Anda di halaman 1dari 31

TUGAS DISKUSI GIGI TIRUAN LENGKAP

Melia 1106009236
Sandriana Nandari Irsan 1106050310

1. Bagaimana cara melihat densitas tulang dari panoramik?


2. Seberapa lamakah proses resorpsi tulang pascaekstraksi?
3. Tahapan pembuatan GTP dengan rinci.

JAWABAN

1. Melihat ketebalan tulang kortikal


di inferior border mandibula.
Diamati mandibula yang berada di
distal foramen mentalis secara
bilateral, kemudian
diklasifikasikan berdasarkan
klasifikasi Klemetti.
-

Class I: tepi endosteal dari


korteks inferior mandibula
halus

Class II: tepi endosteal


menunjukan kerusakan
semilunar (lacunar
resorption) dengan
pembentukan residu kortikal
endosteal dengan tebal 1-3
lapis

Class III: korteks terlihat jelas berporus dengan residu endosteal yang padat

2. Setelah ekstraksi gigi, resorpsi tulang akan berlangsung cepat selama 6 bulan pertama.
Selanjutnya terjadi resorpsi 5-10% pertahun. Pada 3 bulan pertama resorpsi terjadi
sekitar - 2/3nya. [Sumber: Rate of bone resorption following tooth extraction.
Ribeiro-Rotta, et al 2010]

Idealnya dicetak 3 bulan pascaekstraksi namun karena keterbatasan waktu 1 bulan


boleh dicetak namun informasikan pada pasien kalau dalam 6 bulan akan ada
perbaikan GT (reline) karena masih ada proses resorpsi.

3. Tahapan Pembuatan GTP

1) Pemeriksaan Subjektif dan Objektif


2) Konsul IPD (bila perlu)
3) Cetak Anatomis
Sendok cetak: stock tray edentulous (dasar membulat)
Bahan cetak: irreversible hydrocolloid (alginate)
Teknik pencetakan: mukostatis (tanpa tekanan)
Sebelum pencetakan, sendok cetak dicobakan terlebih dahulu dan dipilih yang paling
sesuai dengan ukuran rahang pasien. Ukuran sendok cetak 5 mm melebihi permukaan
luar residual ridge dan di posterior mencakup hamular notch dan vibrating line.
4) Pengecoran model studi (bahan: dental gypsum)
5) Pembuatan Sendok Cetak Individual (SCP)
Tujuan: mendapatkan hasil cetakan yang akurat terutama untuk daerah tepi sendok
cetak
Pada model studi digambarkan batas antara jaringan bergerak dengan tidak bergerak
lalu batas-batas sendok cetak individual ditentukan 2 mm
lebih pendek dari batas jaringan bergerak-tidak bergerak agar tersedia ruang yang
cukup untuk memanipulasi bahan pembentuk tepi.
Batas-batas pembuatan sendok cetak perseorangan untuk rahang atas yaitu:
-

sayap buccal dimulai dari frenulum buccalis atas mencapai harmular notch

melewati palatum melalui area sekitar fovea palatina ke hamular notch di sisi lain

sayap labial mengikuti batas mukosa bergerak dan tidak bergerak

SCP dibuat dengan menggunakan self-curing acrylic menggunakan finger adapted


dough method.
Syarat SCP yang baik:
-

luas tepat sampai garis batas

ketebalan merata 2-3 mm

bentuk tepi membulat dan tidak ada bagian yang tajam

daerah frenulum harus bebas

permukaan tidak ada kerutan/lipatan akrilik

tidak ada porus

6) Pembuatan tangkai SCP


Bahan: baseplate wax
Bentuk:
-

seperti galangan gigit sepanjang regio premolar kiri ke premolar kanan (dari
frenulum bukalis kanan dan kiri)

ukuran tinggi 10-12mm, lebar di anterior 4-6mm dan di posterior 6-7 mm

Penampang berbentuk trapesium dengan dasar melekat ke SCP

Permukaan oklusal anterior dan posterior sejajar basis model

Tepi tangkai runcing

Lengkung tangkai mengikuti lengkung rahang

Sambungan antara tangkai dan sendok cetak tidak bersudut

Posisi tangkai adalah gigi-gigi anterior

7) Pengurangan tepian sendok cetak sebanyak 2 mm untuk bahan border molding


8) Pencobaan SCP ke pasien
SCP mencakup semuda daerah kecuali frenulum RA dan RB.
Tidak boleh ada undercut yang dapat menghalangi pada saat nanti dilakukan
pencetakan fisiologis.
9) Border Molding
Border molding adalah proses memperoleh bentuk tepi SCP untuk menyesuaikan
kontur vestibulum bukal dan labial dengan akurat. Dengan SCP yang pas akan
mendapatkan peripheral seal yang baik [Zarb, 2013]
Peripheral seal = kontak tepi gigi tiruan dengan jaringan di bawah/dekatnya untuk
mencegah masuknya air dan udara atau zat lain
Jadi peripheral seal ini prinsipnya membentuk basis yang menutupi hingga terbentuk
ruang kedap sehingga tidak ada air dan udara yang masuk. Jadi sasaran border
molding harus cekat, ada tahanan, sealnya baik.
Bahan: greenstick compound
Teknik: greenstick dipanaskan diatas lampu spiritus, rendam di dalam air selama
beberapa

