Anda di halaman 1dari 17

Sick Building Syndrome pada Seorang Karyawati

Ajeng Aryuningtyas Dewanti


102012259 F2
e-mail: ajengaryuningtyas@ymail.com
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana 2012
Jl. Arjuna Utara No. 6, Kebon Jeruk-Jakarta Barat 11510
No. Telp (021) 5694-2061

Pendahuluan
Kehidupan modern di kota-kota besar negara kita menuntut tersedianya prasarana
yang memadai. Salah satu di antaranya adalah gedung-gedung kantor yang megah yang
dilengkapi dengan sistem AC sentral. Gedung-gedung seperti ini biasanya dibuat tertutup dan
mempunyai sirkulasi udara sendiri. Gedung yang baik dengan sarana yang memadai tentu
menjadi tempat yang nyaman untuk bekerja, dan karena itu dapat pula meningkatkan
produktifitas kerja karyawan. Tetapi, di pihak lain kita perlu mengenal kemungkinan adanya
gangguan kesehatan pada gedung-gedung seperti itu yang pada akhirnya akan menurunkan
produktifitas kerja karyawannya yang bekerja di dalam gedung-gedung itu. Para ahli di
beberapa negara mulai banyak menulis tentang adanya gedung-gedung pencakar langit yang
"sakit", dan menimbulkan sindrom gedung sakit.
Sindrom gedung sakit adalah kumpulan gejala akibat adanya gedung yang "sakit",
artinya terdapat gangguan pada sirkulasi udara di dalam gedung itu. Adanya gangguan itulah
yang menyebabkan gedung tersebut dikatakan "sakit", sehingga timbul sindrom ini yang
memang terjadi karena para penderitanya menggunakan suatu gedung yang sedang "sakit".
Gejala-gejala yang timbul memang berhubungan dengan tidak sehatnya udara di
dalam gedung. Keluhan yang ditemui pada sindrom ini antara lain dapat berupa batuk-batuk
kering, sakit kepala, iritasi di mata, hidung dan tenggorok, kulit yang kering dan gatal, badan
lemah dan lain-lain. Keluhan-keluhan tersebut biasanya menetap setidaknya dua minggu.
Keluhan-keluhan yang ada biasanya tidak terlalu hebat, tetapi cukup terasa mengganggu dan
sangat berpengaruh terhadap produktifitas kerja seseorang. Sindrom gedung sakit baru dapat
dipertimbangkan bila lebih dari 20%, atau bahkan sampai 50%, pengguna suatu gedung
mempunyai keluhan-keluhan seperti di atas. Kalau hanya dua atau tiga orang maka mereka
mungkin sedang kena flu biasa.1

Makalah PBL Blok 28-Ajeng Aryuningtyas

1 | Page

Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk membantu mahasiswa kedokteran
dalam memahami penjelasan tentang penyakit Sick Building Syndrome, mulai dari 7
langkah diagnosis okupasi, pengobatan yang dilakukan, prognosis, serta pencegahan agar
penyakit itu tidak terjadi.

Skenario
Seorang perempuan usia 30 tahun, datang ke klinik anda dengan keluhan utama
batuk pilek berulang sejak 3 minggu yang lalu.

Pembahasan
Pembahasan akan dilakukan secara 7 langkah diagnosis okupasi, meliputi:
1. Diagnosa Klinis
Anamnesis terdiri dari:1

Identitas Pasien (meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat,


pendidikan, pekerjaan, suku bangsa dan agama).

Keluhan Utama dan Tambahan


-

Utama: Batuk pilek berulang sejak 3 minggu yang lalu.

Adakah keluhan lainnya? Demam hilang timbul, gatal, mata


panas, mual, nyeri seluruh badan

Riwayat Penyakit Sekarang


-

Sejak kapan muncul, dan apakah penyakit semakin membaik


atau buruk?

Riwayat Penyakit Dahulu


-

Apakah pernah menderita penyakit yang serupa atau penyakit


menahun sebelumnya (asma, tbc, dll)?

Riwayat Penyakit Dalam Keluarga


-

Apakah didalam keluarga ada yang menderita keluhan yang


sama?

Makalah PBL Blok 28-Ajeng Aryuningtyas

2 | Page

Riwayat Pribadi
-

Apakah sudah mengkonsumsi obat-obatan selama sakit? Sudah


berobat dan kambuh walau diberi antibiotik

Kebiasaan merokok atau tidak? Sejak kapan?

Riwayat Pekerjaan
-

Sudah berapa lama bekerja sekarang?

Jumlah jam kerja/jam giliran kerja?

Pekerjaan sebelumnya?

Alat kerja? Bahan kerja? Proses kerja?

Menggunakan APD (Alat Pelindung Diri)

Pekerjaan lain yang mengalami hal serupa?

