Anda di halaman 1dari 41

LAPORAN KASUS

Wanita 58 tahun dengan radikulopati lumbal et causa Hernia Nukleus


Pulposus (HNP) Lumbal IV-V

Pembimbing :
Dr. Denny Raharjono, Sp.S

Disusun Oleh:
Annisa Nurfitriana
Meli Amalia
Sigit Nur Aziz

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR BAGIAN ILMU PENYAKIT SYARAF


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MALAHAYATI
RSUD CIAMIS
2016
1

BAB I
STATUS PASIEN

A. IDENTITAS
Nama lengkap

: Ny. Sopiah

No. Rekam medis

: 367233

Jenis kelamin

: Perempuan

Usia

: 58 tahun

Alamat

: Kp. Cijulang RT 10/13, Kabupaten Ciamis

Pekerjaan

: Ibu rumah tangga

Agama

: Islam

Status marital

: Menikah

Pendidikan terakhir

: SMP (Tamat)

Tanggal MRS

: 27 Januari 2016

Tanggal periksa

: 28 Januari 2016

B. ANAMNESIS
1. Keluhan Utama
Nyeri di bokong bagian bawah sebelah kanan
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Nyeri di bokong bagian bawah sebelah kanan sudah di rasakan sejak tahun
2004 (11 tahun yang lalu). Nyeri dirasakan hilang timbul dan terasa makin
lama makin memberat. Nyeri timbul terutama bila digunakan beraktivitas
seperti bekerja, berjalan lama, jongkok lama. Dengan berjalan 10 meter OS
sudah mulai merasakan nyeri. Nyeri berkurang bila istirahat dan tidur. Nyeri
seperti di bagian dalam bokong terasa seperti pegal-pegal. Kadang-kadang
nyeri ini seperti menjalar ke kaki kanan dan kiri, hingga kedua kaki terasa baal
dan seperti kesemutan. Kadang kaki terasa sangat pegal dan telapak kaki juga
terasa baal. Nyeri tidak disertai penurunan kekuatan bergerak, hanya saja rasa
nyeri ini mengganggu dalam aktivitas sehari-hari. Keluhan tidak dirasakan
pada ekstremitas bagian atas.
2

Saat ini pasien mengeluhkan adanya kesulitan BAB, hal ini sudah dirasakan
sejak 2 tahun terakhir. OS merasakan adanya keinginan untuk BAB namun jika
BAB OS harus mengedan dengan kuat serta kadang-kadang harus di congkel
dengan jari. Konsistensi tinja cukup keras, tidak ada darah/lendir, dan tidak ada
nyeri saat BAB. OS juga mengeluhkan sering tidak dapat menahan BAK.
Tidak ada keluhan mual, muntah, nyeri kepala, pusing berputar, gangguan
menelan, gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, demam, nafsu makan
turun, BAB turun, kesulitan tidur.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Pada tahun 2002 saat bekerja di sawah OS merasakan punggung seperti tertarik
kemudian OS berobat ke Poli Saraf di RSU Ciamis lalu dirujuk ke Poli Bedah.
Setelah menjalani pengobatan selama 2 tahun keluhan tidak berkurang
kemudian OS dirujuk ke Poli Bedah Tulang di RSU Tasikmalaya kemudian OS
disarankan untuk melakukan MRI di Bandung. Setelah dilakukan MRI, OS
disarankan oleh dokter untuk melakukan fisioterapi. Fisioterapi dilakukan
selama 3 bulan saja karena OS merasa tidak ada perubahan. Setelah itu OS
tidak mengobati penyakitnya ke dokter hanya menggunakan pengobatan
alternatif seperti dipijit.
Pada tahun 2014 OS pernah menjalani operasi prolaps uteri.
Riwayat penyakit DM, hipertensi, penyakit jantung, ginjal dan penyakit hati
juga tidak ada. Riwayat trauma tidak ada.
4. Riwayat Pengobatan
Selama menderita penyakit ini OS meminum obat-obatan yang disarankan oleh
dokter saja, tidak meminum obat-obatan tradisional.
5. Riwayat Penyakit Keluarga
Di keluarga tidak ada yang mengeluhkan hal sama
6. Riwayat Alergi
Tidak ada alergi makanan, obat-obatan atau cuaca
7. Riwayat Habituasi
Sejak usia 20 tahun OS bekerja di sawah sebagai petani. OS sering
melakukan aktivitas jongkok-berdiri, berdiri dengan mencondongkan badan ke
depan dan membawa beban berat. Selain itu, sebagai ibu rumah tangga OS
3

melakukan pekerjaan seperti memasak, mencuci, menyetrika dan lain-lain. OS


mulai tidak bekerja pada tahun 2008 (6 tahun setelah pertama kali OS
merasakan nyeri di bokong).
Merokok dan konsumsi alkohol tidak ada. Olahraga jarang.
C. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum : Tampak sakit ringan
Kesadaran

: Compos mentis

GCS

: E4V5M6 (15)

Vital sign

Tekanan darah

: 110/70 mmHg

Nadi

: 84 kali per menit

Respirasi

: 21 kali per menit

Suhu

: 37,1oC

1. Pemeriksaan Generalisata
a. Kepala

Bentuk

: Normosefal

Wajah

: Simetris

Rambut

: Hitam keabuan, lebat, tidak mudah rontok

Mata

: Konjungtiva anesmis (-/-); Sklera ikterik (-/-); Pupil


bulat isokor; Reflek cahaya langsung (+/+), tidak
langsung (+/+); oedem palpebra (-/-)

Hidung

: Deviasi septum (-); Epistaksis (-/-); Sekret (-/-); PCH (-)

Telinga

: Aurikula normal; MAE lapang; MT tidak diperiksa

Mulut

: Simetris; Lidah simetris, tidak kotor; Sianosis (-); Faring


dan laring tidak diperiksa

b. Leher

Trakea di tengah, tidak tampak pembesaran, kuduk kaku (-)

JVP

: Tidak diperiksa

KGB

: Tidak teraba

Tiroid

: Tidak ada pembesaran

c. Thoraks

Inspeksi

: Bentuk normal; Gerak simetris; Jejas (-); Massa (-)


Retraksi intercostal (-/-)

Palpasi

: Nyeri tekan (-/-); Krepitasi (-/-); VF kanan = kiri

Perkusi

: Sonor seluruh lapang paru

Auskultasi

: VBS (+/+), RBK (-/-), RBH (-/-), Wh (-/-)


BJ I-II murni, reguler, gallop (-), murmur (-)

d. Abdomen

Inspeksi

: Cembung; Jejas (-); Massa (-)

Auskultasi

: BU (+) normal

Palpasi

: Soepel; NT (-), NL (-), DM (-); Hepar tt; Lien tt

Perkusi

: Timpani

e. Genitalia
Tidak diperiksa
f. Ekstremitas

CRT < 2 detik

Oedem pretibial (-/-)

Sianosis (-/-)

g. Rectal Toucher (Posisi LLD)

