Anda di halaman 1dari 20

REFERAT

TATALAKSANA GIZI BURUK PADA ANAK

Pembimbing:
dr. Edward Surjono, Sp. A
oleh:
Clara Junita 2013.061.046
Melisa Putri 2014.061.141

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIKA ATMA JAYA
Periode 11 Januari 13 Maret 2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Malnutrisi merupakan suatu kondisi akut atau kronis dimana terjadi defisiensi atau
ketidakseimbangan energi, protein dan nutrien lainnya yang menimbulkan gangguan
fungsi tubuh dan menimbulkan manifestasi klinis.1 Keadaan gizi buruk berdampak
terhadap angka kesakitan dan kematian serta terhadap pertumbuhan, perkembangan
intelektual, produktivitas. Anak balita merupakan populasi yang paling rentan mengalami
masalah gizi buruk. Pada usia tersebut anak seharusnya banyak mendapatkan asupan gizi
yang cukup, karena usia ini anak sedang mengalami perkembangan. Keterlambatan dalam
penanganan masalah gizi buruk pada anak dapat berakibat kerusakan yang sulit ditangani
dan jika dibiarkan akan berdampak buruk terhadap tumbuh kembang.1,4
Indonesia termasuk salah satu negara yang masih dalam taraf perkembangan atau
disebut dengan negara berkembang. Tidak jauh berbeda dengan negara berkembang lain
di dunia, Indonesia juga sering menghadapi berbagai masalah salah satunya kesehatan
dan gizi. Gizi buruk, terutama pertumbuhan yang terhambat merupakan sebuah masalah
kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia.2 Menurut Badan Pusat Statistik (BPS)
dan Laporan Survei Departemen Unicef tahun 2005, dari 343 kabupaten/kota di Indonesia
penderita gizi buruk sebanyak 169 kabupaten/kota tergolong prevalensi sangat tinggi dan
257 kabupaten/kota lainnya prevalensi tinggi. 2,3
Masalah ini mendapat perhatian dari berbagai pihak, seperti pemerintah, dinas
sosial, dinas kesehatan maupun masyarakat. Dalam jangka pendek penderita gizi buruk
meningkatkan angka morbiditas dan dampak jangka panjang adalah rendahnya kualitas
sumber daya manusia generasi mendatang dilihat dari kecerdasan, kreativitas, dan
produktivitas. Penelitian yang dilakukan Amelia dkk terhadap anak yang pernah
mengalami gizi buruk diketahui rata-rata IQ anak yang pernah mengalami gizi buruk pada
usia dini lebih rendah 13,7 poin dibandingkan anak yang tidak pernah mengalami
gangguan gizi4.
Penanganan gizi buruk sangat terkait dengan strategi bangsa dalam menciptakan
sumber daya manusia yang sehat, cerdas, produktif. Petugas kesehatan harus mampu
mengatasi kasus gizi buruk secara cepat, tepat dan profesional Penulis. Mengingat
pentingnya pengetahuan dan pemahaman tentang gizi buruk, terutama mengenai
penatalaksanaanya, maka penulis tertarik untuk membuat referat mengenai tatalaksana
gizi buruk pada anak.

1.2 Tujuan Umum


Diketahuinya tatalaksana gizi buruk pada anak
1.3 Tujuan Khusus
1.3.1

Diketahuinya definisi dan klasifikasi gizi buruk

1.3.2

Diketahuinya cara menentukan status gizi pada anak

1.3.3

Diketahuinya patofisiologi dan manifestasi klinis gizi buruk pada anak

1.3.4

Diketahuinya cara mendiagnosa gizi buruk pada anak

1.3.5

Diketahuinya komplikasi gizi buruk dan penanganannya

1.4 Manfaat Penulisan


Penulisan ini diharapkan dapat memberikan manfaat atau kegunaan baik secara teoritis
maupun praktis.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Status Gizi