detik

agar pasien tidak merasakan panas dari

greenstick yang

sudah

dilunakkan dan agar greenstick tidak terlalu cair. Greenstick ditambahkan sedikit

demi sedikit pada tepi luar SCP. Ketika sendok cetak individual yang sudah
diletakkan greenstick compound berada di dalam mulut, pasien diinstruksikan untuk
melakukan gerakan fisiologis. Teknik dilakukan dengan cara sectioned (pertahap).
Gerakan dasar: gigit SCP, gerak kiri kanan (membentuk cekungan distobukal),
menelan, muscle trimming (yang digerakin ke atas bawah seperti di bawah ini, tapi ga
boleh berlebihan)

RA
o Daerah labial= Bibir atas diangkat, digerakkan ke luar, ke bawah, ke dalam
membentuk sayap labial, minta pasien mengerutkan bibir, senyum,
menyeringai. Otot = m. orbicularis oris
o Di daerah frenulum bukalis: pipi diangkat, ditarik ke luar, ke bawah, ke
dalam, mundur dan maju. Otot = m. buccinator
o Di daerah posterior untuk membentuk sayap bukal: pipi ditarik ke luar, ke
bawah, ke dalam. Otot = m. masseter menentukan sayap distal bukal
RA
o Buka mulut lebar, gerakan mandibular ke sisi kiri dan kanan
membentuk hamular notch dan sayap bukalis. Otot = m. pterygoid
o Minta pasien bilang ah membentuk daerah posterior palatum durum.
Otot = m. levator palatini dan m. tensor palatini

RB

o Daerah sayap labial anterior: Tarik bibir bawah ke luar, ke atas, ke dalam
membentuk sayap labial, minta pasien mengerutkan bibir, senyum,
menyeringai. Otot = m. orbicularis oris, m. mentalis
o Di daerah frenulum bukalis: Tarik pipi ke luar, ke atas, ke dalam, maju
mundur. Otot = m. buccinator
o Di daerah posterior: Tarik pipi ke luar, ke atas, dan ke dalam. Efek otot
masseter pada tepian direkam dengan meminta pasien menggigit ketika
kita menekan SCP. Otot = m. masseter
o Di anterior lingual:

majukan lidah (menentukan panjang sayap, mengaktivasi otot


mylohyoid yang menaikan dasar mulut membantu dokter gigi
menentukan panjang dan slope sayap lingual di daerah molar). Otot
= m. mylohyoid, m. genioglossus

dorong lidah ke palatum anterior (membentuk ketebalan bagian


anterior sayap lingual)

o Di distal sayap lingual:

Protrusi lidah: mengaktifkan otot superior constrictor, otot


genioglosus

Minta pasien tutup mulut sambim menekan SCP untuk merekam


kontraksi otot pterygoid medial

o Minta buka mulut yang lebar

Otot yang perlu diperhatikan dalam pembuatan GTL


1. Otot pengunyahan
a. M. temporalis = pergerakan mandibula ke belakang dan ke relasi sentris
b. M. masseter = otot penutup mulut, meretrusi mandibula
c. m. pterygoid medial = otot penutup mulut
d. M. pterygoid lateral = otot penuntun dan pergerakan kondil
2. Otot depresi
a. M. geniohyoideus = otot membuka mulut bersama m. digastricus
b. M. mylohyoideus= membantu pembukaan mulut, membentuk daerah otot
dimana lidah beristirahat
3. M. genioglossus = protrusi lidah
4. M. buccinator = membantu menahan pipi saat pengunyahan

Peranan Otot dalam Pembuatan Gigi Tiruan


Nama otot

Berpengaruh pada
Bentuk/ketebalan Panjang
Posisi gigi
sayap
pendek sayap
Otot Muka
Ketebalan sayap
Posisi
dlm
m. orbicularis labial protesa atas
arah anterior
oris
dan bawah
RA dan RB
m. buccinator Sayap bukal gt rb Sayap protesa Posisi dalam
atas
arah anterior
dibebaskan di RA dan RB
daerah
frenulum
bukalis
m. mentalis
Bentuk
sayap Panjang baiss
labial gt bawah
GT bawah
Otot
Tepi
pengunyahan
distobukal
m. masseter
protesa bawah
Tepi
distal
bukal protesa
atas
m. temporalis
Basis protesa Perlekatan
di retromolar otot
pada
pad
prosesus
koronoid
permukaan
bukal protesa
atas
m. pterygoid
Perlekatan pad
internus
atuber maksila
tepi protesa
RA di daerah
hamular nothc
m. gemohyoid
Sayap lingual
dan
m.
protesa bawah
mylohyoid
Otot lidah
Basis gigi tiruan
Panjang
Posisi
pendek sayap labiolingual
lingual
gt gigi tiruan
bawha
Otot pharynx
Sayap
lingual Sayap
GT
m. constrictor protesa bawah
bawah terlalu
sup.
panjang

melukai jar.
Otot palatum Tepi
distal Menentukan
lunak
gigitiruan
letak post dam
m.
levator
palatini & m.
tensor palatini

