Anda di halaman 1dari 29

NASKAH UJIAN PSIKIATRI

Disusun Oleh :
Felix Hartanto
030.10.104

Penguji :
dr. Siti Khalimah, Sp. KJ

Pembimbing :
dr. Yuniar Pukuk Kesuma, Sp. KJ

KEPANITERAAN KLINIK PSIKIATRI RS. Dr. H. MARZOEKI MAHDI


PERIODE 26 OKTOBER 21 NOVEMBER 2015
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
2015

STATUS PSIKIATRI

I. IDENTITAS PASIEN
Nama

: Tn. D

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Umur

: 21 tahun

Tanggal Lahir

: 7 September 1994

Agama

: Kristen Protestan

Suku bangsa / Negara

: Batak / Indonesia

Status Pernikahan

: Belum Menikah

Pendidikan Terakhir

: SMA

Pekerjaan

: Kuli Pasar

Alamat

: Jl. Kp Kramat Cikaret, Kab. Bogor

Tanggal Masuk UGD

: 17 Oktober 2015

II.RIWAYAT PSIKIATRI
Anamnesis diperoleh dari:

Autoanamnesis pada Tanggal 12, 13, 14, dan 16 November 2015 di Bangsal Gatot
Kaca.

Alloanamnesis diperoleh dari Ibu Lambok ( Ibu Pasien ) pada tanggal 14 November
2015 saat kunjungan ke rumah pasien.

A. Keluhan Utama

Berdasarkan autoanamnesis dan alloanamnesis, pasien dibawa ke UGD RSMM


karena pasien marah-marah, mengamuk, dan menampar adiknya secara tiba-tiba di rumah
sejak 1 hari SMRS.

B. Riwayat Gangguan Sekarang


Beberapa bulan SMRS (usia 21 tahun), menurut ibu pasien kakak pasien
mengalami keributan di keluarganya yang menyebabkan kakaknya harus tinggal terpisah
dengan suaminya. Suami kakaknya tersebut membawa serta anak pertamanya pergi
sedangkan anak keduanya ditinggal ikut dengan kakak pasien. Menurut ibu pasien,
semenjak kejadian tersebut pasien agak terpukul karena pasien sangat dekat dengan
keponakan pertamanya tersebut. Tetapi menurut ibu pasien, pasien tidak menunjukkan
gejala apapun seperti murung, menarik diri, tidak berniat beraktifitas, ataupun sampai
mencoba untuk bunuh diri. Pasien masih beraktifitas seperti biasa.
1 minggu SMRS (8 Oktober 2015, usia 21 tahun), pasien mengatakan ia
mengunjungi makam ayahnya. Di sana ia mencabuti rumput liar yang tumbuh di atas
makam ayahnya namun tidak seluruhnya sampai bersih. Kemudian ia juga merokok di
makam ayahnya tetapi ia tidak menawari ayahnya, yang menurutnya adalah sebuh
kesalahan.
1 hari SMRS (16 Oktober 2015, usia 21 tahun), pasien mengatakan ia merasa
kesal terhadap bos di tempat kerjanya. Ia mengatakan bahwa bos nya tersebut selalu
menaruh curiga pada dirinya akibat kesalahan yang pernah dilakukannya dahulu. Pasien
mengatakan bahwa dulu ia memang pernah mencuri uang Rp. 40.000,- dari toko tempatnya
bekerja dan menurutnya sang pemilik toko menyadari hal tersebut. Setelahnya pasien
menyesal dan tidak pernah mengulangi perbuatannya lagi. Tetapi menurut pasien, bos-nya
masih tetap curiga kepadanya dengan selalu menyindirnya dan menyuruh teman kerjanya
untuk mengawasinya bekerja. Hal tersebut membuat pasien tidak nyaman dan merasa kesal.
Ibu pasien mengatakan tidak mengetahui tentang hal tersebut karena pasien tidak pernah
bercerita jika ada masalah kepada ibunya.

Menurut penuturan ibunya, 1 hari SMRS (tanggal 16 Oktober 2015, usia 21


tahun) pasien pulang ke rumah dari pasar tempatnya bekerja jam 10.00 dan bengong saja di
depan pintu rumah. Ibu pasien menanyakan ada masalah apa yang dipikirkan pasien tetapi
pasien mengatakan tidak ada apa-apa. Kemudian pasien meminta izin untuk pergi
memotong rambut, tetapi ketika pulang kembali ke rumah rambutnya masih panjang belum
terpotong. Menurut ibunya, pada malam hari sekitar pukul 20.00 pasien mengoceh dan
berteriak-teriak sendiri di dalam kamar. Salah satu kalimat yang diingat ibunya adalah
Bapak.. Bapak.. Kenapa bapak pergi ninggalin kita??. Selebihnya kalimat yang diucapkan
pasien terdengar kacau menurut ibunya. Melihat anaknya seperti itu, pada malam itu juga
ibu pasien dibantu oleh keluarga membawa pasien ke orang pintar dan dikatakan oleh orang
pintar tidak ada yang merasuki tubuh pasien sehingga pasien diarankan untuk pulang
kembali ke rumah. Setelah kembali dari orang pintar pasien masih terus berbicara dan
mengoceh tidak jelas sampai pagi hari.
Keesokan harinya, tanggal 17 Oktober 2015 (usia 21 tahun), pasien mencoba
untuk kabur dari rumah menggunakan motor miliknya yang terparkir di depan rumah.
Menurut pasien saat itu ia ingin pergi menggunakan motor tersebut tetapi karena bensin
motor habis ia kesal dan menendang motor tersebut. Menurut ibu pasien, saat itu pasien
mengatakan ingin pergi ke rumah pacarnya. Ibu pasien dan seluruh anggota keluarga di
rumah tidak mengizinkan pasien untuk pergi karena khawatir terjadi hal-hal yang tidak
diinginkan melihat kondisi pasien yang masih tidak stabil. Karena kesal dan tidak senang
dilarang pergi, pasien mulai mengamuk di dalam rumah. Pasien membanting handphone,
remote TV, radio, loud speaker, serta menampar adik dan keponakan pasien yang saat itu
juga berada di rumah. Menurut pasien, saat itu ia dirasuki oleh arwah ayahnya yang sudah
meninggal. Pasien bercerita bahwa ia sadar apa yang dilakukannya tetapi tidak dapat
mengontrol dirinya karena dirinya yakin dikendalikan oleh kekuatan yang tidak dapat
dilawan olehnya. Pasien mengatakan saat itu tidak mendengar bisikan-bisikan suara apapun,
termasuk suara almarhum ayahnya. Setelah mengamuk di dalam rumah, pasien melihat
cahaya putih di pojok atas ruangan yang ia yakini adalah seorang malaikat. Pasien
mengatakan kalau ia tidak mendengar suara apapun dari cahaya tersebut ataupun berbicara
dengan cahaya tersebut, tetapi pasien mengatakan mendapat keyakinan di dalam hatinya
kalau keserakahan akan membawa manusia menuju kiamat, salah satu contohnya kejadian

