Anda di halaman 1dari 37

TUGAS REFRESHING

GANGGUAN AFEKTIF BIPOLAR

Disusun Oleh :
Chicilia Windia T. W (2010730020)

Pembimbing :
dr. RR. Dyah Rikayanti, Sp. KJ

KEPANITERAAN KLINIK STASE ILMU KESEHATAN JIWA


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA BANJAR
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2015

BAB I
PENDAHULUAN

Gangguan bipolar atau Manic-Depressive Illness (MDI) merupakan salah satu


gangguan jiwa tersering yang berat dan persisten. Gangguan bipolar ditandai oleh suatu
periode depresi yang dalam dan lama, serta dapat berubah menjadi suatu periode yang
meningkat secara cepat dan/atau dapat menimbulkan amarah yang dikenal sebagai mania.
Gejala-gejala mania meliputi kurangnya tidur, nada suara tinggi, peningkatan libido, perilaku
yang cenderung kacau tanpa mempertimbangkan konsekuensinya, dan gangguan pikiran
berat yang mungkin/tidak termasuk psikosis. Di antara kedua periode tersebut, penderita
gangguan bipolar memasuki periode yang baik dan dapat hidup secara produktif. Gangguan
bipolar merupakan suatu gangguan yang lama dan jangka panjang. Gangguan bipolar
mendasari satu spektrum kutub dari gangguan mood/suasana perasaan meliputi Bipolar I (BP
I), Bipolar II (BP II), Siklotimia (periode manic dan depresif yang bergantian/naik-turun), dan
depresi yang hebat.
Gangguan bipolar merupakan gangguan jiwa berat yang prevalensinya cukup tinggi
yaitu 1%-2%. Etiologinya adalah multifaktor. Gangguan bipolar menjadi beban pribadi,
keluarga, dan sosial. Sebagian besar penderita mengalami sindrom gangguan bipolar secara
kronik. Kronisitasnya simtom tersebut menyebabkan terjadinya komorbiditas yang akhirnya
dapat menyebabkan gangguan fungsi dan kematian premature. Prof dr Sasanto Wibisono,
SpKJ (K), guru besar di bagian Psikiatri FKUImenjelaskan perbedaan ekstrem perasaan
(manik dan depresi) penderita Bipolar tidak selalu bisa diamati oleh lingkungannya karena
masing-masing individu reaksinyaberlainan. Ada yang menonjol kutub maniknya, sementara
yang lain menonjol depresinya.Kondisi tidak normal itu bisa terjadi hanya beberapa minggu
sampai 2-3bulan.Setelah itu kembali ''normal'' untuk jangka waktu relatif lama, namun
dikesempatan lain muncul kembali.

BAB II
PEMBAHASAN

I. DEFINISI
Gangguan Bipolar dikenal juga dengan gangguan manik depresi, yaitu gangguan pada
fungsi otak yang menyebabkan perubahan yang tidak biasa pada suasana perasaan, dan
proses berfikir. Disebut Bipolar karena penyakit kejiwaan ini didominasi adanya fluktuasi
periodik dua kutub, yakni kondisi manik (bergairah tinggi yang tidak terkendali) dan depresi.
Gangguan bipolar merupakan kategori diagnostik yang menggambarkan sebuah kelas dari
gangguan mood, dimana seseorang mengalami kondisi atau episode dari depresi dan/atau
manik, hipomanik, dan/atau kondisi campuran. Jika dibiarkan tanpa terapi, akan
menghasilakan kondisi psikiatrik dengan disabilitas berat. Perbedaan antara gangguan bipolar
dan unipolar (juga dikenal dengan major depression) adalah bahwa gangguan bipolar
melibatkan kondisi mood yang energetik atau teraktivasi sebagai tambahan dari kondisi
mood yang depresi.
Durasi dan intensitas dari kondisi mood bervariasi secara luas diantara orang-orang dengan
penyakit tersebut. Fluktuasi dari satu kondisi mood ke kondisi lainnya disebut dengan
cycling atau mood swings. Mood swing menyebabkan kelainan tidak hanya pada mood
seseorang, tetapi juga pada level energi, pola tidur, level aktivitas, ritme social dan
kemampuan berpikir seseorang. Banyak orang yang mengalami disabilitas untuk beberapa
waktu lamanya dan ketika hal tersebut terjadi mereka mengalami gangguan fungsi yang
berat.
Gejala dari gangguan bipolar biasanya tetap sama dari satu episode ke episode lainnya pada
seorang pasien, tetapi gejalanya dapat bertambah buruk atau malah membaik. Gejala dari
manik mencakup euphoria, peningkatan kepercayaan diri, bicara cepat, pikiran yang
berlomba-lomba, iratabilitas yang berlebihan, peningkatan energi dan berkurangnya
kebutuhan untuk tidur. Gejala dari depresi mencakup kesedihan, hilangnya minat pada
aktifitas sehari-hari, cepat lelah dan adanya pikiran-pikiran tentang kematian. Gejala psikotik
seperti halusinasi dan waham juga dapat muncul.

Untuk hipomanik, gejalanya biasanya lebih tidak destruktif seperti mania dan orang-orang
dengan hipomanik biasanya mengalami lebih sedikit gejala daripada mereka yang mengalami
manik secara komplit. Durasinya juga lebih pendek dari pada mania. Hal ini seringkali
menjadi keadaan yang artistik dari kelainan ini, karena terdapat flight of ideas, pemikiran
yang brilliant dan peningkatan energi. Sementara siklotimik menyerupai gejala bipolar
campuran, hanya saja destruktifitasnya tidaklah seperti manik atau depresif dan perjalanan
penyakitnya kronis.
Gangguan bipolar seringkali disalah-diagnosa karena orang yang sedang manik cenderung
untuk tidak mencari pengobatan. Ketika terapi dicari saat episode depresif, kondisi ini dapat
disalahtafsirkan sebagai gangguan depresi mayor. Diagnosis dari gangguan bipolar
melibatkan sebuah evaluasi tentang kesehatan jiwa. Evaluasi ini mencakup riwayat lengkap
dari gejala, termasuk onset, durasi dan keparahannya. Penegakan diagnosis juga mencakup
pengekslusian penyebab lain yang dapat menyerupai gejala gangguan bipolar seperti
penggunaan zat terlarang atau kelainan tiroid.
II. EPIDEMIOLOGI
Penyakit ini mengenai sekitar 1% hingga 1,5% dari total populasi dan mungkin
sekitar 2% jika gejala-gejala bipolar II diikutsertakan. Prevalensi penyakit ini cenderung
untuk meningkat dari tahun ke tahun. Wanita dan laki-laki memiliki peluang yang sama untuk
terkena penyakit yang sering kali menimbulkan disabilitas ini, tetapi faktor hormonal dapat
berpengaruh pada perbedaan jenis kelamin.
Kelainannya seringkali muncul pada saat masa remaja atau dewasa awal (dengan ratarata usia 25 hingga 35 tahun) dan berpengaruh terhadap penderita sepanjang sisa hidupnya.
Walaupun sebelumnya dianggap sebagai gangguan pada orang dewasa, sekarang didapati
bahwa anak kecil juga ternyata dapat menderita dari gangguan bipolar ini. Semakin awal
onsetnya, semakin besar pula kemungkinan dari timbulnya gejala psikotik dan semakin jelas
terlihat pula hubungan genetiknya.
Morbiditas dan mortalitas yang signifikan yang berhubungan dengan gangguan
bipolar inilah yang menjadikan penyakit ini sebagai problema mayor kesehatan publik.
Insidens yang tercatat kemungkinan kurang dari insidens yang terjadi sebenarnya karena
pelaporan yang kurang dan kurangnya pengenalan akan episode manik dan hipomanik.
Prevalensi bipolar II dan siklotimia adalah rendah karena kebanyakan penelitian hanya
4

