Anda di halaman 1dari 26

USULAN PENELITIAN SKRIPSI MAHASISWA

PROGRAM SARJANA KEDOKTERAN GIGI

HUBUNGAN ANTARA GIGI BERJEJAL ANTERIOR RAHANG


BAWAH DAN AKUMULASI KALKULUS
PADA ANAK USIA 12-14 TAHUN
Kajian pada siswa SMPN 22 Jakarta

KELOMPOK D3

NAMA DOSEN PEMBIMBING I

NAMA DOSEN PEMBIMBING II

USULAN PENELITIAN SKRIPSI MAHASISWA PROGRAM


SARJANA KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS TRISAKTI
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
2016

Hubungan Antara Gigi Bejejal Anterior Rahang Bawah dan


Akumulasi Kalkulus Pada Anak Usia 12-14 Tahun
Kajian pada siswa SMPN 22 Jakarta

Bab I
Latar Belakang
Kesehatan gigi dan mulut merupakan hal yang penting untuk dijaga. Gigi dan mulut
merupakan organ tubuh yang memiliki peranan penting, yaitu sebagai alat komunikasi
dan konsumsi makan dan minum sehingga secara tidak langsung, mulut merupakan
tempat masuknya berbagai macam organisme baik hidup maupun mati. Oleh karena itu,
kesehatan mulut sangatlah perlu untuk dijaga.
Gigi merupakan alat yang digunakan untuk mencerna makanan secara mekanik. Agar
gigi dapat bekerja secara optimal, kebersihan gigi perlu dipertahankan agar tidak
menyababkan kerusakan gigi yang dapat mempengaruhi proses pengunyahan.

Gigi

berjejal merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kebersihan mulut.


Gigi berjejal (crowding) merupakan keadaan berjejalnya gigi diluar susunan gigi yang
normal atau keadaan dimana terdapat perbedaan antara ruang yang diperlukan didalam
lengkung gigi dengan ruang yang tersedia. 1

Kondisi gigi berjejal terkadang menjadi

masalah bagi penderitanya karena sangat sulit dibersihkan dengan menyikat gigi, kondisi
ini dapat menyebabkan penumpukan plak yang akhirnya berdampak pada pembentukan
kalkulus. Hal ini disebabkan karena bulu sikat gigi sulit untuk mencapai daerah
interdental, sehingga sisa makanan yang tertinggal kemudian terakumulasi menjadi plak .
Plak yang tertinggal dalam mulut dalam waktu lama akan termineralisasi oleh kalsium
dalam saliva yang kemudian akan memicu terbentuknya kalkulus. Bila hal ini dibiarkan
maka anak-anak akan mengalami berbagai komplikasi yang disebabkan oleh
pembentukan kalkulus yang berlebihan pada gigi anak tersebut. Berdasarkan penelitian

yang dilakukan oleh United Medical and Dental Schools of Guys and St Thomas
Hospitals, London, UK dan Dental School, University of Nairobi, Kenya mengenai
hubungan antara ketidakteraturan gigi insisif dengan plak dam gingivitis pada kelompok
usia 11-14 tahun. Didapatkan hasil bahwa terdapat hubungan antara ketidakteraturan gigi
dengan gingivitis. Secara tidak langsung, gingivitis merupakan salah satu komplikasi
yang disebabkan oleh pembentukan kalkulus yang berlebihan.
Penelitian ini dilakukan terhadap anak berusia 12-14 tahun. Pemilihan dengan kategori
usia ini dikarenakan pada umumnya mereka kurang sadar terhadap kesehatan gigi dan
mulut mereka selain itu hal ini biasanya diperparah oleh kebiasaan makan makanan yang
mengandung karbohidrat dan glukosa. Menurut penelitian UIN Jakarta yang dilakukan di
banten bahwa sebanyak 94.8% anak sekolah SMP memiliki kebiasaan menggosok gigi
setiap hari dengan persentase yang menggosok gigi setelah makan pagi sebanyak 95.7%
dan sebelum tidur malam hanya 26.6%. Meskipun sebagian besar sudah rajin menggosok
gigi setiap hari, namun yang berprilaku benar dalam menggosok gigi masih sangat rendah
yaitu hanya 4.8%.2 Penelitian lain di lakukan di Sekolah Menengah Pertama di Jakarta
dilaporkan bahwa ditemukan prevalensi gigi berjejal sebesar 44.9%. Tingkat insidensi
karang gigi anak usia 10-14 tahun di Indonesia pada tahun 2000 sebesar 29.4%. 3 Hal ini
menyebabkan keprihatinan peneliti sebagai mahasiswa kedokteran gigi terhadap
kebersihan gigi dan mulut anak-anak di Jakarta yang memiliki masalah gigi berjejal
sebab dengan tingginya tingkat gigi berjejal dan didukung rendahnya pengetahuan
tentang cara menggosok gigi dengan benar.
Rumusan Masalah
Apakah ada hubungan antara gigi berjejal dan akumulasi kalkulus?
Tujuan Penelitian
Mengetahui hubungan antara gigi berjejal dan akumulasi kalkulus pada anak usia 12-14
tahun.