kabut asap di Sumatera adalah akibat keserakahan manusia. Menurut ibu pasien, ia tidak
melihat ada cahaya putih ataupun sinar putih pada saat pasien mengamuk tersebut. Ibu
pasien juga mengatakan tidak melihat pasien berbicara ke arah pojok ruangan tempat adanya
cahaya putih yang diyakini pasien. Setelah mengamuk di dalam rumah, pasien kemudian
berjalan ke depan rumah dan hendak kabur menggunakan motor tukang ojek yang terparkir
tidak jauh di depan rumah. Melihat hal tersebut tukang ojek pemilik motor kemudian
langsung memukul pasien sampai mukanya berdarah, sebelum akhirnya ditahan oleh paman
dan tetangga-tetangganya yang lain diseret kembali ke dalam rumah. Kemudian menurut
ibunya pasien diberikan obat CTM supaya tenang dan tidur. Pada sore hari di hari yang
sama, menurut penuturan ibu pasien, paman pasien yang bekerja di RS UKI datang
membawa obat penenang dosis paling rendah (ibu pasien tidak tahu nama obat dan lupa
warnanya) dan memberikannya kepada pasien. Setelah itu pasien mulai tertidur dan saat ia
tidur itulah segera dibawa ke UGD RSMM.
Pada tanggal 17 Oktober 2015 malam hari, pasien dibawa ke UGD RSMM oleh
ibu dan keluarga pasien. Pasien kemudian ditenangkan dan diobservasi di UGD sebelum
kemudian dipindahkan ke ruang Kresna. Pada saat menjenguk di ruang Kresna, ibu pasien
mengatakan pasien sempat bercerita kepada dirinya kalau ia mendengar suara almarhum
ayahnya yang berbisik-bisik mengajaknya berbicara. Setelah mendapatkan perawatan
selama 5 hari di ruang Kresna, pasien dalam keadaan yang lebih tenang dan dapat
mengendalikan emosinya, sehingga pada tanggal 22 Oktober 2015 pasien pun dipindahkan
ke ruangan Gatot Kaca. Dari ruangan Gatot Kaca, kondisi pasien semakin menunjukkan
perbaikan dan tidak pernah menunjukkan emosi atau mengamuk di dalam bangsal, sehingga
pada tanggal 28 Oktober 2015 pasien dipindahkan ke ruang perawatan Bratasena.
Pada saat dirawat di ruang Bratasena, ibu pasien menjenguk pasien setiap hari.
Sampai pada kunjungan ibu pasien tanggal 10 November 2015, pasien menangis dan
memegangi tangan dan kaki ibunya saat ibu pasien hendak pulang. Pasien meminta untuk
ikut pulang bersama ibunya. Pasien meminta ibunya untuk membawanya pulang saat itu
juga. Setelah akhirnya pasien bisa dipisahkan oleh perawat dari ibunya dan ibunya pulang,
pasien masih mencoba untuk kabur keluar dari ruang Bratasena. Oleh karena kejadian
tersebut, keesokan harinya pada tanggal 11 November 2015 pasien kembali dipindahkan ke
ruangan Gatot Kaca.

Setelah kembali ke ruangan Gatot Kaca dan mendapat perawatan di situ, pasien
mengatakan sudah dapat mengendalikan emosinya dan ingin segera untuk pulang ke rumah.
Pasien mengatakan tidak pernah marah-marah dan mengamuk lagi, tetapi ia merasa tidak
mendapat ketenangan di ruangan Gatot Kaca tersebut. Pasien mengatakan sudah tidak
pernah melihat cahaya putih yang pernah ia lihat dahulu dan tidak pernah merasakan ada
yang mengendalikan tubuhnya lagi. Pasien mengatakan tidak pernah mendengar suara
almarhum ayahnya lagi yang berbicara kepadanya. Pasien mengatakan tidurnya nyenyak
setiap malam. Pasien mengatakan kalau ia adalah tulang punggung keluarga dan ia ingin
segera pulang supaya ibu dan keluarganya mendapat pemasukan kembali. Pada tanggal 16
November 2015, pasien kembali dipindahkan ke ruang Bratasena.