mengikut sertakan gangguan bipolar I saja. Meskipun ketika pola bipolar II diikut sertakan,
kesulitan untuk menetapkan riwayat dari episode hipomanik mengacu pada diagnosis yang
kurang. Menetapkan diagnosis siklotimia malah lebih sulit lagi.
Gangguan bipolar secara signifikan mempengaruhi ekonomi. Ia dapat menghasilkan
gangguan dan disabilitas fungsional dan membebani perusahaan-perusahaan di USA
sebanyak 14,1 juta dolar pertahunnya, menurut NIH. Menurut NAMI penyakit ini menempati
urutan ke-6 dari penyebab utama penyakit yang menimbulkan disabilitas diseluruh dunia dan
merupakan diagnosis kesehatan jiwa yang paling mahal, baik untuk pasien dan penyedia
asuransi.
III. ETIOLOGI
Sekarang, penyebab gangguan bipolar diketahui multifaktor. Mencakup aspek biopsikososial.Secara biologis dikaitkan dengan faktor genetik dan gangguan neurotransmitter di
otak.Secara psikososial dikaitkan dengan pola asuh masa kana-kanak, stres yang
menyakitkan, stres kehidupan yang berat dan berkepanjangan, dan banyak lagi faktor lainnya.

A. Faktor Genetik
Penelitian keluarga telah menemukan bahwa kemungkinan menderita suatu
gangguan mood menurun saat derajat hubungan kekeluargaan melebar. Sebagai
contoh, sanak saudara derajat kedua (sepupu) lebih kecil kemungkinannya dari
pada sanak saudara derajat pertama. Penurunan gangguan bipolar juga
ditunjukkan oleh fakta bahwa kira-kira 50 persen pasien gangguan bipolar
memiliki sekurangnya satu orangtua dengan suatu gangguan mood, paling sering
gangguan depresif berat. Jika satu orangtua menderita gangguan bipolar, terdapat
kemungkinan 25 persen bahwa anaknya menderita suatu gangguan mood. Jika
kedua orang tua menderita gangguan bipolar, terdapat kemungkinan 50-75 persen
anaknya menderita gangguan mood.
Beberapa studi berhasil membuktikan keterkaitan antara gangguan bipolar
dengan kromosom 18 dan 22, namun masih belum dapat diselidiki lokus mana
dari kromosom tersebut yang benar-benar terlibat.Beberapa diantaranya yang telah
diselidiki adalah 4p16, 12q23-q24, 18 sentromer, 18q22, 18q22-q23, dan 21q22.

Yang menarik dari studi kromosom ini, ternyata penderita sindrom Down (trisomi
21) berisiko rendah menderita gangguan bipolar.
Sejak ditemukannya beberapa obat yang berhasil meringankan gejala bipolar,
peneliti mulai menduga adanya hubungan neurotransmitter dengan Gangguan
bipolar. Neurotransmitter tersebut adalah dopamine, serotonin, noradrenalin. Gengen yang berhubungan dengan neurotransmitter tersebut pun mulai diteliti seperti
gen yang mengkode monoamine oksidase A (MAOA), tirosin hidroksilase,
cathecol-ometiltransferase (COMT), dan serotonin transporter (5HTT). Penelitian
terbaru menemukan gen lain yang berhubungan dengan penyakit ini yaitu gen
yang mengekspresi brain derived neurotrophic factor (BDNF).
BDNF adalah neurotropin yang berperan dalam regulasi plastisitas sinaps,
neurogenesis, dan perlindungan neuron otak. BDNF diduga ikut terlibat dalam
mood. Gen yang mengatur BDNF terletak pada kromosom 11p13. Terdapat tiga
penelitian yang mencari tahu hubungan antara BDNF dengan Gangguan bipolar
dan hasilnya positif.

B. Faktor Biologis
Kelainan di otak juga dianggap dapat menjadi penyebab penyakit ini. Terdapat
perbedaan gambaran otak antara kelompok sehat dengan penderita bipolar.
Melalui pencitraan magnetic resonance imaging (MRI) dan positron-emission
tomography (PET), didapatkan jumlah substansia nigra dan aliran darah yang
berkurang pada korteks prefrontal subgenual. Tak hanya itu, Blumberg dkk dalam
Arch Gen Psychiatry 2003 pun menemukan volume yang kecil pada amygdale
dan hippocampus. Korteks prefrontal, amygdale, dan hippocampus merupakan
bagian dari otak yang terlibat dalam respon emosi (mood dan afek).

Penelitian lain menunjukkan ekspresi oligodendrosit-myelin berkurang pada


otak penderita bipolar. Seperti diketahui, oligodendrosit menghasilkan membran
myelin yang membungkus akson sehingga mampu mempercepat hantaran
konduksi antar saraf. Bila jumlah oligodendrosit berkurang, maka dapat
dipastikan komunikasi antar saraf tidak berjalan lancar.

C. Faktor Psikososial
1. Peristiwa kehidupan dan stress lingkungan
Satu pengamatan klinis yang telah lama yang telah direplikasi adalah bahwa
peristiwa kehidupan yang menyebabkan stress lebih sering mendahului episode
pertama gangguan suasana perasaan daripada episode selanjutnya. Hubungan
tersebut telah dilaporkan untuk pasien gangguan depresif berat dan gangguan
bipolar I.
2. Ketidakberdayaan yang dipelajari (learned helplessness)
Di dalam percobaan dimana binatang secara berulang dipaparkan dengan
kejutan listrik yang tidak dapat dihindarinya, binatang akhirnya menyerah dan
tidak melakukan usaha sama sekali untuk menghindari kejutan selanjutnya.
Mereka belajar bahwa mereka tidak berdaya.Pada manusia yang terdepresi, kita
dapat menemukan keadaan ketidakberdayaan yang mirip. Menurut teori
ketidakberdayaan yang dipelajari, depresi dapat membaik jika klinisi mengisi pada
pasien yang terdepresi suatu rasa pengendalian dan penguasaan lingkungan.Klinisi
7

menggunakan teknik perilaku berupa dorongan yang menyenangkan dan positif di


dalam usaha tersebut.
3. Teori kognitif
Menurut teori kognitif, interpretasi yang keliru (misinterpretation) kognitif
yang sering adalah melibatkan distorsi negatif, pengalaman hidup, penilaian diri
yang negatif, pesimisme, dan keputusasaan.Pandangan negatif yang dipelajari
tersebut selanjutnya menyebabkan perasaan depresi.Seorang ahli terapi kognitif
berusaha untuk mengidentifikasi hal yang negatif dengan menggunakan tugas
perilaku, seperti mencatat dan secara sadar memodifikasi pikiran pasien.
IV. KRITERIA DIAGNOSTIK DAN PEMERIKSAAN FISIK
Berdasarkan Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ)
III, gangguan afektif bipolar ini bersifat episode berulang yang menunjukkan suasana
perasaan pasien dan tingkat aktivitasnya jelas terganggu, dan gangguan ini pada waktu
tertentu terdiri dari peninggian suasana perasaan serta peningkatan energi dan aktivitas
(mania atau hipomania), dan pada waktu lain berupa penurunan suasana perasaan serta
pengurangan energi dan aktivitas (depresi). Yang khas adalah terdapat penyembuhan
sempurna antar episode.Episode manik biasanya mulai dengan tiba-tiba dan berlangsung
antara 2 minggu sampai 4-5 bulan, sedangkan depresi cenderung berlangsung lebih lama.
Episode pertama bisa timbul pada setiap usia dari masa kanak-kanak sampai tua.
Kebanyakan kasus terjadi pada dewasa muda berusia 20-30 tahun. Semakin dini
seseorang menderita bipolar maka risiko penyakit akan lebih berat, kronik bahkan
refrakter.