Hubungan gejala dan waktu kerja?

Apakah saat kembali bekerja menyebabkan kambuhnya


penyakit?

Lokasi tempat bekerja dimana dan bagaimana suasananya?


Kerja sebagai apa?

Apakah pekerja lain menderita penyakit yang sama?

Riwayat Sosial Ekonomi


-

Tanyakan mengenai nutrisi, pola makan dan diet pasien, stress,


pola istirahat, hygiene pasien.

Hobi dan kebiasaan pasien apa? Apakah kebutuhan ekonomi


sehari-hari pasien tercukupi?

Makalah PBL Blok 28-Ajeng Aryuningtyas

3 | Page

Bagaimana hubungan pasien dengan rekan kerja dan atasan?


Adakah stress waktu bekerja?

Selain bekerja di tempat itu, apakah pasien bekerja di tempat


lain juga? Bekerja sebagai apa?

Pemeriksaan Fisik terdiri dari:

Tanda-tanda vital: suhu, denyut nadi, tekanan darah, frekuensi


nafas

Keadaan umum

Pemeriksaan fisik khusus:


-

Inspeksi: melihat ada atau tidak lesi-lesi alegik pada kulit,


melihat warna mata

Palpasi: melakukan palpasi umum untuk mengetahui lokasi


nyeri.

Auskultasi: suara paru abnormal?

Pemeriksaan Penunjang terdiri dari:

Pemeriksaan sputum dengan dengan pewarnaan DFA (direct


fluorescent antibody) menunjukkan adanya Legionella.1
Pemeriksaan Darah Lengkap (leukosit)
Peningkatan jumlah leukosit menunjukkan adanya proses
infeksi atau radang akut.

Pemeriksaan Tempat Kerja terdiri dari:

Suhu dan kelembapan udara dalam gedung


Manusia dapat bekerja nyaman pada suhu 20-26C dengan
kelembaban 40-60%. Suhu ruangan dapat mempengaruhi secara
langsung saraf sensorik membran mukosa dan kulit serta dapat
memberikan respons neurosensoral secara tidak langsung yang
mengakibatkan perubahan sirkulasi darah. Kelembaban dapat
mempengaruhi gejala SBS dan terdapat hubungan signifikan antara
udara kering, lembab, suhu dengan gejala pada membran mukosa.
Polutan kimia dan partikel pada kelembapan rendah dapat

Makalah PBL Blok 28-Ajeng Aryuningtyas

4 | Page

menimbulkan kekeringan, iritasi mata serta saluran napas dan

kelembaban di atas 60% menyebabkan kelelahan dan sesak.


Ventilasi gedung dan sumber polusi
Sistim pendingin gedung dirancang dan dioperasikan tidak
hanya untuk pendinginan tetapi juga untuk mencukupi pertukaran
udara dari dalam dan luar gedung. Masalah timbul saat sistim
pendingin tidak dapat membawa udara luar ke dalam gedung, hal
ini menyebabkan kualitas udara dalam gedung menjadi buruk.
Buruknya ventilasi dapat juga terjadi jika sistem pemanasan atau
heating, ventilasi dan air conditioning (HVAC) tidak efektif
mendistribusikan udara dan menjadi sumber polusi udara dalam
ruangan, menyebabkan gangguan kesehatan dan kenyamanan para
pekerja.2,3

2. Pajanan Yang Dialami


a. Pajanan Fisik

Pencahayaan
Pencahayaan pada kantor yang terlalu terang atau terlalu redup
dapat mempengaruhi keadaan pekerja, kelelahan mata pasien

karena bekerja dengan komputer terus-menerus.


Suhu
Suhu ruangan dapat panas atau terlalu dingin. Suhu udara yang
tidak nyaman bagi pekerja mempengaruhi kinerja dan kesehatan
pekerja. Ruangan yang terlalu dingin dapat menyebabkan pekerja
mudah terkena flu. Atau terlalu panas dapat menyebabkan

ketidaknyamanan pada pekerja.2


Kelembaban
Manusia dapat berkerja nyaman pada suhu 20-26 derajat
celcius dengan kelembapan 40-60%. Suhu ruangan dapat
mempengaruhi secara langsung saraf sensorik membrane mukosa
dan kulit serta dapat memberikan respon neurosensoral secara tidak
langsung

yang

menyebabkan

perubahan

sirkulasi

darah.

Kelembapan dapat mempengaruhi SBS dan terdapat hubungan


Makalah PBL Blok 28-Ajeng Aryuningtyas

5 | Page

signifikan antara udara kering, lembap, suhu dengan gejala


membran mukosa. Polutan kimia dan partikel pada kelembapan
rendah dapat menimbulkan kekeringan, iritasi mata serta saluran
nafas dan kelembapan diatas 60% dapat menyebabkan sesak dan
kelelahan.