C. Riwayat Gangguan Dahulu


1. Riwayat Psikiatri
Pasien mengatakan ia tidak pernah mengamuk seperti kejadian ini sebelumnya. Pasien
mengatakan ia tidak pernah mengalami saat depresi, menyendiri, menarik diri, sampai
perasaan ingin bunuh diri pada saat dahulu. Pasien juga mengatakan tidak pernah
mendengar suara apapun, termasuk suara almarhum ayahnya, pada saat dahulu. Pasien juga
tidak pernah melihat cahaya putih sebelumnya.
Ibu pasien mengatakan kejadian ini merupakan yang pertama kali seumur hidup pasien.
Ibu pasien mengatakan pasien tidak pernah menunjukkan gejala menyendiri, murung,
menarik diri, ataupun gejala berbicara sendiri, tertawa sendiri, sampai mengamuk dan
memukuli orang lain.
2. Riwayat Kondisi Medis
Baik pasien maupun keluarga pasien mengatakan bahwa pasien tidak pernah mengalami
cedera kepala, kejang kejang, ataupun penyakit yang membutuhkan perawatan intensif di
rumah sakit.

3. Riwayat Penggunaan Zat Psikoaktif dan Alkohol


Menurut pasien dan ibunya, pasien merupakan perokok berat setiap hari. Pasien biasa
menghabiskan setengah bungkus rokok setiap hari, kadang lebih. Pasien mengatakan ia
jarang meminum alkohol, terakhir kali pasien minum tuak (alkohol) adalah sekitar 2 bulan
yang lalu. Pasien mengatakan ia pernah mengkonsumsi ganja saat kelas 1 SMA (tahun 2008,
usia 14 tahun) di Medan akibat pengaruh pergaulan bebas. Saat itu ia mengatakan
mengkonsumsi ganja setiap malam selama kurang lebih 1 tahun lamanya, sebelum ia sadar
dan pulang kembali ke Bogor. Setelah kepulangan kembali ke Bogor pada tahun 2009
pasien mengatakan tidak pernah lagi mengkonsumsi ganja maupun zat psikoaktif lainnya
sampai sekarang.

Grafik Perjalanan Penyakit

Keterangan:
-

Sebelum 16 Oktober 2015 : pasien tidak pernah menunjukkan gejala apapun

16 Oktober 2015 : pasien menunjukkan gejala pertamanya awalnya diam dan


melamun mulai berbicara sendiri bicara kacau dan teriak-teriak tidak tidur
semalaman

17 Oktober 2015 : pasien mengamuk, merusak barang, menampar adik & keponakannya
diberikan obat CTM dan obat penenang (keluarga lupa nama dan warna obatnya)
pasien dibawa ke UGD RSMM

17 Oktober 9 November 2015 : pasien tenang, perlahan tidak lagi mendengar suara
halusinasi ayahnya, dapat mengendalikan emosi, sudah dipindah ke ruangan Bratasena

10 November 2015 : pasien menangis dan tidak mau berpisah dari ibunya setelah ibunya
menjenguk ke ruangan Bratasena pasien mencoba kabur dari Bratasena pasien
dipindah kembali ke ruangan Gatot Kaca

10 November 2015 sekarang : pasien tenang, tidak mendengar suara bisikan ayahnya
(halusinasi auditorik) dan tidak melihat cahaya putih lagi (halusinasi visual), ketika
dikunjungi ibunya pasien tidak lagi menangis dan mengamuk, pasien merasa sudah sehat
dan ingin segera pulang

D. Riwayat Kehidupan Pribadi


1. Riwayat Prenatal dan Perinatal
Menurut ibu pasien, pada saat hamil ibu pasien tidak mengkonsumsi alkohol ataupun
obat-obatan narkotika. Pasien lahir cukup bulan dengan berat 4,3 kg, lahir spontan di rumah.
Tidak terdapat trauma pada saat proses kelahiran tersebut. Pasien merupakan anak yang
diharapkan dan direncanakan dalam keluarga. Keadaan emosional ibu pada saat pasien lahir
baik.

2. Masa Kanak Awal (0-3 tahun)

Pasien diasuh oleh kedua orang tuanya, serumah dengan ketiga kakaknya. Pasien
mendapatkan ASI sampai usia 6 bulan dan mulai diberikan makanan selain ASI setelah usia
6 bulan. Menurut ibu pasien, tumbuh kembang pasien (berbicara, tumbuh gigi,
perkembangan bahasa, perkembangan motorik) normal seperti anak sebayanya. Ibu pasien
mengatakan mengajarkan latihan buang air (toilet training) kepada pasien, tetapi tidak ingat
pada umur berapa dimulainya latihan tersebut. Ibu pasien juga mengatakan pasien tidak
mempunyai kebiasaan menghisap ibu jari, menggigit kuku, ataupun mengompol / buang air
besar saat tidur seiring bertambahnya usia. Ibu pasien tidak ingat umur berapa terakhir kali
pasien mengompol. Menurut ibu pasien, kepribadian pasien di waktu kecil cukup aktif dan
senang bermain. Terkadang pasien takut apabila bertemu dengan orang yang belum
dikenalnya.

3. Masa Kanak Pertengahan (3-11 tahun)


Pasien mulai masuk sekolah dasar pada umur 7 tahun. Pasien mengatakan tidak ingat
tentang pengalaman awal masuk sekolah, termasuk bagaimana sikap pasien terhadap
perpisahan dengan orang tua di sekolah. Tetapi ibu pasien mengatakan pasien tidak
mengalami masalah pada saat awal masuk sekolah dasar. Pasien juga tidak menolak
perpisahan dengan ibunya saat masuk sekolah dasar. Pasien dan ibu pasien mengatakan
pasien adalah orang yang mudah bergaul dan memiliki cukup banyak teman saat sekolah
dasar. Hubungan pasien dengan guru dan teman-teman juga baik menurut ibu pasien, pasien
sering terlihat bermain bersama teman-teman sekolahnya dulu. Menurut ibu pasien, pasien
tergolong anak yang biasa-biasa saja di sekolah. Pasien tidak pernah mendapat juara kelas
tetapi selalu naik kelas saat sekolah dasar. Ibu pasien mengatakan kadang pasien juga
terlihat malas belajar dan mengerjakan tugas saat sekolah dasar.