A. Kriteria Diagnostik
Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual (DSM) IV, gangguan bipolar
dibedakan menjadi 2 yaitu gangguan bipolar I dan II.Gangguan bipolar I atau tipe
klasik ditandai dengan adanya 2 episode yaitu manik dan depresi, sedangkan
gangguan bipolar II ditandai dengan hipomanik dan depresi.PPDGJ III membaginya
dalam klasifikasi yang berbeda yaitu menurut episode kini yang dialami penderita.
8

1. F31 Gangguan Afektif Bipolar


Gangguan ini tersifat oleh episode berulang (yaitu sekurang-kurangnya dua)
yang menunjukkan suasana perasaan (mood) pasien dan tingkat aktivitasnya jelas
terganggu, dan gangguan ini pada waktu tertentu terdiri dari peninggian suasana
perasaan (mood) serta peningkatan enersi dan aktivitas (mania atau hipomania),
dan pada waktu lain berupa penurunan suasana perasaan (mood) serta
pengurangan energi dan aktivitas (depresi).
Yang khas adalah bahwa biasanya ada penyembuhan sempurna antar episode.
Episode manik biasanya mulai dengan tiba-tiba dan berlangsung antara 2 minggu
sampai 4-5 bulan, episode depresi cenderung berlangsung lebih lama (rata-rata
sekitar 6 bulan) meskipun jarang melebihi 1 tahun kecuali pada orang usia lanjut.
Kedua macam episode itu seringkali terjadi setelah peristiwa hidup yang penuh
stres atau trauma mental lain (adanya stres tidak esensial untuk penegakkan
diagnosis).
2. F31.3 Gangguan Afektif Bipolar, episode kini Depresif Ringan atau Sedang
a) Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif ringan
(F32.0) ataupun sedang (F32.1), dan
b) Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik atau
campuran di masa lampau.
Karakter kelima dapat digunakan untuk menentukan ada atau tidaknya gejala
somatic dalam episode depresif yang sedang berlangsung.
F31.30 Tanpa gejala somatik
F31.31 Dengan gejala somatik
3. F31.4 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Depresif Berat tanpa Gejala
Psikotik
a) Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif berat
tanpa gejala psikotik (F32.2), dan
b) Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik atau
campuran di masa lampau.

4. F31.5 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Depresif Berat dengan Gejala
Psikotik
a) Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif berat
dengan gejala psikotik (F32.3), dan
b) Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik atau
campuran di masa lampau.
Jika dikehendaki, waham atau halusinasi dapat ditentukan sebagai serasi atau
tidak serasi dengan afeknya.
Episode Depresif
Walaupun banyak penelitian telah berusaha untuk menemukan perbedaan yang dapat
dipercaya antara episode depresif gangguan bipolar dan episode gangguan depresif,
perbedaan tersebut sulit ditemukan.Di dalam situasi klinis, hanya riwayat penyakit pasien,
riwayat keluarga, dan perjalanan penyakit di masa mendatang dapat membantu membedakan
kedua kondisi tersebut.
1. F32 Episode Depresif
Pada semua tiga variasi dari episode depresif khas yang tercantum di bawah ini,
ringan (F32.0), sedang (F32.1), dan berat (F32.2 dan F32.3), gejala utama yang
ditemukan adalah :
- Afek depresif
- Kehilangan minat dan kegembiraan
- Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah
Gejala lainnya adalah :
a) Konsentrasi dan perhatian berkurang
b) Harga diri dan kepercayaan diri berkurang
c) Gagasan tentang perasaan bersalah dan tidak berguna (bahkan pada episode
d)
e)
f)
g)

tipe ringan sekali pun)


Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis
Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri
Tidur terganggu
Nafsu makan berkurang

2. F32.0 Episode Depresif Ringan


Suasana perasaan (mood) yang depresif, kehilangan minat dan kesenangan,
dan mudah menjadi lelah biasanya dipandang sebagai gejala dari depresi yang paling
khas, dan sekurang-kurangnya dua gejala dari ini, ditambah sekurang-kurangnya dua
gejala lain (untuk F32.-) harus ada untuk menegakkan diagnosis pasti. Tidak boleh
ada

gejala

yang

berat

diantaranya.Lamanya

episode

berlangsung

ialah
10

sekurangkurangnya sekitar 2 minggu.Individu yang mengalami episode depresif


ringan biasanya resah tentang gejalanya dan agak sukar baginya untuk meneruskan
pekerjaan biasa dan kegiatan sosial, namun mungkin ia tidak akan berhenti berfungsi
sama sekali.
Karakter kelima dapat digunakan untuk menentukan adanya sindrom somatik :
F32.00 Tanpa gejala somatik
Kriteria untuk episode depresif ringan telah dipenuhi, dan tidak ada atau hanya
sedikit sekali Sekurang-kurangnya harus ada dua dari tiga gejala paling khas yang
ditentukan untuk episode depresif ringan (F32.0), ditambah sekurang-kurangnya tiga
(dan sebaiknya empat) gejala lainnya. Beberapa gejala mungkin amat menyolok,
namun tidak esensial apabila secara keseluruhan ada cukup banyak variasi
gejalanya.Lamanya keseluruhan episode berlangsung ialah sekurang-kurangnya
sekitar 2 minggu.Individu yang mengalami episode depresif taraf sedang biasanya
menghadapi kesulitan nyata untuk meneruskan kegiatan sosial, pekerjaan, dan urusan
rumah tangga.Karakter kelima dapat digunakan untuk menentukan adanya sindrom
somatik :gejala somatik
F32.01 Dengan gejala somatik
Kriteria untuk episode depresif ringan telah dipenuhi, dan empat atau lebih
gejala somatik juga ditemukan. (jika hanya dua atau tiga gejala somatik ditemukan
tetapi luar biasa beratnya, maka penggunaan kategori ini mungkin dapat dibenarkan)
3. F32.1 Episode Depresif Sedang
F32.10 Tanpa gejala somatik
Kriteria untuk episode depresif sedang telah dipenuhi, dan tidak ada atau
hanya sedikit sekali gejala somatik
F32.11 Dengan gejala somatik
Kriteria untuk episode depresif sedang telah dipenuhi, dan ada empat atau
lebih gejala somatik juga ditemukan. (jika hanya dua atau tiga gejala somatik
ditemukan tetapi luar biasa beratnya, maka penggunaan kategori ini mungkin dapat
dibenarkan)