Status gizi adalah keadaan gizi seseorang yang dapat dilihat untuk mengetahui apakah
seseorang tersebut normal atau bermasalah. Gizi salah adalah gangguan kesehatan yang
disebabkan oleh kekurangan atau kelebihan dan atau keseimbangan zat-zat gizi yang
diperlukan untuk pertumbuhan, kecerdasan dan aktivitas atau produktivitas 5. Status gizi juga
dapat merupakan hasil akhir dari keseimbangan antara makanan yang dimasukkan ke dalam
tubuh dengan kebutuhan tubuh akan zat gizi tersebut6.
2.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Status Gizi
Status gizi buruk dapat dipengaruhi oleh asupan makanan yang kurang dan anak sering
sakit atau terkena infeksi. Selain itu, gizi buruk dipengaruhi oleh faktor lain seperti sosial
ekonomi, kepadatan penduduk, kemiskinan, dan lain-lain.
A. Faktor utama penyebab gizi buruk pada anak
1. Peranan diet
Anak sering tidak cukup mendapatkan makanan bergizi seimbang terutama dalam
segi protein dan karbohidratnya. Diet yang mengandung cukup energi tetapi kurang
protein akan menyebabkan anak menjadi penderita kwashiorkor, sedangkan diet
kurang energi walaupun zat gizi esensialnya seimbang akan menyebabkan anak
menjadi penderita marasmus. Pola makan yang salah seperti pemberian makanan
yang tidak sesuai usia akan menimbulkan masalah gizi pada anak. 7
2. Peranan penyakit atau infeksi
Penyakit atau infeksi menjadi penyebab kedua terbesar setelah asupan makanan
yang tidak seimbang. Tingkat kesadaran akan kebersihan diri di negara-negara
berkembang, termasuk di Indonesia masih kurang. Infeksi kronik akan
menyebabkan anak menjadi kurang gizi yang pada akhirnya memberikan dampak
buruk pada sistem pertahanan tubuh sehingga memudahkan terjadinya infeksi baru
pada anak. 7
B. Faktor lain penyebab gizi buruk pada anak
1. Peranan Sosial Ekonomi
Tidak tersedianya makanan yang adekuat terkait langsung dengan masalah sosial
ekonomi dan kemiskinan. Data di Indonesia dan negara lain menunjukkan adanya

hubungan timbal balik antara kurang gizi dengan masalah-masalah sosial yang
terjadi di masyarakat terutama masalah kemiskinan yang pada akhirnya
mempengaruhi

ketersediaan

makanan

serta

keragaman

makanan

yang

dikonsumsic.7
2. Peranan Kepadatan Penduduk
Dalam kongres tahun 1974, World Food Organization memaparkan bahwa
meningkatnya jumlah penduduk yang cepat tanpa diimbangi dengan bertambahnya
persediaan pangan maupun bahan makanan setempat yang memadai merupakan
sebab utama krisis pangan. 7
2.3 Patofisiologi
Malnutrisi merupakan suatu sindrom yang terjadi akibat banyak faktor. Faktor-faktor ini
dapat digolongkan atas tiga faktor penting yaitu: tubuh sendiri (host), agent(kuman
penyebab), environment (lingkungan). Faktor diet memang memegang peranan penting,
namun faktor lainnya juga ikut menentukan. Marasmus adalah compensated malnutrition atau
sebuah mekanisme adaptasi tubuh terhadap kekurangan energi dalam waktu yang lama.
Dalam keadaan kekurangan makanan, tubuh selalu berusaha mempertahankan hidup dengan
memenuhi kebutuhan pokok dan energi. Kemampuan tubuh untuk mempergunakan
karbohidrat, protein dan lemak merupakan hal yang sangat penting untuk mempertahankan
kehidupan. Karbohidrat dapat dipakai oleh seluruh jaringan tubuh sebagai bahan bakar, tetapi
kemampuan tubuh untuk menyimpan karbohidrat sangat sedikit. Akibatnya katabolisme
protein terjadi setelah beberapa jam dengan menghasilkan asam amino yang segera diubah
jadi karbohidrat di hepar dan di ginjal. Selama kurangnya intake makanan, jaringan lemak
akan dipecah jadi asam lemak, gliserol dan keton bodies. Setelah lemak tidak dapat
mencukupi kebutuhan energi, maka otot dapat mempergunakan asam lemak dan keton bodies
sebagai sumber energi kalau kekurangan makanan. Pada akhirnya setelah semua tidak dapat
memenuhi kebutuhan akan energi lagi, protein akan dipecah untuk memenuhi kebutuhan
metabolisme tubuh. Proses ini berjalan menahun, dan merupakan proses adaptasi terhadap
ketidakcukupan asupan energi dan protein. 7