4. Masa Kanak Akhir (Pubertas hingga Remaja)


-

Hubungan Sosial

Menurut pasien dan ibu pasien, pasien mempunyai banyak teman di lingkungan
pergaulannya. Pasien juga tidak pernah mempunyai masalah dengan teman-teman
maupun orang sekitarnya. Menurut pasien, ia adalah orang yang biasa saja dalam
pergaulan dan bukan merupakan pemimpin dalam kelompoknya. Menginjak usia 14
tahun, pasien mengatakan mulai mengkonsumsi ganja akibat pegaruh dari temanteman pergaulannya. Saat itu pasien tidak dapat menolak ajakan temannya sampai
kurang lebih satu tahun ia mengkonsumsi ganja, sebelum akhirnya ia sadar
perbuatannya hanya merusak tubuhnya dan menghabiskan uang. Pasien mengatakan
idolanya saat itu adalah Kurt Cobain dan pemain bola A.C Milan Ronaldinho

Riwayat Pendidikan
Pada saat kelas 1 SMP (tahun 2005, usia pasien 11 tahun) pasien dipindahkan ke
Medan untuk tinggal bersama paman dan melanjutkan pendidikan di sana, setelah
kepergian ayah pasien. Sampai pada kelas 3 SMP pasien mengatakan dapat
menjalani sekolah dengan baik sampai dapat lulus dari SMP. Menginjak SMA,
pasien mengatakan niat untuk belajar semakin menurun akibat pergaulan bebas
(pasien mulai kenal dengan alkohol dan ganja) dan merasa tekanan batin di rumah
pamannya. Menurut pasien keluarga pamannya di Medan memperlakukannya
dengan semena-mena setelah sekian lama ia menumpang tinggal di situ. Oleh karena
itu di kelas 1 SMA (tahun 2008, usia 14 tahun) akhirnya pasien memutuskan untuk
tidak melanjutkan pendidikannya. Pasien lebih memilih bekerja di Medan, saat itu
sebagai buruh penjemur kopi, daripada melanjutkan SMA.

Perkembangan Kognitif dan Motorik


Pasien dapat membaca dan menulis dengan baik dan tidak terdapat gangguan
perkembangan yang spesifik. Pasien mengatakan terdapat gangguan memusatkan
konsentrasi saat belajar.

Masalah Emosional dan Fisik


Pasien mengatakan mulai kebiasaan merokok sejak umur 15 tahun dan kadang
meminum alkohol karena ikut temannya. Pasien mengatakan tidak pernah
mengalami perasaan depresi atau timbul ide untuk bunuh diri.

5. Masa Dewasa
-

Riwayat Pekerjaan
Semasa masih menjalani sekolah di Medan, pasien mengatakan sudah mulai
bekerja sebagai buruh penjemur kopi. Kemudian setelah tidak melanjutkan
pendidikannya di SMA (tahun 2008), pasien memilih untuk fokus bekerja saja di
tempat kerjanya tersebut. Pada tahun 2009 pasien kembali ke Bogor dan
mendapatkan pekerjaan sebagai kuli pasar di toko sayur milik pamannya di Pasar
Cibinong. Pasien setiap hari berangkat ke pasar pukul 01.00 dan baru pulang ke
rumah pukul 10.00. Selama bekerja untuk pamannya di Pasar Cibinong, ibu pasien
mengatakan pamannya selalu menceritakan pasien adalah karyawan yang baik dan
selalu penurut. Pasien selalu mengerjakan semua pekerjaan dan perintah dari
pamannya dengan baik. Tetapi menurut pasien, ia sering merasa tidak nyaman
karena pamannya sering menyindirnya dengan mengatakan dalam bekerja seseorang
harus selalu bersikap jujur (pasien mengatakan ia pernah mencuri uang Rp. 40.000,dan menurutnya pamannya sepertinya mengetahui hal itu). Selain daripada hal
tersebut, menurut pasien tidak ada permasalahan lain dalam pekerjaannya seharihari.

Riwayat Pernikahan dan Hubungan


Pasien dan ibu pasien mengatakan pasien belum pernah menikah. Saat ini pasien
sedang menjalin hubungan dengan seorang perempuan yang dikenalkan oleh saudara

pasien kepada pasien. Menurut pasien hubungan tersebut sudah berlangsung kurang
lebih selama 3 bulan. Pasien mengatakan pacarnya jarang memperhatikan dirinya,
tetapi selalu meminta diperhatikan oleh pasien. Pasien mengatakan kalau ini adalah
pacar ketiga yang pernah dimilikinya. Pacar pertama pasien dimilikinya saat kelas 6
SD, sedangkan pacar kedua pasien setelah ia kembali dari Medan pada tahun 2009.
Hubungan terlama yang dimiliki pasien adalah kurang lebih selama 1 tahun, yaitu
hubungan dengan pacar keduanya.

Riwayat Tindakan Kriminal


Pasien dan ibu pasien mengatakan pasien tidak mempunyai riwayat tindak
kriminal selama hidupnya.

Agama
Pasien beragama Kristen Protestan, sama dengan kedua orang tua dan kakak
adiknya. Sikap keluarga terhadap agama pasien cenderung permisif. Kedua orang tua
pasien tidak memaksakan ajaran agama yang ketat dan memaksa kepada pasien.
Pandangan agama pasien (Kristen Protestan) terhadap penyakit psikiatri adalah
mendukung pengobatan, disertai dengan bantuan doa dari jemaat dan keluarga
sekitar.

Aktifitas Sosial
Menurut pasien, saat ini pasien mengatakan memiliki beberapa teman dekat yang
sering berkumpul dengannya yang sama-sama bekerja di pasar dengan pasien.
Menurut ibu pasien, pasien karang berinteraksi dengan tetangga-tetangga sekitar.

Setiap hari pasien pergi dan pulang dari pasar kemudian beraktifitas di dalam rumah,
tanpa pernah mengikuti kegiatan di lingkungan.

