa beranggapan bahwa penyebab kecemasan neurotik dengan
memasukkan persepsi diri sendiri, dimana individu beranggapan bahwa dirinya dalam
ketidakberdayaan, tidak mampu mengatasi masalah, rasa takut akan perpisahan,
terabaikan dan sebagai bentuk penolakan dari orang yang dicintainya. Perasaanperasaam tersebut terletak dalam pikiran bawah sadar yang tidak disadari oleh
individu.
Pendekatan-pendekatan psikologis berbeda satu sama lain dalam tekhnik dan
tujuan penanganan kecemasan. Tetapi pada dasarnya berbagai tekhnik tersebut samasama mendorong klien untuk menghadapi dan tidak menghindari sumber-sumber
kecemasan mereka.
Klasifikasi Gangguan Kecemasan Menurut Diagnostic and Statistical Manual of
Mental Disorders (DSM) IV:
yang sering dibahas diantaranya adalah:
1. Gangguan panik tanpa agoraphobia
2. Gangguan panik dengan agoraphobia
3. Agoraphobia tanpa riwayat gangguan panic
4. Phobia spesifik
5. Phobia social
6. Gangguan obsesif-kompulsif
7. Gangguan stres pasca traumatic
8. Gangguan stres akut
9. Gangguan kecemasan umum
10. Gangguan kecemasan yang tidak terdefinisi

Gejala Umum Gangguan Kecemasan


Setiap orang mempunyai reaksi yang berbeda terhadap stres tergantung pada
kondisi masing-masing individu, beberapa gejala yang muncul tidaklah sama.
Kadang beberapa diantara gejala tersebut tidak berpengaruh berat pada beberapa
individu, lainnya sangat mengganggu.
1. Berdebar diiringi dengan detak jantung yang cepat
Kecemasan memicu otak untuk memproduksi adrenalin secara berlebihan
pada pembuluh darah yang menyebabkan detak jantung semakin cepat dan
memunculkan rasa berdebar. Namun dalam beberapa kasus yang ditemukan
individu yang mengalami gangguan kecemasan kontinum detak jantung semakin
lambat dibandingkan pada orang normal.
2. Rasa sakit atau nyeri pada dada
Kecemasan meningkatkan tekanan otot pada rongga dada. Beberapa individu
dapat merasakan rasa sakit atau nyeri pada dada, kondisi ini sering diartikan
sebagai tanda serangan jantung yang sebenarnya adalah bukan. Hal ini kadang
menimbulkan rasa panik yang justru memperburuk kondisi sebelumnya.
3. Rasa sesak napas
Ketika rasa cemas muncul, syaraf-syaraf impuls bereaksi berlebihan yang
menimbulkan sensasi dan sesak pernafasan, tarikan nafas menjadi pendek seperti
kesulitan bernafas karena kehilangan udara.
4. Berkeringat secara berlebihan
Selama kecemasan muncul terjadi kenaikan suhu tubuh yang tinggi. Keringat
yang muncul disebabkan otak mempersiapkan perencanaan fight or flight
terhadap stressor
5. Kehilangan gairah seksual atau penurunan minat terhadap aktivitas seksual
6. Gangguan tidur
7. Tubuh gemetar

Gemetar adalah hal yang dapat dialami oleh orang-orang yang normal pada
situasi yang menakutkan atau membuatnya gugup, akan tetapi pada individu yang
mengalami gangguan kecemasan rasa takut dan gugup tersebut terekspresikan
secara berlebihan, rasa gemetar pada kaki, atau lengan maupun pada bagian
anggota tubuh yang lain.
8. Tangan atau anggota tubuh menjadi dingin dan bekeringat
9. Kecemasan depresi memunculkan ide dan keinginan untuk bunuh diri
10. Gangguan kesehatan seperti sering merasakan sakit kepala (migrain).
Tipe-Tipe Gangguan Kecemasan
Anxiety disorder memiliki beberapa pembagian yang lebih spesifik. diantaranya:
1. Fobia
Fobia adalah ketakutan yang berlebihan yang disebabkan oleh benda, binatang
ataupun peristiwa tertentu. sifatnya biasanya tidak rasional, dan timbul akibat
peristiwa traumatik yang pernah dialami individu. Fobia juga merupakan penolakan
berdasar ketakutan terhadap benda atau situasi yang dihadapi, yang sebetulnya tidak
berbahaya dan penderita mengakui bahwa ketakutan itu tidak ada dasarnya.
Fobia simpel: sumber binatang, ketinggian, tempat tertutup, darah. Yang
menderita kebanyakan wanita, dimulai semenjak kecil. Agorafobia: kata yunani,
agora=tempat berkumpul, pasar. Sekelompok ketakutan yang berpusat pada tempattempat publik: takut berbelanja, takut kerumunan, takut bepergian. Banyak wanita
yang menderita ini dimulai pada masa remaja dan permulaan dewasa. Simtom:
ketegangan, pusing, kompulsi, merenung, depresi, ketakutan menjadi gila. 90% dari
suatu sampel: takut tempat tinggi, tempat tertutup, elevator.
Fobia dibedakan menjadi dua jenis,yaitu:
a. Fobia Spesifik
Ketakutan berlebih yang disebabkan oleh benda, atau peristiwa traumatik
tertentu, misalnya: ketakutan terhadap kucing (ailurfobia), ketakutan terhadap