2.4 Antropometri

Pengukuran antropometri dilakukan dengan penimbangan berat badan dan pengukuran


tinggi/panjang badan. Selanjutnya dilakukan ploting pada grafik dengan tiga indikator
pertumbuhan anak (TB/U atau PB/U, BB/U, BB/PB, BB/PB atau BB/TB).
2.5 Penentuan Status Gizi Anak
Penimbangan berat badan (BB) dan pengukuran panjang badan (PB)/tinggi badan(TB)
dilakukan dengan cara yang benar dan menggunakan timbangan yang telah ditera secara
berkala. Pemeriksaan fisik terhadap keadaan umum dan tanda spesifik khususnya defisiensi
mikronutrien harus dilakukan. Penentuan status, gizi dilakukan berdasarkan BB/TB atau
BB/PB. Grafik pertumbuhan yang digunakan sebagai acuan ialah grafik WHO 2006 untuk
anak kurang dari 5 tahun dan grafik CDC 2000 untuk anak lebih dari 5 tahun.
Tabel 2.1 Penentuan status gizi menurut kriteria waterlow, WHO 2006 dan CDC 2000
Status Gizi
Obesitas
Overweight
Normal
Gizi Kurang
Gizi Buruk

BB/TB WHO 2006

BB/TB

> +3 SD
> +2 hingga +3 SD
+2 SD hingga -2 SD
< -2 hingga -3 SD
< -3 SD

median)
> 120
> 110
> 90
70 90
< 70

2.6

Diagnosis Gizi Buruk

2.6.1

Kriteria Anak Gizi Buruk8


Gizi buruk tanpa komplikasi
a. BB/TB < -3 SD dan atau;
b. Terlihat sangat kurus dan atau;
c. Adanya edema dan atau;
d. LILA <11,5 cm untuk anak 6-59 bulan
Gizi buruk dengan komplikasi8
a. Anoreksia
b. Pneumonia berat
c. Anemia berat
d. Dehidrasi berat

(% IMT CDC 2000


> P95
P85-P99

e. Demam sangat tinggi


f. Penurunan kesadaran
2.6.3

Pemeriksaan Anak Gizi Buruk


A. Anamnesis
Awal :
Kejadian mata cekung yang baru saja muncul
Lama dan frekuensi muntah atau diare, serta tampilan dari bahan muntah atau
diare
Saat terakhir kencing
Sejak kapan tangan dan kaki terabab dingiN
Lanjutan
Kebiasaan makan sebelum sakit
Makan/minum/menyusui paad saat sakit
Jumlah makanan dan cairan yang didapat dalam beberapa hari terakhir
Kontak dengan penderita campak atau tuberkulosis paru
Pernah sakit campak dalam 3 bulan terakhir
Kejadian dan penyebab kematian dari kakak atau adik
Berat badan lahir
Tumbuh kembang, misalnya : duduk, berdiri dan lain-lain
Riwayat imunisasi
Apakah ditimbang setiap bulan di Posyandu
Apakah sudah mendapatkan imunisasi lengkap

