Anda di halaman 1dari 18

Laboratorium / SMF Ilmu Kesehatan Anak

Program Pendidikan Dokter Universitas Mulawarman


RSUD A.W.Sjahranie Samarinda

ASFIKSIA

Disusun Oleh:
Nur Aprillia Ramadhani
1410029052
Pembimbing:
dr. Hendra, Sp. A

Dipresentasikan Dalam Rangka Tugas Kepaniteraan Klinik


Laboratorium/SMF Ilmu Kesehatan Anak
FK UNMUL
Samarinda
2015

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena hanya berkat limpahan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Tutorial Kasus dengan judul
Judul. Dalam kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan
yang sebesar-besarnya kepada berbagai pihak yang telah banyak membantu penulis dalam
pelaksanaan hingga terselesaikannya laporan kasus ini, diantaranya:
1. Prof. Dr. H. Masjaya, M.Si selaku Rektor Universitas Mulawarman
2. Bapak dr. H. Emil Bachtiar Moerad, Sp.P, selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas
Mulawarman.
3. dr. Sukartini, Sp. A selaku Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Dokter Fakultas
Kedokteran Universitas Mulawarman selaku Ketua Lab/SMF Ilmu Kesehatan Anak FK
Unmul serta.
4. dr. Hendra, Sp. A, selaku dosen Pembimbing Klinik yang memberi motivasi, saran dan solusi
yang sangat berharga dalam penyusunan tugas ini dan juga yang selalu bersedia meluangkan
waktu untuk memberikan bimbingan, saran, dan solusi selama penulis menjalani co.assisten
di lab/SMF Ilmu Kesehatan Anak.
6. Dosen-dosen klinik dan preklinik FK UNMUL khususnya staf pengajar Lab/SMF Ilmu
Kesehatan Anak, terima kasih atas ilmu yang telah diajarkan kepada kami.
8. Rekan-rekan dokter muda di Lab/SMF Ilmu Kesehatan Anak RSUD AWS/FK UNMUL dan
semua pihak yang telah membantu, baik secara langsung maupun tidak langsung yang tidak
dapat disebutkan satu persatu.
Akhir kata penulis menyadari bahwa penulisan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu
penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari para pembaca untuk
perbaikan kepenulisan di masa mendatang.
Samarinda, 15 juni 2015
Penulis
2

Kasus

ASFIKSIA

Sebagai salah satu syarat untuk mengikuti ujian stase Ilmu Kesehatan Anak
NUR APRILLIA RAMADHANI
1410029052

Menyetujui,

dr. Hendra, Sp. A

LABORATORIUM ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI DOKTER
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
JUNI 2015
3

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Asfiksia neonatorum adalah suatu keadaan bayi tidak dapat segera bernapas secara
spontan dan teratur segera setelah lahir, Asfiksia merupakan salah satu penyebab mortalitas dan
morbilitas bayi baru lahir dan akan membawa berbagai dampak pada periode neonatal. Menurut
National Center for Health Statistics (NCHS), pada tahun 2002, asfiksia neonatorum
mengakibatkan 14 kematian per 100.000 kelahiran hidup di Amerika Serikat. Di dunia, lebih dari
1 juta bayi mati karena komplikasi asfiksia neonatorum. Di RS Dr Kariadi Semarang selama
tahun 2007, angka kelahiran bayi hidup mencapai 1600 jiwa setahun dengan angka kejadian bayi
lahir dengan asfiksia berjumlah 187 kelahiran.
Asfiksia akan menyebabkan keadaan hipoksia dan iskemia pada bayi. Hal ini berakibat
kerusakan pada beberapa jaringan dan organ dalam tubuh. Dari beberapa penelitian yang
dilaporkan oleh Mohan (2000) bahwa kerusakan organ ini sebagian besar terjadi pada ginjal
(50%), sistem syaraf pusat (28%), sistem kardiovaskuler (25%) dan paru (23%).
Ginjal merupakan organ yang paling sensitif terhadap keadaan penurunan kadar oksigen.
Insufisiensi ginjal dapat terjadi pada 24 jam setelah keadaan hipoksia dan iskemia. Jika keadaan
hipoksia ini tidak diatasi maka akan menimbulkan nekrosis korteks ginjal yang bersifat
ireversibel.