11

4. F32.2 Episode Depresif Berat tanpa Gejala Psikotik


Pada episode depresif berat, penderita biasanya menunjukkan ketegangan atau
kegelisahan yang amat nyata, kecuali apabila retardasi mental merupakan ciri
terkemuka.Kehilangan harga diri dan perasaan dirinya tak berguna mungkin
mencolok, dan bunuh diri merupakan bahaya nyata terutama pada beberapa kasus
berat.Anggapan disini ialah bahwa sindrom somatik hampir selalu ada pada episode
depresif berat.
Semua ketiga gejala khas yang ditentukan untuk episode depresof ringan dan sedang
harus ada, ditambah sekurang-kurangnya empat gejala lainnya, dan beberapa di
antaranya harus berintensitas berat.Namun, apabila gejala penting (misalnya agitasi
atau retardasi) menyolok, maka pasien mungkin tidak mau atau tidak mampu untuk
melaporkan banyak gejalanya secara terinci.Dalam hal demikian, penentuan
menyeluruh dalam subkategori episode berat masih dapat dibenarkan.
Episode depresif biasanya seharusnya berlangsung sekurang-kurangnya 2
minggu, akan tetapi jika gejala amat berat dan beronset sangat cepat, maka mungkin
dibenarkan untuk menegakkan diagnosis dalam waktu kurang dari 2 minggu.Selama
episode depresif berat, sangat tidak mungkinpenderita akan mampu meneruskan
kegiatan sosial, pekerjaan atau urusan rumah tangga, kecuali pada taraf yang sangat
terbatas.Kategori ini hendaknya digunakan untuk episode depresif berat tunggal tanpa
gejala psikotik, untuk episode selanjutnya harus digunakan subkategori dari gangguan
depresif berulang.
5. F32.3 Episode Depresif Berat dengan Gejala Psikotik
Episode depresif berat yang memenuhi kriteria menurut F32.2 tersebut diatas,
disertai waham, halusinasi atau stupor depresif.Wahamnya biasanya melibatkan ide
tentang dosa, kemiskinan atau malapetaka yang mengancam, dan pasien dapat merasa
bertanggung jawab atas hal itu.Halusinasi auditorik atau olfaktorik biasanya berupa
suara yang menghina atau bau kotoran atau daging membusuk.Retardasi psikomotor
yang berat dapat menuju pada stupor.Jika diperlukan, waham atau halusinasi dapat
ditentukan sebagai serasi atau tidak serasi dengan suasana perasaan (mood).

12

B. Pemeriksaan Fisik
1. Penampilan
Orang yang menunjukkan suatu periode depresi mungkin menunjukkan sedikit
sampai tidak ada kontak mata. Pakaian mereka mungkin tidak terawat, kotor,
berlubang, kumal, serta tidak cocok dengan ukuran badan. Bila seseorang
kehilangan berat badan secara signifikan, ukuran pakaiannya tidak akan cocok.
Kebersihan diri tercermin dari mood mereka yang rendah, yang ditunjukkan
dengan badan yang kurus, tidak bercukur, dan tidak membersihkan diri. Pada
wanita, kuku jari tangannya mungkin terdapat lapisan warna yang berbeda atau
sebagian warna yang rusak pada kuku mereka, bahkan cenderung kotor juga pada
tangannya. Rambut mereka juga tidak terurus. Bila orang ini bergerak, afek
depresi jelas terlihat. Mereka bergerak dengan lambat dan sangat sedikit yang
menunjukkan retardasi psikomotor. Mereka juga berbicara dengan suara yang
pelan atau suara yang monoton.
2. Afek/Suasana Perasaan
Afek depresi.Kesedihan mendominasi suasana hati seseorang dalam episode
depresi. Penderita merasa sedih, tertekan, kehilangan, kosong dan terisolasi.
3. Pikiran
Penderita mempunyai pemikiran yang mencerminkan kesedihan mereka.
Gagasan yang negatif, perhatian nihilistik, dan mereka mempunyai suatu istilah
bahwa mereka bagaikan gelas yang separuh kosong. Pemikiran mereka lebih
berfokus tentang kematian dan tentang bunuh diri.
4. Persepsi
Terdapat 2 format dari tipe depresi yang dijelaskan. Dengan psikotik dan tanpa
psikotik. Dengan psikotik, penderita mempunyai khayalan dan halusinasi yang
sesuai atau tidak dengan suasana hati. Penderita merasa telah berdosa, bersalah,
dan merasakan penyesalan yang sangat dalam.
5. Bunuh Diri
Angka kejadian bunuh diri banyak terjadi pada penderita depresi. Mereka
adalah individu yang mencoba dan berhasil dalam usaha bunuh diri.

13

6. Pembunuhan/Kekerasan
Pembunuhan yang dilakukan oleh penderita biasanya diikuti dengan bunuh
diri. Pada beberapa penderita depresi biasanya merasa dunia sudah tidak berguna
lagi untuknya dan untuk orang terdekatnya/orang lain.
7. Tilikan/Insight
Depresi dapat mempengaruhi penilaian seseorang mengenai dirinya sendiri.
Penderita biasanya gagal dalam melakukan tindakan yang penting sebab mereka
sangat jatuh dan menurun dalam mengenali diri mereka sendiri. Meraka memiliki
sedikit pengertian terhadap diri mereka sendiri.
8. Kognitif
Pada depresi dan manik yang berat, penderita dapat mengalami kesulitan
dalam berkonsentrasi dan memusatkan perhatiannya.

V. PENATALAKSANAAN

A. Penentuan Kegawatdaruratan
Pengobatan dari gangguan bipolar secara langsung terkait pada fase dari episodenya,
seperti depresi atau manik, dan derajat keparahan fase tersebut.Contoh, seseorang dengan
depresi yang ekstrim dan menunjukkan perilaku bunuh diri memerlukan/mengindikasikan
pengobatan rawat inap.Sebaliknya, seseorang dengan depresi moderat yang masih dapat
bekerja, diobati sebagai pasien rawat jalan.
1. Rawat Inap
a. Berbahaya untuk diri sendiri
Pasien yang terutama dengan episode depresif, dapat terlihat dengan resiko
yang signifikan untuk bunuh diri.Percobaan bunuh diri yang serius dan idea
spesifik dengan rencana menghilangkan bukti, memerlukan observasi yang ketat
dan perlindungan pencegahan. Namun, bahaya bagi penderita bisa datang dari
aspek lain dari penyakit, contohnya seorang penderita depresi yang tidak cukup
makan beresiko kematian.

14

b. Berbahaya bagi orang lain


Penderita gangguan bipolar dapat mengancam nyawa orang lain, contohnya
seorang penderita yang mengalami depresi yang berat meyakini bahwa dunia itu
sangat suram/gelap, sehingga ia berencana untuk membunuh anaknya untuk
membebaskan mereka dari kesengsaraan dunia.
c. Hendaya Berat
Adakalanya depresi yang dialami terlalu dalam, sehingga orang tidak dapat
melakukan fungsinya sama sekali, meninggalkan orang seperti ini sendirian sangat
berbahaya dan tidak menyembuhkannya.
d. Kondisi medis yang harus dimonitor
Contohnya penderita gangguan jiwa yang disertai gangguan jantung harus
berada di lingkungan medis, dimana obat psikotropik dapat dimonitor dan
diobservasi.
2. Rawat inap parsial atau program perawatan sehari
Secara umum, penderita ini memiliki gejala yang berat namun memiliki
tingkat pengendalian dan lingkungan hidup yang stabil.Contohnya, penderita dengan
depresi berat yang berpikir akan bunuh diri tapi tidak berencana untuk melakukannya
dan dapat memiliki tingkat motivasi yang tinggi bila diberi banyak dukungan
interpersonal, terutama sepanjang hari dan dengan bantuan dan keterlibatan dari
keluarga. Keluarga harus selalu berada di rumah setiap malam dan harus peduli
terhadap penderita.Rawat inap parsial juga menjembatani untuk bisa segera kembali
bekerja.Kembali secara langsung ke pekerjaan seringkali sulit bagi penderita dengan
gejala yang berat, dan rawat inap parsial memberi dukungan dan hubungan
interpersonal.