ketinggian (acrofobia), ketakutan terhadap tempat tertutup (agorafobia), fobia


terhadap kancing baju, dsb.
b. Fobia Sosial
Ketakutan berlebih pada kerumunan atau tempat umum. ketakutan ini
disebabkan akibat adanya pengalaman yang traumatik bagi individu pada saat
ada dalam kerumunan atau tempat umum. misalnya dipermalukan didepan
umum, ataupun suatu kejadian yang mengancam dirinya pada saat diluar
rumah.
Penyebab:
Teori Psikoanalitik: pertahanan melawan kecemasan hasil dorongan id yang direpres.
Kecemasan: pindahan impuls id yang ditakuti ke objek/situasi, yang mempunyai
hubungan simbolik dengan hal tersebut, Menghindari konflik yang direpres. Cara ego
untuk mcnghadapi masalah yang sesungguhnya konflik pada masa kanak-kanak yang
direpres. Teori Behavioral: hasil belajar kondisioning kfasik, kondisioning operan,
modeling.
2. Obsesif Kompulsif
Seperti contoh Kasus dibawah ini:
X adalah seorang remaja madya yang saat ini sedang sekolah disuatu SMA
Negeri. Sudah beberapa hari ini ia mempunyai kebiasaan aneh yang tidak bisa ia
hentikan. Kebiasannya adalah mencuci tangannya lebih dari 10x dalam satu hari.
Teman-temannya juga heran mengapa ia berperilaku seperti itu. Ketika ia
berkonsultasi kepada psikolog sekolahnya ia baru tahu apa yang terjadi padanya.
Psikolog menanyainya apa yang menyebabkannya seperti itu, lalu X mulai
menceritakan kejadian apa yang sebenarnya ia lakukan. X adalah kakak dari A. Saat
kecil keduanya pernah bertengkar, X tanpa sengaja mengambil gunting dan
menorehkannya

ke

lengan

adiknya,A.

akibatnya

lengan

A terluka

dan

menyebabkannya cacat. peristiwa ini membuatnya bersalah dan ia terus menerus

memikirkan kesalahannya ini (obsesif), dan tiap kali ia mengingatnya ia akan


mencuci tangannya berulang-ulang.
Berdasarkan cerita diatas, kita bisa melihat bahwa obsesif adalah pemikiran yang
berulang dan terus-menerus. Sedangkan kompulsif adalah pelaksanaan dari
pemikirannya tersebut. Perilaku ini merupakan ritual pembebasan dari dosa pada
orang tersebut. dengan mencuci tangan ia berharap bisa membersihkan dari dosa yang
telah ia perbuat. obsesif kompulsif ini biasanya cenderung pada perilaku bersihbersih. Perilaku seperti ini sebenarnya banyak terjadi pada lingkungan kita tetapi, kita
kadang malah menganggap perilaku ini wajar.
Obsesi: pikiran yang berkali-kali datang yang mengganggu - tampak tidak
rasional - tidak dapat dikontrol mengganggu hidup. dapat berbentuk keraguraguan yang ekstrim, penangguhan tidak dapat membuat keputusan.pasien tidak dapat
mengambil kesimpulan.
Kompulsi: impuls yang tidak dapat ditolak mengulangi tingkah laku ritualistik
berkali-kali. Kompulsi sering berhubungan dengan kebersihan dan keteraturan.
Penderita merasa apa yang dilakukannya asing.
Ada 5 bentuk obsesi:

Kebimbangan yang obsesif: pikiran bahwa suatu tugas yang telah selesai tidak
secara baik (75% dari pasien).

