Anda di halaman 1dari 3

1. Rest harus istirahat,Wilayah otot yang cedera juga harus dilindungi.

Jika terasa sakit


saat menahan beban tubuh, gunakan penopang. Bila terasa sakit ketika digerakkan,
lindungi bagian yang cedera dengan kayu belat (splint).
2. Ice. Kompres bagian yang cedera dengan es atau sesuatu yang dingin. Pendinginan dapat
mengurangi pembengkakan dan rasa sakit di bagian yang cedera. Langkah ini sebaiknya
dilakukan segera. Tempelkan kain dingin atau es yang dibalut kain kasa atau yang lain di
bagian cedera selama 20 menit, tiga kali sehari dalam 24 jam setelah benturan.
3. Compress. Tekan bagian yang mengalami cedera dengan menggunakan perban khusus.
Kompres ini dapat mengurangi pembengkakan di sekitar bagian tubuh yang terantuk atau
terbentur. Balutan harus rapi. Pastikan bebatan tidak terlalu ketat agar tidak menimbulkan
mati rasa, geli, atau bahkan menambah rasa sakit.
4. Elevation. Bagian tubuh yang cedera diangkat lebih tinggi dari jantung. Misalnya, jika yang
cedera pergelangan kaki, upayakan pasien dalam posisi tidur kemudian pergelangan kaki
diangkat atau ditopang dengan alat supaya posisinya lebih tinggi dari jantung.
Pengobatan memar dapat dilakukan melalui berbagai cara. Yang pertama adalah
mengurangi rasa sakit. Ini dapat dilakukan dengan memberikan analgesik/antiinflamasi
topikal maupun oral. Sediaan anti koagulan, seperti heparin (Thrombophob), juga
membantu meredakan nyeri dan pembengkakan jika tidak ada luka terbuka.
DIRECT PRESSURE adalah Menekan langsung sumber perdarahan. Teknik ini merupakan
penanganan awal saat terjadinya perdarahan yang efektif, idealnya teknik penekanan
langsung dapat menggunakan balutan steril untuk menghindari infeksi. Apabila tidak
terdapat balutan yang steril dapat menggunakan kain yang bersih. Caranya yaitu tekan
bagian yang berdarah tepat diatas luka. Jangan buang waktu untuk mencari penutup luka.
Umumnya perdarahan akan terhenti sekitar 5 15 menit kemudian. Beri penutup yang
tebal pada akan terhenti sekitar 5 15 menit kemudian. Beri penutup yang tebal pada
tempat perdarahan. Bila belum berhenti dapat ditambah penutup lain, tanpa melepas
penutup pertama. Khusus pada alat gerak, setelah melakukan penekanan perlu dilakukan
pemeriksaan nadi distal untuk memastika aliran darah tidak terganggu. Bila nadi hilang
maka penekanan perlu diperbaiki.
b. ELEVATION (Dilakukan bersamaan dengan Tekanan Langsung). Setelah dilakukan
penekanan langsung, maka tinggikan area perdarahan lebih tinggi dari pada jantung untuk
mengurangi volume darah yang mengalir ke areal luka yang menyebabkan perdarahan.
Teknik elevasi ini dilakukan dengan catatan tidak terjadi fracture (Patah Tulang), karena
apabila sebelum fracture tersebut di Imobilisasi, dapat mengakibatkan perdarahan yang

lebih banyak lagi, dikarenakan dapat merusak jaringan disekitar fracture karena terlalu
banyak digerakkan.
c. PRESSURE POINT (Titik Tekan). Apabila perdarahan sulit untuk dikontrol dengan tekhnik
direct pressure (Penekanan langsung pada sumber perdarahan), lakukanlah teknik ini
dengan menekan arteri besar yang mengarah ke areal sumber perdarahan. cara mencari
titik arteri dengan meraba (Palpasi) dan yang lebih mudah dilakukan adalah meraba daerah
pangkal, karena letak arteri tidak dalam, sehingga lebih mudah dicari dan lebih cepat. Ada
beberapa titik tekan, yaitu :

Arteri Temporalis

Terletak di pangkal atas (di atas) telinga kiri dan telinga kanan kita.

Arteri Karotis

Berada di sebelah kiri dan kanan (Berjarak sekitar 2 jari) dari jakun kita.

Arteri Brakhialis

Berada di sendi siku ( Bagian dalam) tangan kiri dan tangan kanan kita.

Arteri Radialis

Berada di sendi antara lengan bagian bawah dengan telapak tangan kanan dan kiri kita.

Arteri Femoralis

Berada di bagian selangkangan atas kiri dan kanan kita.


d.

PRESSURE BANDAGE. Cara lain menghentikan perdarahan yaitu imobilisasi dengan


atau tanpa pembidaian. Pressure Bandage (Penakanan dengan menggunakan Bebatan),
fungsinya akan memudahkan apabila kita melakukan sendiri pertolongan perdarahan
dengan lebih dari satu sumber perdarahan. Tekniknya adalah menekan
langsung
sumber
perdarahan
dengan
menggunakan
kain/
balutan
steril
dan di bebat (dapat menggunakan tencocreepe atau elastic bandage). Selain itu juga
dilakukan dengan torniket dan kompres dingin. (Darwis Allan, 2001 : 58-59)

http://pmrspensaga.blogspot.co.id/2014/10/teknik-penghentian-perdarahan.html