Tujuan
Untuk mengetahui definisi , etiologi, patofisiologi, gejala klinis serta prognosa dari
asfiksia sehingga kita mengerti bagaimana menegakkan diagnosa serta mengetahui bagaimana
penatalaksanaan asfiksia

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Asfiksia adalah keadaan dimana bayi baru lahir tidak dapat bernapas secara spontan dan
teratur. Bayi dengan riwayat gawat janin sebelum lahir, umumnya akan mengalami asfiksia pada
saat dilahirkan. Masalah ini erat hubungannya dengan gangguan kesehatan ibu hamil, kelainan
tali pusat atau masalah yang mempengaruhi kesejahteraan bayi selama atau sesudah persalinan
(Asuhan Persalinan Normal, 2007).
Asfiksia neonatorum ialah keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas secara
spontan dan teratur setelah lahir. Hal ini disebabkan oleh hipoksia janin dalam uterus dan
hipoksia ini berhubungan dengan faktor-faktor yang timbul dalam kehamilan, persalinan, atau
segera setelah bayi lahir. Akibat-akibat asfiksia akan bertambah buruk apabila penanganan bayi
tidak dilakukan secara sempurna, tindakan yang akan dikerjakan pada bayi bertujuan
mempertahankan kelangsungan hidupnya dan membatasi gejala-gejala lanjut yang mungkin
timbul. (Wiknjosastro, 1999).
B. Etiologi / Penyebab Asfiksia
Beberapa kondisi tertentu pada ibu hamil dapat menyebabkan gangguan sirkulasi darah
uteroplasenter sehingga pasokan oksigen ke bayi menjadi berkurang. Hipoksia bayi di dalam
Rahim di tunjukan dengan gawat janin yang dapat berlanjut menjadi asfiksia bayi baru lahir,
beberapa faktor tertentu diketahui dapat menjadi penyebab terjadinya asfiskia pada bayi baru
lahir, diantaranya adalah faktor ibu, tali pusat dan faktor bayi berikut ini:
1. Faktor ibu
Preeklampsia dan eklampsia
Pendarahan abnormal (plasenta previa atau solusio plasenta)
Partus lama atau partus macet
Demam selama persalinan Infeksi berat (malaria, sifilis, TBC, HIV)
Kehamilan Lewat Waktu (sesudah 42 minggu kehamilan)
5

2. Faktor Tali Pusat


Lilitan tali pusat
Tali pusat pendek
Simpul tali pusat
Prolapsus tali pusat
3. Faktor Bayi
Bayi prematur (sebelum 37 minggu kehamilan)
Persalinan dengan tindakan ( sungsang, bayi kembar, distosia bahu, ekstraksi vakum, ekstrasi
forcep)
Kelainan bawaan (kongenital)
Air ketuban bercampur mekonium (warna kehijauan)

Penolong persalinan harus mengetahui faktor-faktor resiko yang berpotensi untuk


menimbulkanasfiksia. Apabila ditemukan adanya faktor risiko tersebut maka hal itu harus
dibicarakan denganibu dan keluarganya tentang kemungkinan perlunya tindakan resusitasi. Akan
tetapi, adakalanyafaktor risiko menjadi sulit dikenali atau (sepengetahuan penolong) tidak
dijumpai tetapi asfiksia tetap terjadi. Oleh karena itu, penolong harus selalu siap melakukan
resusitasi bayi pada setiap pertolongan persalinan.

C. Perubahan Patofiologis dan Gambaran Klinis


Pernafasan spontan BBL tergantung pada kondisi janin pada masa kehamilan dan
persalinan. Bila terdapat gangguan pertukaran gas atau pengangkut oksigen selama kehamilan
atau persalinan akan terjadi asfiksia yang lebih berat. Keadaan ini akan mempengaruhi fungsi
sel tubuh dan bila tidak teratasi akan menyebabkan kematian asfiksia yang terjadi dimuali suatu
peroide apnu disertai dengan penurunan frekuensi. Pada penderita asfiksia berat, usaha bernafas
tidak tampak dan bayi selanjutnya berada dalam periode apnue kedua. Pada tingkat ini
terjadi bradikardi dan penurunan TD.Pada asfiksia terjadi pula gangguan metabolisme dan
perubahan keseimbangan asam-basa pada tubuh bayi. Pada tingkat pertama hanya terjadi asidosis
respioratorik. Bila berlanjut dalam tubuh bayi akan terjadi proses metabolisme an aerobic yang
6

berupa glikolisis glikogen tubuh, sehingga glikogen tubuh terutama pada jantung dan hati akan
berkurang. Pada tingkat selanjutnya akan terjadi perubahan kardiovaskular yang disebabkan
oleh beberapa keadaan diantaranya :
1. Hilangnya sumber glikogen dalam jantung akan memepengaruhi fungsi jantung.
2. Terjadinya asidosis metabolic yang akan menimbulkan kelemahan otot jantung.
3 . Pengisian udara alveolus yang kurang adekuat akan mengakibatkan tetap tingginya resistensi
pembuluh darah paru sehingga sirkulasi darah ke paru dan ke system sirkulasi tubuh lain akan
menhalami gangguan.