Pikiran yang obsesif: pikiran berantai yang tidak ada akhirnya. Biasanya
fokus pada kejadian yang akan datang (34% dari pasien).

Impuls yang obsesif; dorongan untuk melakukan suatu perbuatan (17%).

Ketakutan yang obsesi kecemasan untuk kehilangan kontrol dan melakukan


sesuatu yang memalukan (26%)

Bayangan obsesif: bayangan terus menerus mengenai sesuatu yang dilihat


(7%).

Ada 2 macam Kompulsif

10

Dorongan kompulsif yang memaksa suatu perbuatan: melihat pintu berkalikali (61%).

Kompulsi mengontrol: mengontrol dorongan kompulsi (tidak menuruti


dorongan tersebut): mengontrol dorongan dengan berkali-kali menghitung
sampai 10.

Penyebab:
Psikoanalitik:

fiksasi

masa

anal.

Adler:

anak

terhalang

mengembangkan

kompetensinya rendah diri secara tidak sadar mengembangkan ritual yang


kompulsif untuk membuat daerah yang dapat dikontrol dan merasa mampu
membuat orang tersebut merasa menguasai cara menguasai sesuatu.
Teori Belajar: Kondisioning operan. Tingkah laku yang dipelajari yang dikuatkan
akibat-akibatnya. Terapi sama dengan fobia dan GAD.
3. Post Traumatik-Stress Disorder (PTSD/ Gangguan Stress Pasca Trauma)
PTSD merupakan kecemasan akibat peristiwa traumatik yang biasanya dialami
oleh veteran perang atau orang-orang yang mengalami bencana alam. PTSD biasnya
muncul beberapa tahun setelah kejadian dan biasanya diawali dengan ASD, jika lebih
dari 6 bulan maka orang tersebut dapat mengembangkan PTSD.
Gejala dan diagnosis: Akibat kejadian traumatik atau bencana yang tingkatnya
sangat buruk: perkosaan, peperangan, bencana alam, ancaman yang serius terhadap
orang yang sangat dicintai, melihat orang lain disakiti atau dibunuh. Akan berakibat
tidak dapat konsentrasi, mengingat, tidak dapat santai, impulsif, mudah terkejut,
gangguan tidur, cemas, depresi, mati rasa; hal-hal yang menyenangkan tidak menarik
lagi, ada perasaan asing terhadap orang-lain dan yang lampau. Kalau trauma dialami
bersama orang lain, dan yang lain mati: ada rasa bersalah, sering terjadi mimpi buruk
atau gangguan tidur.
Gangguan pasca trauma dapat akut, kronis atau lambat, trauma akibat orang,
perang, serangan fisik atau penganiayaan berlangsung lebih lama daripada trauma

11

setelah bencana alam. Gejala memburuk jika dihadapkan kepada situasi yang mirip.
Dapat terjadi pada anak dan orang dewasa. Gejala pada anak: mimpi tentang monster
atau perubahan tingkah laku. Riwayat psikopatologi pada keluarga memegang
peranan penting.
Perlakuan: Dapat melalui terapi kelompok. Dengan cara ini penderita
mendapatkan support dari teman-temannya.
4. GAD (Generalized Anxiety Desease: Gangguan Kecemasan Tergeneralisasikan)
Tanda-tanda: kecemasan kronis terus menerus rnencakup situasi hidup (cemas
akan terjadi kecelakaan, kesulitan finansial). Ada keluhan somatik: berpeluh, merasa
panas, jantung berdetak keras, perut tidak enak, diare, sering buang air kecil, dingin,
tangan basah, mulut kering, tenggorokan terasa tersumbat, sesak nafas, hiperaktivitas
sistem saraf otonomik. Merasa ada gangguan otot: ketegangan atau rasa sakit pada
otot terutama pada leher dan bahu, pelupuk mata berkedip terus, bcrgetar, mudah
lelah, tidak mampu untuk santai, mudah terkejut, gelisah, sering berkeluh. Cemas
akan terjadinya bahaya, cemas kehilangan kontrol, cemas akan mendapatkan
serangan jantung, cemas akan mati. Sering penderita tidak sabar, mudah marah, tidak
dapat tidur, tidak dapat konsentrasi.
Penyebab: Psikoanalitik: konflik antara impuls id dan ego yang tidak disadari. Impuls
itu seksual atau agresif ingin keluar, dihalangi tidak disadari cemas. Teori
belajar: kondisioning klasik dari rangsang luar. Kognitif behavioral: memfokus
kontrol dan ketidakberdayaan.
Terapi: psikomatis sama dengan fobia.
5. Gangguan Panik
Tanda-tanda:tiba-tiba sesak nafas, detak jantung keras, sakit di dada, merasa
tercekik, pusing, berpeluh, bergetar, ketakutan yang sangat akan teror, ketakutan akan
ada hukuman.

