Anda di halaman 1dari 46

PERBANDINGAN SAP DENGAN IPSAS

1. Pendahuluan
International Public Sector Accounting Standards Board (IPSASB) merupakan
penyusun standar akuntansi internasional untuk sektor publik di bawah
International Federation of Accountants (IFAC). Tahun 2005 IPSASB melakukan
peningkatan terhadap standar standar (International Public Sector Accounting
Standards/IPSAS) yang telah diterbitkan sebelumnya. Peningkatan tersebut
berupa revisi terhadap 11 standar dari 20 standar yang telah pernah diterbitkan.
(Lihat Lampiran 1. IPSAS yang Direvisi). Revisi ke-11 standar tersebut dimuat
dalam draf publikasian (exposure draft/ED) Nomor 26.
Di samping melakukan revisi terhadap standar yang ada, IPSASB juga
menerbitkan tiga ED lain. ED Nomor 25 memuat mengenai kesamaan otoritas
dalam paragraf-paragraf dalam IPSAS. ED Nomor 27 berbicara mengenai
penyajian informasi anggaran dalam laporan keuangan bertujuan umum dan ED
Nomor

28

mengenai

pengungkapan

informasi

umum

keuangan

sektor

pemerintahan (general government sector/GGS) untuk tujuan statistik. Seluruh


ED dapat dilihat dalam Lampiran 2.
Revisi

tersebut

dilakukan

dalam

rangka

konvergensi

standar

akuntansi

internasional sektor publik (IPSAS) dengan standar akuntansi internasional sektor


komersial (IAS/IFRS). Sebagaimana disebutkan dalam latar belakang ED 26,
bahwa revisi terhadap IPSAS dilakukan agar ada konvergensi dengan IAS yang
diterbitkan tahun 2003. Usaha konvergensi ini telah dimulai sejak 2003 melalui
General Improvements Project.
Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) sebagai anggota IFAC dimintakan masukan atas
draf publikasian (exposure draft/ED) yang dikeluarkan oleh IPSASB. Revisi IPSAS
sangat penting bagi sektor publik di Indonesia. Revisi tersebut akan mengikat
dalam penyajian laporan keuangan sektor publik di Indonesia jika nanti disahkan
menjadi standar meskipun tetap diperhatikan karakteristik Indonesia. Oleh
karena itu, agar IPSAS mengakomodasi kepentingan kita maka perlu diberi
masukan lewat komentar atas ED yang diterbitkan oleh IPSASB. Pemberian
masukan ini juga dimaksudkan untuk menampilkan pemikiran-pemikiran dari
Indonesia di forum internasional dalam bidang akuntansi khususnya sektor
publik. Makalah ini menguraikan beberapa pemikiran yang relevan yang
diharapkan dapat mempermudah dan mengarahkan diskusi. Hasil diskusi ini
akan disampaikan sebagai masukan pada IPSASB.
2. Proses Peningkatan Standar oleh IPSASB
Pada akhir tahun 1997, IPSASB memulai sebuah program pengembangan IPSAS
yang

didasarkan

kepada

International

Accounting

Standards

(IAS)

yang

diterbitkan International Accounting Standard Board (IASB) tahun 1997. IPSASB


mengembangkan persyaratan-persyaratan IAS yang relevan untuk sektor publik.

IPSAS menggunakan persyaratan, struktur, dan teks yang diatur dalam IAS
kecuali ada alasan untuk tidak menggunakan hal-hal tersebut.
Pada tahun 2003 melalui proyek General Improvements, IASB menerbitkan revisi
IAS. Proyek General Improvements bertujuan untuk menghilangkan atau
mengurangi

alternatif,

pengulangan-pengulangan

yang

tidak

perlu

(redundancies), dan juga konflik dalam IAS sendiri. Proyek juga berhubungan
dengan isu konvergensi dan berbagai peningkatan lainnya. Tujuan dari revisi
IPSAS yang diterbitkan kali ini adalah agar IPSAS konvergen dengan IAS yang
diterbitkan tahun 2003 tersebut. Tentu saja kalimat terakhir ini memancing
pertanyaan, jika IAS berubah apakah nanti IPSAS juga harus mengikuti? Jika ya
sampai kapan? Apakah tidak mungkin bahwa IAS yang mengikuti IPSAS?
3. Sistematika IPSAS setelah Revisi
Sampai dengan saat ini, IPSAS terdiri dari 20 pernyataan standar yaitu IPSAS
nomor 1 sampai dengan nomor 20. Revisi yang dilakukan atas 11 pernyataan,
sebagaimana dimuat dalam ED 26, tidak akan menghilangkan pernyataan yang
ada. Revisi hanya sekedar mengubah isi dari pernyataan yang sudah ada
sebelumnya.
Akan tetapi dari ED lainnya yaitu ED 25, ED 27, dan ED 28 jika nanti disetujui
akan muncul dua pernyataan standar baru. ED 25 persamaan otoritas paragraf
tidak akan menghasilkan atau dituangkan dalam bentuk pernyataan standar
baru. Perubahan yang terjadi hanya pada pengantar IPSAS (Preface to IPSAS). ED
27 dan ED 28 yang akan memunculkan pernyataan standar baru. Dengan
demikian jika nanti ED 27 dan ED 28 disahkan maka IPSAS terdiri dari 22
pernyataan standar.
4. Basis Akuntansi Keuangan dan Anggaran
Basis akuntansi yang dianut akan mempengaruhi penyajian laporan keuangan.
Penyajian pendapatan dan biaya akan berbeda jika pilihan bais yang dianut
berbeda. Basis akuntansi yang lazim dikenal adalah basis kas dan basis
akrual. Jika digunakan basis kas maka tidak ada piutang dari pendapatan karena
pendapatan diakui hanya pada saat kas diterima.
Basis akuntansi yang digunakan dalam seluruh standar yang dikeluarkan oleh
IPSAS adalah basis akrual. Dalam Glossary Handbook of IPSAS 2003 misalnya
dapat dilihat definisi basis akrual tetapi definisi basis kas tidak dicantumkan.
Kemudian dalam ruang lingkup (scope) IPSAS 1 baik yang lama maupun yang
diuraikan dalam revisi ini, IPSAS diterapkan untuk penyajian laporan keuangan
berbasis akrual.
Penyajian laporan keuangan sektor publik harus terkait dengan anggarannya.
Penyajian laporan keuangan di sektor publik menuntut penyajian anggaran. Hal
ini sesuai dengan ciri khas publik sektor sebagai organisasi yang tidak mencari
laba tipe B (Type B non-profit) menurut penggolongan R.N. Anthony (dalam
Rowan Jones dan Maurice P., 2000:130). Anggaran meliputi pendapatan dan

belanja. Pertanyaannya adalah apakah anggaran juga mempermasalahkan basis


akuntansi dalam penyajian laporan keuangan?
ED 27 menyajikan hal yang menarik dalam hubungan basis akuntansi dalam
penyajian laporan keuangan dan penyajian informasi anggaran dalam laporan
keuangan untuk tujuan umum. Jika dalam IPSAS sebelumnya menggunakan basis
akrual maka dalam ruang lingkup ED 27 ini dianut dua basis yaitu basis akrual
dan juga basis kas.
Sebagaimana dinyatakan dalam paragraf 2 An entity that prepares and presents
general purpose financial statements under accrual or cash basis of accounting
in accordance with Selanjutnya dalam paragraf 4 dinyatakan jika basis akrual
yang digunakan maka harus dibaca berkaitan dengan IPSAS sedangkan jika
digunakan basis kas maka standar harus dibaca dalam konteks IPSAS basis kas
(The

Cash

Basis

IPSAS,

Financial

Reporting

Under

the

Cash

Basis

of

Accounting). Uniknya lagi bahwa pembandingan antara anggaran dengan


realisasi dapat dilakukan baik anggaran disajikan dengan basis yang sama
maupun yang berbeda dengan basis untuk penyajian laporan keuangan untuk
tujuan umum.
5. Standar Akuntansi Sektor Publik dan Sektor Komersial: Harus Konvergen atau
Paralel?
Saat ini ada dua jenis organisasi atau sektor yang berimplikasi pada penyusunan
standar akuntansi. Satu jenis organisasi atau sektor adalah sektor komersial atau
yang disebut juga dengan sektor bisnis, sektor privat, atau sektor yang mencari
laba (profit motive/seeking organization). Sektor yang lain adalah sektor sosial
atau yang disebut juga dengan sektor publik atau organisasi yang tidak mencari
laba (not for profit organization). Pengertian privat dan publik sebenarnya
memiliki pengertian dan konsep yang sangat luas yang dikembangkan dalam
berbagai bidang seperti ekonomi, politik, administrasi publik, sosiologi dll. Tulisan
ini tidak dimaksudkan untuk membahas tuntas mengenai perbedaan konsep
privat dan publik tetapi ingin melihat latar belakang kedua sektor ini dalam
hubungan dengan akuntansi khususnya standar akuntansi. Hal ini sangat penting
karena tulisan ini membahas mengenai standar akuntansi sektor publik tetapi
dalam hubungannya dengan standar sektor privat/bisnis. Sektor bisnis berbeda
dari sektor pemerintah dan organisasi nirlaba. Granof (1998:3-8) mencatat ada
12 hal yang membedakan pemerintah dan organisasi nirlaba dengan bisnis
yaitu:
1.
2.
3.

Different
Budget,

not

Expenditures

in
the

missions;
marketplace

may

drive

govern;
revenues;

4. The budget, not the annual report is the most significant financial document;
5.
6.

Budgets
Need

drive

accounting
to

assure

and

financial
interperiod

reporting;
equity;

7.
8.
9.

Revenues
Not
Capital

10.
11.

not

indicative

direct
assets

link
may

of

between
neither

Resources
No

demand
produce
may

distinct

for

goods

revenues
revenues

or

and
nor

services;
expenses;

save

be
ownership

costs;

restricted;
interests;

12. Less distinction between internal and external accounting and reporting.
Selanjutnya dikatakan oleh Granof (1998: 8-10) karakteristik lain dari organisasi
pemerintah dan nirlaba dengan bisnis yang berimplikasi pada akuntansi:
1) Many different types of governments and not-for-profits
Banyaknya jenis pemerintahan dan organisasi nirlaba yang mengakibatkan
kesulitan dalam penyusunan standar yang dapat berlaku untuk seluruh jenis
organisasi;
2) Short-term focus of manager
Masa kepemimpinan seorang kepala unit pemerintahan biasanya singkat. Dalam
masa yang singkat, seorang pimpinan ingin menunjukkan prestasi yang tidak
sebenarnya (cosmetic improvements) dalam anggaran dan laporan keuangannya
dengan menggunakan tehnik penganggaran dan akuntansi.
3) Governments and not-for-profits engage in business type activities
Unit-unit pemerintah atau organisasi nirlaba tertentu melakukan aktivitas seperti
layaknya aktivitas bisnis. Pemerintah kota melakukan jasa pengangkutan
sampah misalnya. Jenis ini mengharuskan pengembangan prinsip-prinsip yang
berbeda untuk jenis organisasi yang dimaksud.
Wittrup setelah membahas pemikiran John Maynard Keynes membedakan
karakteristik institusi sosial dan institusi bisnis dalam hal modal (capital
equity). Wittrup (dalam Ramanathan dan Hegstad 1982:133) menyatakan:
One of the distinguishing economic characteristics of a social institution is that
its equity capital has been donated. That is to say, the sources of equity capital
retain no propreatary interest in it. In contrast, the equity capital of a business
has been invested, i.e., the providers of capital retain a propreatary interest
through the holding of shares or other means. In such cases, the investors
expect to realize an economic return, either in the form of dividends or through
an appreciation in the value of the interest they hold. (pemberian cetak tebal
penekanan dari penulis)
Dari pendapat di atas sangat jelas perbedaan antara organisasi bisnis dan sosial.
Dalam terminologi akuntansi, modal yang ada dalam kelompok ekuitas neraca
organisasi sosial adalah modal donasi. Sedangkan di organisasi bisnis modal
dalam kelompok ekuitas berupa modal saham atau bentuk lainnya yang
diharapkan akan dapat memberikan imbalan ekonomi bagi para pemodal.
Penelusuran pengertian organisasi bisnis dan non-bisnis yang mempengaruhi
akuntansi dilakukan oleh R. N. Anthony yang dimuat dalam Financial Accounting
in Nonbusiness Organization (1978). Sebagaimana ditemukan oleh R.N. Anthony

(dalam Rowan Jones dan Maurice P., 2000:128) organisasi dapat dibagi menjadi
tiga kategori sebagai berikut:
1) Profit Oriented- organisasi yang tujuan utamanya adalah mencari laba;
2) Type A Non-profit- organisasi nirlaba yang sumber keuangannya seluruhnya
diperoleh dari pendapatan dari penjualan barang dan jasa;
3) Type B Non-profit- organisasi nirlaba yang memperoleh pendapatan utamanya
dari sumber selain penjualan barang dan jasa.
Kategori 1) contohnya adalah perusahaan publik/perusahaan negara/daerah dan
kategori 3) contohnya adalah pemerintah atau pemerintah daerah yang
memperoleh pendapatannya dari pajak, hibah dll. Kategori 2) sebenarnya sangat
sulit karena berada di tengah-tengah. Contoh di Inggris untuk kategori 2) ini
adalah industri nasional (nationalised industries), di Indonesia Badan Layanan
Umum (BLU) mungkin dapat dijadikan sebagai contoh kategori ini.
Tujuan R.N. Anthony menggolongkan organisasi dalam kategori di atas adalah
untuk

menjawab

dibedakan

untuk

menawarkan

tiga

pertanyaan
tujuan

bagaimana

penyusunan

alternatif

yaitu

organisasi

standar

bisnis dan

akuntansi?

pembedaan

menurut

Untuk

nonbisnis
itu

dia

profit/nonprofit

(profit/nonprofit distinction), pembedaan sumber pembiayaan (source of finance


distinction), dan tidak membedakan sama sekali (no distinction).
Organisasi yang mencari profit, profit itu sendiri menjadi ukuran kinerja. Tugas
akuntansi disini adalah mengukur laba. Sementara itu untuk organisasi yang
tidak mencari laba, ukuran profit bukanlah ukuran kinerja yang tepat. Dengan
demikian akuntansi untuk kedua hal ini juga berbeda. Organisasi yang tidak
mencari laba tujuannya bukan hanya satu tetapi banyak. Oleh karena itu laporan
akuntansi harus dapat menyajikan informasi untuk memenuhi tujuan yang
banyak tersebut. Konsekwensinya, jika di organisasi yang mencari laba hanya
ada satu set akun (single set of accounts) sementara itu untuk organisasi yang
tidak mencari laba terdapat banyak rangkaian akun (series of accounts).
Organisasi yang mencari laba biasanya didanai dari modal saham (shareholder
equity). Dengan demikian dibutuhkan informasi mengenai pengembalian (return)
dari kegiatan investasi. Di organisasi yang tidak mencari laba tidak ada risiko
modal yang diinvestasikan sehingga informasi mengenai pengembalian modal
menjadi tidak penting.
Berdasarkan sumber keuangan, organisasi yang mencari laba (profit oriented)
dan organisasi Type A Non-profit sumber utama keuangannya adalah pendapatan
dari hasil penjualan. Artinya, produk organisasi telah diuji oleh pasar. Dengan
demikian selisih pendapatan dan biaya menjadi ukuran kinerja. Di sisi lain,
organisasi Type B Non-profit, pendapatan berasal dari yang non-revenue seperti
pajak hanya menunjukkan ukuran kinerja yang sempit. Yang juga harus diukur
adalah apa yang seharusnya dibelanjakan tanpa memandang apakah pasar akan
menerima atau tidak. Dalam organisasi Type B Non-profit karena pendanaannya

tidak berasal dari penjualan barang dan jasa maka ada batasan-batasan yang
harus diikuti.
Dalam hal seperti ini adalah suatu kesalahan jika dana digunakan untuk tujuan
lain dari yang seharusnya. Sistem akuntansi harus dikembangkan untuk
menangani jenis-jenis batasan ini maka digunakan akuntansi dana (fund
accounting). Oleh karena profit sangat penting bagi perusahaan profit oriented
dan Type A Non-profit maka akun-akun yang disajikan merupakan akun final yang
merupakan instrumen utama akuntabilitas keuangan. Untuk Type B Non-profit,
akun-akun

final

memang

penting

dalam

menjelaskan

bagaimana

uang

dibelanjakan. Hal yang sama pentingnya adalah anggaran karena anggaran


menentukan jumlah yang dapat dipungut. Artinya anggaran sangat penting
dalam akuntabilitas keuangan dan juga berarti bahwa akun-akun final disertakan
untuk tujuan pembandingan informasi anggaran.
Berdasarkan alternatif yang ketiga yaitu tidak ada pembedaan (no distinction)
dijelaskan

bahwa

sebenarnya

ada

hal-hal

yang

dapat

dilakukan

tanpa

membedakan tujuan dan juga sumber pembiayaannya. Misalnya, sistem


pencatatan

berpasangan

(double

entry)

merupakan

hal

yang

universal.