3. Rawat jalan
Pengobatan rawat jalan memiliki 4 tujuan utama :

15

a) Mencari stressornya dan mencari cara untuk menanganinya. Stressor ini dapat
berasal dari keluarga atau pekerjaan, dan bila terkumpul dapat mendorong
penderita menjadi depresi. Hal ini merupakan bagian dari psikoterapi.
b) Memonitor dan mendukung pemberian obat. Pengobatan membuat perubahan
yang luar biasa. Kuncinya adalah mendapatkan keuntungan dan mencegah
efek samping. Penderita memiliki rasa yang bertentangan dengan pengobatan
mereka. Mereka mengetahui bahwa obat membantu dan mencegah mereka
untuk dirawat inap, namun mereka juga menyangkal memerlukannya. Oleh
karena itu, harus dibantu untuk mengarahkan perasaan mereka dan membantu
mereka untuk mau melanjutkan pengobatan.
c) Membangun sekumpulan orang yang peduli. Hal ini merupakan satu dari
banyak alasan bagi para praktisi setuju dengan ambivalensi penderita tentang
pengobatan. Seiring perjalanan waktu, kekuatan sekumpulan orang yang
peduli membantu mempertahankan gejala penderita dalam keadaan minimum
dan membantu penderita tinggal dan diterima di masyarakat.
d) Edukasi. Klinisi harus membantu edukasi bagi penderita dan keluarga tentang
penyakit bipolar. Mereka harus sadar dan waspada terhadap bahaya
penyalahgunaan zat, situasi yang mungkin memicu kekambuhan, dan peran
pengobatan yang penting. Dukungan kelompok bagi penderita dan keluarga
memiliki arti penting yang sangat luar biasa.
Keadaan kesehatan tubuh penderita gangguan bipolar juga harus diperhatikan
oleh para praktisi, termasuk keadaan kardiovaskular, diabetes, masalah endokrin,
infeksi, komplikasi sistem urinari, dan gangguan keseimbangan elektrolit.

16

VI.

TERAPI
A. Terapi Farmakologi
Pengobatan yang tepat tergantung pada stadium gangguan bipolar yang
dialami penderita. Pilihan obat tergantung pada gejala yang tampak, seperti gejala
psikotik, agitasi, agresi, dan gangguan tidur. Antipsikosis atipikal semakin sering
digunakan untuk episode manik akut dan sebagai mood stabilizer.Antidepresan
dan ECT juga dapat digunakan untuk episode depresi akut (contoh, depresi berat).
Selanjutnya, terapi pemeliharaan/maintenance dan pencegahan juga harus
diberikan.
Pengalaman klinis menunjukkan bahwa jika diterapi dengan obat mood
stabilizer, penderita gangguan bipolar akan mengalami lebih sedikit periode
manik dan depresi. Obat ini bekerja dengan caramenstabilkan mood penderita
(sesuai namanya), juga dapat menstabilakn manik dan depresi yang ekstrim.
Antipsikosis atipikalseperti ziprasidone, quetiapine, risperidone, aripiprazole dan
olanzapine, kini juga sering digunakan untuk menstabilkan manik akut, bahkan
untuk menstabilkan mood pada depresi bipolar.

Table 1 FDA-Approved Bipolar Treatment Regimens9


Nama Generik

Nama

Valproate
Carbamazepine extended

Dagang
Depakote
Equestro

release
Lamotrigine
Lithium
Aripiprazole

Manik

Mixe

Depresi

d
X
X

Lamictal
Abilify

Maintenance

X
X

X
X
X
17

Ziprasidone
Risperidone
Quetiapine
Chlorpromazine
Olanzapine
Olanzapine/fluoxetine

Geodon
Risperdal
Seroquel
Thorazine
Zyprexa
Symbyax

X
X
X
X
X

X
X
X
X

X
X

Combination

18

Lithium
Lithium (lithobid) adalah merupakan obat yang efektif dalam menstabilkan mood
dan mencegah pasien berada di episode mania dan episode depresi , dan ia juga
digunakan sejak sekian lama. Lithium digunakan pada pengobatan bipolar pada
kebiasaannya. Pada umumnya ia merupakan pengobatan lini pertama untuk
pengobatan bipolar. Lithium (escalith atau lithobid) merupakan mood stabilizer
yang pertama yang diluluskan oleh FDA di tahun 1970 untuk pengobatan episode
mania. Penggunaan litium ini begitu efektif dalam mengawal symptom episode
manik dan mencegah terjadinya rekuren episode manik dan episode depresi.
Penggunaan lithium haruslah disertai dengan pemeriksaan darah rutin karena
pengunaan litihium pada jangka panjang bisa menyebabkan kegagalan ginjal dan
masalah tiroid.
Farmakologi
Sejumlah kecil lithium terikat dengan protein. Lithium diekskresikan dalam
bentuk utuh hanya melalui ginjal.
Indikasi
Episode mania akut, depresi, mencegah bunuh diri, dan bermanfaat sebagai terapi
rumatan GB.
Dosis
Respons lithium terhadap mania akut dapat dimaksimalkan dengan mentitrasi
dosis hingga mencapai dosis terapeutik yang berkisar antara 1,0-1,4 mEq/L.
Perbaikan terjadi dalam 7-14 hari. Dosis awal yaitu 20 mg/kg/hari. Dosis untuk
mengatasi keadaan akut lebih tinggi bila dibandingkan dengan terapi rumatan.
Untuk terapi rumatan, dosis berkisar antara 0,4-0,8 mEq/L. Dosis kecil dari 0,4
mEq/L, tidak efektif sebagai terapi rumatan. Sebaliknya, gejala toksisitas litium
dapat terjadi bila dosis 1,5 mEq/L.

19

Efek samping
Efek samping yang dilaporkan adalah mual, muntah, tremor, somnolen,
penambahan berat badan, dan penumpulan kognitif. Neurotoksisitas, delirium, dan
ensefalopati dapat pula terjadi akibat lithium. Neurotoksisitas bersifat irreversible.
Akibat intoksikasi litium, defisit neurologi permanen dapat terjadi misalnya,
ataksia, deficit memori, dan gangguan pergerakan. Untuk mengatasi intoksikasi
litium, hemodialisis harus segera dilakukan. Litium dapat merusak tubulus ginjal.
Faktor resiko kerusakan ginjal adalah intoksikasi litium, polifarmasi dan adanya
penyakit fisik yang lainnya. Pasien yang mengkonsumsi litium dapat mengalami
poliuri. Oleh karena itu, pasien dianjurkan untuk banyak meminum air.
Pemeriksaan laboratorium
Sebelum memberikan litium, fungsi ginjal (ureum dan kreatinin) dan fungsi tiroid,
harus diperiksa terlebih dahulu. Untuk pasien yang berumur di atas 40 tahun,
pemeriksaan EKG harus dilakukan. Fungsi ginjal harus diperiksa setiap 2-3 bulan
dan fungsi tiroid dalam enam bulan pertama. Setelah enam bulan, fungsi ginjal
dan tiroid diperiksa sekali dalam 6-12 bulan atau bila ada indikasi.
Wanita hamil
Penggunaan litium pada wanita hamil dapat menimbulkan malformasi janin.
Kejadiannya meningkat bila janin terpapar pada kehamilan yang lebih dini.
Wanita dengan GB yang derajatnya berat, yang mendapat rumatan litium, dapat
melanjutkan litium selama kehamilan bila ada indikasi klinis. Kadar litium
darahnya harus dipantau dengan seksama. Pemeriksaan USG untuk memantau
janin, harus dilakukan. Selama kehamilannya, wanita tersebut harus disupervisi
oleh ahli kebidanan dan psikiater. Sebelum kehamilan terjadi, risiko litium
terhadap janin dan efek putus litium terhadap ibu harus didiskusikan

20

Valproat
Valproat merupakan obat antiepilepsi yang disetujui oleh FDA sebagai antimania.
Asam valproat atau divaproex (depatoke) diluluskan oleh FDA pada tahun 1995
dignakan untuk mengobati mania, ia merupakan pengobatan yang popular karena
bisa mengantikan litium untuk pengobatan bipolar karena ia juga berfungsi
sebagai mood stabilizer. Dari segi efektifitas asam valproat juga sama efektif
dengan menggunaan lithiumValproat tersedia dalam bentuk :
1. Preparat oral;
a. Sodium divalproat, tablet salut, proporsi antara asam valproat dan sodium
valproat adalah sama (1:1)
b. Asam valproat
c. Sodium valproat
d. Sodium divalproat, kapsul yang mengandung partikel-partikel salut yang dapat
dimakan secara utuh atau dibuka dan ditaburkan ke dalam makanan.
e. Divalproat dalam bentuk lepas lambat, dosis sekali sehari
2. Preparat intravena
3. Preparat sipusitoria
Farmakologi
Terikat dengan protein. Diserap dengan cepat setelah pemberian oral. Konsentrasi
puncak plasma valproat sodium dan asam valproat dicapai dalam dua jam
sedangkan sodium divalproat dalam 3-8 jam. Awitan absorbsi divalproat lepas
lambat lebih cepat bila dibandingkan dengan tablet biasa. Absorbsi menjadi
lambat bila obat diminum bersamaan dengan makanan. Ikatan valproat dengan
protein meningkat bila diet mengandung rendah lemak dan menurun bila diet
mengandung tinggi lemak.