12

Depersonalisasi dan derealisasi: perasaan ada di luar badan, merasa dunia tidak
nyata, ketakutan kehilangan kontrol, ketakutan menjadi gila, takut akan mati.
Terjadinya: sering, sekali seminggu atau lebih sering. Beberapa menit. Dihubungkan
dengan situasi khusus, misalnya mengendarai mobil. Laki-laki 0,7 %, wanita 1%. 4
kali serangan panik dalam 4 minggu, Satu serangan diikuti ketakutan terjadinya
serangan lagi paling sedikit 1 bulan. Serangan panik dapat diikuti agorafobia, 80%
penderita panik juga menderita gangguan kccemasan yang lain. Sering juga ada
depresi. Sering penyebabnya gangguan fisiologis, misalnya gangguan jantung.
Penderita panik sering merasa bahwa penyakitnya parah menyebabkan panik.
Pendekatan Perspektif Teoritis
Pada kategori diagnostik utama psikopatologi secara garis besar di bagi
menjadi dua bagian yaitu neurosis dan psikosis. Neurosis merupakan penyakit mental
yang belum begitu menghawatirkan karena baru masuk dalam kategori gangguangangguan, baik dalam susunan syaraf maupun kelainan prilaku, sikap dan aspek
mental lainnya. Dan gangguan kecemasan merupakan psikopatologi yang neurosis.
Kecemasan memiliki karakteristik berupa munculnya perasaan takut dan
kehati-hatian atau kewaspadaan yang tidak jelas dan tidak menyenangkan (Davison &
Neale,2001, Kaplan, Sadock, & Grebb 1994) mengemukakan takut dan cemas
merupakan dua emosi yang berfungsi sebagai tanda akan adanya suatu bahaya. Rasa
takut muncul jika terdapat ancaman yang jelas, berasal dari lingkungan dan tidak
menimbulkan konflik bagi individu sedangkan kecemasan muncul jika bahaya
berasal dari dalam diri, tidak jelas, atau menyebabkan konflik bagi individu. Menurut
Davison & Neale,2001 gangguan cemas berbeda dengan kecemasan normal dalam
hal intensitas durasi serta dampaknya bagi individu.
Berdasarkan sumbernya, Freud membedakan kecemasan menjadi dua yaitu
kecemasan realitas dan kecemasan neurotic. Kecemasan realitas adalah yang berasal
dari kecemasan yang nyata, sedangkan kecemasan neurotic yang berasal dari motif