Interpretasi yang berbeda mungkin dapat dilakukan untuk organisasi yang


berbeda tetapi informasi dasar yang dibutuhkan sebenarnya sama. Informasi
dasar tersebut dapat ditemui dalam Operating Statement, Balance Sheet, dan
Cashflow Statement. Model organisasi bisnis umumnya dimengerti dengan baik
dan dapat diterapkan terhadap seluruh organisasi. Karena laporan keuangan
digunakan untuk melakukan monitoring terhadap penggunaan sumber daya
ekonomi maka basis yang digunakan harus sama. Ada konsep-konsep yang
berlaku di hampir seluruh organisasi seperti modal (capital), harga barang jasa
yang dihasilkan (cost of services provided). Ini menjadi konsep penyatu (the
unifying concepts) sehingga pembedaan-pembedaan tadi tidak terlalu menjadi
masalah.
Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa sebenarnya sektor bisnis/profit oriented
dan sektor nonbisnis/non profit oriented mempunyai perbedaan yang sangat
mendasar. Meskipun ada yang menyajikan alternatif bahwa tidak perlu ada
pembedaan

tetapi

organisasi

kedua

sektor

ini

tetap

berbeda

sehingga

berpengaruh juga terhadap penyusunan standar akuntansi untuk kedua sektor


ini.
Standar akuntansi yang diterbitkan oleh IFAC juga tetap menunjukkan bahwa
sektor bisnis dan sektor publik tetap berbeda. Hal ini diwujudkan dalam
pembentukan dua badan penyusun standar yang terpisah yaitu IASB yang
menyusun stadar untuk sektor bisnis sedangkan untuk sektor publik ada IPSASB.
IASB menerbitkan IAS sedangkan IPSASB menerbitkan IPSAS.
Ada usaha yang dilakukan untuk mendekatkan atau mungkin menyatukan kedua
stadar ini yaitu dalam bentuk konvergensi seperti yang tercantum dalam

ED. Akan tetapi meskipun nanti ED ini diterima, tetap ada standar di sektor
publik dan ada standar di sektor bisnis. Hal ini sudah dapat dilihat bahwa
meskipun dilakukan konvergensi tetap ada hal-hal tertentu yang tidak dapat
diterapkan di sektor publik. Dalam setiap ED kecuali IPSAS 12, 13, 14, disertakan
pembandingan IPSAS dengan IAS (Comparison to IAS). Artinya masih tetap ada
perbedaan meskipun telah dilakukan konvergensi.
Hal lain yang perlu ditambahkan adalah mengenai definisi sektor publik yang
dianut oleh IFAC. Apakah sektor publik termasuk organisasi nirlaba di luar
pemerintah? Apakah perusahaan negara/daerah termasuk dalam sektor publik?
Dalam Handbook of IPSAS 2003 Edition, halaman 10 disebutkan public sector
refers to national governments, local governments, and related governmental
entities (e.g agencies, boards, commissions, and enterprises) Definisi atau
penjelasan

ini

menunjukkan

bahwa

ruang

lingkup

sektor

publik

yang

dimaksudkan dalam IPSAS adalah pemerintah tidak termasuk organisasi nirlaba


lainnya.
6. Pokok-Pokok Revisi IPSAS
IPSASB melakukan revisi terhadap standar yang pernah diterbitkan dalam rangka
konvergensi IPSAS dengan IAS/IFRS. Dalam masing-masing ED disertakan latar
belakang perubahan dan juga bentuk-bentuk perubahan yang dilakukan. Di
bagian akhir beberapa ED juga disertakan semacam dasar pemikiran yang
menjadi

dasar

simpulan (basis for conclusion). Dalam setiap ED dan juga setiap pernyataan
standar (IPSAS) juga dimintakan komentar/tanggapan.
Berikut ini diuraikan secara ringkas masing-masing ED dan dan juga masingmasing standar yang direvisi dalam ED 26 yang berisi latar belakang,
perubahan-perubahan yang dilakukan, dan juga komentar dan masukan yang
diharapkan oleh IPSASB. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa lingkup
sektor publik adalah pemerintah. Oleh karena itu dalam memberikan tanggapan
terhadap masing-masing substansi revisi perlu diarahkan pada kondisi yang ada
di pemerintah Indonesia.
1) Exposure Draft Nomor 25 Kesamaan Otoritas setiap Paragraf
a. Latar Belakang
Paragraf-paragraf dalam International Public Sector Accounting Standar (IPSAS)
terdiri dari dua tipe. Tipe yang pertama adalah paragraf yang dicetak dengan
huruf tebal dan miring dan tipe yang kedua adalah paragraf yang dicetak dengan
huruf biasa. Paragraf yang dicetak dengan huruf tebal dan miring adalah
paragraf standar dan paragraf yang dicetak dengan huruf biasa adalah paragraf
komentar (penjelas). Dalam setiap pernyataan standar IPSAS dicantumkan
pengantar (preface) yang menjelaskan makna kedua tipe paragraf ini. Dalam
pengantar setiap pernyataan tersebut dinyatakan bahwa standar dicetak dalam

bentuk huruf tebal dan miring yang harus dibaca dalam konteks paragraf
komentar.
Pembagian dalam dua tipe paragraf mengandung makna bahwa paragraf
standar merupakan paragraf yang mengikat dan wajib diikuti sedangkan
paragraf penjelas tidak wajib atau wajib hanya jika dihubungkan dengan
paragraf standarnya. Dengan kata lain kedua jenis paragraf tersebut tidak
memiliki otoritas yang sama, paragraf standar memiliki otoritas yang lebih tinggi
dibandingkan dengan paragraf komentar.
IPSASB berpendapat bahwa kedua jenis paragraf tersebut mempunyai otoritas
yang sama. Oleh karena itu, IPSASB mengusulkan adanya perubahan dalam
pengantar. Kesamaan otoritas ini juga sudah diterapkan dalam standar untuk
sektor

komersial

(International

Financial

Reporting

Standards/IFRS)

yang

diterbitkan oleh International


Accounting Standard Board (IASB), sehingga penerapan kesamaan otoritas
paragraf ini dalam IPSAS konsisten dengan kebijakan konvergensi (IPSASBs IFRS
Convergence Policy). Bentuk huruf dalam paragraf tetap dua jenis seperti yang
ada sekarang ini tetapi dijelaskan dalam pengantar bahwa paragraf dalam huruf
tebal dan miring merupakan prinsip utama (main principles). Kedua paragraf
memiliki otoritas yang sama (equal authority).
b. Komentar atau Masukan yang Diharapkan
Apakah anda setuju dengan amandemen terhadap Pengantar yang menyatakan
bahwa paragraf yang dicetak tebal dan miring mempunyai otoritas yang sama
dengan paragraf yang dicetak dengan huruf biasa?
2)

Exposure

Draft

Nomor

26

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, usaha peningkatan IPSAS dilakukan


dengan konvergensi IPSAS dan IAS. Usaha konvergensi ini dilakukan dengan cara
merevisi 11 standar dari 20 standar yang telah diterbitkan IPSAS. Revisi seluruh
standar tersebut dimuat dalam ED Nomor 26 ini.
Berikut ini akan diuraikan perubahan-perubahan setiap standar yang direvisi.
(a)

IPSAS

1,

Presentation

a)

of

Financial

Statements

Latar

Belakang

Perubahan terhadap IPSAS 1 dilakukan dalam rangka konvergensi dengan IAS.


IAS juga memiliki standar yang sama dengan IPSAS 1 ini yaitu IAS 1. Maka di
bagian akhir draf IPSAS 1 dicantumkan perbandingan antara hal-hal yang diatur
dalam IPSAS 1 ini dan yang diatur dalam IAS 1 (Comparison with IAS 1).
b)

Perubahan-Perubahan

Penting

yang

Dilakukan

Perubahan yang dilakukan dalam IPSAS 1 meliputi perubahan dalam ruang


lingkup, definisi, penyajian yang wajar, pengklasifikasian aset dan kewajiban,
serta penyajian dan pengungkapan.
Perubahan penting yang dilakukan ruang lingkup adalah memindahkan isi:

- IPSAS 1 ke IPSAS 3 mengenai Kebijakan akuntansi, perubahan dalam estimasi


akuntansi dan kesalahan karena persyaratan yang diatur di IPSAS 1 ini lebih
tepat diatur di IPSAS 3;
- IPSAS 3 ke IPSAS 1 mengenai syarat-syarat penyajian surplus dan defisit.
Perubahan penting dalam definisi dalam bentuk adanya istilah baru yang
didefinisikan yaitu impracticable dan notes. Perubahan berikutnya adalah
mengubah istilah materiality dengan material dan menambahkan definisinya.
Perubahan lainnya adalah menghilangkan definisi yang tidak perlu seperti
associates,

borrowing

cost,

cash,

cash

equivalent dst.

Kemudian

istilah

extraordinary items, fundamental errors net surplus/deficit dan beberapa istilah


lainnya

tidak

digunakan

lagi.

Dalam hal penyajian ditambahkan pengertian penyajian yang wajar (fair


presentation) di paragraf 27. Penyimpangan dari IPSAS dimungkinkan untuk
syarat tertentu yang diatur dalam paragraf 31-37.
Pengklasifikasian aset dan kewajiban juga mengalami beberapa perubahan
dalam pengaturannya. Tetapi pengaturan yang lebih banyak ditambahkan adalah
pengaturan mengenai kewajiban (liabilities). Misalnya urutan klasifikasi aset
berdasarkan likuiditas untuk aset dan kewajiban dilaksanakan jika dianggap lebih
relevan (par. 70). Kewajiban yang diperdagangkan dianggap sebagai kewajiban
lancar (par. 80).
Dalam hal penyajian dan pengungkapan, ada beberapa perubahan penting yang
dilakukan dalam Statement of Performance, Statement of Changes in Net
Aset/Equity dan juga Notes.
c) Komentar dan Masukan yang Diharapkan:
(1) Apakah anda setuju bahwa IPSAS 1 harus direvisi seperti yang diusulkan ini
untuk konvergen dengan ekuivalen IAS 1? (Question 1, IPSAS 1 hal. 6).
(2)

Extraordinary

items

tidak

didefinisikan

dalam

revisi

ini.

Penyajian

extraordinary items tidak dianjurkan dan tidak dilarang baik di lembar muka
maupun catatan, apakah anda setuju extraordinary items tidak didefinisikan dan
juga tidak dilarang dan tidak diajurkan secara eksplisit dalam IPSAS 1? (Question
2, IPSAS 1 hal. 6)
(b) IPSAS 3, Net Surplus or Deficit for Period, Fundamental Errors, and Changes
in Accounting Policies
a)

Latar

Belakang

Perubahan ini dilakukan juga dalam rangka penyesuaian atau konvergensi


dengan IAS yang diatur dalam IAS 8. Maka di bagian akhir draf IPSAS 3
dicantumkan perbandingan antara hal-hal yang diatur dalam IPSAS 3 dan yang
diatur dalam IAS 8 (Comparison with IAS 8).
b)

Perubahan-Perubahan

Penting

yang

Dilakukan

Perubahan yang dilakukan meliputi perubahan nama, ruang lingkup, definisi,

materiality, Net surplus or deficit for the Period, Accounting Policies, Error,
Pengecualian untuk impractibles, dan juga pengungkapan (disclosure).
c)

Komentar

dan

Masukan

yang

Diharapkan:

Apakah anda setuju bahwa IPSAS 3 harus direvisi seperti yang diusulkan ini
untuk konvergen dengan ekuivalen IAS 8? (Question 1, IPSAS 3 hal. 63).
(c) IPSAS 4, The Effect of Changes in Foreign Exchange Rates
a)

Latar

Belakang

Perubahan ini dilakukan juga dalam rangka penyesuaian atau konvergensi


dengan IAS yang diatur dalam IAS 21. Maka di bagian akhir draf IPSAS 4
dicantumkan perbandingan antara hal-hal yang diatur dalam IPSAS 4 dan yang
diatur dalam IAS 21 (Comparison with IAS 21).
b)

Perubahan-Perubahan

Penting

yang

Dilakukan

Perubahan yang dilakukan meliputi ruang lingkup, definisi, functional currency,


Integral Foreign Operational versus Foreign Entities, Pelaporan transaksi mata
uang

asing,

penggunaan

mata

uang

selain

mata

uang

fungsional,

pengungkapan, dan ketentuan transisi.


c) Komentar dan Masukan yang Diharapkan:
(1) Apakah anda setuju bahwa IPSAS 4 harus direvisi seperti yang diusulkan ini
untuk konvergen dengan ekuivalen IAS 21? (Question 1, IPSAS 4 hal. 94).
(2) IPSAS 4 yang direvisi tidak berhubungan dengan akuntansi lindung nilai untuk
mata uang asing selain pengklasifikasian nilai tukar tertentu yang dipertanggung
jawabkan sebagai lindung nilai investasi bersih dalam investasi di entitas luar
negeri. Apakah anda setuju bahwa yang diusulkan dalam IPSAS 4 tidak harus
diterapkan untuk transaksi derivatif dan saldonya yang berasal dari lingkup
internasional yang relevan atau standar akuntansi nasional yang berhubungan
dengan pengakuan dan pengukuran instrumen keuangan? (Question 2, IPSAS 4
hal. 94).
(d) IPSAS 6, Consolidated Financial Statements and Accounting for Controlled
Entities
a)

Latar

Belakang

Perubahan ini dilakukan juga dalam rangka penyesuaian atau konvergensi


dengan IAS yang diatur dalam IAS 27. Maka di bagian akhir draf IPSAS 6
dicantumkan perbandingan antara hal-hal yang diatur dalam IPSAS 6 dan yang
diatur dalam IAS 27 (Comparison with IAS 27).
b)

Perubahan-Perubahan

Penting

yang

Dilakukan

Perubahan yang dilakukan meliputi perubahan nama, ruang lingkup, definisi,


pengecualian-pengecualian

dalam

penyajian

laporan

konsolidasi,

prosedur

konsolidasi, laporan keuangan yang terpisah, dan juga mengenai pengungkapan.


c) Komentar dan Masukan yang Diharapkan:
(1) Apakah anda setuju bahwa IPSAS 6 harus direvisi seperti yang diusulkan ini
untuk konvergen dengan ekuivalen IAS 27? (Question 1, IPSAS 6 hal. 120).