Tonus sfingter ani

: Lemah, saat mengedan tidak ada relaksasi

Ampulla recti

: Mukosa licin, kolaps, tidak teraba massa,


nyeri tekan (-)

Tinja (-)

2. Pemeriksaan Neurologis
a. Rangsang meningeal

Kaku kuduk

: (-)

Kernig sign

: (-)
5

Lasegue test

: (-/-)

b. Pemeriksaan khusus

Bragard test

: (-/-)

Patrick test

: (-/-)

Kontra patrick test

: (-/-)

c. Fungsi nervus kranial


NERVUS I
Normosmia
Anosmia
Parosmia
Hiposmia
NERVUS II
Visus
Lapang pandang
Hemianopsia
Fundus okuli
NERVUS III, IV, VI
Gerakan bola mata
Nistagmus
Pupil (bentuk & ukuran)
Reflek cahaya direct
Reflek cahaya indirect
Fenomena Dolls eye
Strabismus
NERVUS V
Motorik
Membuka dan menutup mulut
Palpasi otot masseter dan
temporalis
Kekuatan gigitan
Sensorik
Kulit
Selaput Lendir
Refleks Kornea
Langsung
Tidak Langsung
Refleks Masseter
Refleks Bersin
NERVUS VII
Motorik
Mimik
Kerut kening
Menutup mata
Meniup Sekuatnya
Memperlihatkan Gigi

Meatus Nasi Dextra


+
Oculi Dextra
Tidak diperiksa
Normal
Tidak diperiksa
Oculi Dextra
Baik
Bulat uk. 3mm
+
+
Dextra

Meatus Nasi Sinistra


+
Oculi Sinistra
Tidak diperiksa
Normal
Tidak diperiksa
Oculi Sinistra
Baik
Bulat uk. 3mm
+
+
Sinistra

+
+

+
+

Sedang
Tidak diperiksa

Sedang
Tidak diperiksa

+
+

+
+
Tidak diperiksa
Tidak diperiksa

Tidak diperiksa
Tidak diperiksa

Dextra

Sinistra

+
+
+
+
+
+

+
+
+
+
+
+

Tertawa
Sensorik
Pengecapan 2/3 depan lidah
Produksi kelenjar ludah
Hiperakusis
Refleks stapedial
NERVUS VIII
Auditorius
Pendengaran
Test Rinne
Test Weber
Test schwabach
Vestibularis
Nistagmus
Reaksi Kalori
Vertigo
Tinnitus
NERVUS IX, X
Pallatum Mole
Uvula
Disfagia
Disatria
Disfonia
Refleks Muntah
Pengecapan 1/3 Belakang Lidah
NERVUS XI
Mengangkat bahu
Fungsi otot sternocleidomastoideus
NERVUS XII
Lidah
Tremor
Atrofi
Fasikulasi
Ujung Lidah Sewaktu Istirahat
Ujung Lidah Sewaktu Dijulurkan

Tidak diperiksa
Tidak diperiksa
Tidak diperiksa
Tidak diperiksa

Tidak diperiksa
Tidak diperiksa
Tidak diperiksa
Tidak diperiksa

Dextra

Sinistra

Dalam batas normal


Tidak diperiksa
Tidak diperiksa
Tidak diperiksa

Dalam batas normal


Tidak diperiksa
Tidak diperiksa
Tidak diperiksa

Tidak diperiksa
-

Tidak diperiksa
-

Medial
Medial
Tidak diperiksa
Tidak diperiksa
Dextra
Baik
Baik

Sinistra
Baik
Baik

Medial
Medial

d. Sistem motorik
Trofi
: (-)
Tonus Otot
o Hipotoni
: (-/-)
o Hipertoni
: (-/-)
Kekuatan Otot
:
5
Sikap (Duduk-Berbaring-Berbaring)
5
Gerakan Spontan Abnormal
7

5
5

: berbaring

o
o
o
o
o

Tremor
Khorea
Ballismus
Mioklonus
Atetosis
o Distonia
o Spasme
o Tic

: (-)
: (-)
: (-)
: (-)
: (-)
: (-)
: (-)
: (-)

e. Sistem sensorik

Sensasi raba

: Superior +/+ Inferior +/+

Sensasi tekan

: Superior +/+ Inferior +/+

Sensasi nyeri

: Superior +/+ Inferior +/+

f. Reflek fisiologis

Biseps

: (+/+)

Triseps

: (+/+)

Brachioradialis

: (+/+)

APR

: (+/+)

KPR

: (+/+)

g. Reflek patologis

Hoffman-Trommner : (-/-)

Babbinski

: (-/-)

Chaddock

: (-/-)

Gordon

: (-/-)

Oppenheim

: (-/-)

Schaeffer

: (-/-)

Refleks primitif

: (-/-)

h. Koordinasi
Lenggang

: Tidak dilakukan pemeriksaan

Bicara

: Tidak dilakukan pemeriksaan

Menulis

: Tidak dilakukan pemeriksaan

Percobaan apraksia

: Tidak dilakukan pemeriksaan

Mimik

: Tidak dilakukan pemeriksaan

Test Telunjuk Telunjuk

: Tidak dilakukan pemeriksaan


8

Test Telunjuk Hidung

: Tidak dilakukan pemeriksaan

Diadokhokinesia

: Tidak dilakukan pemeriksaan

Test tumit lutut

: Tidak dilakukan pemeriksaan

Test Romberg

: Tidak dilakukan pemeriksaan

i. Fungsi Vegetatif

Vasomotorik
Sudomotorik
Pilo-erektor
Miksi
Defekasi
Potensi dan Libido

: Dalam batas normal


: Dalam batas normal
: Tidak diperiksa
: Inkontinensa uri (kadang)
: Inkontinensia tidak ada, mengedan kuat
: Tidak diperiksa

j. Fungsi Luhur

Kesadaran Kualitatif
Ingatan Baru
Ingatan Lama
Orientasi
o Diri
o Tempat
o Waktu
o Situasi
Intelegensia
Daya Pertimbangan
Reaksi Emosi
Afasia
o Ekspresif
o Represif
Apraksia
Agnosia
o Agnosia visual
o Agnosia jari jari
o Akalkulia
o Disorientasi kanan kiri
k. Pemeriksaan Vertebrae
Bentuk
Pergerakan
o Leher
o Pinggang

: Compos Mentis
: baik
: baik
: baik
: baik
: baik
: baik
: baik
: baik
: baik
: baik
: baik
: (-)
: (-)
: (-)
: (-)
: (-)
: Skoliosis
: Dalam batas normal
: Dalam batas normal

D. DIAGNOSIS BANDING
1. Radikulopati lumbal e.c Hernia Nukleus Pulposus (HNP)
9

2. Radikulopati lumbal e.c Canalis Stenosis


E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan Darah Lengkap
Hematologi