13

dan konflik yang tidak disadari. Freud berpendapat kecemasan neurotic muncul dari
konflik intrapsikis, misalnya yang dijelaskan pada fobia ketika dorongan id (seks &
agresi) bertentangan dengan tuntutan super ego atau dapat dikatakan dorongan id
berlawanan dengan tuntutan lingkungan eksternal, sehingga untuk menghindari
sumber kecemasan internal tersebut ego mengalihkannya ( melakukan displacement)
kepada ancaman yang obyeknya bisa diperoleh dari lingkungan.
Sebagaimana yang dikutip oleh Kaplan, Sadock, & Grebb (1994)
mengemukakan bahwa fungsi utama dari kecemasan adalah memberi tanda kepada
ego bahwa dorongan terlarang yang berasal dari ketidak sadaran akan muncul ke
kesadaran. Dan fobia adalah hasil dari upaya untuk menghindar dari konflik yang
direpres, dan kecemasan yang timbul dialihkan pada obyek atau situasi yang memiliki
hubungan simbolik dengannya (yaitu stimulus yang ditakuti). Sedangkan pada
gangguan cemas menyeluruh (generalized anxiety disorder), dalam sudut pandang
psikoanalisa bersumber dari konflik tidak sadar antara ego dan impuls dari id, yaitu
ego yang menahan untuk memenuhi dorongan karena karena khawair dengan
hukuman yang diterima. Konflik antara id dan ego ini berlangsung secara terus
menerus, dan penderita tidak mampu memindahkannya pada obyek tertentu seperti
pada fobia, hal ini menjadikan kecemasan muncul hamper setiap saat.
Dalam pandangan Psikodinamika modern sepakat pada pandangan Freud
tentang gejala kecemasan merupakan pertahanan terhadap konflik, tapi sumber
kecemasan tidak terbatas pada dorongan biologis saja melainkan mencakup tuntutan
dan frustasi yang berasal dari lingkungan social dan hubungan interpersonal.
Misalnya seseorang yang tak berani berbicara didepan umum, sumber masalahnya
menurut teori ini adalah berasal dari perasaan rendah dirinya. Orang dengan
kepercayaan diri yang rendah akan merasa cemas pada situasi dimana dia bisa dilihat,
dinilai atau dikritik orang lain, dan dia akan cenderung menghindari situasi tersebut.
Psikodinamika berasumsi bahwa bahwa gejala kecemasan hanyalah indikator adanya
masalah yang lebih mendalam dan tidak disadari.

14

Pada sudut pandang kognitif kecemasan berhubungan dengan kecenderungan


untuk lebih memperhatikan stimulus negatif, menginterpretasikan informasi yang
ambigu sebagai ancaman dan percaya bahwa peristiwa-peristiwa yang tidak
menyenangkan akan terjadi lagi dimasa mendatang (matthew dan Mc Leod dalam
Davison & Neale, 2001).
Terapi Gangguan Kecemasan
Pendekatan-pendekatan psikologis berbeda satu sama lain dalam teknik dan
tujuan penanganan kecemasan. Tetapi pada dasarnya berbagai tekhnik tersebut samasama mendorong klien untuk menghadapi dan tidak menghindari sumber-sumber
kecemasan mereka. Dalam menangani gangguan kecemasan dapat melalui beberapa
pendekatan:
1. Pendekatan-Pendekatan Psikodinamika
Dari perspektif psikodinamika, kecemasan merefleksikan energi yang dilekatkan
kepada konflik-konflik tak sadar dan usaha ego untuk membiarkannya tetap terepresi.
Psikoanalisis

tradisional

menyadarkan

bahwa

kecemasan

klien

merupakan

simbolisasi dari konflik dalam diri mereka. Dengan adanya simbolisasi ini ego dapat
dibebaskan dari menghabiskan energi untuk melakukan represi. Dengan demikian
ego dapat memberi perhatian lebih terhadap tugas-tugas yang lebih kreatif dan
memberi peningkatan. Begitu juga dengan yang modern, akan tetapi yang modern
lebih menjajaki sumber kecemasan yang berasal dari keadaaan hubungan sekarang
daripada hubungan masa lampau. Selain itu mereka mendorong klien untuk
mengembangkan tingkah laku yang lebih adaptif.
2. Pendekatan-Pendekatan Humanistik
Para tokoh humanistik percaya bahwa kecemasan itu berasal dari represi sosial
diri kita yang sesungguhnya. Kecemasan terjadi bila ketidaksadaran antara inner self
seseorang yang sesungguhnya dan kedok sosialnya mendekat ke taraf kesadaran.
Oleh sebab itu terapis-terapis humanistik bertujuan membantu orang untuk

