Anda di halaman 1dari 17

Keselamatan Kerja

Visi Korporasi Tambang Newmont (NMC) adalah menjadi perusahaan tambang yang paling
dihargai dan dihormati melalui pencapaian kinerja terdepan di industri tambang. Guna
mencapai visi tersebut, salah satu nilai utama NMC adalah mewujudkan kepemimpinan di
bidang keselamatan kerja, pengelolaan lingkungan dan tanggung jawab sosial. Kebijakan
Regional ini telah diselaraskan dengan Kebijakan Kesehatan, Keselamatan, dan Kendali Rugi
Korporasi NMC.
Newmont berkeyakinan bahwa manajemen kesehatan dan keselamatan kerja yang
bertanggung jawab dan kinerja kesehatan dan keselamatan kerja terdepan merupakan bagian
yang tak terpisahkan dari suatu perusahaan yang efisien dan sukses.
Batu Hijau merupakan salah satu tambang besar dengan kinerja keselamatan paling baik di
Indonesia dan dunia. Sehingga tidak mengherankan jika kinerja keselamatan kerja di PTNNT
mendapat pengakuan dan penghargaan dari pemerintah RI.
PTNNT akan selalu memegang teguh komitmen untuk mematuhi dan atau melebihi ketentuan
keselamatan kerja yang berlaku di Indonesia dan standar OHSAS 18001.
Komitmen
Newmont berkeyakinan bahwa manajemen kesehatan dan keselamatan kerja yang
bertanggung jawab dan kinerja kesehatan dan keselamatan kerja terdepan merupakan bagian
yang tak terpisahkan dari suatu perusahaan yang efisien dan sukses.
Guna mencapai tujuan kesehatan dan keselamatan kerja, masing-masing operasi dan fasilitas
Newmont Asia Pasifik (APAC) berkomitmen untuk:

Mematuhi semua ketentuan hukum dan peraturan yang berlaku yang menjadi
kewajiban kita sebagai standar minimum

Menerapkan dan menjalankan Sistem Manajemen Terpadu (IMS) APAC dan Standar
Teknis untuk mengurangi risiko bahaya terhadap personel atau kerusakan properti

Mengidentifikasi bahaya terhadap kesehatan dan keselamatan kerja, risiko serta


peluang untuk peningkatan guna menetapkan standar yang dapat dicapai sesuai
dengan nilai dan harapan karyawan serta masyarakat luas

Menerapkan dan menjalankan Sistem Manajemen Terpadu (IMS) APAC dan Standar
Teknis untuk mengurangi risiko bahaya terhadap personel atau kerusakan properti

Mematuhi Prinsip Keselamatan Kerja Newmont, yang mencakup kepemimpinan di


bidang kesehatan dan keselamatan kerja bagi seluruh karyawan

Memadukan kesehatan dan keselamatan kerja ke dalam semua aspek kegiatan


perusahaan, termasuk eksplorasi, pengembangan proyek, operasi tambang, perluasan
tambang, akuisisi, divestasi dan penutupan

Menyampaikan tujuan dan sasaran yang dapat diukur yang akan mendorong
peningkatan berkelanjutan guna menciptakan tempat kerja yang bebas penyakit dan
cedera

Menyeleksi personel yang kompeten dengan kualifikasi yang sesuai, memberikan


pelatihan dan menetapkanstandar guna memungkinkan karyawan, kontraktor dan
pemasok bekerja secara aman dan bertanggung jawab serta memastikan mereka
mampu mengelola kegiatan mereka sesuai dengan kebijakan ini

Mendorong perilaku yang aman dan menekankan tanggung jawab karyawan terhadap
perilaku yang berisiko;

Memastikan pelaporan secara terbuka mengenai semua insiden/kecelakaan kesehatan


dan keselamatan di tempat kerja dengan tujuan menerapkan kontrol guna mencegah
terulangnya kejadian yang sama di masa yang akan datang

Melakukan inspeksi berkala, program audit penilaian dan menindaklanjuti


rekomendasi untuk peningkatan dengan segera mengambil keputusan dan langkah
tindak lanjut

Menunjukkan komitmen terhadap perilaku positif guna mencapai kinerja K3 yang


terbaik

Berkonsultasi dengan karyawan dan pemangku kepentingan berkenaan dengan


aspirasi, masalah kesehatan dan keselamatan kerja selama masa konstruksi, operasi
dan penutupan operasi dan fasilitas tambang
program

Pengenalan Keselamatan Kerja bagi karyawan (Employee Safety Induction)

Tanggap Darurat (Emergency Response)

Kesehatan Kerja dan Higine (Occupational Health and Hygiene)

Inspeksi Keselamatan Kerja (Safety Inspection)

Pelatihan dan Penyegaran Keselamatan Kerja Tahunan (Annual Safety Refresher


Training)

Penelusuran Kepatuhan Keselamatan Kerja (Safety Compliance Tracker)

Sertifikasi dan Pengembangan Karyawan (Staff Development and Certification)

Safety Time Outs

Total Manhours
All Injury
Reportable
LTA
Fatalities

2003
19.62
1.40
0.60
0.04
0

2004
19.30
0.90
0.40
0.03
1

2005
21.14
060
0.40
0.03
0

2006
24.9
0.40
0.33
0.03
1

2007
21.65
0.38
0.25
0.04
0

2008
22.08
0.30
0.24
0.00
0

2009
20.95
0.34
0.31
0.03
0

2010
20.19
0.92
0.31
0.05
1

2011

2001-2005 Sertifikat Emas untuk Kinerja Keselamatan dari Departemen Energi dan
Sumber Daya Mineral

2002 Upakarti Aditama dari Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral

2006 Aditama Safety Award dari Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral
sebagai Perusahaan terbaik bidang Kesehatan dan Keselamatan Kerja bagi perusahaan
tambang di Indonesia

2008 Tambang Award sebagai Perusahaan Tambang dengan Program Kesehatan dan
Keselamatan Kerja Terbaik

IX.13.

2009 ISO14001 & OSHAS18001 : Trophi Penghargaan Utama di bidang Pengelolaan


Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dari Departemen Energi dan Sumber Daya
Mineral

Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K-3)


Dengan

adanya

lingkungan

kerja

yang

baik

akan

sangat

berpengaruh terhadap motivasi dan pencapaian prestasi dan karyawan.


Beberapa

masalah

yang

sering

ditemukan

berkaitan

dengan

keselamatan dan kesehatan kerja karyawan yang dapat mempengaruhi


lingkungan kerja bagi karyawan antara lain adalah :

a
b
c
d

Terjadinya polusi debu yang menimbulkan gangguan pernapasan


Timbulnya suara keras yang melewati ambang batas
Terjadinya kecelakaan yang mengakibatkan luka-luka bahkan cacat.
Terjadinya polusi air yang menimbulkan gangguan pada kulit (gatal-gatal).
Gangguan-gangguan

tersebut

dapat

terjadi,

karena

sering

terjadinya kelalaian dalam memperhatikan beberapa standar polusi atau


standar kerja yang ditetapkan untuk kegiatan industri pertambangan.
Dalam praktek nyata di lapangan, lingkungan kerja karyawan
diindikasikan telah mengalami pencemaran apabila diketahui adanya
elemen-elemen dari materi yang melebihi nilai baku standar yang
ditetapkan.

apabila

hal

ini

dibiarkan

berlangsung

lama,

maka

pencemaran yang terjadi akan semakin berat. Hal ini sangat berbahaya
bagi keselamatan dan kesehatan kerja karyawan. Misalnya suara yang
melewati batas desibel yang ditentukan akan merusak pendengaran
karyawan. Begitu pula bila kandungan emisi debu melebihi batas yang
ditetapkan,

dapat

mengakibatkan

gangguan

pernanasan.

Dengan

damikian maka perusahaan dituntut untuk memberikan perhatian


khusus pada aspek lingkungan diatas, agar keselamatan dan kesehatan
kerja karyawan dapat lebih terjamin.
Keselamatan dan kesehatan kerja karyawan adatah hal penting
bagi perusahaan, karena sangat berkaitan dengan peningkatan produksi
dan produktifitas perusahaan, filosofinya adalah :

Dengan

tingkat

keselamatan

kerja

yang

tinggi,

kecelakaan-

kecelakaan yang menjadi sebab sakit, cacat dan kematian dapat


dikurangi atau ditekan sekecil-kecilnya, sehingga pembiayaan
yang tidak perlu dapat dihindari

Tingkat

keselamatan

kerja

yang

tinggi

akan

sejalan

dengan

pemeliharaan dan penggunaan paralatan kerja dan mesin yang


produktif dan efisien, serta berkaitan erat dengan tingkat produksi
dan produktifitas yang tinggi

Pada

berbagai

hal,

tingkat

keselamatan

yang

tinggi

akan

menciptakan kondisi-kondisi yang mendukung kenyamanan serta


kegairahan kerja karyawan

Praktek

keselamatan

kerja

tidak

dapat

dipisahkan

dari

keterampilan, keduanya akan berjalan sejajar dan merupakan


unsur-unsur esensial bagi kelangsungan proses produksi

Keselamatan
partisipasi

kerja

yang

perusahaan

dilakukan

dan

sebaik-baiknya

karyawan

akan

dengan

membawa

iklim

kenyamanan dan ketenangan kerja, sehingga sangat membantu


keharmonisan hubungan antara perusahaan dan karyawan yang
merupakan landasan kuat bagi terciptanya kelancaran produksi.

IX.13.1. Organisasi Penanganan K-3


Untuk

melakukan

penanganan

K-3

didalam

perusahaan, perlu dibentuk suatu Komite Keselamatan dan


Kesehatan Kerja (Komite K-3), yang didalamnya duduk wakilwakil dari setiap unit kerja yang ada diperusahaan. Komite K-3
ini bekerja sama dengan Kepala Bagian Pemantau Pengelolaan
Lingkungan
Kesehatan

Tambang
Kerja

Penambangan,

dan

Tambang

dan

Kepala
yang

bertindak

Bagian
ada

sebagai

Keselamatan

didalam

Divisi

fasilitator

dalam

penanganan K-3 di perusahaan.


Adapun tugas pokok dari Komite Keselamatan dan
Kesehatan Kerja PT SWADAYA HUTANI ALAM antara lain adalah
:

Menjamin bahwa peraturan keselamatan dan kesehatan


kerja harus selalu dipatuhi oleh seluruh karyawan

Melakukan pengkajian secara menyeluruh setiap kejadian


kecelakaan kerja dan membuat saran-saran perbaikan

Membina

kesadaran

kerja

yang

aman

dan

selamat

dikalangan karyawan

Menjadi panutan dalam hal keselamatan dan kesehatan


kerja bagi para karyawan.

IX.13.2. Peralatan, Perlengkapan dan Manual K-3


Untuk dapat melakukan penanganan K-3, maka unit kerja
yang ada diperusahaan harus dilengkapi dengan peralatan dan
perlengkapan

keselamatan

dan

kesehatan

kerja

manual

keselamatan dan kesehatan kerja.


Peralatan dan Perlengkapan Keselamatan & Kesehatan
Kerja

terdiri

dari

peralatan

pemadam

kebakaran,

perlengkapan P3K, serta perlengkapan pakaian kerja seperti


helm, sepatu pengaman, baju kerja standar, baju pelampung
dan lain sebagainya. Termasuk juga perlengkapan tambahan
berupa rambu-rambu peringatan yang harus dipasang pada
lokasi-lokasi yang perlu diwaspadai, seperti persimpangan jalan,
tikungan jalan, kondisi jalan naik dan jalan turun, areal operasi
alat-alat berat dan lain sebagainya, untuk mengingatkan agar
setiap

karyawan

senantiasa

berhati-hati

pada

saat

melaksanakan pekerjaan terutama pada lokasi-lokasi tersebut.


Selain

rambu-rambu

peringatan

diatas,

juga

dapat

digunakan sapaan atau himbauan atau ajakan kepada karyawan


untuk senantiasa menyadari pentingnya keselamatan dan
kesehatan kerja. Sapaan, himbauan atau ajakan itu berupa
tulisan-tulisan dengan tema K-3 diatas poster atau spanduk,
yang dipasang pada lokasi-lokasi strategis disekitar kantor.
Manual keselamatan dan kesehatan kerja adalah berupa
buku pedoman tentang standar penanganan keselamatan dan
kesehatan kerja pada perusahaan. Buku pedoman ini dibuat

untuk 2 kepentingan, yaitu buku pedoman K-3 untuk level


manajemen dan buku pedoman K-3 untuk semua karyawan.

IX.13.3. Langkah-Langkah Penanganan K-3


Beberapa langkah yang dapat ditempuh oleh perusahaan
menyangkut

keselamatan

dan

kesehatan

kerja

karyawan

adalah :

Meningkatkan

mutu

lingkungan

kerja

sesuai

dengan

standar baku yang diterapkan

Menjaga kebersihan lingkungan

Menanam pohon dan membuat taman lebih semarak di


lingkungan kerja

Memasang alat dan pengaman kebakaran pada lokasilokasi tertentu

Melakukan pelatihan dalam bidang kesehatan, kebersihan


dan keamanan kerja.

Menetapkan

bulan

tertentu

sebagai

bulan

kualitas

lingkungan

Melakukan patroli rutin, mengawasi kondisi lingkungan


kerja dan lingkungan hidup

Membuat Komite K-3

Menyediakan alat peredam suara

10 Memasang alat penangkap dan pembuang debu


11 Melengkapi pekerjaan dengan peralatan pengamanan
kerja

12 Menyediakan fasilitas kesehatan


13 Mengasuransikan karyawan
14 Memasang

rambu-rambu

peringatan

pada

daerah

berbahaya

15 Memberikan

informasi

mengenai

apa

saja

yang

membahayakan pekerja

16 Mengingatkan karyawan untuk memasang alat pengaman


sebelum memulai kegiatannya (helm, sepatu dll.)

Keterbukaan perusahaan untuk melibatkan karyawan dalam


program K-3 perusahaan dapat ditempuh melalui :

Melibatkan karyawan dalam komite K-3

Menerima saran karyawan untuk mengadakan kampanye


kebersihan dan kesehatan lingkungan

Membentuk gugus dan kendali mutu dan mengadakan


pertemuan rutin harian untuk membicarakan masalah
harian dari perusahaan sesuai dengan bidangnya

Menerima saran karyawan untuk mengadakan pertemuan


bulanan

Membentuk komite disetiap departemen

Menyarankan ada kotak saran

Menerima saran karyawan untuk mengadakan check list


atas kualitas lingkungan kerja

Menerima saran karyawan untuk menilai kinerja unit-unit


kerja

Menerima
keselamatan

saran

karyawan

dan

keamanan

untuk

meningkatkan

lingkungan

kerja

dan

lingkungan perusahaan.

10 Menerima saran karyawan untuk memperbaiki manual K-3,


dalam

hal

pelatihannya,

penggunaan

alat-alat,

audit

penyebab kecelakaan kerja, dan analisis keamanan tempat


kerja.

IX.13.4. Rencana Pelatihan Tenaga Kerja Tahun 2012

TABEL IX.5
RENCANA PELATIHAN TENAGA KERJA
DEPARTMENT
ADMINISTRATION

JUDUL PELATIHAN
Community Development
Human Resources Management

Job Analysis
Office Management
Digital Mapping
Manajemen explorasi dan sumber daya mineral

DEVELOPMENT

Slope Stability
Survey & Mapping
Electronic & Digital Devices Troubleshooting

MINE FACILITY

Inventory Management
Finance Management

PLANNING

Strategic Planning
Manajemen produksi dan operasi

PRODUKSI

Production Operations
Slope Stability
Asphalt Testing

ROAD
MAINTENANCE

Survey & Mapping


Pengelolaan Lingkungan

SAFETY
INVIRONMENT

&

Reclamation of Mining Areas


waste water treatment technology

SUPPORT
LOGISTIC

& Inventory Management


Warehouse Management

BAB I
PENDAHULUAN
A.

Latar belakang

Kondisi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) perusahaan di Indonesia secara umum
diperkirakan termasuk rendah. Pada tahun 2005 Indonesia menempati posisi yang buruk jauh
di bawah Singapura, Malaysia, Filipina dan Thailand. Kondisi tersebut mencerminkan
kesiapan daya saing perusahaan Indonesia di dunia internasional masih sangat rendah.
Indonesia akan sulit menghadapi pasar global karena mengalami ketidakefisienan
pemanfaatan tenaga kerja (produktivitas kerja yang rendah). Padahal kemajuan perusahaan
sangat ditentukan peranan mutu tenaga kerjanya. Karena itu disamping perhatian perusahaan,

pemerintah juga perlu memfasilitasi dengan peraturan atau aturan perlindungan Keselamatan
dan Kesehatan Kerja. Nuansanya harus bersifat manusiawi atau bermartabat.
Keselamatan kerja telah menjadi perhatian di kalangan pemerintah dan bisnis sejak lama.
Faktor keselamatan kerja menjadi penting karena sangat terkait dengan kinerja karyawan dan
pada gilirannya pada kinerja perusahaan. Semakin tersedianya fasilitas keselamatan kerja
semakin sedikit kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja.
Di era globalisasi dan pasar bebas WTO dan GATT yang akan berlaku tahun 2020
mendatang, kesehatan dan keselamatan kerja merupakan salah satu prasyarat yang ditetapkan
dalam hubungan ekonomi perdagangan barang dan jasa antar negara yang harus dipenuhi
oleh seluruh negara anggota, termasuk bangsa Indonesia. Untuk mengantisipasi hal tersebut
serta mewujudkan perlindungan masyarakat pekerja Indonesia; telah ditetapkan Visi
Indonesia Sehat 2010 yaitu gambaran masyarakat Indonesia di masa depan, yang
penduduknya hidup dalam lingkungan dan perilaku sehat, memperoleh pelayanan kesehatan
yang bermutu secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang setinggitingginya.
Pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah salah satu bentuk upaya untuk
menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari pencemaran lingkungan, sehingga
dapat mengurangi dan atau bebas dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang pada
akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja.
Kecelakaan kerja tidak saja menimbulkan korban jiwa maupun kerugian materi bagi pekerja
dan pengusaha, tetapi juga dapat mengganggu proses produksi secara menyeluruh, merusak
lingkungan yang pada akhirnya akan berdampak pada masyarakat luas.
Penyakit Akibat Kerja (PAK) dan Kecelakaan Kerja (KK) di kalangan petugas kesehatan dan
non kesehatan kesehatan di Indonesia belum terekam dengan baik. Jika kita pelajari angka
kecelakaan dan penyakit akibat kerja di beberapa negara maju (dari beberapa pengamatan)
menunjukan kecenderungan peningkatan prevalensi. Sebagai faktor penyebab, sering terjadi
karena kurangnya kesadaran pekerja dan kualitas serta keterampilan pekerja yang kurang
memadai. Banyak pekerja yang meremehkan risiko kerja, sehingga tidak menggunakan alatalat pengaman walaupun sudah tersedia. Dalam penjelasan undang-undang nomor 23 tahun
1992 tentang Kesehatan telah mengamanatkan antara lain, setiap tempat kerja harus
melaksanakan upaya kesehatan kerja, agar tidak terjadi gangguan kesehatan pada pekerja,
keluarga, masyarakat dan lingkungan disekitarnya.
Setiap orang membutuhkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuan hidupnya. Dalam bekerja
Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan faktor yang sangat penting untuk
diperhatikan karena seseorang yang mengalami sakit atau kecelakaan dalam bekerja akan
berdampak pada diri, keluarga dan lingkungannya. Salah satu komponen yang dapat
meminimalisir Kecelakaan dalam kerja adalah tenaga kesehatan. Tenaga kesehatan
mempunyai kemampuan untuk menangani korban dalam kecelakaan kerja dan dapat
memberikan penyuluhan kepada masyarakat untuk menyadari pentingnya keselamatan dan
kesehatan kerja.
Indonesia memiliki berbagai sektor industri yang salah satunya yaitu pertambangan.
Pertambangan memiliki peran yang sangat penting dalam pembangunan nasional.
Pertambangan memberikan peran yang sangat signifikan dalam perekonomian nasional, baik
dalam sektor fiscal, moneter, maupun sektor riil. Peran pertambangan terlihat jelas dimana
pertambangan menjadi salah satu sumber penerimaan negara; berkontribusi dalam
pembangaunan daerah, baik dalam bentuk dana bagi hasil maupun program community
development atau coorporate social responsibility; memberikan nilai surplus dalam neraca
perdagangan; meningkatkan investasi; memberikan efek berantai yang positif terhadap

ketenagakerjaan; menjadi salah satu faktor dominan dalam menentukan Indeks Harga Saham
Gabungan; dan menjadi salah satu sumber energy dan bahan baku domestik.
Salah satu karakteristik industri pertambangan adalah padat modal, padat teknologi dan
memiliki risiko yang besar. Oleh karena itu, dalam rangka menjamin kelancaran operasi,
menghindari terjadinya kecelakaan kerja, kejadian berbahaya dan penyakit akibat kerja maka
diperlukan implementasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pada kegiatan
pertambangan.
Terjadinya kecelakaan kerja tentu saja menjadikan masalah yang besar bagi kelangsungan
suatu usaha. Kerugian yang diderita tidak hanya berupa kerugian materi yang cukup besar
namun lebih dari itu adalah timbulnya korban jiwa yang tidak sedikit jumlahnya. Kehilangan
sumber daya manusia ini merupakan kerugian yang sangat besar karena manusia adalah satusatunya sumber daya yang tidak dapat digantikan oleh teknologi apapun.
Upaya pencegahan dan pengendalian bahaya kerja yang dapat menyebabkan terjadinya
kecelakaan dan penyakit akibat kerja dapat dilakukan dengan penerapan Keselamatan dan
Kesehatan Kerja di tempat kerja. Secara keilmuan K3, didefinisikan sebagai ilmu dan
penerapan teknologi tentang pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Dari
aspek hukum K3 merupakan kumpulan peraturan perundang-undangan yang mengatur
tentang perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja.
Melalui peraturan yang jelas dan sanksi yang tegas, perlindungan K3 dapat ditegakkan, untuk
itu diperlukan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang K3. Bahkan ditingkat
internasionalpun telah disepakati adanya konvensi-konvensi yang mengatur tentang K3
secara universal sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, baik yang
dikeluarkan oleh organisasi dunia seperti ILO, WHO, maupun tingkat regional.
Ditinjau dari aspek ekonomis, dengan menerapkan K3, maka tingkat kecelakaan akan
menurun, sehingga kompensasi terhadap kecelakaan juga menurun, dan biaya tenaga kerja
dapat berkurang. Sejalan dengan itu, K3 yang efektif akan dapat meningkatkan produktivitas
kerja sehingga dapat meningkatkan hasil produksi. Hal ini pada gilirannya kemudian dapat
mendorong semua tempat kerja/industri maupun tempat-tempat umum merasakan perlunya
dan memiliki budaya K3 untuk diterapkan disetiap tempat dan waktu, sehingga K3 menjadi
salah satu budaya industrial.
Dengan melaksanakan K3 akan terwujud perlindungan terhadap tenaga kerja dari risiko
kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang dapat terjadi pada waktu melakukan
pekerjaan di tempat kerja. Dengan dilaksanakannya perlindungan K3, diharapkan akan
tercipta tempat kerja yang aman, nyaman, sehat dan tenaga kerja yang produktif, sehingga
akan meningkatkan produktivitas kerja dan produktivitas perusahaan. Dengan demikian K3
sangat besar peranannya dalam upaya meningkatkan produktivitas perusahaan, terutama
dapat mencegah korban manusia. Oleh karena itu, kami membahas tentang Kesehatan dan
Keselamatan Kerja di salah satu industri yaitu industri pertambangan batubara yang
merupakan industri besar diwilayah Indonesia.
B.

Tujuan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah:


1; Untuk mengetahui Kecelakaan kerja tambang.
2; Untuk mengetahui peran K3 dalam mencegah kecelakaan kerja guna meningkatkan
kesehatan dan keselamatan kerja.
3; Untuk mengetahui Sistem Manajemen K3 Pertambangan.
BAB II

PEMBAHASAN
A.

Pengertian Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Keselamatan dan kesehatan kerja difilosofikan sebagai suatu pemikiran dan upaya untuk
menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmani maupun rohani tenaga kerja pada
khususnya dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budayanya menuju masyarakat
makmur dan sejahtera. Sedangkan pengertian secara keilmuan adalah suatu ilmu pengetahuan
dan penerapannya dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit
akibat kerja.
Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) tidak dapat dipisahkan dengan proses produksi baik
jasa maupun industri. Perkembangan pembangunan setelah Indonesia merdeka menimbulkan
konsekwensi meningkatkan intensitas kerja yang mengakibatkan pula meningkatnya resiko
kecelakaan di lingkungan kerja.
Hal tersebut juga mengakibatkan meningkatnya tuntutan yang lebih tinggi dalam mencegah
terjadinya kecelakaan yang beraneka ragam bentuk maupun jenis kecelakaannya. Sejalan
dengan itu, perkembangan pembangunan yang dilaksanakan tersebut maka disusunlah UU
No.14 tahun 1969 tentang pokok-pokok mengenai tenaga kerja yang selanjutnya mengalami
perubahan menjadi UU No.12 tahun 2003 tentang ketenaga kerjaan.
Dalam pasal 86 UU No.13 tahun 2003, dinyatakan bahwa setiap pekerja atau buruh
mempunyai hak untuk memperoleh perlindungan atas keselamatan dan kesehatan kerja,
moral dan kesusilaan dan perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat serta nilai-nilai
agama. Untuk mengantisipasi permasalahan tersebut, maka dikeluarkanlah peraturan
perundangan-undangan di bidang keselamatan dan kesehatan kerja sebagai pengganti
peraturan sebelumnya yaitu Veiligheids Reglement, STBl No.406 tahun 1910 yang dinilai
sudah tidak memadai menghadapi kemajuan dan perkembangan yang ada.
Peraturan tersebut adalah Undang-undang No.1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja yang
ruang lingkupnya meliputi segala lingkungan kerja, baik di darat, didalam tanah, permukaan
air, di dalam air maupun udara, yang berada di dalam wilayah kekuasaan hukum Republik
Indonesia. Undang-undang tersebut juga mengatur syarat-syarat keselamatan kerja dimulai
dari perencanaan, pembuatan, pengangkutan, peredaran, perdagangan, pemasangan,
pemakaian, penggunaan, pemeliharaan dan penyimpanan bahan, barang produk tekhnis dan
aparat produksi yang mengandung dan dapat menimbulkan bahaya kecelakaan.
Walaupun sudah banyak peraturan yang diterbitkan, namun pada pelaksaannya masih banyak
kekurangan dan kelemahannya karena terbatasnya personil pengawasan, sumber daya
manusia K3 serta sarana yang ada. Oleh karena itu, masih diperlukan upaya untuk
memberdayakan lembaga-lembaga K3 yang ada di masyarakat, meningkatkan sosialisasi dan
kerjasama dengan mitra sosial guna membantu pelaksanaan pengawasan norma K3 agar
terjalan dengan baik.
B.

Sebab-sebab Kecelakaan

Kecelakaan tidak terjadi begitu saja, kecelakaan terjadi karena tindakan yang salah atau
kondisi yang tidak aman. Kelalaian sebagai sebab kecelakaan merupakan nilai tersendiri dari
teknik keselamatan. Ada pepatah yang mengungkapkan tindakan yang lalai seperti kegagalan
dalam melihat atau berjalan mencapai suatu yang jauh diatas sebuah tangga. Hal tersebut
menunjukkan cara yang lebih baik selamat untuk menghilangkan kondisi kelalaian dan
memperbaiki kesadaran mengenai keselamatan setiap karyawan pabrik.
Penyebab dasar kecelakaan kerja :
1; Faktor Personil

1; Kelemahan Pengetahuan dan Skill


2; Kurang Motivasi
3; Problem Fisik
4; Faktor Pekerjaan
1; Standar kerja tidak cukup Memadai
2; Pemeliharaan tidak memadai
3; Pemakaian alat tidak benar
4; Kontrol pembelian tidak ketat
Penyebab Langsung kecelakaan kerja
1; Tindakan Tidak Aman
1; Mengoperasikan alat bukan wewenangnya
2; Mengoperasikan alat dg kecepatan tinggi
3; Posisi kerja yang salah
4; Perbaikan alat, pada saat alat beroperasi
5; Kondisi Tidak Aman
1; Tidak cukup pengaman alat
2; Tidak cukup tanda peringatan bahaya
3; Kebisingan/debu/gas di atas NAB
4; Housekeeping tidak baik
Penyebab Kecelakaan Kerja (Heinrich Mathematical Ratio) dibagi atas 3 bagian Berdasarkan
Prosentasenya:
1; Tindakan tidak aman oleh pekerja (88%)
2; Kondisi tidak aman dalam areal kerja (10%)
3; Diluar kemampuan manusia (2%)
C.

Masalah Kesehatan Dan Keselamatan Kerja

Kinerja (performen) setiap petugas kesehatan dan non kesehatan merupakan resultante dari
tiga komponen kesehatan kerja yaitu kapasitas kerja, beban kerja dan lingkungan kerja yang
dapat merupakan beban tambahan pada pekerja. Bila ketiga komponen tersebut serasi maka
bisa dicapai suatu derajat kesehatan kerja yang optimal dan peningkatan produktivitas.
Sebaliknya bila terdapat ketidak serasian dapat menimbulkan masalah kesehatan kerja berupa
penyakit ataupun kecelakaan akibat kerja yang pada akhirnya akan menurunkan produktivitas
kerja
Kapasitas Kerja
Status kesehatan masyarakat pekerja di Indonesia pada umumnya belum memuaskan. Dari
beberapa hasil penelitian didapat gambaran bahwa 30-40% masyarakat pekerja kurang kalori
protein, 30% menderita anemia gizi dan 35% kekurangan zat besi tanpa anemia. Kondisi
kesehatan seperti ini tidak memungkinkan bagi para pekerja untuk bekerja dengan
produktivitas yang optimal. Hal ini diperberat lagi dengan kenyataan bahwa angkatan kerja
yang ada sebagian besar masih di isi oleh petugas kesehatan dan non kesehatan yang
mempunyai banyak keterbatasan, sehingga untuk dalam melakukan tugasnya mungkin sering
mendapat kendala terutama menyangkut masalah PAHK dan kecelakaan kerja.

Beban Kerja
Sebagai pemberi jasa pelayanan kesehatan maupun yang bersifat teknis beroperasi 8 24 jam
sehari, dengan demikian kegiatan pelayanan kesehatan pada laboratorium menuntut adanya
pola kerja bergilirdan tugas/jaga malam. Pola kerja yang berubah-ubah dapat menyebabkan
kelelahan yang meningkat, akibat terjadinya perubahan pada bioritmik (irama tubuh). Faktor
lain yang turut memperberat beban kerja antara lain tingkat gaji dan jaminan sosial bagi
pekerja yang masih relatif rendah, yang berdampak pekerja terpaksa melakukan kerja
tambahan secara berlebihan. Beban psikis ini dalam jangka waktu lama dapat menimbulkan
stres.
Lingkungan Kerja
Lingkungan kerja bila tidak memenuhi persyaratan dapat mempengaruhi kesehatan kerja
dapat menimbulkan Kecelakaan Kerja (Occupational Accident), Penyakit Akibat Kerja dan
Penyakit Akibat Hubungan Kerja (Occupational Disease & Work Related Diseases).

Pengertian Kerja tambang

Pengertian adalah Setiap tempat pekerjaan yang bertujuan atau berhubungan langsung dengan
pekerjaan penyelidikan umum, eksplorasi, study kelayakan, konstruksi, operasi produksi,
pengolahan/ pemurnian dan pengangkutan bahan galian golongan a, b, c, termasuk sarana dan
fasilitas penunjang yang ada di atas atau di bawah tanah/air, baik berada dalam satu wilayah
atau tempat yang terpisah atau wilayah proyek.

Yang dimaksud kecelakaan tambang yaitu :

1; Kecelakaan Benar Terjadi


2; Membuat Cidera Pekerja Tambang atau orang yang diizinkan di tambang oleh KTT
3; Akibat Kegiatan Pertambangan
4; Pada Jam Kerja Tambang
5; Pada Wilayah Pertambangan

Penggolongan Kecelakaan tambang

1; Cidera Ringan (Kecelakaan Ringan)


Korban tidak mampu melakukan tugas semula lebih dari 1 hari dan kurang dari 3 minggu.
1; Cidera Berat (Kecelakaan Berat)
Korban tidak mampu melakukan tugas semula lebih dari 3 minggu.
1; Berdasarkan cedera korban, yaitu :

Retak Tengkorak kepala, tulang

Pendarahan di dalam atau pingsan kurang oksigen

Luka berat, terkoyak

Persendian lepas

punggung pinggul, lengan bawah/atas, paha/kaki

1; Berdasarkan penelitian heinrich:

Perbuatan membahayakan oleh pekerja mencapai 96% antara lain berasal dari:

1; Alat pelindung diri (12%)


b.

Posisi kerja (30%)

c.

Perbuatan seseorang (14%)

d. Perkakas (equipment) (20%)


e. Alat-alat berat (8%)
f.

Tata cara kerja (11%)

g.

Ketertiban kerja (1%)

Sumberlainnya diluar kemampuan dan kendali manusia.

E.

Manajemen K3

Tindakan Setelah Kecelakaan Kerja

1; Pengorganisasian dan Kebijakan K3


2; Membangun Target dan Sasaran
3; Administrasi, Dokumentasi, Pelaporan
4; SOP
Prosedur kerja standar adalah cara melaksanakan pekerjaan yang ditentukan, untuk
memperoleh hasil yang sama secara paling aman, rasional dan efisien, walaupun dilakukan
siapapun, kapanpun, di manapun. Setiap pekerjaan Harus memiliki SOP agar pekerjaan dapat
dilakukan secara benar, efisien dan aman
1; Rekrut Karyawan & Kontrol Pembelian
2; Inspeksi dan Pengujian K3
3; Komunikasi K3
4; Pembinaan
5; Investigasi Kecelakaan
6; Pengelolaan Kesehatan Kerja
7; Prosedur Gawat Darurat
8; Pelaksanaan Gernas K3
Manajemen K3 memiliki target dan sasaran berupa tercapainya suatu kinerja K3 yang
optimal dan terwujudnya ZERO ACCIDENT dalam kegiatan Proses Produksi .

Pedoman Peraturan K3 Tambang

1; Ruang Lingkup K3 Pertambangan : Wilayah KP/KK/PKP2B/SIPD Tahap


Eksplorasi/Eksploitasi/Kontruksi & Produksi/Pengolahan/Pemurnian/Sarana
Penunjang
2; UU No. 11 Tahun 1967
3; UU No. 01 Tahun 1970
4; UU No. 23 Tahun 1992
5; PP No. 19 Tahun 1970
6; Kepmen Naker No. 245/MEN/1990
7; Kepmen Naker No. 463/MEN/1993
8; Kepmen Naker No. 05/MEN/1996
9; Kepmen PE. No.2555 K/26/MPE/1994
10; Kepmen PE No. 555 K/26/MPE/1995

11; Kepmen Kesehatan No. 260/MEN/KES/1998


12; Kepmen ESDM No. 1453 K/29/MEM/2000
F.

Sistem manajemen k3 di pertambangan

Manajemen Resiko Pertambangan adalah suatu proses interaksi yang digunakan oleh
perusahaan pertambangan untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan menanggulangi bahaya
di tempat kerja guna mengurangi resiko bahaya seperti kebakaran, ledakan, tertimbun
longsoran tanah, gas beracun, suhu yang ekstrem,dll. Jadi, manajemen resiko merupakan
suatu alat yang bila digunakan secara benar akan menghasilkan lingkungan kerja yang
aman,bebas dari ancaman bahaya di tempat kerja.
Adapun Faktor Resiko yang sering dijumpai pada Perusahaan Pertambangan adalah sebagai
berikut :
Ledakan
Ledakan dapat menimbulkan tekanan udara yang sangat tinggi disertai dengan nyala api.
Setelah itu akan diikuti dengan kepulan asap yang berwarna hitam. Ledakan merambat pada
lobang turbulensi udara akan semakin dahsyat dan dapat menimbulkan kerusakan yang fatal
Longsor
Longsor di pertambangan biasanya berasal dari gempa bumi, ledakan yang terjadi di dalam
tambang,serta kondisi tanah yang rentan mengalami longsor. Hal ini bisa juga disebabkan
oleh tidak adanya pengaturan pembuatan terowongan untuk tambang.
Kebakaran
Bila akumulasi gas-gas yang tertahan dalam terowongan tambang bawah tanah mengalami
suatu getaran hebat, yang diakibatkan oleh berbagai hal, seperti gerakan roda-roda mesin,
tiupan angin dari kompresor dan sejenisnya, sehingga gas itu terangkat ke udara
(beterbangan) dan kemudian membentuk awan gas dalam kondisi batas ledak (explosive
limit) dan ketika itu ada sulutan api, maka akan terjadi ledakan yang diiringi oleh kebakaran.
Pengelolaan Risiko menempati peran penting dalam organisasi kami karena fungsi ini
mendorong budaya risiko yang disiplin dan menciptakan transparansi dengan menyediakan
dasar manajemen yang baik untuk menetapkan profil risiko yang sesuai. Manajemen Risiko
bersifat instrumental dalam memastikan pendekatan yang bijaksana dan cerdas terhadap
pengambilan risiko yang dengan demikian akan menyeimbangkan risiko dan hasil serta
mengoptimalkan alokasi modal di seluruh korporat. Selain itu, melalui budaya manajemen
risiko proaktif dan penggunaan sarana kuantitatif dan kualitatif yang modern, kami berupaya
meminimalkan potensi terhadap kemungkinan risiko yang tidak diharapkan dalam
operasional.
Pengendalian risiko diperlukan untuk mengamankan pekerja dari bahaya yang ada di tempat
kerja sesuai dengan persyaratan kerja Peran penilaian risiko dalam kegiatan pengelolaan
diterima dengan baik di banyak industri. Pendekatan ini ditandai dengan empat tahap proses
pengelolaan risiko manajemen risiko adalah sebagai berikut :
1; Identifikasi risiko adalah mengidentifikasi bahaya dan situasi yang berpotensi
menimbulkan bahaya atau kerugian (kadang-kadang disebut kejadian yang tidak
diinginkan).
2; Analisis resiko adalah menganalisis besarnya risiko yang mungkin timbul dari
peristiwa yang tidak diinginkan.
3; Pengendalian risiko ialah memutuskan langkah yang tepat untuk mengurangi atau
mengendalikan risiko yang tidak dapat diterima.

4; Menerapkan dan memelihara kontrol tindakan adalah menerapkan kontrol dan


memastikan mereka efektif.
Manajemen resiko pertambangan dimulai dengan melaksanakan identifikasi bahaya untuk
mengetahui faktor dan potensi bahaya yang ada yang hasilnya nanti sebagai bahan untuk
dianalisa, pelaksanaan identifikasi bahaya dimulai dengan membuat Standart Operational
Procedure (SOP). Kemudian sebagai langkah analisa dilakukanlah observasi dan inspeksi.
Setelah dianalisa,tindakan selanjutnya yang perlu dilakukan adalah evaluasi resiko untuk
menilai seberapa besar tingkat resikonya yang selanjutnya untuk dilakukan kontrol atau
pengendalian resiko. Kegiatan pengendalian resiko ini ditandai dengan menyediakan alat
deteksi, penyediaan APD, pemasangan rambu-rambu dan penunjukan personel yang
bertanggung jawab sebagai pengawas. Setelah dilakukan pengendalian resiko untuk tindakan
pengawasan adalah dengan melakukan monitoring dan peninjauan ulang bahaya atau resiko.
Secara umum manfaat Manajemen Resiko pada perusahaan pertambangan adalah sebagai
berikut :
1; Menimalkan kerugian yang lebih besar
2; Meningkatkan kepercayaan pelanggan dan pemerintah kepada perusahaan
3; Meningkatkan kepercayaan karyawan kepada perusahaan
Guna menghindari berbagai kecelakaan kerja pada tambang bawah tanah, terutama dalam
bentuk ledakan gas perlu dilakukan tindakan pencegahan. Tindakan pencegahan ledakan ini
harus dilakukan oleh segenap pihak yang terkait dengan pekerjaan pada tambang bawah
tanah tersebut. Beberapa hal yang perlu dipelajari dalam rangka pencegahan ledakan adalah :
1; Pengetahuan dasar-dasar terjadinya ledakan, membahas:
1; Gas-gas yang mudah terbakar/meledak
2; Karakteristik gas
3; Sumber pemicu kebakaran/ledakan
4; Metoda eliminasi penyebab ledakan, antara lain:
1; Pengukuran konsentrasi gas
2; Pengontrolan sistem ventilasi tambang
3; Pengaliran gas (gas drainage)
4; Penggunaan alat ukur gas
5; Penyiraman air (sprinkling water)
6; Pengontrolan sumber-sumber api penyebab kebakaran dan ledakan
7; Teknik pencegahan ledakan tambang
1; Penyiraman air (water sprinkling)
2; Penaburan debu batu (rock dusting)
3; Pemakaian alat-alat pencegahan standar.
4; Fasilitas pencegahan penyebaran kebakaran dan ledakan, antara
lain:
1; Lokalisasi penambangan dengan penebaran debu batuan
2; Pengaliran air ke lokasi potensi kebakaran atau ledakan

3; Penebaran debu batuan agak lebih tebal pada lokasi


rawan
4; Tindakan pencegahan kerusakan akibat kebakaran dan
ledakan:
1; Pemisahan rute (jalur) ventilasi
2; Evakuasi, proteksi diri, sistemperingatandini,
dan penyelamatansecara tim.
Sesungguhnya kebakaran tambang dan ledakan gas tidak akan terjadi jika sistem ventilasi
tambang batubara bawah tanah itu cukup baik.
BAB III
PENUTUP
A.

Kesimpulan

Kecelakaan kerja tambang adalah suatu kejadian yang tidak diinginkan atau tidak
dikehendaki yang benar-benar terjadi dan membuat cidera pekerja tambang atau orang yang
diizinkan di tambang oleh KTT sebagai akibat kegiatan pertambangan pada jam kerja
tambang dan pada wilayah pertambangan.
Peran K3 sebagai suatu sistem program yang dibuat bagi pekerja maupun pengusaha,
kesehatan dan keselamatan kerja atau K3 diharapkan dapat menjadi upaya preventif terhadap
timbulnya kecelakaan kerja dan penyakit akibat hubungan kerja dalam lingkungan kerja.
Pelaksanaan K3 diawali dengan cara mengenali hal-hal yang berpotensi menimbulkan
kecelakaan kerja dan penyakit akibat hubungan kerja, dan tindakan antisipatif bila terjadi hal
demikian.
Manajemen Resiko Pertambangan adalah suatu proses interaksi yang digunakan oleh
perusahaan pertambangan untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan menanggulangi bahaya
di tempat kerja guna mengurangi resiko bahaya seperti kebakaran, ledakan, tertimbun
longsoran tanah, gas beracun, suhu yang ekstrem, dll. Jadi, manajemen resiko merupakan
suatu alat yang bila digunakan secara benar akan menghasilkan lingkungan kerja yang aman,
bebas dari ancaman bahaya di tempat kerja. Pentingnya kebutuhan pengelolaan K3 dalam
bentuk manajemen yang sistematis dan mendasar agar dapat terintegrasi dengan manajemen
perusahaan yang lain. Integrasi tersebut diawali dengan kebijakan dari perusahaan untuk
mengelola K3 dengan menerapkan suatu Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (SMK3).
B.

Saran

Kesehatan dan keselamatan kerja sangat penting dalam pembangunan karena sakit dan
kecelakaan kerja akan menimbulkan kerugian ekonomi (lost benefit) suatu perusahaan,
kerugian pada diri pekerja, bahkan kerugian pada Negara. Oleh karena itu kesehatan dan
keselamatan kerja harus dikelola secara maksimal bukan saja oleh tenaga kesehatan tetapi
seluruh masyarakat khusunya masyarakat pekerja di pertambangan tersebut guna
meminimalisir segala kerugian yang dapat terjadi.