Anda di halaman 1dari 40

Laporan Kasus

Fraktur Maksilofasial dan Klavikula

Elsi Rahmadhani Hardi


0908120328
Pembimbing :
Dr. Welli Zulfikar Sp.B (K) KL

Pendahuluan
Fraktur adalah setiap retak atau patah pada
tulang yang utuh.
Fraktur maksilofasial memiliki proporsi
sebanyak 6% dari keseluruhan jenis fraktur.
Di Indonesia, fraktur maksilofasial terjadi
pada 82,46% korban kecelakaan lalu lintas
dan sebagian besar adalah pengendara
sepeda motor.

Fraktur maksilofasial melibatkan tulang


tulang penyusun wajah atau tengkorak
bagian depan.
Fraktur maksilofasial bisa terjadi hanya
pada satu tempat ataupun kompleks.
Angka kecelakaan lalu lintas yang semakin
tinggi juga menyebabkan peningkatan
kejadian fraktur klavikula.

Tinjauan Pustaka
Tulang- tulang
pembentuk wajah
terdiri dari dua os
nasale, dua os
lacrimale, dua
maxilla, dua os
zygomaticum,
mandibula, dua os
palatinum, dua
concha nasalis
inferior, dan vomer

Anatomi maksila

Klasifikasi fraktur maksila


Fraktur maxilla dibagi menjadi tiga jenis
oleh Le Fort menjadi Le Fort I, II, dan III.

II

III

Gejala klinis fraktur maksila


berupa nyeri
bengkak terutama pada jaringan periorbita
hematom periorbita
maloklusi
laserasi intraoral
nyeri ketika mengunyah
Krepitasi
deformitas,
floating maxilla
epistaksis
rinore

Diagnosis klinis fraktur maksila


floating maxilla
CT-scan 3D
foto polos Waters, Caldwel,
submentovertek, dan lateral.

Penatalaksanaan fraktur maksila


Fraktur maksila dapat ditatalaksana dengan
reposisi terbuka atau reposisi tertutup.
Suspensi zygomatico circumferential wiring
Suspensi fronto circumferential wiring
Interoseus wiring
Interdental wiring

Anatomi os zigoma

Fraktur os zigoma
Fraktur zigomatikomaksilaris lebih sering
terjadi daripada fraktur arkus yang tersendiri.
Fraktur zigomatikomaksilaris mengenai
korpus zigoma, dasar orbita, dan dinding
sinus maksilaris.
Fraktur ini biasanya disebabkan oleh suatu
benturan atau pukulan pada daerah
inferolateral orbita atau pada tonjolan tulang
pipi.

Gejala klinis fraktur os zigoma


pipi menjadi lebih rata jika dibandingkan
dengan sisi kontralateral atau sebelum
trauma
diplopia atau terbatasnya gerakan bola mata
edema periorbita dan ekimosis
perdarahan subkonjungtiva
enoftalmus
ptosis
terdapatnya hipestesia atau anetesia karena
kerusakan saraf infra orbitalis
terbatasnya gerakan mandibula
emfisema subkutis
epistaksis yang terjadi pada antrum

Penatalaksanaan fraktur os zigoma


Indikasi operasi pada patah tulang
zigoma
fraktur dengan deformitas disertai diplopia
menyebabkan hiperaertesi
menyebabkan trismus
Fraktur dengan pergeseran minimal dan
sedang yang tidak mengakibatkan gangguan
penglihatan : reduksi secara konservatif

Pada pergeseran tulang lebih parah


dapat dilakukan reduksi dengan
metode Giles
melalui insisi pada region sutura
zygomaticofrontalis dan peroral, baik di
sebelah lateral tuberositas atau melalui
antrum.

Fraktur Klavikula
Fraktur ini terjadi biasanya akibat jatuh
bertumpu pada tangan.
Sebagian besar fraktur klavikula (80%) terjadi
pada segmen 1/3 proksimal.
Pada orang dewasa dan anak biasanya
pengobatannya konservatif tanpa reposisi, yaitu
dengan pemasangan mitela.
Apabila gagal bertaut maka diperlukan reposisi
terbuka yang dilanjutkan dengan pemasangan
fiksasi internal

Kasus
Identitas Pasien
Nama
Usia
Jenis kelamin
Pekerjaan
Agama
MRS
Alamat
Seberang

:
:
:
:
:
:
:

Tn. JE
29 tahun
Laki-laki
Wiraswasta
Islam
22 Maret 2013
Binuang/Bangkinang

Primary Survey

Airway
a. Objective:
Pasien dapat menjawab pertanyaan dan berbicara lancar
saat ditanya.
Tidak ada suara nafas tambahan (gurgling, snoring,
stidor).
Terdapat jejas di atas klavikula.

b. Assessment:
Kesan tidak ada sumbatan jalan nafas (benda padat,
cairan)
Airway paten

c. Action:
Seharusnya dilakukan pemasangan collar neck pada
pasien.

Breathing
a. Objective
Inspeksi : pasien bernafas spontan, gerakan dinding dada
simetris, tidak ada bagian dinding dada yang tertinggal
saat bernafas, tidak ada penggunaan otot bantu
pernafasan, frekuensi nafas 22 kali/menit.
Auskultasi : suara nafas vesikuler (+/+), suara jantung
normal
Palpasi
: krepitasi (-)
Perkusi
: sonor/sonor

b. Assessment
Ventilasi dan ekspansi paru baik

c. Action
Seharusnya pasien tetap diberikan oksigen.

