Anda di halaman 1dari 4

NAMA

: MERRY SETIA PUTRI

NIM

: D1C113108

PK/M. KULIAH

: Public relations / Manajemen Isu dan Krisis ( TUGAS via e-mail )

Dosen pengampu

: Bpk. Syarifudin

Contoh kasus dan Strategi menangani krisis oleh isu yang beredar dengan 2 fase / tahap
perkembangan krisis predromal dan acute crisis.
PT. INDOFOOD. ( Indomie Goreng Palsu )
Pada kasus ini yang melibatkan Indofood adalah pada produk mie yang diproduksi yaitu mie
goreng. Agustus 2015 Pekan lalu public Indonesia tiba tiba dihebohkan dengan adanya
dugaan mie instan favorit jutaan masyarakat Indonesia telah dipalsukan. Isu mengenai
pemalsuan produk indomie goreng ini bermula pada status yang disertai foto kemasan
indomie seorang netizen media bernama Lydia
Loarhadjo yang diunggah melalui salah satu
media social Facebook. Melalui akun Facebook
miliknya Lydia memperlihatkan bukti bahwa
adanya perbedaan mulai dari stempel kode
produksi sampai susunan bumbu antara kedua
bungkus Indomie goreng tersebut. Awalnya
Lydia mengakui bahwa rekannya membeli
Indomie goreng di warung depan kost dan di minimarket. Setelah mencoba dan rasanya juga
berbeda, dengan segera Lydia mempostingnya di Facebook. Dan hasil postingan tersebut
menjadi suatu kehebohan pada masyarakat sehingga menyebabkan Masyarakat berpersepsi
bahwa indomie goreng telah di palsukan.
Isu mengenai produk tersebut menyebabkan PT.Indofood mengalami suatu krisis
yaitu krisis pencemaran nama baik dan Krisis kepercayaan. Dimana hasil postingan netizen
media yang memperlihatkan secara jelas perbedaan kedua produk itu membuat nama atau
produk tersebut menjadi tercemar dan masyarakat menjadi berfikir dua kali untuk membeli
serta mengkonsumsi Indomie goreng itu dikarenakan ada rasa ketidakpercayaan dan
ketakutan masyarakat terhadap produk tersebut.

Menanggapi isu tersebut serta tak ingin membiarkan netizens heboh dan malah
membuat dugaan serta ketakutan tak beralasan, Indofood selaku perusahaan yang
memproduksi Indomie goreng angkat bicara dan mengklarifikasi bahwa isu Indomie goreng
palsu itu tidak benar.
Merdeka.com PT Indofood Sukses Makmur melalui keterangan pres dari GM Corporate
Communications , Stefanus Indrayana, Kamis ( 27/8/15 ). Member penjelasan bahwa :
Tidak ada produk Indomie goreng palsu. Kedua gambar kemasan Indomie yang diposting
oleh Lydia dalam akun Facebooknya merupakan Indomie Produksi Indofood CBP. Menurut
Stefanus, pada kemasan dapat terjadi juga dikarenakan mesin cetak. Mesin produksi di
perusahaan memang meiliki variasi sehingga terdapat perbedaan pada saat pencetakan
kemasan Indomie, hal itu juga menyebabkan urutan bumbu pada Indomie menjadi berbeda
beda.terkait dengan rasa yang berbeda, stefanus menduga bahwa hal itu hanya persepsi dari
konsumen. Pasalnya konsumen tersebut membeli produk Indomie dari dua tempat yang
berbeda. Dia menjelaskan bahwa Perusahaan memiliki komitmen untuk menjamin
keselamatan dan kepuasan konsumennya. Selain itu, semua produk yang diproduksi dan
dipasarkan oleh Indofood CBP telah melewati standar mutu dan keamanan pangan yang
sangat ketat. Produk kami senantiasa mengikuti standar dan regulasi yang diatur oleh Badan
Pengawas Obat dan Makanan ( BPOM ) serta Badan Internasional seperti Codex
Alimentarius, sehingga Indomie aman untuk dikonsumsi. Perusahaan juga menerapkan Good
Manufacturing Practice dan telah mendapatkan sertifikasi SNI, ISO 9001 dan ISO 22000
serta Halal. Produk Indomie aman untuk dkonsumsi dan Terjamin mutunya selama :
1. Kemasan utuh dan tidak ada kebocoran.
2. Dikonsumsi sebelum tanggal kadaluarsa yang tertera jelas dilabel depan kemasan.
3. Diperoleh dari supermarket, Hypermarket, minimarket, toko dan warung yang
menjadi pengecer resmi.
Pada kasus ini PT.Indofood masuk dalam kategori tipe krisis bersifat segera ( immediate cries
). Sebab krisis terjadi tiba tiba, tidak terduga dan tidak diharapkan. Krisis ini membutuhkan
consensus terlebih dahulu pada level manajemen puncak untuk mempersiapkan rencana
umum mengenai bagaimana bereaksi jika krisis yang bersifat segera agar tidak menimbulkan
kebingungan, konflik dan penundaan dalam menangani krisis yang muncul.