Dll
Dimensi
vertikal
oklusal

10) Cetak Model Kerja dengan SCP dan ZOE


Sendok cetak: SCP
Bahan cetak: ZOE / rubber base (light body)
Teknik cetak:
-

Single impression

Open mouth technique

Mukofungsional: dalam keadaan berfungsi dengan sblmnya dilakukan border


moulding

Mukostatis: tahanan residual ridge rendah

Selective pressure: tergantung kondisi (yang ditekan yang tahanan jaringannya


tinggi)

Mukokompresi resorpsi tulang alveolar, protesa tidak stabil karena ridge yang
mukosanya bergerak akan mendorong protesa dari kedudukannya
Syarat cetakan yg baik:
-

Tidak terlepas dari sendok cetak

Gaada gelembung, sobek, lipatan

Bagian sendok cetak tidak terlihat

Terlihat jelas: gigi, mukosa, frenulum, vestibulum, batas mukosa bergerak dan
tidak bergerak, retromolar pad, tuber maksila, batas palatum mole dan palatum
durum, batas gingiva dengan gigi, perlekatan otot harus terlihat jelas

Cetakan dicuci sampai bersih.

11) Beading, Boxing, Pengecoran Model Kerja


Tujuan:
-

mempertahankan bentuk tepi hasil border molding sehingga tercatat pada model
kerja. Bentuk tepi dari hasil cetakan akan direproduksi menjadi bentuk tepi
gigitiruan.

Menentukan permukaan cetakan dan membantu membentuk cetakan saat


penuangan bahan cor [Textbook of Complete Denture]

Mempertahankan tinggi dan lebar sulkus pada model kerja [Textbook of


Prosthodontics]

Bahan: utility wax


Teknik pembuatan:

Hasil cetakan yang diperoleh dikeringkan, siapkan gulungan lilin berdiameter 3-5 mm
pada sekeliling batas tepi cetakan. Dinding dari baseplate wax dibuat mengelilingi dan
melekat pada utility wax tadi agar menghasilkan suatu bentuk yang menyerupai kotak.
Selanjutnya dibuat boxing. Boxing adalah proses mengelilingi bahan cetakan dan
beading untuk memudahkan pekerjaan mengecor dental stone, menentukan bentuk
dan ketebalan stone, memimalisasi trimming, dan mencegah berlebihnya dental stone
[Textbook of Complete Denture]. Boxing juga menjaga agar dental stone tidak mudah
mengalir keluar serta mencegah hilangnya bentuk perifer (batas tepi) cetakan.
Tahapan pembuatan boxing :
a. Hasil cetakan yang diperoleh dikeringkan, sekeliling tepi cetakan diberi utility wax
dengan jarak + 3 mm dari batas tepi cetakan.
b. Dinding dari baseplate wax dibuat mengelilingi dan melekat pada utility wax tadi
agar menghasilkan suatu bentuk yang menyerupai kotak.
c. Cetakan rahang yang telah di beading dan di boxing tadi siap untuk di cor.
Setelah selesai mencetak, cetakan negatif tadi dicor dengan menggunakan gips stone
sehingga diperoleh model positif cetakan fisiologis.
12) Pembuatan Galangan Gigit
Terdiri dari lempeng gigit dan galangan gigit. Lempen gigit (basis) sebagai jaringan
pendukung gigi tiruan, biasanya dibuat dengan resin akrilik. Galangan gigit adalah
suatu bentuk permukaan oklusal yang dibuat di atas basis sementara/tetap suatu gigi
tiruan dengan maksud untuk membantu pencatatan hubungan rahang dan penyusunan
gigi. Fungsi:
-

Membantu pemasangan model di artikulator

Membantuk menentukan panjang dan lebar gigi

Membantu menentukan dukungan gigi tiruan pada bibir dan pipi

Menentukan midline, garis kaninus, garis senyum

Menggantikan prosesus alveolaris yang telah hilang setelah mengalami resorpsi


karena pencabutan gigi

Bahan: baseplate wax


Bentuk: penampang melintangnya trapesium
Galangan gigit ditaruh di atas lempeng gigit yang terbuat dari resin akrilik yang
tebalnya 1,5-2mm.

