Anda di halaman 1dari 18

KONSEP DASAR ALERGI

Kristamuliana

DEFENISI
Kelainan hipersentivitas (alegi) merupakan
keadaan dimana tubuh menghasilkan respon
yang tidak tepat atau yang berlebihan terhadap
antigen spesifik.
reaksi berlebihan, tidak diinginkan karena
terlalu senisitifnya respon imun (merusak,
menghasilkan ketidaknyamanan, dan terkadang
berakibat fatal) yang dihasilkan oleh
sistem kekebalannormal.

FISIOLOGI REAKSI ALERGI

Kadar Ig E meninggi pada gangguan alergik dan


sebagian infeksi parasit. Sel-sel yang
memproduksi ig E terletak dalam mukosa
respiratorius dan intestinal. dua atau lebih
molekul ig E akan meningkatkan dirinya dengan
alergen memicu sel-sel mast atau basofil untuk
melepaskan histamin, serotinin, kinin, dan
faktor neutrofil.

HIPERSENTIFITAS CEPAT DAPAT


DIBAGI 2 KELOMPOK :
Antigen protein lengkap
Substansi dengan berat molekul rendah seperi
obat-obatan.

MEDIATOR KIMIA

Ketika terjadi stimulasi sel mastoleh antigen ,


suatu mediator kimia yang kuat akan di
lepaskan dan mediator ini menimbulkan
rangkaian kejadian fisiologik yang
mangakibatkan berbagai gejala hipersentivitas
yang cepat.
Ada 2 tipe mediator kimia :
1. Mediator primer
2. Mediator skunder

MEDIATOR PRIMER
Histamin : kontraksi otot polos bronkus,dilatsi
venula kecil dan kontraksi pembuluh darah yang
besar serta peningkatan sekeresi lambung
Faktor pengaktif trombosit : kontaksi otot polos
bronkus dan memicu trombosit agar terjadi
agregasi.
Prostaglandin : bronkokontriksi dan peningkatan
permeabelitas vaskuler.

MEDIATOR SEKUNDER
Bradikinin : kontriksi otot polos ,peningkatan
permeabelitas vaskuler dan stimulasi reseptor
nyeri
Serotinin : kontriksi otot polos dan peningkatan
permeabelitas vaskuler
Heparin : anti koagulan
Leukotrien : kontraksi otot polos dan
peningkatan permeabelitas vaskuler

TIPE2 HIPERSENSITIVITAS
Hipersensitivitas anafilatik (tipe I)
Hipersensitivitas sitotoksik (tipe II)
Hipersensitivitas kompleks imun (tipe III)
Hipersensitifitas tipe lambat (tipe IV)

HIPERSENSITIVITAS ANAFILATIK
(TIPE I)
Reaksi ini berhubungan dengan kulit, mata,
nasofaring, jaringan bronkopulmonari, dan
saluran gastrointestinal.
Reaksi ini dapat mengakibatkan gejala yang
beragam, mulai dari ketidaknyamanan kecil
hingga kematian.
Waktu reaksi berkisar antara 15-30 menit
setelah terpapar antigen, namun terkadang juga
dapat mengalami keterlambatan awal hingga 1012 jam.

LANJUTAN...

Hipersensitivitas tipe I diperantarai oleh


imunoglobulin E(IgE). Komponen seluler utama
pada reaksi ini adalahmastositataubasofil.
Reaksi ini diperkuat dan dipengaruhi oleh
keping darah,neutrofil, daneosinofil.

HIPERSENSITIVITAS SITOTOKSIK
(TIPE II)

Hipersensitivitas tipe II diakibatkan oleh


antibodi berupaimunoglobulin G(IgG) dan
imunoglobulin E(IgE) untuk melawan antigen
pada permukaan sel dan matriks ekstraseluler.

LANJUTAN...

Kerusakan akan terbatas atau spesifik pada sel


atau jaringan yang langsung berhubungan
dengan antigen tersebut. Pada umumnya,
antibodi yang langsung berinteraksi dengan
antigen permukaan sel akan bersifat patogenik
dan menimbulkan kerusakan pada target sel.

HIPERSENSITIVITAS KOMPLEKS
IMUN (TIPE III)

Hipersensitivitas tipe III merupakan


hipersensitivitaskompleks imun. Hal ini
disebabkan adanya pengendapan kompleks
antigen-antibodi yang kecil dan terlarut di dalam
jaringan. Hal ini ditandai dengan timbulnya
inflamasiatau peradangan.

LANJUTAN...

Pada kondisi normal, kompleks antigen-antibodi


yang diproduksi dalam jumlah besar dan
seimbang akan dibersihkan dengan adanya
fagosit. Namun, kadang-kadang, kehadiran
bakteri,virus, lingkungan, atauantigen(spora
fungi, bahan sayuran, atau hewan) yang
persisten akan membuat tubuh secara otomatis
memproduksi antibodi terhadap senyawa asing
tersebut sehingga terjadi pengendapan kompleks
antigen-antibodi secara terus-menerus.

LANJUTAN...

Hal ini juga terjadi pada penderita


penyakit autoimun. Pengendapan kompleks
antigen-antibodi tersebut akan menyebar pada
membran sekresi aktif dan di dalam saluran
kecil sehingga dapat memengaruhi beberapa
organ, sepertikulit, ginjal,paru-paru,sendi, atau
dalam bagian koroid pleksusotak

HIPERSENSITIFITAS TIPE LAMBAT


(TIPE IV)
Hipersensitivitas tipe IV dikenal sebagai
hipersensitivitas yang diperantarai sel atau tipe
lambat (delayed-type).
Reaksi ini terjadi karena aktivitas perusakan
jaringan oleh sel T dan makrofag. Waktu cukup
lama dibutuhkan dalam reaksi ini untuk aktivasi
dan diferensiasi sel T, sekresi sitokindan
kemokin, serta akumulasi makrofag dan leukosit
lain pada daerah yang terkena paparan.

LANJUTAN...

Beberapa contoh umum dari hipersensitivitas


tipe IV adalah hipersensitivitas pneumonitis,
hipersensitivitas kontak (kontak dermatitis), dan
reaksi hipersensitivitas tipe lambat kronis
(delayed type hipersensitivity, DTH

TES DIAGNOSTIK
Hitung darah lengkap
Tes kulit
Tes provokasi
Tes radioalergosorben