Manfaat penelitian
Bagi ilmu pengetahuan, memberikan pemahaman lebih mengenai akumulasi kalkulus
pada gigi berjejal.
Bagi profesi, memberikan tambahan pengetahuan di bidang kedokteran gigi terutama
untuk tindakan pecegahan.
Bagi masyarakat, memberi pemahaman mengenai dampak akumulasi kalkulus pada gigi
berjejal.
Bab II
Tinjauan Pustaka
A. PENGERTIAN GIGI BERJEJAL
Salah satu jenis maloklusi yang sering dikeluhkan oleh pasien-pasien ortodonti adalah
gigi berjejal.4 Gigi berjejal ini merupakan suatu keluhan pasien terutama pada aspek
estetik sehingga pasien datang ke dokter gigi atau spesialis ortodonti untuk meratakan
menjadi susunan gigi yang rapi dan oklusi yang normal.
1. Definisi Gigi Berjejal
Gigi berjejal merupakan keadaan berjejalnya gigi di luar susunan gigi yang normal. 4
Menurut Nance, gigi berjejal adalah suatu keadaan dimana terdapat perbedaan antara
ruang yang diperlukan di dalam lengkung gigi dengan ruang yang tersedia di dalam
lengkung gigi.6,7 Ditinjau dari segi permasalahan, gigi berjejal dikategorikan menjadi
dua yaitu gigi berjejal simpel dan gigi berjejal kompleks. Gigi berjejal simpel artinya
ketidakharmonisan antara ukuran gigi dengan ruangan yang tersedia di alveolus
dengan tidak disertai gangguan pada skeletal, muskular, atau fungsional oklusi. Gigi
berjejal simpel sering ditemukan pada maloklusi klas I, walaupun dapat dijumpai pula
pada maloklusi klas II dengan protrusi gigi maksila dan skeletal yang normal.

Sedangkan gigi berjejal kompleks artinya gigi berjejal yang disebabkan oleh
ketidakseimbangan skeletal, fungsi bibir dan lidah, dan disfungsional oklusi yang
menyebabkan ketidakharmonisan antara ukuran gigi dengan ruangan yang tersedia.5,11
2. Derajat Keparahan Gigi Berjejal
Banyak kategori yang digunakan dalam menentukan derajat keparahan gigi berjejal.
Menurut Proffit, derajat keparahan gigi berjejal dikategorikan sebagai berikut :9 a.
Ideal, yaitu kekurangan ruangan sebesar 0-1 mm. b. Gigi berjejal ringan (mild
crowded), yaitu kekurangan ruangan sebesar 2-3 mm. c. Gigi berjejal sedang
(moderate crowded), yaitu kekurangan ruangan sebesar 4-6 mm. d. Gigi berjejal berat
(severe crowded), yaitu kekurangan ruangan sebesar 7-10 mm. e. Gigi berjejal
ekstrim (extreme crowded), yaitu kekurangan ruangan di atas 10 mm.
3. Etiologi Gigi Berjejal
Etiologi gigi berjejal masih belum diketahui secara pasti. 5 Hooton menyatakan bahwa
gigi berjejal mungkin merupakan hasil evolusi dari manusia modern dengan
terjadinya

pengurangan ukuran skeletal

wajah tanpa koresponden dengan

pengurangan ukuran gigi.6,7 Brash mengatakan bahwa penyebab gigi berjejal adalah
faktor herediter (keturunan). Akan tetapi, peneliti lain seperti Barber, Moore, Lavelle,
dan Spence mengatakan bahwa faktor lingkungan (misalnya makanan lunak dan
kehilangan panjang lengkung yang disebabkan karies) lebih berpengaruh daripada
faktor herediter terutama pada kedua kelompok etnik yang dibandingkan.6,7 Faktorfaktor lingkungan yang menyebabkan gigi berjejal yaitu :5 a. Kelainan dalam pola dan
urutan erupsi gigi permanen b. Gigi yang transposisi c. Gigi desidui yang tidak
mengalami resorpsi d. Gigi desidui yang premature loss yang menyebabkan
pengurangan panjang lengkung yang dihubungkan dengan miringnya (drifting) gigi
permanen e. Pengurangan panjang lengkung yang dihubungkan dengan karies
interproksimal pada gigi desidui f. Gigi desidui yang persisten. Ukuran gigi dan
dimensi lengkung gigi yang akan dibahas termasuk di dalam faktor herediter yang
berperan di dalam terjadinya gigi berjejal.8,10

4. Perawatan gigi berjejal


Perawatan gigi berjejal atau crowded agar kembali pada lengkung oklusi yang normal
dilakukan dengan cara pemasang kawat gigi, perawatan ini biasa disebut dengan
perawatan orthodontik. Perawatan orthodontik mencakup banyak hal mulai dari
pengetahuan yang lebih mendalam tentang tumbuh kembang, penetapan diagnosis,
hingga pemasangan alat itu sendiri. Jadi pemasangan alat orthodontik sebaiknya oleh
dokter gigi spesialis orthodontik, bukan oleh dokter gigi umum (general practitioner)13.
5. Pencegahan gigi berjejal
posisi gigi yang tidak teratur dapat dicegah pada saat usia anak prasekolah dan sekolah
dasar (3-11 tahun). Pada usia ini, terjadi pertumbuhan gigi campuran. Orang tua dapat
memberikan pengertian kepada si anak agar giginya mau dirawat melalui pendekatan
psikologis. Apa bila pendekatan psikologis telah berhasil dilakukan maka perawatan gigi
anak dapat segera dilakukan. Langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah gigi
berjejal.
a. Perawatan gigi anak

Menyikat gigi 2 kali sehari dengan cara yang tepat

Tidak mencabut gigi sulung sebelum waktunya

Menambal atau merawat gigi susu yang berlubang. Tindakan ini bertujuan untuk

mencegaah gigi sulung tanggal sebelum waktunya


b.

Mencegah dan Menghilangkan Kebiasaan Buruk

Kebisaan buruk yang biasa dilakukan oleh anak-anak, seperti menghisap jari, bernafas
melaui mulut, mengempeng dot pada massa pertumbuhan gigi tetap. Kebisaan tersebut
dapat mempengaruhi pertumbuhan gigi tetapnya dan mengakibatkan gigi tumbuh secara
tidak beraturan aatu berjejal 13.
6. Malaligment Index
Pengukuran malposisi gigi anterior rahang bawah dilakukan dengan menggunakan
Malaligment Index menurut Van Kirk & Pennell (1959) dengan kriteria (gambar 2):

= Alignment ideal

= Malalignment minor, ada 2 macam :


a. Gigi terputar (Rotation"), bila sudut yang dibentuk oleh garis yang diproyeksikan
melalui daerah kontak gigi yang diteliti dan garis lengkung yang ideal, kurang dari
450.
b. Gigi menyimpang (Displacement), bila kedua daerah kontak gigi menyimpang
dalam jurusan yang sama dari posisinya di dalam susunan deretan ideal, tetapi

kurang dari 1,5 mm.


2

= Malalignment mayor, ada 2 macam :


a. Gigi terputar mayor (Major Rotation), bila sudut yang dibentuk oleh garis yang
diproyeksikan melalui daerah kontak gigi yang diteliti dan garis lengkung yang
ideal, sama atau lebih besar dari 450.
b. Gigi menyimpang mayor (Major Displacemet), bila kedua daerah kontak gigi
menyimpang dariposisinya dalam susunan deretan gigi yang ideal, 1,5 mm atau
lebih.

Alat yang digunakan untuk menilai derajat gigi berjejal terbuat dari plastik dengan
ukuran 2 inci yang salah satu ujungnya membentuk sudut 450 (gambar 1). 12

(Gambar 1)

(Gambar 2)
B. KALKULUS
1. Pengertian Kalkulus
Kalkulus dental adalah plak dental terkalsifikasi yang melekat ke permukaan gigi
asli maupun gigi tiruan. Biasanya kalkulus terdiri dari plak bakteri yang telah mengalami
mineralisasi.14 Kerusakan awal pada margin gingiva pada penyakit periodontal adalah
disebabkan oleh efek patogenik mikroorganisme di dalam plak. 15 Namun, efeknya bisa
menjadi lebih besar yang disebabkan oleh akumulasi kalkulus karena lebih memberikan
retensi mikroorganisme plak. Pada dasarnya, kalkulus dibagi menjadi dua yaitu kalkulus
supragingiva dan kalkulus subgingiva.15,19
2. Klasifikasi Kalkulus
a. Kalkulus Supragingiva
Kalkulus supragingiva terletak di koronal margin gingiva.Kalkulus biasanya berwarna
putih kuningan dan keras dengan konsistensi liat dan mudah terlepas dari permukaan
gigi.16 Dua lokasi yang paling umum untuk perkembangan kalkulus supragingiva adalah
permukaan bukal molar rahang atas dan permukaan lingual dari gigi anterior mandibula
karena permukaan gigi ini mempunyai self-cleansing yang rendah.16 Kalkulus
supragingiva paling sering terbentuk dibagian permukaan lingual dari gigi anterior

mandibular dan di permukaan bukal dari molar pertama maksila. Kalkulus supragingiva
juga dikenal sebagai kalkulus saliva karena pembentukannya dibantu oleh saliva.23
b. Kalkulus Subgingiva
Kalkulus subgingiva terletak di bawah margina gingiva dan oleh karena itu, kalkulus ini
tidak terlihat terutama pada pemeriksaan klinis rutin. Lokasi dan luasnya kalkulus
subgingiva dapat dievaluasi atau dideteksi dengan menggunakan alat dental halus seperti
sonde. Kalkulus ini biasanya berwarna coklat tua atau hitam kehijauhijauan, dan
konsistensinya keras seperti batu api, dan melekat erat ke permukaan gigi. Kalkulus
subgingiva juga terbentuk dari cairan sulkular sehingga kalkulus ini disebut dengan
kalkulus serumal.
3. Komposisi plak dan kalkulus
Berdasarkan hasil penelitian, 20% dari plak gigi terdiri dari bahan padat dan 80% adalah
air. Tujuh puluh persen dari bahan padat ini adalah mikroorganisme dan sisanya 14 30%
terdiri dari bahan organik yaitu karbohidrat, protein dan lemak dimana bahan organik
yaitu kalsium, fosfor, magnesium, potasium dan sodium.17,18 Kalkulus supragingiva
mengandung bahan organik dan anorganik. Proposi anorganik yang mayor pada kalkulus
sekitar 76% kalsium fosfat, Ca3(PO4)2; 3% kalsium karbonat, CaCO3 dan sisanya
magnesium fosfat, Mg3(PO4)2 serta bahan lain. Persentase komponen anorganik pada
kalkulus adalah sama dengan jaringan terkalsifikasi yang lain di dalam tubuh. Komponen
anorganik mengandungi 39% kalsium, 19% fosforus, 2% karbon dioksida dan 1%
magnesium serta sisanya adalah natrium, seng, strontium, bromin, tembaga, magnesium,
tungsten, emas, aluminium, silikon, besi dan fluor.23,18 Komponen organik pada kalkulus
terdiri dari campuran kompleks polisakarida protein, deskuamasi sel epitel, lekosit dan
berbagai jenis mikroorganisme.Komposisi kalkulus subgingiva hampir sama dengan
kalkulus supragingiva. Rasio kalsium biladibandingkan dengan fosfat adalah lebih tinggi
pada kalkulus subgingiva, kandungan natrium meningkat sejalan dengan bertambahnya
kedalaman poket periodontal.15
4. Proses Pembentukan Plak dan Kalkulus

Pengendapan glikoprotein saliva membentuk acquiredpelikel,hal ini akan berjalan terus


sampai terbentuk plak. Kemungkinan lain karena pengendapan protein pada pH yang
asam,sehingga terjadi penambahan protein saliva dan mikroorganisme, sedangkan teori
lain menyatakan bahwa pembentukan plak tergantung dari aliran saliva, variasi makanan
seta adanya mekanisme penyerapan mikroorganisme secara selektif.21 Deposit tersisa
yang terbentuk setelah permukaan gigi dibersihkan disebut Acquired Pelikel. Pelikel ini
seperti membran film tipis, tidak terbentuk dengan ketebalan sekitar 1-2 mikron yang
terbentuk pada gigi dan permukaan intra oral yang padat. 21 Pelikel terutama terdiri dari
glikoprotein yang diserap secara selektif ke permukaan kirstal-kristal hidrosiapatit dari
saliva.22 Pelikel sangat mudah terlepas hanya dengan menyikat gigi tetapi mulai terbentuk
kembali dalam hitungan menit. Bakteri tidak dibutuhkan selama pembentukan pelikel,
tetapi bakteri melekat dan membentuk koloni dalam waktu yang singkat setelah pelikel
terbentuk.20 Empat tahapan pembentukan pelikel yaitu : tahap 1: Permukaan gigi atau
gingiva dilengkapi cairan saliva, tahap 2: Glikoprotein (bermuatan positif dan negatif)
diserap ke permukaan krista-kristal hidrosiapatit saliva, tahap 3: Glikoprotein kehilangan
daya larutnya dan tahap 4: Glikoprotein dirubah oleh aksi dari enzim-enzim bakteri.
Pembentukan kalkulus selalu didahului oleh pembentukan plak. Awalnya terbentuk
pelikel pada permukaan gigi atau sementum akar yang tidak teratur dan ketika pelikel ini
terkalsifikasi, kristal kalsifikasi menciptakan ikatan yang kuat ke permukaan. 25
Akumulasi plak akan menjadi matriks organik untuk mineralisasi deposit selanjutnya.
Kristal kecil muncul di dalam matriks intermikrobial antara bakteri. Pada awalnya, pada
matriks akan terjadi kalsifikasi dan kemudian plak yang terjadi termineralisasi.
Pembentukan kalkulus supragingiva dapat terjadi dalam waktu 12 hari, dimana 80% dari
bahan anorganik dapat terlibat. Namun, pengembangan dan pematangan komposisi kristal
dapat berlangsung dalam jangka waktu yang lama.26 Mineralisasi membutuhkan nukleasi
benih kristal sebelum pertumbuhan kristal. Ion untuk kalkulus supragingiva berasal dari
saliva. Plak membentuk lingkungan untuk nukleasi heterogen kristal kalsium dan fosfat,
yang terjadi bahkan dengan saliva yang supersaturasi sehingga plak tersebut berperan di
dalam pembentukan kalkulus. Ion lain dapat dimasukkan ke dalam struktur tergantung
pada kondisinya. Fosfolipid asam dan proteolipid tertentu dalam membran sel memiliki
peran dalam mineralisasi mikroba. Cairan sulkus gingiva menghasilkan kalsium, fosfat,

dan protein untuk pembentukan kalkulus subgingiva.26,19


5. Kriteria Kalkulus Indeks
0

Tidak terdapat kalkulus

Terdapat kalkulus supragingival menutupi permukaan gigi < 1/3 permukaan


labial dan lingual.

a. Terdapat kalkulus supragingival menutupi permukaan gigi > 1/3 permukaan


labial dan lingual.
b. Terdapat kalkulus di sekitar bagian cervikal gigi terdapat sedikit ke arah
subgingival.

a. Terdapat kalkulus supragingival menutupi permukaan gigi > 2/3 nya atau
seluruh permukaan gigi.
b. Terdapat kalkulus di sekitar bagian cervikal gigi yang menutupi dan
melingkari seluruh cervikal gigi.

C. KARAKTERISTIK

PERTUMBUHAN

DAN

PERKEMBANGAN ANAK

REMAJA USIA 12-14 TAHUN.


Pertumbuhan fisik
Pada masa remaja, pertumbuhan fisik mengalami perubahan lebih cepat dibandingkan
dengan masa anak-anak dan masa dewasa. Pada fase ini remaja memerlukan asupan gizi
yang lebih, agar pertumbuhan bisa berjalan secara optimal. Perkembangan fisik remaja
jelas terlihat pada tungkai dan tangan, tulang kaki dan tangan, serta otot-otot tubuh
berkembang pesat.27
Perkembangan seksual
Terdapat perbedaan tanda-tanda dalam perkembangan seksual pada remaja. Tanda-tanda
perkembangan seksual pada anak laki-laki diantaranya alat reproduksi spermanya mulai
berproduksi, ia mengalami masa mimpi yang pertama, yang tanpa sadar mengeluarkan
sperma. Sedangkan pada anak perempuan, bila rahimnya sudah bisa dibuahi karena ia
sudah mendapatkan menstruasi yang pertama.27

Terdapat ciri lain pada anak laki-laki maupun perempuan. Pada laki-laki pada lehernya
menonjol buah jakun yang bisa membuat nada suaranya pecah; didaerah wajah, ketiak,
dan di sekitar kemaluannya mulai tumbuh bulu-bulu atau rambut; kulit menjadi lebih
kasar, tidak jernih, warnanya pucat dan pori-porinya meluas. Pada anak perempuan,
diwajahnya mulai tumbuh jerawat, hal ini dikarenakan produksi hormon dalam tubuhnya
meningkat. Pinggul membesar bertambah lebar dan bulat akibat dari membesarnya tulang
pinggul dan berkembangnya lemak bawah kulit. Payudara membesar dan rambut tumbuh
di daerah ketiak dan sekitar kemaluan. Suara menjadi lebih penuh dan merdu.
Pada saat seorang anak memasuki masa pubertas yang ditandai dengan menstruasi
pertama pada remaja putri ataupun perubahan suara pada remaja putra, secara biologis dia
mengalami perubahan yang sangat besar. Pubertas menjadikan seorang anak tiba-tiba
memiliki kemampuan untuk ber-reproduksi.28,29
Pada masa pubertas, hormon seseorang menjadi aktif dalam memproduksi dua jenis
hormon (gonadotrophins atau gonadotrophic hormones) yang berhubungan dengan
pertumbuhan, yaitu: 1) Follicle-Stimulating Hormone (FSH); dan 2). Luteinizing
Hormone (LH). Pada anak perempuan, kedua hormon tersebut merangsang pertumbuhan
estrogen dan progesterone: dua jenis hormon kewanitaan. Pada anak lelaki, Luteinizing
Hormone yang juga dinamakan Interstitial-Cell Stimulating Hormone (ICSH)
merangsang pertumbuhan testosterone. Pertumbuhan secara cepat dari hormon-hormon
tersebut di atas merubah sistem biologis seorang anak. Anak perempuan akan mendapat
menstruasi, sebagai pertanda bahwa sistem reproduksinya sudah aktif. Selain itu terjadi
juga perubahan fisik seperti payudara mulai berkembang, dll. Anak lelaki mulai
memperlihatkan perubahan dalam suara, otot, dan fisik lainnya yang berhubungan dengan
tumbuhnya hormon testosterone. Bentuk fisik mereka akan berubah secara cepat sejak
awal pubertas dan akan membawa mereka pada dunia remaja.28,29
Cara berfikir kausalitas
Hal ini menyangkut tentang hubungan sebab akibat. Remaja sudah mulai berfikir kritis
sehingga ia akan melawan bila orang tua, guru, lingkungan, masih menganggapnya

sebagai anak kecil. Mereka tidak akan terima jika dilarang melakukan sesuatu oleh orang
yang lebih tua tanpa diberikan penjelasan yang logis. Misalnya, remaja makan didepan
pintu, kemudian orang tua melarangnya sambil berkata pantang. Sebagai remaja
mereka akan menanyakan mengapa hal itu tidak boleh dilakukan dan jika orang tua tidak
bisa memberikan jawaban yang memuaskan maka dia akan tetap melakukannya. Apabila
guru/pendidik dan oarang tua tidak memahami cara berfikir remaja, akibatnya akan
menimbulkan kenakalan remaja berupa perkelahian antar pelajar.29
Perkembangan kognitif remaja, dalam pandangan Jean Piaget (seorang ahli
perkembangan kognitif) merupakan periode terakhir dan tertinggi dalam tahap
pertumbuhan operasi formal (period of formal operations). Pada periode ini, idealnya
para remaja sudah memiliki pola pikir sendiri dalam usaha memecahkan masalahmasalah yang kompleks dan abstrak. Kemampuan berpikir para remaja berkembang
sedemikian rupa sehingga mereka dengan mudah dapat membayangkan banyak alternatif
pemecahan masalah beserta kemungkinan akibat atau hasilnya. Kapasitas berpikir secara
logis dan abstrak mereka berkembang sehingga mereka mampu berpikir multi-dimensi
seperti ilmuwan. Para remaja tidak lagi menerima informasi apa adanya, tetapi mereka
akan memproses informasi itu serta mengadaptasikannya dengan pemikiran mereka
sendiri. Mereka juga mampu mengintegrasikan pengalaman masa lalu dan sekarang untuk
ditransformasikan menjadi konklusi, prediksi, dan rencana untuk masa depan. Dengan
kemampuan operasional formal ini, para remaja mampu mengadaptasikan diri dengan
lingkungan sekitar mereka.
Pada kenyataan, di negara-negara berkembang (termasuk Indonesia) masih sangat banyak
remaja (bahkan orang dewasa) yang belum mampu sepenuhnya mencapai tahap
perkembangan kognitif operasional formal ini. Sebagian masih tertinggal pada tahap
perkembangan sebelumnya, yaitu operasional konkrit, dimana pola pikir yang digunakan
masih sangat sederhana dan belum mampu melihat masalah dari berbagai dimensi. Hal
ini bisa saja diakibatkan sistem pendidikan di Indonesia yang tidak banyak menggunakan
metode belajar-mengajar satu arah (ceramah) dan kurangnya perhatian pada
pengembangan cara berpikir anak. penyebab lainnya bisa juga diakibatkan oleh pola asuh

orangtua yang cenderung masih memperlakukan remaja sebagai anak-anak, sehingga


anak tidak memiliki keleluasan dalam memenuhi tugas perkembangan sesuai dengan usia
dan mentalnya. Semestinya, seorang remaja sudah harus mampu mencapai tahap
pemikiran abstrak supaya saat mereka lulus sekolah menengah, sudah terbiasa berpikir
kritis dan mampu untuk menganalisis masalah dan mencari solusi terbaik.
Perkembangan Sosial
Sebagai makhluk sosial, individu dituntut untuk mampu mengatasi segala permasalahan
yang timbul sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungan sosial dan mampu
menampilkan diri sesuai dengan aturan atau norma yang berlaku.
Oleh karena itu setiap individu dituntut untuk menguasai ketrampilan-ketrampilan sosial
dan kemampuan penyesuaian diri terhadap lingkungan sekitarnya. Ketrampilanketrampilan tersebut biasanya disebut sebagai aspek psikososial. Ketrampilan tersebut
harus mulai dikembangkan sejak masih anak-anak, misalnya dengan memberikan waktu
yang cukup buat anak-anak untuk bermain atau bercanda dengan teman-teman sebaya,
memberikan tugas dan tanggungjawab sesuai perkembangan anak, dsb. Dengan
mengembangkan ketrampilan tersebut sejak dini maka akan memudahkan anak dalam
memenuhi tugas-tugas perkembangan berikutnya sehingga ia dapat berkembang secara
normal dan sehat.
Ketrampilan sosial dan kemampuan penyesuaian diri menjadi semakin penting manakala
anak sudah menginjak masa remaja. Hal ini disebabkan karena pada masa remaja
individu sudah memasuki dunia pergaulan yang lebih luas dimana pengaruh teman-teman
dan lingkungan sosial akan sangat menentukan. Kegagalan remaja dalam menguasai
ketrampilan-ketrampilan sosial akan menyebabkan dia sulit menyesuaikan diri dengan
lingkungan sekitarnya sehingga dapat menyebabkan rasa rendah diri, dikucilkan dari
pergaulan, cenderung berperilaku yang kurang normatif (misalnya asosial ataupun anti
sosial), dan bahkan dalam perkembangan yang lebih ekstrim bisa menyebabkan
terjadinya gangguan jiwa, kenakalan remaja, tindakan kriminal, tindakan kekerasan, dsb.
Berdasarkan kondisi tersebut diatas maka amatlah penting bagi remaja untuk dapat

mengembangkan ketrampilan-ketrampilan sosial dan kemampuan untuk menyesuaikan


diri. Permasalahannya adalah bagaimana cara melakukan hal tersebut dan aspek-aspek
apa saja yang harus diperhatikan. Salah satu tugas perkembangan yang harus dikuasai
remaja yang berada dalam fase perkembangan masa remaja madya dan remaja akhir
adalah memiliki ketrampilan sosial (sosial skill) untuk dapat menyesuaikan diri dengan
kehidupan sehari-hari. Ketrampilan-ketrampilan sosial tersebut meliputi kemampuan
berkomunikasi, menjalin hubungan dengan orang lain, menghargai diri sendiri & orang
lain, mendengarkan pendapat atau keluhan dari orang lain, memberi atau menerima
feedback, memberi atau menerima kritik, bertindak sesuai norma dan aturan yang
berlaku, dsb. Apabila keterampilan sosial dapat dikuasai oleh remaja pada fase tersebut
maka ia akan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya. Hal ini berarti
pula bahwa sang remaja tersebut mampu mengembangkan aspek psikososial dengan
maksimal. Jadi tidak mengherankan jika pada masa ini remaja mulai mencari perhatian
dari ingkungannya dan berusaha mendapatkan status atau peranan, misalnya mengikuti
kegiatan remaja dikampung dan dia diberi peranan dimana dia bisa menjalankan peranan
itu dengan baik. Sebaliknya jika remaja tidak diberi peranan, dia akan melakukan
perbuatan untuk menarik perhatian lingkungan sekitar dan biasanya cenderung ke arah
perilaku negatif.
Salah satu pola hubungan sosial remaja diwujudkan dengan membentuk satu kelompok.
Remaja dalam kehidupan sosial sangat tertarik pada kelompok sebayanya sehingga tidak
jarang orang tua dinomorduakan, sedangkan kelompoknya dinomorsatukan. Contohnya,
apabila seorang remaja dihadapkan pada suatu pilihan untuk mengikuti acara keluarga
dan berkumpul dengan teman-teman, maka dia akan lebih memilih untuk pergi dengan
teman-teman. Pola hubungan sosial remaja lain adalah dimulainya rasa tertarik pada
lawan jenisnya dan mulai mengenal istilah pacaran. Jika dalam hal ini orang tua kurang
mengerti dan melarangnya maka akan menimbulkan masalah sehingga remaja cenderung
akan bersikap tertutup pada orang tua mereka. Anak perempuan secara biologis dan
karakter lebih cepat matang daripada anak laki-laki.30

Bab III
Kerangka Teori
Gigi berjejal rahang bawah anterior merupakan keadaan berjejalnya gigi di luar garis
oklusi gigi normal. Penyebab terjadinya gigi berjejal juga dapat disebabkan oleh gigi
sulung yang tanggal sebelum waktunya, gigi yang tidak tumbuh atau tidak ada. Dengan
keadaan gigi yang berjejal menyebabkan penumpukan plak pada gigi tersebut.
Pembentukan plak tergantung dari aliran saliva, variasi makanan serta adanya mekanisme
penyerapan mikroorganisme secara selektif. Acquired pelikel yang terbentuk pada gigi
terutama terdiri dari glikoprotein yang diserap secara selektif ke permukaan kirstal-kristal
hidrosiapatit dari saliva. Bakteri melekat dan membentuk koloni dalam waktu yang
singkat setelah pelikel terbentuk. Apabila pelikel sudah ditumbuhi kuman disebutlah
dengan plak. Plak yang dibiarkan, lama kelamaan akan terkalsifikasi (berikatan dengan
kalsium) dan mengeras sehingga menjadi kalkulus. Mineralisasi plak mulai di dalam 2472 jam dan rata-rata butuh 12 hari untuk matang. Akumulasi plak akan menjadi matriks
organik untuk mineralisasi deposit selanjutnya. Kristal kecil muncul di dalam matriks
intermikrobial antara bakteri. Pada awalnya, pada matriks akan terjadi kalsifikasi dan
kemudian plak yang terjadi termineralisasi. Plak membentuk lingkungan untuk nukleasi
heterogen kristal kalsium dan fosfat, sehingga plak tersebut berperan di dalam
pembentukan kalkulus. Seringnya ditemukan kalkulus atau karang gigi pada daerah gigi
yang berjejal dikarenakan posisi gigi tersebut sulit dijangkau oleh lidah dan bulu sikat
gigi saat menyikat gigi sehingga plak yang menumpuk tidak dapat dibersihkan, seiring
dengan berjalannya waktu, akumulasi plak yang terkalsifikasi oleh mineral-mineral saliva
akhirnya menjadi kalkulus. Ditambah lagi muara kelenjar saliva sublingualis terdapat
tepat di bagian lingual gigi anterior rahang bawah yang menyebabkan saliva selalu
melewati daerah tersebut sehingga kalsifikasi akumulasi plak terjadi lebih sering
dibandingkan dengan daerah lain dalam rongga mulut.

Kerangka Konsep

Akumulasi
kalkulus

Gigi berjejal
anterior rahang
bawah.

Hipotesis
Terdapat hubungan antara gigi berjejal antarior rahang bawah dan akumulasi kalkulus
pada anak usia 12-15 tahun.
Bab IV
Jenis dan Rancangan Penelitian
Jenis penelitian adalah observasional analitik koleratif dengan rancangan penelitian
potong silang (cross sectional).
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan pada siswa di SMPN 22 Jakarta, pada 24 sampai dengan 26 Februari
2016
Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi penelitian adalah anak dengan usia 12-14 tahun yang memiliki gigi berjejal pada
gigi anterior rahang bawah di SMPN 22 Jakarta.
Cara pengambilan sample dilakukan dengan sistem simple random sampling, agar

= 5
seluruh individu dalam populasi mendapat kesempatan yang sama. Jumlah sampel di
1-
= 90
hitung dengan rumus sebagai berikut.
P1
= 0.50 (gigi berjejal dan berkalkulus)
P2

= [Z1-/2

0.70 (gigi tidak berjejal dan tidak berkakulus)

2 P(1 P)

+ Z1-

P1(1 P1) P 2(1 P 2)

(P1 - P2)2
n

= 124

* formula Lemeshow
* nilai P1 dan P2 didapat dari Depkes, 2000

]2

Kriteria Inklusi dan Eksklusi


Inklusi

Laki-laki dan perempuan usia 12-14 tahun di SMPN 22 Jakarta Barat.

Kesehatan umum subjek penelitian baik tanpa penyakit sistemik.

Eksklusi

Subjek penelitian sedang dalam perawatan ortodonti.

Variabel dan Definisi Operasional


Variabel Penelitian
Variabel penelitian :
1. Gigi berjejal pada gigi anterior bawah
2. Akumulasi kalkulus.
Definisi Operasional
1. Gigi berjejal yang merupakan variabel dalam penelitian ini ialah maloklusi akibat tidak
teraturnya posisi gigi anterior rahang bawah. Pengukuran malposisi gigi anterior rahang
bawah dilakukan dengan menggunakan Malaligment Index menurut Van Kirk & Pennell
(1959) dengan kriteria

Alignment ideal

Malalignment minor, ada 2 macam :


a. Gigi terputar (Rotation"), bila sudut yang dibentuk oleh garis yang
diproyeksikan melalui daerah kontak gigi yang diteliti dan garis lengkung
yang ideal, kurang dari 450.
b. Gigi menyimpang (Displacement), bila kedua daerah kontak gigi
menyimpang dalam jurusan yang sama dari posisinya di dalam susunan
deretan ideal, tetapi kurang dari 1,5 mm.

Malalignment mayor, ada 2 macam :


a. Gigi terputar mayor (Major Rotation), bila sudut yang dibentuk oleh garis
yang diproyeksikan melalui daerah kontak gigi yang diteliti dan garis lengkung
yang ideal, sama atau lebih besar dari 450.
b. Gigi menyimpang mayor (Major Displacemet), bila kedua daerah kontak
gigi menyimpang dariposisinya dalam susunan deretan gigi yang ideal, 1,5 mm
atau lebih.

Skor Mal I masing-masing subjek diperoleh dengan menjumlahkan skor Mal I tiap gigi
yang diperikasa pada subjek tersebut. Alat yang digunakan untuk menilai derajat gigi
berjejal terbuat dari plastik dengan ukuran 2 inci yang salah satu ujungnya membentuk
sudut 450. Skala ordinal.
2. Akumulasi kalkulus ialah kalkulus yang melekat pada permukaan gigi anterior rahang
bawah di bagian labial dan lingual. Indeks yang digunakan untuk mengukur banyaknya
kalkulus di dalam rongga mulut subjek penelitian adalah Calculus Index dengan kriteria
sebagai berikut. Skala ordinal.
0

Tidak terdapat kalkulus

Terdapat kalkulus supragingival menutupi permukaan gigi < 1/3 permukaan


labial dan lingual.

a. Terdapat kalkulus supragingival menutupi permukaan gigi > 1/3 permukaan


labial dan lingual.
b. Terdapat kalkulus di sekitar bagian cervikal gigi terdapat sedikit ke arah

subgingival.
3

a. Terdapat kalkulus supragingival menutupi permukaan gigi > 2/3 nya atau
seluruh permukaan gigi.
b. Terdapat kalkulus di sekitar bagian cervikal gigi yang menutupi dan
melingkari seluruh cervikal gigi.

Alat dan Bahan


Alat :

Sonde

Kaca mulut

Pinset

Penggaris untuk menilai gigi berjejal

Head lamp

Bahan :

Cairan Alkohol

Masker

Gloves

Alur Kerja
Pemeriksaan dilakukan di ruangan kelas yang telah disediakan oleh pihak sekolah. Setiap
subjek penelitian diminta untuk mengisi lembar persetujuan kemudian subjek penilitian
di persilahkan duduk di kursi biasa dengan pencahayaan dari lampu kelas dan dibantu
dengan head lamp. Operator meminta setiap subjek penelitian membuka mulut untuk
menilai kalkulus dan gigi berjejal pada daerah anterior rahang bawah dengan
menggunakan kaca mulut dan sonde yang telah di sterilkan dengan menggunakan cairan
alkohol terlebih dahulu. Jika posisi gigi berjejal, digunakan penggaris khusus untuk
mendapat jarak antar kontak gigi ataupun sudut perputaran dari gigi yang berjejal.
Sehingga dapat menetapkan skor untuk pengelompokan kriteria gigi berjejal. Gigi yang
diteliti meliputi gigi 33,32,31,41,42,43. Penilaian kalkulus yang ada pada rongga mulut

subjek penelitian dinilai dengan membandingkan kriteria pada tabel indeks kalkulus. Beri
skor pada setiap gigi dan jumlahkan, lalu hasilnya dibagi dengan banyak jumlah gigi
yang diperiksa.
Analisis Data
Data yang diperoleh di uji statistik korelasi Spearman karena penelitian yang dilakukan
adalah observasi analitik koleratif.

Z = rs

n 1

nilai Z hitung

rs

koefisien korelasi Spearman

jumlah sampel penelitian

Daftar Pustaka

1. Tuhuteru,Daul
Kebersihan

Gigi

R.

(2014).Status

dan

Mulut

Pasien

Poliklinik Gigi Puskesmas Paniki Bawah


Manado.Jurnal e-Gigi (eG) Volume 2Nomor 2

2.

Sari,Siti A (2014).Hubungan Kebiasaan Menggosok gigi


dengan timbulnya karies pada anak di SMPN Ciputat 6
Tanggerang selatan provinsi Banten

3. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/52601/5/Chapter%20I.pdf
4. Susanto C. Need dan demand serta akibat dari maloklusi pada siswa SMU Negeri 1
Binjai (Skripsi). Medan; Universitas Sumatera Utara: 2010
5. Ngan P, Alkire RG, Fields H. Management of space problem in the primary and mixed
dentit ions. J Am Dent Assoc 1999; 130: 1330-9.
6. Golwalkar SA, Msitry KM. An evaluation of dental crowding in relation to the
mesiodistal crown widths and arch dimensions. J Indian Orthod Soc 2009; 43 (2):
7. Radnzic D. Dental crowding and its relationship to mesiodistal crown diameters
and arch dimensions. Am J Orthod Dentofac Orthop 1988; 94: 50-6. 22-9
8. Lundstrom A,ed. Introduction to orthodontics. Stockholm: Minab Gotab, 1985:85114.
9. Proffit WR, Fields HW, Sarver DM. Contemporary orthodontics. Edisi keempat.
United States: Mosby Elsevier. 2007: 6
10. Hassan R, Rahimah AK. Occlusion, malocclusion, and method of measurement an
overview. J Orofacial Science 2007; 2: 3-9.
11. Susanti R, Idris W. Perawatan maloklusi kelas III disertai crowding berat. M. I.
Kedokteran Gigi 2005; 20 (50): 19-25
12. Susanto C. Need dan demand serta akibat dari maloklusi pada siswa SMU Negeri
1 Binjai (Skripsi). Medan; Universitas Sumatera Utara: 2010
13. Albandar Jasim M. Ginigval State and Dental Calculus in Early-Onset
Periodontitis.

J Periodontology Online 1996; 67(10): 1-4.

14. Albandar

Jasim M. Ginigval State and Dental Calculus in EarlyOnset Periodontitis.J Periodontology Online 1996; 67(10): 1-4.
15. Romanita G. Gingivitis and Periodontitis Patient.
http://www.dentistry.utoronto.ca/dpes/periodontic/patients/gingiviti
s-and- periodontitis-patient (September 1. 2014).

Mohamed. Associationofsalivarycalcium,phosphate,
pHandflowrateonoralhealth. J Indian Society of Periodontology
2013; 17(4): 2-3
16.Fiyaz

17.Glickman

I. Clinical Periodontology: the etiology of gingival

and periodontal disease. 4 th ed. Philadelpia : WB Saunders


Company, 1973: 290-9
Cecile. Impactofcalciumonsalivaryamylase,starch
pasteapparentviscosityandthicknessperception. J Sheffield
Hallam Uni 2011; 3: 112-16
18.Morris,

19.Nupur

Sah.EstimationandComparisionofsalivarycalcium
levelsinhealthysubjectsandpatientwithgingivitisand
periodontitis. J Archives of Oral Science & Research 2012;2(1):
13-16.
20. Morris, Cecile. Impactofcalciumonsalivaryamylase,
starchpasteapparentviscosityandthicknessperception. J
Sheffield Hallam Uni 2011; 3: 112-16.
21. Khashu Himanshu. Salivarybiomarkers:APeriodontal
Overview. J Oral Health Community Dent 2012; 6(1): 2-3
22. Hassan Shatha A.Salivarycalciumconcentrationinpatients
withhighincidenceofcalculusformation. J Dep. Basic Dent
Sciences 2005; 5(1):88-90
23. Newman MG, Takei HH, Klokkevold PR. CarranzasClinical
Periodontology. 11 th ed., Singapore: Elsevier., 2012: 219-240
25. Monk, dkk. 2002. Psikologi Perkembangan : pengantar dalam berbagai bagiannya.
Yogyakarta : Gadjah Mada University Press Otuyemi OD, Jones SP. Methods of
assessing and grading malocclusion: A review. Aust Orthod J 199

26. Hassan

Shatha A.Salivarycalciumconcentrationinpatients
withhighincidenceofcalculusformation. J Dep. Basic Dent
Sciences 2005; 5(1):88-90
27. Ahmadi, A. 1991. Psikologi Perkembangan. Jakarta : Rineka Cipta
28. Gunarsa, D. 1986. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta : PT. BK
Gunung Mulia.
29. Hurlock, E. 1980. Psikologi Perkembangan : suatu pendekatan sepanjang rentang
kehidupan. Edisi ke lima. Jakarta : Erlangga
30. Kartono, K. 1979. Psikhologi Anak. Bandung : Alumni

Lampiran

INFORMED CONSENT

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :


Nama

Tempat/Tanggal Lahir

Alamat

Bersama ini menyatakan kesediannya untuk dilakukan tindakan pemeriksaan berupa


pemeriksaan kalkulus,dan pengukuran gigi berjejal sebagai salah satu kegiatan untuk
menyelesaikan program studi sarjana Kedokteran Gigi di Universitas Trisakti.
Demikian surat persetujuan ini saya buat,tanpa paksaan dari pihak manapun dan agar
dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.
Jakarta,. Februari 2016
Mengetahui,
Pemeriksa

(..)

Pembuat pernyataan

(.)