Hemoglobin

: 12,2 gr/dL

Hematokrit

: 35,7 %

Leukosit

: 5,9 103/uL

Trombosit

: 260 103/uL

Kimia Darah

Gula darah sewaktu

: 99 mg/dL

Asam urat

: 3,03 mg/dL

Kolesterol total

: 191 mg/dL

Kolesterol HDL

: 47 mg/dL

Kolesterol LDL

: 110,2 mg/dL

Trigliserida

: 169 mg/dL

Elektrolit

Natrium

: 142 mmol/L

Kalium

: 3,6 mmol/L

Clorida

: 107 mmol/L

Kalsium

: 9,2 mmol/L

2. MRI pada Desember 2004

10

11

12

F. DIAGNOSIS KERJA
Radikulopati lumbal e.c Hernia Nukleus Pulposus (HNP) Lumbal IV-V
G. PENATALAKSANAAN
1. Penatalaksanaan Umum

Tirah baring

Pasien di edukasi agar tidak melakukan aktivitas yang memperberat kerja


tulang belakang

2. Penatalaksanaan Khusus

IVFD Kaen 3B 20 tpm


13

Neurobion 5000 1x1 amp iv

Natrium diclofenac 50 mg 2x1 po

Pregabalin 75 mg 1-0-2 po

Kalmeco 500 mg 3x1 po

Tramadol 3x1 tab po

Paracetamol 500 mg 3x1 po

H. FOLLOW UP
PERJALANAN PENYAKIT

PENATALAKSANAAN

HARI KE 1
S/
Nyeri di bagian bokong, menjalar dari pinggang
ke kaki kanan dan kiri. Kebas dan baal masih
kadang terasa sampai telapak kaki. BAB masih
sulit.
O/
Kesadaran : Compos Mentis
GCS
: E4V5M6
Vital sign:
TD : 110/70 mmHg
Nadi : 84 x/menit
Suhu : 37,1C
R. meningeal
: (-)
R. Motorik

R. Sensorik

R. Fisiologis

R. Patologis

Fx Nervus Cranialis
Fx Luhur
Fx Vegetatif

: DBN
: Baik
: BAB belum

5
5
+
+
+
+
-

P/

5
5
+
+
+
+
-

A/
Radikulopati Lumbal e.c HNP Lumbal IV-V dari
MRI
HARI KE 2
14

P/

Tirah baring total


IVFD Kaen 3B 20 tpm
Neurobion 5000 1x1 amp
Na. Diclophenac 50mg 2x1
Pregabalin 75mg 1-0-2
Kalmeco 500 3x1
Tramadol 3x1
PCT 3x1
Fisioterapi

S/
Keluhan sama dengan atas
O/
Kesadaran : Compos Mentis
GCS
: E4V5M6
Vital sign:
TD
: 115/70 mmHg
Nadi
: 81 x/menit
Suhu : 37,1C
R. meningeal
R. Motorik

: (-)
:

R. Sensorik

R. Fisiologis

R. Patologis

Fx Nervus Cranialis
Fx Luhur
Fx Vegetatif

: DBN
: Baik
: BAB belum

5
5
+
+
+
+
-

S/
Keluhan sama dengan atas
O/
Kesadaran : Compos Mentis
GCS
: E4V5M6
Vital sign:
TD
: 140/80 mmHg
Nadi
: 73 x/menit
Suhu : 36,9C
: (-)
:

R. Sensorik

R. Fisiologis

5
5
+
+
+
+

Terapi lanjutkan
Pregabalin 150mg 2x1

P/

Terapi lanjutkan
Cek elektrolit

5
5
+
+
+
+
-

A/
Radikulopati Lumbal e.c HNP Lumbal IV-V dari
MRI
HARI KE 3

R. meningeal
R. Motorik

5
5
+
+
+
+

15

R. Patologis

Fx Nervus Cranialis
Fx Luhur
Fx Vegetatif

: DBN
: Baik
: BAB belum

A/
Radikulopati Lumbal e.c HNP Lumbal IV-V dari
MRI
HARI KE 4

P/

Terapi lanjutkan

P/

NaCl 0,9% stop


Terapi lain lanjutkan

S/
Keluhan sama dengan atas
O/
Kesadaran : Compos Mentis
GCS
: E4V5M6
Vital sign:
TD
: 130/80 mmHg
Nadi
: 79 x/menit
Suhu : 36,7C
R. meningeal

: (-)

R. Motorik

R. Sensorik

R. Fisiologis

R. Patologis

Fx Nervus Cranialis
Fx Luhur
Fx Vegetatif

: DBN
: Baik
: BAB belum

5
5
+
+
+
+
-

5
5
+
+
+
+
-

A/
Radikulopati Lumbal e.c HNP Lumbal IV-V dari
MRI
HARI KE 5
S/
Keluhan sama dengan atas
O/
16

Kesadaran : Compos Mentis


GCS
: E4V5M6
Vital sign:
TD
: 120/70 mmHg
Nadi
: 82 x/menit
Suhu : 36,6C
R. meningeal
: (-)
R. Motorik
:
R. Sensorik

R. Fisiologis

R. Patologis

Fx Nervus Cranialis
Fx Luhur
Fx Vegetatif

5
5
+
+
+
+
-

5
5
+
+
+
+
-

: DBN
: Baik
: BAB sudah tapi sulit

A/
Radikulopati Lumbal e.c HNP Lumbal IV-V dari
MRI
HARI KE 6
S/
Keluhan sama dengan atas
O/
Kesadaran : Compos Mentis
GCS
: E4V5M6
Vital sign:
TD
: 140/85 mmHg
Nadi
: 81 x/menit
Suhu : 36,8C
R. meningeal
R. Motorik

: (-)
:

R. Sensorik

R. Fisiologis

R. Patologis

Fx Nervus Cranialis
Fx Luhur
Fx Vegetatif

: DBN
: Baik
: BAB sulit

5
5
+
+
+
+
-

5
5
+
+
+
+
-

17

P/

Terapi lanjutkan
Dexametason 3x1 amp iv

A/
Radikulopati Lumbal e.c HNP Lumbal IV-V dari
MRI
HARI KE 7

P/

Terapi lanjutkan

S/
Keluhan sama dengan atas
O/
Kesadaran : Compos Mentis
GCS
: E4V5M6
Vital sign:
TD
: 130/80 mmHg
Nadi
: 79 x/menit
Suhu : 36,7C
R. meningeal

: (-)

R. Motorik

R. Sensorik

R. Fisiologis

R. Patologis

Fx Nervus Cranialis
Fx Luhur
Fx Vegetatif

: DBN
: Baik
: BAB sulit

5
5
+
+
+
+
-

5
5
+
+
+
+
-

A/
Radikulopati Lumbal e.c HNP Lumbal IV-V dari
MRI
HARI KE 8

P/
Pasien dipulangkan dengan
edukasi agar tirah baring di
S/
rumah kemudian kontrol
Keluhan nyeri berkurang, OS sudah BAB namun
masih harus mengedan. OS meminta untuk pulang kembali satu minggu
kemudian.
dan tirah baring di rumah
O/
Kesadaran : Compos Mentis
GCS
: E4V5M6
Vital sign:
TD
: 120/80 mmHg
Nadi
: 81 x/menit
Suhu : 36,8C
18