Untuk mendapatkan gaya fisik bagi retensi antara lempeng gigit dan mukosa dapat
diperoleh dengan cara membuat kontak yang rapat pada sulkus labial dan bukal di
sayap gigi tiruan dan mukosa, sedangkan pada tepi posterior gigi tiruan RA retensi
diperoleh dengan membuat cekungan pada model kerja dengan dikerok agar
membentuk postdam pada basis basis menekan mukosa palatal saat dipasang
penutupan tepi. Pembuatan post dam dilkukan sebelum galangan gigit rahang atas
dibuat. Postdam ditempatkan pada pertemuan antara palatum lunak bergerak dan
jaringan statis di depannya, diperluas ke lateral ke mukosa yang menutupi hamular
notch.
Dalam membuat galangan gigit, baseplate dibuat dengan menggunakan self curing
acrylic dan pembuatan wax rims dengan menggunakan wax.
Posisi galangan gigit:
-

Di posterior tepat di atas prosesus alveolaris

RA
o garis tengah oklusal galangan gigit mengarah ke hamular notch
o batas permukaan labial/bukal secara keseluruhan lebih labial/bukal
dibanding residual ridge cukup untuk mendukung bibir
o sejajar garis interpupil
o tingginya sejajar atau 1-2 mm di bawah bibir atas
o letak insisal edge gigi I1 RA = 8-10mm anterior terhadap papila insisivum
[cek di pasien lagi, kalau pasien tua dan bibir panjang, nanti bidang
oklusinya terlalu rendah]
o letak C = titik pertemuan antara garis tepi posterior dan anterior galangan
gigit

RB
o garis tengah oklusal galangan gigit mengarah ke retromolar pad
o batas permukaan labial/bukal di daerah anterior=lebih ke labial dari ridge,
daerah premolar=sama dengan ridge, daerah molar=sedikit lebih lingual
dari ridge
o sudut mulut ditandai sebagai batas gigi C dan P1 dan tinggi cusp tip P1
o M1 setinggi 2/3 retromolar pad, tinggi bidang oklusal - 2/3 retromolar
pad [kalau <1/2 retromolar pad = terlalu rendah = lidah di atas gigi =
mudah kegigit, kalau >2/3 = protesa tidak stabil karena lidah sulit

melempar makanan. Kalau ditemukan kasus DVO = DVF padahal sudah


retromolar pad, galangan gigit atasnya yang dikurangi]
o Daerah insisal anterior sejajar interpupil
o anterior menyentuh lembut bibir bawah saat menyebutkan huruf F
o kontak bidang dengan galangan gigit RA
-

Batas posterior RA di distal M1 sedangkan RB di 5mm depan retromolar pad

Galangan gigit RA dan RB diatur agar memperoleh kontak bidang.


Setelah dibuat galangan gigit dicobakan pada pasien. Tahapan [British Dental Journal,
Volume 188, No. 9, May 13 2000 & Zarb, 2013]
-

Rendam galangan gigit di desinfektan

memastikan dukungan estetik wajah secara keseluruhan (jaringan infra-nasal


harmonis dengan jaringan lunak sepertiga tengah muka, tonus otot wajah relatif
sama)

bibir atas didukung dengan baik batas vermillion dan filtrum dikembalikan,
sudut naso-labial harus 90

Terdapat celah sebesar 2-4 mm saat rahang istirahat fisiologis (dilihat dari regio p)
o Kalau >4mm = DVO terlalu kecil
o Kalau <2mm = DVO terlalu besar

Saat mengucapkan kata-kata dengan huruf S, galangan gigit saling mendekat


tetapi tidak berkontak, terdapat jarak 1-2 mm

Operator menentukan upper anterior plane.


o 6 gigi anterior RA = sejajar interpupil
o Menentukan posisi pertengahan kaninus dengan panduan foto atau rasio
tabel berikut

o Bidang posterior sejajar garis camfer (ala nasi tragus)


o Dengan patokan titik kaninus, kurangi batas inferior posterior galangan
gigit sebanyak 3-5 untuk menciptakan koridor bukal dan senyum yang
lebih alami

Dicocokan kembali hingga pasien nyaman, dapat menelan dengan mudah, estetik
baik

Tanda DV terlalu tinggi

Tanda DV terlalu rendah

Sulit bicara

Wajah tampak tua

Mulut tampak penuh

Efisiensi kunyah menurun

Sukar menelan

Ada perleche/angular cheilitis

Saat bicara gigi atas bawah

Bicara kurang jelas

beradu

Gangguan

sendi

rahang

Otot buka tutup mulut terasa


lelah

13) Penentuan DV dan Fiksasi Galangan Gigit


Konsepnya, hubungan maksilomandibula (relasi rahang) ada 2:
-

Relasi vertikal. DV= jarak vertikal= menentukan jumlah dari pemisahan rahang
untuk penggunaan gigi tiruan
o DVF = DV fisiologis yaitu saat mandibula istirahat fisiologis
ditentukan oleh otot dan gravitasi
o DVO = gigi atau galangan gigit dalam keadaan kontak ditentukan oleh
gigi alami ketika masih ada
o Freeway space= jarak DVO DVF = 2-4 mm jarak interoklusal,
penting dalam kesehatan jaringan periodonsium dan kalau gagal akan
menyebabkan clicking dan sakit di jaringan basalis dan merusak alv ridge

