Anda di halaman 1dari 13

NAMA

NIM
JURUSAN
PRODI
MATA KULIAH

: AL AMIN MUSTOFA
: 1221301015
: TEKNIK MESIN
: D-IV PRODUKSI DAN PERAWATAN
: TECHNOPRENEURSHIP

Apa yang dimaksud dengan technopreneurship, minimal 10 lembar?

TECHNOPRENEURSHIP
A. Technopreneurship
Technopreneurship merupakan istilah bentukan dari dua kata, yakni
teknologi dan enterpreneurship. Secara umum, kata Teknologi digunakan untuk
merujuk pada penerapan praktis ilmu pengetahuan ke dunia industri atau sebagai
kerangka pengetahuan yang digunakan untuk menciptakan alat-alat, untuk
mengembangkan keahlian dan mengekstraksi materi guna memecahkan persoalan
yang ada. Sedangkan kata entrepreneurship berasal dari kata entrepreneur yang
merujuk pada seseorang atau agen yang menciptakan bisnis/usaha dengan
keberanian menanggung resiko dan ketidakpastian untuk mencapai keuntungan
dan pertumbuhan dengan cara mengidentifikasi peluang yang ada (Zimmerer &
Scarborough, 2008). Jika kedua kata diatas digabungkan, maka kata teknologi
disini mengalami penyempitan arti, karena Teknologi dalam technopreneurship
mengacu pada Teknologi Informasi, yakni teknologi yang menggunakan
Komputer sebagai alat pemrosesan.
Posadas (2007) mendefinisikan istilah technopreneurship dalam cakupan
yang lebih luas, yakni sebagai wirausaha di bidang teknologi yang mencakup
teknologi semikonduktor sampai ke asesoris Komputer Pribadi (PC). Sebagai
contoh adalah bagaimana Steven Wozniak dan Steve Job mengembangkan hobi
mereka hingga mereka mampu merakit dan menjual 50 komputer Apple yang
pertama, atau juga bagaimana Larry Page dan Sergey Brin mengembangkan karya
mereka yang kemudian dikenal sebagai mesin pencari Google. Mereka inilah yang
disebut sebagai para teknopreneur dalam definisi ini.

Dalam wacana nasional, istilah Technopreneurship lebih mengacu pada


pemanfaatan Teknologi informasi untuk pengembangan wirausaha. Berbeda
dengan pengertian pertama diatas, jenis wirausaha dalam pengertian
technopreneurship disini tidak dibatasi pada wirausaha teknologi informasi,
namun segala jenis usaha, seperti usaha meubel, restaurant, super market ataupun
kerajinan tangan, batik dan perak. Penggunaan teknologi informasi yang
dimaksudkan disini adalah pemakaian Internet untuk memasarkan produk mereka
seperti dalam perdagangan online (e-Commerce), pemanfaatan Perangkat Lunak
khusus untuk memotong biaya produksi, atau pemanfaatan teknologi web 2.0
sebagai sarana iklan untuk wirausaha.
Dalam pengertian kedua ini, tidaklah jelas pihak mana yang bisa disebut
sebagai technopreneur. Disini, kedua pengertian ini akan digunakan bersamasama.
B. Technopreneurship sebagai Inkubator bisnis berbasis teknologi
Teknologi komunikasi dan informasi atau teknologi telematika
(information and communication technology ICT) telah diakui dunia sebagai
salah satu sarana dan prasarana utama untuk mengatasi masalah-masalah dunia.
Teknologi telematika dikenal sebagai konvergensi dari teknologi komunikasi
(communication), pengolahan (computing) dan informasi (information) yang
diseminasikan mempergunakan sarana multimedia. Masalah di Indonesia yang
paling utama adalah bagaimana memecahkan masalah kesenjangan digital yang
masih sangat besar dengan menumbuh-kembangkan inovasi atau teknopreneur
industri telematika. Technopreneurship atau wirausaha teknologi merupakan
proses dan pembentukan usaha baru yang melibatkan teknologi sebagai basisnya,
dengan harapan bahwa penciptaan strategi dan inovasi yang tepat kelak bisa
menempatkan teknologi sebagai salah satu faktor untuk pengembangan ekonomi
nasional.
Pengusaha bidang teknologi (Technopreneur), khususnya teknologi informasi (TI)
membutuhkan adanya kebebasan dalam berinovasi, tanpa harus terkekang oleh
regulasi yang malah menghambat. Semakin pemerintah mengendurkan ketatnya