21

Dosis
Dosis terapeutik untuk mania dicapai bila konsentrasi valproat dalam serum
berkisar antara 45 -125 mg/mL. Untuk GB II dan siklotimia diperlukan divalproat
dengan konsentrasi plasma < 50 mg/mL. Dosis awal untuk mania dimulai dengan
15-20 mg/kg/hari atau 250 500 mg/hari dan dinaikkan setiap 3 hari hingga
mencapai konsentrasi serum 45- 125 mg/mL. Efek samping, misalnya sedasi,
peningkatan nafsu makan, dan penurunan leukosit serta trombosit dapat terjadi
bila konsentrasi serum > 100 mg/mL. Untuk terapi rumatan, konsentrasi valproat
dalam plasma yang dianjurkan adalah antara 75-100 mg/mL.
Indikasi
Valproat efektif untuk mania akut, campuran akut, depresi mayor akut, terapi
rumatan GB, mania sekunder, GB yang tidak berespons dengan litium, siklus
cepat, GB pada anak dan remaja, serta GB pada lanjut usia.
Efek Samping
Valproat ditoleransi dengan baik. Efek samping yang dapat terjadi, misalnya
anoreksia, mual, muntah, diare, dispepsia, peningkatan (derajat ringan) enzim
transaminase, sedasi, dan tremor. Efek samping ini sering terjadi pada awal
pengobatan dan bekurang dengan penurunan dosis atau dengan berjalannya waktu.
Efek samping gastrointestinal lebih sering terjadi pada penggunaan asam valproat
dan valproat sodium bila dibandingkan dengan tablet salut sodium divalproat.

Lamotrigin
Lamotrigin efektif untuk mengatasi episode bipolar depresi. Ia menghambat kanal
Na+. Selain itu, ia juga menghambat pelepasan glutamat.
Farmakokinetik
Lamotrigin oral diabsorbsi dengan cepat. Ia dengan cepat melewati sawar otak dan
mencapai konsentrasi puncak dalam 2-3 jam. Sebanyak 10% lamotrigin
dieksresikan dalam bentuk utuh.

22

Indikasi
Efektif untuk mengobati episode depresi, GB I dan GB II, baik akut maupun
rumatan. Lamotrigin juga efektif untuk GB, siklus cepat.
Dosis
Berkisar antara 50-200 mg/hari.
Efek Samping
Sakit kepala, mual, muntah, pusing, mengantuk, tremor, dan berbagai bentuk
kemerahan di kulit.

Antipsikotika Atipik
Antipsikotika atipik, baik monoterapi maupun kombinasi terapi, efektif sebagai
terapi lini pertama untuk GB. Beberapa antipsikotika atipik tersebut adalah
olanzapin, risperidon, quetiapin, dan aripiprazol.

Risperidon

Risperidon adalah derivat benzisoksazol. Ia merupakan antipsikotika atipik


pertama yang mendapat persetujuan FDA setelah klozapin.
Absorbsi
Risperidon diabsorbsi dengan cepat setelah pemberian oral. Ia dimetabolisme oleh
enzim hepar yaitu CYP 2D6.
Dosis
Untuk preparat oral, risperidon tersedia dalam dua bentuk sediaan yaitu tablet dan
cairan. Dosis awal yang dianjurkan adalah 2 mg/hari dan besoknya dapat
dinaikkan hingga mencapai dosis 4 mg/hari. Sebagian besar pasien membutuhkan
4-6 mg/hari. Risperidon injeksi jangka panjang (RIJP) dapat pula digunakan untuk
terapi rumatan GB. Dosis yang dianjurkan untuk orang dewasa atau orang tua
adalah 25 mg setiap dua minggu. Bila tidak berespons dengan 25 mg, dosis dapat
dinaikkan menjadi 37,5 mg - 50 mg per dua minggu.
23

Indikasi
Risperidon bermanfaat pada mania akut dan efektif pula untuk terapi rumatan.
Efek Samping
Sedasi, fatig, pusing ortostatik, palpitasi, peningkatan berat badan, berkurangnya
gairah seksual, disfungsi ereksi lebih sering terjadi pada risperidon bila
dibandingkan dengan pada plasebo. Meskipun risperidon tidak terikat secara
bermakna dengan reseptor kolinergik muskarinik, mulut kering, mata kabur, dan
retensi urin, dapat terlihat pada beberapa pasien dan sifatnya hanya sementara.
Peningkatan berat badan dan prolaktin dapat pula terjadi pada pemberian
risperidon.

Olanzapin

Olanzapin merupakan derivat tienobenzodiazepin yang memiliki afinitas terhadap


dopamin (DA), D2, D3, D4, dan D5, serotonin 2 (5-HT2); muskarinik, histamin
1(H1), dan a1- adrenergik.
Indikasi
Olanzapin mendapat persetujuan dari FDA untuk bipolar episode akut mania dan
campuran. Selain itu, olanzapin juga efektif untuk terapi rumatan GB.
Dosis
Kisaran dosis olanzapin adalah antara 5-30 mg/hari.
Efek Samping
Sedasi dapat terjadi pada awal pengobatan tetapi berkurang setelah beberapa lama.
Efek antikolinergik dapat pula terjadi tetapi kejadiannya sangat rendah dan tidak
menyebabkan penghentian pengobatan. Risiko terjadinya diabetes tipe-2 relatif
tinggi bila dibandingkan dengan antipsikotika atipik lainnya. Keadaan ini dapat
diatasi dengan melakukan psikoedukasi, misalnya merubah gaya hidup, diet dan
latihan fisik.

24

Quetiapin
Berfungsi untuk mengurangkan simptom episode manik yang sudah berat dan
episode manik yang datang dengan tiba-tiba. Quetiapin merupakan suatu derivat
dibenzotiazepin yang bekerja sebagai antagonis 5-HT1A dan 5 -HT2A, dopamin
D1, D2, histamin H1 serta reseptor adrenergik a1 dan a2. Afinitasnya rendah
terhadap reseptor D2 dan relatif lebih tinggi terhadap serotonin 5-HT2A.
Dosis
Kisaran dosis pada gangguan bipolar dewasa yaitu 200-800 mg/hari. Tersedia
dalam bentuk tablet IR (immediate release) dengan dosis 25 mg, 100 mg, 200 mg,
dan 300 mg, dengan pemberian dua kali per hari. Selain itu, juga tersedia
quetiapin-XR dengan dosis 300 mg, satu kali per hari.
Indikasi
Quetiapin efektif untuk GB I dan II, episdoe manik, depresi, campuran, siklus
cepat, baik dalam keadaan akut maupun rumatan.
Efek Samping
Quetiapin secara umum ditoleransi dengan baik. Sedasi merupakan efek samping
yan sering dilaporkan. Efek samping ini berkurang dengan berjalannya waktu.
Perubahan dalam berat badan dengan quetiapin adalah sedang dan tidak
menyebabkan penghentian pengobatan. Peningkatan berat badan lebih kecil bila
dibandingkan dengan antipsikotika tipik.