R. meningeal

: (-)

R. Motorik

R. Sensorik

R. Fisiologis

R. Patologis

Fx Nervus Cranialis
Fx Luhur
Fx Vegetatif

5
5
+
+
+
+

5
5
+
+
+
+

: DBN
: Baik
: BAB belum

A/
Radikulopati Lumbal e.c HNP Lumbal IV-V dari
MRI

19

BAB II
TINJAUAAN PUSTAKA

1. PENDAHULUAN
Dalam bahasa kedokteran Inggris, pinggang dikenal sebagai low back. Secara
anatomik pinggang adalah daerah tulang belakang L-1 sampai seluruh tulang sakrum
dan otot-otot sekitarnya. Tulang belakang lumbal sebagai unit struktural dalam berbagai
sikap tubuh dan gerakan ditinjau dari sudut mekanika. 1 Daerah pinggang mempunyai
fungsi yang sangat penting pada tubuh manusia. Fungsi penting tersebut antara lain,
membuat tubuh berdiri tegak, pergerakan, dan melindungi beberapa organ penting.
Peranan otot-otot erektor trunksi adalah memberikan tenaga imbangan ketika
mengangkat benda. Dengan menggunakan alat petunjuk tekanan yang ditempatkan di
dalam nukleus pulposus manusia, tekanan intradiskal dapat diselidiki pada berbagai
sikap tubuh dan keadaan. Sebagai standar dipakai tekanan intradiskal ketika berdiri
tegak.
Tekanan intradiskal yang meningkat pada berbagai sikap dan keadaan itu
diimbangi oleh tenaga otot abdominal dan torakal. Hal ini dapat diungkapkan oleh
penyelidikan

yang

menggunakan

korset

toraks

atau

abdomen

yang

bisa

dikembungkempiskan yang dikombinasi dengan penempatan alat penunjuk tekanan di


dalam lambung. Hasil penyelidikan tersebut mengungkapkan bahwa 30% sampai 50%
dari tekanan intradiskal torakal dan lumbal dapat dikurangi dengan mengencangkan
otot-otot torakal dan abdominal sewaktu melakukan pekerjaan dan dalam berbagai
20

posisi.1 Kontraksi otot-otot torakal dan abdominal yang sesuai dan tepat dapat
meringankan beban tulang belakang sehingga tenaga otot yang relevan merupakan
mekanisme yang melindungi tulang belakang. Secara sederhana, kolumna vertebralis
torakolumbal dapat dianggap sebagai tong dan otot-otot torakal serta lumbal sebagai
simpai tongnya.
Hernia Nukleus Pulposus merupakan salah satu dari sekian banyak Low Back
Pain akibat proses degeneratif. Penyakit ini banyak ditemukan di masyarakat, dan
biasanya dikenal sebagai loro boyok. Biasanya mereka mengobatinya dengan pijat
urat dan obat-obatan gosok, karena anggapan yang salah bahwa penyakit ini hanya sakit
otot biasa atau karena capek bekerja. Penderita penyakit ini sering mengeluh sakit
pinggang yang menjalar ke tungkai bawah terutama pada saat aktifitas membungkuk
(sholat, mencangkul). Penderita mayoritas melakukan suatu aktifitas mengangkat beban
yang berat dan sering membungkuk. 1,2

2.

ANATOMI DAN FISIOLOGI VERTEBRAE 1,2


Anatomi tulang belakang perlu diketahui agar dapat ditentukan elemen yang

terganggu pada timbulnya keluhan nyeri punggung bawah. Columna vertebralis adalah
pilar utama tubuh. Merupakan struktur fleksibel yang dibentuk oleh tulang-tulang tak
beraturan, disebut vertebrae. Vertebrae dikelompokkan sebagai berikut:
a.

Cervicales (7)

b.

Thoracicae (12)

c.

Lumbales (5)

d.

Sacroles (5, menyatu membentuk sacrum)

e.

Coccygeae (4, 3 yang bawah biasanya menyatu)

21

Tulang vertebrae merupakan struktur kompleks yang secara garis besar terbagi
atas 2 bagian. Bagian anterior tersusun atas korpus vertebra, diskus intervertebralis
(sebagai artikulasi), dan ditopang oleh ligamentum longitudinale anterior dan posterior.
Sedangkan bagian posterior tersusun atas pedikel, lamina, kanalis vertebralis, serta
prosesus tranversus dan spinosus yang menjadi tempat otot penyokong dan pelindung
kolumna vertebrale. Bagian posterior vertebrae antara satu dan lain dihubungkan
dengan sendi apofisial (fascet joint).
Tulang vertebrae ini dihubungkan satu sama lainnya oleh ligamentum dan tulang
rawan. Bagian anterior columna vertebralis terdiri dari corpus vertebrae yang
dihubungkan satu sama lain oleh diskus fibrokartilago yang disebut discus invertebralis
dan diperkuat oleh ligamentum longitudinalis anterior dan ligamentum longitudinalis
posterior. Diskus invertebralis menyusun seperempat panjang columna vertebralis.
Diskus ini paling tebal di daerah cervical dan lumbal, tempat dimana banyak terjadi
gerakan columna vertebralis, dan berfungsi sebagai sendi dan shock absorber agar
kolumna vertebralis tidak cedera bila terjadi trauma.

22

Discus intervertebralis terdiri dari lempeng rawan hyalin (Hyalin Cartilage Plate),
nukleus pulposus (gel), dan annulus fibrosus. Sifat setengah cair dari nukleus pulposus,
memungkinkannya berubah bentuk dan vertebrae dapat mengjungkit kedepan dan
kebelakang diatas yang lain, seperti pada flexi dan ekstensi columna vertebralis. Diskus
intervertebralis menghubungkan korpus vertebra satu sama lain dari servikal sampai
lumbal/sacral. Diskus ini berfungsi sebagai penyangga beban dan peredam kejut (shock
absorber).
Diskus intervertebralis terdiri dari dua bagian utama yaitu:
a. Anulus fibrosus, terbagi menjadi 3 lapis:
1) Lapisan

terluar

terdiri

dari

lamella

fibro

kolagen

yang

berjalan

menyilangkonsentris mengelilingi nucleus pulposus sehingga bentuknya seakanakan menyerupai gulungan per (coiled spring)
2) Lapisan dalam terdiri dari jaringan fibro kartilagenus
3) Daerah transisi
Mulai daerah lumbal 1 ligamentum longitudinal posterior makin mengecil
sehingga pada ruang intervertebra L5-S1 tinggal separuh dari lebar semula
sehingga mengakibatkan mudah terjadinya kelainan didaerah ini.
b.