regulasi yang mengatur gerakan grass root komunitas TI di Indonesia, maka akan
memberikan dampak positif berupa tumbuhnya TI itu sendiri dan juga aspek
bisnisnya. Hal ini sangat penting karena dilandasi pengalaman di lapangan, di
mana seringkali terjadi benturan antara kepentingan badan usaha sebagai unit
bisnis yang menuntut untuk selalu bersikap dan berperilaku sebagai wirausahawan
dan melakukan perubahan-perubahan, menyesuaikan antara fakta yang ada
dengan tuntutan perubahan serta memperbesar usaha, tetapi di sisi lain ada
kepentingan-kepentingan Pemerintah yang mungkin saja berlawanan dengan
kepentingan sebagai suatu unit bisnis. Padahal dalam technopreneurship
diperlukan semangat kompetisi yang dominan, agar tidak tertinggal dari turbulensi
bisnis global.
Dalam kurun waktu yang panjang, ilmu pengetahuan ditempatkan pada kotak
tersendiri secara eksklusif, seolah-olah diasingkan dari kegiatan ekonomi. Dunia
ilmu pengetahuan atau kita sebut dengan pendidikan, dianggap bukan menjadi
bagian dari suatu sistem ekonomi. Dunia pendidikan dipandang sebagai suatu
dunia tersendiri tempat dibangunnya nilai-nilai luhur, sementara dunia ekonomi
dipandang sebagai dunia yang penuh dengan kecurangan, ketidakadilan, bahkan
seolah dunia tanpai nilai (value). Cara pandang yang dikotomis tersebut, dalam
kurun waktu yang lama belum dapat terjembatani secara baik. Masing-masing
pihak lebih mementingkan dan meng claim sebagai pihak yang paling benar.
C. Invensi, Inovasi, dan Technopreneur
Technopreneurship bersumber dari invensi dan inovasi. Invensi adalah
sebuah penemuan baru yang bertujuan untuk mempermudah kehidupan. Inovasi
adalah proses adopsi sebuah penemuan oleh mekanisme pasar. Invensi dan inovasi
ada dua jenis, yakni :
1.

Invensi dan inovasi produk

2.

Invensi dan inovasi proses

Berbagai kemajuan yang dicapai diawali dengan riset dan temuan-temuan baru
dalam bidang teknologi (invensi) yang kemudian dikembangkan sedemikian rupa
sehingga memberikan keuntungan bagi pnciptanya dan masyarakat penggunanya.

Perkembangan bisnis daam bidang teknologi diawali dari ide-ide kreatif di


beberapa pusat penelitian (kebanyakan dari perguruan tinggi) yang mampu
dikembangkan, sehingga memiliki nilai jual di pasar. Pengagas ide dan pencipta
produk dalam bidang teknologi tersebut sering dikenal dengan nama
technopreneur (teknoprener), karena mereka mampu menggabungkan antara ilmu
pengetahuan yang dimiliki melalui kreasi/ide produk yang diciptakan dengan
kemampuan berwirausaha melalui penjualan produk yang dihasilkan di pasar.
Dengan demikian, technopreneurship merupakan gabungan dari teknologi
(kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi) dengan kewirausahaan (bekerja
sendiri untuk mendatangkan keuntungan melalui proses bisnis).
D. Pengaruh Teknologi Terhadap Persaingan Dalam Perusahaan
Sistem informasi dan teknologi telah menjadi komponen yang sangat
penting bagi keberhasilan bisnis dan organisasi. Teknologi informasi dapat
membantu segala jenis bisnis meningkatkan efisiensi dan efektifitas proses bisnis,
pengambilan keputusan manajerial, dan kerjasama kelompok kerja, hingga dapat
memperkuat posisi kompetitif dalam pasar yang cepat sekali berubah. Hal ini
berlaku ketika teknologi informasi digunakan untuk mendukung tim
pengembangan produk, proses dukungan untuk pelanggan, transaksi e-commerce
atau dalam aktivitas bisnis lainnya. Teknologi informasi berbasis internet menjadi
bahan yang dibutuhkan untuk keberhasilan bisnis di lingkungan global yang
dinamis saat ini.
Teknologi informasi memberikan banyak manfaat bagi perusahaan, seperti
mampu meringankan aktivitas bisnis serta menghasilkan informasi yang dapat
dipercaya, relevan, tepat waktu, lengkap, dapat dipahami, dan teruji dalam rangka
perencanaan, pengendalian dan pengambilan keputusan manajemen.
Kinerja perusahaan dan efisiensi operasi perusahaan perlu ditingkatkan,.
Akibatnya perusahaan dapat tetap bertahan dalam era informasi serta mampu
menghadapi persaingan pasar global. Selain itu perkembangan teknologi
informasi juga dapat menimbulkan beberapa dampak negatif bagi perusahaan,

