Anda di halaman 1dari 3

Inkompatibilitas ABO

2.1.1

Definisi

Inkompatibilitas ABO adalah ketidak sesuaian golongan darah antara ibu dan bayi.
Inkompatibilitas ABO dapat meyebabkan reaksi isoimun berupa hemolisis yang terjadi
apabila antibodi anti-A dan anti-B pada ibu dengan golongan darah O, A, atau B dapat
melewati plasenta dan mensensitisasi sel darah merah dengan antigen A, B, atau AB pada
janin (Al-Swaf, 2009).

2.1.2

Sistem Golongan Darah ABO

Sistem ABO ditemukan pada tahun 1900 oleh Karl Landsteiner. Antigen-antigen utamanya
disebut A dan B, antibodi utamanya adalah anti-A dan anti-B. Adanya antibodi ini serta
spesifitasnya tidak ditentukan secara genetis. Antibodi ini terbentuk setelah tubuh terpajan ke
antigen-antigen yang banyak terdapat di alam yang memiliki kemiripan struktur dan
spesifisitas dengan antigen sel darah merah.
Berikut pada tabel 2.1 adalah klasifikasi golongan darah ABO oleh Karl Landsteiner.
Tabel 2.1 Sistem golongan darah ABO
Golongan Darah
Antigen
Antibodi alamiah
O
anti-A + anti-B
A
A
anti-B
B
B
anti-A
AB

A+B
(Yamamoto, 2004)
Penyakit Hemolitik Pada Inkompatibilitas ABO (ABO-HDN)
Inkompatibilitas ABO adalah salah satu penyebab penyakit hemolitik pada bayi baru lahir
yang merupakan faktor resiko tersering kejadian hiperbilirubinemia (Dharmayani, 2009).
Diagnosis Hemolitik Akibat Inkompatibilitas ABO
Diagnosis hemolitik akibat inkompatibilitas ABO pada bayi baru lahir ditegakkan apabila
terdapat keadaan hemolisis yang diindikasikan dengan:
-

Ikterus yang dengan early onset yang signifikan.

Bayi baru lahir dengan golongan darah A, B, AB dari ibu dengan golongan darah ibu O.

Terdapat satu atau lebih kriteria hemolitik (tanpa penyebab hemolisis dan anemia yang

lain) antara lain: menurunnya hemoglobin dan hematokrit, meningkatnya bilirubin indirek
>0,5-1 mg/dL/jam, pada hapusan darah tepi terdapat retikulositosis >7% dan sferositosis, tes
coombs positif (Heydarian, 2012).
2.1.3.2 Patofisiologi
Hemolitik pada inkompatibilitas ABO termasuk dalam reaksi hipersensitivitas tipe II.
Reaksi hipersensitivitas tipe II disebut juga reaksi sitotoksik atau sitolitik, terjadi karena
dibentuk antibodi jenis IgG atau IgM terhadap antigen yang merupakan bagian sel pejamu.
Reaksi diawali oleh reaksi antara antibodi dan determinan antigen yang merupakan bagian
dari membran sel tergantung apakah komplemen atau molekul asesori dan metabolisme sel
dilibatkan.
Ibu dengan golongan darah A atau B antibodi alami yang dimilikinya berupa antibodi
kelas IgM yang tidak dapat menembus plasenta. Sedangkan pada ibu dengan golongan darah
O antibodi alaminya didominasi oleh antibodi kelas IgG yang dapat menembus plasenta.
Antibodi anti-A dan anti-B pada ibu dengan golongan darah O yang dapat melewati plasenta
akan mensensitisasi sel darah merah dengan antigen A, B, atau AB pada janin. Antibodi
tersebut akan menyelimuti sel darah merah dan akan dilisiskan oleh enzim lysosomal yang
diproduksi makrofag dan natural killer lymphocytes.

Inkompatibilitas ABO adalah kondisi medis dimana golongan darah antara ibu dan bayi
berbeda sewaktu masa kehamilan. Terdapat 4 jenis golongan darah, yaitu A, B, AB dan O.
Golongan darah ditentukan melalui tipe molekul (antigen) pada permukaan sel darah merah.
Sebagai contoh, individu dengan golongan darah A memiliki antigen A, dan golongan darah
B memilki antigen B, golongan darah AB memiliki baik antigen A dan B sedangkan golongan
darah O tidak memiliki antigen. Golongan darah yang berbeda menghasilkan antibodi yang
berbeda-beda. Ketika golongan darah yang berbeda tercampur, suatu respon kekebalan tubuh
terjadi dan antibodi terbentuk untuk menyerang antigen asing di dalam darah.
Inkompatibilitas ABO seringkali terjdai pada ibu dengan golongan darah O dan bayi dengan
golongan darah baik A atau B. Ibu dengan golongan darah O menghasilkan antibodi anti-A
dan anti-B yang cukup kecil untuk memasuki sirkulasi tubuh bayi, menghancurkan sel darah
merah janin. Penhancuran sel darah merah menyebabkan peningkatan produksi bilirubin,
yang merupakan produk sisa. Apabila terlalu banyak bilirubin yang dihasilkan, akan
menyebabkan ikterus pada bayi. Bayi dengan ikterus akan memerlukan fototerapi atau
transfusi ganti untuk kasus berat. Apabila bayi tidak ditangani, bayi akan menderita cerebral
palsy. Sampai saat ini, tidak ada pencegahan yang dapat memperkirakan inkompatibilitas
ABO. Tidak seperti inkompatibilitas Rh, inkompatibilitas ABO dapat terjadi pada kehamilan
pertama dan gejalanya tidak memburuk pada kehamilan berikutnya.

Hiperbilirubinemia pada bayi baru lahir sebagian besar disebabkan oleh bilirubin
Indirek yang dapat memberikan efek toksik pada otak dan dapat menimbulkan kematian atau
cacat seumur hidup, oleh sebab itulah maka setiap bayi yang mengalami ikterus harus
mendapat perhatian, meskipun tidak semuanya memerlukan pemeriksaan atau pengobatan
yang khusus. 1-3
Penyebab hiperbilirubinemia pada neonatus banyak, namun penyebab yang paling
sering adalah penyakit hemolitik neonatus, antara lain karena inkompatibilitas golongan
darah (Rh, ABO), defek sel darah merah (defisiensi G6PD, sferositosis) lisis hematom dan
lain-lain.1-3
Pada Inkompatibilitas ABO, hiperbilirubinemia lebih menonjol dibandingkan dengan anemia
dan timbulnya pada 24 jam pertama. Reaksi hemolisis terjadi selagi zat anti dari ibu masih
terdapat dalam serum bayi. 3