(2) Apakah anda setuju bahwa dalam laporan keuangan terpisah investor,
investasi pada entitas terkontrol (controlled entity) dan asosiasi harus dicatat
dengan at cost atau sebesar instrumen keuangan sesuai dengan standar
akuntansi internasional atau nasional yang berhubungan dengan pengakuan dan
pengukuran instrumen keuangan? Atau sebagai alternatif, apakah anda setuju
bahwa investasi seperti ini harus dicatat secara spesifik seperti diatur dalam
IPSAS 6? (Question 2, IPSAS 6 hal. 120).
(3) Apakah anda setuju bahwa daftar entitas terkontrol yang signifikan harus didisclose dalam laporan konsolidasi entitas pengendali (controlling entity)?
(Question 3, IPSAS 6 hal. 120).
(e) IPSAS 7, Accounting for Investments in Associates
a)

Latar

Belakang

Perubahan ini dilakukan juga dalam rangka penyesuaian atau konvergensi


dengan IAS yang diatur dalam IAS 28. Maka di bagian akhir draf IPSAS 7
dicantumkan perbandingan antara hal-hal yang diatur dalam IPSAS 7 dan yang
diatur dalam IAS 28 (Comparison with IAS 28).
b)

Perubahan-Perubahan

Penting

yang

Dilakukan

Perubahan yang dilakukan meliputi perubahan nama, ruang lingkup, definisi,


pengaruh signifikan, penerapan metode ekuitas, penurunan kerugian, laporan
keuangan terpisah, dan juga mengenai pengungkapan.
c) Komentar dan Masukan yang Diharapkan:
(1) Apakah anda setuju bahwa IPSAS 7 harus direvisi seperti yang diusulkan ini
untuk konvergen dengan ekuivalen IAS 28? (Question 1, IPSAS 7 hal. 158).
(2) Apakah anda setuju bahwa ruang lingkup IPSAS 7 ini tidak diterapkan untuk
investasi tertentu kecuali asosiasi yang dimiliki oleh organisasi modal ventura,
mutual funds, unit trusts dan entitas sejenis jika investasi ini diukur dengan nilai
wajar sesuai dengan standar akuntansi internasional atau nasional yang
berhubungan dengan instrumen keuangan? (Question 2, IPSAS 7 hal. 158).
(3) Apakah anda setuju bahwa investor tidak memerlukan equity account
investasinya jika seluruh kriteria di paragraf 19 terpenuhi? (Question 3, IPSAS 7
hal. 158).
(f) IPSAS 8, Financial Reporting of Interests in Joint Ventures
a)

Latar

Belakang

Perubahan ini dilakukan juga dalam rangka penyesuaian atau konvergensi


dengan IAS yang diatur dalam IAS 31. Maka di bagian akhir draf IPSAS 8
dicantumkan perbandingan antara hal-hal yang diatur dalam IPSAS 8 dan yang
diatur dalam IAS 31 (Comparison with IAS 31).
b)

Perubahan-Perubahan

Penting

yang

Dilakukan

Perubahan-perubahan yang dilakukan meliputi judul standar, ruang lingkup,


definisi, pengecualian penerapan konsolidasi proporsional atau metode ekuitas,
laporan keuangan terpisah, dan juga mengenai pengungkapan.

c) Komentar dan Masukan yang Diharapkan:


(1) Apakah anda setuju bahwa IPSAS 8 harus direvisi seperti yang diusulkan ini
untuk konvergen dengan ekuivalen IAS 31? (Question 1, IPSAS 8 hal. 180).
(2) Apakah anda setuju bahwa ruang lingkup IPSAS 8 ini tidak diterapkan untuk
investasi tertentu kecuali asosiasi yang dimiliki oleh organisasi modal ventura,
mutual funds, unit trusts dan entitas sejenis jika investasi ini diukur dengan nilai
wajar sesuai dengan standar akuntansi internasional atau nasional yang
berhubungan dengan instrumen keuangan? (Question 2, IPSAS 8 hal. 180).
(g) IPSAS 12, Inventories
a)

Latar

Belakang

Perubahan ini dilakukan juga dalam rangka penyesuaian atau konvergensi


dengan IAS yang diatur dalam IAS 2. Akan tetapi tidak disertakan pembandingan
antara IPSAS 12 dan IAS 2.
b)

Perubahan-Perubahan

Penting

yang

Dilakukan

Perubahan yang dilkukan meliputi tujuan dan ruang lingkup, biaya persediaan,
dan juga mengenai pengungkapan.
c) Komentar dan Masukan yang Diharapkan:
(1) Apakah anda setuju bahwa IPSAS 12 harus direvisi seperti yang diusulkan ini
untuk konvergen dengan ekuivalen IAS 2? (Question 1, IPSAS 12 hal. 207).
(2) Diusulkan bahwa aset biologis yang berhubungan dengan aktivitas atau
produk pertanian pada saat panen dicatat sesuai dengan standar internasional
atau nasional yang berhubungan dengan pertanian dikecualikan dari ruang
lingkup. Apakah anda setuju dengan pengecualian ini? (Question 2, IPSAS 12 hal.
207).
(h) IPSAS 13, Leases
a)

Latar

Belakang

Perubahan ini dilakukan juga dalam rangka penyesuaian atau konvergensi


dengan IAS yang diatur dalam IAS 17. Akan tetapi tidak dicantumkan
perbandingan antara hal-hal yang diatur dalam IPSAS 13 dan IAS 17.
b)

Perubahan-Perubahan

Penting

yang

Dilakukan

Perubahan yang dilakukan meliputi definisi, klasifikasi sewa guna tanah dan
bangunan, Biaya awal yang dikeluarkan oleh lessor.
c) Komentar dan Masukan yang Diharapkan:
(1) Apakah anda setuju bahwa IPSAS 13 harus direvisi seperti yang diusulkan ini
untuk konvergen dengan ekuivalen IAS 17? (Question 1, IPSAS 13 hal. 215).
(2) Diusulkan bahwa IPSAS 13 tidak diterapkan sebagai dasar pengukuran untuk
aset biologis yang dipegang oleh lesse dalam pembiayaan dengan leasing dan
aset biologis yang disediakan oleh lessor yang dicatat sesuai dengan standar
internasional atau nasional yang berhubungan dengan pertanian. Apakah anda
setuju dengan pengecualian ini? (Question 1, IPSAS 13 hal. 215).
(i) IPSAS 14, Events After the Reporting Date

a)

Latar

Belakang

Perubahan ini dilakukan juga dalam rangka penyesuaian atau konvergensi


dengan IAS yang diatur dalam IAS 10. Akan tetapi tidak dicantumkan
perbandingan antara hal-hal yang diatur dalam IPSAS 14 dan IAS 10.
b)

Perubahan-Perubahan

Penting

yang

Dilakukan

Perubahan yang dilakukan hanya pada pengumuman dan pembagian dividen


setelah tanggal pelaporan.
c)

Komentar

dan

Masukan

yang

Diharapkan:

Apakah anda setuju bahwa IPSAS 14 harus direvisi seperti yang diusulkan ini
untuk konvergen dengan ekuivalen IAS 10? (Question 1, IPSAS 14 hal. 228).
(j) IPSAS 16, Investment Property
a)

Latar

Belakang

Perubahan ini dilakukan juga dalam rangka penyesuaian atau konvergensi


dengan IAS yang diatur dalam IAS 40. Maka di bagian akhir draf IPSAS 16
dicantumkan perbandingan antara hal-hal yang diatur dalam IPSAS 16 dan yang
diatur dalam IAS 40 (Comparison with IAS 40).
b)

Perubahan-Perubahan

Penting

yang

Dilakukan

Perubahan yang dilkukan meliputi pengaturan bunga dalam operating lease, dan
perubahan yang dimaksudkan untuk memenuhi persyaratan yang diatur dalam
IPSAS 17.
c)

Komentar

dan

Masukan

yang

Diharapkan:

Apakah anda setuju bahwa IPSAS 16 harus direvisi seperti yang diusulkan ini
untuk konvergen dengan ekuivalen IAS 40? (Question 1, IPSAS 16 hal. 235).
(k) IPSAS 17, Property, Plant and Equipment
a)

Latar

Belakang

Perubahan ini dilakukan juga dalam rangka penyesuaian atau konvergensi


dengan IAS yang diatur dalam IAS 16. Maka di bagian akhir draf IPSAS 17
dicantumkan perbandingan antara hal-hal yang diatur dalam IPSAS 17 dan yang
diatur dalam IAS 16 (Comparison with IAS 16).
b)

Perubahan-Perubahan

Penting

yang

Dilakukan

Perubahan yang dilakukan meliputi perubahan dalam definisi, pengakuan,


pengukuran dan pengakuan, penyusutan, kompensasi impairmen, dan juga
mengenai tidak pengakuan (derecognition).
c) Komentar dan Masukan yang Diharapkan:
(1) Apakah anda setuju bahwa IPSAS 17 harus direvisi seperti yang diusulkan ini
untuk konvergen dengan ekuivalen IAS 16? (Question 1, IPSAS 17 hal. 270).
(2) Apakah anda setuju dengan Implementation Guide 1 yang memasukkan
frekwensi penilaian aset tetap seperti yang diusulkan dalam IPSAS 17? (Question
2, IPSAS 17 hal. 270).
(3) Apakah anda setuju bahwa cocok untuk mensyaratkan entitas sektor publik
untuk menyusutkan setiap bagian dari aset tetap secara terpisah dengan biaya

yang signifikan dihubungkan dengan biaya keseluruhan? (Question 3, IPSAS 17


hal. 270).
3) Exposure Draft Nomor 27 Presentation of Budget Information in Financial
Statements
a.

Latar

Belakang

Pemerintah diwajibkan membuat anggaran dan menyajikan informasi anggaran


sebagai dokumen publik. Anggaran menunjukkan karakteristik rencana keuangan
pemerintah periode yang akan datang. Anggaran berfungsi sebagai alat
pengendalian dan merupakan komponen penting bagi pemerintah dan juga
parlemen untuk melihat dimensi keuangan dari kegiatan pemerintah. Bagi
pengguna laporan keuangan, informasi anggaran ini kadang-kadang lebih
penting dari informasi keuangan lainnya.
IPSAS 1 mendorong (encourages), tetapi tidak mewajibkan informasi mengenai
pembandingan antara jumlah anggaran dengan realisasinya. IPSAS basis kas
(The Cash Basis IPSAS, Financial Reporting Under the Cash Basis of Accounting)
juga mendorong penyajian informasi anggaran dengan realisasinya. ED ini
berbeda dengan ED sebelumnya atau IPSAS sebelumnya. ED ini diterapkan sama
untuk entitas yang menyajikan informasi keuangan untuk tujuan umum dengan
basis akrual dan entitas yang menyajikan informasi keuangan untuk tujuan
umum sesuai dengan basis kas IPSAS. Tujuan dari ED ini adalah mengusulkan
bahwa informasi keuangan untuk tujuan umum diwajibkan memuat informasi
anggaran meliputi pembandingan jumlah anggaran dengan realisasinya.
b.

Komentar

dan

Masukan

yang

Diharapkan

Sesuai dengan dengan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, IPSASB
mengharapkan adanya komentar yang berharga. Berbagai usulan dalam ED
yang diterbitkan tetapi dimintakan komentar spesifik atas usulan-usulan sebagai
berikut:
(a) Mewajibkan (to require) pembandingan anggaran dengan realisasinya
sebagai bagian dari laporan keuangan untuk tujuan umum (general purpose
financial statements/GPFSs);
(b) Mewajibkan penjelasan (disclosure) alasan perbedaan anggaran dan relaisasi
yang material kecuali perbedaan tersebut telah dijelaskan dalam dokumen publik
waktu yang bersamaan. IPSASB mengharapkan komentar apakah alasan ini
diwajibkan (should be required) atau hanya didorong untuk disajikan (should be
encouraged).
(c)

Penyajian

pembandingan

anggaran

dengan

realisasi

dalam

GPFS

dilaksanakan hanya jika basis yang digunakan GPFS sama dengan anggaran
(par.15). IPSASB meminta pendapat apakah angka-angka anggaran yang
diwajibkan untuk disajikan dalam lembar muka laporan keuangan ketika jumlah
anggaran

dan

akrual

dalam

GPFS

disajikan

diperbandingkan (on a comparable basis)?

dengan

basis

yang

dapat

(d) Mewajibkan bahwa penjelasan yang harus dibuat dalam laporan yang
diterbitkan apakah perbedaan antara anggaran dengan realisasi timbul dari
realokasi dalam anggaran itu sendiri atau faktor lain seperti pergeseran
kebijakan, bencana alam atau hal-hal lain yang tidak kelihatan.
(e) Mewajibkan pembandingan jumlah anggaran dengan realisasi yang harus
dibuat dalam basis yang sama, bahkan meskipun basis yang dianut berbeda.
(f) Mewajibkan rekonsiliasi jumlah realisasi berdasarkan berdasarkan anggaran
dengan

realisasi

yang

disajikan

berdasarkan

GPFS.

IPSASB juga meminta komentar apakah:


- Pernyataan (IPSAS) terpisah yang memuat syarat-syarat khusus pembandingan
realisasi dengan anggaran harus diterbitkan untuk penerapan ketika basis akrual
digunakan atau ketika basis kas digunakan; atau
- Persyaratan yang diatur dalam ED ini dimuat saja dalam IPSAS 1 untuk entitas
yang menerapkan basis akrual dan dalam Cash Basis IPSAS untuk yang
menggunakan basis kas.
4) Exposure Draft Nomor 28 Disclosure of Financial Information about the
General Government Sector
a.

Latar

Belakang

Pelaporan keuangan dengan basis statistik atau untuk tujuan statistik seperti
System of National Account 1993 (SNA 93), Government Finance Statistics
Manual 2001 (GFSM 2001) dan European System of Account 1995 (ESA 95)
mengharuskan pemerintah untuk menyajikan informasi keuangan mengenai
sektor umum pemerintah (general government sector/GGS). Untuk tujuan
statistik, GGS berisi entitas pemerintah yang tidak terlibat kegiatan pasar (nonmarket activities).
IPSAS yang ada sekarang ini mewajibkan penyajian informasi untuk tujuan umum
yang meliputi informasi tentang seluruh sumber daya yang dikontrol oleh entitas
dan syarat-syarat mengenai konsolidasi seluruh entitas yang dikendalikan
(controlled

entity). IPSAS

mengungkapkan

tidak

mewajibkan

informasi

entitas

sektor

tentang

publik

untuk
GGS.

Beberapa entitas pemerintah menyajikan kedua informasi ini yaitu informasi


untuk tujuan umum (GPFS) dan informasi untuk tujuan statistik. IPSASB didorong
untuk secara eksplisit mengijinkan atau mendorong (allowing/encouraging)
penyajian informasi untuk tujuan statistik/GGS seperti yang tercantum dalam
GFSM 2001 untuk seluruh laporan keuangan untuk tujuan umum. ED ini
mengusulkan persyaratan penerapan oleh seluruh entitas pemerintah yang
memilih mengungkapkan informasi tentang GGS dalam laporan keuangan
berbasis akrual.
b.