Riwayat Seksual
Pasien mengatakan belum pernah melakukan hubungan seksual baik dengan
pacarnya yang terdahulu ataupun dengan pacarnya yang sekarang. Menurut pasien
hubungan seksual seharusnya dilakukan setelah pernikahan. Pasien mengatakan
pengetahuan seksualnya didapatkan dari teman-temannya di pergaulan dan sekolah.
Pasien mengatakan sikapnya terhadap lawan jenis cenderung pemalu tetapi kadang
juga ia dapat merayu lawan jenis untuk mendapatkan perhatiannya.

E. Riwayat Keluarga
Menurut penuturan ibu pasien, dalam keluarga pasien tidak terdapat riwayat
anggota keluarga yang mengalami gangguan seperti pasien atau gangguan mental lainnya.
Tidak ada yang pernah dirawat akibat gangguan psikiatri ataupun penyakit medis lainnya.
Tidak ada juga riwayat penyalahgunaan alkohol atau zat lain serta perilaku antisosial di
dalam keluarga pasien.
Pasien merupakan anak ke-3 dari 6 bersaudara. Pasien tinggal bersama dengan
ibu, kelima saudaranya, dan keponakan pasien (anak kedua kakak perempuan pasien).
Menurut ibu pasien, ayah pasien meninggal 6 tahun yang lalu akibat terkena angin duduk
(angina pectoris). Kakak pertama pasien sudah menikah dan berdomisili di Surabaya
bersama dengan keluarganya. Kakak kedua pasien merupakan tamatan SMA, sedangkan
adik pasien masih bersekolah kelas 1 SMA, 5 SD, dan 3 SD.
Ibu pasien mengatakan sikap pasien dalam keluarga cenderung tertutup.
Menurutnya pasien adalah anak yang baik di rumah dan tidak pernah menyusahkan
keluarga. Pasien tidak pernah mau menceritakan masalahnya karena takut akan merepotkan

ibu dan keluarganya. Pasien mengatakan ia adalah tulang punggung dalam keluarga. Tetapi
menurut ibu pasien, ibu pasien juga bekerja berjualan makanan di sekolah-sekolah, sehingga
bukan pasien sendiri yang bekerja di dalam keluarga.

Genogram keluarga pasien :

Keterangan :

F. Situasi Kehidupan Terkini


Saat ini pasien tinggal di rumah beserta dengan 6 anggota keluarga lainnya.
Keadaan lokasi rumah pasien terletak di pemukiman padat penduduk di daerah
Cibinong, dengan lokasi antar rumah saling berdempetan dan sangat dekat. Sumber
pendapatan keluarga menurut ibu pasien mayoritas berasal dari pasien yang bekerja di
pasar sebagai kuli pasar. Namun ibu pasien juga bekerja berjualan makanan di sekolahsekolah dasar dekat rumah pasien, walaupun penghasilannya tidak seberapa. Ibu pasien
mengatakan bantuan pun sering didapatkan dari gereja, berupa bantuan sembako dan
kebutuhan pokok lainnya. Terkadang juga mereka mendapatkan bantuan dana dari
saudara dekat berupa uang bantuan tetapi tidak rutin.
Sebelum tanggal 10 November 2015, ibu pasien dan beberapa saudara sering
mengunjungi pasien saat di ruangan Kresna dan Bratasena, bahkan hampir setiap hari
menurut ibu pasien. Tetapi setelah kejadian tanggal 10 November 2015 tersebut, ibu

pasien menjadi lebih jarang berkunjung karena takut akan terjadi hal yang sama yaitu
pasien menangis dan memaksa ingin meminta pulang lagi. Kunjungan terakhir ibu
pasien adalah tanggal 13 November 2015 di ruangan Gatot Kaca. Pada tanggal 14
November 2015 pasien juga menerima kunjungan dari rekan-rekan gereja HKBP tempat
pasien biasa beribadah.
Menurut ibu pasien, perawatan di rumah sakit ini tidak akan membuat pasien
kehilangan pekerjaannya. Paman pasien, yang merupakan bos pasien di pasar, justru
mengatakan bahwa pasien akan diterima kembali kapanpun pasien merasa siap setelah
keluar dari rumah sakit. Sedangkan menurut penuturan pasien, ia merasa sudah sangat
siap untuk kembali bekerja dan ingin segera keluar dari rumah sakit supaya bisa bekerja
kembali.

G. Persepsi Pasien Tentang Diri dan Kehidupannya


-

Impian : pasien mengatakan ingin sekali menyekolahkan adiknya sampai bisa lulus
sarjana

Fantasi : pasien mengatakan tidak memiliki fantasi untuk masa depannya

Sistem nilai : pasien menganggap pekerjaannya adalah suatu kewajiban untuk


memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarga, serta untuk dapat menyekolahkan
adiknya sampai sarjana

Dorongan kehendak : pasien ingin segera keluar dari rumah sakit

Hal yang menjadi sumber kejengkelan dan yang membuat bahagia : pasien
mengatakan seringkali kesal karena sanak saudaranya seakan meremehkan dan
kurang memperhatikan keluarga pasien terutama semenjak kepergian ayahnya.
Pasien mengatakan akan merasa senang sekali apabila dapat berkumpul kembali
dengan keluarganya karena ia sangat rindu dengan keluarganya di rumah.

III.

STATUS MENTAL

Dilakukan pada tanggal 13-16 November 2015 di bangsal Gatot Kaca RSMM Bogor

A. Deskripsi Umum
1. Penampilan Umum
Seorang laki-laki berusia 21 tahun, berpenampilan sesuai dengan usianya. Penampilan
rapi dan bersih, rambut hitam berombak, kuku terpotong rapi, perawakan ideal.