Relasi horisontal.
o Relasi sentris = jarak horisontal = menentukan relasi depan belakang sisi
sisi rahang dengan yang lain. Definisi= relasi mandibula thd maksila yang
paling posterior saat penentuan relasi vertikal.
o Relasi eksentris = deviasi dari bidang horisontal, yaitu saat protrusi, lateral

Pengukuran DV
Posisi pasien harus duduk tegak, relaks, kepala tegak (FHP sejajar lantai) dan
pandangan lurus ke depan)
Penetapan DVF

Dilakukan berkali-kali (5-6x) dan dihitung rata-ratanya dan dapat dilakukan berbagai
kombinasi cara, dari:
1) Pengukuran wajah: buat titik di ujung hidung dan di tonjol dagu, pasien diminta
mengucapkan M, dan diminta untuk menahan posisi tsb kemudian diukur
2) Tactile sense: pasien diminta buka mulut lebar sampai otot terasa tegang, lalu
diminta relax, dan menutup mulut. Ukur.
3) Fonetik: ajak bicara sampe lelah, lalu minta tutup mulut perlahan sampai bibir
kontak ringan suruh m m m lagi terus tahan dan ukur
Penetapan DVO
Cara Mekanik
1) Hubungan Sisa Alveolar
a. dari papila insisivum ke insisif mandibula: papila insisivum relatif stabil
setelah prosesus alveolaris atas mengalami resorpsi akibat kehilangan gigi.
Jariaknya ke bagian insisal I bawah adalah 4mm pada gigi asli. Tepi insisal
gigi I1 RA rata2 6mm dibawah papila insisivum. Gigi atas anterior
menutup gigi geligi bawah sebanyak kurang lebih 2mm
kekurangan= gabisa dilakukan kalau pasien resorpsi berat
b. kesejajaran sisa alveolar
menyejajarkan sisa alveolar RA&RB ditambah pembukaan 5 derajat di
bagian posterior ~ pembukaan rahang yg benar. Kesejajaran ini bersifat
alami karena gigi dalam keadaan oklusi normal meninggalkan sisa alveolar
di bagian posterior sejajar satu sama lain.
Kekurangan= karena ilang giginya ga dalam waktu yg bersamaan, plus di
pasien yg tidak bergigi, sisa tulang akan menyusut secara progresif
2) Pengukuran GT sebelumnya
3) Pencatatan sebelum pencabutan gigi dari profil radiograf, model gigi dalam
oklusi, dan pengukuran fasial
Cara Fisiologis
1) Posisi istirahat fisiologis
a. Membuat titik-titik yg tidak mudah dihapus di ujung hidung dan ujung
dagu, pasien duduk dengan kepala tegak dan otot wajah relaks,
deidapatkan DV istirahat fisiologis.
b. Masukan galangan gigit RA filtrum harus tampak normal, tingginya 12mm di bawah bibir atas jika bibir normal

Protrusi galangan gigit anerior ditentukan dengan:

Minta pasien mengucapkan huruf labiodental (F V W) gal gigit


anterior atas akan menyentuh vermilion border bibir bawah

Jika

belum

menyentuh

kurang

protrusif/terlalu

protrusif/terlalu pendek

Jika terlalu menyentuh terlalu protrusif/terlalu panjang

Lihat hubungan dengan papila insisivum

Ukur dari tengah papila insisivum ke perm paling labial= 810mm / 11-12 mm (Titi Soebekti dkk)

Kemudian lihat kesejajaran galangan gigit RA dengan garis interpupil di


anterior dan dengan garis camper(alatragus = menghub tengah2 tragus
dengan bagian bawah sayap hidung/ala nasi) di posterior.
c. Masukan galangan gigit RB oklusal bawah harus berkontak merata ke
galangan gigit RA di seluruh lengkung atas.
d. Untuk mendapatkan DVO, galangan gigit bawah dikurangi 2-4mm untuk
FWS namun kontak harus tetap merata. Sesuaikan galangan gigit hingga
puas dengan ruang interoklusal.
e. Tes dengan: mengucapkan huruf S ada jarak 1-2 mm antara gal gigit
RA dan RB; menelan mudah
2) Fonetik dan estetik
Mendengarkan hasil suara bicara dengan melihat hub gigi selama bicara.
o S harus jelas, CH S Jbisa bunyi kalau galangan gigit deket tapi
kalau menyinggung artinya DVO terlalu tinggi
o Lihat estetik pasien tonus bibir dibandingkan dengan kulit bagian lain
dari wajah, kontur bibir tergantung pada struktur intrinsiknya dan
dukungan yang diberikan oleh struktur di belakang mereka
3) Ambang rasa menelan
Pedoman: saat menelan giigi akan saling mendekat dan berkontak dengan sangat
ringan pada permulaan siklus enelan. Jika hilang DV terlalu rendah.
Cara: buat malam seperti kerucut pada basis gigi tiruan bawah sehingga berkontak
dengan galangan gigit atas pada saat rahang membuka sangat lebar, lalu aliran
saliva dirangsang dengan sepotong kain. Aksi menelan saliva yang berulang akan
mengurangi tinggi malam tsb shg mandibula mencapai tingkat DVO