Gejala dan Tanda-tanda Asfiksia


Tidak bernafas atau bernafas megap-megap
Warna kulit kebiruan
Kejang
Penurunan kesadaran
D. Diagnosis
Asfiksia yang terjadi pada bayi biasanya merupakan kelanjutan dari anoksia atau hipoksia
janin. Diagnosis anoksia atau hipoksia janin dapat dibuat dalam persalinan dengan ditemukannya
tanda tanda gawat janin. Tiga hal yang perlu mendapat perhatian yaitu :
1. Denyut jantung janin.
Peningkatan kecepatan denyut jantung umumnya tidak banyak artinya, akan tetapi
apabila frekuensi turun sampai ke bawah 100 kali per menit di luar his, dan lebih-lebih jika tidak
teratur, hal itu merupakan tanda bahaya.
2. Mekonium dalam air ketuban.
Mekonium pada presentasi sungsang tidak ada artinya, akan tetapi pada presentasi kepala
mungkin menunjukan gangguan oksigenasi dan harus di waspadai. Adanya meconium dalam air
ketuban pada presentasi kepala dapat merupakan indikasi untuk mengakhiri persalinan bila hal
itu dapat dilakukan dengan mudah.

3. Pemeriksaan PH darah janin


Dengan menggunakan amnioskop yang dimasukkan lewat serviks dibuat sayatan kecil pada kulit
kepala janin, dan di ambil contoh darah janin. Darah ini diperiksa pH nya adanya asidosis
menyebabkan turunnya pH. Apabila pH itu turun sampai dibawah 7,2 hal itu di anggap sebagai
tanda bahaya gawat janin mungkin disertai asfiksia.
E. Penilaian Asfiksia pada Bayi Baru Lahir
Aspek yang sangat penting dari resusitasi bayi baru lahir adalah menilai bayi,
menentukan tindakan yang akan dilakukan dan akhirnya melaksanakan tindakan resusitasi.
Upaya resusitasi yang efesien dan efektif berlangsung melalui rangkaian tindakan yaitu menilai
pengambilan keputusan dan tindakan lanjut, Penilaian untuk melakukan resusitasi semata-mata
ditentukan oleh tiga tanda penting, yaitu :

Pernafasan

Denyut jantung

Warna kulit

Nilai apgar tidak dipakai untuk menentukan kapan memulai resusitasi atau membuat
keputusan mengenai keputusan jalannya resusitasi. Apabila penilaian pernafasan menunjukan
bahwa bayi tidak bernafas atau pernafasan tidak kuat, harus segera ditentukan dasar pengambilan
kesimpulan untuk tindakan vertilasi dengan tekanan positif (VTP).
F. Persiapan Alat Resusitasi
Sebelum menolong persalinan, selain persalinan, siapkan juga alat-alat resusitasi dalam keadaan
siap pakai, yaitu :
1. Kain atau handuk.
2. Bahan ganjal bahu bayi, bahan ganjal dapat berupa kain, kaos, selendang, handuk kecil
lalu gulungkan setinggi 5 cm dan mudah disesuaikan untuk mengatur posisi kepala bayi.
3. Alat penghisap lendir
4 . Tabung dan sungkup atau balon dan sungkup neonatal pakai.
5 . Kotak alat resusitasi.
6 . Jam atau pencatat waktu. (Wiknjosastro, 2007).