Kelembapan

yang

terlalu

tinggi

juga

memicu

pertumbuhan jamur.
Bising CPU
Serupa dengan keadaan diatas, bising yang ditimbulkan CPU
membuat suasana tidak nyaman bagi pekerja, terutama yang

bekerja dengan komputer seharian.


Radiasi Elektromagnetis
Radiasi elektromagnetis yang terdapat pada komputer itu
menyebabkan kelelahan pada mata dan akibatnya akan sering
untuk mengucek mata, yang akan menyebabkan laserasi pada mata.
Makanya perlu dilakukan istirahat pada mata sejenak untuk
menenangkan mata tersebut supaya mata tidak terlalu lelah.
Mungkin radiasi elektromagentis juga memancarkan radiasinya
secara tidak langsung ke otak sehingga mengurangi oksigen di otak
dan menyebabkan sakit kepala.

b. Pajanan Biologik

Idealnya, filter mesin AC dibersihkan dan dibubuhi disinfektan


setidaknya 3-4 kali dalam setahun. Jika tidak AC menjadi lokasi
ideal bagi perkembangbiakan rombongan bakteri. Kawanan
Chlamidia sp, Escherichia sp, Legionella sp, akan bersarang
dengan nyaman di sela filter AC yang berair dan lembab. Ketika
udara AC menyembur ke seluruh sudut ruangan, saat itu pula
koloni kuman menyusup ke saluran pernapasan, terhirup melalui
mulut, hidung atau masuk lewat lubang kuping. Bagi orang sehat
dengan stamina prima, masuknya kuman tak mendatangkan
masalah. Lain soal jika korban yang didatangi kuman adalah
mereka yang daya tahan tubuhnya sedang buruk.1

Debu di dalam ruang kerja. Debu merupakan partikel-partikel zat


padat yang terbawa oleh angin. Oleh karena itu, debu bisa terdapat
dimana saja, misalnya untuk indoor, penumpukan barang-barang

Makalah PBL Blok 28-Ajeng Aryuningtyas

6 | Page

bekas yang menimbulkan debu. Karena ukurannya yang kecil, debu


dapat terhirup dan tersangkut di dalam paru sehingga dapat
mengganggu aktivitas pernapasan manusia.1

Karpet yang tidak dirawat. Partikel debu yang dibawa oleh manusia
dari luar ruangan akan menempel pada karpet. Selain itu ada juga
kutu debu yang biasanya tinggal diantara sela-sela karpet. Sebagian
besar orang pernah merasakan bau kuat yang menyengat dari
karpet yang baru dipasang. Bila karpet tidak terawat, jarang
dibersihkan dan dijemur, maka pertikel debu, dan pencemar lain
yang menempel di karpet akan ikut masuk ke dalam sistem
pernafasan manusia sehingga dapat mengganggu kesehatan.1

c. Pajanan Kimia

Penggunaan pewangi ruangan merupakan salah satu penyebab


polusi dalam ruang karena pewangi ruangan tersebut akan
memaparkan bermacam bahan yang serba kimiawi. Ada yang bisa
menyebabkan alergi, pusing, hingga mual. Pajanan yang berulangulang akan memicu peningkatan sensitivitas dan reaksi yang
semakin kuat. Bahan-bahan ini dapat menimbulkan berbagai
masalah kesehatan, termasuk reaksi alergi, masalah pernapasan dan
sensitivitas.pada pajanan berulang, bahan-bahan tersebut dapat
meyebabkan keadaan yang lebih serius, misalnya cacat lahir,

gangguan saraf pusat, dan kanker.


Selain itu, juga penyemprot nyamuk, rokok, mesin fotokopi yang
mengeluarkan ozon, penggunaan berbagai desinfektan, hingga
tanaman hidup yang tidak pernah dikeluarkan dari ruangan.
Tanaman yang jarang dikeluarkan dari ruangan juga kurang baik
karena pada malam hari tanaman mengeluarkan karbondioksida
dan mengkonsumsi oksigen. Terlebih jika tanaman tersebut berada
di dalam ruangan kantor yang jarang dibuka ventilasi udara
segarnya. Selain itu juga banyak materi bangunan modern, seperti

Makalah PBL Blok 28-Ajeng Aryuningtyas

7 | Page

cat diding yang masih baru diaplikasikan, papan partikel (particle


board), papan fiber (fiber board), dan berbagai macam perabotan
plastik yang mengeluarkan gas organik dalam jangka tahunan.1,2
d. Ergonomi