Komentar

dan

Masukan

yang

Diharapkan

IPSASB mengharapkan komentar dan masukan untuk hal-hal sebagai berikut:

(a) Apakah syarat-syarat untuk pengungkapan informasi keuangan tentang GGS


harus dimuat dalam GPFS sesuai IPSAS? Jika ya, apakah pengungkapan tersebut
bersifat diijinkan (allowed), didorong (encouraged), atau diwajibkan (required);
(b) Apakah definisi GGS di paragraf 14 cocok?
(c) Apakah perlakuan investasi yang diusulkan dalam perusahaan publik cocok
dalam GGS?
(d) Apakah setiap unit pemerintah yang memilih untuk menyajikan informasi
GGS diwajibkan untuk memisahkan informasi tersebut menurut unit dalam
laporan konsolidasi?
(e) Apakah rekonsiliasi ke pelaporan untuk tujuan statistik diwajibkan?
(f) Apakah penyajian informasi GGS perlu standar tersendiri atau dijelaskan saja
di IPSAS 1? 24
(g)

Apakah

syarat

pengungkapan

GGS

dalam

basis

kas

juga

harus

dikembangkan?
7. Simpulan
IPSASB sebagai penyusun standar akuntansi IFAC untuk sektor publik telah
menerbitkan empat exposure draft (ED) dalam kerangka konvergensi standar
akuntansi sektor publik (IPSAS) ke standar akuntansi sektor komersial/bisnis
(IAS/IFRS). Diakui, kedua sektor ini memang tetap berbeda dari berbagai sudut
pandang. Akan tetapi penyusun standar sendiri mengakui adanya perbedaanperbedaan tersebut dengan melampirkan hal-hal yang berbeda di kedua sektor
ini. Perbedaan in dibuat dalam bentuk pembandingan antara IPSAS dengan
IAS/IFRS dengan judul Comparison to IAS.
Setiap ED meminta adanya komentar dan tanggapan untuk itu dalam
memberikan komentar dapat diarahkan pada kondisi yang ada di Indonesia. Hal
ini penting karena ruang lingkup sektor publik yang dimaksudkan oleh IPSASB
adalah sektor pemerintah.
* Syafri Adnan Baharuddin, Ak., MBA. (Ketua IAI-Kompartemen Akuntan Sektor
Publik)
* Jamason Sinaga, Ak., MAP. (Koordinator Bidang Kajian Standar Akuntansi, IAIKompartemen Akuntan Sektor Publik)
Disajikan

dalam

Diskusi

Akuntansi

Sektor

Publik

Seri

2006,

yang

diselenggarakan oleh IAI-Kompartemen Akuntan Sektor Publik di Jakarta pada


tanggal 24 Januari 2006.
DAFTAR PUSTAKA
International Federation of Accountants (IFAC), (2003), Handbook of International
Public Sector Accounting Standards.
Jones, Rowan, and Pendlebury, Maurice, (2000), Public Sector Accounting, (Fifth
Edition), Harlow, Pierson Education Limited.
Granof, Michael H., (1998), Government and Not-For-Profit Accounting: Concepts
and Practices, New York, John Wiley & Son.

Ramanathan,

Kavasseri

V.,

and

Hegstad,

Larry

P.,

(1982),

Readings

in

Management Control in Nonprofit Organizations, New York, John Wiley and Son.
(Oleh: Syafri Adnan Baharuddin, Ak, MBA. dan Jamason Sinaga, Ak., MAP.*)
http://zallrizal.blogspot.co.id/2013/11/perbandingan-sap-dengan-ipsas.html

standar akuntansi keuangan (SAK) syariah


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Adanya perubahan lingkungan global yang semakin menyatukan hampir seluruh
negara di dunia dalam komunitas tunggal yang dijembatani perkembangan teknologi
komunikasi dan informasi yang semakin murah, menuntut adanya transparansi di segala
bidang. Akuntansi adalah media komunikasi, oleh karena itu sering disebut sebagai
Bahasanya Dunia Usaha (Business Language).
Sistem keuangan Islam bukan sekedar transaksi komersial, tetapi harus sudah sampai
kepada lembaga keuangan untuk dapat mengimbangi tuntutan zaman. Bentuk sistem
keuangan atau lembaga keuangan yang sesuai dengan prinsip Islam adalah terbebas dari
unsur riba. Kontrak keuangan yang dapat dikembangkan dan dapat menggantikan sistem riba
adalah mekanisme syirkah yaitu : musyarakah dan mudharaba.
Dengan adanya standar akuntansi syariah, laporan keuangan diharapkan dapat
menyajikan informasi yang relevan dan dapat dipercaya kebenarannya. Standar akuntansi
juga digunakan oleh pemakai laporan keuangan seperti investor, kreditor, pemerintah, dan
masyarakat umum sebagai acuan untuk memahami dan menganalisis laporan keuangan
sehingga memungkinkan mereka untuk mengambil keputusan yang benar. Dengan demikian,
standar akuntansi memiliki peranan penting bagi pihak penyusun dan pemakai laporan
keuangan sehingga timbul keseragaman atau kesamaan interpretasi atas informasi yang
terdapat dalam laporan keuangan.

1.
2.
3.
4.

1.2 Rumusan Masalah


Apa pengertian standar akuntansi syariah?
Bagaimana sejarah standarakuntansi syariah di Indonesia?
Apa saja jenis SAK yang di gunakan di Indonesia?
Bagaimana PSAK 101-108?

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Standar Akuntansi Keuangan


Standar Akuntansi Keuangan (SAK) adalah suatu kerangka dalam prosedur
pembuatan laporan keuangan agar terjadi keseragaman dalam penyajian laporan
keuangan. Standar Akuntansi Keuangan (SAK) merupakan hasil perumusan Komite Prinsipil
Akuntansi Indonesia pada tahun 1994 menggantikan Prinsip Akuntansi Indonesia (PAI) tahun
1984. Standar Akuntansi di Indonesia merupakan terapan dari beberapa standard akuntansi
yang ada seperti:
IAS (International Accounting Standards)
IFRS ( International Financial Reporting Standards)
GAAP (Generally Accepted Accounting Principles)
ETAP (Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik)
PSAK syariah dan juga SAP ( Standar Akuntansi Pemerintahan)
Selain untuk keseragaman laporan keuangan, Standar akuntansi juga diperlukan untuk
memudahkan penyusunan laporan keuangan, memudahkan auditor serta memudahkan
pembaca laporan keuangan untuk menginterpretasikan dan membandingkan laporan
keuangan entitas yang berbeda. PSAK-IFRS, SAK ETAP ditetapkan oleh Dewan Standar
Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia. PSAK Syariah diterbitkan oleh Dewan
Akuntansi Syariah sedangkan SAP oleh Komite Standar Akuntansi Pemerintah.
2.2 Sejarah Standar Akuntansi Syariah yang Berlaku di Indonesia
Terhitung Sejak 1992-2002 atau 10 tahun lembaga keuangan baik bank syariah
maupun entitas syariah yang lain tidak memiliki PSAK khusus yang mengatur transaksi dan
kegiatan berbasis syariah. PSAK 59 sebagai produk pertama DSAK IAI untuk entitas
syariah perlu diajungkan jempol dan merupakan awal dari pengakuan dan eksistensi
keberadaan akuntansi syariah di Indonesia. PSAK ini disahkan tanggal 1 Mei 2002, berlaku
mulai 1 Januari 2003 atau pembukuan yang berakhir tahun 2003 . hanya berlaku hanya dalam
tempo 5 tahun.
PSAK 59 dikhususkan untuk kegiatan transaksi syariah hanya di sektor perbankan
syariah, ini sangat ironis karena ketika itu sudah mulai menjamur entitas syariah selain dari
perbankan syariah, seperti asuransi syariah, pegadaian syariah, koperasi syariah. Maka seiring
tuntutan akan kebutuhan akuntansi untuk entitas syariah yang lain maka komite akuntansi
syariah dewan standar akuntasi keuangan (KAS DSAK) menerbitkan enam pernyataan
standar akuntansi keuangan (PSAK) bagi seluruh lembaga keuangan syariah (LKS) yang
disahkan tanggal 27 Juni 2007 dan berlaku mulai tanggal 1 Januari 2008 atau pembukuan
tahun yang berakhir tahun 2008.
Keenam PSAK itu adalah PSAK No 101 tentang penyajian laporan keuangan syariah,
PSAK No 102 tentang akuntansi Murabahah (Jual beli), PSAK No 103 tentang Akuntansi
Salam, PSAK No 104 tentang Akuntansi Isthisna, PSAK No 105 tentang Akuntansi
Mudarabah (Bagi hasil), dan PSAK No 106 tentang Akuntansi Musyarakah (Kemitraan).
Keenam PSAK merupakan standar akuntansi yang mengatur seluruh transaksi
keuangan syariah dari berbagai LKS. Dalam penyusunaan keenam PSAK, KAS DSAK

mendasarkan pada pernyataan akuntansi perbankan syariah indonesia (PAPSI) Bank


Indonesia. Selain itu, penyusunan keenam PSAK juga mendasarkan pada sejumlah fatwa
akad keuangan syariah yang diterbitkan oleh dewan syariah nasional majelis ulama indonesia
(DSN MUI).
2.3 Jenis SAK yang dijalankan di Indonesia
Jenis SAK yang dijalankan di Indonesia saat ini, antara lain:
1. PSAK- IFRS
PSAK-IFRS diterapkan secara utuh pada tahun 2012. Pada PSAK ini wajib diterapkan
untuk entitas dengan akuntabilitas public seperti : Emiten, perusahaan publik, perbankan,
asuransi, dan BUMN. Tujuan dari PSAK ini adalah memberikan informasi yang relevan bagi
user
laporan
keuangan.
Cttn : PSAK-IFRS di wajibkan untuk perusahaan Go public ( perusahaan yang menjual
sahamnya di pasar modal)
2. SAK ETAP
SAK ETAP adalah Standard akuntansi keuangan untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas
Publik. ETAP yaitu Entitas yang tidak memiliki akuntabilitas publik yang signifikan serta
menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum bagi pengguna eksternal.
ETAP menggunakan acuan IFRS untuk Small Medium Enterprises. SAK-ETAP
diterbitkan pada tahun 2009 dan berlaku efektif 1 Januari 2011 dan dapat diterapkan pada 1
Januari 2010. SAK ini diterapkan secara retrospektif namun jika tidak praktis dapat
diterapkan secara prospektif yang berarti mengakui semua asset dan kewajiban sesuai SAK
ETAP juga tidak mengakui asset dan kewajiban jika tidak diizinkan oleh SAK-ETAP, selain
itu Mereklasifikasi pos-pos yang sebelumnya menggunakan PSAK lama menjadi pos-pos
sesuai SAK-ETAP juga menerapkan pengukuran asset dan kewajiban yang diakui SAK
ETAP. SAK ETAP terdiri dari 30 Bab dan daftar istilah yang mempermudah untuk
memahami SAK ini.
3. PSAK Syariah
PSAK Syariah digunakan oleh entitas yang melakukan transaksi syariah baik entitas
lembaga syariah maupun lembaga non syariah. Dalam PSAK Syariah ini pengembangan
dilakukan dengan model PSAK umum namun psak ini berbasis syariah dengan acuan fatwa
MUI.
PSAK Syariah berada dalam PSAK 100-106 yang terdiri dari :
a. Kerangka Konseptual
b. Penyajian Laporan Keuangan Syariah
c. Akuntansi Murabahah
d. Musyarakah
e. Mudharabah
f. Salam
g. Istishna
4. SAP
SAP adalah Standar Akuntansi Pemerintah yang diterbitkan oleh Komite Standar
Akuntansi Pemerintahan. SAP ini ditetapkan sebagai PP(Peraturan Pemerintah) yang

diterapkan untuk entetitas pemerintah dalam menyusun Laporan Keuangan Pemerintah Pusat
(LKPP) dan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD).
SAP diterapkan dengan PP Nomor 24 Tahun 2005 tanggal 13 Juni 2005 tentang Standar
Akuntansi Pemerintahan (PP SAP). Penyusunan SAP melalui tahapan-tahapan seperti :
1. Identifikasi Topik untuk Dikembangkan Menjadi Standar
2. Pembentukan Kelompok Kerja (Pokja) di dalam KSAP
3. Riset Terbatas oleh Kelompok Kerja
4. Penulisan draf SAP oleh Kelompok Kerja
5. Pembahasan Draf oleh Komite Kerja
6. Pengambilan Keputusan Draf untuk Dipublikasikan
7. Peluncuran Draf Publikasian SAP (Exposure Draft)
8. Dengar Pendapat Terbatas (Limited Hearing) dan Dengar Pendapat Publik (Public Hearings)
9. Pembahasan Tanggapan dan Masukan Terhadap Draf Publikasian
10. Finalisasi Standar
Jadi SAP disusun hanya untuk instalasi kepemerintahan baik pusat maupun daerah untuk
menyusun laporan keuangan dalam pemerintahan. Dan diharapkan dengan adanya SAP maka
akan ada transparansi, parisipaso dan akuntabilitas pengelolaan keuangan Negara sehingga
dapat mewujudkan pemerintahan yang baik.
2.4 Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan 101-108
a. PSAK 101 - Penyajian Laporan Keuangan Syariah
PSAK No. 101 ini berfungsi untuk mengatur penyajian dan pengungkapan laporan
keuangan untuk tujuan umum (general purpose financial statements) untuk entitas syariah
yang selanjutnya disebut laporan keuangan.Pengakuan, pengukuran, penyajian dan
pengungkapan transaksi dan peristiwa tertentu diatur dalam Pernyatan Standar Akuntansi
Keuangan (PSAK).

1.
2.
3.

1.
2.
3.
4.
5.

b. PSAK 102 Akuntansi Murabahah


Murabahah merupakan akad penyediaan barang berdasarkan prinsip jual beli, dimana
bank membelikan kebutuhan barang nasabah (investasi/modal kerja) dan bank menjual
kembali kepada nasabah ditambah dengan keuntungan yang disepakati.
Rukun Murabahah :
Subjek (penjual dan pembeli),
Objek, dan
Akad (shighat).
Syarat Murabahah :
Penjual memberitahu biaya modal kepada nasabah,
Kontrak pertama harus sah sesuai dengan rukun yang diterapkan,
Kontrak harus bebas dari riba,
Penjual harus menjelaskan kepada pembeli bila terjadi cacat atas barang sesudah pembelian,
dan
Penjual harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian, misalnya bila
pembelian dlakukan secara hutang.

Dalam akuntansi murabahah terdapat prinsip persaudaraan (ukhuwah) yang esensi


nya mempunyai semangat saling tolong menolong dan tidak boleh mendapat keuntungan
diatas kerugian orang lain.

1.
2.
3.