Nucleus Pulposus

23

Nukleus Pulposus adalah suatu gel yang viskus terdiri dari proteoglycan
(hyaluronic long chain) mengandung kadar air yang tinggi (80%) dan mempunyai
sifat sangat higroskopis. Nucleus pulposus berfungsi sebagai bantalan dan berperan
menahan tekanan/beban. Kemampuan menahan air dari nucleus pulposus berkurang
secara progresif dengan bertambahnya usia. Mulai usia 20 tahun terjadi perubahan
degenerasi yang ditandai dengan penurunan vaskularisasi kedalam diskus disertai
berkurangnya kadar air dalam nucleus sehingga diskus mengkerut dan menjadi
kurang elastis.

Sebagian besar HNP terjadi pada L4-L5 dan L5-S1 karena:


Daerah lumbal, khususnya daerah L5-S1 mempunyai tugas yang berat, yaitu
menyangga berat badan. Diperkirakan 75% berat badan disangga oleh sendi L5-S1.
Mobilitas daerah lumbal terutama untuk gerak fleksi dan ekstensi sangat tinggi.
Diperkirakan hampir 57% aktivitas fleksi dan ekstensi tubuh dilakukan pada sendi L5S1. Daerah lumbal terutama L5-S1 merupakan daerah rawan karena ligamentum
longitudinal posterior hanya separuh menutupi permukaan posterior diskus. Arah
herniasi yang paling sering adalah postero lateral.
Diskus intervertebralis, baik anulus fibrosus maupun nukleus pulposusnya
adalah bangunan yang tidak peka nyeri. Bagian yang merupakan bagian peka nyeri
adalah:
a.

Lig. Longitudinale anterior

b.

Lig. Longitudinale posterior

c.

Corpus vertebra dan periosteumnya


24

d.

Articulatio zygoapophyseal

e.

Lig. Supraspinosum

f.

Fasia dan otot

3.

DEFINISI 3
HNP (Hernia Nukleus Pulposus) yaitu keluarnya nukleus pulposus dari discus

melalui robekan annulus fibrosus hingga keluar ke belakang/dorsal menekan medulla


spinalis atau mengarah ke dorsolateral menekan radix spinalis sehingga menimbulkan
gangguan.

4.

EPIDEMIOLOGI 3
HNP paling sering terjadi pada pria dewasa, dengan insiden puncak pada dekade

ke-4 dan ke-5. HNP lebih banyak terjadi pada individu dengan pekerjaan yang banyak
membungkuk dan mengangkat. Karena ligamentum longitudinalis posterior pada daerah
lumbal lebih kuat pada bagian tengahnya, maka protrusi discus cenderung terjadi ke
arah postero lateral, dengan kompresi radiks saraf.

5.

ETIOLOGI 4,5
Hernia nukleus pulposus dapat disebabkan oleh beberapa hal berikut :
a. Proses degeneratif diskus intervertebralis (usia 30-50 tahun).
b. Trauma minor pada pasien tua dengan degenerasi
c. Trauma berat atau terjatuh
d. Riwayat pekerjaan yang perlu mengangkat beban berat, duduk, mengemudi
dalam waktu lama.
25

e. Posisi tubuh
f. Struktur tulang belakang.

6.

FAKTOR RESIKO
Faktor risiko yang tidak dapat dirubah :
a. Umur
: makin bertambah umur risiko makin tinggi
b. Jenis kelamin : laki-laki lebih banyak dari wanita
c. Riwayat cedera punggung atau HNP sebelumnya
Faktor risiko yang dapat dirubah : 3
a. Pekerjaan dan aktivitas
Duduk yang terlalu lama, mengangkat atau menarik barang-barang berta, sering
membungkuk atau gerakan memutar pada punggung, latihan fisik yang berat,
paparan pada vibrasi yang konstan seperti supir.
b. Olahraga yang tidak teratur, mulai latihan setelah lama tidak berlatih, latihan

yang berat dalam jangka waktu yang lama.


c. Merokok
Nikotin dan racun-racun lain dapat mengganggu kemampuan diskus untuk
menyerap nutrien yang diperlukan dari dalam darah.
d. Berat badan berlebihan, terutama beban ekstra di daerah perut dapat
menyebabkan strain pada punggung bawah.
7.

KLASIFIKASI 5,7,8

a. Hernia Lumbosacralis
Penyebab terjadinya lumbal menonjol keluar, bisanya oleh kejadian luka posisi
fleksi, tapi perbandingan yang sesungguhnya pada pasien non trauma adalah
kejadian yang berulang. Bersin, gerakan tiba-tiba, biasa dapat menyebabkan
nucleus pulposus prolaps, mendorong ujungnya/jumbainya dan melemahkan
anulus posterior. Pada kasus berat penyakit sendi, nucleus menonjol keluar sampai
anulus dan melintang sebagai potongan bebas pada canalis vertebralis. Lebih
sering, fragmen dari nucleus pulposus menonjol sampai pada celah anulus,

26

biasanya pada satu sisi atau lainnya (kadang-kadang ditengah), dimana mereka
mengenai menimpa sebuah serabut atau beberapa serabut syaraf.
b. Hernia Servikalis
Keluhan utama nyeri radikuler pleksus servikobrakhialis. Penggerakan kolumma
vertebralis servikal menjadi terbatas, sedang kurvatural yang normal menghilang.
Otot-otot leher spastik, kaku kuduk, refleks biseps yang menurun atau menghilang
Hernia ini melibatkan sendi antara tulang belakang dari C5 dan C6 dan diikuti C4
dan C5 atau C6 dan C7. Hernia ini menonjol keluar posterolateral mengakibatkan
tekanan pada pangkal syaraf. Hal ini menghasilkan nyeri radikal yang mana selalu
diawali gejala-gejala dan mengacu pada kerusakan kulit.
c. Hernia Thorakalis
Hernia ini jarang terjadi dan selalu berada digaris tengah hernia. Gejalagejalannya terdiri dari nyeri radikal pada tingkat lesi yang parastesis. Hernia dapat
menyebabkan melemahnya anggota tubuh bagian bawah, membuat kejang
paraparese kadang-kadang serangannya mendadak dengan paraparese. Penonjolan
pada sendi intervertebral thorakal masih jarang terjadi (menurut love dan schorm
0,5 % dari semua operasi menunjukkan penonjolan sendi). Pada empat thorakal
paling bawah atau tempat yang paling sering mengalami trauma jatuh dengan
posisi tumit atau bokong adalah faktor penyebab yang paling utama.
8.