seperti tertutupnya kesempatan kerja, serta timbulnya kejahatankejahatan


teknologi informasi yang dapat merugikan perusahaan.
Teknologi informasi muncul sebagai akibat semakin merebaknya
globalisasi dalam kehidupan organisasi, semakin kerasnya persaingan bisnis,
semakin singkatnya siklus hidup barang dan jasa yang ditawarkan, serta
meningkatnya tuntutan selera konsumen terhadap produk dan jasa yang
ditawarkan. Untuk mengantisipasi semua ini, perusahaan mencari terobosan baru
dengan memanfaatkan teknologi. Teknologi diharapkan dapat menjadi fasilitator
dan interpreter. Semula teknologi informasi digunakan hanya terbatas pada
pemrosesan data. Dengan semakin berkembangnya teknologi informasi tersebut,
hampir semua aktivitas organisasi saat ini telah dimasuki oleh aplikasi dan
otomatisasi teknologi informasi.
E. Filosofi seorang wirausaha
Filosofi 1: Awali Hari dengan Membaca, Isi hari-hari dengan Membaca dan
berkarya, dan tutup hari-hari dengan Membaca, bersyukur dan planning.
Membaca disini adalah kegiatan membaca buku, berdiskusi, menulis buku,
membaca pasar, dan membaca peluang- peluang bisnis yang ada, sehingga
menghasilkan sebuah inovasi dan kreativitas bisnis baru. Berkarya disini adalah
mengisi waktu-waktu dengan bekerja, berwirausaha, berbisnis, intinya jangan
sampai kita membiarkan sedetik pun dalam hari-hari kita tidak terisi dengan karya
nyata, tidak terisi dengan kegiatan yang bermanfaat. Jadi berkarya dapat diartikan
dengan selalu mengisi hari-hari kita dengan sesuatu yang bernilai manfaat.
Bersyukur itu penting agar bisnis yang kita jalankan selalu tumbuh dan
berkembang, karena dalam setiap syukur ada sebuah keberkahan yang akan
semakin memajukan bisnis yang kita jalankan, disamping itu selalu membuat
planing akan selalu memacu kita untuk selalu berkarya dan bekerja keras.
Filosofi 2: Selalu mendengar dengah hati yang tulus adalah kunci menuju
perubahan.
Selalu mendengar disini adalah selalu meminta masukan, koreksi,