1.
2.

c. PSAK 103 - Akuntansi Salam


Salam adalah akad pembelian suatu hasil produksi (komoditi) untuk pengiriman yang
ditangguhkan dengan pembayaran segera sesuai dengan persyaratan tertentu atau penjualan
suatu komoditi untuk pengiriman yang ditangguhkan dengan pembayaran segera/di muka.
Rukun Salam :
Subjek : muslam (pembeli) dan muslam ilaih (penjual)
Akad (shighat)
Ma'qud alaih meliputi dua hal yaitu modal/harga dan muslam fiih (barang yang dipesan)
Syarat Salam :
Modal/harga : harus jelas dan terukur, berapa harga barangnya, berapa uang mukanya dan
berapa lama, sampai pembayaran terakhirnya.
Muslam fiih (barang yang dipesan) : harus jelas jenis, ciri-cirinya, kualitas dan kuantitasnya.

1.
2.
3.

d. PSAK 104 Akuntansi Istishna


Istishna adalah akad jual beli dalam bentuk pemesanan pembuatan barang tertentu
dengan kriteria dan persyaratan tertentu yang disepakati antara pemesan dan penjual. Selain
itu ada juga istishna paralel, yaitu suatu bentuk akad istishna antara pemesan dan penjual
kemudian untuk memenuhi kewajibannya kepada penjual, penjual memerlukan pihak lain
sebagai pembeli.
Rukun Istishna :
1. Subjek : shaani (produsen atau penjual) dan mustashni (konsumen atau pembeli)
2. Maqud alaih (barang yang dipesan)
3. Akad (shighat)
Syarat Istishna :
Jenis barang yang dibuat, macam, kadar, dan sifatnya jelas,
Barang berlaku muamalat di antara manusia, dan
Tidak ada ketentuan mengenai tempo penyerahan barang yang dipesan.

1.
2.
3.

e. PSAK 105 Akuntansi Mudharabah


Mudharabah adalah akad kerjasama usaha antara dua pihak dimana pihak pertama
pemilik dana menyediakan seluruh dana sedangkan pihak kedua (pengelola dana) bertindak
selaku pengelola, dan keuntungan dibagi diantara mereka sesuai kespakatan sedangkan
kerugian financial hanya ditanggung oleh pemilik dana apabila kesalahan terjadi murni
karena regulasi usaha. Tetapi jika kesalahan/kerugian disebabkan karena
kelalain mudharibmaka kerugian ditanggung oleh mudharib.
Rukun Mudharabah :
Subjek : pemilik modal (shahibul maal) dan pengelola dana (mudharib)
Objek
Akad (shighat)
Syarat Mudharabah :

1.
2.
3.
4.

1.
2.
3.
4.

1.
2.
3.

Modal ditangan pengusaha berstatus amanah, seperti wakil dalam jual beli,
Pengusaha berhak atas keuntungan sesuai kesepakatan,
Komponen biaya disepakati sejak awal akad, dan
Pemilik modal (shahibul maal) berhak atas keuntungan dan menanggung resiko.
Pada akad mudharabah terdapat prinsip persaudaraan yang pada dasarnya merupakan
interaksi sosial dan harmonisasi kepentingan para pihak untuk kemanfaatan umum dengan
semangat saling tolong menolong, menjunjung tinggi nilai kebersamaan dalam memperoleh
manfaat sehingga seseorang tidak boleh mendapat keuntungan diatas kerugian orang lain.
f. PSAK 106 - Akuntansi Musyarakah
Musyarakah adalah akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha
tertentu, dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana dengan ketentuan bahwa
keuntungan dibagi berdasarkan kesepakatan sedangkan kerugian berdasarkan porsi kontribusi
dana. Dana tersebut meliputi kas atau asset nonkas yang diperkenankan oleh syariah.
Rukun Musyarakah :
Subjek (aqidani)
Objek (maqud alaihi)
Akad (shighat)
Nisbah bagi hasil
Syarat Musyarakah :
Diperbolehkan untuk menerima atau mengirimkan wakil untuk bertindak hukum terhadap
objek perserikataan sesuai dengan izin pihak lainnya,
Presentase pembagian keuntungan jelas, dan
Keuntungan untuk masing-masing pihak ditentukan sesuai kesepakatan.

g. PSAK 107 - Akuntansi Ijarah


Ijarah adalah akad pemindahan hak guna atas suatu barang dalam waktu tertentu
dengan pembayaran sewa tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan atas barang tersebut.
Rukun Ijarah :
1. Subjek : mujir (pemberi sewa) dan mustajir (penyewa)
2. Objek
3. Akad (shighat)
Syarat Ijarah :
1. Kesepakatan kedua belah pihak untuk melakukan penyewaan,
2. Barang yang disewakan tidak termasuk kategori haram, dan
3. Harga sewa harus terukur.
h. PSAK 108 Akuntansi Transaksi Asuransi Syariah
Asuransi Syariah menurut Dewan Syariah Nasional - Majelis Ulama Indonesia
(DSN-MUI) adalah usaha saling melindungi dan tolong-menolong di antara sejumlah orang,
melalui investasi dalam bentuk aset dan / atau Tabarru yang memberikan pola pengembalian
untuk menghadapi risiko tertentu melalui akad yang sesuai dengan syariah.
Dari pengertian nya sudah sangat jelas bahwa asuransi syariah mengaplikasikan
prinsip persaudaraan(ukhuwah). Ukhuwah dalam transaksi syariah berdasarkan prinsip saling

mengenal (taaruf), saling memahami(tafahum), saling menolong (taawun), saling


menjamin (takaful), saling bersinergi dan beraliansi (tahaluf) dan prinsip tersebut
diaplikasikan pada asuransi syariah.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Standar Akuntansi Keuangan (SAK) adalah suatu kerangka dalam prosedur
pembuatan laporan keuangan agar terjadi keseragaman dalam penyajian laporan
keuangan. Standar Akuntansi Keuangan (SAK) merupakan hasil perumusan Komite Prinsipil
Akuntansi Indonesia pada tahun 1994 menggantikan Prinsip Akuntansi Indonesia (PAI) tahun
1984. Standar Akuntansi di Indonesia merupakan terapan dari beberapa standard akuntansi
yang ada seperti:IAS (International Accounting Standards), IFRS ( International Financial
Reporting Standards), GAAP (Generally Accepted Accounting Principles), ETAP (Entitas
Tanpa Akuntabilitas Publik) dan PSAK syariah dan juga SAP ( Standar Akuntansi
Pemerintahan).
Sejarah Standar Akuntansi Syariah yang Berlaku di Indonesia Terhitung Sejak 19922002 atau 10 tahun lembaga keuangan baik bank syariah maupun entitas syariah yang lain
tidak memiliki PSAK khusus yang mengatur transaksi dan kegiatan berbasis syariah. PSAK
59 sebagai produk pertama DSAK IAI untuk entitas syariah perlu diajungkan jempol dan
merupakan awal dari pengakuan dan eksistensi keberadaan akuntansi syariah di Indonesia.
PSAK ini disahkan tanggal 1 Mei 2002, berlaku mulai 1 Januari 2003 atau pembukuan yang
berakhir tahun 2003 . hanya berlaku hanya dalam tempo 5 tahun.
Jenis SAK yang dijalankan di Indonesia saat ini, antara lain: PSAKIFRS, SAK ETAP, PSAK Syariah dan SAP.
Dalam perkembangannya PSAK sudah menjadi panduan wajib bagi masyarakat
maupun instansi-instansi yang mempelajari, mengelola, dan menggunakan sistem keuangan.
PSAK mendefinisikan dan mendeskripsikan secara teliti tentang rincian sistem keuangan dan
produk-produk komersial yang digunakan dalam perbangkan syariah.
Dalam makalah ini, kami menjabarkan beberapa PSAK yang tujuannya untuk mencari
unsur ukhuwah yang terdapat dalam PSAK nomor 101 - 108. PSAK tersebut adalah
1. PSAK 101- Penyajian Laporan Keuangan Syariah
2. PSAK 102- Akuntansi Murabahah
3. PSAK 103- Akuntansi Salam
4. PSAK 104- Akuntansi Istishna
5. PSAK 105- Akuntansi Mudharabah
6. PSAK 106- Akuntansi Musyarakah
7. PSAK 107- Akuntansi Ijarah
8. PSAK 108- Akuntansi Transaksi Asuransi Syariah
http://selinrasi.blogspot.co.id/2015/03/standar-akuntansi-keuangan-saksyariah.html

PERBEDAAN SAK ETAP VS PSAK IFRS


BAB 1
PENDAHULUAN
A.

Latar belakang
Munculnya IFRS tak bisa lepas dari perkembangan global, terutama yang
terjadi pada pasar modal. Perkembangan teknologi informasi (TI) di lingkungan
pasar yang terjadi begitu cepat dengan sendirinya berdampak pada banyak
aspek di pasar modal, mulai dari model dan standar pelaporan keuangan,
relativisme jarak dalam pergerakan modal, hingga ketersediaan jaringan
informasi ke seluruh dunia. Dengan kemajuan dan kecanggihan TI pasar modal
jutaan atau bahkan miliaran investasi dapat dengan mudah masuk ke lantai
pasar modal di seluruh penjuru dunia. Pergerakan mereka tak bisa dihalangi
teritori negara. Perkembangan yang mengglobal seperti ini dengan sendirinya
menuntut adanya satu standar akuntansi yang dibutuhkan baik oleh pasar modal
atau lembaga yang memiliki agency problem.
Saat ini, terdapat dua kekuatan besar di bidang standar akuntansi, yaitu USGAAP dan IFRS yang sebelumnya dikenal sebagai International Accounting
Standard Committee (IASC). Memang, hingga saat ini IFRS belum menjadi one
global accounting standard. Namun standar ini telah digunakan oleh lebih dari
150-an negara, termasuk Jepang, China, Kanada dan 27 negara Uni Eropa.
Sedikitnya, 85 dari negara-negara tersebut telah mewajibkan laporan keuangan
mereka menggunakan IFRS untuk semua perusahaan domestik atau perusahaan
yang tercatat (listed). Bagi Perusahaan yang go international atau yang memiliki
partner dari Uni Eropa, Australia, Russia dan beberapa negara di Timur Tengah
memang tidak ada pilihan lain selain menerapkan IFRS.
Proses yang panjang tersebut akhirnya menjadi apa yang disebut IFRS,
yang merupakan suatu tata cara bagaimana perusahaan menyusun laporan
keuangannya berdasarkan standar yang bisa diterima secara global. Jika sebuah
negara beralih ke IFRS, artinya negara tersebut sedang mengadopsi bahasa
pelaporan keuangan global yang akan membuat perusahaan (bisnis) bisa
dimengerti oleh pasar dunia. Namun, beralih ke IFRS bukanlah sekedar pekerjaan
mengganti angka-angka di laporan keuangan, tetapi mungkin akan mengubah
pola pikir dan cara semua elemen di dalam perusahaan. (Sumber: Akuntan
Indonesia, edisi no 17, Juni, 2009.)

BAB 2
PEMBAHASAN
A.

Definisi IFRS
IFRS (Internasional Financial Accounting Standard) adalah suatu upaya
untuk memperkuat arsitektur keuangan global dan mencari solusi jangka
panjang terhadap kurangnya transparansi informasi keuangan. IFRS merupakan
standar akuntansi internasional yang diterbitkan oleh International Accounting
Standard Board (IASB). Standar Akuntansi Internasional (International Accounting
Standards/IAS) disusun oleh empat organisasi utama dunia yaitu Badan Standar
Akuntansi Internasional (IASB), Komisi Masyarakat Eropa (EC), Organisasi
Internasional Pasar Modal (IOSOC), dan Federasi Akuntansi Internasioanal (IFAC).
Badan Standar Akuntansi Internasional (IASB) yang dahulu bernama Komisi
Standar Akuntansi Internasional (AISC), merupakan lembaga independen untuk
menyusun standar akuntansi. Organisasi ini memiliki tujuan mengembangkan
dan mendorong penggunaan standar akuntansi global yang berkualitas tinggi,
dapat dipahami dan dapat diperbandingkan (Choi et al., 1999 dalam Intan
Immanuela, puslit2.petra.ac.id)
Natawidnyana(2008), menyatakan bahwa Sebagian besar standar yang
menjadi bagian dari IFRS sebelumnya merupakan International Accounting
Standards (IAS). IAS diterbitkan antara tahun 1973 sampai dengan 2001 oleh
International Accounting Standards Committee (IASC). Pada bulan April 2001,
IASB mengadospsi seluruh IAS dan melanjutkan pengembangan standar yang
dilakukan.

B.

Struktur IFRS
International Financial Reporting Standards mencakup:

1.

International Financial Reporting Standards (IFRS) standar yang diterbitkan


setelah tahun 2001.

2.

International Accounting Standards (IAS) standar yang diterbitkan sebelum


tahun 2001.

3.

Interpretations

yang

diterbitkan

oleh

International

Financial

Reporting

Interpretations Committee (IFRIC) setelah tahun 2001.


4.

Interpretations yang diterbitkan oleh Standing Interpretations Committee (SIC)


sebelum tahun 2001.

5.

Framework for the Preparation and Presentation of Financial Statement


( Kerangka Kerja persiapan dan Penyajian laporan Keuangan ).
Secara garis besar ada empat hal pokok yang diatur dalam standar
akuntansi. Yang pertama berkaitan dengan definisi elemen laporan keuangan
atau informasi lain yang berkaitan. Definisi digunakan dalam standar akuntansi

untuk menentukan apakah transaksi tertentu harus dicatat dan dikelompokkan


ke dalam aktiva, hutang, modal, pendapatan dan biaya. Yang kedua adalah
pengukuran dan penilaian. Pedoman ini digunakan untuk menentukan nilai dari
suatu elemen laporan keuangan baik pada saat terjadinya transaksi keuangan
maupun pada saat penyajian laporan keuangan (pada tanggal neraca). Hal
ketiga yang dimuat dalam standar adalah pengakuan, yaitu kriteria yang
digunakan untuk mengakui elemen laporan keuangan sehingga elemen tersebut
dapat disajikan dalam laporan keuangan. Yang terakhir adalah penyajian dan
pengungkapan laporan keuangan. Komponen keempat ini digunakan untuk
menentukan jenis informasi dan bagaimana informasi tersebut disajikan dan
diungkapkan dalam laporan keuangan. Suatu informasi dapat disajikan dalam
badan laporan (Neraca, Laporan Laba/Rugi) atau berupa penjelasan (notes) yang
menyertai laporan keuangan.
C.

Konversi Ke IFRS Di Indonesia


Indonesia saat ini belum mewajibkan bagi perusahaan-perusahaan di
Indonesia menggunakan IFRS melainkan masih mengacu kepada standar
akuntansi keuangan lokal. Dewan Pengurus Nasional IAI bersama-sama dengan
Dewan Konsultatif SAK dan Dewan SAK merencanakan tahun 2012 akan
menerapkan standar akuntansi yang mendekati konvergensi penuh kepada IFRS.
Dari data-data di atas kebutuhan Indonesia untuk turut serta melakukan program
konverjensi tampaknya sudah menjadi keharusan jika kita tidak ingin tertinggal.
Sehingga, dalam perkembangan penyusunan standar akuntansi di Indonesia oleh
Dewan

Standar

Akuntansi

Keuangan

(DSAK)

tidak

dapat

terlepas

dari

perkembangan penyusunan standar akuntansi internasional yang dilakukan oleh


International Accounting Standards Board (IASB). Standar akuntansi keuangan
nasional saat ini sedang dalam proses secara bertahap menuju konverjensi
secara

penuh

dengan

International

Financial

Reporting

Standards

yang

dikeluarkan oleh IASB. Adapun posisi IFRS/IAS yang sudah diadopsi hingga saat
ini dan akan diadopsi pada tahun 2009 dan 2010 adalah seperti yang tercantum
dalam daftar- daftar berikut ini:
1.