B. Pemeriksaan Fisik
Apakah anak tampak sangat kurus/edema/pembengkakan kedua kaki?
Tanda-tanda terjadinya syok (akral dingin, nadi lemah, penurunan kesadaran)
Suhu tubuh : hipotermia atau demam
Kehausan
Frekuensi pernafasann dan tipe pernafasan: gejala pneumonia atau gejala gagal
jantung

Berat badan dan tinggi badan atau panjang badan dan bandingkan dengan tabel
Pembesaran hati dan adanya kekuningan (ikerus) pada bagian konjungtiva
Adanya perut kembung, suara usus
Pucat yang sangat berat terutama pada telapak tangan, bandingkan dengan
telapak tangan ibu.
Gejala pada mata : kelainan pada kornea dan konjungtiva sebagai tanda
kekurangan vitamin A
Telinga, mulut dan tenggorokan: tanda-tanda infeksi
Kulit : tanda-tanda infeksi atau adanya purpura
Tampilan (konsistensi) tinja
C. Klasifikasi Tanda Bahaya
Tabel 2.2 Tanda bahaya yang berkaitan dengan denyut nadi, pernafasan dan suhu
Variabel
Hasil pengukuran
Denyut nadi dan Bila denyut nadi naik 25/menit

Klasifikasi
Infeksi atau

pernafasan

(kemungkinan

Pernafasan

Nadi cepat :

gagal

jantung
karena

- HR > 160 x/menit (< 1 tahun)

overhidrasi

pada

saat

- HR > 140 x/menit ( >1 tahun)

pemberian

makan

atau

Disertai peningkatan

rehidrasi terlalu cepat)

Pernafasan 5 x/menit
Pernafasan cepat:

Pneumonia

> 60 x/menit untuk anak usia < 2


bulan
> 50 x/menit untuk anak usia 2-12
bulan
> 40 x/menit untuk anak usia 12 bulan
Suhu

sampai 5 tahun
Setiap kenaikan atau penuruann secara Infeksi
tiba-tiba

Hipotermia (mungkin karena

Suhu aksiler < 36 C atau teraba dingin

infeksi atau tidak makan sama


sekali

atau

diselimuti)
(Sumber: Departemen Kesehatan 2011)

anak

tidak

Bila terjadi peningkatan denyut nadi, pernafasan dan suhu, lihat tanda-tanda lain seperti:
- anoreksia
- letargis
- sklera ikterik
- sianosis
- sesak nafas, nafas cuping hidung, retraksi otot-otot dada dan suprasternal
- perut kembung
- perubahan berat badan yang berlebihan (peningkatan/penurunan)
- muntah terus
- bercak merah pada kulit (ruam)

2.7 Tatalaksana Anak Gizi Buruk

2.7.1 Alur Pemeriksaan dan Langkah untuk Menangani Gizi Buruk


Berikut adalah alur pemeriksaan yang dapat digunakan untuk menentukan langkah-langkah
yang dilakukan dalam menangani penemuan kasus anak gizi buruk:

Gambar 2.4 Alur Pemeriksaan dan Langkah untuk Menangani Gizi Buruk
(Sumber: Departemen Kesehatan 2011)

2.7.2

Fase dalam Penatalaksanaan Gizi Buruk


Tatalaksana gizi buruk terdiri dari empat fase yaitu :
1.

Fase stabilisasi (hari 1 2)


Pada fase stabilisasi, diberikan makanan formula 75 (F-75) dengan asupan gizi
80-100 kkal/kgBB/hari dan protein 1-1,5 g/KgBB/hari. ASI tetap diberikan pada
anak yang masih mendapatkan ASI.

2.

Fase transisi (hari 3 7)


Pada fase transisi ada perubahan pemberian makanan dari F-75 menjadi F100. Diberikan makanan formula 100 (F-100) dengan asupan gizi 100-150
kkal/kgBB/ hari dan protein 2-3 g/kgBB/hari.

3.