4) Rasa taktil dan laporan OS mengenai kenyamanan


Menggunaan alat bersekrup yg bisa dinaikturunkan yang akan dilekatkan di palatu
GT percobaan/lempeng gigit, ya gitu deh bingung nih
Tahapan mencari DVO:
1. Galangan gigit RB dikurangi 2mm untuk FWS ga di RA karena telah
menentukan garis kaninus untuk RA, untuk estetik juga
2. Cek dengan metode CSS (closest speaking space) dari Silverman: minta pasien
ngomong sebelas / sixty six missisipi dilihat apakah galangan gigit atas dan
bawah mentok atau tidak
3. Lihat ekspresi wajahnya tegang atau nyaman
4. Tanya apakah pasien merasa tidak nyaman di sendi rahang
Relasi Sentris
Biasanya karena udah lama ga punya gigi maka gigitannya jadi ke anterior dan RB
maju (kelas III)
Relasi sentris = posisi acuan untuk evaluasi oklusi, ditentukan oleh operator,
umumnya ga sama dengan oklusi sentris
Cara menentukan relasi sentris:
1) Cara pasif
a. Metode gysi: ibu jari dan telunjuk operator diletakkan di bagian ventral
otot masseter, kmd pasien reaks dan operator mendorong mandibula ke
posterior. Pasien disuruh menggigit sehingga posisi kondilus dalam fosa
glenoid tidak tegang, lalu kedua galangan gigit difiksasi.
b. Metode Rehm: ibu jari dan telunjuk diletakkan pada daerah vestibulum
menekan lempeng gigit, dan jari tengah dibenkokkan ke bawah dagu
perlahan mandibula didorong ke posterior dan pasien disuruh menggigit.
Kedua gal gigit difiksasi.
c. Metode gravitasi: pasien diminta duduk di kursi sehingga kepala
menengadah ke atas gaya gravitasi mandibula terdorong ke posterior
shg kondilus akan menempati posisi paling posterior tetapi tidak tegang
dalam fosa glenoid pasien disuruh menggigit dan kedua galangan gigit
difiksasi
d. Metode green: suruh pasien gigit kuat, jika benar otot temporalis bagian
ventral akan terasa menggelembung pada saat diraba dengan jari tangan
kanan dan kiri, kedua galangan gigit difiksasi

2) Cara aktif/fungsional:
a. Menelan: setalah DVO ditentukan, pasien disuruh menelan kmd galangan
gigit atas dan bawah difiksasi
b. Nukleus walkhof: buat bola malam sebesar biji jagung dan tempelkan di
lempeng gigit palatum paling posterior dan midline, minta ujung lidah
menyentuh bola malam tsb sehingga RB mundur sambil menutup mulut.
Fiksasi. [Pasien perlu dilatih tiap tutup mulut lidah kena ke bola
malam]
Cara fiksasi galangan gigit:
(1) Staples dipegang dengan pinset, dipanaskan, tempelin di gal gigit bawah, kmd
ditekan sampai dingin, dilakukan di premolar kanan kiri
(2) Pisau malam panas ditusukkan di daerah premolar dan molar kanan kiri di sekitar
bagian oklusal gal gigit atas dan separuh ke bawah lalu selagi malam masih cair,
pisau ditarik keluar dan tunggu smp malam mengeras
(3) Sebagian malam gal gigit oklusal atas dan bawah di P dan M dihilangkan shg
membentuk V dgn bagian terbuka di oklusal. Kmd gal gigit bawah anterior antara
kedua V dikurangi 1-2mm dan pasien disuruh membuka mulut dan di atas gal
gigit dituan gips/ZOE. Pasien disuruh menelan dan menggigit shg gal gigit post
berkontak kembali lalu ditunggu hingga keras
Panduan fiksasi artikulator:
-

Centre line = acuannya filtrum, ditandai di labial galangan gigit RA

Commisural line = sebagai acuan distal tip C atas

High lip line/smile line = batas bibir saat tersenyum dicarving di anterior
galangan gigit sebagai acuan servikal gigi anterior mencegah basis gigitiruan
terlihat saat tersenyum

Low lip line/speaking line = batas bibir saat bicara acuan gigi RA = 2mm di
bawahnya

14) Pemilihan Gigi


Gigi Anterior
-

Sangat penting untuk estetik

Foto bisa menjadi sangat penting dalam pemilihan elemen gigi. Dari foto pasien,
kita bisa mendapatkan ukuran gigi, diastema, susunan gigi anterior dan shading
yang tepat

Syarat: serasi dengan jaringan sekitar, mempertahankan DV, efisien untuk


pengunyahan

Pemilihan gigi umumya dapat dilihat dari segi:

Usia berpengaruh terhadap pemilihan warna gigi. Biasanya dipilih warna


yang lebih gelap pada orang tua karena ada bayangan dentin.