PATOFISIOLOGI 1,2,3
Faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya HNP :
a. Aliran darah ke discus berkurang
b. Beban berat
c. Ligamentum longitudinalis posterior menyempit
Jika beban pada discus bertambah, annulus fibrosus tidak kuat menahan nukleus

pulposus (gel) akan keluar, akan timbul rasa nyeri oleh karena gel yang berada di
canalis vertebralis menekan radiks. Bangunan peka nyeri mengandung reseptor
nosiseptif (nyeri) yang terangsang oleh berbagai stimulus lokal (mekanis, termal,
kimiawi). Stimulus ini akan direspon dengan pengeluaran berbagai mediator inflamasi
yang akan menimbulkan persepsi nyeri.
27

Mekanisme nyeri merupakan proteksi yang bertujuan untuk mencegah pergerakan


sehingga proses penyembuhan dimungkinkan. Salah satu bentuk proteksi adalah spasme
otot, yang selanjutnya dapat menimbulkan iskemia. Nyeri yang timbul dapat berupa
nyeri inflamasi pada jaringan dengan terlibatnya berbagai mediator inflamasi; atau nyeri
neuropatik yang diakibatkan lesi primer pada sistem saraf.
Iritasi neuropatik pada serabut saraf dapat menyebabkan 2 kemungkinan. Pertama,
penekanan hanya terjadi pada selaput pembungkus saraf yang kaya nosiseptor dari nervi
nevorum yang menimbulkan nyeri inflamasi. Nyeri dirasakan sepanjang serabut saraf
dan bertambah dengan peregangan serabut saraf misalnya karena pergerakan.
Kemungkinan kedua, penekanan mengenai serabut saraf. Pada kondisi ini terjadi
perubahan biomolekuler di mana terjadi akumulasi saluran ion Na dan ion lainnya.
Penumpukan ini menyebabkan timbulnya mechano-hot spot yang sangat peka terhadap
rangsang mekanikal dan termal. Hal ini merupakan dasar pemeriksaan Laseque.

28

Patofisiologi HNP

29

9.

GEJALA KLINIS
Manifestasi klinis yang timbul tergantung lokasi lumbal yang terkena. HNP dapat

terjadi kesegala arah, tetapi kenyataannya lebih sering hanya pada 2 arah, yang pertama
ke arah postero-lateral yang menyebabkan nyeri pinggang, sciatica, dan gejala dan
tanda-tanda sesuai dengan radiks dan saraf mana yang terkena. Berikutnya ke arah
postero-sentral menyebabkan nyeri pinggang dan sindroma kauda equina. 2,3,5

Kedua saraf sciatic (N. Ischiadicus) adalah saraf terbesar dan terpanjang pada
tubuh. masing-masing hampir sebesar jari. Pada setiap sisi tubuh, saraf sciatic menjalar
dari tulang punggung bawah ,di belakang persendian pinggul, turun ke bokong dan
dibelakang lutut. Di sana saraf sciatic terbagi dalam beberapa cabang dan terus menuju
kaki. 5
Ketika saraf sciatic terjepit, meradang, atau rusak, nyeri sciatica bisa
menyebarsepanjang panjang saraf sciatic menuju kaki. Sciatica terjadi sekitar 5% pada
orang Ischialgia, yaitu suatu kondisi dimana saraf Ischiadikus yang mempersarafi
daerah bokong sampai kaki terjepit. Penyebab terjepitnya saraf ini ada beberapa faktor,
yaitu antara lain kontraksi atau radang otot-otot daerah bokong, adanya perkapuran
tulang belakang atau adanya Herniasi Nukleus Pulposus (HNP), dan lain sebagainya.6
Sciatica merupakan nyeri yang terasa sepanjang perjalanan nervus ischiadicus
sampai ke tungkai, biasanya mengenai hanya salah satu sisi. Nyeri dirasakan seperti
ditusuk jarum, sakit nagging, atau nyeri seperti ditembak. Kekakuan kemungkinan
dirasakan pada kaki. Berjalan, berlari, menaiki tangga, dan meluruskan kaki
memperburuk nyeri tersebut, yang diringankan dengan menekuk punggung atau duduk.
30

Gejala yang sering ditimbulkan akibat ischialgia adalah : 2,3,5,7


a.
b.
c.
d.

Nyeri punggung bawah.


Nyeri daerah bokong.
Rasa kaku/ tertarik pada punggung bawah.
Nyeri yang menjalar atau seperti rasa kesetrum dan dapat disertai baal, yang
dirasakan dari bokong menjalar ke daerah paha, betis bahkan sampai kaki,

e.

tergantung bagian saraf mana yang terjepit.


Rasa nyeri sering ditimbulkan setelah melakukan aktifitas yang berlebihan,

f.

terutama banyak membungkukkan badan atau banyak berdiri dan berjalan.


Rasa nyeri juga sering diprovokasi karena mengangkat barang yang berat, batuk,

g.

bersin akibat bertambahnya tekanan intratekal.


Jika dibiarkan maka lama kelamaan akan mengakibatkan kelemahan anggota
badan bawah/ tungkai bawah yang disertai dengan mengecilnya otot-otot

h.

tungkai bawah dan hilangnya refleks tendon patella (KPR) dan achilles (APR).
Bila mengenai konus atau kauda ekuina dapat terjadi gangguan defekasi, miksi
dan fungsi seksual. Keadaan ini merupakan kegawatan neurologis yang

i.

memerlukan tindakan pembedahan untuk mencegah kerusakan fungsi permanen.


Kebiasaan penderita perlu diamati, bila duduk maka lebih nyaman duduk pada
sisi yang sehat.

10. DIAGNOSIS
Anamnesis 1,2,7,8
Adanya nyeri di pinggang bagian bawah yang menjalar ke bawah (mulai dari
bokong, paha bagian belakang, tungkai bawah bagian atas). Hal ini dikarenakan
mengikuti jalannya N. Ischiadicus yang mempersarafi tungkai bagian belakang.
a. Nyeri mulai dari pantat, menjalar kebagian belakang lutut, kemudian ke tungkai
bawah (sifat nyeri radikuler).
b. Nyeri semakin hebat bila penderita mengejan, batuk, mengangkat barang berat.
c. Nyeri bertambah bila ditekan antara daerah disebelah L5 S1 (garis antara dua
krista iliaka).
d. Nyeri Spontan
e. Sifat nyeri adalah khas, yaitu dari posisi berbaring ke duduk nyeri bertambah
hebat, sedangkan bila berbaring nyeri berkurang atau hilang.
Pemeriksaan Motoris 6

31

a. Gaya jalan yang khas, membungkuk dan miring ke sisi tungkai yang nyeri dengan
fleksi di sendi panggul dan lutut, serta kaki yang berjingkat.
b. Motilitas tulang belakang lumbal yang terbatas.
Pemeriksaan Sensoris
a. Lipatan bokong sisi yang sakit lebih rendah dari sisi yang sehat.
b. Skoliosis dengan konkavitas ke sisi tungkai yang nyeri, sifat sementara.
Tes-tes Khusus 5,6
a. Tes Laseque (Straight Leg Raising Test = SLRT)

Tungkai penderita diangkat perlahan tanpa fleksi di lutut sampai sudut 90.
b. Gangguan sensibilitas, pada bagian lateral jari ke 5 (S1), atau bagian medial dari

ibu jari kaki (L5).


c. Gangguan motoris, penderita tidak dapat dorsofleksi, terutama ibu jari kaki (L5),
atau plantarfleksi (S1).