4 tahap perkembangan krisis ( steven fink ) :

Masa pra-krisis ( predromal crisis stage )


Masa krisis akut ( acute crisis stage )
Masa krisis kronik ( chronic crisis stage )
Masa resolusi krisis ( crisis resolution stage )

Akan tetapi pada contoh kasus diatas saya hanya menjelaskan 2 tahap atau fase
perkembangan krisi yang terjadi pada PT.Indofood berkaitan dengan Indomie goreng palsu
antara lain :

Masa pra krisis ( predromal crisis stage )


Tahap ini biasa disebut dengan tahap dimana kondisi sebelum krisis itu muncul. Benih
benih krisis sudah ada sehingga jika muncul suatu kesalahan yang kecil saja krisis
dapat terjadi benih yang mulai timbul pada tahap ini biasanya tidak diperhatikan,
sering diabaikan, dilupakan karena perusahaan dapat bergerak dengan lincah. Padahal
krisis sudah muncul. Jika manajemen gagal menangankap adanya isu krisis maka
krisis dapat bergerak ketahap yang lebih serius. Yaitu tahap akut.
PT.Indofood sebenarnya mengetahui bahwa kemasan pada Mie goreng instan itu

berbeda, namun pihak nya memperkirakan hal ini hanyalah masalah sepele yang biasa
dikatakan masyarakat hanya akan peduli sama isi dan rasa didalam kemasan itu bukan secara
lebih serius melihat bagaimana keadaan kemasan tersebut dan dapat dibilang dengan krisis
yang tidak nampak. Oleh sebab itu, Indomie meski ada dalam kemasan yang berbeda tetap
diproduksi dalam keadaan seperti itu. Ini menunjukan hal kecil dari dari kemasan saja tidak
diperhatikan dengan baik dan diabaikan. Perusahaan tetap saja bergerak memproduksi serta
memasarkan di Seluruh Indonesia. Dan hasil dari krisis ini karena tidak diperhatikan tanpa
sadar PT.Indofood mulai memasuki fase acute crisis ( krisis akut )karena pada fase awal ini
perusahaan tidak mempunyai perencanaan menghadapi krisis. Tapi apabila pada tahap ini
perusahaan sudah mengetahui kesalahannya dan langsung menganganinya maka krisi
tersebut tidak akan berlanjut ketahap selanjutnya.

Acute crisis ( krisis akut )


Pada tahap ini krisis mulai terbentuk, media dan public mulai mengetahui adanya
suatu masalah dan suatu kejadian yang membuat perusahaan mengalami kerugian.
Saat inilah berbagai dokumen dan modul untuk menghadapi krisis harus dikeluarkan

dan digunakan . penanganan pada tahap akut ini lebih sulit dibandingkan tahap
sebelumnya, pada fase awal perusahaan mungkin mencoba menolak adanya krisis,
tetapi pada akhirnya perusahaan harus menyadari dan mengakui bahwa pada tahap ini
krisis memang benar benar terjadi dan perusahaan tidak dapat menghindari.
Setelah menolak adanya krisis dengan mengabaikan kemasan pada produk, PT. Indofood
akhirnya masuk pada tahap akut. Yang perusahaan pikir bahwa masyarakat tidak
memperdulikan kemasan. Tapi dengan isu yang dibuat oleh netizen media serta bukti bukti
gambar dari kemasan Indomie goreng yang diproduksi Indofood. Secara tiba tiba membuat
masyarakat menjadi heboh dan berpikir buruk tentang Indomie goreng. Bahkan ada
masyarakat yang takut mengkonsumsi indomie goreng karena ada yang palsu. Isu yang
dibuat oleh netizen itu tepat sasaran dan membuat perusahaan mengalami kerugian, selain
pencemaran nama baik produk dan ketidakpercayaan masyarakat pada Indomie goreng. Agar
tidak berlanjut menjadi permasalahan besar dan krisis semakin tidak dapat dihindari. Pihak
Indofood yaitu GM Communicate dari perusahaan itu mengadakan press release dan
memperjelas kepada masyarakat bahwa produk yang diproduksi tidak palsu kedua kemasan
tersebut sama sama produksi dari Indofood dengan menunjukan bukti bukti yang sah.
Serta pihak Indofood juga memberi penjelasan kepada salah satu netizen media yaitu Lydia
terkait produknya.. dan dari hasil pers itu Lydia membuat postingan berupa permintamaafan
dirinya terhadap PT.indofood.
Namun meskipun krisis tersebut sudah diselesaikn, akan tetapi banyak juga masih masyarakat
yang tidakpercaya pada Indomie Goreng karena masyarakat tetap tidak tahu itu palsu atau
tidak meskipun PT.Indofood sudah menjelaskan pahwa itu adalah produk yang sama sama
diproduksinya. Dan hal ini adalah tugas manajemen perusahaan dalam memperbaiki citra
perusahaan. Yang dapat dilakukan pada tahap
selanjutnya yaitu salah satunya adalah tahap
resolusi krisis.