Circulation
a. Objective
Pasien sadar
Akral hangat, capillary refill time (CRT) <2 detik
Nadi teraba, teratur dan isian cukup, frekuensi nadi 80 kali/menit
Tekanan darah 110/70 mmHg

b. Assessment
Sirkulasi baik

c. Action
Pasang IVFD Ringer Laktat 30 tpm
Cek labor darah rutin dan crossmatch
Seharusnya dilakukan pemasangan kateter urin.

Disability
a. Objective
Glasglow coma scale (GCS):
Eyes: dapat membuka mata secara spontan (E4)
Verbal: komunikasi verbal baik, jawaban tepat (V5)
Motorik: dapat mengikuti perintah (M6)

GCS 15 (E4V5M6)
Pupil isokor 0,3 cm/0,3 cm, reflek cahaya (+/+)
Tanda-tanda lateralisasi (-)
Kelemahan otot motorik (-)

b. Assessment
Hasil pemeriksaan mini neurologis baik

Exposure
Baju pasien dibuka seluruhnya dan
pasien diselimuti.

Secondary Survey

Keluhan utama
Nyeri pada wajah sebelah kiri dan bahu kanan setelah
kecelakaan lalu lintas.
Riwayat penyakit sekarang
6 jam SMRS pasien mengalami kecelakaan lalu lintas
(sepeda motor >< sepeda motor) dengan posisi
sebagai pengemudi dan menggunakan helm. Saat itu
pasien melaju dengan kecepatan 70 km/jam dan
ditabrak dari depan sehingga wajah membentur stang
motor. Pasien mengeluhkan nyeri pada wajah sebelah
kiri dan bahu kanan. Setelah kecelakaan tersebut,
pasien pingsan, pasien mengaku tidak ingat peristiwa
tabrakan, tidak ada muntah, terdapat darah pada
ludah, tidak ada keluar cairan dari lubang hidung dan
lubang telinga, dan terdapat luka robek pada kelopak
mata kiri bagian atas.

AMPLE
Alergi
: Tidak terdapat riwayat
alergi pada pasien
Medication
: Pasien tidak sedang
mengkonsumsi obat ataupun alkohol
Past illness
: Tidak ada
Last meal
: 1 jam sebelum kecelakaan
Event
: sepeda motor mengalami
kerusakan hebat pada bagian depan

Riwayat Penyakit Dahulu


Tidak ada penyakit yang
berhubungan dengan keluhan
sekarang.

Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada anggota keluarga yang
mengeluhkan hal yang sama.

Pemeriksaan Fisik
Status Generalis
Keadaan umum
Kesadaran
Keadaan gizi
Tanda vital

TD
HR
RR
T

: tampak sakit sedang


: kompos mentis
: baik
:
:
:
:

110/70 mmHg
80 kali/menit
20 kali/menit
36,4oC

Kepala leher
Thoraks
Abdomen
Ekstremitas
Getah bening
Genitourinarius

:
:
:
:
:
:

status lokalis
status lokalis
DBN
DBN
DBN
DBN

Status Lokalis Kepala Leher


Wajah
Inspeksi :
terdapat edema periorbita sinistra dan
pipi kiri, terdapat laserasi pada palpebra
superior sinistra, tidak terdapat
hematom periorbita, tidak terdapat
diplopia, terdapat perdarahan
subkonjungtiva pada okular sinistra,
tidak terdapat konjungtiva anemis, dan
tidak terdapat deviasi septum nasi.

Palpasi :
terdapat nyeri tekan pada rima superior, lateral,
dan inferior orbita sinistra, tidak ditemukan
krepitasi pada rima superior, lateral, dan inferior
orbita sinistra, tidak ditemukan diskontinuitas
pada rima superior, lateral, dan inferior orbita
sinistra. Terdapat nyeri tekan pada nasal, tidak
terdapat krepitasi dan diskontinuitas pada nasal.
Simetrisitas malar eminens kanan dan kiri tidak
dapat dinilai karena pada pipi kiri terdapat
edema. Tidak terdapat nyeri tekan, krepitasi, dan
diskontinuitas pada margi inferior mandibula
dextra et sinistra. Tidak terdapat nyeri ataupun
deformitas pada temporomandibula joint saat
pasien membuka dan menutup mulut.

Intraoral
Tidak ada gigi yang hilang, tidak terdapat
laserasi mukosa, tidak terdapat stepping,
terdapat maloklusi objektif dan subjektif,
terdapat floating maxilla, terdapat trismus yang
dapat dilalui satu jari.
Leher
Kelenjar getah bening tidak membesar, tidak
ditemukan adanya pembesaran glandula tiroid
maupun glandula parotis dan submandibula.

Status Lokalis Thoraks


Inspeksi : bentuk dada simetris kiri dan kanan,
pergerakan dinding dada saat bernafas simetris,
eritem dan edema pada bahu kanan.
Palpasi : fremitus kanan sama dengan kiri,
terdapat krepitasi dan diskontinuitas pada
clavikula kanan.
Perkusi : sonor pada kedua lapang paru
Auskultasi : suara nafas vesikuler (+/+), ronkhi
(-/-), wheezing (-/-)

Diagnosis Kerja

CKR (GCS 15) + Fraktur zigomaksilaris


sinistra + fraktur tertutup klavikula
dextra.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium
Darah Rutin
Hb
: 14,6 gr/dl
HT
: 41,0 %
Trombosit
: 198000/l
Leukosit
: 19.500 /l

Pemeriksaan Radiologi
Thoraks

CT-scan 3D

Bone scan

CT- scan

Rencana Penatalaksanaan
Non farmakologis
Immobilisasi dan istirahatkan daerah
fraktur
Rencana reposisi terbuka

Farmakologis
Tramadol IV 3 x 1 ampul
Ceftriaxone IV 2 x 1 gr
Ranitidin IV 2 x 50 mg

Terima Kasih