Fase rehabilitasi (minggu ke 2 6)


Pada fase rehabilitasi, diberikan makanan seperti pada fase transisi yaitu F100, dengan penambahan makanan untuk anak dengan BB < 7 kg diberikan
makanan bayi dan untuk anak dengan BB > 7 kg diberikan makanan anak.

4.

Asupan gizi 150-220 kkal/kgBB/hari dan protein 4-6 g/kgBB/hari.


Fase tindak lanjut (minggu ke 7 26)
Fase tindak lanjut merupakan fase yang dilakukan di rumah. Setelah anak
pulang dari pusat pemulihan gizi (PPG), anak tetap dikontrol secara berkala.
Anak tetap melakukan kontrol (rawat jalan) pada bulan I satu kali/ minggu, bulan
II satu kali/ 2 minggu, selanjutnya sebulan sekali sampai dengan bulan ke-6.

2.7.3

Sepuluh Langkah Esensial Penanganan Gizi Buruk


Terdapat 10 langkah esensial dalam penanganan gizi buruk.

Gambar 2.4 Fase Penatalaksanaan Gizi Buruk


(Sumber: Departemen Kesehatan 2011)
1. Mencegah dan mengatasi hipoglikemia
Hipoglikemia dan hipotermia biasanya muncul bersamaan, dan merupakan tanda
dari infeksi. Hipoglikemia merupakan suatu keadaan dimana kadar glukosa sangat
rendah (<3 mmol/l atau <54 mg/dl). Gejala hipoglikemia dapat berupa letargis, nadi
lemah dan kehilangan kesadaran.
Tabel 2.3 Terapi Hipoglikemia
Tanda
Sadar (tidak letargi)

Tindakan
Berikan 50 ml dekstrosa 10% atau glukosa 10% (1
sendok makan dalam 3,5 sendok makan air)secara

Tidak sadar (letargi)

oral atau dengan NGT.


Berikan larutan dekstrosa / glukosa 10% IV (5 ml
x berat badan), diikuti dengan 50 ml glukosa 10%

Renjatan (Shock)

secara NGT.
Berikan larutan dekstrosa / glukosa 10% secara IV
sebanyak 5 ml/kgBB, selanjutnya beri infus Ringer
Laktat dan Glukosa 10% perbandingan 1 : 1

sebanyak 15 ml/kgBB untuk 1 jam.


(Sumber: Departemen Kesehatan 2011)
2. Mencegah dan mengatasi hipotermia
Dapat dikatakan hipotermia apabila suhu aksila < 36,5C. Berikut ini adalah terapi
dan pencegahan hipotermia :
Tabel 2.4 Terapi Hipotermia
Suhu
36,5C - 37C

Tindakan
Tutuplah tubuh anak termasuk kepalanya
Hindari adanya hembusan angin
Pertahankan suhu ruangan 25-30C
Tetap diselimuti pada malam hari
Jangan biarkan tanpa baju terlalu lama saat pemeriksaan dan
penimbangan
Tangan yang merawat harus hangat
Segera ganti baju atau peralatan tidur yang basah
Segera keringkan badan setelah mandi
Jangan menggunakan botol air panas untuk menghangati

< 36,5C

badan
Cara kangaroo kontak langsung antara kulit ibu dan

kulit anak
Lampu diletakan 50 cm dari anak
(sumber : Departemen Kesehatan 2011)
3. Mencegah dan mengatasi dehidrasi
Pada gizi buruk kekurangan volume darah dapat muncul bersama dengan edema,
karena itu tidak dianjurkan untuk rehidrasi secara intravena kecuali apabila terjadi
renjatan. Pada anak dengan gizi buruk, sangat sulit untuk memperkirakan status
dehidrasi dengan gejala klinis saja, maka, pada pasien gizi buruk diasumsikan
memiliki diare. Terapi dehidrasi pada gizi buruk:
ReSoMal 5 ml/kg setiap 30 menit selama 2 jam per oral atau dengan NGT.
ReSoMal 5-10 ml/kg/jam untuk 4-10 jam berikutnya, diselingi dengan F-75.
Lanjutkan pemberian F-75.
Pencegahan dehidrasi pada gizi buruk :