Dengan posisi kerja yang tidak nyaman atau posisi yang salah
dapat mengakibatkan kecelakaan dan penyakit akibat kerja, sikap
bungkuk yang menghadap ke depan komputer, kemudian leher
menunduk,

gerakan

berulang

pada

jari-jari

tangan

bisa

menyebabkan orang itu mudah lelah, kemudian bisa juga


mengalami low back pain atau karena gerakan tangan yang terus
menerus menimbulkan Carpal Tunnel Syndrome yang merupakan
kondisi medis dimana saraf median dikompresi di pergelangan
tangan, menyebabkan parastesia, mati rasa, parastesia dan
kelemahan otot di tangan
e. Pajanan Psikososial

Stress psikis, monoton kerja, tuntutan pekerjaan, hubungan sesama


sejawat, dan lain-lain.1 (upah yang kecil, beban kerja yang berat,
tidak ada prospek dalam jejaring karir, kurang penghargaan) dan
faktor individu (tidak ada kesempatan untuk belajar, bekerja terlalu
lama, jam istirahat kurang, jam kerja lama, kondisi lingkungan
kerja yang tidak baik). Pasien merasa lelah, monoton sehingga
kurang oksigen terhadap hal pekerjannya dan kemudian sakit
kepala akibatnya pekerjannya tidak dapat terselesaikan dengan
baik. Bekerja pada usia muda yang mempunyai beban tersendiri.
Jam kerja berlebihan dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore. Pekerjaan
yang monoton yakni bagian membuat laporan keuangan,
memfotokopi berkas, print berkas dimana waktu dihabiskan di
depan komputer dan menyebabkan kelelahan dan kejenuhan pada
pekerja.

3. Hubungan Pajanan dengan Penyakit

Pendingin udara (air conditioning) AC yang jarang dibersihkan serta ventilasi


udara yang kurang menjadi lokasi ideal bagi perkembangbiakan rombongan

Makalah PBL Blok 28-Ajeng Aryuningtyas

8 | Page

bakteri. Kawanan Chlamidia sp, Escherichia sp, Legionella sp, akan bersarang
dengan nyaman di sela filter AC yang berair dan lembab. Ketika udara AC
menyembur ke seluruh sudut ruangan, saat itu pula koloni kuman menyusup ke
saluran pernapasan, terhirup melalui mulut, hidung atau masuk lewat lubang

kuping.
Debu di dalam ruang kerja Sumber alamiah partikulat atmosfir adalah debu
karena terbawa oleh angin. misalnya untuk indoor, penumpukan barang-barang
bekas yang menimbulkan debu. Karena ukurannya yang kecil, debu dapat terhirup
dan tersangkut di dalam paru sehingga dapat mengganggu aktivitas pernapasan

manusia.
Karpet yang tidak dirawat Bila karpet tidak terawat, jarang dibersihkan dan
dijemur, partikel debu yang dibawa oleh manusia dari luar ruangan, pestisida yang
disemprotkan ke ruangan akan menempel pada karpet. Selain itu ada juga kutu
debu yang biasanya tinggal diantara sela-sela karpet. Sebagian iritasi pada Sick
Building Syndrome disebabkan oleh alergen yang terdapat pada karpet, seperti

tungau atau kapang sehingga dapat mengganggu kesehatan.


Pajanan biologi seperti kutu debu, jamur, bakteri, serbuk sari tanaman, dan
organisme lain Humidifier fever yaitu suatu penyakit yang disebabkan oleh
organisme yang menyebabkan sakit pada saluran pernafasan dan alergi. Organisme
ini biasanya terdapat dan hidup pada air yang terdapat di sistem pendingin.
Legionnaire disease penyakit ini juga berhubungan dengan sistem pendingin dalam
ruang namun disebabkan oleh spesifik bakteri terutama bakteri legionella
pneumophila. Penyakit ini terutama akan lebih berbahaya pada pekerja dengan usia
lanjut. Reaksi legionella memang sering tidak disertai gejala mencolok bahkan
seperti flu biasa. Paling-paling hanya demam, menggigil, pusing, batuk berdahak,

badan lemas, tulang ngilu dan selera makan menurun.


Pajanan kimia. Penggunaan pewangi ruangan merupakan salah satu penyebab
polusi dalam ruang karena pewangi ruangan tersebut akan memaparkan bermacam
bahan yang serba kimiawi. Ada yang bisa menyebabkan alergi, pusing, hingga
mual. Dilaporkan bahwa 95% bahan kimia dalam pewangi adalah senyawa sintesis
yang berasal dari petrokimia, termasuk turunan benzene, aldehida. Pajanan yang
berulang-ulang akan memicu peningkatan sensitivitas dan reaksi yang semakin
kuat. Bahan-bahan ini dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan, termasuk
reaksi alergi, masalah pernapasan dan sensitivitas.pada pajanan berulang, Selain
itu, juga penyemprot nyamuk, rokok, mesin fotokopi yang mengeluarkan ozon,

Makalah PBL Blok 28-Ajeng Aryuningtyas

9 | Page

penggunaan berbagai desinfektan, hingga tanaman hidup yang tidak pernah


dikeluarkan dari ruangan. Tanaman yang jarang dikeluarkan dari ruangan juga
kurang baik karena pada malam hari tanaman mengeluarkan karbondioksida dan
mengkonsumsi oksigen. Terlebih jika tanaman tersebut berada di dalam ruangan
kantor yang jarang dibuka ventilasi udara segarnya. Selain itu juga banyak materi
bangunan modern, seperti cat diding yang masih baru diaplikasikan, papan partikel
(particle board), papan fiber (fiber board), dan berbagai macam perabotan plastik

yang mengeluarkan gas organik dalam jangka tahunan.