perbaikan dan inovasi-inovasi yang diinginkan oleh konsumen, sebuah


perusahaan akan menjadi maju jika selalu meminta masukan dari siapapun juga,
baik itu dari bawahan, dari konsumen, maupun dari perusahaan lain.
Filosofi 3: Selalu Menyapa dengan tulus merupakan kunci keberhasilan
organisasi.
Seorang wirausaha harus mengalokasikan waktunya walaupun hanya 1
menit untuk menyapa dan bertukar pikiran dengan jajaran karyawannya agar
sebuah perusahaan bisa tumbuh dan berkembang, manajemen dapat berjalan
dengan baik
Filosofi 4: Bangunlah Sebuah Bisnis yang mencerdaskan.
Bisnis yang mencerdaskan adalah sebuah bisnis yang tidak hanya
menghasilkan keutungan materi, dan memberikan manfaat bagi konsumen.
Namun harus bisa memberikan nilai tambah ilmu dan pengetahuan baru kepada
setiap konsumen yang menggunakan produk kita. Selain itu Sebuah perusahaan
yang mencerdaskan harus pula dapat memberikan multiplayer efek bagi kemajuan
pendidikan, diantaranya dapat dilakukan dengan cara memberikan beasiswa dari
hasil laba perusahaan, membuka sekolah gratis bagi para anak-anak karyawan,
dan membuka universitas-universitas untuk kemajuan pendidikan di Indonesia.
Filosofi 5: Setiap hari harus memiliki rencana dan tujuan yang ingin dicapai
Minimal memiliki 1 rencana yang akan dilaksanakan, dan setelah satu
rencana beres maka merencanakan kegiatan lainnya
Filosofi 6: Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih
baik dari hari ini.
Dalam bisnis pun sama hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari
esok harus lebih baik dari hari ini, sehingga akan senantiasa ada perbaikan
manajemen, perbaikan pelayanan, dan inovasi-inovasi baru dalam setiap harinya.

Filosofi 7 : Apabila telah selesai dari satu bisnis maka kerjakanlah bisnis yang
lain.
Ekspansi bisnis perlu dilakukan agar bisnis kita terus berkembang dengan
pesat, hal ini perlu dilakukan agar bisnis yang kita lakukan tidak mengalami
stagnan.
F. Karakteristik seorang wirausaha
Sifat Instrumental
Dia dalam berbagai situasi selalu memanfaatkan segala sesuatu yang ada
dalam lingkungannya demi tercapainya tujuan pribadi dalam berusaha.
Sifat Prestatif
Dia dalam berbagai situasi selalu tampil lebih baik, lebih efektif
dibandingkan dengan hasil yang tercapai sebelumnya.
Sifat Keluwesan Bergaul
Dia selalu berusaha untuk cepat menyesuaikan diri dalam berbagai situasi
hubungan antar manusia. Dia aktif bergaul, membina kenalan-kenalannya dan
mencari kenalan baru, serta berusaha untuk dapat terlibat dengan mereka yang
ditemui dalam kegiatan sehari-hari.
Sifat Kerja Keras
Dia selalu terlibat dalam situasi kerja, tidak mudah menyerah sebelum
pekerjaan selesai. Dia mengutamakan kerja dan mengisi waktu yang ada dengan
perbuatan nyata untuk mencapai tujuan.
Sifat Keyakinan Diri
Dia selalu percaya pada kemampuan diri, tidak ragu-ragu dalam bertindak,
bahkan berkecenderungan untuk melibatkan diri secara langsung dalam berbagai
situasi dengan optimisme untuk berhasil.
Sifat Pengambilan Resiko
Dia selalu memperhitungkan keberhasilan dan kegagalan dalam setiap
kegiatannya khususnya untuk mencapai keinginannya. Dia akan melangkah bila
kemungkinan untuk gagal tidak terlalu besar.