Prinsip-prinsip resusitasi yang efektif :


1. Tenaga kesehatan yang slap pakai dan terlatih dalam resusitasi neonatal harus rnerupakan
timyang hadir pada setiap persalinan.
2. Tenaga kesehatan di kamar bersalin tidak hanya harus mengetahui apa yang harus
dilakukan,tetapi juga harus melakukannya dengan efektif dan efesien.
3. Tenaga kesehatan yang terlibat dalam resusitasi bayi harus bekerjasama sebagai suatu tim
yang terkoordinasi.
4. Prosedur resusitasi harus dilaksanakan dengan segera dan tiap tahapan berikutnya
ditentukankhusus atas dasar kebutuhan dan reaksi dari pasien.
5. Segera seorang bayi memerlukan alat-alat dan resusitasi harus tersedia clan siap pakai.
Resusitasi neonatus Secara garis besar pelaksanaan resusitasi mengikuti algoritma resusitasi
neonatal.
Langkah Awal Resusitasi ;
Pada pemeriksaan atau penilaian awal dilakukan dengan menjawab 4 pertanyaan:
apakah bayi cukup bulan?
apakah air ketuban jernih?
apakah bayi bernapas atau menangis?
apakah tonus otot bayi baik atau kuat?
Bila terdapat jawaban tidak dari salah satu pertanyaan di atas maka bayi memerlukan satu
atau beberapa tindakan resusitasi berikut ini secara berurutan (Nelson KB, 1991).
Persiapan resusitasi
Agar tindakan untuk resusitasi dapat dilaksanakan dengan cepat dan efektif, kedua faktor
utamayang perlu dilakukan adalah :
1. Mengantisipasi kebutuhan akan resusitasi lahirannya bayi dengan depresi dapat terjadi
tanpadiduga, tetapi tidak jarang kelahiran bayi dengan depresi atau asfiksia dapat diantisipasi
denganmeninjau riwayat antepartum dan intrapartum.
2. Mempersiapkan alat dan tenaga kesehatan yang siap dan terampil. Persiapan minumum
antara lain :
9

- Alat pemanas siap pakai


Oksigen
- Alat pengisap
- Alat sungkup dan balon resusitasi
- Alat intubasi
- Obat-obatan
G. Penanganan Asfiksia pada Bayi Baru Lahir
Tindakan resusitasi bayi baru lahir mengikuti tahapan tahapan yang dikenal sebagai ABC
resusitasi, yaitu :
1. Memastikan saluran terbuka

Meletakkan bayi dalam posisi kepala defleksi bahu diganjal 2-3 cm.

Menghisap mulut, hidung dan kadang trachea.

Bila perlu masukkan pipa endo trachel (pipa ET) untuk memastikan saluran pernafasan
terbuka.

2. Memulai pernafasan

Memakai rangsangan taksil untuk memulai pernafasan- Memakai VTP bila perlu seperti :
sungkup dan balon pipa ETdan balon atau mulut ke mulut (hindari paparan infeksi).

3. Mempertahankan sirkulasi

Rangsangan dan pertahankan sirkulasi darah dengan cara

Kompresi dada.

Pengobatan

Detail cara resusitasi


Langkah-Langkah Resusitasi
1. Letakkan bayi dilingkungan yang hangat kemudian keringkan tubuh bayi dan selimuti
tubuh bayi untuk mengurangi evaporasi.
2. Sisihkan kain yang basah kemudian tidurkan bayi terlentang pada alas yang datar.
3. Ganjal bahu dengan kain setinggi 1 cm ( sniffing positor)
4. Hisap lendir dengan penghisap lendir dari mulut, apabila mulut sudah bersih stop
10

5. Bila perlu masukkan pipa endo trachel (pipa ET) untuk memastikan saluran pernafasan
terbuka.
6. Memulai pernafasan

Memakai rangsangan taksil untuk memulai pernafasan

Memakai VTP bila perlu seperti : sungkup dan balon pipa ETdan balon atau mulut ke
mulut (hindari paparan infeksi).

7. Mempertahankan sirkulasi

Rangsangan dan pertahankan sirkulasi darah dengan cara kompresi dada.


Perbandingan kompresi jantung dengan ventilasi adalah 3 : 1, ada 2 cara kompresi
jantung :

Kedua ibu jari menekan stemun sedalam 1 cm dan tangan lain mengelilingi tubuh bayi.

Jari tengah dan telunjuk menekan sternum dan tangan lain menahan belakang tubuh bayi.
Lakukan penilaian denyut jantung setiap 30 detik setelah kompresi dada.

Denyut jantung 80x./menit kompresi jantung dihentikan, lakukan PPV sampai denyut
jantung> 100 x / menit dan bayi dapat nafas spontan.