IFRS/IAS yang Telah Diadopsi ke dalam PSAK hingga 31 Desember 2008

a)

IAS 2 Inventories

b)

IAS 10 Events after balance sheet date

c)

IAS 11 Construction contracts

d)

IAS 16 Property, plant and equipment

e)

IAS 17 Leases

f)

IAS 18 Revenues

g)

IAS 19 Employee benefits

h)

IAS 23 Borrowing costs

i)

IAS 32 Financial instruments: presentation

j)

IAS 39 Financial instruments: recognition and measurement

k)

IAS 40 Investment propert

2.

IFRS/IAS yang Akan Diadopsi ke dalam PSAK pada Tahun 2009

a)

IFRS 2 Share-based payment

b)

IFRS 4 Insurance contracts

c)

IFRS 5 Non-current assets held for sale and discontinued operations

d)

IFRS 6 Exploration for and evaluation of mineral resources

e)

IFRS 7 Financial instruments: disclosures

f)

IAS 1 Presentation of financial statements

g)

IAS 27 Consolidated and separate financial statements

h)

IAS 28 Investments in associates

i)

IFRS 3 Business combination

j)

IFRS 8 Segment reporting

k)

IAS 8 Accounting policies, changes in accounting estimates and errors

l)

IAS 12 Income taxes

m)

IAS 21 The effects of changes in foreign exchange rates

n)

IAS 26 Accounting and reporting by retirement benefit plans

o)

IAS 31 Interests in joint ventures

p)

IAS 36 Impairment of assets

q)

IAS 37 Provisions, contingent liabilities and contingent assets

r)

IAS 38 Intangible assets

3.

IFRS/IAS yang Akan Diadopsi ke dalam PSAK pada Tahun 2010

a)

IAS 7 Cash flow statements

b)

IAS 20 Accounting for government grants and disclosure of government


assistance

c)

IAS 24 Related party disclosures

d)

IAS 29 Financial reporting in hyperinflationary economies

e)

IAS 33 Earning per share

f)

IAS 34 Interim financial reporting


Indonesia harus mengadopsi standar akuntansi internasional (International
Accounting Standard/IAS) untuk memudahkan perusahaan asing yang akan
menjual saham di negara ini atau sebaliknya. Namun demikian, untuk
mengadopsi standar internasional itu bukan perkara mudah karena memerlukan
pemahaman dan biaya sosialisasi yang mahal. Membahas tentang IAS saat ini
lembaga-lembaga yang aktif dalam usaha harmonisasi standar akuntansi ini
antara

lain

adalah

IASC

(International

Accounting

Standard

Committee),

Perserikatan Bangsa-Bangsa dan OECD (Organization for Economic Cooperation


and

Development).

Beberapa

pihak

yang

diuntungkan

dengan

adanya

harmonisasi ini adalah perusahaan-perusahaan multinasional, kantor akuntan


internasional, organisasi perdagangan, serta IOSCO (International Organization of
Securities Commissions).

D.

Tujuan IFRS
Tujuan

IFRS

adalah

:memastikan

bahwa

laporan

keungan

interim

perusahaan untuk periode-periode yang dimaksukan dalam laporan keuangan


tahunan, mengandung informasi berkualitas tinggi yang :
1.

transparansi bagi para pengguna dan dapat dibandingkan sepanjang peiode


yang disajikan.

2.

menyediakan titik awal yang memadai untuk akuntansi yang berdasarkan pada
IFRS.

3.

dapat dihasilkan dengan biaya yang tidak melebihi manfaat untuk para
pengguna.

E.
1.

Manfaat Dari Adanya Suatu Standard Global:


Pasar modal menjadi global dan modal investasi dapat bergerak di seluruh
dunia tanpa hambatan berarti. Stadart pelaporan keuangan berkualitas tinggi
yang digunakan secara konsisten di seluruh dunia akan memperbaiki efisiensi
alokasi lokal.

2.

Investor dapat membuat keputusan yang lebih baik.

3.

Perusahaan-perusahaan dapat memperbaiki proses pengambilan keputusan


mengenai merger dan akuisisi.

4.

Gagasan terbaik yang timbul dari aktivitas pembuatan standard dapat


disebarkan dalam mengembangkan standard global yang berkualitas tertinggi.
Hamonisasi telah berjalan cepat dan efektif, terlihat bahwa sejumlah besar
perusahaan

secara

sukarela

mengadopsi

standard

pelaporan

keuangan

Internasional (IFRS). Banyak Negara yang telah mengadopsi IFRS secara


keseluruhan dan menggunakan IFRS sebagai dasar standard nasional. Hal ini
dilakukan untuk menjawab permintaan investor institusional dan pengguna
laporan keuangan lainnya. Usaha-usaha standard internasional ini dilakukan
secara sukarela.
F.
1.

Penerapan IFRS di Indonesia


Menurut Sri Mulyani, konvergensi akuntansi Indonesia ke IFRS perlu di dukung
agar Indonesia mendapatkan pengakuan maksimal dari komunitas internasional
yang sudah lama menganut standar ini. kalau standar itu dibutuhkan dan akan
meningkatkan posisi indonesia sebagai negara yang bisa dipercaya di dunia
dengan tata kelola dan pertanggungjawaban kepada rakyat dengan lebih baik
dan konsisten, tentu itu perlu dilakukan ujarnya.

2.

Menurut Rudy Suryanto, SE, M.Acc, AKT (dosen program studi akuntansi UMY).
Sebenarnya penerapan IFRS di indonesia telah di mulai secara bertahap sejak
tahun 2007, namunakan diterapkan penuh tahun 2012.
Saat standard internasional tidak berbeda dengan standard nasional, maka
tidak akan ada masalah. Yang menjadi masalah, apabila standard internasional
berbeda dengan standard nasional. Bila hal ini terjadi, maka yang didahulukan

adalah standard nasional (rujukan pertama). Banyak pro dan kontra dalam
penerapan standard internasional, namun seiring waktu Standard internasional
telah bergerak maju.
Dengan pengadopsian IFRS memang diperuntukkan sebagai contoh bahwa
dalam hidup kita memang mengalami perubahan, dan perubahan ini terjadi
akibat adanya perkembangan dari segala aspek. Namun dalam mengadopsi IFRS
, sayangnya masih terdapat pihak-pihak yang mungkin menentangnya, contoh
alasannya adalah pemahaman yang mungkin masih dirasa kurang. Mengapa
tidak, IFRS ini dalam penjelasannya masih menggunakan bahasa Inggris yang
berarti kita harus menerjemahkannya kedalam bahasa yang sesuai dengan
Negara yang akan menganutnya. Dengan ini, permasalahannya adalah kita
memerlukan banya waktu untuk menerjemahkan. Serta anggapan bahwa
dengan pengubahan ini menimbulkan biaya yang lumayan besar, karena inilah
pengadopsian IFRS di Indonesia belum berjalan.
G.

Manfaat Penerapan IFRS

1.

Meningkatkan kualitas standar akuntansi keuangan (SAK).

2.

Mengurangi biaya SAK.

3.

Meningkatkan kredibilitas dan kegunaan laporan keuangan.

4.

Meningkatkan komparabilitas pelaporan keuangan.

5.

Meningkatkan transparasi keuangan.

6.

Menurunkan biaya modal dengan membuka peluang penghimpunan dana


melalui pasar modal.

7.

Meningkatkan efisiensi pengyusunan laporan keuangan.

H. Dampak Penerapan IFRS di Indonesia


a)

Bidaxxng pendidikan antara lain :

1.

Banyak menggunakan profesional judgment

2.

Banyak mengunakan fair value accounting

3.

IFRS selalu berubah dan konsep yang digunakan dalam suatu IFRS dapat
berbeda dengan IFRS lain

4.

Semakin meningkatnya ketergantungan ke profesional lain.

5.

Perubahan text-book dari US GAPP ke IFRS

b)

Dampak terhadap bisnis :

1.

Akses ke pendanaan internasional akan lebih terbuka karena laporan keuangan


akan lebih mudah dikomunikasikan ke investor global.

2.

Relevansi

laporan

keuangan

akan

meningkat

karena

lebih

banyak

menggunakan nilai wajar


3.

Disisi lain, kinerja keuangan (laporan laba rugi) akan lebih fluktuatif apabila
harga-harg fluktuatif

4.

Smooting incom menjadi semakin sulit dengan menggunakan balance sheet


approach dan fair value

5.

Principle-based

standars

mungkin

menyebabkan

keterbandingan

laporan

keuangan sedilit menurun yakni bila pengggunaan profesional judgment


ditumpangi dengan kepentingan untuk mengatur laba (earning management)
6.

Penggunaan off balance sheet semakin terbatas.

ETAP
(Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik )
A. Pengertian ETAP
SAK ETAP yang merupakan kepanjangan dari Standar akuntansi keuangan
untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik ditetapkan oleh ikatan akuntansi
indonesia untuk perusahaan kecil dan menengah. SAK ETAP ini dimaksudkan
agar semua unit usaha menyusun laporan keuangan sesuai dengan standar yang
telah ditetapkan.
Sesuai dengan ruang lingkup SAK ETAP maka Standar ini dimaksudkan
untuk

digunakan

akuntabilitas

oleh

publik

entitas

yang

tanpa

dimaksud

akuntabilitas
adalah

publik.

entitas

yang

Entitas
tidak

tanpa

memiliki

akuntabilitas publik signifikan; dan tidak menerbitkan laporan keuangan untuk


tujuan umum (general purpose financial statement) bagi pengguna eksternal.
Contoh pengguna eksternal adalah pemilik yang tidak terlibat langsung dalam
pengelolaan usaha, kreditur, dan lembaga pemeringkat kredit.
Lebih lanjut ruang lingkup standar ini juga menjelaskan bahwa Entitas
dikatakan

memiliki

akuntabilitas

publik

signifikan

jika

proses

pengajuan

pernyataan pendaftaran, pada otoritas pasar modal atau regulator lain untuk
tujuan penerbitan efek di pasar modal; atau entitas menguasai aset dalam
kapasitas sebagai fidusia untuk sekelompok besar masyarakat, seperti bank,
entitas asuransi, pialang dan atau pedagang efek, dana pensiun, reksa dana dan
bank investasi.
B.

Ketentuan Transisi

SAK ETAP diterbitkan tahun 2009 berlaku efektif 1 Januari 2011 dan
dapat diterapkan lebih awal yaitu 1 Januari 2010.

Diterapkan secara retrospektif, jika tidak praktis diperkenankan


prospektif.

Prospektif: Mengakui semua aset dan kewajiban sesuai SAK ETAP, Tidak
mengakui aset dan kewajiban jika tidak diijinkan oleh SAK ETAP,Mereklasifikasi
pos-pos yang sebelumnya menggunakan PSAK lama menjadi pos-pos sesuai SAK
ETAP ,Menerapkan pengukuran aset dan kewajiban yang diakui sesuai SAK ETAP.

ETAP dapat memilih tetap menggunakan PSAK IFRS atau


menggunakan SAK ETAP.

Seluruh entitas sampai dengan 31 Desember 2009 menggunakan satu


PSAK yaitu PSAK yang berlaku per 31 Desember 2009.

ETAP yang tetap memilih menggunakan PSAK IFRS tidak boleh


dikemudian hari berubah menggunakan SAK ETAP.

Entitas dengan akuntabilitas publik yang kemudian telah memenuhi


persyaratan sebagai ETAP dapat menggunakan SAK ETAP.

ETAP yang kemudian berubah menjadi bukan ETAP maka harus


menggunakan PSAK IFRS dan tidak boleh lagi menggunakan SAK ETAP.

C. Karakteristik

ETAP

1.

SAK ETAP: Standar akuntansi keuangan untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik

2.

ETAP adalah entitas yang:

a.

Tidak memiliki akuntabilitas publik signifikan; dan

b.

Menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum (general purpose financial


statement) bagi pengguna eksternal.

3.

Menggunakan acuan IFRS untuk Small Medium Enterprises.

4.

Lebih sederhana antara lain:

a.

Aset tetap, tidak berwujud menggunakan harga perolehan

b.

Entitas anak tidak dikonsolidasi tetapi sebagai investasi dengan metode


ekuitas.

c.
5.

6.

Mengacu pada praktik akuntansi yang saat ini digunakan


Kualitatif Informasi Dlm Laporan Keuangan :

Dapat Dipahami,

Relevan,

Materialitas,

Keandalan,

Substansi Mengungguli Bentuk

Pertimbangan Sehat,

Kelengkapan,

Dapat Dibandingkan,

Tepat Waktu,

Keseimbangan antara Biaya dan Manfaat.


SAK ETAP tidak mengijinkan pengakuan pos-pos dalam neraca yang tidak
memenuhi definisi aset atau kewajiban dengan mengabaikan apakah pos-pos
tersebut merupakan hasil dari penerapan matching concept.

7. Saling hapus tidak diperkenankan atas aset dengan kewajiban, atau penghasilan
dengan beban, kecuali disyaratkan atau diijinkan oleh SAK ETAP.
1

D. Manfaat SAK-ETAP
1.

Diharapkan dengan adanya SAK ETAP, perusahaan kecil, menengah, mampu


untuk :

a.

Menyusun laporan keuangannya sendiri.

b.

Dapat diaudit dan mendapatkan opini audit.

Sehingga dapat menggunakan laporan keuangannya untuk mendapatkan dana


(misalnya dariBank) untuk pengembangan usaha.
2.

Lebih sederhana dibandingkan dengan PSAK IFRS sehingga lebih mudah


dalam implementasinya.

3.

Tetap memberikan informasi yang handal dalam penyajian laporan keuangan.

E.

Penyajian Laporan Keuangan

1. Penyajian Wajar, Laporan keuangan menyajikan dengan wajar posisi keuangan,


kinerja keuangan dan arus kas suatu entitas. Penyajian wajar mensyaratkan
penyajian jujur atas pengaruh transaksi, peristiwa dan kondisi lain yang sesuai
dengan definisi dan kriteria pengakuan aset, kewajiban, penghasilan dan beban.
2. Kepatuhan Terhadap SAK ETAP, Entitas yang laporan keuangannya mematuhi SAK
ETAP harus membuat suatu pernyataan eksplisit dan secara penuh atas
kepatuhan tersebut dalam catatan atas laporan keuangan. Laporan keuangan
tidak boleh menyatakan mematuhi SAK ETAP kecuali jika mematuhi semua
persyaratan dalam SAK ETAP.
3. Kelangsungan Usaha, Pada saat menyusun laporan keuangan, manajemen
entitas yang menggunakan SAK ETAP membuat penilaian atas kemampuan
entitas menlanjutkan kelangsungan usaha.
4. Frekuensi Pelaporan, Entitas menyajikan secara lengkap laporan keuangan
(termasuk informasi komparatif) minimum satu tahun sekali.
5. Penyajian Yang Konsisten, Penyajian dan klasifikasi pos-pos dalam laporan
keuangan

antar

periode

harus

konsisten

dan

Jika

penyajian

atau

pengklasifikasian pos-pos dalam laporan keuangan diubah, maka entitas harus


mereklasifikasi jumlah komparatif kecuali jika reklasifikasi tidak praktis.
6.

Informasi Komparatif, Informasi harus diungkapkan secara komparatif dengan

periode sebelumnya kecuali dinyatakan lain oleh SAK ETAP.