Jenis kelamin berpengaruh terhadap pemilihan bentuk gigi. Untuk laki-laki,


bentuk giginya square dan kontur labialnya datar. Sedangkan untuk
perempuan, bentuk giginya oval dan kontur labialnya cembung dan mengikuti
kontur bibir

Kepribadian misalkan pada laki-laki yang kepribadiannya agak feminim,


mungkin dapat dipilihkan bentuk gigi yang tidak terlalu square (agak oval),
untuk yang kepribadiannya bersemangat dapat menggunakan gigi persegi dan
besar

Konsep pemilihan gigi anterior menurut Frush & Fisher: konsep dentogenik
menghasilkan penampilan alami dan individual pada gigi tiruan

Konsep smile line = kurva yang mengikuti tepi insisal gigi I1&I2 dan tepi C
o Wanita = smile line mengikuti kurva bibir bawah = tampilan lembut
o Laki-laki = I2 di atas I1, C setinggi I1
o Lansia = garis senyum datar
o Jika C terlihat 2/3 labial = tampilan maskulin / tegas
o Jika C terlihat 1/3 labial = tampilan feminin / lembut

Proses pemilihan gigi anterior dilakukan saat pasien duduk tegak, otot rileks, dan
pencahayaan cukup. Hal yang diperhatikan:
1) Ukuran
o Disesuaikan dengan jenis kelamin dan ukuran wajah
o Metode:

Catatan sebelum pencabutan

Pengukuran antropometrik pasien

Tanda anatomis

Konsep teoritis

o Catatan sebelum pencabutan: studi model, foto pasien, rontgen foto, gigi
anak/saudara kandung, gigi asli yang disimpan setelah dicabut
o Proporsi untuk menentukan ukuran gigi pada pasien:

Jarak interpupil pada foto pasien

lebar insisif sentral pada foto

__________________________ = ________________________
Jarak interpupil sebenarnya

lebar insisif sentral sebenarnya

o Pengukuran antropometrik & tanda anatomis

Lebar 6 gigi anterior RA =

jarak bizigomatik : 3,36

1,02 x lebar jarak intercommissural (sudut bibir)

1,31 x jarak interalar (sudut luar hidung)

1,35 x jarak intercanthal (sudut dalam mata)

Lebar gigi I1 RA =

keliling kepala : 13

jarak bizigomatik : 16

Panjang I1 RA = panjang wajah : 16

Pengukuran canine eminentia = lokasi 6 gigi anterior RA

Sudut mulut = ujung distal caninus

Garis yang dibentuk antara titik tengah alis, lateral ala nasi, ke
occlusal rim = tempat 6 gigi anterior RA

o Konsep teoritis: bentuk gigi kebalikan bentuk wajah, wajah sesuai bentuk
mata, dll
o Rumus perkiraan lebar gigi anterior atas (Hendrick, Kusdhany L, C
Masulili, 2013)
38,27 + 2,011 x (jenis kelamin) + 0,167 x (jarak intercomissural)
Dengan jenis kelamin 1=perempuan, 2=laki-laki, satuan dalam mm
o Panjang insisial gigi ditentukan dengan panjang bibir. Saat istirahat,
panjang gigi yang terlihat:

Wanita muda = 3 mm

Pria = 2 mm

Paruh baya = 1,5 mm

Lansia = 0-2 mm

2) Bentuk
o Dilihat dari outline muka pasien bentuk gigi kebalikan
o Profil muka pasien menentukan kontur labial gigi

o Bentuk gigi yang tipis, kecil dan membulat identik dengan kepribadian
feminine
o Bentuk gigi yang lebih tebal, lebar, dan berbentuk persegi identik dengan
kepribadian maskulin
o Karena faktor usia, gigi seringkali kurang membulat pada insisal edgenya.
Selain itu pada kontak terlihat kehilangan kelengkungan susunan gigi.
o Penuaan juga menyebabkan penampang gigi anterior maksila mengecil
dan gigi anterior mandibula membesar. Garis senyum menjadi flat seiring
dengan berjalannya waktu.
3) Warna
o Dilakukan pada sisi hidung
o menggunakan shade guide
o Hal-hal yang perlu diperhatikan selama shade selection:
a. Usia = warna lebih gelap dan opak karena ada deposit dentin sekunder
b. Warna kulit wajah = jika gelap warna gigi lebih gelap, jika pucat
warna gigi lebih terang
c. Shade pada gigi tiruan sebelumnya seringkali merupakan pilihan
pasien
d. Walaupun gigi menjadi lebih gelap seiring dengan berjalannya waktu,
tidak ada shade spesifik yang bergantung pada grup usia
e. Pemilihan shade pada gigi biasanya berdasarkan komplektisitas wajah.
Warna yang tidak mencolok biasanya lebih baik
f. Menggunakan gigi sebelum diekstraksi sebagai pedoman warna untuk
menentukan shade gigi tiruan
g. Mendengarkan keinginan pasien.