Tes dorsofleksi : penderita jalan diatas tumit


Tes plantarfleksi : penderita jalan diatas jari kaki

d. Kadang-kadang terdapat gangguan autonom, yaitu retensi urine, merupakan


indikasi untuk segera operasi.
e. Kadang-kadang terdapat anestesia di perineum, juga merupakan indikasi untuk

operasi.
f.

Tes provokasi : tes valsava dan naffziger untuk menaikkan tekanan intratekal.

g. Tes kernig
Tes Refleks
Refleks tendon achilles menurun atau men ghilang jika radiks antara L5

S1

terkena.

11.
a.
b.
c.

PEMERIKSAAN PENUNJANG 7,8,9


Darah rutin : tidak spesifik
Urine rutin : tidak spesifik
Liquor cerebrospinalis : biasanya normal. Jika terjadi blok akan didapatkan
peningkatan kadar protein ringan dengan adanya penyakit diskus. Kecil
manfaatnya untuk diagnosis.

32

d.

Myelogram mungkin disarankan untuk menjelaskan ukuran dan lokasi dari


hernia. Bila operasi dipertimbangkan maka myelogram dilakukan untuk

e.

menentukan tingkat protrusi diskus.


Foto rontgen biasa (plain photos) sering terlihat normal atau kadang-kadang
dijumpai penyempitan ruangan intervertebral, spondilolistesis, perubahan
degeneratif, dan tumor spinal. Penyempitan ruangan intervertebral kadangkadang terlihat bersamaan dengan suatu posisi yang tegang dan melurus dan

f.

suatu skoliosis akibat spasme otot paravertebral.


CT scan adalah sarana diagnostik yang efektif bila vertebra dan level neurologis

g.

telah jelas dan kemungkinan karena kelainan tulang.


MRI (akurasi 73-80%) biasanya sangat sensitif pada HNP dan akan
menunjukkan berbagai prolaps. Namun para ahli bedah saraf dan ahli bedah
ortopedi tetap memerlukan suatu EMG untuk menentukan diskus mana yang
paling terkena.

h.

MRI sangat berguna bila:

12.

vertebra dan level neurologis belum jelas

kecurigaan kelainan patologis pada medula spinal atau jaringan lunak

untuk menentukan kemungkinan herniasi diskus post operasi

kecurigaan karena infeksi atau neoplasma

PENATALAKSANAAN 2,4,5.6,9

a. Terapi Konservatif
Tujuan terapi konservatif adalah mengurangi iritasi saraf, memperbaiki kondisi
fisik pasien dan melindungi dan meningkatkan fungsi tulang punggung secara
keseluruhan. Perawatan utama untuk diskus hernia adalah diawali dengan istirahat
dengan obat-obatan untuk nyeri dan anti inflamasi, diikuti dengan terapi fisik. Dengan
cara ini, lebih dari 95 % penderita akan sembuh dan kembali pada aktivitas normalnya.
Beberapa persen dari penderita butuh untuk terus mendapat perawatan lebih lanjut yang
meliputi injeksi steroid atau pembedahan.
Terapi konservatif meliputi:
1. Tirah baring
33

Tujuan tirah baring untuk mengurangi nyeri mekanik dan tekanan intradiskal,
lama yang dianjurkan adalah 2-4 hari. Tirah baring terlalu lama akan menyebabkan
otot melemah. Pasien dilatih secara bertahap untuk kembali ke aktifitas biasa.
Posisi tirah baring yang dianjurkan adalah dengan menyandarkan punggung, lutut
dan punggung bawah pada posisi sedikit fleksi. Fleksi ringan dari vertebra
lumbosakral akan memisahkan permukaan sendi dan memisahkan aproksimasi
jaringan yang meradang.

2. Medikamentosa

Analgetik dan NSAID

Pelemas otot: digunakan untuk mengatasi spasme otot

Opioid: tidak terbukti lebih efektif dari analgetik biasa. Pemakaian


jangka panjang dapat menyebabkan ketergantungan

Kortikosteroid oral: pemakaian masih menjadi kontroversi namun dapat


dipertimbangkan pada kasus HNP berat untuk mengurangi inflamasi.

Analgetik ajuvan: dipakai pada HNP kronis

3. Terapi fisik

Traksi pelvis
Menurut panel penelitian di Amerika dan Inggris traksi pelvis tidak terbukti
bermanfaat. Penelitian yang membandingkan tirah baring, korset dan traksi
dengan tirah baring dan korset saja tidak menunjukkan perbedaan dalam
kecepatan penyembuhan.

Diatermi/kompres panas/dingin
Tujuannya adalah mengatasi nyeri dengan mengatasi inflamasi dan spasme
otot. keadaan akut biasanya dapat digunakan kompres dingin, termasuk bila
terdapat edema. Untuk nyeri kronik dapat digunakan kompres panas maupun
dingin.

Korset lumbal

34

Korset lumbal tidak bermanfaat pada HNP akut namun dapat digunakan
untuk mencegah timbulnya eksaserbasi akut atau nyeri HNP kronis. Sebagai
penyangga korset dapat mengurangi beban diskus serta dapat mengurangi
spasme.

Latihan
Direkomendasikan melakukan latihan dengan stres minimal punggung
seperti jalan kaki, naik sepeda atau berenang. Latihan lain berupa kelenturan
dan penguatan. Latihan bertujuan untuk memelihara fleksibilitas fisiologik,
kekuatan otot, mobilitas sendi dan jaringan lunak. Dengan latihan dapat
terjadi pemanjangan otot, ligamen dan tendon sehingga aliran darah semakin
meningkat.

Proper body mechanics


Pasien perlu mendapat pengetahuan mengenai sikap tubuh yang baik untuk
mencegah terjadinya cedera maupun nyeri. Beberapa prinsip dalam menjaga
posisi punggung adalah sebagai berikut:
1) Dalam posisi duduk dan berdiri, otot perut ditegangkan, punggung tegak
dan lurus. Hal ini akan menjaga kelurusan tulang punggung.
2) Ketika akan turun dari tempat tidur posisi punggung didekatkan ke
pinggir tempat tidur. Gunakan tangan dan lengan untuk mengangkat
panggul dan berubah ke posisi duduk. Pada saat akan berdiri tumpukan
tangan pada paha untuk membantu posisi berdiri.
3) Posisi tidur gunakan tangan untuk membantu mengangkat dan menggeser
posisi panggul.
4) Saat duduk, lengan membantu menyangga badan. Saat akan berdiri badan
diangkat dengan bantuan tangan sebagai tumpuan.
5) Saat mengangkat sesuatu dari lantai, posisi lutut ditekuk seperti hendak
jongkok, punggung tetap dalam keadaan lurus dengan mengencangkan
otot perut. Dengan punggung lurus, beban diangkat dengan cara
meluruskan kaki. Beban yang diangkat dengan tangan diletakkan sedekat
mungkin dengan dada.