Aripiprazol
Seperti olanzapine, aripiprazol juga dipakai untuk pengobatan antipiskotik dengan
episode campuran dan episode manik. Aripiprazole juga digunakan untuk
pengobatan rumatan penyakit bipolar, dan mempunyai sediaan injeksi yang
digunakan sebagai usaha dalam penatalaksanaan pada saat darurat. Ia juga
digunakan pada episode manik yang datang dengan tiba-tiba dan juga pada
keadaan manik yang berat. Aripiprazol adalah stabilisator sistem dopaminserotonin.
25

Farmakologi
Aripiprazol merupakan agonis parsial kuat pada D2, D3, dan 5-HT1A serta
antagonis 5- HT2A. Ia juga mempunyai afinitas yang tinggi pada reseptor D3,
afinitas sedang pada D4, 5-HT2c, 5-HT7, a1-adrenergik, histaminergik (H1), dan
serotonin reuptake site (SERT), dan tidak terikat dengan reseptor muskarinik
kolinergik.
Dosis
Aripiprazol tersedia dalam bentuk tablet 5,10,15,20, dan 30 mg. Kisaran dosis
efektifnya per hari yaitu antara 10-30 mg. Dosis awal yang direkomendasikan
yaitu antara 10 - 15 mg dan diberikan sekali sehari. Apabila ada rasa mual,
insomnia, dan akatisia, dianjurkan untuk menurunkan dosis. Beberapa klinikus
mengatakan bahwa dosis awal 5 mg dapat meningkatkan tolerabilitas.
Indikasi
Aripiprazol efektif pada GB, episode mania dan episode campuran akut. Ia juga
efektif untuk terapi rumatan GB. Aripiprazol juga efektif sebagai terapi tambahan
pada GB I, episode depresi.
Efek Samping
Sakit kepala, mengantuk, agitasi, dispepsia, anksietas, dan mual merupakan
kejadian yang tidak diinginkan yang dilaporkan secara spontan oleh kelompok
yang mendapat aripiprazol. Efek samping ekstrapiramidalnya tidak berbeda secara
bermakna dengan plasebo. Akatisia dapat terjadi dan kadang-kadang dapat sangat
mengganggu pasien sehingga sering mengakibatkan penghentian pengobatan.
Insomnia dapat pula ditemui. Tidak ada peningkatan berat badan dan diabetes
melitus pada penggunaan aripiprazol. Selain itu, peningkatan kadar prolaktin juga
tidak dijumpai. Aripiprazol tidak menyebabkan perubahan interval QTc.

26

Antidepresan
Antidepresan efektif untuk mengobati GB, episode depresi. Penggunaannya harus
dalam jangka pendek. Penggunaan jangka panjang berpotensi meginduksi
hipomania atau mania. Untuk menghindari terjadinya hipomania dan mania,
antidepresan hendaklah dikombinasi dengan stabilisator mood atau dengan
antipsikotika atipik. Tergantung pada simptom dokter yang merawat mungkin
akan merekomendasikan pasien untuk mengunakan anti depresan. Pada beberapa
pasien yang menderita gangguan bipolar, obat anti depresan juga bisa
menyebabkan tercetusnya episode manik. Dengan itu dokter yang merawat akan
merekomendasikan juga pengobatan dengan kombinasi mood stabilizer dan hal ini
tidak menjadi satu masalah. Efek samping anti depresan yang sering adalah
penurunan kegairahan sex dan masalah untuk mencapai orgasme. Anti depresan
generasi

terdahulu yang terdiri dari trisiklik dan inhibitor MAO juga bisa

menyebabkan efek samping yang berbahaya dan membutuhkan monitoring


pengobatan yang rutin. Fluoxetine (Prozac), paroxetine (paxil), sertraline (Zoloft)
dan bupropion (wellbutrin) adalah contoh anti depresan yang digunakan untuk
pengobatan kelainan bipolar.
Symbyax
Pengobatan symbyax ini terdiri dari dari kombinasi antidepresan fluoxetine dan
atipsikotik olanzepin. Ia berfungsi sebagai penggobatan depresi dan penstabil
mood/mood stabilizer. Symbyax juga teah diluluskan oleh FDA terutama pada
pengobatan bipolar. Efek samping symbyax termasuk peningkatan berat badan,
pusing dan peningkatan nafsu makan Obat ini juga dapat menyebabkan masalah
seksual mirip dengan yang disebabkan oleh antidepresan.

27

Benzodiazepin
Benzodiazepin merupakan suatu obat anti anxietas, dimana ia berfungsi untuk
mengurangkan anxietas dan memperbaiki kualitas tidur. Contoh obat golongan
benzodiazepin termasuk clonezepam (klonopin), lorazepam (ativan), diazepam
(valium), chlordiazepoxide (Librium) dan alprozolam (niravam, xanax).
Benzodiazepin pada umumnya digunakan untuk mengurangkan anxietas hanya
pada jangka waktu yang pendek. Efek samping benzodiazepine antaranya pusing,
penurunan koodinasi otot, masalah keseimbangan dan memori

Penatalaksanaan Kedaruratan Agitasi Akut Pada Gangguan Bipolar


Lini 1
Terapi:
-

Injeksi IM aripiprazol efektif untuk pengobatan agitasi pada pasien dengan

episode mania atau campuran akut. Dosis adalah 9,75 mg/injeksi. Dosis
maksimum adalah 29,25 mg/hari (tiga kali injeksi perhari dengan interval dua
jam). Berespon dalam 45-60 menit.3,12
-

Injeksi IM olanzapin efektif untuk agitasi pada pasien dengan episode mania

atau campuran akut. Dosis 10 mg/injeksi. Dosis maksimum adalah 30 mg/hari.


Berespon dalam 15-30 menit. Interval pengulangan injeksi adalah dua jam.
Sebanyak 90% pasien menerima hanya satu kali injeksi dalam 24 jam pertama.
Injeksi lorazepam 2 mg/injeksi. Dosis maksimum Lorazepam 4 mg/hari. Dapat
diberikan bersamaan dengan injeksi IM Aripiprazol atau Olanzapin. Jangan
dicampur dalam satu jarum suntik karena mengganggu stabilitas antipsikotika.
Lini 2
Terapi:
-

Injeksi IM Haloperidol yaitu 5 mg/kali injeksi. Dapat diulang setelah 30

menit. Dosis maksimum adalah 15 mg/hari.


28

Injeksi IM Diazepam yaitu 10 mg/kali injeksi. Dapat diberikan bersamaan

dengan injeksi haloperidol IM. Jangan dicampur dalam satu jarum suntik.