Pajanan Ergonomi. Posisi tubuh yang membungkuk dan jongkok saat bekerja dan

leher menoleh menekuk.


Pajanan Psikososial. Stress psikis, monoton kerja, tuntutan pekerjaan, dan lainlain.4
Jenis Pajanan
Biologis

Pajanan yang mungkin dialami


Status gizi
Jenis makanan yang dimakan
kurang memenuhi gizi
seimbang, jam makan yang
Imunologik

tidak teratur.
Kondisi kesehatan yang tidak

Kuman dan virus

fit.
Ruangan yang jarang
dibersihkan, banyak debu di

Fisik

Suhu
Radiasi

sekitar meja kerja.


Terlalu panas atau dingin.
Layar komputer yang tidak
diberi antiradiasi, cahaya dari

Kimia

Ergonomis
Psikologis

Cahaya

mesin fotokopi.
Terlalu silau atau kurang

Kebisingan

pencahayaan.
Jumlah pekerja dalam satu

Sirkulasi udara
Polusi udara dari dalam dan

ruangan yang terlalu banyak .


Ventilasi, AC, exhaust fan.
Asap rokok, volatile organic

luar ruangan
Model meja dan kursi kerja
Posisi saat bekerja
Desain tangga
Jam kerja dalam sehari
Beban pekerjaan dalam

compounds.
Yang tidak sesuai standar.
Yang tidak ergonomis.
Yang tidak sesuai standar.
Maksimal 8 jam sehari.
Tugas yang menumpuk.

Makalah PBL Blok 28-Ajeng Aryuningtyas

10 | P a g e

sehari
Hubungan dengan atasan

Harmonis.

serta rekan kerja


Tabel 1. Pajanan yang mungkin dialami5
4. Jumlah Pajanan
Untuk mengetahui pajanan kita biasa menanyakan berapa jam sehari untuk
bekerja. Semakin banyak waktu semakin banyak terkena pajanan.
5. Faktor Individu

Apakah pasien ada riwayat atopi/alergi?


Apakah adanya riwayat pajanan serupa sebelumnya sehingga resikonya meningkat?
Apakah ada riwayat penyakit dalam keluarga yang mengakibatkan penderita lebih

rentan/lebih sensitif terhadap pajanan yang dialami?


Higiene perorangan.6

6. Faktor Lain Diluar Pekerjaan

Apakah ada faktor pajanan lain yang dapat menyebabkan penyakit?


Perlu adanya anamnesis lebih lanjut mengenai apakah ada kebiasaan merokok,
pajanan dirumah.
Selain faktor dari individu pasien itu sendiri. Kita juga perlu menanyakan
faktor-faktor lain, seperti:

Hobi: karena ada kemungkinan keluhannya ini karena hobinya misalnya


menonton TV berjam-jam.

Kebiasaan (merokok, minum alkohol).

Pajanan rumah: ini penting untuk mencari penyebab spesifik dari keluhannya
(rumah/daerah sekitar rumah sedang dalam tahap renovasi, sirkulasi udara
dirumah berhubungan dengan ventilasi dan kebersihan pendingin udara,
kebersihan rumah, adakah di rumah yang merokok)

Aktifitas di luar rumah: sepulang dari kantor apakah pasien ada pekerjaan
sambilan juga misalnya menjadi penjaga toko tua, tukang cat.4

7. Diagnosis Okupasi

Makalah PBL Blok 28-Ajeng Aryuningtyas

11 | P a g e

Dari 6 langkah diagnosis diatas, maka diagnosis penyakit diatas adalah


penyakit akibat hubungan kerja atau lebih spesifik penyakit Sick Building Syndrome.