Sifat Swa Kendali


Dia dalam menghadapi berbagai situasi selalu mengacu pada kekuatan dan
kelemahan pribadi dan batas-batas kemampuan dalam berusaha. Dia selalu
menyadari dengan adanya pengendalian diri ini maka setiap kegiatannya menjadi
lebih terarah dalam mencapai tujuannya.
Sifat Inovatif
Dia selalu mendekati berbagai masalah dengan berusaha menggunakan
cara-cara baru yang lebih bermanfaat. Dia terbuka terhadap gagasan, pandangan,
dan penemuan baru yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kinerjanya. Dia
tidak terpaku pada masa lalu, tapi selalu berpandangan ke depan untuk mencari
cara-cara baru atau memperbaiki cara-cara yang biasa dilakukan orang lain untuk
peningkatan kinerja. Dia cenderung melakukan sesuatu dengan cara yang khas,
unik dari hasil pemikirannya. Termasuk dalam sifat inovatif ini adalah
kecenderungan untuk selalu meniru tetapi melalui penyempurnaan tertentu
(imitatif inovatif).
Sifat Kemandirian
Dia selalu mengembalikan perbuatannya sebagai tanggung jawab pribadi.
Keberhasilan dan kegagalan merupakan konsekuensi pribadi wirausaha. Dia
mementingkan otonomi dalam bertindak, pengambilan keputusan dan pemilihan
berbagai kegiatan dalam mencapat tujuan. Dia lebih senang bekerja sendiri,
menentukan dan memilih cara kerja yang sesuai dengan dirinya. Ketergantungan
pada orang lain merupakan suatu yang bertentangan dengan kata hatinya. Dia
dapat saja bekerja dalam kelompok selama mendapat kebebasan bertindak dan
dalam mengambil keputusan.
G. Tipe-tipe wirausaha
Penasehat (Advisor)
Kebanyakan konsultan dipercayai banyak orang karena pendidikan dan
pengalaman yang mereka peroleh seperti di bidang konsultan keuangan. Di bidang
ini, konsultan mendapat uang dari jasa mereka memberikan saran atau pun
mencarikan solusi bagi klien-klien mereka.

Organisator
Contoh usaha tipe ini adalah event organizer dimana anda harus
memaintain ataupun me-manage jalannya sebuah usaha.
Creator
Tipe yang ini adalah tipe pembangun bisnis dimana memerlukan
kreativitas anda untuk mampu membuat barang atau jasa baru yang sebelumnya
belum ada.
Care Taker
Pengusaha yang bergerak di bidang perkebunanan adalah salah satu conton
dimana anda harus mampu sebuah bisnis dan di perlukan sikap yang sabar, tekun,
dan konsisten.
Communicator
Tipe ini adalah anda yang mampu memberikan informasi yang menjadi
demand seperti bidang sales.
Entertainer
Tipe ini adalah tipe entrepreneur yang mampu membuat atau menambah
pengalaman positif bagi orang lain misalnya : aktor dan penyanyi.
Investor
Tipe ini adalah tipe entrepreneur yang di bidang saham atau property yang
mampu membuat uang mereka bekerja.
Seller
Tipe ini memiliki keahlian dalam menjual apapun mau itu jasa atau barang
misalnya asuransi.
Engineer / Technology
Tipe ini adalah pengusaha yang memiliki keahlian di bidang teknik,
misalnya bidang otomotif.
H. Wirausaha berbasis TI
Wirausaha berbasis teknologi informasi adalah penggunaan teknologi
informasi dalam mendukung proses bisnis. Dengan memanfaatkan teknologi
informasi, akan dapat meningkatkan hasil dan kualitas dari usaha tersebut.

Sebagai contoh toko komputer yang memanfaatkan website untuk menjual barang
jualannya. Dengan menggunakan website, sebuah toko akan lebih dapat dijangkau
oleh orang banyak daripada toko yang hanya jualan di daerah setempat. Promosi
lewat website juga lebih memungkinkan dilihat banyak orang. Namun kelemahan
promosi di website adalah tidak semua orang dapat melihat websitenya,
dikarenakan tidak memiliki akses internet.
I. Wirausaha bidang TI di Sillicon Valley Amerika Serikat
Wirausaha bidang TI di Silicon Valley sangatlah maju, hal ini dikarenakan
orang-orang di sana yang tidak cepat menyerah dalam menerima kegagalan.
Kultur kerja di Silicon Valley yang membiasakan orang menerima kegagalan lalu
bangkit lagi merupakan kekuatan terbesar. Lalu semangat kerja dimana semua
orang dapat berbagi informasi yang positif mampu menciptakan budaya tumbuh
bersama. Yang terakhir adalah kegigihan dalam mencapai apa yang mereka
inginkan merupakan sesuatu yang membuat mereka bertahan.
J. Wirausaha bidang TI di Bangalore India
Wirausaha bidang TI di Bangalore sangat maju, terutama di bagian piranti
lunak. Saat ini di Bengalore terdapat sekitar 1500 perusahaan piranti lunak yang
mengerjakan berbagai proyek dari AS dan Eropa dan telah berhasil mengangkat
India menjadi salah satu negara produsen piranti lunak terbesar di dunia. Industri
berbasis pengetahuan dari India, seperti piranti lunak, jasa teknologi informasi dan
farmasi yang membutuhkan mutu sumber daya manusia yang berpengetahuan
khusus mampu dipenuhi dengan baik oleh India dan bahkan mendapat pengakuan
masyarakat bisnis internasional. Tidak mengherankan bila perusahaan modal
ventura (venture capital) dari AS banyak yang mengadu untung di Bengalore,
India.
K. Wirausaha berbasis TI di Indonesia
Wirausaha berbasis Teknologi Informasi adalah wirausaha yang
menggunakan dan mengembangkan unit usaha dan unit produksinya dengan