7. Materialitas dan Agregasi Pos-pos yang material disajikan terpisah dalam
laporan keuangan sedangkan yang tidak material digabungkan dengan jumlah
yang memiliki sifat atau fungsi yang sejenis, Kelalaian dalam mencantumkan
atau kesalahan dalam mencatat suatu pos dianggap material jika, baik secara
individual maupun bersama-sama, dapat mempengaruhi pengguna laporan
dalam pengambilan keputusan ekonomi.
8.

Laporan

Keuangan

Laporan Keuangan Entitas Meliputi:

Lengkap,

a.

Neraca

b.

Laporan Laba Rugi

c.

Laporan Perubahan Ekuitas

d.

Laporan Arus Kas

e.

Catatan atas Laporan Keuangan

9.

Identifikasi Laporan Keuangan

a)

Entitas harus mengidentifikasikan secara jelas setiap komponen laporan


keuangan termasuk catatan atas laporan keuangan.

b)

Entitias harus mengungkapkan hal berikut ini dalam catatan atas laporan
keuangan: domisili dan bentuk hukum entitas serta alamat kantornya yang
terdaftar, penjelasan sifat operasi dan aktivitas utamanya.

1
F.
1)

Perbedaan SAK ETAP VS PSAK IFRS


Materi SAK ETAP lebih sederhana sedangkan PSAK IFRS complicated dan
rumit.

2) SAK

ETAP

cenderung

pertanggungjawaban

menggunakan

pengelola

kepada

basis

stewardship

stakeholder

sehingga

sebagai
cenderung

menggunakan prinsip reliability, sedangkan PSAK IFRS telah bergeser untuk


pemenuhan

user

dalam

pengambilan

keputusan

sehingga

cenderung

menggunakan prinsip relevan.


3)

SAK ETAP tidak mengatur pajak tangguhan

4)

SAK ETAP hanya menggunakan metode tidak langsung untuk laporan arus kas.

5)

SAK

ETAP

menggunakan

cost

model

untuk

investasi

ke

asosiasi

dan

menggunakan metode ekuitas untuk anak perusahaan.


6)

SAK ETAP tidak secara penuh menggunakan PSAK 50/55.

7)

SAK ETAP hanya menggunakan model cost untuk aset tetap, aset tidak
berwujud dan properti investasi. PSAK-IFRS boleh memilih cost model atau
model reavaluasi.
Tujuan laporan keuangan SAK-ETAP adalah menyediakan informasi keuangan,
kinerja keuangan, dan laporan arus kas suatu entitas yang bermanfaat bagi
sejumlah besar pengguna dalam pengambilan keputusan ekonomi oleh siapa
pun yang tidak dalam posisi dapat meminta khusus untuk memenuhi kebutuhan
informasi tertentu. Sedangkan tujuan laporan keuangan IFRS memberikan
informasi tentang posisi keuangan, kinerja dan perubahan posisi keuangan suatu
perusahaan yang berguna untuk berbagai penhhuna dalam membuat keputusan
ekonomi.
Tetapi antara IFRS dan SAK-ETAP memiliki persamaan yaitu ama-sama
bertujuan untuk menyediakan/memberikan informasi bagi pengguna yang
nantinya digunakan untuk membuat keputusan ekonomi.

KESIMPULAN
IFRS merupakan standar akuntansi internasional yang diterbitkan oleh
International Accounting Standard Board (IASB). Standar Akuntansi Internasional
(International Accounting Standards/IAS) disusun oleh empat organisasi utama
dunia yaitu Badan Standar Akuntansi Internasional (IASB), Komisi Masyarakat
Eropa (EC), Organisasi Internasional Pasar Modal (IOSOC), dan Federasi Akuntansi
Internasioanal (IFAC).
Tujuan

IFRS

adalah

:memastikan

bahwa

laporan

keungan

interim

perusahaan untuk periode-periode yang dimaksukan dalam laporan keuangan


tahunan, mengandung informasi berkualitas tinggi yang :
1.

Transparansi bagi para pengguna dan dapat dibandingkan sepanjang peiode


yang disajikan.

2.

Menyediakan titik awal yang memadai untuk akuntansi yang berdasarkan pada
IFRS.

3.

Dapat dihasilkan dengan biaya yang tidak melebihi manfaat untuk para
pengguna.
SAK

ETAP yang

merupakan

kepanjangan

dari

Standar

akuntansi

keuangan untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik ditetapkan oleh ikatan


akuntansi indonesia untuk perusahaan kecil dan menengah. SAK ETAP ini
dimaksudkan agar semua unit usaha menyusun laporan keuangan sesuai dengan
standar yang telah ditetapkan.

PERBEDAAN SAK ETAP VS PSAK IFRS


Materi SAK ETAP lebih sederhana sedangkan PSAK IFRS complicated dan

rumit.
SAK

ETAP

cenderung

pertanggungjawaban

menggunakan

pengelola

kepada

basis

stewardship

stakeholder

sehingga

sebagai
cenderung

menggunakan prinsip reliability, sedangkan PSAK IFRS telah bergeser untuk


pemenuhan

user

dalam

pengambilan

keputusan

sehingga

cenderung

menggunakan prinsip relevan.


SAK ETAP tidak mengatur pajak tangguhan

SAK ETAP hanya menggunakan metode tidak langsung untuk laporan arus kas.

SAK

ETAP

menggunakan

cost

model

untuk

investasi

ke

asosiasi

dan

menggunakan metode ekuitas untuk anak perusahaan.


SAK ETAP tidak secara penuh menggunakan PSAK 50/55.
SAK ETAP hanya menggunakan model cost untuk aset tetap, aset tidak
berwujud dan properti investasi. PSAK-IFRS boleh memilih cost model atau
model reavaluasi.

Tujuan laporan keuangan SAK-ETAP adalah menyediakan informasi keuangan,


kinerja keuangan, dan laporan arus kas suatu entitas yang bermanfaat bagi
sejumlah besar pengguna dalam pengambilan keputusan ekonomi oleh siapa
pun yang tidak dalam posisi dapat meminta khusus untuk memenuhi kebutuhan
informasi tertentu. Sedangkan tujuan laporan keuangan IFRS memberikan
informasi tentang posisi keuangan, kinerja dan perubahan posisi keuangan suatu
perusahaan yang berguna untuk berbagai penhhuna dalam membuat keputusan
ekonomi.
Tetapi antara IFRS dan SAK-ETAP memiliki persamaan yaitu ama-sama bertujuan
untuk

menyediakan/memberikan

informasi

bagi

pengguna

yang

nantinya

digunakan untuk membuat keputusan ekonomi.


http://sagalawira92.blogspot.co.id/2013/09/perbedaan-sak-etap-vs-psak-ifrs.html

IFRS (International Financial Accounting Standard)


PENGERTIAN IFRS
IFRS merupakan standar akuntansi internasional yang diterbitkan oleh International
Accounting Standard Board (IASB). Standar Akuntansi Internasional (International
Accounting Standards/IAS) disusun oleh empat organisasi utama dunia yaitu Badan Standar
Akuntansi Internasional (IASB), Komisi Masyarakat Eropa (EC), Organisasi Internasional
Pasar Modal (IOSOC), dan Federasi Akuntansi Internasioanal (IFAC).
SEJARAH IFRS
Pada 1982, International Financial Accounting Standard (IFAC) mendorong IASC
sebagai standar akuntansi global. Hal yang sama dilakukan Federasi Akuntan Eropa pada
1989. Pada 1995, negara-negara Uni Eropa menandatangani kesepakatan untuk menggunakan
IAS. Setahun kemudian, US-SEC (Badan Pengawas Pasar Modal AS) berinisiatif untuk mulai
mengikuti GAS. Pada 1998 jumlah anggota IFAC/IASC mencapai 140 badan/asosiasi yang
tersebar di 101 negara. Akhirnya, pertemuan menteri keuangan negara-negara yang tergabung
dalam G-7 dan Dana Moneter Internasional pada 1999 menyepakati dilakukannya penguatan
struktur keuangan dunia melalui IAS. Pada 2001, dibentuk IASB sebagai IASC. Tujuannya
untuk melakukan konvergensi ke GAS dengan kualitas yang meliputi prinsip-prinsip laporan
keuangan dengan standar tunggal yang transparan, bisa dipertanggung jawabkan, comparable,
dan berguna bagi pasar modal. Pada 2001, IASC, IASB dan SIC mengadopsi IASB. Pada
2002, FASB dan IASB sepakat untuk melakukan konvergensi standar akuntansi US GAAP
dan IFRS. Langkah itu untuk menjadikan kedua standar tersebut menjadi compatible.
Memang, hingga saat ini IFRS belum menjadi one global accounting standard.
Namun standar ini telah digunakan oleh lebih dari 150-an negara, termasuk Jepang, China,
Kanada dan 27 negara Uni Eropa. Sedikitnya, 85 dari negara-negara tersebut telah
mewajibkan laporan keuangan mereka menggunakan IFRS untuk semua perusahaan
domestik atau perusahaan yang tercatat (listed). Bagi Perusahaan yang go international atau
yang memiliki partner dari Uni Eropa, Australia, Russia dan beberapa negara di Timur
Tengah memang tidak ada pilihan lain selain menerapkan IFRS.
Proses yang panjang tersebut akhirnya menjadi apa yang disebut IFRS, yang merupakan
suatu tata cara bagaimana perusahaan menyusun laporan keuangannya berdasarkan standar
yang bisa diterima secara global. Jika sebuah negara beralih ke IFRS, artinya negara tersebut
sedang mengadopsi bahasa pelaporan keuangan.

1.
2.

3.

Tujuan IFRS adalah memastikan bahwa laporan keuangan dan laporan keuangan interim
perusahaan untuk periode-periode yang dimaksud dalam laporan keuangan tahunan,
mengandung informasi berkualitas tinggi yang:
1.
Transparan bagi para pengguna dan dapat dibandingkan sepanjang periode
yang disajikan.
2.
Menyediakan titik awal yang memadai untuk akuntansi yang berdasarkan pada
IFRS.
3.
Dapat dihasilkan dengan biaya yang tidak melebihi manfaat untuk para
pengguna.
Secara garis besar ada empat hal pokok yang diatur dalam standar akuntansi :
Definisi elemen laporan keuangan atau informasi lain yang berkaitan.
Definisi digunakan dalam standar akuntansi untuk menentukan apakah transaksi tertentu
harus dicatat dan dikelompokkan ke dalam aktiva, hutang, modal, pendapatan dan biaya.
Pengukuran dan penilaian.
Pedoman ini digunakan untuk menentukan nilai dari suatu elemen laporan keuangan baik
pada saat terjadinya transaksi keuangan maupun pada saat penyajian laporan keuangan (pada
tanggal neraca).
Pengakuan
Merupakan kriteria yang digunakan untuk mengakui elemen laporan keuangan sehingga elemen
tersebut dapat disajikan dalam laporan keuangan.

4.

Penyajian dan pengungkapan laporan keuangan

Komponen keempat ini digunakan untuk menentukan jenis informasi dan bagaimana
informasi tersebut disajikan dan diungkapkan dalam laporan keuangan. Suatu informasi dapat
disajikan dalam badan laporan (Neraca, Laporan Laba/Rugi) atau berupa penjelasan (notes)
yang menyertai laporan keuangan
Kerangka Dasar Penyusunan Laporan Keuangan Berdasar IFRS
Elemen Laporan Keuangan
1.
Neraca
2.
Laporan Laba Komperhensif
3.
Laporan Perubahan Ekuitas
4.
Laporan Arus Kas
5.
Catatan Atas Laporan Keuangan
6.
Laporan Posisi Keuangan pada Perioda Komparatif
Basis Pengukuran
1.
Biaya Perolehan
2.
Biaya Kini
3.
Nilai Realisasi dan Penyelesaian
4.
Nilai Sekarang.
Konversi PSAK ke IFRS
Sesuai dengan roadmap konvergensi PSAK ke IFRS (International Financial Reporting
Standart) maka saat ini Indonesia telah memasuki tahap persiapan akhir (2011) setelah
sebelumnya melalui tahap adopsi (2008 2010). Hanya setahun saja IAI (Ikatan Akuntan
Indonesia) menargetkan tahap persiapan akhir ini, karena setelah itu resmi per 1 Januari 2012
Indonesia menerapkan IFRS.
Dengan adanya standar global tersebut memungkinkan keterbandingan dan pertukaran
informasi secara universal. Konvergensi IFRS dapat meningkatkan daya informasi dari
laporan keuangan perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia. Adopsi standar internasional
juga sangat penting dalam rangka stabilitas perekonomian.

Manfaat dari program konvergensi IFRS diharapkan akan mengurangi hambatantanhambatan investasi, meningkatkan transparansi perusahaan, mengurangi biaya yang terkait
dengan penyusunan laporan keuangan, dan mengurangi cost of capital. Sementara tujuan
akhirnya laporan keuangan yang disusun berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan (SAK)
hanya akan memerlukan sedikit rekonsiliasi untuk menghasilkan laporan keuangan
berdasarkan IFRS.
Sasaran konvergensi IFRS tahun 2012 adalah merevisi PSAK agar sesuai dengan IFRS versi
1 Januari 2009 yang berlaku efektif tahun 2011/2012 dan konvergensi IFRS di Indonesia
dilakukan secara bertahap.
Manfaat Konvergensi IFRS :
1. Memudahkan pemahaman atas laporan keuangan dengan penggunaan Standar Akuntansi
keuangan yang dikenal secara internasional
2. Meningkatkan arus investasi global melalui transparansi
3. Menurunkan modal dengan membuka peluang fund raising melalui pasar modal secara
global.
Standar akuntansi keuangan (sak)
Pengertian SAK
Standar Akuntansi Keuangan (SAK) adalah suatu kerangka dalam prosedur pembuatan laporan
keuangan agar terjadi keseragaman dalam penyajian laporan keuangan. Standar Akuntansi
Keuangan (SAK) merupakan hasil perumusan Komite Prinsipil Akuntansi Indonesia pada tahun 1994
menggantikan Prinsip Akuntansi Indonesia tahun 1984. SAK di Indonesia menrupakan terapan dari
beberapa standard akuntansi yang ada seperti, IAS,IFRS,ETAP,GAAP. Selain itu ada juga PSAK
syariah dan juga SAP.
Selain untuk keseragaman laporan keuangan, Standar akuntansi juga diperlukan untuk memudahkan
penyusunan laporan keuangan, memudahkan auditor serta Memudahkan pembaca laporan
keuangan untuk menginterpretasikan dan membandingkan laporan keuangan entitas yang berbeda.
Di Indonesia SAK yang diterapkan akan berdasarkan IFRS pada tahun 2012 mendatang.