Sick Building Syndrome


Sick Building Syndrome (SBS) merupakan kumpulan gejala yang dialami oleh
pegawai atau pekerja dalam gedung perkantoran berhubungan dengan lamanya berada dalam
gedung serta kualiatas udara yang buruk. Keluhan ini berupa sakit kepala, pusing, mual, mata
merah, matah pedih, hidung gatal, bersin-bersin, hidung berair, hidung mampet, tenggorokan
kering dan gatal, batu-batuk, sesak nafas, kulit kering, kulit gatal dan mengantuk. Orang
dinyatakan menderita SBS apabila memiliki keluhan minimal 2 atau lebih dari sekumpulan
gejala tersebut, dalam kurun waktu bersamaan selama berada dalam ruangan dan perlahan
lahan menghilang saat meninggalkan ruangan atau gedung tersebut. Keluhan SBS ini
kemungkinan dapat terjadi dikarenakan keberadaan aktivitas merokok dalam ruangan yang
mana sebagian responden mengaku sangat terganggu dengan asap rokok selain itu terlihat
dari hasil pengukuran kelembaban ruangan menunjukkan hampir semua ruangan yang diukur
tidak memenuhi syarat dalam hal ini kelembaban merupakan salah satu penyebab SBS,
kelembaban yang relatif rendah yaitu kurang dari 20% dapat menyebabkan kekeringan
selaput lendir membran, sedangkan kelembaban yang tinggi dapat meningkatkan
pertumbuhan mikroorganisme dan pelepasan formaldehid dari material bangunan.
Umur berpengaruh pada daya tahan tubuh, semakin tua usia maka semakin menurun
pula stamina tubuh. Paparan pada suatu zat yang bersifat toksik akan menimbulkan dampak
yang lebih serius pada mereka yang berusia tua dari pada yang berusia lebih muda dengan
kata lain udara yang buruk lebih mudah mempengaruhi kekebalan orang usia tua, umur
mempengaruhi produktivitas kerja, semakin tua tenaga kerja maka kemampuan kerja
seseorang semakin menurun terutama pada pekerjaan berat. Masa kerja dengan keluhan Sick
Building Syndrome semakin lama pegawai bekerja disuatu tempat, semakin besar
kemungkinan mereka terpapar oleh faktor-faktor lingkungan kerja baik fisik maupun kimia
yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan atau penyakit akibat kerja khususnya SBS
yang pada akhirnya dapat mengakibatkan menurunnya produktifitas kerja seorang pegawai
atau pekerja.
Suhu udara sangat berperan dalam kenyamanan bekerja karena tubuh manusia
menghasilkan panas yang digunakan untuk metabolisme basal dan muskuler. Namun dari
semua energi yang dihasilkan tubuh hanya 20% saja yang dipergunakan dan sisanya akan
dibuang ke lingkungan. Suhu yang terlalu tinggi ataupun terlalu rendah bisa memepengaruhi
Makalah PBL Blok 28-Ajeng Aryuningtyas

12 | P a g e

konsentrasi dan kemampuan kerja seseorang .Temperatur yang terlalu tinggi menyebabkan
seseorang kehilangan cairan lebih cepat dan pada kondisi ekstrim bisa menyebabkan heat
stroke. Sebaliknya pada temperatur yang rendah memaksa seseorang untuk bekerja lebih
keras mempertahankan suhu tubuhnya tetap pada kondisi normal. Pada kondisi ekstrim
temperatur yang terlalu dingin bisa menyebabkan frost bite. Pada kedua kondisi diatas baik
temperatur terlalu tinggi ataupun rendah tubuh bisa merasakan kelelahan lebih cepat daripada
normal dan mengalami berbagai gejala seperti iritasi mata, iritasi tenggorokan dan batukbatuk yang termasuk gejala-gejala SBS. 4

Patofisiologi
Terdapat 3 hipotesis untuk menjelaskan gejala SBS antara lain hipotesis kimia
bahwa volatile organic compounds (VOCs) yang berasal dari perabot, karpet, cat serta debu,
karbon monoksida atau formaldehid yang terkandung dalam pewangi ruangan dapat
menginduksi respons reseptor iritasi terutama pada mata dan hidung. Iritasi saluran napas
menyebabkan asma dan rinitis melalui interaksi radikal bebas sehingga terjadi pengeluaran
histamin, degradasi sel

mast dan pengeluaran mediator inflamasi menyebabkan

bronkokonstriksi. Pergerakan silia menjadi lambat sehingga tidak dapat membersihkan


saluran napas, peningkatan produksi lendir akibat iritasi oleh bahan pencemar, rusaknya sel
pembunuh bakteri di saluran napas, membengkaknya saluran napas dan merangsang
pertumbuhan sel. Akibatnya terjadi kesulitan bernapas, sehingga bakteri atau mikroorganisme
lain tidak dapat dikeluarkan dan memudahkan terjadinya infeksi saluran napas.
Hipotesis ke dua adalah hipotesis bioaerosol, penelitian cross sectional menunjukkan
bahwa individu yang mempunyai riwayat atopi akan memberikan reaksi terhadap VOCs
konsentrasi rendah dibandingkan individu tanpa atopi. Hipotesis ke tiga ialah faktor pejamu,
yaitu kerentanan individu akan mempengaruhi timbulnya gejala. Stres karena pekerjaan dan
faktor fisikososial juga mempengaruhi timbulnya gejala SBS.7