memanfaatkan teknologi yang ada. Proses pengembangan unit usaha dan unit
produksi dengan memanfaatkan teknologi dapat meningkatkan hasil sekaligus
performa dari unit usaha tersebut. Di Indonesia masih belum banyak yang
memanfaatkan teknologi informasi dalam melakukan usaha. Namun ada beberapa
yang sudah memanfaatkannya, misalnya menawarkan barang yang akan di jual di
took, dengan memasang iklan di internet. Salah satu metode ini, sudah tidak asing
lagi di dunia maya. Dengan memasang iklan di internet, penjual akan lebih
banyak dilihat barang jualannya oleh pengguna internet. Contoh nyata adalah
memasang iklan jualan di forum jual beli TokoBagus.com ataupun Kaskus.co.id.
Jadi kesimpulannya pengembangan wirausaha berbasis TI di Indonesia masih
belum maksimal, namun ada beberapa yang sudah memanfaatkan teknologi
informasi.
L. Contoh-Contoh Inovasi Pada Beberapa Perusahaan Yang Ada Di
Indonesia.
Berikut beberapa contoh inovasi pada perusahaan di Indonesia yang saya
dapatkan :

Layanan korporat dari XL. Persaingan antar operator telepon mobile, dan

juga antara GSM dan CDMA membuat XL melirik ke pasar korporat. Perusahaan
ini meluncurkan layanan Office Zone dan GSM PABX yang cukup inovatif.
Lewat fasilitas terbaru XL tersebut, XL berfungsi sebagai extention sistem
komunikasi perusahaan. Staf perusahaan yang memakai layanan ini bisa
menelepon ke kantor pusat tanpa dikenakan biaya sama sekali selama masih
berada pada zona yang ditentukan. Keluar dari zona tersebut, dikenakan biaya flat
fee yang masih cukup murah. Solusi ini termasuk inovatif karena didasarkan atas
kebutuhan korporat yang selama ini jarang diperhatikan. Solusi ini juga mampu
menghemat biaya komunikasi korporat, dan sekaligus menjamin pendapatan
untuk XL dari segmen yang cukup loyal tersebut.

Ovale dari PT KinoCare. Produk ini dianggap inovatif karena

menggabungkan dua produk, yakni: krim pembersih (face cleansing milk) dan
penyegar (face toner) dalam satu produk. Perusahaan ini juga meluncurkan Ovale

Maskulin yang ditawarkan untuk para pria pengendara kendaraan bermotor di


Indonesia yang jumlahnya cukup besar.

Produk-produk elektronik dari PT Hartono Istana Teknologi (HIT).

Produsen Polytron ini telah melahirkan beberapa inovasi yang pantas untuk
dicatat, antara lain teknologi Singasong (teknologi audiovisual di dalam kaset
audio), kulkas dua fungsi (pendingin dan penghangat), dan TV Xcel Home
Theater yang sudah dilengkapi dengan perangkat home theater dan DVDplayer.
Inovasi dan kualitas Polytron membuat banyak pembeli yang tidak tahu jika
merek ini adalah merek lokal.

Sabun Harmony dan Lervia dari PT Megasurya Mas. Sabun beraroma

buah ini bukan saja diterima di Indonesia, namun sudah diekspor ke mancanegara.
Di India dan beberapa negara Timur Tengah, merek Harmony cukup disegani.
Bahkan, di negara Turki, nama Harmony sudah identik dengan kategori sabun
bearoma buah. Selain Harmony, Megasurya Mas juga memproduksi Lervia Milk
Soap, sabun mandi dengan ekstrak susu dan moisturizer yang juga sudah diekspor
ke lebih dari 30 negara.