Pemberian F-75
ReSoMal 50-100 ml setiap buang air besar cair
Apabila anak masih mendapatkan ASI, ASI tetap dilanjutkan

4. Memperbaiki gangguan keseimbangan elektrolit

Anak dengan gizi buruk memiliki kadar natrium yang tinggi dalam tubuh,
walaupun natrium pada plasma dapat menurun. Defisiensi kalium dan magnesium
juga terdapat pada anak dengan gizi buruk dan setidaknya membutuhkan waktu 2
minggu untuk mengoreksinya. Terapi ketidakseimbangan elektrolit:
Kalium ekstra 3-4 mmol/kg/hari
Magnesium ekstra 0.4-0.6 mmol/kg/hari
Saat rehidrasi, berikan cairan rendah natrium (contoh: ReSoMal)
Berikan makanan tanpa garam
5. Mengobati infeksi
Pada anak dengan gizi buruk biasanya tanda-tanda infeksi, seperti demam, tidak
muncul. Oleh karena itu, anak perlu diberikan antibiotik spektrum luas.

Gambar 1.2 Pemilihan antibiotik pada anak dengan gizi buruk

6. Memperbaiki kekurangan zat gizi mikro


Anak dengan gizi buruk memiliki defisiensi mineral dan vitamin, untuk itu anak
dengan gizi buruk perlu diberikan :
Vitamin A
Gambar 1.3 Jadwal dan dosis pemberian vitamin A

Bentuk Formula
Tablet Besi/Folat
(Sulfas ferosus 200 mg atau 60 mg
besi elemental + 0,25 mg asam
folat)
Sirup Besi
(Sulfas ferosus 200 mg) setiap 5 ml
mengandung 30 mg besi elemental

Dosis
612 bulan 1 x tablet per hari
15 tahun 1 x tablet per hari

612 bulan 1 x 2,5 ml (


sendok teh) per hari
15 tahun 1 x 5 ml (1 sendok
teh) per hari

Tabel 2.5 Formula dan Dosis Tablet Besi

(sumber: Departemen Kesehatan 2011)


Suplemen multivitamin
Asam folat 1 mg/hari (berikan 5 mg pada hari pertama)
Zinc 2 mg/kg/hari
Copper 0.3 mg/kg/hari
Zat besi 3 mg/kg/hari (zat besi diberikan setelah memasuki fase rehabilitasi)
7. Memberikan makanan untuk stabilisasi dan transisi
Pada masa stabilisasi, terdapat beberapa poin penting, yaitu :
Makan dengan porsi sedikit, namun sering, rendah osmolar dan rendah laktosa
Makanan diberikan secara oral atau NGT
100 kkal/kg/hari
Protein 1-1.5 g/kg/hari
Cairan 130 ml/kg/hari (anak dengan edema berat berikan cairan 100
ml/kg/hari)

Pada hari pertama dan kedua (fase stabilisasi), frekuensi makan setiap 2 jam
sekali, sedangkan pada hari ketiga hingga kelima (fase transisi), frekuensi makan
dikurangi menjadi setiap 3 jam sekali, dan frekuensi terus dikurangi hingga pada
hari keenam dan ketujuh (fase transisi), frekuensi makan menjadi setiap 4 jam
sekali.
8. Memberikan makanan untuk tumbuh kejar
Pemberian makanan untuk tumbuh kejar dimulai pada fase rehabilitasi. Target fase
rehabilitasi adalah penambahan berat badan > 10 g/kg/hari
9. Memberikan stimulasi untuk tumbuh kembang
Pada anak dengan gizi buruk, akan terdapat keterlambatan perkembangan mental
dan perilaku, untuk stimulasi tumbuh dan kembang dibutuhkan:
Kasih sayang
Lingkungan yang ceria
Structured play therapy setiap hari selama 15 30 menit
Aktivitas fisik setelah keadaan anak cukup baik
Keterlibatan ibu / orang tua apabila memungkinkan (seperti comforting, bermain,
memberi makan)
10. Mempersiapkan untuk tindak lanjut di rumah
Saat anak memiliki WFL (weight for length) diatas 90% (sama dengan -1 SD),
dapat dikatakan telah sembuh dari gizi buruk. Orang tua harus diedukasi mengenai
pola makan yang baik dan stimulasi sensorik yang harus dilanjutkan di rumah.
Kemudian, anak harus dipantau secara berkala (follow up).