2. Kesadaran
-

Biologis

: compos mentis

Psikologis

: terganggu

Sosial

: terganggu

3. Perilaku dan Aktifitas Psikomotor


-

Sebelum wawancara : pasien tampak sedang duduk mengobrol dengan teman lain di
bangsal, cara jalan tampak normal

Selama wawancara : pasien tampak tenang, kontak mata adekuat, tidak ada gerakan
involunter ataupun menunjukkan agitasi

Setelah wawancara : pasien kembali bergabung dengan teman lainnya di bangsal

4. Pembicaraan
Pasien menjawab pertanyaan yang diberikan dengan cepat dan tegas. Intensitas suara
cukup, artikulasi jelas. Perbendahaarn kata banyak.

5. Sikap Terhadap Pemeriksa : kooperatif dan penuh perhatian.

B. Alam Perasaan
1. Mood : Euthym
2. Ekspresi Afektif
-

Skala diferensiasi
Kestabilan

: luas
: stabil

Echt / Unecht
Keserasian
Pengendalian
Intensitas
Empati

: echt (sungguh-sungguh)
: serasi
: baik
: dalam
: dapat diraba rasakan

C. Fungsi Intelektual
1.

Taraf pendidikan, pengetahuan dan kecerdasan:


-

Taraf pendidikan : Sesuai dengan taraf pendidikan

Pengetahuan umum : Baik. Pasien dapat mengetahui presiden RI saat ini

Kecerdasan : Baik. pasien mampu menjawab soal penjumlahan angka dengan baik

2.

Daya konsentrasi : Baik. Pasien bisa menghitung mundur 100-7 (Seven Serial
Test)

3.

Orientasi :
Orientasi Waktu : Baik. Pasien dapat mengetahui siang atau malam, hari, dan
tanggal
-

Orientasi Tempat : Baik. Pasien mengetahui dirinya sedang berada di rumah sakit

Orientasi Personal : Baik. Pasien dapat mengenali pemeriksa

4.

Daya ingat:
-

Daya Ingat Jangka Panjang : Baik. Pasien masih ingat nama sekolah SD-nya
Daya Ingat Jangka Pendek : Baik. Pasien masih mengingat menu sarapan tadi pagi
Daya Ingat Sesaat : Baik. Pasien mampu mengucapkan kembali apa yang baru saja
ia ceritakan

5. Pikiran Abstrak : Baik. Pasien mampu menyebutkan persamaan 2 objek seperti motor
dan mobil. Pasien mengatakan keduanya adalah kendaraan.
6. Kemampuan Menolong Diri : Baik. Pasien mampu makan dan mandi sendiri.

7. Kemampuan Visuospatial : Baik. Pasien dapat mengikuti gambar tumpang tindih yang
dicontohkan pemeriksa.

D. Gangguan Persepsi
1. Halusinasi
- Halusinasi Auditorik : Ada (Saat di ruang Kresna pasien mendengar suara
almarhum ayahnya yang mengatakan kalau perbuatannya sekarang ini salah dan
-

ia harus berubah lebih baik)


Halusinasi Visual : Ada (Pasien melihat cahaya putih di atas pojok ruangan

setelah mengamuk di rumah)


- Halusinasi Olfaktorik : Tidak ada
- Halusinasi Taktil : Tidak ada
2. Ilusi : Tidak ada
3. Depersonalisasi : Tidak ada
4. Derealisasi : Tidak ada

E. Proses Pikir
1. Arus Pikir
-

Produktivitas : Cukup. Pasien menjawab semua pertanyaan pemeriksa dan ide cerita

yang cukup.
Kontinuitas pikiran : Koheren. Jawaban pasien sesuai dengan pertanyaan, terarah ke
tujuan, dan relevan.

Hendaya berbahasa : Tidak ada. Pasien tidak menggunakan bahasa yang tidak
dimengerti/kata kata baru yang hanya pasien mengerti (neologisme) dan pasien
mengunakan bahasa secara lazim sesuai dengan tata bahasa.

2. Isi Pikiran
-

Preokupasi : Tidak ada


Waham :
Waham Dikendalikan (pasien meyakini kalau arwah almarhum ayahnya yang
merasukinya saat itulah yang mengendalikan tubuhnya untuk mengamuk,
merusak barang, dan menampar adik serta keponakannya).
Waham Rujukan (setelah melihat cahaya putih pasien mengatakan mendapat
keyakinan di dalam hatinya kalau keserakahan akan membawa manusia menuju
kiamat, salah satu contohnya kejadian kabut asap di Sumatera adalah akibat
keserakahan manusia).

F. Pengendalian Impuls

Baik

G. Daya Nilai
1. Daya nilai sosial : Baik. Ketika diberi pertanyaan apakah mencuri itu baik atau tidak,
pasien menjawab tidak baik.
2. Uji daya nilai : Baik. Pasien mengatakan jika menemukan dompet di tengah jalan, maka
pasien akan mengembalikan ke pemiliknya.
3. Penilaian realita : Terganggu (riwayat halusinasi dan waham)
H. Tilikan
Tilikan derajat 6 (Tilikan emosional sejati : sadar bahwa dirinya sakit dan sudah bisa
menerapkannya sampai kesembuhannya).
I. Taraf Dapat Dipercaya

: Dapat dipercaya

IV.

STATUS FISIK

Pemeriksaan fisik dilakukan pada hari Selasa, 17 November 2015 di Ruang Bratasena RS. Dr.
Marzoeki Mahdi Bogor.