Penatalaksanaan Terapi Farmakologi Pada Mania Akut


Lini 1
Terapi:
-

Litium,

diivalproat,

olanzapin,

risperidon,

quetiapin,

quetiapin

XR,

aripiprazol, litium atau divalproat + risperidon, litium atau divalproat + quetiapin,


litium atau divalproat + olanzapin, litium atau divalproat + aripiprazol.3,12
Lini 2
Terapi:
-

Karbamazepin,

Terapi

Kejang

Listrik

(TKL),

litium

divalproat,

paripalidon
Lini 3
Terapi:
-

Haloperidol, klorpromazin, litium atau divalproat haloperidol, litium

+karbamazepin, klozapin

29

Tabel 2. Algoritma Terapi Mania Akut pada Gangguan Bipolar

30

Penatalaksanaan Episode Depresi Akut pada Gangguan Bipolar


Lini 1
Terapi:
-

Litium, lamotrigin, quetiapin, quetiapin XR, litium atau divalproat + SSRI,

Olanzapin + SSRI, litium + divalproat.3,12


Lini 2
Terapi:
-

Quetiapin + SSRI, divalproat, litium atau divalproat + lamotrigin

Lini 3
Terapi:
-

Karbamazepin, olanzapin, litium + karbamazepin, litium atau divalproat +

venlafaksin, litium + MAOI, TKL, Litium atau divalproat atau AA + TCA, litium
atau divalproat atau karbamazepin + SSRI + Lamotrigin, penambahan
topiramat.3,12
Obat-obat yang tida direkomendasikan :
-

Gabapentin monoterapi, aripiprazol mono terapi

31

32

Tabel 3. Algoritma terapi Episode Depresi pada Gangguan Bipolar.


Rekomendasi terapi rumatan pada gangguan bipolar
Lini 1
Terapi:
-

Litium, lamotrigin monoterapi, divalproat, olanzapin, quetiapin, litium atau


divalproat + quetiapin, risperidon injeksi jangka panjang (RIJP), penambahan
RIJP, aripiprazol

Lini 2
Terapi:
-

Karbamazepin, litium +divalproat, litium + karbamazepine, litium +


divalproat + olanzapin, litium + risperidon, litium + lamotrigin, olanzapin +
fluoksetin

Lini 3
Terapi:
-

Penambahan fenitoin, penambahan olanzapin, penambahan ECT, penambahan


topiramat, penambahan asam lemak omega-3, penambahan okskarbazepin

Obat-obatan yang tidak direkomendasikan:


-

Gabapentin, topiramat atau antidepresan monoterapi.

Penatalaksanaan Depresi akut pada Gangguan Bipolar II


Lini 1
Terapi:
-

Quetiapin

Lini 2
33

Terapi:
-

Litium, lamotrigin, divalproat, litium atau divalproat + antidepresan, litium +


divalproat, antipsikotika atipik + antidepresan.

Lini 3
Terapi:
-

Antidepresan mono terapi (terutama untuk pasien yang jarang mengalami


hipomania).

Rekomendasi Terapi Rumatan pada Gangguan Bipolar II


Lini 1
Terapi:
-

Litium, lamotrigin

Divalproat, litium atau divalproat atau antipsikotika atipik + antidepresan,

Lini 2
Terapi:
kombinasi dua dari: litium, lamotrigin, divalproat, atau antipsikotika
atipik.3,12
Lini 3
Terapi:
-

Karbamazepin, antipsikotika atipik, ECT

Obat-obatan yamg tidak dianjurkan:


-

Gabapentin.

B. Terapi Non Farmakologi


1. Konsultasi
Suatu konsultasi dengan seorang psikiater atau psikofarmakologis selalu
sesuai bila penderita tidak menunjukkan respon terhadap terapi konvensional
dan medikasi.
2. Diet
Terkecuali pada penderita dengan monoamine oxidase inhibitors
(MAOIs), tidak ada diet khusus yang dianjurkan. Penderita dianjurkan untuk
34

tidak merubah asupan garam, karena peningkatan asupan garam membuat


kadar litium serum menurun dan menurunkan efikasinya, sedangkan
mengurangi asupan garam dapat meningkatkan kadar litium serum dan
menyebabkan toksisitas.
3. Aktivitas
Penderita dengan fase depresi harus didukung untuk melakukan
olahraga/aktivitas fisik. Jadwal aktivitas fisik yang reguler harus dibuat. Baik
aktivitas fisik dan jadwal yang reguler meupakan kunci untuk bertahan dari
penyakit ini. Namun, bila aktivitas fisik ini berlebihan dengan peningkatan
respirasi dapat meningkatkan kadar litium serum dan menyebabkan toksisitas
litium.
4. Edukasi
Terapi pada penderita gangguan bipolar melibatkan edukasi awal dan
lanjutan. Tujuan edukasi harus diarahkan tidak hanya langsung pada penderita,
namun juga melalui keluarga dan sistem disekitarnya. Fakta menunjukkan
edukasitidak hanya meningkatkan ketahanan dan pengetahuan mereka tentang
penyakit, namun juga kualitas hidupnya.
o Penjelasan biologis tentang penyakit harus jelas dan benar. Hal ini mengurangi
perasaan bersalah dan mempromosikan pengobatan yang adekuat.
o Memberi informasi tentang bagaimana cara memonitor penyakit terutama
tanda awal, pemunculan kembali, dan gejala. Pengenalan terhadap adanya
perubahan memudahkan langkah-langkah pencegahan yang baik.
o Membantu penderita mengidentifikasi dan mengatasi stressor di dalam
kehidupannya.
o Informasi tentang kemungkinan kekambuhan penyakitnya.
VII.

PROGNOSIS
Prognosis pada penderita dengan gangguan bipolar I lebih buruk daripada
penderita dengan depresi berat. Dalam 2 tahun pertama setelah episode awal, 40
50 % penderita mengalami serangan manik lain.8
Hanya 50 60 % penderita gangguan bipolar I dapat dikontrol dengan
litium terhadap gejalanya. Pada 7 % penderita, gejala tidak kembali/mengalami

35

penyembuhan, 45 % penderita mengalami episode berulang, dan 40 % mengalami


gangguan yang menetap.
Seringkali perputaran episode depresif dan manik berhubungan dengan
usia.Faktor-faktor yang membuat prognosis menjadi lebih buruk antara lain :
i.
ii.
iii.
iv.
v.
vi.

Riwayat pekerjaan yang buruk


Penggunaan alkohol
Gambaran psikotik
Gambaran depresif diantara episode manik dan depresi
Adanya bukti keadaan depresif
Jenis kelamin laki-laki

Indikator prognosis yang baik adalah sebagai berikut :


i.
ii.
iii.
iv.
v.

Fase manik (dalam durasi pendek)


Onset terjadi pada usia yang lanjut
Pemikiran untuk bunuh diri yang sedikit
Gambaran psikotik yang sedikit
Masalah kesehatan (organik) yang sedikit

DAFTAR PUSTAKA

Gangguan kejiwaan dan macamnya [Internet]. 2007 [diunduh diunduh 6 Januari 2015]. Diunduh
dari: http://ikhwah.informe.com/gangguan-kejiwaan-dan-macamnya-dt262.html
Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. Sinopsis psikiatri [Widjaja K, alih bahasa]. edisi 7 jilid 1.
Jakarta: Binarupa Aksara; 1997. Bab 15, Gangguan Mood; hlm.777-833.
Membangun kesadaran - mengurangi resiko gangguan mental dan bunuh diri [Internet]. 9 Maret
2007

[diunduh

diunduh

Januari

2015].

Diunduh

dari:

http://www.rsjlawang.com/artikel_070309a.html
NIMH. Bipolar disorder [Internet]. 2010 [diunduh 6 Januari 2015]. Diunduh dari:
http://www.nimh.nih.gov/health/publications/bipolar-disorder/complete-index.shtml

36

Roxanne DE. Bipolar disorder (mania) [Internet]. 2011 [diunduh diunduh 6 Januari 2015].
Diunduh dari: http://www.medicinenet.com/bipolar_disorder/article.htm
Rusdi M. Diagnosis gangguan jiwa, rujukan ringkas PPDGJ-III. Jakarta: Bagian Ilmu
Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya; 2001.
Soreff S. Bipolar affective disorder treatment & management [Internet]. 2011. [diperbarui 11 Jan
2011;

diunduh

diunduh

Januari

2015.

Diunduh

dari;

http://emedicine.medscape.com/article/286342-treatment

37