2.7.4

Kriteria Pemulangan Anak Gizi Buruk


Bila BB/TB atau BB/PB > -2 SD dan tidak ada gejala klinis dan memenuhi kriteria
pulang sebagai berikut8:

2.8

Edema sudah berkurang atau hilang, anak sadar dan aktif


BB/PB atau BB/TB > -3 SD
Komplikasi sudah teratasi
Ibu telah mendapat konseling gizi
Ada kenaikan BB sekitar 50 g/kgBB/minggu selama2 minggu berturut-turut
Selera makan sudah baik, makanan yang diberikan dapat dihabiskan.

Komplikasi Gizi Buruk

2.8.1 Gangguan perkembangan


Gangguan gizi dapat menimbulkan gangguan pada perkembangan anak.
Marshal dan Heywood dalam penelitiannya menunjukkan bahwa gangguan
pertumbuhan pada usia anak-anak awal dapat menimbulkan gangguan perkembangan
motorik.

Gambar 2. Usia Prediksi Perkembangan Motorik Menurut Milesstones


(sumber: WHO 2004)
2.8.2 Penyakit penyerta
Selain mempengaruhi status perkembangan, keadaan gizi buruk dapat
menyebabkan anak mendapatkan penyakit penyerta diantaranya adalah:
Gangguan pada mata akibat kekurangan vitamin A
Gangguan pada kulit (dermatosis)
Diare persisten
Anemia berat
Tuberkulosis
Malaria
Beberapa penelitian epidemiologi menunjukkan bahwa keadaan gizi buruk
dapat meningkatkan angka kematian pada beberapa penyakit infeksi.

Gambar Proporsi angka mortalitas pada anak balita (Sumber: WHO 2004)

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Gizi buruk merupakan salah satu masalah kesehatan yang banyak ditemukan pada
negara-negara berkembang seperti Indonesia. Prevalensi tertinggi adalah pada anak-anak di
bawah umur lima tahun (Balita) dan ibu yang sedang mengandung atau menyusui. Pada
kondisi ini ditemukan berbagai macam keadaan patologis yang disebabkan oleh kekurangan
energi dan protein dalam tingkat yang bermacam-macam. Akibat dari kondisi tersebut,
ditemukan malnutrisi dari derajat yang ringan hingga berat. Pada keadaan yang sangat ringan
tidak ditemukan kelainan dan hanya terdapat pertumbuhan yang kurang atau tidak sesuai
usia. Pada keadaan yang berat ditemukan gejala-gejala klinis. Dalam menentukan status gizi
tersebut dilakukan pengukuran antropometri terhadap BB dan TB atau PB. Berdasarkan
pengukuran tersebut makan derajat malnutrisi dapat dikalsifikasikan.
Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya gizi buruk pada anak-anak, terutama
adalah peranan diet sehari-hari yang tidak mencukupi kebutuhan gizi sseimbang anak pada
usia pertumbuhan, adanya penyakit penyerta yang memperburuk keadaan gizi serta peranan
sosial ekonomi terutama kemiskinan dapat mempengaruhi status gizi seseorang. Terdapat
empat fase dalam tatalaksana gizi buruk, yaitu fase stabilisasi (hari ke 1-2), fase transisi (hari
ke 3-7), fase rehabilitasi (minggu ke2-6) dan fase tindak lanjut (minggu ke 7-26). Banyak hal
yang perlu diperhatikan dalam penatalaksanaan anak dengan gizi buruk. Sepuluh langkah
penting dalam penatalaksanaan gizi buruk adalah: (1) mencegah dan mengatasi hipoglikemia;
(2) mencegah dan mengatasi hipotermia; (3) mencegah dan mengatasi dehidrasi; (4)
memperbaiki gangguan keseimbangan elektrolit; (5) mengobati infeksi; (6) memperbaiki
kekurangan zat gizi mikro; (7) memberikan makanan untuk stabilisasi dan transisi; (8)
memberikan makanan untuk tumbuh kejar; (9) memberikan stimulasi untuk tumbuh
kembang; (10) mempersiapkan untuk tindak lanjut di rumah. Kondisi gizi buruk dapat
menimbulkan komplikasi berupa gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak serta
munculnya penyakit penyerta yang tidak ringan dan dapat meningkatkan angka mortalitas
pada penyakit-penyakit tertentu.
3.2 Saran