A. Status Internus
Keadaan umum

: Baik

Kesadaran

: Compos Mentis

Tekanan darah

: 120/80 mmHg

Frekuensi napas

: 18x/menit

Frekuensi nadi

: 88x/menit

Suhu

: 36,50 C

Status gizi

: Kesan gizi normal


(TB = 170 cm, BB = 54 kg; BMI = 18,7 kg/m2)

Kulit

: Sawo matang

Kepala

: Tidak ada deformitas, normocephali

Rambut

: Hitam, lebat, tidak mudah tercabut

Mata

: Konjungtiva tidak pucat, sklera tidak ikterik

Telinga

: Normotia, sekret (-)

Gigi dan mulut

: Dalam batas normal

Leher

: Pembesaran KGB (-)

Jantung

: Bunyi jantung I-II normal, murmur (-), gallop (-)

Paru

: Pergerakan dinding dada simetris, suara napas vesikuler, ronkhi


-/-, wheezing -/-

Abdomen

: Datar, supel, bising usus normal, tidak ditemukan pembesaran


hepar dan lien

Ekstremitas

: Akral hangat (+), edema (-)

B. Status Neurologis
GCS

: 15 (E4,V5,M6)

Kaku kuduk

: (-)

Pupil

: Bulat, isokor

Parase nervus kraniali

: (-)

Motorik

: Kekuatan (5), tonus baik, rigiditas (-), spasme (-), hipotoni (-),
eutrofi, tidak ada gangguan keseimbangan dan koordinasi

Sensorik

: Tidak ada gangguan sensibilitas

Reflex fisiologis

: Normal

Reflex patologis

: (-)

Gejala ekstrapiramidal

: (-)

Stabilitas postur tubuh

: Normal

Tremor di kedua tangan

: (-)

C. Pemeriksaan Laboratorium (Tanggal 17-10-2015)


PEMERIKSAAN
Hb
Leukosit
Trombosit
Hematokrit
SGOT
SGPT
Ureum
Creatinin
GDS

HASIL

NILAI

KETERANGAN

14,7
9.500
287.000
42
25
18
24,1
0.98
99

RUJUKAN
14-16
4000-10000
150000-400000
40-50
< 42
< 47
10-50
0,7 1,0
<140

Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal

V. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA


Pasien laki-laki usia 21 tahun datang ke UGD RSMM dibawa oleh ibu dan
keluarganya karena mengamuk dan berbicara kacau sejak 1 hari SMRS. Kejadian ini terjadi
secara tiba-tiba dan merupakan yang pertama kalinya terjadi. Pasien berbicara dan teriakteriak sendiri, membanting barang-barang di rumah, menampar adik serta keponakannya,
dan mencoba untuk kabur dari rumah setelahnya. Pasien mengatakan dirasuki arwah
almarhum ayahnya yang mengendalikan tubuhnya saat mengamuk dan melihat cahaya putih
setelah mengamuk. Pasien melihat cahaya putih pasien mendapat keyakinan kalau
keserakahan manusia akan membawa dunia kiamat. Pasien juga mengatakan mendengar
suara almarhum ayahnya yang menasihati pasien untuk berbuat baik saat dirawat di ruangan
Kresna. Pasien tidak pernah mengalami cedera kepala, kejang kejang, ataupun penyakit lain
yang mendahului kejadian tersebut. Pasien memiliki riwayat penggunaan ganja pada tahun
2008-2009 dan tidak pernah menggunakannya lagi sampai saat ini. Dari autoanamnesis dan
alloanamnesis didapatkan bahwa pasien tidak pernah mengalami episode yang
memperlihatkan pasien murung, menarik diri, atau bahkan perasaan ingin bunuh diri.
Dari hasil wawancara dan observasi didapatkan kesadaran pasien compos mentis,
sikap pasien terhadap pemeriksa kooperatif dan bisa bekerja sama. Mood euthym. Afek
stabil, pengendalian cukup, echt, empati dapat dirabarasakan, dalam, skala diferensiasi luas,
serasi. Ditemukan adanya halusinasi visual dan auditorik pada pasien. Ditemukan juga
adanya waham dikendalikan dan waham rujukan pada pasien. Penilaian realita pasien
terganggu karena adanya riwayat halusinasi dan waham. Tilikan derajat 6 dan secara
keseluruhan dapat dipercaya.
Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik, meliputi status generalis dan status
neurologis, serta pemeriksaan penunjang tidak didapatkan adanya kelainan kondisi medis
lain.

VI.

FORMULASI DIAGNOSTIK

Aksis I

Berdasarkan autoanamnesis dan alloanamnesis, pasien tidak memiliki riwayat cedera


kepala, kejang, tindakan operatif, dan riwayat kondisi medik lain yang dapat secara langsung
ataupun tidak langsung mempengaruhi fungsi otak. Dari hasil pemeriksaan fisik juga tidak
ditemukan adanya kondisi medis umum yang dapat mempengaruhi fungsi otak. Oleh karena itu,
gangguan mental organik (F00-09) dapat disingkirkan.
Berdasarkan autoanamnesis, pasien mengatakan memiliki riwayat penggunaan ganja
kurang lebih 7 tahun yang lalu, dan tidak pernah lagi mengkonsumsi ganja dan zat psikoaktif lain
sampai saat ini. Dalam waktu dekat sebelum timbul gejala, pasien mengatakan tidak
mengkonsumsi zat-zat psikoaktif, sehingga diagnosis gangguan mental dan perilaku akibat
penggunaan zat psikoaktif (F10-19) dapat disingkirkan.
Ditemukan gejala-gejala psikotik pada pasien, berupa halusinasi visual dan auditorik,
waham dikendalikan dan waham rujukan, serta bicara kacau. Seluruh gejala ini terjadi secara
mendadak untuk pertama kalinya dan tidak ada riwayat gejala yang serupa sebelumya
menunjukkan bahwa hal ini merupakan onset yang akut. Total keseluruhan gejala menunjukkan
periode waktu < 1 bulan, sehingga menurut kriteria PPDGJ-III digolongkan ke dalam gangguan
psikotik polimorfik akut tanpa gejala skizofrenia (F23.0).
Aksis II
Berdasarkan autoanamnesis dan alloanamnesis tampak bahwa pasien memiliki ciri
kepribadian skizoid. Hal tersebut tampak dari perilaku pasien di rumah yang selalu tertutup dan
tidak pernah menceritakan masalahnya kepada siapapun, baik kepada ibunya ataupun kepada
anggota keluarganya yang lain. Pasien juga tidak pernah bersosialisasi dengan tetangga sekitar
dan tidak pernah berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan lingkungan.