Gejala Sick Building Syndrome


Para penghuni gedung umumnya mengalami gejala Sick Building Syndrome yang
bervariasi. Gejala-gejala yang timbul memang berhubungan dengan tidak sehatnya udara di
dalam gedung. Keluhan yang ditemui pada sindrom ini antara lain dapat berupa batuk-batuk
kering, sakit kepala, iritasi di mata, hidung dan tenggorokan, kulit yang kering dan gatal,
badan lemah, kelelahan, peka terhadap bau yang tidak sedap serta sulit untuk berkonsentrasi.
dan lain-lain. Keluhan-keluhan tersebut biasanya menetap setidaknya dua minggu.

Makalah PBL Blok 28-Ajeng Aryuningtyas

13 | P a g e

Keluhan-keluhan tersebut biasanya tidak terlalu hebat, tetapi cukup terasa


mengganggu dan yang penting, amat berpengaruh terhadap produktifitas kerja seseorang.
Sick Building Syndrome baru dapat dipertimbangkan bila lebih dari 20% atau bahkan sampai
50%, pengguna suatu gedung mempunyai keluhan-keluhan seperti di atas. Kalau hanya dua
atau tiga orang maka mereka mungkin sedang kena flu biasa. Keluhan atau gejala Sick
Building Syndrome dibagi dalam tujuh kategori sebagai berikut:8
1. Iritasi selaput lendir, seperti iritasi mata, pedih, merah dan berair.
2. Iritasi hidung, seperti iritasi tenggorokan, sakit menelan, gatal, bersin, batuk kering.
3. Gangguan neurotoksik (gangguan saraf/gangguan kesehatan secara umum), seperti
sakit kepala, lemah, capai, mudah tersinggung, sulit berkonsentrasi.
4. Gangguan paru dan pernapasan, seperti batuk, nafas bunyi, sesak nafas, rasa berat di
dada.
5. Gangguan kulit, seperti kulit kering, kulit gatal.
6. Gangguan saluran cerna, seperti diare.
7. Seseorang dinyatakan menderita Sick Building Syndrome apabila memiliki keluhan
sejumlah kurang lebih 2/3 dari sekumpulan gejala lesu, hidung tersumbat,
kerongkongan kering, sakit kepala, mata gatal-gatal, mata pedih, mata kering, pilekpilek, pegal-pegal, sakit leher atau penggung, dalam kurun waktu yang bersamaan.8
Kelainan
Iritasi membran mukosa

Gejala
Iritasi mata, hidung, dan

tenggorokan
Gejala neurologis
Nyeri kepala
Kelelahan
Sulit konsentrasi
Cepat marah
Gejala menyerupai asma
Dada terasa tertekan
Wheezing
Gangguan kulit
Kulit kering
Iritasi kulit
Gejala gastrointestinal
Diare
Tabel 2. Gejala Klinis SBS

Penatalaksanaan
a. Non-medika mentosa
- Menghilangkan sumber kontaminasi penyebab SBS, misalnya dengan pembersihan
AC secara berkala
- Jangan merokok, karena dapat memperberat penyakit
- Menghilangkan sumber polutan. Jika suatu gedung tekah dinyatakan telah terkena
SBS, maka perlu dilakukan pemeriksaan menyeluruh untuk mencari sumber polutan
yang dominan. Setelah sumber tersebut ditemukan, maka langkah selanjutnya adalah
menghilangkan sumber polutan tersebut.
Makalah PBL Blok 28-Ajeng Aryuningtyas

14 | P a g e

- Meningkatkan laju pertukaran udara. Ini dapat dilakukan dengan melakukan


modifikasi terhadap sistem ventilasi yang telah ada disesuaikan dengan standar baku
yang telah ada.
- Membersihakan udara yang disirkulasikan di dalam gedung. Hal ini dapat dilakukan
dengan menggunakan filter yang dapat menyaring udara, meskipun sangat terbatas.
- Menjaga temperature dan kelembapan ruangan dalam rentang dimana kontaminasi
biologis susah bertahan hidup. Biasanya dalam temperature 70oF dan kelembapan 4060%.
- Jendela sedapat mungkin dibuka untuk membantu proses pertukaran udara dalam dan
udara luar.
b. Medika mentosa
Pengobatan dilakukan berdasarkan simptom:
-

Decongstan: membantu melancarkan pernafasan dan pengeluaran mucus atau lendir

dari hidung.
Dextromethorpan atau ambroxol: membantu mengeluarkan dahak atau mengencerkan

dahak.
Paracetamol, ibuprofen, aspirin: demam, sakit kepala dan nyeri seluruh badan.
Antibiotik erythromycin: untuk penyakit seperti Legionnaire.