Jika denyut jantung 0 atau < 10 x / menit, lakukan pemberian obat epineprin 1 : 10.000
dosis0,2 0,3 mL / kg BB secara IV.
1. Lakukan penilaian denyut jantung janin, jika > 100 x / menit hentikan obat.
2. Jika denyut jantung < 80 x / menit ulangi pemberian epineprin sesuai dosis diatas
tiap 3- 5menit.
3. Lakukan penilaian denyut jantung, jika denyut jantung tetap / tidak rewspon
terhadap di atasdan tanpa ada hiporolemi beri bikarbonat dengan dosis 2 MEQ/kg
BB secara IV selama 2 menit. (Wiknjosastro, 2007).

(1) langkah awal dalam stabilisasi


(a) Memberikan kehangatan

11

Bayi diletakkan dibawah alat pemancar panas (radiant warmer) dalam keadaan telanjang
agar panas dapat mencapai tubuh bayi dan memudahkan eksplorasi seluruh tubuh (Goodwin TM,
1992).
(b) Memposisikan bayi dengan sedikit menengadahkan kepalanya
Bayi diletakkan telentang dengan leher sedikit tengadah dalam posisi menghidu agar
posisi farings, larings dan trakea dalam satu garis lurus yang akan mempermudah masuknya
udara. Posisi ini adalah posisi terbaik untuk melakukan ventilasi dengan balon dan sungkup dan
atau untuk pemasangan pipa endotrakeal (Martin-Ancel A, 1995).
(c) Membersihkan jalan napas sesuai keperluan
Aspirasi mekonium saat proses persalinan dapat menyebabkan pneumonia aspirasi. Salah
satu pendekatan obstetrik yang digunakan untuk mencegah aspirasi adalah dengan melakukan
penghisapan mekonium sebelum lahirnya bahu (intrapartum suctioning) (Wiswell TE, 2000).
Bila terdapat mekonium dalam cairan amnion dan bayi tidak bugar (bayi mengalami
depresi pernapasan, tonus otot kurang dan frekuensi jantung kurang dari 100x/menit) segera
dilakukan penghisapan trakea sebelum timbul pernapasan untuk mencegah sindrom aspirasi
mekonium. Penghisapan trakea meliputi langkah-langkah pemasangan laringoskop dan selang
endotrakeal ke dalam trakea, kemudian dengan kateter penghisap dilakukan pembersihan daerah
mulut, faring dan trakea sampai glottis.
Bila terdapat mekonium dalam cairan amnion namun bayi tampak bugar, pembersihan
sekret dari jalan napas dilakukan seperti pada bayi tanpa mekonium(Perinasia, 2006).
(d) Mengeringkan bayi, merangsang pernapasan dan meletakkan pada posisi yang benar.
Bila setelah posisi yang benar, penghisapan sekret dan pengeringan, bayi belum bernapas
adekuat, maka perangsangan taktil dapat dilakukan dengan menepuk atau menyentil telapak
kaki, atau dengan menggosok punggung, tubuh atau ekstremitas bayi (Perinasia, 2006).
(1) ventilasi tekanan positif
(2) kompresi dada
(3) pemberian epinefrin dan atau pengembang volume (volume expander)
Keputusan untuk melanjutkan dari satu kategori ke kategori berikutnya ditentukan
dengan penilaian 3 tanda vital secara simultan (pernapasan, frekuensi jantung dan warna kulit).
12

Waktu untuk setiap langkah adalah sekitar 30 detik, lalu nilai kembali, dan putuskan untuk
melanjutkan ke langkah berikutnya (Perinasia, 2006).
Penilaian
Penilaian dilakukan setelah 30 detik untuk menentukan perlu tidaknya resusitasi lanjutan.
Tanda vital yang perlu dinilai adalah sebagai berikut:
(1) Pernapasan
Resusitasi berhasil bila terlihat gerakan dada yang adekuat, frekuensi dan dalamnya
pernapasan bertambah setelah rangsang taktil. Pernapasan yang megap-megap adalah pernapasan
yang tidak efektif dan memerlukan intervensi lanjutan (Perinasia, 2006).
(2). Frekuensi jantung
Frekuensi jantung harus diatas 100x/menit. Penghitungan bunyi jantung dilakukan
dengan stetoskop selama 6 detik kemudian dikalikan 10 sehingga akan dapat diketahui frekuensi
jantung permenit (Perinasia, 2006).
(3). Warna kulit
Bayi seharusnya tampak kemerahan pada bibir dan seluruh tubuh. Setelah frekuensi
jantung normal dan ventilasi baik, tidak boleh ada sianosis sentral yang menandakan hipoksemia.
Warna kulit bayi yang berubah dari biru menjadi kemerahan adalah petanda yang paling cepat
akan adanya pernapasan dan sirkulasi yang adekuat. Sianosis akral tanpa sianosis sentral belum
tentu menandakan kadar oksigen rendah sehingga tidak perlu diberikan terapi oksigen. Hanya
sianosis sentral yang memerlukan intervensi (Perinasia, 2006).
sianosis sentral belum tentu menandakan kadar oksigen rendah sehingga tidak perlu
diberikan terapi oksigen. Hanya sianosis sentral yang memerlukan intervensi (Perinasia, 2006).