15

memahami dan mengekspresikan bakat-bakat serta perasaan-perasaan mereka yang


sesungguhnya. Sebagai akibatnya, klien menjadi bebas untuk menemukan dan
menerima diri mereka yang sesunggguhnya dan tidak bereaksi dengan kecemasan
bila perasaan-perasaan mereka yang sesungguhnya dan kebutuhan-kebutuhan mereka
mulai muncul ke permukaan.
3. Pendekatan-Pendekatan Biologis
Pendekatan ini biasanya menggunakan variasi obat-obatan untuk mengobati
gangguan kecemasan. Diantaranya golongan benzodiazepine, Valium dan Xanax
(alprazolam). Meskipun benzodiazepine mempunyai efek menenangkan, tetapi dapat
mengakibatkan depensi fisik.
Obat antidepresi mempunyai efek antikecemasan dan antipanik selain juga
mempunyai efek antidepresi.
4. Pendekatan-Pendekatan Belajar
Efektifitas penanganan kecemasan dengan pendekatan belajar telah banyak
dibenarkan oleh beberapa riset. Inti dari pendekatan belajar adalah usaha untuk
membantu individu menjadi lebih efektif dalam menghadapi situasi yang menjadi
penyebab munculnya kecemasan tersebut. Ada beberapa macam model terapi dalam
pendekatan belajar, diantaranya:
a. Pemaparan Gradual
Metode ini membantu mengatasi fobia ataupun kecemasan melalui
pendekatan setapak demi setapak dari pemaparan aktual terhadap stimulus fobik.
Efektifitas terapi pemaparan sudah sangat terbukti, membuat terapi ini sebagai
terapi pilihan untuk menangani fobia spesifik. Pemaparan gradual juga banyak
dipakai pada penanganan agorafobia. Terapi bersifat bertahap menghadapkan
individu yang agorafobik kepada situasi stimulus yang makin menakutkan,
sasaran akhirnya adalah kesuksesan individu ketika dihadapkan pada tahap
terakhir yang merupakan tahap terberat tanpa ada perasaan tidak nyaman dan
tanpa suatu dorongan untuk menghindar. Keuntungan dari pemaparan gradual

16

adalah hasilnya yang dapat bertahan lama. Cara Menanggulangi ataupun cara
membantu memperkecil kecemasan.
b. Rekonstruksi Pikiran
Yaitu membantu individu untuk berpikir secara logis apa yang terjadi
sebenarnya. biasanya digunakan pada seorang psikolog terhadap penderita fobia.
c. Flooding
Yaitu individu dibantu dengan memberikan stimulus yang paling membuatnya
takut dan dikondisikan sedemikan rupa serta memaksa individu yang menderita
anxiety untuk menghadapinya sendiri.
d. Terapi Kognitif
Terapi yang dilakukan adalah melalui pendekatan terapi perilaku rasionalemotif, terapi kognitif menunjukkan kepada individu dengan fobia sosial bahwa
kebutuhan-kebutuhan irrasional untuk penerimaan-penerimaan sosial dan
perfeksionisme melahirkan kecemasan yang tidak perlu dalam interaksi sosial.
Kunci terapeutik adalah menghilangkan kebutuhan berlebih dalam penerimaan
sosial. Terapi kognitif

berusaha

mengoreksi

keyakinan-keyakinan

yang

disfungsional. Misalnya, orang dengan fobia sosial mungkin berpikir bahwa tidak
ada seorangpun dalam suatu pesta yang ingin bercakap-cakap dengannya dan
bahwa mereka akhirnya akan kesepian dan terisolasi sepanjang sisa hidup
mereka. Terapi kognitif membantu mereka untuk mengenali cacat-cacat logis
dalam pikiran mereka dan membantu mereka untuk melihat situasi secara
rasional. Salah satu contoh tekhnik kognitif adalah restrukturisasi kognitif, suatu
proses dimana terapis membantu klien mencari pikiran-pikiran dan mencari
alternatif rasional sehingga mereka bisa belajar menghadapi situasi pembangkit
kecemasan.
e. Cognitive Bihavior Therapy (CBT)
Terapi ini memadukan tehnik-tehnik behavioral seperti pemaparan dan tehniktehnik kognitif seperti restrukturisasi kognitif. Beberapa gangguan kecemasan

17

yang mungkin dapat dikaji dengan penggunaan CBT antara lain : fobia sosial,
gangguan stres pasca trauma, gangguan kecemasan menyeluruh, gangguan
obsesif kompulsif dan gangguan panik.
Pada fobia sosial, terapis membantu membimbing mereka selama percobaan
pada pemaparan dan secara bertahap menarik dukungan langsung sehingga klien
mampu menghadapi sendiri situasi tersebut.
Mencegah Kemunculan Gangguan Kecemasan
1. Kontrol pernafasan yang baik
Rasa cemas membuat tingkat pernafasan semakin cepat, hal ini disebabkan otak
"bekerja" memutuskan fight or flight ketika respon stres diterima oleh otak.
Akibatnya