35

6) Jika hendak berubah posisi, jangan memutar badan. Kepala, punggung


dan kaki harus berubah posisi secara bersamaan.
7) Hindari gerakan yang memutar vertebra. Bila perlu, ganti wc jongkok
dengan wc duduk sehingga memudahkan gerakan dan tidak membebani
punggung saat bangkit.
b. Terapi Operatif 9,10
Terapi bedah berguna untuk menghilangkan penekanan dan iritasi saraf sehingga
nyeri dan gangguan fungsi akan hilang. Tindakan operatif HNP harus berdasarkan
alasan yang kuat yaitu berupa:
1. Defisit neurologik memburuk.
2. Gangguan otonom (miksi, defekasi, seksual).
3. Paresis otot tungkai bawah.
1) Laminectomy
Laminectomy, yaitu tindakan operatif membuang lamina vertebralis, dapat
dilakukan sebagai dekompresi terhadap radix spinalis yang tertekan atau terjepit oleh
protrusi nukleus pulposus.

2) Discectomy
Pada discectomy, sebagian dari discus intervertebralis diangkat untuk mengurangi
tekanan terhadap nervus. Discectomy dilakukan untuk memindahkan bagian yang
menonjol dengan general anesthesia. Hanya sekitar 2 3 hari tinggal di rumah sakit.
Akan diajurkan untuk berjalan pada hari pertama setelah operasi untuk mengurangi
36

resiko pengumpulan darah. Untuk sembuh total memakan waktu beberapa minggu. Jika
lebih dari satu diskus yang harus ditangani jika ada masalah lain selain herniasi diskus.
Operasi yang lebih ekstensif mungkin diperlukan dan mungkin memerlukan waktu yang
lebih lama untuk sembuh (recovery). 9,10
3) Mikrodiskectomy
Pilihan operasi lainnya meliputi mikrodiskectomy, prosedur memindahkan fragmen
of nucleated disk melalui irisan yang sangat kecil dengan menggunakan ray dan
chemonucleosis. Chemonucleosis meliputi injeksi enzim (yang disebut chymopapain)
ke dalam herniasi diskus untuk melarutkan substansi gelatin yang menonjol. Prosedur
ini merupakan salah satu alternatif disectomy pada kasus-kasus tertentu.

c. Larangan
Peregangan yang mendadak pada punggung. Jangan sekali-kali mengangkat benda
atau sesuatu dengan tubuh dalam keadaan fleksi atau dalam keadaan membungkuk.
Hindari kerja dan aktifitas fisik yang berat untuk mengurangi kambuhnya gejala setelah
episode awal. 9,10

37

BENAR

38

d. Saran 9,10
Istirahat mutlak di tempat tidur, kasur harus yang padat. Diantara kasur dan
tempat tidur harus dipasang papan atau plywood agar kasur jangan melengkung.
Sikap berbaring terlentang tidak membantu lordosis lumbal yang lazim, maka bantal
sebaiknya ditaruh di bawah pinggang. Penderita diperbolehkan untuk tidur miring
dengan kedua tungkai sedikit ditekuk pada sendi lutut. Istirahat mutlak di tempat tidur
berarti bahwa penderita tidak boleh bangun untuk mandi dan makan. Namun untuk
keperluan buang air kecil dan besar orang sakit diperbolehkan meninggalkan tempat
tidur. Oleh karena buang air besar dan kecil di pot sambil berbaring terlentang justru
membebani tulang belakang lumbal lebih berat lagi.
Analgetika yang non adiktif perlu diberikan untuk menghilangkan nyeri. Selama
nyeri belum hilang fisioterapi untuk mencegah atrofi otot dan dekalsifikasi sebaiknya
jangan dimulai, setelah nyeri sudah hilang latihan gerakan sambil berbaring terlentang
atau miring harus diajurkan. Traksi dapat dilakukan di rumah sakit dengan fasilitas yang
sesuai dapat dilakukan pelvic traction, alat-alat untuk itu sudah automatik. Cara
pelvic traction, sederhana kedua tungkai bebas untuk bergerak dan karena itu tidak
menjemukan penderita. Maka pelvic traction dapat dilakukan dalam masa yang cukup
lama bahkan terus-menerus. Latihan bisa dengan melakukan flexion excersise dan
abdominal excersise.
Masa istirahat mutlak dapat ditentukan sesuai dengan tercapainya perbaikan. Bila
iskhilagia sudah banyak hilang tanpa menggunakan analgetika, maka orang sakit
39

diperbolehkan untuk makan dan mandi seperti biasa. Korset pinggang atau griddle
support sebaiknya dipakai untuk masa peralihan ke mobilisasi penuh. Penderita dapat
ditolong dengan istirahat dan analegtika serta nasehat untuk jangan sekali-kali
mengangkat benda berat, terutama dalam sikap membungkuk. Anjuran untuk segera
kembali ke dokter bilamana terasa nyeri radikuler penting artinya. Dengan demikian ia
datang kembali dan sakit pinggang yang lebih jelas mengarah ke lesi diskogenik.

13.

PROGNOSIS 9,10

a.

Sebagian besar pasien akan membaik dalam 6 minggu dengan terapi konservatif.

b.

Sebagian kecil berkembang menjadi kronik meskipun sudah diterapi.

c.

Pada pasien yang dioperasi : 90% membaik terutama nyeri tungkai,


kemungkinan terjadinya kekambuhan adalah 5%

40

DAFTAR PUSTAKA

1.

Sidharta, Priguna. 1999. Neurologi Klinis Dasar, edisi IV, cetakan kelima.
Jakarta : PT Dian Rakyat. 87-95.

2.

Sidharta, Priguna. 2005. Sakit Neuromuskuloskeletal Dalam Praktek Umum.


Jakarta : PT Dian Rakyat. 182-212.

3.

Purwanto ET. Hernia Nukleus Pulposus. Jakarta: Perdossi

4.

Nuarta, Bagus. Ilmu Penyakit Saraf. In: Kapita Selekta Kedokteran, edisi III,
jilid kedua, cetakan keenam. Jakarta : Media Aesculapius. 54-59. 2004

5.

Sakit Pinggang. In: Neurologi Klinis Dalam Praktik Umum, edisi III, cetakan

kelima. Jakarta : PT Dian Rakyat. 203-205


6.
Nuarta B., 2004. Ilmu Penyakit Saraf. In: Kapita Selekta Kedokteran, edisi III,
Jilid kedua, cetakan keenam. Jakarta : Media Aesculapius.
7.
Aminoff, MJ et al. 2005. Lange medical book : Clinical Neurology, Sixth
8.

Edition, Mcgraw-Hill.
Ropper, AH., Brown, Robert H. 2005. Adams & Victors Principles of

Neurology, Eight Edition, McGraw-Hill.


9.
Mardjono Mahar dan Sidharta Priguna. 2004. neurologi Klinis Dasar. Dian
10.

Rakyat:Jakarta.
Sidharta Priguna. 2004. Neurologi
Rakyat:Jakarta

41

Klinis

dalam Praktek

Umum. Dian