Penghentian resusitasi
Bila tidak ada upaya bernapas dan denyut jantung setelah 10 menit, setelah usaha
resusitasi yang menyeluruh dan adekuat dan penyebab lain telah disingkirkan, maka resusitasi
dapat dihentikan. Data mutakhir menunjukkan bahwa setelah henti jantung selama 10 menit,

13

sangat tipis kemungkinan selamat, dan yang selamat biasanya menderita cacat berat (Vain NE,
2004).

14

15

Pencegahan
Pemeriksaan antenatal yang teratur dan bermutu serta teliti, mengenali tanda-tanda sedini
mungkin, lalu diberikan pengobatan yang cukup supaya penyakit tidak menjadi Lebih berat.
Harus selalu waspada terhadap kemungkinan terjadinya preeklampsi kalau ada factor faktor
predesposisi. Penerangan tentang manfaat istirahat dan diet berguna dalam pencegahan. Diet
tinggi protein, dan rendah lemak, karbohidrat, garam dan penambahan berat badan yang tidak
berlebihan perlu dianjurkan. Mencari pada tiap pemeriksaan tanda-tanda preeklampsi dan
mengobatinya segera apabila ditemukan. Mengakhiri kehamilan sedapat dapatnya pada
kehamilan 37 minggu ke atas apabila setelah dirawat tanda tanda preeklampsi tidak juga dapat di
hilangkan (Wiknjosastro, 2007).

16

BAB 3
PENUTUP
A.

Kesimpulan
Asfiksia adalah keadaan dimana bayi baru lahir tidak dapat bernapas secara spontan dan

teratur. Bayi dengan riwayat gawat janin sebelum lahir, umumnya akan mengalami asfiksia pada
saat dilahirkan. Masalah ini erat hubungannya dengan gangguan kesehatan ibu hamil, kelainan
tali pusat, atau masalah yang mempengaruhi kesejahteraan bayi selama atau sesudah persalinan.
B. Saran
Semoga Makalah ini dapat berguna bagi penulis dan pembaca. Kritik dan saran sangat
diharapkan untuk pengerjaan berikutnya yang lebih baik, namun sebelum memberi kritik dan
saran sebaiknya pembaca telah memiliki atau mencari buku panduan hal ini semata-mata demi
kemajuan ilmu pengetahuan.

17

DAFTAR PUSTAKA
1. Manuaba, IBG , Pengantar Kuliah neonatal. Jakarta: Buku Kedokteran EGC , 2007.
2. Depkes RI Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta: Depkes RI, 2009
3. Buku Kapita Selekta Kedokteran. Edisi Ketiga. Jilid II. Jakarta : Media Aesculapius.
2000.
4. Saifudin. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan neonatal. Jakarta : Yayasan Bina
Pustaka. 2001.
5. Nelson KB, Ellenberg JH. Apgar score as predictors of chronic Neurologi Disability.
Pediatrik. 1990
6. DharmaSetiawani. N. Buku Ajar Neonatalogi. Jakarta : Badan Penerbit IDAI. 2008
7. Erwin Sarwono, et el. Asfiksia Neonatorum, Pedoman Diagnosis dan Terapi Lab/UPF
Ilmu Kesehatan Anak RSUD dr. Sutomo. Surabaya. 1994
8. Fatimah Indarso. Resusitasi pada kegawatdaruratan nafas bayi baru lahir RSUD. Dr.
Sutomo. 1991
9. BKKBN. Deteksi Dini Komplikasi Persalinan Jakarta. BKKBN 2006
10. Oxorn, Harry. L990. Ilmu kebidanan. Fisiologi Patologi persalinan. Yayasan
EssentiaMedica. Jakarta. 2003

18