suplai

oksigen

untuk

jaringan

tubuh

semakin

meningkat,

ketidakseimbangan jumlah oksigen dan karbondiosida di dalam otak membuat tubuh


gemetar, kesulitan bernafas, tubuh menjadi lemah dan gangguan visual. Ambil dalamdalam sampai memenuhi paru-paru, lepaskan dengan perlahan-lahan akan membuat
tubuh jadi nyaman, mengontrol pernafasan juga dapat menghindari srangan panik.
2. Melakukan relaksasi
Kecemasan meningkatkan tension otot, tubuh menjadi pegal terutama pada leher,
kepala dan rasa nyeri pada dada. Cara yang dapat ditempuh dengan melakukan teknik
relaksasi dengan cara duduk atau berbaring, lakukan teknik pernafasan, usahakanlah
menemukan kenyamanan selama 30 menit.
3. Intervensi kognitif
Kecemasan timbul akibat ketidakberdayaan dalam menghadapi permasalahan,
pikiran-pikiran negatif secara terus-menerus berkembang dalam pikiran. caranya
adalah dengan melakukan intervensi pikiran negatif dengan pikiran positif, sugesti
diri dengan hal yang positif, singkirkan pikiran-pikiran yang tidak realistik. Bila
tubuh dan pikiran dapat merasakan kenyamanan maka pikiran-pikiran positif yang

18

lebih konstruktif dapat meuncul. Ide-ide kreatif dapat dikembangkan dalam


menyelesaikan permasalahan.
4. Pendekatan agama
Pendekatan agama akan memberikan rasa nyaman terhadap pikiran, kedekatan
terhadap Tuhan dan doa-doa yang disampaikan akan memberikan harapan-harapan
positif. Dalam Islam, sholat dan metode zikir ditengah malam akan memberikan rasa
nyaman dan rasa percaya diri lebih dalam menghadapi masalah. Rasa cemas akan
turun. Tindakan bunuh diri dilarang dalam Islam, bila iman semakin kuat maka
dorongan bunuh diri (tentamina Suicidum) pada simtom depresi akan hilang. Metode
zikir (berupa Asmaul Husna) juga efektif menyembuhkan insomnia.
5. Pendekatan keluarga
Dukungan (supportif) keluarga efektif mengurangi kecemasan. Jangan ragu untuk
menceritakan permasalahan yang dihadapi bersama-sama anggota keluarga.
Ceritakan masalah yang dihadapi secara tenang, katakan bahwa kondisi Anda saat ini
sangat tidak menguntungkan dan membutuhkan dukungan anggota keluarga lainnya.
Mereka akan berusaha bersama-sama Anda untuk memecahakan masalah Anda yang
terbaik.
6. Olahraga
Olahraga tidak hanya baik untuk kesehatan. Olaharaga akan menyalurkan
tumpukan stres secara positif. Lakukan olahraga yang tidak memberatkan, dan
memberikan rasa nyaman kepada diri Anda.
Ciri penderita gangguan kecemasan antara lain:
Ciri Fisik :

Gelisah

Berkeringat

Jantung berdegup kencang

Ada sensasi tali yang, mengikat erat pada kepala

Gemetar

19

Sering buang air kecil

Ciri Perilaku:

Perilaku menghindar

Perilaku dependen

Ciri Kognitif

Merasa tidak bisa mengendalikan semua

Merasa ingin melarikan diri dari tempat tersebut

Serasa ingin mati

Dalam perspektif psikodinamika, memandang kecemasan sebagai suatu usaha ego


untuk mengendalikan munculnya impuls-impuls yang mengancam kesadaran. Dan
perasaan-perasaan kecemasan adalah tanda-tanda peringatan bahwa impuls-impuls
yang mengancam mendekat ke kesadaran. Ego menggerakkan mekanisme pertahanan
diri untuk mengalihkan impuls-impuls tersebut yang kemudian mengarah menjadi
gangguan-gangguan kecemasan lainnya. Namun para teoritikus belajar menjelaskan
gangguan-ganguan kecemasan melalui pembelajaran observasional dan conditioning.
Model dua faktor dari Mowrer memasukkan clasical dan operant conditioning dalam
penjelasan tentang fobia. Meskipun demikian, fobia tampaknya dipengaruhi juga oleh
faktor kognitif, seperti harapan-harapan self-efficacy. Prinsip-prinsip penguatan
mungkin dapat membantu menjelasakan pola-pola tingkah laku obsesif-kompulsif.
Kemungkinan ada predisposisi genetis untuk fobia tertentu yamng mempunyai nilainilai untuk kelangsungan hidup (survival) bagi nenek moyang kita terdahulu.
Ada beberapa faktor kognitif yang menyebabkan gangguan-gangguan kecemasan,
seperti prediksi berlebih terhadap ketakutan, keyakinan yang self-defeating dan
irasional, sensivitas berlebih mengenai sinyal-sinyal dan tanda-tanda ancaman,
harapan-harapan self-efficacy yang terlalu rendah dan salah mengartikan sinyalsinyal tubuh.
Untuk meminimalisir terjadinya kecemasan pada diri seseorang terdapat beberapa
terapi. Psikoanalisis radisional membantu orang untuk mengatasi konflik-konflik tak

20

sadar yang diyakini mendasari gangguan-gangguan kecemasan. Pendekatanpendekatan psiko- dinamika yang modern lebih berfokus pada gangguan relasi yang
ada dalam kehidupan klien saat ini dan mendorong klien untuk mengembangkan pola
tingkah laku yang lebih adaptif. Terapi humanistik lebih berfokus pada membantu
klien mengidentifikasi dan menerima dirinya yang sejati dan bukan bereaksi pada
kecemasan setiap kali perasaan-perasaan dan kebutuhan-kebutuhannya yang sejati
mulai muncul ke permukaan. Sedangkan untuk terapi obat, berfokus pada
penggunaan obat benzodiazepin dan obat-obat antidepresen (yang mempunyai efek
lebih daripada hanya sebagai antidepresan).
Pendekatan-pendekatan dengan dasar belajar dalam menangani kecemasan
melibatkan berbagai macam teknik behavioral dan kognitif-behavioral, termasuk
terapi pemaparan, restrukturisasi kognitif, pemaparan dan pencegahan respon, serta
pelatihan keterampilan relaksasi. Pendekatan-pendekatan kognitif seperti terapi
tingkah laku rasional-emotif dan terapi kognitif, membantu orang untuk
mengidentifikasi dan membetulkan pola-pola pikir yang salah yang melandasi reaksireaksi kecemasan. Untuk terapi kognitif-behavioral, menangani gangguan panik,
melibatkan self-monitoring, pemaparan, dan pengembangan respons-respons adaptif
terhadap sinyal-sinyal pembangkit kecemasan.
Kesimpulan
Kecemasan merupakan suatu sensasi aphrehensif atau takut yang menyeluruh.
Dan hal ini merupakan suatu kewajaran atau normal saja, akan tetapi bila hal ini
terlalu berlebihan maka dapat menjadi suatu yang abnormal. Sedangkan gangguan
kecemasan yang menyeluruh adalah suatu tipe gangguan kecemasan yang melibatkan
kecemasan persisten yang sepertinya mengapung bebas (Free floating) atau tidak
terikat pada suatu yang spesifik.

21

DAFTAR PUSTAKA
1. Supratinya,A. 1995. Mengenal Perilaku Abnormal. Yogyakarta: Kanisius.
LAB/UPF Ilmu Kedokteran Jiwa. 1994.
2. Pedoman Diagnosis Dan Terapi. Surabaya: Fakultas kedokteran Universitas
Airlangga dan RSUD Dr. Soetomo.
3. Panggabean, L. (2003). Pengembangan Kesehatan Perkotaan ditinjau dari Aspek
Psikososial. (makalah). Direktorat Kesehatan Jiwa Masyarakat
4. Prof. Dr. Sutardjo A. Wiramihardja. 2005. Pengantar Psikologi
Abnormal. Bandung: PT. Refika Aditama.
5. Gangguan Kecemasan. http://www.psychologymania.com/2011/07/gangguankecemasan-anxiety-disorder.html
6. Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan & Sadocks Synopsis of Psychiatry, Behavioral
Sciences/Clinical Psychiatry, 9th ed. Philadelphia ; Lippincott Williams and
Wilkins. 2003: h.534-572
7. Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa Di Indonesia III, cetakan
pertama, Departemen Kesehatan R.I. Direktorat Jendral Pelayanan Medik. 1993