Pencegahan

Edukasi tentang penyakit SBS

Upaya agar udara luar yang segar dapat masuk ke dalam gedung secara baik dan
terdistribusi secara merata ke semua bagian didalam suatu gedung. Dalam hal ini
perlu diperhatikan agar lubang tempat masuknya udara luar tidak berdekatan dengan
sumber-sumber pencemar di luar gedung agar bahan pencemar tidak terhisap masuk
ke dalam gedung. Ventilasi dan sirkulasinya udara dalam gedung diatur sedemikian
rupa agar semua orang yang bekerja merasa segar, nyaman dan sehat, jumlah supply
udara segar sesuai dengan kebutuhan jumlah orang didalam ruangan, demikian pula
harus diperhatikan jumlah supply udara segar yang cukup apabila ada penambahanpenambahan karyawan baru dalam jumlah yang signifikan.

Keluar gedung saat istirahat untuk menghirup udara segar.

Alokasikan ruangan khas untuk merokok dan buat jalur ventilasi untuk asap
buangannya demikian sehingga tidak bercampur dengan sirkulasi udara segar
menuju ruangan lainnya.

Makalah PBL Blok 28-Ajeng Aryuningtyas

15 | P a g e

Segera laporkan apabila terlihat gejala-gejala sick building syndrome.9

Prognosis
Prognosis untuk kasus ini baik bila penyebab dapat diatasi dengan segera. Sehingga
kualitas kerja para pekerja baik, dan akhirnya produktivitas perusahaan baik.

Penutup
Kesimpulan
Berdasarkan skenario kasus, wanita 30 tahun dengan keluhan batuk pilek berulang
menderita sick building syndrome (SBS) yang merupakan penyakit akibat kerja. Penyakit
sick building syndrome (SBS) biasanya timbul pada lokasi atau tempat kerja sehari-hari yang
kurang sehat. Kehidupan masyarakat yang modern dan dikelilingi dengan perangkat
teknologi bisa berdampak buruk bagi tubuh, salah satunya adalah penyakitnya SBS. SBS
adalah istilah yang menyatakan bahwa gedung-gedung industri, perkantoran, perdagangan,
dan rumah tinggal yang menimbulkan dampak penyakit.
SBS sangat mungkin menurunkan produktivitas. Berbagai penyakit itu muncul
disebabkan polutan dari berbagai perangkat dan peralatan di dalam ruangan gedung, kantor,
dan rumah. Polutan yang mencemari ruangan kerja itu seperti asap rokok, ozon yang berasal
dari mesin fotokopi dan printer, kuman dan bakteri yang berasal dari karpet. Memang
penyakit yang ditimbulkan lewat oleh SBS tersebut tidak seketika terjadi. Namun, jika terusmenerus terkena dampak tersebut bisa memicu munculnya berbagai penyakit dalam tubuh.
Yang perlu diperbaiki adalah rumah atau lingkungan tempat kerja. Caranya adalah dengan
memberikan ruang sanitasi udara yang cukup, begitu juga untuk pancaran sinar matahari.

Daftar Pustaka
1

Utami ET. Hubungan antara kualitas udara pada ruangan ber-AC sentral dan sick
building sindrome. Jateng-DIY. Tesis DIY: UNNES: 2005.

Jaakkola K, Jaakkola MS. Sick building syndrome. In: Hendrik DJ, Burge PS, Beckett
WS, Churg A, editors. Occupational disorder of the lung: recognation management and
prevention. 5th ed. London: WB Saunders; 2007.h.241-55.

Makalah PBL Blok 28-Ajeng Aryuningtyas

16 | P a g e

Aditama TY, Andarini SL. Sick building syndrome. Jakarta: Med J Indones;
2002.h.124-31.

Winarti M, Basuki B, Hamid A. Air movement, gender and risk of sick building
syndrome headache among employees in Jakarta office. Med J Indones 2005.h.171-2.

Bibhat KM, Edmund GLW, Edward MD, Richard TM. Lecture notes: penyakit infeksi.
Edisi keenam. Jakarta: Erlangga; 2006.h.62-4.

Fischman ML. Current occupational & environmental medicine. Ed. 4. New York: Mc
Graw Hill; 2007.h.718-719.

Hodgson M. Indoor environmental exposure and symptoms. Environ Health Perspect


2007.h.663-7.

Depkes RI Pusat Kesehatan Kerja. Modul pelatihan bagi fasilitator kesehatan kerja.
Jakarta: Depkes RI; 2008.

Chandra B. Ilmu kedokteran pencegahan dan komunitas. Jakarta: EGC; 2012.h.59-76.

Makalah PBL Blok 28-Ajeng Aryuningtyas

17 | P a g e