Sejarah SAK
Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) sebagai wadah profesi akuntansi di Indonesia selalu tanggap
terhadap perkembangan yang terjadi, khususnya dalam hal-hal yang memengaruhi dunia
usaha dan profesi akuntan. Hal ini dapat dilihat dari dinamika kegiatan pengembangan
standar akuntansi sejak berdirinya IAI pada tahun 1957 hingga kini. Setidaknya, terdapat
tiga tonggak sejarah dalam pengembangan standar akuntansi keuangan di Indonesia.
Tonggak sejarah pertama, menjelang diaktifkannya pasar modal di Indonesia pada tahun
1973. Pada masa itu merupakan pertama kalinya IAI melakukan kodifikasi prinsip dan
standar akuntansi yang berlaku di Indonesia dalam suatu buku Prinsip Akuntansi Indonesia
(PAI).
Kemudian, tonggak sejarah kedua terjadi pada tahun 1984. Pada masa itu, komite PAI
melakukan revisi secara mendasar PAI 1973 dan kemudian mengkondifikasikannya dalam
buku Prinsip Akuntansi Indonesia 1984 dengan tujuan untuk menyesuaikan ketentuan
akuntansi dengan perkembangan dunia usaha.
Berikutnya pada tahun 1994, IAI kembali melakukan revisi total terhadap PAI 1984 dan
melakukan kodifikasi dalam buku Standar Akuntansi Keuangan (SAK) per 1 Oktober 1994.
Sejak tahun 1994, IAI juga telah memutuskan untuk melakukan harmonisasi dengan standar
akuntansi internasional dalam pengembangan standarnya. Dalam perkembangan
selanjutnya, terjadi perubahan dari harmonisasi ke adaptasi, kemudian menjadi adopsi
dalam rangka konvergensi dengan International Financial Reporting Standards (IFRS).
Program adopsi penuh dalam rangka mencapai konvergensi dengan IFRS direncanakan
dapat terlaksana dalam beberapa tahun ke depan.

Dalam perkembangannya, standar akuntansi keuangan terus direvisi secara


berkesinambungan, baik berupa berupa penyempurnaan maupun penambahan standar
baru sejak tahun 1994. Proses revisi telah dilakukan enam kali, yaitu pada tanggal 1
Oktober 1995, 1 Juni 1996, 1 Juni 1999, 1 April 2002, 1 Oktober 2004, dan 1 September
2007. Buku Standar Akuntansi Keuangan per 1 September 2007 ini di dalamnya sudah
bertambah dibandingkan revisi sebelumnya yaitu tambahan KDPPLK Syariah, 6 PSAK baru,
dan 5 PSAK revisi. Secara garis besar, sekarang ini terdapat 2 KDPPLK, 62 PSAK, dan 7
ISAK.
Untuk dapat menghasilkan standar akuntansi keuangan yang baik, maka badan
penyusunnya terus dikembangkan dan disempurnakan sesuai dengan kebutuhan. Awalnya,
cikal bakal badan penyusun standar akuntansi adalah Panitia Penghimpunan Bahan-bahan
dan Struktur dari GAAP dan GAAS yang dibentuk pada tahun 1973. Pada tahun 1974
dibentuk Komite Prinsip Akuntansi Indonesia (PAI) yang bertugas menyusun dan
mengembangkan standar akuntansi keuangan. Komite PAI telah bertugas selama empat
periode kepengurusan IAI sejak tahun 1974 hingga 1994 dengan susunan personel yang
terus diperbarui. Selanjutnya, pada periode kepengurusan IAI tahun 1994-1998 nama
Komite PAI diubah menjadi Komite Standar Akuntansi Keuangan (Komite SAK).
Kemudian, pada Kongres VIII IAI tanggal 23-24 September 1998 di Jakarta, Komite SAK
diubah kembali menjadi Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) dengan diberikan
otonomi untuk menyusun dan mengesahkan PSAK dan ISAK. Selain itu, juga telah dibentuk
Komite Akuntansi Syariah (KAS) dan Dewan Konsultatif Standar Akuntansi Keuangan
(DKSAK). Komite Akuntansi Syariah (KAS) dibentuk tanggal 18 Oktober 2005 untuk
menopang kelancaran kegiatan penyusunan PSAK yang terkait dengan perlakuan akuntansi
transaksi syariah yang dilakukan oleh DSAK. Sedangkan DKSAK yang anggotanya terdiri
atas profesi akuntan dan luar profesi akuntan, yang mewakili para pengguna, merupakan
mitra DSAK dalam merumuskan arah dan pengembangan SAK di Indonesia.
Unsur-unsur Laporan Keuangan
Unsur laporan keuangan yang berkaitan secara langsung dengan pengukuran posisi keuangan
adalah aset, kewajiban dan ekuitas. Sedangkan unsur yang berkaitan dengan pengukuran kinerja
dalam laporan laba rugi adalah penghasilan dan beban.
Definisi dari setiap unsur laporan keuangan tersebut adalah sebagai berikut :
1.
Aset adalah sumber daya yang dikuasai oleh perusahaan sebagai akibat dari
peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi di masa depan diharapkan akan
diperoleh perusahaan
2.
Kewajiban adalah hutang perusahaan masa kini yang timbul dari peristiwa masa lalu,
penyelesaiannya diharapkan mengakibatkan arus keluar dari sumber daya perusahaan yang
mengandung manfaat ekonomi.
3.
Ekuitas adalah hak residual atas aset perusahaan setelah dikurangi semua
kewajiban
4.
Penghasilan adalah kenaikan manfaat ekonomi selama suatu periode akuntansi
dalam bentuk pemasukan atau penambahan aset atau penurunan kewajiban yang
mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi penanam modal
5.
Beban adalah penurunan manfaat ekonomi selama suatu periode akuntansi dalam
bentuk arus kas keluar atau berkurangnya aset atau terjadinya kewajiban yang
mengakibatkan penurunan ekuitas yang tidak menyangkut pembagian kepada penanam
modal.
Kesimpulan :
Jadi, perbedaan yang terdapat pada IFRS dan SAK adalah :

IFRS merupakan standar akuntansi internasional yang diterbitkan olehInternational


Accounting Standard Board (IASB). Standar Akuntansi Internasional (International

Accounting Standards/IAS) disusun oleh empat organisasi utama dunia yaitu Badan Standar
Akuntansi Internasional (IASB), Komisi Masyarakat Eropa (EC), Organisasi Internasional
Pasar Modal (IOSOC), dan Federasi Akuntansi Internasioanal (IFAC).

SAK merupakan terapan dari beberapa standard akuntansi yang ada seperti,
IAS,IFRS,ETAP,GAAP. Selain itu ada juga PSAK syariah dan juga SAP.

Sumber :
http://syahrezamarasutanpohan.wordpress.com/2012/03/23/ifrs-international-financialaccounting-standard/

http://imanfreelance.blogspot.com/2011/04/pengakuan-unsur-unsur-laporan-keuangan.html
dhiasitsme.wordpress.com/2011/10/25/standar-akuntansi-keuangan-sak/
http://hernisetya14.blogspot.co.id/

Standar Akuntansi
Keuangan (SAK)
Posted on Oktober 25, 2011 by dhika augustyas

Pengertian SAK
Standar Akuntansi Keuangan (SAK) adalah suatu kerangka
dalam prosedur pembuatan laporan keuangan agar terjadi
keseragaman dalam penyajian laporan keuangan. Standar
Akuntansi Keuangan (SAK) merupakan hasil perumusan
Komite Prinsipil Akuntansi Indonesia pada tahun 1994
menggantikan Prinsip Akuntansi Indonesia tahun 1984. SAK di
Indonesia menrupakan terapan dari beberapa standard
akuntansi yang ada seperti, IAS,IFRS,ETAP,GAAP. Selain itu
ada juga PSAK syariah dan juga SAP.
Selain untuk keseragaman laporan keuangan, Standar
akuntansi juga diperlukan untuk memudahkan penyusunan
laporan keuangan, memudahkan auditor serta Memudahkan
pembaca laporan keuangan untuk menginterpretasikan dan

membandingkan laporan keuangan entitas yang berbeda. Di


Indonesia SAK yang diterapkan akan berdasarkan IFRS pada
tahun 2012 mendatang.
Pada PSAK-IFRS, SAK ETAP ditetapkan oleh Dewan Standar
Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia. PSAK Syariah
diterbitkan oleh Dewan Akuntansi Syariah sedangkanSAP oleh
Komite Standar Akuntansi Pemerintah.
Berikut ini penjelasan dari macam-macam SAK tersebut :
1. PSAK-IFRS
PSAK-IFRS akan diterapkan secara utuh pada tahun 2012.
Saat ini masih dalam proses konvergensi. Proses ini melalui
tahap adopsi pada tahun 2008-2010 kemudian tahun ini
memasuki tahap persiapan akhir sebelum tahap implementasi
di tahun 2012.Pada PSAK ini wajib diterapkan untuk entitas
dengan akuntabilitas public seperti : Emiten, perusahaan
publik, perbankan, asuransi, dan BUMN. Tujuan dari PSAK ini
adalah memberikan informasi yang relevan bagi user laporan
keuangan.
Lalu Kenapa Indonesia mengadopsi IFRS ?
Indonesia mengadopsi IFRS karena Indonesia adalah bagian
dari IFAC yang sudah pasti harus mematuhi SMO(Statement
Membership Obligation) yang menjadikan IFRS sebagai
accounting standard. Selain itu konvergensi IFRS adalah
kesepakatan pemerintah Indonesia sebagai anggota G20

Forum. Pada pertemuan pemimpin G20 di Wahington DC, pada


15 November 2008 didapati hasil : Strengthening
Transparency and Accountability yang kemudian pada 2 April
2009 di London pertemuan tersebut menghasilkan
kesepakatan untuk : Strengthening Financial Supervision and
Regulation to call on the accounting standard setters to work
urgently with supervisors and regulators to improve standards
on valuation and provisioning and achieve a single set of high
quality global accounting standards.
MANFAAT IFRS
Manfaat dari penerapan IFRS sebagai berikut :
1. Meningkatkan daya banding laporan keuangan
2. Memberikan informasi yang berkualitas di pasar modal
Internasional
3. Menghilangkan hambatan arus modal Internasional
dengan mengurangi perbedaan dalam ketentuan
pelaporan keuangan
4. Mengurangi biaya pelaporan keuangan perusahaan
multinasional dan biaya untuk analisis keuangan bagi para
analis
5. Meningkatkan kualitas pelaporan keuangan menuju best
practice
Jadi walaupun Indonesia harus menyesuaikan standard
keuangan dengan IFRS namun hal ini akan mempermudah
untuk pelaporan keuangan meskipun aka nada perubahan-

perubahan dalam penyusunan laporan keuangan itu sendiri


yang bersifat menyuluruh.
Karakter IFRS
IFRS menggunakan Principles Base yaitu :

Lebih menekankan Interpretasi dan aplikasi atas standar


sehingga harus berfokus pada spirit penerapan prinsip
tersebut

Standard membutuhkan penilaian atas substansi transaksi


dan evaluasi apakah presentasi akuntansi mencerminkan
realitas ekonomi

Membutuhkan professional judgement pada penerapan


standard akuntansi.

IFRS juga menggunakan fair value dalam penilaian, jika tidak


ada nilai pasar aktif harus melakukan penilaian sendiri atau
menggunakan jasa penilai. Selain itu IFRS mengharuskan
pengungkapan(disclosure) yang lebih banyak baik kwantitatif
maupun kualitatif.
2. SAK-ETAP
SAK ETAP adalah Standard akuntansi keuangan untuk Entitas
Tanpa Akuntabilitas Publik. ETAP yaitu Entitas yang tidak
memiliki akuntabilitas publik yang signifikan serta menerbitkan
laporan keuangan untuk tujuan umum bagi pengguna
eksternal.

ETAP menggunakan acuan IFRS untuk Small Medium


Enterprises. SAK-ETAP diterbitkan pada tahun 2009 dan
berlaku efektif 1 Januari 2011 dan dapat diterapkan pada 1
Januari 2010. SAK ini diterapkan secara retrospektif namun jika
tidak praktis dapat diterapkan secara prospektif yang berarti
mengakui semua asset dan kewajiban sesuai SAK ETAP juga
tidak mengakui asset dan kewajiban jika tidak diizinkan oleh
SAK-ETAP, selain itu Mereklasifikasi pos-pos yang sebelumnya
menggunakan PSAK lama menjadi pos-pos sesuai SAK-ETAP
juga menerapkan pengukuran asset dan kewajiban yang diakui
SAK ETAP.
Manfaat SAK ETAP
Dengan adanya SAK ETAP diharapkan perusahaan kecil dan
menangah dapat untuk menyusun laporan keuangannya sendiri
juga dapat diaudit dan mendapatkan opini audit, sehingga
perusahaan dapat menggunakan laporan keuangannya untuk
mendapatkan dana untuk pengembangan usahanya.
Manfaat lain dari SAK ETAP antara lain :
1. Lebih mudah implementasinya dibandingkan PSAK-IFRS
karena lebih sederhana
2. Walaupun sederhana namun tetap dapat memberikan
informasi yang handal dalam penyajian laporan keuangan
3. Disusun dengan mengadopsi IFRS for SME dengan
modifikasi sesuai dengan kondisi di Indonesia serta
dibuat lebih ringkas

4. SAK ETAP masih memerlukan profesional judgement


namun tidak sebanyak untuk PSAK-IFRS
5. Tidak ada perubahan signifikan dibandingkan dengan
PSAK lama, namun ada beberapa hal yang
diadopsi/modifikasi dari IFRS/IAS
SAK ETAP terdiri dari 30 Bab dan daftar istilah yang
mempermudah untuk memahami SAK ini.
3. PSAK Syariah
PSAK Syariah digunakan oleh entitas yang melakukan
transaksi syariah baik entitas lembaga syariah maupun
lembaga non syariah. Dalam PSAK Syariah ini pengembangan
dilakukan dengan model PSAK umum namun psak ini berbasis
syariah dengan acuan fatwa MUI.
PSAK Syariah berada dalam PSAK 100-106 yang terdiri dari :
1. Kerangka Konseptual
2. Penyajian Laporan Keuangan Syariah
3. Akuntansi Murabahah
4. Musyarakah
5. Mudharabah
6. Salam
7. Istishna
4. SAP
SAP adalah Standar Akuntansi Pemerintah yang diterbitkan
oleh Komite Standar Akuntansi Pemerintahan. SAP ini

ditetapkan sebagai PP(Peraturan Pemerintah) yang diterapkan


untuk entetitas pemerintah dalam menyusun Laporan
Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) dan Laporan Keuangan
Pemerintah Daerah (LKPD).
SAP diterapkan dengan PP Nomor 24 Tahun 2005 tanggal 13
Juni 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (PP SAP).
Penyusunan SAP melalui tahapan-tahapan seperti :
1. Identifikasi Topik untuk Dikembangkan Menjadi Standar
2. Pembentukan Kelompok Kerja (Pokja) di dalam KSAP
3. Riset Terbatas oleh Kelompok Kerja
4. Penulisan draf SAP oleh Kelompok Kerja
5. Pembahasan Draf oleh Komite Kerja
6. Pengambilan Keputusan Draf untuk Dipublikasikan
7. Peluncuran Draf Publikasian SAP (Exposure Draft)
8. Dengar Pendapat Terbatas (Limited Hearing) dan Dengar
Pendapat Publik (Public Hearings)
9. Pembahasan Tanggapan dan Masukan Terhadap Draf
Publikasian
10.

Finalisasi Standar

Jadi SAP disusun hanya untuk instalasi kepemerintahan baik


pusat maupun daerah untuk menyusun laporan keuangan
dalam pemerintahan. Dan diharapkan dengan adanya SAP
maka akan ada transparansi, parisipaso dan akuntabilitas
pengelolaan keuangan Negara sehingga dapat mewujudkan
pemerintahan yang baik.

http://staff.blog.ui.ac.id/martani/files/2011/03/StandarAkuntansi-Keuanan-Entitas-Tanpa-AkuntanbilitasPublik-SAK-ETAP.pdf

https://dhiasitsme.wordpress.com/2011/10/25/standar-akuntansi-keuangan-sak/