Anak-anak dalam masa tumbuh kembang, terutama balita harus mendapatkan gizi
yang cukup dan seimbang untuk tumbuh kembangnya.

Petugas kesehatan bersama pemerintah harus berusaha meningkatkan pengetahuan


masyarakat mengenai gizi seimbang dan tumbung kembang, baik melalui promosi
kesehatan ataupun edukasi kepada orang tua.

Orang tua harus lebih memperhatikan asupan anak-anaknya apakah makanan yang
diberikan sudah mencukupi nutrisi yang dibutuhkan dalam masa tumbuh
kembangnya. Selain itu, orang tua sebaiknya memeriksakan anak-anaknya ke pusat
kesehatan terdekat seperti posyandu atau puskesmas secara rutin untuk memantau
tumbuh kembang anaknya.

DAFTAR PUSTAKA
1. Jonkers C, Kouwenoord K, et al. Guideline screening and treatment of malnutrition.
Dutch Malnutrition Steering Group: Amsterdam; 2011
2. UNICEF Indonesia. Laporan Tahunan 2012.
3. Badan Pusat Statistik (BPS). Balita (0-59) bulan menurut status gizi, tahun 19982005. available from www.bps.go.id [diunduh tanggal 26 Januari 2016]
4. Amelia, Karyadi L, Muljati S, dkk. Dampak kekurangan gizi terhadap kecerdasan
anak SD pasca pemulihan gizi buruk. The Journal of Nutririon and Food Research.
1995; 8:1-16
5. Siswanto, Hadi, et al. Berapa besar masalah gizi di Indonesia dan bagaimana
menanggulanginya?. Jurnal data dan informasi kesehatan: 2011; vol 1(1):9
6. Supriasa, I Dewa Nyoman, Bakri B, Fajar I. Penilaian Status Gizi. Jakarta; EGC:
2001.
7. Behrman RE, RM Kliegman, HB Jenson. Food Insecurity, Hunger, and
Undernutrition in Nelson Textbook of Pediatric. Ed ke-18:2004;225-232
8. Kemenkes RI. Bagan Tatalaksana Anak Gizi Buruk, Buku I. Depkes RI: Jakarta; 2011
9. Kemenkes RI. Petunjuk Teknis Tatalaksana Anak Gizi Buruk, Buku II. Depkes RI:
Jakarta; 2003
10. Guidelines for the inpatient treatment of severly malnourished children [intenet].
WHO.[cited

2016

Jan

22].

Available

http://www.who.int/nutrition/publications/guide_inpatient_text.pdf
11. Kemenkes RI. Pedoman Pelayanan Anak Gizi Buruk. Depkes RI: Jakarta; 2011

from: