Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN AKHIR

JURNAL PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI DASAR

DISUSUN OLEH :
NAMA
WANDA AZIIZAH RAHAYU

NIM
1511015052

KELOMPOK 1A
NAMA
Bayu Rosandy
Gefanni Emilla Alya
Nuraenun Ayu Lestari
Nur Jannah
Wanda Aziizah Rahayu
Wirda Alawiah
Wulandari

NIM
1511015018
1511015042
1511015045
1511015045
1511015083
1511015052
1511015043
1511015079

JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT


LABORATORIUM MIKROBIOLOGI DAN GENETIKA MOLEKULER
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
2015
i

LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN AKHIR JURNAL PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI DASAR
Disusun Oleh:
NAMA
Wanda Aziizah Rahayu

NIM
1511015045

Kelompok/ kelas
1A
NAMA
Bayu rosandy
Geafanni Emilla Alya
Nur Aenun Ayu Lestari
Nur Jannah
Wanda Aziizah Rahayu
Wirda Alawiah
Wulandari

NIM
1511015018
1511015042
1511015045
1511015083
1511015052
1511015043
1511015079

Laporan akhir praktikum Mikrobiologi Dasar ini telah di serahkan di Samarinda pada tanggal
21 bulan Desember 2015 dan telah memenuhi syarat.
Menyetujui,
Asisten II

Asisten I

Asisten III

Cep Hikmat Maulana Yusuf


NIM. 1307025037

Ersaliany Nurul Pratiwi Qodrie


NIM. 1307025018

Nur Maulida Aulia


NIM. 1307025011

Asisten IV

Asisten V

Asisten VI

Riska Prihatiningsih
NIM. 1307025081

Tunik khoiriyah
NIM.1307025027

Yusnaini
NIM.1307025010

Mengetahui
Kepala Laboraturium Mikrobiologi Dasar
Dr. rer. Nat. Boedhi Dharma. M. Si.
NIP. 19710726 200012 1 002
Dosen

Ir. Samsurianto
NIP. 1910726 200012 1 002

ii

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
anugerah-nya, sehingga penyusunan laporan resmi dengan judul Laporan Akhir Praktikum
Mikrobilogi Dasar dapat diselesaikan.
Laporan ini dibuat sebagai salah satu syarat yang diberikan kepada mahasiswamahasiswi dalam ujian praktikum.
Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dan dukungan dari berbagai pihak tidak
mungkin laporan ini dapat diselesaikan. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis
meyampaikan terima kasih kepada:
1.
2.

3.
4.

Bapak dan ibu yang telah banyak memberikan doa, materi dan moril yang tak ternilai
serta memberikan semangat dalam penyelesaian laporan resmi ini,
Asisten Cep Hikmat M. Y, Ersaliany N. P. Q, Nur Maulida Aulia, RiskaPrihatiningsih,
Tunik Khoiriyah, dan Yusnaini yang telah membimbing, memberikan masukan dan
bantuan kepada punulis,
Teman-teman FKM 2015 Kelas A dan B telah memberikan masukan dan bantuan
kepada penulis,
Teman-teman asrama putri tarakan yang telah memberikan masukan dan bantuan
kepada penulis.

Penulis menyadari masih terdapat kekurangan dalam laporan ini, Penulis beharap
semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi teman-teman yang akan melakukan penelitian dan
dapat menyempurnakan laporan ini menjadi lebih baik.

Samarinda, 22 Desember 2015

Penyusun

iii

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ................................................................................................................... i
HALAMAN PENGESAHAN .................................................................................................... ii
KATA PENGANTAR ...............................................................................................................iii
DAFTAR ISI ............................................................................................................................. iv
DAFTAR TABEL ...................................................................................................................... v
PRAKTIKUM PERALATAN STERILISASI DAN MEDIA PERTUMBUHAN MIKROBA 1
PRAKTIKUM ISOLASI DAN IDENTIFIKASI MORFOLOGI KOLONI MIKROBA .......... 6
PRAKTIKUM PEMBUATAN BIAKAN MURNI.................................................................... 9
PRAKTIKUM PEWARNAAN BAKTERI ............................................................................. 12
PRAKTIKUM PENGAMATAN JAMUR MIKROSKOPIS ................................................... 16
PRAKTIKUM PENGONTROLAN MIKROORGANISME ................................................... 18
PRAKTIKUM ANALISIS MIKROORGANISME PADA JAMU ......................................... 22

iv

DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Perkenalan Alat ......................................................................................................... 2
Tabel 1.2 Pembuatan Media ....................................................................................................... 4
Tabel 2.1 Isolasi Morfologi Koloni Mikroba ............................................................................. 7
Tabel 3.1 Pembiakan Murni ..................................................................................................... 10
Tabel 4.1 Pewarnaan Bakteri .................................................................................................... 14
Tabel 5.1 Pengamatan Jamur Mikroskopis .............................................................................. 17
Tabel 6.1 Pengontrolan Mikroorganisme ................................................................................. 19
Tabel 7.1 Analisis Mikroorganisme Pada Jamu Pegal Linu ..................................................... 23

Jurnal Praktikum Mikrobiologi Dasar


Peralatan, Sterilisasi dan Media Pertumbuhan Mikroba
Wanda Aziizah Rahayu, Bayu Resandy, Geafanni Emilia Alya, Nur Jannah, Nuraenun Ayu L, Wirda Alawiah, dan Wulandari.
Kelompok 1A Praktikum Mikrobiologi Dasar
Fakultas Kesehatan Masyarakat

Abstrak
Dalam prakteknya sterilisasi alat medium dapat dilakukan secara pemanasan, penyinaran, dan
penyaringan. Adapun media pertumbuhan mikroba yang digunakan adalah media hidup, media buatan,
dan lain - lain. Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui cara mensterilkan dan fungsi dari
peralatan yang akan digunakan dalam praktikum dan melakukan pembuatan medium dasar. Bahan
yang digunakan yaitu medium PDA yaitu ekstrak kentang 250 ml, dextrose 2,5 gram, dan agar 3,75
gram. Medium NA ekstrak daging 250 ml, agar 3,75 gram, dan pepton 1,25 gram. Hasil yang didapat
pada praktikum ini ialah untuk membuat medium kita harus teliti sehingga hasil akhirnya menjadi
sempurna dengan cara mensterilkan alat-alat praktikum dengan metode uap bertekanan atau autoclave.
Kata Kunci: Sterilisasi/ Potato Dextrose Agar/ Nutrient Agar
Tanggal Praktikum : 23 November 2015; Diserahkan tanggal 27 November 2015

Pendahuluan
Mikrobiologi adalah ilmu yang mempelajari
tentang mikroorganisme yang tidak dapat
dilihat dengan mata telanjang untuk meneliti
apa saja yang terkandung di dalam
mikroorganisme.
Dalam
meneliti
mikroorganisme diperlukan teknik dan caracara khusus [4].
Didalam pekerjaan mikrobiologi seringkali
kita tidak terlepas dari Tentang fungsi dan
sifat-sifat dari alat yang digunakan. Peralatan
yang
digunakan
pada
laboratorium
mikrobiologi yaitu berupa alat-alat gelas antara
lain: tabung reaksi, cawan petri, pipet ukur dan
pipet volumetrik, labu ukur, labu erlenmeyer,
gelas piala, pH meter, gelas arloji, termometer,
botol tetes, pembakar spiritus, kaki tiga dengan
kawat
alat-alat
yang
berada
dalam
laboratorium.
Untuk
itu
diperlukan
pemahaman [4].
Untuk mempelajari serta untuk meneliti
mikroorganisme
baik
sifat
maupun
karakteristiknya, tentu diperlukan adanya
pengenalan alat yang akan digunakan serta
mengetahui cara penggunaan alatalat yang
berhubungan dengan penelitian yang akan
dilakukan [4].
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum
mikrobiologi juga harus dalam keadaan steril
atau bebas dari kuman serta bakteri, virus dan
jamur. Dan untuk mensterilkannya diperlukan
pula pengetahuan
Asisten pendamping: 1.Tunik Khoiriyah 2.Yusnaini
3.Ersaniany 4.Nurul PratiwiQodrie, 4.Cep Hikmat Maulan Yusuf
5. 6.Riska Prihatiningsih
Penanggung jawab: Koordiantor mata Kuliah Mikrobiologi
Dasar: Dr. rer. nat. Bodhi Dharma M.Si dan Eko Kusumawati S.
Si, M. P Serta Kepala Laboratorium Mikrobiologi dan Genetika
Molekuler Dr. rer. nat. Bodhi Dharma M.Si, FMIPA Unmul

tentang cara- cara/ teknik sterilisasi. Hal ini


dilakukan karena alat- alat yang digunakan
pada laboratorium mikrobiologi memiliki
teknik sterilisasi yang berbeda. Sterilisasi
merupakan Metode praktis yang dirancang
untuk membersihkan dari mikroorganisme. [4]
Pada tahun 1832 William Henry, seorang
Dokter Manchester, mempelajari efek panas
pada penularan dengan menempatkan bahan
yang terkontaminasi, yaitu pakaian yang
dikenakan oleh penderita dari tifus dan
demam, di udara dipanaskan oleh air kemudian
dalam bejana yang ditekan. Dia menyadari
bahwa dia bisa mencapai suhu lebih tinggi dari
100 C dengan menggunakan bejana tertutup
dilengkapi dengan katup pengaman yang tepat.
Ia menemukan bahwa pakaian diperlakukan
bisa dikenakan dengan impunitas oleh orang
lain, yang tidak kontrak penyakit. Louis
Pasteur juga menggunakan bejana tekanan
dengan katup pengaman untuk sterilisasi [1].
Komposisi media tumbuh bervariasi
tergantung pada jenis mikroorganisme yang
akan
ditumbuhkan,
namum
semua
mikroorganisme mempunyai kebutuhan dasar
yang sama dalam media tumbuhnya, yaitu air,
karbon,
energi,
mineral
dan
faktor
tumbuh.Derajat keasaman (pH) media sangat
menentukan pertumbuhan mikroorganisme,
pada ummnya mikroorganisme hidup pada
kisarah pH netral (7), tetapi mikroorganisme
patogen biasanya hdup pada pH basa. Pada
praktikum ini kita menggunakan media NA
dan PDA.
Praktikum ini bertujuan untuk sterilisasi
terhadap peralatan yang akan digunakan dalam
pembuatan media. Manfaat dari praktikum ini
adalah agar praktikan mengetahui bagaimana
cara mensterilisasikan peralatan yang akan

Laboraturium Mikrobiologi dan Genetika Molekuler, Biologi, FMIPA Unmul

Jurnal Praktikum Mikrobiologi Dasar


digunakan sebelum dipakai untuk melakukan
pembuatan medium dan lai-lain.
Metode
Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Senin,
23 Novemeber 2015 pada pukul 13.00-15.30
WITA.
Bertempat
di
Laboratorium
Mikrobiologi dan Genetika Molekuler Gedung,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengatahuan
Alam, Universitas Mulawaraman, Samarinda.
Alat dan Bahan
Alat
Alat yang digunakan yaitu gelas
erlenmeyer, neraca analitik, ose melengkung,
ose lup, lampu Bunsen, hot plate, stirer,
autoclave, cawan petri, spatula, karet gelang,
kertas, air, kapas, alumunium foil, aquades,
kertas label, mikropipet, blue tip, yellow tip,
magnetic stirrer, batang mahnetik, vortex,
incubator, pinset, kuvet, gelas ukur, shaker,
dan refigator.
Bahan
Bahan yang digunakan yaitu untuk
pembuatan PDA digunakan ekstrak kentang
250 ml, agar 5 gr, dan dextrose 5 gr. Untuk
pembuatan NA digunakan Ekstrak Daging 250
ml, agar 3,75 gr dan peptone 2,25 gr.
Cara kerja
Sterilisasi Alat
Cara sterilisasi cawan petri yaitu dengan
dibungkus dengan kertas, disisi kanan dan kiri
dilipat membentuk segitiga, lalu dilipat ke
bawah membentuk kotak.
Media PDA
Dimasukkan dextrose kedalam mangkuk
kecil sebanyak 2,5 gram dan ditimbang
menggunakan neraca analitik. Dimasukkan
dextrose yang telah diukur kedalam
Erlenmeyer. Dimasukkan agar kedalam
mangkuk kecil sebanyak 3,75 gr dan ditimbang
menggunakan neraca analitik. Dimasukkan
agar yang telah dikur kedalam Erlenmeyer.
Kemudian dimasukkan ekstrak kentang yang
diukur menggunakam tabung ukur sebanyak
250 ml dan dimasukkan kedalam Erlenmeyer.
Setelah itu dihomogenkan bahan yang telah
dicampur. Ditutup mulut erlemeyer dengan
menggunakan
kasa
yang
ditumpuk
menggunakan kapas sampai mulut benar-benar
tertutup rapat lalu dipanaskan bahan yang telah
dihomogenkan dengan hot plate sampai bahan-

bahan yang terdapat di Erlenmeyer benarbenar homogen dengan sempurna.


Media NA
Dimasukkan pepton kedalam mangkuk
kecil sebanyak 1,25 gram dan ditimbang
menggunakan neraca analitik. Dimasukkan
peptone yang telah diukur kedalam
Erlenmeyer, dimasukkan agar kedalam
mangkuk kecil sebanyak 3,75 gr. Dimasukkan
agar yang sudah ditimbang tadi kedalam gelas
Erlenmeyer. Dimasukkan ekstrak daging yang
sudah diukur sebanyak 250 ml dan diletakkan
kedalam gelas Erlenmeyer. Dihomogenkan
bahan yang telah dicampur. Kemudian ditutup
mulut erlenmeyer dengan menggunakan kasa
yang ditumpuk dengan kapas sampai mulutnya
bener-benar tertutup. Dipanasakan bahan yang
telah dihomegenkan dengan hot plate sampai
bahan-bahan yang terdapat di Erlenmeyer
benar-benar homogen dengan sempurna
Setelah dipanaskan dengan
hot plate,
dimasukkan Erlenmeyer kedalam autoklave
dengan suhu 1210C selama 20 menit.
Hasil dan Pembahasan
1.1 Perkenalan Alat
No Nama Alat
Keterangan
1
Autoclave
Fungsinya
untuk
mensterilkan bahan
dan alat alat
dengan uap air panas
bertekanan tinggi
2

Batang
pengaduk

Fungsinya
untuk
mengaduk bahan

Blue tip

Fungsinya
untuk
memindahkan cairan
yang
bervolume
1000 l.

Cawan petri

Fungsinya
sebagai
wadah penyimpanan
dan
pembuatan
media.

Corong

Fungsinya
untuk
memudahkan suatu
larutan
masuk
kedalam suatu wadah

Laboraturium Mikrobiologi dan Genetika Molekuler, Biologi, FMIPA Unmul

Jurnal Praktikum Mikrobiologi Dasar


6

Evavorator

Fungsinya
untuk
menguapkan bahan

Gelas ukur

Fungsinya
untuk
mengukur larutan

10

12

13

14

14

Hockey stick

Hot plate

Inkubator

Kuvet

Lampu
Bunsen/
Spiritus

Magnetic
stirrer

Mikropipet

Fungsinya
untk
meratakan
media
dalam cawan petri

15

Neraca
analitik

Fungsinya
untuk
mengukur
bahan
yang akan digunakan

16

Ose lup

Fungsinya
untuk
mengisolasi bakteri

17

Ose
melengkung

Fungsinya
mengambil
jamur/fungi
berfilamen

Fungsinya
untuk
memanaskan bahan

Fungsinya
untuk
mensterilkan jarum
ose atau bahan
bahan yang terbuat
dari platina atau
khorm dengan cara
pemijaran
Magnetic
stirrer
adalah
perangkat
laboratorium
yang
menggunakan medan
magnet
berputar
didalam cairan.
Fungsinya
memindahkan
cair pada
yang satu ke
yang lain

yang

18

Pinset

Fungsinya
untuk
memndahkan
atau
mengambil
bahan
medium

19

Pipet

Fungsinya
untuk
mengambil bahanbahan yang bersifat
cair

20

Shaker

Fungsinya
mengaduk
otomatis

21

Inkubator

Menginkubasi media

22

Spektrofoto
meter

Fungsinya
menghitung
pada kuvet

23

Tabung
Erlenmeyer

Fungsinya
sebagai
wadah untuk media
cair

Fungsinya
untuk
menginkubatorkan
bahan

Fungsinya
untuk
mengukur
pertumbuhan bakteri

untuk

untuk
dengan

untuk
bakteri

untuk
media
tempat
tempat

Laboraturium Mikrobiologi dan Genetika Molekuler, Biologi, FMIPA Unmul

Jurnal Praktikum Mikrobiologi Dasar

24

Vortex

Fungsinya
untuk
menghomogen bahan

25

Oven

Menginkubasi media

26

Yellow

tip Fungsinya
untuk
memindahkan cairan
yang bervolume 100
l.

Pada tabel diatas dapat kita lihat berbagai


macam alat dan pembuatan media. Masingmasing alat mempunyai fungsi berbeda-beda.
Setiap alt tersebut harus disterilkan terlebih
dahulu sebelum digunakan.
Cara sterilisasi yang tepat tergantung pada
jenis dan sifat bahan yang disterilkan. Pada
praktikum ini digunakan sterilisasi uap
bertekanan,
sterilisasi
uap
bertekanan
menggunakan
autoklaf.
Autoklaf adalah
sterilisasi untuk alat dan medium kultur
jaringan.
Alat-alat
yang
berupa gelas
erlenmeyer
dan
cawan
petri sebelum
digunakan harus disterilkan dahulu. Dengan
pemanasan di dalam autoklaf maka bakteri
dan mikrobia dapat mati akibat suhu yang
tinggi (121C) dan tekanan uap air yang besar
selama 20 menit.
Autoklaf
adalah
alat
steril
yang
memanfaatkan uap air panas bertekanan tinggi
biasanya digunakan untuk mensterilkan
peralatan yang tahan panas dan tidak rusak
oleh panas. Sterilisasi menggunakan autoklaf
merupakan cara yang paling baik karena uap
air panas dengan tekanan tinggi menyebabkan
penetrisi uap air panas kedalam sel-sel mikroba
menjadi optimal sehingga langsung mematikan
mikroba [3].
Autoklaf mempunyai cara kerja yang
hampir sama dengan alat masak pressure
cooker , sebab alat ini merupakan sebuah
bejana yang diisi air dan ditutup rapat-rapat.

Autoklaf ada yang model listrik tetapi ada pula


yang harus diletakkan diatas kompor gas. Jika
alat ini dipanaskan, maka akan terjadi uap air
yang tidak dapat keluar karena bejana tertutup
rapat, sehingga tekanan di dalam autoklaf naik
sampai melebihi tekanan normal [2].
Medium yang disterilkan ditempatkan di
dalam autoclave selama 15-20 menit. Isi
tempat air hingga batas angsang didalam
bejana. Bungkus terlebih dahulu alat yang akan
disterilkan. Setelah pintu autoclave ditutup
rapat, barulah kran pada pipa uap dibuka dan
temperatur akan terus-menerus naik sampai
1210C dengan tekanan 2 atm. Setelah sterilisasi
selasai jangan langsung membuka penutup
autoklaf, tetapi tunggu sebentar hingga
termometer turun hingga angka nol.
Tabel 1.2 Pembuatan Media
No Media
Keterangan
1

Komposisi
Ekstrak
kentang
:
250 ml
Agar :3,75
gram
Dextrose :
2,5 gram

Ekstrak kentang
2

Ektrak
sapi

daging

Komposisi :
Ekstrak
daging sapi :
250 ml
Agar : 3,75
gram
Pepton : 1,25
gram

Pada praktikum pembuatan media NA dan


PDA. Medium PDA atau disebut juga Potato
Dextrose Agar merupakan media yang berasal
dari ekstrak kentang, dextron, agar dan
aquades, yang biasa digunakan untuk
menumbuhkan jamur dan merupakan salah
satu media cair. Media NA atau disebut juga
dengan Nutrien Agar merupakan media yang
terbuat dari agar, peptone dan aquades. Media
ini digunakan untuk pertumbuhan bakteri.
Salah satu media yang baik digunakan
untuk membiakkan suatu organisme (bakteri

Laboraturium Mikrobiologi dan Genetika Molekuler, Biologi, FMIPA Unmul

Jurnal Praktikum Mikrobiologi Dasar


atau mikroba) adalah Potato Dextrose Agar
(PDA).
Macam-macam media pertumbuhan
1. Medium berdasarkan sifat fisik
Medium padat, yaitu media yang
mengandung agar 1-1,5% sehingga
setelah dingin media menjadi padat.
Medium setengah padat, yaitu media
yang mengandung agar 0,3-0,4%
sehingga menjadi sedikit kenyal, tidak
padat, tidak begitu cair. Media semi
solid dibuat dengan tujuan supaya
pertumbuhan mikroba menyebar ke
seluruh media tetapi tidak mengalami
pencampuran sempurna jika tergoyang.
Medium cair yaitu media yang tidak
mengandung agar, contohnya adalah NB
(nutrient broth), LB (lactose broth) [5].
2. Medium berdasarkan komposisi
Medium sintesis yaitu media yang
komposisi zat kimianya diketahui jenis
dan takarannya secara pasti, misalnya
glukosa agar, mac conkey agar. Media
semi sintesis yaitu media yang sebagian
komposisinya diketahui secara pasti.
Misalnya PDA (potato dextrose agar)
yang mengandung agar, dekstrosa dan
ekstrak kentang. Untuk bahan ekstrak
kentang, kita tidak dapat mengetahui
secara detail tentang komposisi senyawa
penyusunnya. Medium non sistesis yaitu
media yang dibuat dengan komposisi
yang tidak dapat diketahui secara pasti
dan biasanya langsung diekstrak dari
bahan dasarnya, misalnya tomato juice
agar, brain heart infusion agar,
pancreatic extract [5].
3. Medium berdasarkan tujuan
Media untuk isolasi. Media ini
mengandung semua senyawa esensial
untuk pertumbuhan mikroba, misalnya
nutrient broth, blood agar. Media
selektif/penghambat. Media yang selain
mengandung nutrisi juga ditambah suatu
zat tertentu sehingga media tersebut
dapat menekan pertumbuhan mikroba
lain dan merangsang pertumbuhan
mikroba yang diinginkan.[5]
Media diperkaya (enrichment). Media yang
mengandung
komponen
dasar
untuk
pertumbuhan mikroba dan ditambah komponen

kompleks seperti darah, serum, kuning telur.


Media diperkaya juga bersifat selektif untuk
mikroba tertentu. Bakteri yang tumbuh pada
media ini tidak hanya membutuhkan nutrisi
sederhana untuk berkembangbiak, tetapi
membutuhkan komponen kompleks: blood
tellurite agar, bile agar, serum agar .
Media untuk peremajaan kultur. Media
umum atau spesifik yang digunakan untuk
peremajaan kultur. Media untuk menentukan
kebutuhan nutrisi spesifik. Media ini
digunakan
untuk
mendiagnosis
atau
menganalisis metabolisme suatu mikroba.
Media untuk karakterisasi bakteri. Media yang
digunakan untuk mengetahui kemampuan
spesifik suatu mikroba. Kadang-kadang
indikator ditambahkan untuk menunjukkan
adanya perubahan kimia. Media differsial.
Media ini bertujuan untuk mengidentifikasi
mikroba dari campurannya berdasakan
karakter spesifik yang ditunjukkan pada media
diffentia [5].
Kesimpulan
Kesimpulan untuk membuat medium kita
harus teliti sehingga hasil akhirnya menjadi
sempurna dengan cara mensterilkan alat-alat
praktikum dengan metode uap bertekanan atau
autoclave.
Referensi

[1] Ayliffes, Hugo, dan Rusell. 2004.


Principles and practice of disinfection,
preservation and sterilization. Hong
kong: blackwellpublishing.Halaman 5
[2] Hendrayono, D.P dan Wijayani, A.
Teknik Kultur Jaringan Yogjakarta:
Kanisius 2012. Halaman 55
[3] Sumasih, Sri. 2010. Untung Besar Usaha
Bibit Jamur Tiram. Jakarta: PT Niaga
Swadaya. Halaman 30
[4] Suriantika, Cipto DKK. 2013. Laporan
Kelompok
Praktikum
MikrobiologiVirologi Sterilisasi Dan Pengenalan
Peralatan
Mikrobiologi,
Jakarta:
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr.
Hamka. Halaman 4
[5] Volk dan Wheeler. 1993. Mikrobiologi
Dasar Jilid 1 Edisi ke 5. Jakarta:
Erlangga. Halaman

Laboraturium Mikrobiologi dan Genetika Molekuler, Biologi, FMIPA Unmul

Jurnal Praktikum Mikrobiologi Dasar

Isolasi dan Identifikasi Morfologi Koloni Mikroba


Wanda Aziizah Rahayu, Bayu Resandy, Geafanni Emilia Alya, Nur Jannah, Nuraenun Ayu L, Wirda Alawiah, dan Wulandari.
Kelompok 1A Praktikum Mikrobiologi Dasar
Fakultas Kesehatan Masyarakat

Abstrak
Isolasi adalah cara memindahkan medium dari lingkungan ke medium yang lain. Kemudian
diidentifikasikan yang dilihat dari form, elevation, dan marginnya. Bahan yang digunakan adalah hasil
praktikum pertama yaitu medium PDA, medium NA, alkohol, air galon, dan buah mangga busuk yang
berjamur. Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui teknik dasar isolasi mikroba (Bakteri
dan Jamur) dan cara identifikasi dasar metode yang digunakan adalah pengenceran. Hasil yang didapat
pada praktikum ini ialah PDA Cawan Petri 10-5, Sp 1, Form : Spindle, Elevation : Flat, Margin :
Entire, Jumlah : 19, PDA Cawan Petri 10-6 Sp 1, Form : Spindel, Elevation : Flat, Margin : Entire,
Jumlah :23, Sp 2, Form : Rhizoid, Elevation : Flat, Margin : Entire, Jumlah :1, PDA Cawan Petri 10-7
tidak berhasil, NA Cawan Petri 10-8 Sp 1, Form : Rizoid, Elevation : Flat, Margin : Entire, Jumlah :10,
Sp 2, Form : Iragullar, Elevation : Flat, Margin : Entire, Jumlah :15, NA Cawan Petri 10-9 Sp 1, Form
: Rizoid, Elevation : Flat, Margin : Entire, Jumlah :38, Sp 2, Form : Iragullar, Elevation : Flat, Margin
: Entire, Jumlah :25, dan NA Cawan Petri 10-10 Sp 1, Form : Rizoid, Elevation : Flat, Margin : Entire,
Jumlah :7, Sp 2, Form : Iragullar, Elevation : Flat, Margin : Entire, Jumlah :21
Kata kunci :isolasi/ koloni/ pengenceran/identifikasi
Tanggal Praktikum : 30 November 2015 dan 2 Desember 2015 Diserahkan tanggal 3 Desember 2015

Pendahuluan
Mikroba seperti makhluk hidup lainnya
yang memerlukan nutrisi pertumbuhan.
Pengetahuan akan nutrisi pertumbuhan ini
akan membantu didalam mengkultivasi,
mengisolasi, dan mengidentifikasimikroba [1].
Mikroba memiliki karakteristik dan cirriciri yang berbeda didalam persyaratan
pertumbuhanya. Ada mikroba yang bisa hidup
hanya pada media yang mengandung sulfur
dan ada pula yang tidak mampu hidup
seterusnya.
Karakteristik
persyaratan
pertumbuhan
mikroba
inilah
yang
menyebabkan
bermacam-macam
media
penunjang pertumbuhan mikroba [1].
Saat ini media agar merupakn media yang
sangat umum digunakan dalam penelitianpeneltian
mikrobilogi.
Mediaagar
ini
memungkinkan untuk dilakukanya isolasi
bakteri dari suatu sampel, karakteristik
morfologi, sampai perhitungan bakteri yang
dikenal dengan nama total plate count. Bentuk
koloni bakteri dan warna-warninya mudah
sekali dikelani dengan media ini dengan cara
mengubahh komposisi nutrient atau menambah
indicator [3].

Pendamping: 1.Tunik Khoiriyah 2.Yusnaini 3.Ersaniany


4.Nurul PratiwiQodrie, 4.Cep Hikmat Maulan Yusuf 5. 6.Riska
Prihatiningsih
Penanggung jawab: Koordiantor mata Kuliah Mikrobiologi
Dasar: Dr. rer. nat. Bodhi Dharma M.Si dan Eko Kusumawati S.
Si, M. P Serta Kepala Laboratorium Mikrobiologi dan Genetika
Molekuler Dr. rer. nat. Bodhi Dharma M.Si, FMIPA Unmul

Mikroorganisme tidak hanya bervariasi


dalam persyaratannya, tetapi juga menunjukan
respon yang berbeda-beda terhadap kondisi
fisik
didalam
lingkungannya.
Untuk
keberhasilan kultivasi berbagai tipe bakteri,
dibuthkan satu kombinasi nutrient serta
lingkungan fisik yang sesuai [3].
Isolasi bakteri adalah proses mengambil
bakteri dari medium atau lingkungan asalnya
dan menumbuhkannya di medium buatan
sehingga diperoleh biakan yang murni. Bakteri
dipindahkan dari satu tempat ke tempat lainnya
harus menggunakan prosedur aseptik. Aseptik
berarti bebas dari sepsis, yaitu kondisi
terkontaminasi karena mikroorganisme lain.
Teknik aseptik ini sangat penting bila bekerja
dengan bakteri. Beberapa alat yang digunakan
untuk menjalankan prosedur ini adalah bunsen
dan laminar air flow Bila tidak dijalankan
dengan tepat, ada kemungkinan kontaminasi
oleh miroorganisme lain sehingga akan
mengganggu hasil yang diharapkan. Teknik
aseptik juga melindungi laboran dari
kontaminasi bakteri [4].
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk
mengetahui teknik dasar isolasi mikroba
(Bakteri dan Jamur) dan cara identifikasi dasar
metode yang digunakan adalah pengenceran.
Metode
Alat dan bahan
Alat

Laboraturium Mikrobiologi dan Genetika Molekuler, Biologi, FMIPA Unmul

Jurnal Praktikum Mikrobiologi Dasar


Peralatan yang digunakan yaitu, peralatan
gelas, jarum ose, mikropipet, yellow tip, tabung
reaksi, rak tabung reaksi, cawan petri, lampu
Bunsen, vortex, inkubator, dan spray.

Elevation : Flat
Margin : Entire
Jumlah :23
Sp 2
Form : Rhizoid
Elevation : Flat
Margin : Entire
Jumlah :1

Bahan
Bahan yang digunakan adalah hasil
praktikum pertama yaitu medium PDA,
medium NA, alkohol, air galon, dan buah
mangga busuk yang berjamur.
3
Cara kerja
Disiapakan tabung rekasi sebanyak 10 buah
dan air galon. Diberi aquadest setiap tabung
reaksi
tersebut.
Diberi
keterangan
101 102 103 104 105 1010 pada
tabung reaksi dan dilakukan terlebih dahulu
pengencerean sampai 1010. Lalu pada tabung
reaksi 101 diberikan 1 mikropipet air galon
kedalam tabung reaksi. Pada saat pengambilan
satu mikropipet didekatkan mikropipet dengan
nyala lampu Bunsen. Pada saat pemberian air
galon ke tabung reaksi, mikropipet harus
didekatkan dengan lampu Bunsen agar tetap
streril dan tidak terkontaminasi dengan
mikroba. Setelah itu dicampur dengan
menggunakan vortex. Setelah dicampur di
vortex lalu air pada tabung reaksi 101
diberikan pada tabung reaksi 102dan begitu
seterusnya sampai tabung reaksi 1010 .
Kemudian
air
pada
tabung
reaksi
5
6
7
10 10 10 nanti dimasukan pada cawan
petri lalu dicampur dengan medium PDA yang
sudah
disterilkan.
Tabung
reaksi
108 109 1010 dimasukkan pada cawan petri
lalu dicampur dengan medium NA. Setelah itu
diaduk secara merata dengan menggeserkan
petri membentuk angka delapan sebayak 26
kali. Kemudian diinkubasikan pada suhu 370C
selama 48 jam.
Hasil dan pembahasan
Tabel 2.1 Isolasi Morfologi Koloni Mikroba
No Media
Keterangan
1
PDA Cawan Petri Sp 1
Form : Spindle
10-5
Elevation : Flat
Margin : Entire
Jumlah : 19

PDA Cawan Petri


106

Sp 1
Form : Spindel

PDA Cawan Petri


107

Tidak berhasil

NA Cawan Petri
108

Sp 1
Form : Rizoid
Elevation : Flat
Margin : Entire
Jumlah :10
Sp 2
Form : Iragullar
Elevation : Flat
Margin : Entire
Jumlah :15

NA Cawan Petri
109

Sp 1
Form : Rizoid
Elevation : Flat
Margin : Entire
Jumlah :38
Sp 2
Form : Iragullar
Elevation : Flat
Margin : Entire
Jumlah :25

NA Cawan Petri
1010

Sp 1
Form : Rizoid
Elevation : Flat
Margin : Entire
Jumlah :7
Sp 2
Form : Iragullar
Elevation : Flat
Margin : Entire
Jumlah :21

Dari tabel diatas kita dapat melihat bahwa


pada media PDA yang paling domain memilki

Laboraturium Mikrobiologi dan Genetika Molekuler, Biologi, FMIPA Unmul

Jurnal Praktikum Mikrobiologi Dasar


form berbentuk spindle. Begitu pula dengan
media NA yang paling dominan adalah form
yang berbentuk rhizoid.
Beberapa teknik untuk isolasi adalah
sebagai berikut :
1. Metode streak plate merupakan metode
isolasi kualitatif yang dapat dilakukan
dengan cepat. Perlu dilakukan teknik
pengenceran dengan menggunakan ujung
jarum inokulasi bulat untuk membantu
menyebarkan kultur pada permukaan
medium.
2. Teknik spread plate membutuhkan
campuran
mikroorganisme
yang
diencerkan sebelumnya. Selama inokulasi
sel-sel akan terpisahkan ke seluruh
permukaan medium padat dengan
menggunakan batang kaca yang berujung
L sedang cawan petri di putar
menggunakan suatu alat lazy-susan.
3. Teknik pour plate membutuhkan
pengenceran seri dari kultur campuran
dengan menggunakan jarum inokulasi
atau pipet. Inokulum yang telah
diencerkan kemudian ditambahkan ke
dalam medium agar yang telah dicairkan
ke dalam cawan petri, ocok kemudian
biarkan membeku.
Dengan Pengenceran Cara ini pertama-tama
dilakukan oleh Lister dalam tahun 1865. Ia
berhasil memiara murni Streptococcus lactis
yang diisolasikannya dari susu yang sudah
masam. Suatu sampel dari suatu suspensi yang
berupa campuran bermacam-macam spesies
diencerkan dalam suatu tabung tersendiri. Dari
enceran ini kemudian diambil 1 ml untuk
diencerkan lagi. Dan dari pengenceran yang
kedua ini diambil 1 ml untuk diencerkan lebih
lanjut. Jika dari pengenceran yang ketiga ini
diambil 0,1 ml untuk disebarkan pada suatu
medium padat, kemungkinan besar kita akan
mendapatkan beberapa koloni tumbuh dalam
medium tersebut, tetapi mungkin juga kita
hanya memperoleh satu koloni saja. Dalam hal
yang demikian ini kita memperoleh satu koloni

murni, dan selanjutnya spesies ini dapat kita


jadikan biakan murni. Kalau kita belum yakin,
bahwa koloni tunggal yang kita peroleh itu
murni, kita dapat mengulang pengenceran
dengan menggunakan koloni ini sebagai
sampel [5].
Kesimpulan
Kesimpulan dari praktikum adalah PDA
Cawan Petri 10-5, Sp 1, Form : Spindle,
Elevation : Flat, Margin : Entire, Jumlah : 19,
PDA Cawan Petri 10-6 Sp 1, Form : Spindel,
Elevation : Flat, Margin : Entire, Jumlah :23,
Sp 2, Form : Rhizoid, Elevation : Flat, Margin
: Entire, Jumlah :1, PDA Cawan Petri 10-7
tidak berhasil, NA Cawan Petri 10-8 Sp 1,
Form : Rizoid, Elevation : Flat, Margin :
Entire, Jumlah :10, Sp 2, Form : Iragullar,
Elevation : Flat, Margin : Entire, Jumlah :15,
NA Cawan Petri 10-9 Sp 1, Form : Rizoid,
Elevation : Flat, Margin : Entire, Jumlah :38,
Sp 2, Form : Iragullar, Elevation : Flat,
Margin : Entire, Jumlah :25, dan NA Cawan
Petri 10-10 Sp 1, Form : Rizoid, Elevation : Flat,
Margin : Entire, Jumlah :7, Sp 2, Form :
Iragullar, Elevation : Flat, Margin : Entire,
Jumlah :21
Referensi
[1] Hajoeningtijas, Oetami Dwi. 2012.
Mikrobilogi pertanian. Yogyakarta: Graha
Ilmu. Halaman 61.

[2] Pelczar, M.J.Jr, and E. Chan.1988.


Dasar-dasar Mikrobiologi. Penerbit
UI Press. Jakarta. p:23-24.
[3] Sastryawibowo, Muhammad Wahyu.
2011. Teknik isolasi bakteri. Lampung:
Universitas lampung. Halaman 2.

[4] Seiler, J. P. 2000. Good Laboratory


Practice. Swiss. Springer-Verlag
Berlin Heidelberg Media. Halaman 61.
[5] Waluyo, L. 2007. Mikrobiologi
Umum.
UMM
Press.
Malang,
Halaman:
61-67.

Laboraturium Mikrobiologi dan Genetika Molekuler, Biologi, FMIPA Unmul

Jurnal Praktikum Mikrobiologi Dasar


Pembuatan Biakan murni
Wanda Aziizah Rahayu, Bayu Resandy, Geafanni Emilia Alya, Nur Jannah, Nuraenun Ayu L, Wirda Alawiah, dan Wulandari.
Kelompok 1A Praktikum Mikrobiologi Dasar
Fakultas Kesehatan Masyarakat

Abstrak
Biakan murni adalah suatu biakan yang hanya mengandung satu spesies mikroorganisme. Metode
yang dipakai adalah metode cawan tuang, cawan sebar, totol dan cawan gores. Tujuan dari praktikum
ini adalah untuk mengetahui macam-macam bakteri dan jamur yang tumbuh pada cawan petri dengan
menggunakan metode streak dan totol. Bahan yang digunakan yaitu bakteri bacillus cereus, medium
PDA, medium NA, alkohol, dan buah mangga yang berjamur. Untuk medium PDA dengan mikroba
bakteri menggunakan metode totol. Untuk menggunakan medium NA dengan mikroba jamur maka
metode yang digunakan adalah metode gores. Kesimpulan dari praktikum adalah metode streak dan
totol.
Kata kunci: Metode Streak/Metode Totol/Pembiakan murni
Tanggal Praktikum : 30 November 2015 dan 2 Desember 2015 Diserahkan tanggal 3 Desember 2015

Pendahuluan
Mikrobiologi ialah telaah mengenai
organisme hidup yang berukuran mikrokopis.
Dunia mikroorganisme terdiri dari lima
kelompok organisme: bakteri, protozoa, virus,
serta algae dan cendawan mikroskopis [3].
Dalam kelompok mikroba juga terdapat
jamur. Jamur merupakan protista tidak
fotosistetik yang tumbuh sebagai suatu massa
filament yang bercabang-cabang dan saling
menjalin dan dikenal dengan miselium [1].
Mikroba
yang
ditemukan
disuatu
lingkungan ditemukan dalam populasi
campuran, sangat jarang sekali yang ditemukan
sebagai satu spesies tunggal. Penelitian
mengenai
mikroorganisme
biasanya
memerlukan teknik untuk memisahkan
populasi campuran menjadi spesies yang
berbeda-beda sebagai biakan murni [4].
Populasi mikroba merupakan populasi
campuran dari berbagai mikroorganisme yang
disebut sebagai bikan murni. Teknik biakan
murni digunakan untuk memisahkan berbagai
macam bakteri. Teknik yang digunakan untuk
memperoleh biakan murni yaitu metode tuang
dan metode gores [4].
Untuk menumbuhkan kultur jamur tiram
murni ada beberapa jenis media yang bisa
digunakan, seperti MA, PDA, dan tauge
dextrose agar. Media
yang umumnya
digunakan adalah PDA dan MA [5].
Tidak ada bakteri yang hidup tersendiri dan
Asisten pendamping: 1.Tunik Khoiriyah 2.Yusnaini
3.Ersaniany 4.Nurul PratiwiQodrie, 4.Cep Hikmat Maulan Yusuf
5. 6.Riska Prihatiningsih
Penanggung jawab: Koordiantor mata Kuliah Mikrobiologi
Dasar: Dr. rer. nat. Bodhi Dharma M.Si dan Eko Kusumawati S.
Si, M. P Serta Kepala Laboratorium Mikrobiologi dan Genetika
Molekuler Dr. rer. nat. Bodhi Dharma M.Si, FMIPA Unmul

terlepas dari spesiesnya. Kerap kali bakteri


patogen kedapatan bersama-sama bekteri
saprobe. Untuk menyendirikan suatu spesies
ada dikenal dengan beberapa cara yaitu,
pengenceran
dan
penuangan.
Metode
Pengenceran, cara ini pertama-tama dilakukan
oleh Lister dalam tahun 1865. Ia berhasil
memiara biakan murni Streptococcus lactis
yang diisolasikannya dari susu yang sudah
masam.
Suatu sampel dari suatu suspense yang
berupa campuran bermacam-macam spesies
diencerkan dalam suatu tabung tersendiri. Dari
enceran ini kemudian diambil barang 1 ml
untuk diencerkan lagi. Kalau perlu, dari
enceran yang kedua ini diambil 1 ml untuk
diencerkan lebih lanjut. Jika dari pengenceran
yang ketiga ini diambil 0,1 ml untuk
disebarkan pada suatu medium padat,
kemungkinan besar kira akan mendapatkan
beberapa koloni tumbuh dalam medium
tersebut, tetapi mungkin juga kita hanya
memperoleh suatu koloni saja. Dalam hal yang
demikian ini kita memperoleh satu koloni
murni, dan selanjutnya spesies ini dapat kita
jadikan piaraan murni. Kalau kita belum yakin,
bahwa koloni tunggal yang kita peroleh itu
murni, kita dapat mengulang pengenceran
dengan menggunakan koloni ini sebagai
sampel [4].
Metode penuangan mempunyai metode
yang lain, yaitu dengan mengambil sedikit
sampel campuran bakteri yang sudah
diencerkan, dan sampel ini kemudian
disebarkan di dalam suatu medium dari kaldu
dan gelatin encer. Dengan demikian
diperolehnyalah suatu piaraan adukan. Setelah

Laboraturium Mikrobiologi dan Genetika Molekuler, Biologi, FMIPA Unmul

10

Jurnal Praktikum Mikrobiologi Dasar


medium itu mengental, maka selang beberapa
jam kemudian nampaklah koloni koloni yang
masing-masing dapat dianggap murni. Dengan
mengulang pekerjaan seperti diatas ini, maka
akhirnya akan diperoleh piaraan murni yang
lebih terjamin.
Dalam melakukan metode ini ada dua orang
pembantu Koch yang sangat berjasa, yaitu
Petri yang menciptakan cawan dengan tutup
yang sekarang terkenal sebagai caawan petri
(petridish). Pembantu yang kedua ialah Hasse
yang
menemukan
agar-agar
untuk
menggantikan gelatin. Memang agar-agar
ternyata lebih baik daripada gelatin untuk
bahan pengental suatu medium. Agar-agar
tidak lekas mencair, titik cairnya 95oC [4].
Suatu jenis mikroba yang terpisah dari
koloni campurannya akan lebih mudah untuk
diamati. Selain itu teknik untuk memisahkan
dan mendapatkan kooloni tunggal serta
pemeliharannya terapat beberapa jenis.
Teknik-teknik tersebut memiliki kelebihan dan
kelemahan. Beberapa cara dapat dilakukan
untuk menetukan jumlah bakteri yang terdapat
pada bahan pemeriksaan. Cara yang paling
sering digunakan adalah cara penghitungan
koloni pada lempeng pembiakan juga dapat
dilakukan penghitungan secara mikroskopis
[4].
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk
mengetahui macam-macam bakteri dan jamur
yang tumbuh pada cawan petri dengan
menggunakan metode streak dan totol.
Metode
Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Senin,
30 Novemeber 2015 pada pukul 13.00-15.30
WITA dan dilanjutkan pada hari Rabu, 2
November 2015 pada pukul 14.00-WITA.
Bertempat di Laboratorium Mikrobiologi dan
Genetika Molekuler, Fakultas Matematika dan
Ilmu
Pengatahuan
Alam,
Universitas
Mulawaraman, Samarinda.
Alat dan Bahan
Alat
Alat yang digunakan adalah jarum ose,
mikropipet, cawan petri, lampu Bunsen, tabung
rekasi, rak tabung reaksi, dan yellow tip.
Bahan
Bahan yang digunakan yaitu bakteri
bacillus cereus, alkohol, buah mangga yang
berjamur, aquadest, medium PDA, dan
medium NA.

Cara kerja
Teknik penggoresan (streak)
Sebelum praktikum bersihkan meja
praktikumdengan alkohol, kemudian fiksasi
diatas nyala lampu bunsen. Siapakan cawan
petri yang sudah distrelikan pada praktikum
sebelumnya. Kemudian pada cawan petri
berikan air tabung reaksi 102 sebanyak 1
mikropipet, lalu campurkan medium NA
kedalam cawan petri tersebut. Setelah itu
homogenkan cawan petri sebanyak 26 kali
dengan membentuk angka delapan. Setalah
dihomogrnkan tunggu cawan petri tersebut
hingga memadat. Setelah memadat sentuh
permukaan koloni yang telah ditentukan
dengan jarum ose kemudian goreskan pada
permukaan media sebanyak tiga kali goresan.
Untuk goresan pertama rapat, goresan kedua
agak renggang, dan goresam terakhir sangat
renggang. Setelah digoreskan inkubasikan
secara terbalik pada suhu 370C selama 48 jam
atau dua hari. Setelah itu amati pertumbuhan
koloninya.
Teknik totol
Sebelum praktikum bersihkan meja
praktikum dengan alkohol, kemudian fiksasi
diatas nyala lampu bunsen. Siapakan cawan
petri yang sudah distrelikan pada praktikum
sebelumnya. Setelah itu berikan air dari tabung
reaksi 101sebanyak 1 mikropipet kedalam
cawan petri lalu tuang medium PDA kedalam
cawan petri. Setelah dituang homogenkan
sebanyak 26 kali dengan membentuk angka
delapan. Tunggu sampai memadat. Setelah
memadat ambil jamur yang ada pada buah
mangga yang sudah busuk secara perlahanlahan lalu totolkan pada cawan petri sebanyak
tiga kali membentuk sudut segitiga. Setelah
ditotokan inkubasikan secara terbalik pada
suhu 370C selama 48 jam atau dua hari. Setelah
itu amati pertumbuhan koloninya.
Hasil dan pembahasan
Dari hasil praktikum dapat diperoleh hasil
sebagai berikut :
Tabel 3.1 Pembiakan Murni
No Media
Keterangan
1
1. Sreak 1
2. Streak 2
3. Koloni

NA dengan metode
streak

Laboraturium Mikrobiologi dan Genetika Molekuler, Biologi, FMIPA Unmul

11

Jurnal Praktikum Mikrobiologi Dasar


2

PDA
dengan
metode totol

1. Koloni

Dari tabel diatas dapat kita lihat bahwa


adanya bakteri dan jamur yang tumbuh setelah
masa inkubasi dilakukan. Yaitu pada media 1
yaitu medium PDA yang diberikan jamur pada
buah mangga. Pada media kedua terdapat 1
koloni jamur yang tumbuh didalam cawan
petri.
Sebagai substrat untuk menumbuhkan
biakan murni maka dibuat media agar-agar
cawan. Langkah awal untuk membuat media
agar-agar cawan dengan mencairkan media
biakan yang sudah steril. Lalu sipakan ruangan
yang bersih. Menyeka meja dengan
disinfektan, misalnya alkohol 70% [2].
Cawan-cawan petri steril diletakkan di
meja. Didekat cawan tersebut disipakan
pembakar spritus atau nyala lampu Bunsen.
Saat penuangan media dapat dilakukan secara
aseptik [2].
Membiakan jamur pada suatu media juga
memerlukan teknik aseptik. Pekerjaan ini
sebaiknya dilakukan di tempat yang bersih dan
tidak banyak angin sehingga tujuan
mendapatkan biakan jamur yang murni seperti
yang diingikan dapat tercapai. Pekerjaan ini
biasanya dilakukan di dalam kotak inokulasi
atau aparat alira udara berlapis. Jika dalam
membiakan jamur yang tumbuh bukan hanya
jamur
yang
diinginkan,
tetapi
juga
kontaminannya maka permuniaan harus
dilakukan. Pemurnian dapt dilakukan dengan
mengambil sekelumit hifa jamur yang

tubuhnya terpisah dari kontaminannya.


Sekelumit hifa tersebut kemudian dipindahkan
keagar-agar cawan yang telah disediakan [2].
Goresan dalam caawan petri adalah
alat penting dalam mikrobiologi. mereka
memungkinkan bakteri dan jamur untuk
tumbuh pada permukaan semi-padat untuk
menghasilkan koloni terpisah. koloni ini dapat
digunakan untuk membantu mengidentifikasi
organisme, memurnikannya sehingga bebas
dari kontaminan, dan menghasilkan klon
genetik murni [5].
Kesimpulan
Kesimpulan dari praktikum adalah kita
dapat mengetahui macam-macam bakteri dan
jamur yang tumbuh pada cawan petri. Dengan
metode pengenceran dan dan penuangan.
Referensi
[1] Brooks Geo. F, Janet S.
Butel, L.
Nicholas Ornston. 1996. Mikrobiologi
Kedokteran. Jakarta: EGC. Halaman 6.
[2] Gunawan, Agutin wydia. 2011. Usaha
pembibitan jamur. Jakarta: Penebar
Swadaya. Halaman 53, 54, dan 56.
[3] Hajoeningtijas, Oetami Dwi. 2012.
Mikrobiologi pertanian. Yogyakarta:
Graha Ilmu. Halaman 2.
[4] Muslimin. 2014. Laporan praktikum
mikrobiologi dasarteknik biakan murni.
Universitas Hulu Oleo. Halaman 2, 3,dan
6.
[5] Piryadi, Triono Untung. 2013. Bisnis
jamur tiram. Jakarta: AgroMedia.
Halaman 54.
[6] Thiel, Teresa.1999. streaking microbial
cultures on agar plates.Department of
biology: University of Missouri-St. Louis.
Halaman 1.

Laboraturium Mikrobiologi dan Genetika Molekuler, Biologi, FMIPA Unmul

12

Jurnal Praktikum Mikrobiologi Dasar


Pewarnaan bakteri
Wanda Aziizah Rahayu, Bayu Resandy, Geafanni Emilia Alya, Nur Jannah, Nuraenun Ayu L, Wirda Alawiah, dan Wulandari.
Kelompok 1A Praktikum Mikrobiologi Dasar
Fakultas Kesehatan Masyarakat

Abstrak
Pengamatan tanpa pewarnaan ini lebih sukar dan tidak dipakai untuk melihat bagian-bagian sel
dengan teliti, karena sel bakteri atau mikroba lainnya transparan atau semi transparan. Beberapa cara
pewarnaan yang penting ialah pewarnaan negatif, pewarnaan sederhana, pewarnaan gram, dan
pewarnaan spora. Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui identifikasi morfologi dan
bentuk mikroba. Bahan yang digunakan adalah biakan dari satu jenis bakteri (misal: Bacillus sp), zat
warna crystal violet, zat warna nigrosin, lugol, aquadest, alkohol, dan safranin. Hasil dari pengamtan
praktikum ialah dapat diketahui bahwa pada pewarnaan sederhanan bakteri berbentuk basil dengan
berwarna ungu, pada pewarnaan gram bakteri berbentuk skepto basil (batang bergerombol) bakteri
yang didapatkan ialah bakteri gram positif karena berwarna ungu, pada pewarnaan negative
didapatkan hasil bakteri tidak berwarna atau bening dengan latar belakang putih dan terdapat spora
berbentuk coccus.
Kata Kunci: bacillus sp /pewarnaan /mikroskop
Tanggal Praktikum : 3 Desember 2015; Diserahkan tanggal 11 Desember 2015

Pendahuluan
Pengenalan bentuk mikroba, kecuali untuk
kelompok mikroalge, harus dilakukan melalui
pewarnaan terlebih dahulu. Karena tanpa
melalui pewarnaan, maka bentuk tersebut tidak
akan dapat diamati secar jelas [3].
Observasi
awal
yang
paling
mikroorganisme yang dibuat dengan persiapan
patri.
pewarnaan
berarti
mewarnai
mikroorganisme dengan pewarna yang
menekankan struktur tertentu. Sebelum
mikroorganisme dapat bernoda, namun mereka
harus tetap (terlampir) ke mikroskop [5].
Bakteri bersifat tidak berwarna atau transparan
bukan saja karena ukurannya sangat kecil juga
karena warna selnya transparan sehingga
apabila berada pada medium berair sangat sulit
dilihat, apalagi dalam kondisi hidup. Untuk
mengamati bakteri yang kecil dan sulit dilihat
pada kondisi aslinya, maka dilakukan upaya
untuk mewarnai atau memasukkan zat warna
yang dapat mengotori (staining) atau
mengubah
penampakan
dari
keadaan
transparan menjadi berwarna kontras. Metode
pewarnaan dengan warna biologi menjadi
prosedur yang penting dalam
Asisten pendamping: 1.Tunik Khoiriyah 2.Yusnaini
3.Ersaniany 4.Nurul PratiwiQodrie, 4.Cep Hikmat Maulan Yusuf
5. 6.Riska Prihatiningsih
Penanggung jawab: Koordiantor mata Kuliah Mikrobiologi
Dasar: Dr. rer. nat. Bodhi Dharma M.Si dan Eko Kusumawati S.
Si, M. P Serta Kepala Laboratorium Mikrobiologi dan Genetika
Molekuler Dr. rer. nat. Bodhi Dharma M.Si, FMIPA Unmul

hubungannya
dengan
pengamatan
mikrobiologi dengan mikroskop cahaya [2].
Mikroorganisme yang tidak diwarnai
umumnya
tampak
transparan
(tembus
pandang) bila diamati dengan mikroskop
cahaya biasa. Hal ini karena sitoplasma sel
mikroba memiliki indeks bias yang hampir
sama dengan indeks bias lingkungannya yang
bersifat cair dan mikroba tidak mengadsorbsi
atau membiaskan cahaya. Kontraks antara sel
dan latar belakangnya (medium) dapat
diperjelas dengan cara mewarnai sel-sel
mikroba tersebut dengan zat-zat warna [6].
Zat warna pada umumnya dapat dibagi
menjadi dua golongan yakni pewarna yang
bersifat basa atau asam. Pada zat warna basa,
merupakan bagian yang berperan dalam
memberikan
warna
yang
dinamakan
kromatofor dan mempunyai muatan positiif.
Sebaliknya, pada zat warna asam bagian yang
berperan memberikan zat warna mempunyai
muatan negative. Zat warna basa lebih banyak
digunakan karena muatan negatif banyak
ditemukan pada dinding sel, membran sel, dan
sitoplasma sewaktu proses pewarnaan. Muatan
positif pada zat warna basa akan berikatan
dengan muatan negative dalam sel, sehingga
mikroorganisme terlihat jelas [6].
Zat warna atau cat biologi adalah
persenyawaan organik yang mempunyai
gugusan kromatofor daan gugusan auxokrom
yang terikat dalam suatu cincin benzena.
Gugusan kromatofor merupakan gugusan yang

Laboraturium Mikrobiologi dan Genetika Molekuler, Biologi, FMIPA Unmul

13

Jurnal Praktikum Mikrobiologi Dasar


dapat memberikan warna pada molekul cat,
sedangkan auxokrom adalah zat yang dapat
memberikan disosiasi elektrolit-elektrolit pada
molekul cat sehingga cat bersifat lebih mudah
bereaksi [6].
Pewarnaan yang digunakan untuk melihat
salah satu struktur sel dinamakan pewarnaan
khusus, sedangkan pewarnaan yang digunakan
untuk memilihkan mikroorganisme dinamakan
pewarnaan diferensial. Pewarnaan gram
merupakan contoh pewarnaan diferensial yang
memilahkan bakteri menjadi kelompok gram
positif dan
gram negatif. Pewarnaan
diferensial yang lain adalah pewarnaan ZiehlNeelsen yang memilahkan bakteri menjadi
kelompok tahan asam dan kelompok tidak
tahan asam [6].
Beberapa cara pewarnaan mikroba yaitu,
pewarnaan sederhana atau pewarnaan tunggal
adalah salh satu cara pewarnaan yang hanya
menggunakan satu macam zat warna. Tujuan
pewarnaan ini yakni untuk meningkatkan
kontras
antara
mikoorganisme
dengan
sekellingnya. Zat warna yang biasa digunakan
adalah metilen blue, crystal violet, karbol
fuksin, safranin [6].
Pewarnaan negatif yaitu untuk mewarnai
beberapa mikroorganisme sulit diwarnai. Oleh
karena itu, perlu ada metode khusus untuk
maksud tersebut. Pewarnaan ini bukan untuk
mewarnai bakteri, tetapi mewarnai latar
belakangnya menjadi gelap. Caranya secara
umum dengan mencampur mikroba dalam
setetes tinta lalu menyebarkannya diatas kaca
obyek yang bersih [6].
Pewarnaan gram merupakan salah satu
prosedur yang penting dan paling banyak
digunakan dalam laboratorium mikorbiologi.
Pewarnaan gram juga merupakan tahap
penting dalam identifikasi bakteri, termasuk
pewarnaan diferensial [6].
Melihat dan mengamati bakteri dalam
keadaan hidup sangat sulit, kerena selain
bakteri itu tidak berwarna juga transparan dan
sangat kecil. Untuk mengatasi hal tersebut
maka dikembangkan suatu teknik pewarnaan
sel bekteri, sehingga sel dapat terlihat jelas dan
mudah diamati. Olek karena itu teknik
pewarnaan sel bakteri ini merupakan salahsatu
cara yang paling utama dalam penelitianpenelitian mikrobiologi [1].
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk
mengetahui identifikasi morfologi dan bentuk
mikroba.

Metode
Waktu dan tempat
Praktikum dilakukan pada hari Senin, 8
Desember 2015, pukul 13.00-15.30 WITA.
Bertempat di Laboratorium Mikrobiologi dan
Genetika Molekuler, Fakultas Matematika dan
Ilmu
Pengetahuan
Alam,
Universitas
Mulawarwan, Samarinda.
Alat dan bahan
Alat
Peralatan yang digunakan adalah cawan
petri, objek glass, jarum ose, mikroskop, dan
preparat ulas.
Bahan
Bahan yang digunakan adalah biakan dari
satu jenis bakteri (misal: Bacillus sp), zat
warna crystal violet, zat warna nigrosin, lugol,
aquadest, alkohol, dan safranin.
Cara kerja
Pewarnaan sederhana
Dibersihkan preparat ulas dan meja dengan
alkohol sampai bebas lemak, kemudian
difiksasi diatas nyala lampu spiritus. Kemudian
diambil secara aseptik satu ose suspensi bakteri
dan diratakan diatas preparat ulas. Lalu
dikeringkan
anginkan
preparat
hingga
membentuk noda. Setelah kering difiksasi
dengan cara dipanaskan diatas nyala lampu
spiritus. Lalu diteteskan crystal violet.
Kemudian diamkan selama satu menit. Lalu
dicuci dengan air mengalir sampai sisa-sisa zat
warna tercuci seluruhnya. Selanjutnya preparat
dikering anginkan. Lalu diamati dibawah
mikroskop, sel-sel bakteri akan tampak
berwarna merah (ungu).
Pewarnaan gram
Dibersihkan preparat ulas dan meja dengan
alkohol sampai bebas lemak, kemudian
difiksasi diatas nyala lampu spiritus. Kemudian
diambil secara aseptik satu ose suspensi bakteri
dan diratakan diatas preparat ulas. Lalu
dikeringkan anginkan preparat hingga lapisan
tipis sekali. Setelah kering difiksasi dengan
cara dipanaskan diatas nyala lampu spiritus.
Lalu diteteskan zat warna crystal violet.
Kemudian didiamkan selama satu menit. Lalu
dicuci dengan air mengalir sampai sisa-sisa zat
warna dicuci seluruhnya. Lalu teteskan lagi zat
warna lugol dan dibiarkan selam satu menit.
dicuci dan diangikan lalu diberi alkohol 95%
selama 30 detik. Setelah itu dicuci dan
dianginkan. Kamudian diberikan lagi zat warna

Laboraturium Mikrobiologi dan Genetika Molekuler, Biologi, FMIPA Unmul

14

Jurnal Praktikum Mikrobiologi Dasar


berupa safranin dan dibiarkan dua menit.
Setelah itu dicuci dan dikering anginkan. Lalu
diamati dibawah mikroskop dengan perbesaran
yang kuat.
Pewarnaan negatif
Dibersihkan preparat ulas dan meja dengan
alkohol sampai bebas lemak, kemudian
difiksasi diatas nyala lampu spiritus. Kemudian
diambil secara aseptik satu ose suspensi bakteri
dan diratakan diatas preparat ulas. Lalu
dikeringkan anginkan preparat hingga lapisan
tipis sekali. Setelah dikering difiksasi dengan
cara dipanaskan diatas nyala lampu spiritus.
Kemudian diambil sedikit zat warna nigrosin
dan dicampurkan dengan suspense bakteri
yang telah diletakan diatas preparat dan
dibiarkan selama satu menit. Selanjutnya
preparat dikering anginkan. Lalu diamati
dengan mikroskop dengan kuat, sel-sel bakteri
akan tampak transparan dengan latar belakang
hitam.
Hasil dan pembahasan
Tabel 4.1 Pewarnaan bakteri
No
1.

Pewarnaan
Pewarnaan Sederhana

Hasil
Bakteri
berbentuk
basil
dengan
berwarna
ungu

Pembesaran 10 x 10

2.

Pewarnaan Gram

Pembesaran 40 x 10

Bakteri
berbentuk
skepto basil
(batang
bergerombo
l)
bakteri
yang
didapatkan
ialah
bakteri
gram positif

karena
berwarna
ungu

3.

Pewarnaan Negatif

Didapatkan
hasil bakteri
tidak
berwarna
atau bening
dengan latar
belakang
merah dan
terdapat
spora
berbentuk
coccus.

Pembesaran 10 x 10
Dari hasil praktikum dapat diketahui bahwa
pada pewarnaan sederhanan bakteri berbentuk
basil dengan berwarna ungu, pada pewarnaan
gram bakteri berbentuk skepto basil (batang
bergerombol) bakteri yang didapatkan ialah
bakteri gram positif karena berwarna ungu,
pada pewarnaan negative didapatkan hasil
bakteri tidak berwarna atau bening dengan
latar belakang putih dan terdapat spora
berbentuk coccus.
Pewarnaan sederhana
Pewarnaan sederhana yaitu pewarnaan
dengan menggunkan satu macam zat warna
dengan tujuan hanya untuk melihat bentuk sel
bakteri dan untuk mengetahui morfologi dan
susunan selnya. Pewarnaan ini dapat
menggunakan pewarnaan
ini dapat
menggunakan pewarnaan basa pada umunya
antara lain Kristal violet, methylen blue,
karbol, fucshsin, dan safranin [1].
Pewarnaan sederhana merupakan teknik
pewarnaan yang paling banyak digunakan.
Disebut sederhana karena hanya menggunakan
satu jenis zat warna untuk mewarnai organisme
tersebut. Kebanyakan bakteri mudah bereaksi
dengan
pewarnaan-pewarnaan
sederhana
karena sitoplasmanya bersifat basofilik (suka
dengan basa). Zat-zat warna yang digunakan
untuk pewarnaan sederhana umumnya bersifat
alkolin. Dengan pewarnaan sederhana dapat
mengetahui bentuk dan rangkaian sel-sel
bakteri. Pewarna basa yang biasa digunakan
untuk pewarnaan sederhana sederhana ini

Laboraturium Mikrobiologi dan Genetika Molekuler, Biologi, FMIPA Unmul

15

Jurnal Praktikum Mikrobiologi Dasar


dibagi lagi menjadi dua jenis pewarnaan.
Tujuan pengecetan sederhana ini adalah untuk
melihat bentuk sel [1].

memberikan reaksi berbeda dari organisme


gram-negatif dengan senyawa-senyawa kiimia
[4].

Pewarnaan negatif
Pewarnaan negatif menyebabkan mikroba
kelihatan trasnparan dan tampak jelas pisah
diantara medan yang gelap karena pewarnaan
yang diberikan tidak menembus sel mikroba.
Teknik pewarnaan ini berguna untuk
menetukan morfologi dan ukuran sel. Berbeda
dengan metode pewarnaa yang lain, pada
pewarnaan negatif olesan tidak mengalami
pemanasan atau perlakuan lain dengan bahan
kimia. Metode ini sering digunakan terhadap
terutama spirokerta yang sukar diwarnai [6].
Tinta yang dipakai dalam pewarnaan
negatif adalah negrosin. Berhasil tidaknya
metode ini tergantung: a) kaca obyek harus
betul-betul bersih, b) jumlah negrosin yang
digunakan menetukan keberhasilan pewarnaan
, dan c) campuran mikroorganisme harus
digesekkan diatas kaca obyek, bukan sekedar
didorong [6].

Kesimpulan
Kesimpulan dari praktikum ini adalah
praktikum ialah dapat diketahui bahwa pada
pewarnaan sederhanan bakteri berbentuk basil
dengan berwarna ungu, pada pewarnaan gram
bakteri berbentuk skepto basil (batang
bergerombol) bakteri yang didapatkan ialah
bakteri gram positif karena berwarna ungu,
pada pewarnaan negative didapatkan hasil
bakteri tidak berwarna atau bening dengan
latar belakang putih dan terdapat spora
berbentuk coccus.

Pewarnaan gram
Pewarnaan gram bertingkat adlah suatu cara
kerja pewarnaan yang paling berguna yang
dilakukan dalam bakteriologi. Dengan
menggunkan cara kerja ini maka bakteri dapat
digolongkan menjadi dua golongan yaitu
bakteri gram positif dan bakteri gram negative
[4].
Pewarnaan gram mula-mula dikembangkan
oleh ahli histology bernama Christian gram
(1884) dan kemudian disempurnakan oleh ahli
ahli lainnya. Perbedaan dalam pewarnaan ini
disebabkan oleh adanya variasi dalam lapisan
permukaan atau dinding dari kedua jenis sel.
Pada umumnya, organisme gram-positif

Referensi
[1] Lestari, Rina. 2012. Makalah Pewarnaan
Sederhana, Negative, Kapsul, dan Gram.
Yogyakarta: Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan Yogyakarta. Halaman 2
[2] Subandi, H.M. 2014. Mikrobiologi.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Halaman 181
[3] Surianiria, Unus. 2005. Mikrobiologi
Dasar. Jakarta: Papas Sinar Sinanti.
Halaman 38
[4] Sutedjo,
Mul
Mulyani,
A.G.
Kartasapoetra, dan RD. S Sastroatmodjo.
1991. Mikrobiologi Tanah. Jakarta: PT
Rineka Cipta. Halaman 308
[5] Tortora, Gerarad J, Berdell R. Funke, dan
Chiritine L. Case. 2013. Microbiology An
Introduction. United states of America :
Pearson Education. Halaman 67
[6] Waluyo, Lud. 2010. Teknik dan Metode
Dasar dalam Mikrobiologi. Malang:
UMM Press. Halaman 90

Laboraturium Mikrobiologi dan Genetika Molekuler, Biologi, FMIPA Unmul

16

Jurnal Praktikum Mikrobiologi Dasar


Pengamatan Jamur Mikroskopis
Wanda Aziizah Rahayu, Bayu Resandy, Geafanni Emilia Alya, Nur Jannah, Nuraenun Ayu L, Wirda Alawiah, dan Wulandari.
Kelompok 1A Praktikum Mikrobiologi Dasar
Fakultas Kesehatan Masyarakat

Abstrak
Dalam perkembangan setiap jenis memiliki ciri koloni sendiri. Yang perlu diperhatikan dari koloni
fungi adalah bentuk koloni, diameter, tepi koloni, permukaannya, konsistensi, warna, pembentukan
pigmen dalam media dan apakah koloni tumbuh pada permukaan atau didalam media. Untuk
mengetahui setiap jenis mold selain ciri koloni juga perlu dilihat susunannya dibawah mikroskop.
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengidentifikasi jamur dari mangga busuk. Bahan yang
digunakan adalah jamur yang sudah disoslasi pada praktikum sebelumnya, Medium PDA, dan alkohol.
Metode yang digunakan adalah squre block. Hasil pengamatan pada praktikum ini adalah adanya
jamur yang tumbuh pada medium PDA yaitu jamur Aspergillus flavus yang ditunjukkan dengan ciriciri kepala konindia khas berbentuk bulat kemudian merekah menjadi beberapa koloni.

Kata Kunci: fungi/ square block/ Aspergilus flavus


Tanggal Praktikum : 14 Desember 2015; Diserahkan tanggal 18 Desember 2015

Pendahuluan
Diantara
tumbuhan-tumbuhan
rendah
(bercahaya), maka golongan ganggang alga
dan golongan jamur merupakan kelanjutan
daripada golongan bakteri. Apakah golongan
ganging itu langsung menjadi golongan bakteri
ataukah jamur yang menjadi kelanjutan
langsung dari bakteri. Hal ini sangat sukar
ditentukan. Peninjauan secara morfologi dan
fisiologi menentukan suatu golongan bakteri,
yaitu ordo chalamydobacterialos, yang dapat
dipandang sebagai pangkal pertumbuhan
golongan ganggang, hal mana dapat diketahui
dari sifat-sifatnya mengenai adanya laisan
lender yang mengelubungi tubuh organism
tersebut, akan tetapi pembiakannya dengan
menggunakan
konidia
itu
lebih
menggenangkan kepada sifat jamur [2].
Selanjutnya golongan jamur itu demikian
luasnya sehingga penguasa dibidang ilmu
pengetahuan memerlukan keahlian tersendiri.
Hanya jamur-jamur tingkat rendah masuk
dalam bidang mikrobiologi [2].
Mikologi studi tentang jamur muncul
sebagai cabang botani. Seperti yang
ditunjukkan sebelumnya, jamur dianggap
anggota kerajaan tanaman, struktur, siklus
hidup dan penyebaran telah menerima banyak
perhatian dari ilmuwan awalnya dilatih sebagai
ahli botani [1].
Asisten pendamping: 1.Tunik Khoiriyah 2.Yusnaini
3.Ersaniany 4.Nurul PratiwiQodrie, 4.Cep Hikmat Maulan Yusuf
5. 6.Riska Prihatiningsih
Penanggung jawab: Koordiantor mata Kuliah Mikrobiologi
Dasar: Dr. rer. nat. Bodhi Dharma M.Si dan Eko Kusumawati S.
Si, M. P Serta Kepala Laboratorium Mikrobiologi dan Genetika
Molekuler Dr. rer. nat. Bodhi Dharma M.Si, FMIPA Unmul

Jamur benang atau biasa disebut jamur


merupakan organisme anggota kingdom
fungi). Pertumbuhan jamur di permukaan
bahan makanan mudah dikenali karena
seringkali membentuk koloni berserabut
seperti kapas. Tubuh jamur berupa benang
yang disebut hifa, sekumpulan hifa disebut
miselium. Miselium dapat mengandung
pigmen dengan warna-warna merah, ungu,
kuning, coklat, abu-abu dsb. Jamur juga
membentuk spora berwarna hijau, biru-hijau,
kuning, jingga, merah muda dsb. Warna-warna
tersebut dapat menjadi ciri khas spesies jamur
[3].
Jamur dapat tumbuh di hasil-hasil pertanian
sebelum dipanen, hasil panen yang sedang
disimpan maupun bahan makanan yang telah
diolah. Bahan makanan yang mengalami
dekomposisi oleh jamur dapat menjadi barbau
busuk dan bernoda dengan warna tertentu [3].
Aflatoksi merupakan nama sekelompok
senyawa yang termasuk mitoksin, bersifat
sangat toksik dan di produksi oleh jamur
aspergillus
flavus
dan
aspergillus
prasiticus(wrather dan sweet, 2006) [3].
Tujuan
praktikum
ini
adalah
mengidentifikasi jamur dari mangga busuk.
Metode
Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Senin,
14 Desember 2015 pada pukul 13.00-15.30
WITA.
Bertempat
di
Laboratorium
Mikrobiologi dan Genetika Molekuler,
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengatahuan
Alam, Universitas Mulawaraman, Samarinda.

Laboraturium Mikrobiologi dan Genetika Molekuler, Biologi, FMIPA Unmul

17

Jurnal Praktikum Mikrobiologi Dasar


Alat dan Bahan
Alat
Peralatan yang digunakan adalah cawan
petri, alumunium foil, cover glass, objek glass,
silet, jarum ose dan mikroskop.
Bahan
Bahan yang digunakan adalah jamur yang
pada praktikum sebelumnya, Medium PDA,
alumunium foil, kertas label dan alkohol.
Cara kerja
Disiapkan cawan petri, objek dan
alumunium foil yang digulung dan dibentuk
menjadi bentuk huruf U. Disiapkan sampel
jamur dari mangga busuk, lalu disipakan media
PDA yang telah diisi, kemudian potong media
PDA dengan menggunakan pisau/ silet, lalu
dipanaskan jarum ose, diambil suspense dari
mangga busuk, setelah itu diinokulasikan
dengan metode digoreskan pada keempat sisi
pinggiran agar, diambil cover glass dengan
pinset yang telah disterilkan dengan lampu
Bunsen, dicelupkan ke dalam larutan alkohol
kemudian difiksasi diatas lampu Bunsen,
diletakkan cover glass diatas media PDA yang
telah diinokulasikan suspense jamur, diamati
karakteristik dan koloni yang terbentuk.

koloni, dan berwarna hijau kekuningan hingga


hijau tua kekuningan. Konindiofor berwarna
hialin kasar, dan dapat mencapai panjang 1,0
mm [4].
Habitat sepsis ini umum ditemukan pada
kacang-kacang, rempah-rempah, biji yang
mengandung minyak, serelia, dan kadangkadang pada buah-buahan yang dikeringkan
[4].
Racun fungi yang umum dikenal dengan
nama mitoksin, dihasilkan oleh banyak
jenisjamur, umumnya termasuk ke dalam jenis
Aspergillus, Penicillium dan Fusarium.
Kelebihan sifat
mitoksin ialah sifat
karsinogenik, yaitu sifat dapat merangsang
terjadinya gejala atau proses kanker [5].
Aspergillus
flavus
dan
aspergillus
parasiticus merupakan jamur yang sering
didaptkan pada setiap daerah. Pada umunya
aflatoksin dapat dihasilkan oleh aspergillus
flavus pada berbagai macam substrat yang
berbantuk bahan makanan [5].
Kesimpulan
Kesimpulan dari praktikum ini adalah
adanya jamur yang tumbuh pada medium PDA
yaitu jamur aspergillus flavus link.
Referensi

Hasil dan Pembahasan


Berdasarkan
praktikum
yang
telah
dilakukan, didapatkan hasil sebagai berikut:
Tabel 5.1 Pengamatan Jamur Mikroskopis
No. Nama
Keterangan
1
1. Konidio
1
for
2. Kondia
3. Strigma
2
3
Aspergillus flavus
Perbesaran 10x10
Dari hasil pengamatan diketahui bahwa
jamur yang tumbuh yaitu aspergilus flavus
ditunujkkan dengan ciri-ciri Kepala konindia
khas berbentuk bulat, kemudian merekah
menjadi beberapa koloni
Aspergillus flavus yaitu koloni pada
medium Czapeks dox mencapai diameter 3-5
cm dalam waktu 7 hari, dan berwarna hijau
kekuningan karena lebatnya konidiofor yang
terbentuk. Kepala konindia khas berbentuk
bulat, kemudia merekah menjadi beberapa

[1] Carlile, Michael J, Sarah C. Watkinson,


dan Graham W. Gooday. 2001. The fungi.
California: Aharcount science and
technology company. Halaman 7
[2] Dwidjoseputro, D. 2005. Dasar-dasar
mikrobiologi. Jakarta: Djambatan.
[3] Handajani, Noor Soesanti dan Ratna
Setyaningsih.
2006.
Biodiversitas
Identifikasi jamur dan deteksi aflatoksi B1
terhadap petis udang komersial. Journal
of biological diversity. Vol 7. Jurusan
biologi FMIPA Universitas Sebelas maret
Surakarta, Puslitbang bioteknologi dan
biodiversitas universitas sebelas maret
Surakarta. Halaman 212-215
[4] Indrawati Gandjar. 2000. Pengenalan
kapang tropic umum. Jakarta: Yayasan
Obor Indonesia. Halaman 22
[5] Suriawiria, Unus. 2005. Mikrobiologi
Dasar. Jakarta: Papas Sinar Sinarti.
Halaman 124-127.

Laboraturium Mikrobiologi dan Genetika Molekuler, Biologi, FMIPA Unmul

18

Jurnal Praktikum Mikrobiologi Dasar


Pengontrolan Mikroorganisme
Wanda Aziizah Rahayu, Bayu Resandy, Geafanni Emilia Alya, Nur Jannah, Nuraenun Ayu L, Wirda Alawiah, dan Wulandari.
Kelompok 1A Praktikum Mikrobiologi Dasar
Fakultas Kesehatan Masyarakat

Abstrak
Disinfektan berarti mematikan atau menyingkirkan organism yang dapat menybabakan infeksi.
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui seberapa bagusnya zat desinfektan untuk
membunuh kuman. Bahan yang digunakan adalah jamur yang pada praktikum sebelumnya, alkohol,
Medium PDA, rinso, lifebuoy, bayclin dan cloramfenikol. Hasil pengamatan pada praktikum ini adalah
rata-rata daya hambat untuk disinfektan cloramfenikol sebesar 8,6 mm, kebesaran disinfektan rinso
tidak dapat dihitung, disinfektan bayclin sebesar 12,25 mm, dan disinfektan lifebuoy sebesar 9,4 mm.
Dari empat disinfektan yang telah diuji dapat kita ketahui bahwa disinfektan yang bagus yaitu rinso
karena zona hambatnya yang tidak bisa dihitung.
Kata Kunci: rinso/ cloramfenikol/ lifebuoy/ bayclin/ zona hambat.
Tanggal Praktikum : 14 Desember 2015; Diserahkan tanggal 17 Desember 2015

Pendahuluan
Desinfektan yang digunakan oleh Joseph
Lister, tahun 1917 mengadung persenyawaan
fenol
untuk
mendisinfektasi
peralatan
bedanhnya. Senyawa ini berupa asam karbol.
Sampai sekarang senyawa fenol masih
digunakan sebagai larutan baku penentu
keampuhan disinfektan [5].
Meskipun ada banyak definisi dari
desinfeksi , defenisi umum dari disifektan
adalah penghapusan dari bahaya kontaminasi
atau infeksi . Karena , tujuan pengujian
disinfektan adalah untuk memeriksa apakah
produk ini memenuhi tujuan mereka atau ,
lebih biasanya , untuk menentukan apakah
mikroorganisme dibunuh atau dihilangkan oleh
aksi disinfektan [1].
Untuk menguji kekuatan disinfektan dalam
menghambat pertumbuhan mikroba dapat
digunakan cakram kertas. Pada kertas cakram
ini dibasahi dengan disinfektan, kemudian
diletakkan pada lempengan agar yang telah
diinokulasi mikroba cara pengerjaan ini sama
dengan teknik pengujian antibiotika [5].

Asisten pendamping: 1.Tunik Khoiriyah 2.Yusnaini


3.Ersaniany 4.Nurul PratiwiQodrie, 4.Cep Hikmat Maulan Yusuf
5. 6.Riska Prihatiningsih
Penanggung jawab: Koordiantor mata Kuliah Mikrobiologi
Dasar: Dr. rer. nat. Bodhi Dharma M.Si dan Eko Kusumawati S.
Si, M. P Serta Kepala Laboratorium Mikrobiologi dan Genetika
Molekuler Dr. rer. nat. Bodhi Dharma M.Si, FMIPA Unmul

Lempengan agar kemudian diinkubasi


selama 48 jam. Bila disinfektan menghambat
pertumbuhan mikroba, maka akan terlihat zona
jernih disekeliling cakram kertas atau juga
dinamakan zona hambat. Luas daerah terang
inimenjadi ukuran kekuatan daya kerja
disinfektan [5].
Penggunaan efektif dari disinfektan dan
prosedur sterilisasi yang tepat merupakan
faktor yang penting dalam mencegah
terjadinya infeksi nosokomial. Pencucian dan
disinfeksi atau sterilisasi merupakan aktivitas
dasar dalam proses dekontaminasi alat
kesehatan dan lingkungan rumah sakit.
Pencucian berarti menghilangkan kotoran,
bahan organik, residu atau sisa bahan kimia
dan lain-lain. Bahan organik yang tertinggal di
alat kesehatan atau lingkungan rumah sakit
mungkin melindungi mikroorganisme dari
bahan antimikroba, mungkin juga mengikat
dan menginaktivasi aktivitas kimia bahan
antimikroba [4].
Tujuan praktikum ini adalah untuk
mengetahui seberapa bagusnya zat desinfektan
untuk membunuh kuman.
Metode
Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Senin,
14 Desember 2015 pada pukul 13.00-15.30
Wita. Bertempat di Laboratorium Mikrobiologi
dan Genetika Molekuler, Fakultas Matematika

Laboraturium Mikrobiologi dan Genetika Molekuler, Biologi, FMIPA Unmul

19

Jurnal Praktikum Mikrobiologi Dasar


dan Ilmu Pengatahuan Alam, Universitas
Mulawaraman, Samarinda.

= 35 : 4
= 8,75 mm
Ratarata
keseluruhan
= (U1 +U2 +U3)
:3
= (8,25 + 8,75+
8,75) : 3
= 25,75
:3
= 8,6 mm
Jadi, daya hambat
keseluruhan
menggunakan
disinfektan
cloramfenikol
adalah sebesar 8,6
mm.

Alat dan Bahan


Alat
Peralatan yang digunakan adalah cawan
petri, cover glass, pinset, objek glass, kertas
cakram, cotton bath, mikroskop.
Bahan
Bahan yang digunakan adalah jamur yang
sudah diisolasi pada praktikum sebelumnya,
alkohol, Medium PDA, rinso, lifebuoy, bayclin
dan Cloramfenikol.
Cara kerja
Disediakan cawan petri yang sudah ada
medium PDAnya lalu dioleskan permukaan
medium PDA menggunakan cotton bath
Diambil kertas cakram dibasahi dengan
disinfektan
kemudian
diletakkan
pada
lempengan agar yang telah diinokulasi
mikroba. Diletakkan kertas cakram tersebut
pada permukaan medium PDA dibagian tengah
masing-masing kuadran (tekan sedikit kertas
cakram untuk meletakkan dengan media,
diinkubasikan selama 24-48 jam. Diamati dan
diukur zona hambat (daerah jernih disekeliling
kertas cakram).
Hasil dan Pembahasan
Tabel 6.1 Pengontrolan Mikroorganisme
No Desinfektan
Keterangan
1.
Cloramfenikol Perhitungan ratarata diameter yaitu:
U1= 39 mm
U1= 33 mm
U2 = 4,1 cm
U2 = 35 mm
U3 = 35 mm
U1

= : 4
= 33 : 4
= 8,25 mm

U2

= : 4
= 35 : 4
= 8,75 mm

U3

= : 4

2.

Bayclin

Perhitungan
rata-rata diameter
yaitu:
U1
=
D1+D2+D3+D4
= 1,87 +
1,7 + 1,9+ 1,7
= 7,1 cm
= 71 mm
6 mm
U1
= 65 mm
U2
=
D1+D2+D3+D4
= 1,5 + 1,5
+ 1,4+ 1,4
= 5,8 cm
= 58 mm
6 mm
U2
= 52 mm
U3
=
D1+D2+D3+D4
= 1 + 0,9 +
0,8+ 0,9
= 3,6 cm
= 36 mm
6 mm
U3
= 30 mm
U1

= : 4
= 65 : 4
=
16,25

mm
U2

Laboraturium Mikrobiologi dan Genetika Molekuler, Biologi, FMIPA Unmul

= : 4

20

Jurnal Praktikum Mikrobiologi Dasar


= 52 : 4
= 13 mm
U3

= : 4
= 30 : 4
= 7,5 mm

Ratarata
keseluruhan
= (U1 +U2 +U3)
:3
= (16,25 + 13+ 7,5)
:3
= 36,75
:3
= 12,25 mm
Jadi, daya hambat
keseluruhan
menggunakan
disinfektan bayclin
adalah
sebesar
12,25 mm.

3.

4.

Rinso

Lifeboy

= 5,9 cm
= 59 mm
6 mm
U3
= 53 mm
U1

= : 4
= 17 : 4
= 4,25 mm

U2

= : 4
= 11 : 4
= 0,75 mm

U3

= : 4
= 53 : 4
=
13,25

mm
Rata

rata
keseluruhan
= (U1 +U2 +U3)
:3
= (4,25 + 0,75+
13,25) : 3
= 9,4 mm

Tidak berhasil

Perhitungan
rata-rata diameter
yaitu:
U1
=
D1+D2+D3+D4
= 0,6 + 0,6
+ 0,5+ 0,7
= 2,3 cm
= 23 mm
6 mm
U1
= 17 mm
U2
=
D1+D2+D3+D4
= 0,5 + 0,4
+ 0,4+ 0,4
= 1,7 cm
= 17 mm
6 mm
U2
= 11 mm
U3
=
D1+D2+D3+D4
= 1,2 + 2,2
+ 1,5+ 1

Hasil pengamatan pada praktikum ini


adalah rata-rata daya hambat untuk disinfektan
cloramfenikol sebesar 8,6 mm, kebesaran
disinfektan rinso tidak dapat dihitung,
disinfektan bayclin sebesar 12,25 mm, dan
disinfektan lifebuoy sebesar 9,4 mm. Dari
empat disinfektan yang telah diuji dapat kita
ketahui bahwa disinfektan yang bagus yaitu
rinso karena zona hambatnya yang tidak bisa
dihitung.
Disinfektan adalah bahan yang digunakan
untuk melaksanakan disinfeksi. Seringkali
sebagai sinonim digunakan istilah antiseptik,
tetapi pengertian disinfeksi dan disinfektan
biasanya ditujukan terhadap benda-benda mati,
seperti lantai, piring, pakaian [2].
Antibiotik adalah suatu substansi (zat-zat)
kimia yang diperoleh dari atau dibentuk dan
dihasilkan oleh mikroorganisme, dan zat-zat
itu dalam jumlah yang sedikit pun mempunyai
daya penghambat kegiatan mikroorganisme
yang lain. Antibiotika terbesar di alam, dan
memegang peranan penting dalam mengatur
populasi mikroba dalam tanah, air, limbah, dan
kompos. Antibiotika yang kini banyak

Laboraturium Mikrobiologi dan Genetika Molekuler, Biologi, FMIPA Unmul

21

Jurnal Praktikum Mikrobiologi Dasar


digunakan, kebanyakan dari genus bacillus,
penicillum, dan streptomyces [5].
Antibiotik yang pertama dikenal adalah
penisilin, suatu zat yang dihasilkan oleh jamur
penicillium. Penisilin ditemukan oleh A.
Fleming pada tahun 1929, namun baru tahun
1943 antibiotik ini banyak digunakan sebagai
pembunuh bakteri. Selama perang dunia kedua
dan sesudahnya bermacam-macam antibiotik
ditemukan, dan sekarang jumlahnya ratusan
[5].
Mikroba juga dihancurkan oleh prosedur
desinfeksi, meskipun organisme lebih tahan
dapat bertahan hidup . sayangnya, istilah
desinfeksi dan strelisasi kadang memilki arti
yang.
Kesimpulan
Kesimpulan pada praktikum ini adalah ratarata daya hambat untuk disinfektan
cloramfenikol sebesar 8,6 mm, kebesaran
disinfektan rinso tidak dapat dihitung,
disinfektan bayclin sebesar 12,25 mm, dan
disinfektan lifebuoy sebesar 9,4 mm. Dari
empat disinfektan yang telah diuji dapat kita

ketahui bahwa disinfektan yang bagus yaitu


rinso karena zona hambatnya tidak bisa
dihitung.
Referensi
[1] Ayliffes, Hugo, dan Rusell. 2004.
Principles and practice of disinfection,
preservation and sterilization. Hong
kong: blackwellpublishing. Halaman 220
[2] Irianto, Koes. 2006. Mikrobiologi
menguak
dunia
mikroorganisme.
Bandung: CV. Yrama Widya. Halaman
75-76
[3] Murray, Patrick R. 2013. Medical
Microbiology. Halaman 10-11
[4] Susilo, Livia Novianto. 2010. Pengaruh
Penambahan Produk Enzim Pada
Disinfektan Terhadap Penurunan Jumlah
Mikroba Pada Kateter Intravena Di Cssd
Rsud Dr. Soetomo Surabaya. Surabaya:
Universitas Katolik Widya Mandala
Surabaya. Halaman 4
[5] Waluyo, Lud. 2010. Teknik dan metode
dasar dalam Mikrobiologi. Malang:
Universitas muhammadiyah malang.
Halaman 193-196

Laboraturium Mikrobiologi dan Genetika Molekuler, Biologi, FMIPA Unmul

22

Jurnal Praktikum Mikrobiologi Dasar


Analisis Mikroorganisme pada Jamu
Wanda Aziizah Rahayu, Bayu Resandy, Geafanni Emilia Alya, Nur Jannah, Nuraenun Ayu L, Wirda Alawiah, dan Wulandari.
Kelompok 1A Praktikum Mikrobiologi Dasar
Fakultas Kesehatan Masyarakat

Abstrak
Obat bahan alam merupakan obat yang menggunakan bahan baku berasal dari alam. Tujuan dari
praktikum ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan jamu yang ada pada jamu. Bahan yang
digunakan adalah Medium PDA, alkohol dan jamu pegal linu. Kesimpulan dari praktikum ini adalah
adanya 3 spesies yang terdapat pada cawan petri. Spesies 1 ciri-cirinya form: rhizoid, margin:
filamentous, elevation: flat, jumlah: 24. Spesies 2 form: puntiform, margin: entire, elevation: flat,
jumlah: 6. Spesies 3 form: circular, margin: entire, elevation: umbote, jumlah 7.
Kata Kunci: jamu pegal linu/ indetifikasi/ analisis mikroorganisme
Tanggal Praktikum : 19 Desember 2015; Diserahkan tanggal 21 Desember 2015

Pendahuluan
Jamu pegal linu merupakan salah satu obat
tradisional yang banyak dikonsumsi masyarakt
indonesiaberdasarkan
peraturan
mentri
kesehatan RI No.246/menkes/per/v/1990 BAB
V pasal 23 bahwa segala jenis obat tradisional
dilarang mengdung bahan kimia hasil isolasi
atau sintetik yang berkhasit obat [1].
Obat tradisional merupakan salah satu
warisan budaya bangsa Indonesia yang telah
berabad-abad, untuk pemeliharaan dan
peningkatan kesehatan serta pencegahan dan
pengobatan
penyakit.
Produksi
dan
penggunaan oabt tradisional di Indonesia
memperlihatkan
kecendrungan
terus
meningkat, baik jenis maupun volumenya.
Semakin
maraknya
penggunaan
obat
tradisional berdasarkan khasiat yang turun
temurun, semakin memperluas kesempatan
terjadinya pemalsuan simplisia, bahkan ada
beberapa jamu yang mengadung BKO (bahan
kimia obat) yang telah jelas dilarang
penambahannya, baik sengaja maupun tidak
sengaja ke dalam produk obat tradisional [1].
Obat bahan alam merupakan obat yang
menggunakan bahan baku berasal dari alam
(tumbuhan dan hewan) [3].

Obat bahan alam dapat dikelompokkan


menjadi 3 jenis, yaitu jamu, obat herbal
terstandar dan fitofarmaka [1].
Sedangkan
mikroorganime
lainnya
memerlukan suatu medium yang sangat
kompleks, yaitu berupa medium ditambahkan
darah atau bahan-bahan kompleks lainnya [5].
Meskipun telah dijabarkan berbagai
macam jenis dari medium, perlu diiingat
bahwa tidak ada satupun perangkat kondisi
yang memuaskan bagi kultivasi untuk semua
bakteri
di
laboratorium.
Bertahannya
kehidupan bakteri bergantung pada bahan
makanan kondisi lingkungan [2].
Praktikum ini bertujuan untuk menganalisis
mikroorganisme yang terdapat pada sampel
jamu serta mengetahui kualitas sampel jamu.

Asisten pendamping: 1.Tunik Khoiriyah 2.Yusnaini


3.Ersaniany 4.Nurul PratiwiQodrie, 4.Cep Hikmat Maulan Yusuf
5. 6.Riska Prihatiningsih
Penanggung jawab: Koordiantor mata Kuliah Mikrobiologi
Dasar: Dr. rer. nat. Bodhi Dharma M.Si dan Eko Kusumawati S.
Si, M. P Serta Kepala Laboratorium Mikrobiologi dan Genetika
Molekuler Dr. rer. nat. Bodhi Dharma M.Si, FMIPA Unmul

Alat dan Bahan


Alat
Peralatan yang digunakan adalah cawan
petri,tabung reaksi, spatula, vortex, rak tabung
reaksi,
tabung
Erlenmeyer,
Bunsen,
mikropipet, blue tip.

Metode
Waktu dan Tempat
Praktikum dilakukan pada hari sabtu, 19
Desember 2015, pukul 08.00-10.00 WITA.
Bertempat di Laboratorium Mikrobiologi dan
Genetika Molekuler, Fakultas Matematika dan
Ilmu
Pengetahuan
Alam,
Universitas
Mulawarwan, Samarinda.

Laboraturium Mikrobiologi dan Genetika Molekuler, Biologi, FMIPA Unmul

23

Jurnal Praktikum Mikrobiologi Dasar


Bahan
Bahan yang digunakan adalah Medium
PDA dan jamu pegal linu. Cara kerja diambil
jamu.
Cara kerja
Diambil jamu dengan spatula. Dimasukkan
kedalam
tabung
reaksi.
Dilakukan
-1
pengenceran. Dimulai dari 10 sampai pada
pengenceran 10-5. Setelah pengenceran 10-1
lalu divortex dan pada pengenceran 10-2
diambil satu mikropipet dari pengenceran
pertama. Dimasukkan kedalam pengenceran
kedua dan dilakukan begitu seterusnya sampai
pada pengenceran 10-5. Pada pengeceran 10-5.
Dimasukkan satu mikropipet kedalam cawan
petri dan dicampur dengan media PDA.
Dihomogen.
Ditunggu
sampai
padat.
Dimasukkan kedalam inkubator. Diinkubasi
selama 24 jam. Kemudia diamati.
Hasil dan Pembahasan
7.1 Analisis Mikroorganisme Jamu Pada Jamu
Pegal Linu
No
Nama
Keterangan
1.
1.
Sp 1
Form : rhizoid
Margin
:
filamentaous
Elevation : flat
Jumlah : 24
2.
Sp2
Form : puntiform
Margin: entire
Elevation: flat
Jumlah : 6
3.
Sp 3
Form : circular
Margin : entire
Elevation: umbote
Jumlah: 7

Spesies 3 form: circular, margin: entire,


elevation: umbote, jumlah 7.
Dalam praktikum ini, cara yang digunakan
untuk menganalisa mikroorganisme adalah
cara kuantitatif. Kuantitatif yaitu cara yang
digunakan dengan menghitung jumlah
mikroorganisme yang terdapat pada jamu [4].
Kesimpulan
Kesimpulan dari praktikum ini adalah
adanya 3 spesies yang terdapat pada cawan
petri. Spesies 1 ciri-cirinya form: rhizoid,
margin: filamentous, elevation: flat, jumlah:
24. Spesies 2 form: puntiform, margin: entire,
elevation: flat, jumlah: 6. Spesies 3 form:
circular, margin: entire, elevation: umbote,
jumlah 7.
Referensi
[1] Ernie H. Purwaningsih. 2013. Jamu, Obat
Tradisional Asli Indonesia Pasang Surut
Pemanfaatannya di Indonesia. Jurnal
Kesehatan Indonesia. Vol. 1(2). Hal. 88 :
Universitas Indonesia.
[2] Kartika. 2013. Pemantuan kualitas jamu
pegal linu yang beredar di kota cimahi.
Universitas Jendral Ahmad Yani: Jurusan
Farmasi.
[3] Murray, P. R., Ken S. R. dan Michael A.
P. 2013. Medical Microbiology. China.
Saunders.
[4] Rivera, J. O., Loya, A. M. dan Ceballos.
2013. Use of Herbal Medicines and
Implications for Conventional Drug
Therapy Medical Sciences. Alternative
and Integrative Medicine Journal. Vol.
2(6). Hal. 1 : University of Texas at El
Paso College of Health Sciences, El Paso,
Texas, USA.
[5] Volk dan Wheeler. 1993. Dasar-Dasar
Mikrobiologi. Jakarta. Erlangga.

Dari hasil praktikum terdapat 3 spesies


yang pada cawan petri. Spesies 1 ciri-cirinya
form: rhizoid, margin: filamentous, elevation:
flat, jumlah: 24. Spesies 2 form: puntiform,
margin: entire, elevation: flat, jumlah: 6.

Laboraturium Mikrobiologi dan Genetika Molekuler, Biologi, FMIPA Unmul