Aksis III
Berdasarkan hasil pemeriksaan status generalis, neurologis, dan pemeriksaan penunjang
tidak didapatkan kelainan medis umum pada pasien.
Aksis IV

Masalah dengan keluarga : Ada. Pasien merasa keluarga besarnya menganggap remeh
dan kurang memperhatikan keluarganya terutama setelah ayahnya meninggal.

Masalah dengan lingkungan sosial : Tidak ada


Masalah pendidikan : Ada. Pasien tidak lulus SMA
Masalah pekerjaan : Ada. Pasien merasa atasannya (paman pasien) di tempat kerja

tidak mempercayainya dan sering menyindirnya.


Masalah ekonomi : Ada. Pasien termasuk masyarakat dengan ekonomi kurang,
dimana penghasilan di dalam keluarga mayoritas dibebankan kepada pasien yang

bekerja sebagai kuli pasar.


Masalah akses ke pelayanan kesehatan : Tidak ada

Aksis V

GAF HLPY

: 100-91 (gejala tidak ada, berfungsi maksimal, tidak ada

masalah yang tak tertanggulangi)


Fungsi Psikologis

: tidak terdapat gejala halusinasi maupun waham

Fungsi sosial

: pasien berkomunikasi dan berinteraksi dengan


keluarga dan lingkungan sekitar, tetapi cenderung
menutup diri

Fungsi perawatan diri

: pasien dapat merawat dirinya sendiri dengan baik

GAF Saat Masuk

: 40-31 (beberapa disabilitas dalam hubungan dengan

realita dan komunikasi, disabilitas berat dalam beberapa fungsi)


Fungsi psikologi

: terdapat gejala halusinasi dan waham

Fungsi sosial

: pasien mengalami gangguan penilaian realita dan tidak


dapat berkomunikasi dengan baik

Fungsi perawatan diri

: pasien tidak dapat menjalankan fungsi perawatan dirinya

GAF Current

: 60-51 (Gejala sedang / moderate, disabilitas sedang)

Fungsi psikologi

: riwayat halusinasi dan waham

Fungsi sosial

: pasien mengalami gangguan dalam hubungan dengan


realita, komunikasi baik

Fungsi perawatan diri

: perawatan diri pasien kurang baik

VII.

EVALUASI MULTIAKSIAL
Aksis I

Gangguan psikotik polimorfik akut tanpa gejala skizofrenia

Aksis II

Ciri kepribadian skizoid

Aksis III

Tidak ada diagnosis

Aksis IV

Masalah keluarga, pekerjaan, dan ekonomi

Aksis V

GAF HLPY

: 100-91

GAF Saat Masuk

: 40-31

GAF Current

: 60-51

VIII. DAFTAR PROBLEM


- Organobiologis
- Psikologi

: Tidak terdapat faktor herediter


: Halusinasi visual, halusinasi auditorik, waham dikendalikan, dan

- Sosiobudaya

waham rujukan
: Hendaya dalam fungsi sosial

IX.

DIAGNOSIS BANDING
Skizofrenia Paranoid

X.

PENATALAKSANAAN

Psikofarmaka

Risperidone 2 x 2 mg / hari

Psikoterapi

Memberi kesempatan kepada pasien untuk menceritakan / mengungkapkan isi

hatinya sehingga pasien dapat merasa lebih tenang.


Memberi psikoterapi suportif pada pasien agar pasien memahami kondisi
penyakitnya sehingga pasien menyadari bahwa dia membutuhkan pengobatan

yang lama dan teratur.


Memotivasi pasien untuk rajin minum obat secara teratur.

Sosioterapi
-

Memberi nasehat kepada keluarga pasien agar mengerti keadaan pasien dan
selalu memberi dukungan kepada pasien untuk tetap mengikuti pengobatan
medis, juga mendukung pasien dalam kegiatan keagamaan sesuai dengan

kepercayaannya.
Mengingatkan keluarga pasien supaya pasien mengurangi/menghilangkan

kebiasaannya minum kopi setelah pasien keluar dari RS Marzoeki Mahdi.


Mengingatkan keluarga pasien untuk rajin membawa pasien kontrol ke RS

Marzoeki Mahdi dan mengawasi pasien untuk minum obat secara teratur.
Mendukung pasien untuk kembali ke pekerjaannya lagi setelah keluar dari RS
Marzoeki Mahdi untuk membangun rasa percaya dirinya serta membantu
perekonomian keluarga.

XI.

PROGNOSIS

Ad vitam

: Ad bonam

Ad fungtionam

: Ad bonam

Ad sanationam

: Dubia ad bonam

Faktor yang memperingan:

Tidak terdapat faktor herediter

Diketahui bahwa faktor pencetus timbulnya gangguan yaitu kurangnya perhatian keluarga

besar dan masalah kepercayaan di dalam pekerjaan


Kondisi pasien yang secara umum masih baik dan kemampuan merawat diri sendiri
masih baik

Keluarga yang sangat menyayangi pasien dan mendukung pengobatan pasien

Lingkungan sekitar menerima keberadaan pasien yang memiliki gangguan jiwa


Pasien pernah bekerja sebelumnya dan diperbolehkan untuk bekerja kembali di tempat
kerjanya sebelum dirawat di RS

Faktor yang memperberat:

Masalah perekonomian keluarga pasien


Pekerjaan pasien sebagai kuli pasar yang mengharuskan pasien berangkat kerja jam 01.00

dan pulang kerja jam 10.00


Tanggung jawab pasien yang harus menjadi tulang punggung keluarga untuk membantu
menyekolahkan adik-adiknya yang masih kecil