Suplemen Stimuno dari PT Dexa Medica. Suplemen untuk meningkatkan

daya tahan tubuh ini menggunakan tumbuhan khas Indonesia, meniran. Meniran,
sebagaimana sudah diuji di laboratorium, mampu mengobati infeksi kronis dan
viral. Saat ini, produk tersebut juga sudah diekspor ke negara-negara ASEAN
lainnya seperti Kamboja, Vietnam, dan Singapura.
Contoh-contoh di atas berasal dari perusahaan-perusahaan yang relatif
besar. Tapi itu tentu tidak berarti inovasi tidak bisa dilahirkan dari individuindividu yang sebelumnya tidak memiliki pengalaman di dunia bisnis. Silakan
simak 3 contoh di bawah ini:

Smart Diva. Dua sahabat keturunan blasteran yang kebetulan berhobi

sama Jessica Schwarze dan Amanda Sari mendapatkan ide untuk membuka usaha
penyewaan tas pesta. Meski ide ini sudah dijalankan sebelumnya di US, namun
ide tersebut mereka dapatkan sebelum mengetahui tentang perusahaan di US
tersebut. Mereka juga mengatakan bahwa ide ini adalah yang pertama kali

dijalankan di Asia. Meski agak ragu-ragu di awalnya, bisnis yang diberi nama
Smart Diva ini sekarang sudah dikenal di Jakarta.

PT Suwastama. Kala orang-orang melihat enceng gondok sebagai sesuatu

yang mengganggu, perusahaan ini justru melihatnya sebagai bahan baku untuk
kerajinan tangan. Produk enceng gondok tersebut bukan saja sudah diekspor ke
mancanegara, tetapi perusahaan ini juga merangkul ribuan perajin di sekitarnya
dan memberi mereka bantuan fasilitas kepemilikan rumah.

The Electronic Doctor Indonesia (EDI). Ide Henry Indraguna ini pantas

diacungi jempol. Dengan membebankan biaya keanggotaan Rp. 100.000,-,


pelanggan akan mendapatkan garansi servis setahun penuh untuk satu jenis
produk elektroniknya. Untuk menjaga kualitas, Henry menjamin pemakaian spare
parts asli. EDI ini juga diwaralabakan ke kota-kota lain di Indonesia.
Lewat beberapa contoh di atas, saya ingin menunjukkan bahwa inovasi demi
inovasi sebenarnya bisa dilahirkan di Indonesia. Tidak ada persyaratan khusus
untuk menjadi seorang inovator. Teknologi tinggi dan perlindungan hak cipta
tidak dibutuhkan dan ketiadaan perlindungan hukum tersebut tidak boleh
dijadikan alasan. Inovasi yang sebenarnya justru bertitik tolak dari kebutuhan
konsumen yang belum terpenuhi dan mencari cara untuk memenuhi kebutuhan
tersebut dengan cara-cara yang lebih baik dari kompetitor Anda.
Pengetahuan terhadap kebutuhan lokal (seperti Ovale dan Teh Sosro) mampu
dijadikan alat bersaing dengan perusahaan multinasional yang terkadang kurang
sensitif terhadap perbedaan konsumen Indonesia dengan konsumen negara
asalnya.
Memang, tidak ada juga yang berani menjamin semua inovasi akan
menghasilkan keuntungan. Secara statistik, malah lebih banyak inovasi yang
gagal. Beberapa produk/layanan di atas yang sekarang menguntungkan pasti akan
mengalami masa-masa surut suatu saat nanti. Inovasi hari ini akan menjadi produk
umum di kemudian hari, apalagi dengan cepatnya peniruan saat ini. Akan tetapi,
kegagalan dan pasang surut tersebut memang dibutuhkan sebagai upaya
pembelajaran. Kegagalan sesungguhnya justru terjadi bila kita takut mencoba
karena takut gagal.