h. Banyak pasien mengalami kesalahpahaman bahwa gigi alami mereka


berwarna putih bersih, sehingga dokter gigi harus berhati-hati dalam
merekomendasikan warna gigi tiruan kepada pasien.
o Ketika shade awal gigi telah ditentukan, hal tersebut harus diobservasi
pada 3 tempat, yaitu 1). Di luar mulut, di samping pipi, 2). Di bawah bibir
atas dengan hanya insisal edge yang terlihat 3). Di bawah bibir atas dengan
mulut terbuka, atau 2/3 hingga gigi terlihat.
Gigi Posterior
- Biasanya gigi yang dipilih mengacu pada ukuran gigi anterior
- Ukuran:
o Lebar bukolingual = lebih sempit dari gigi asli karena resorpsi t. alveolar,
ada di neutral zone (daerah bebas tekanan dari lidah dan pipi)
o Ukuran mesiodistal= gigi posterior tidak disusun pada slope retromolar
pad karena dapat menyebabkan iritasi pada aspek lingual ridge anterior
ketika gigi tersebut digunakan untuk mengunyah
- Secara keseluruhan, panjang mesiodistal gigi posterior sesuai dengan panjang
residual ridge mandibula.

15) Penanaman model di Artikulator


Artikulator = alat mekanis yang dapat menirukan sebagian gerakan rahang/TMJ yang
dapat dipasang model rahang sesuai dengan relasi yang telah didapat.
Tahapan penanaman artikulator :
-

Buat garis midline di model dan galangan gigit

Fiksasi galangan gigit

Upper member dan lower member diolesi separating medium atau vaselin.

Dipasangkan seutas karet pada ketiga area yang membentuk segitiga bonwil
(untuk menentukan bidang oklusal rahang atas dan rahang bawah)

Kemudian diletakan model kerja rahang atas dan rahang bawah sedemikian rupa
sehingga permukaan bidang oklusal galangan gigit rahang atas terletak tepat
setinggi segitiga bonwil dimana kedudukan rahang bawah dipertahankan dengan
memakai bantuan suatu benda penahan (modelling clay)

Adonan gips dibuat, lalu adonan tersebut diletakan di atas model kerja pada
rahang atas lalu tutup upper member artikulator kemudian dirapikan.

Setelah gips mengeras artikulator dibalik dan lower member pada artikulator
dibuka. Benda penahan tersebut dibuang lalu dibuat adonan gips, diletakan pada
dasar model kerja rahang bawah yang telah dibalik tersebut, tutup lower member
artikulator, kemudian gips dirapikan.

Pemeriksaan pada artikulator meliputi posisi gigi, bentuk lengkung rahang, perluasan
basis wax pada daerah sulkus, retromolar pad dan aspek posterior palatum serta
pemeriksaan terhadap oklusi dan konturing wax

16) Penyusunan Gigi Anterior


Acuan:
-

Midline gigi tiruan = midline wajah, bisa juga tidak segaris karena masih bisa
diterima dan tampak natural (70% RA sejajar wajah, 75% RB tidak segaris
RA)

Papila insisivum sering dijadikan pedoman garis median lengkung rahang

Sejajar interpupil

Sudut nasolabial
o Laki-laki: 90-95 derajat
o Perempuan: 100-105 derajat

Posisi tepi insisal I1 = 8-10mm anterior dari tengah papila insisivum

Posisi C ada di garis yang melewati tepi posterior papila insisivum

Anterior bawah setinggi bibir bawah

Anterior atas 0-2 mm di bawah bibir atas

Over bite dan overjet 2-4 mm

Teknik Penyusunan Pergigi


Gigi I-1 Atas
-

Sumbu gigi miring 5 (lima derajat) terhadap garis midline

Titik kontak sebelah mesial tepat pada garis midline.

Permukaan labial sesuai dengan lengkung bite rim namun sedikit depresi pada
segitiga cervikalnya.

Permukaan insisal menyentuh bidang oklusal

Gigi I-2 Atas


-

Sumbu gigi lebih miring dari gigi incisive satu

Titik kontak mesial berkontak dengan titik kontak distal incisive satu.

Permukaan labial sesuai dengan lengkung bite rim namun agak depresi pada
sepertiga cervikalnya sedikit lebih dalam dari gigi incisive satu.

Permukaan insisal 0,5-1 mm di atas bidang oklusal

Gigi C Atas
-

Sumbu gigi hampir sejajar dengan garis midline

Titik kontak mesial berkontak dengan titik kontak distal incisive dua.

Permukaan labial disesuaikan dengan lengkung bite rim.

Dari anterior hanya permukaan labial yang terlihat

Gigi I-1 bawah


-

sumbu panjangnya membuat sudut 85 derajat

bidang oklusal dan tepi insisal 1-2 mm diatas bidang oklusal

overjet 2-4 mm

gigi condong ke labial

Gigi I-2 bawah


-

sumbu panjangnya membuat sudut 80 derajat dengan bidang oklusal

sumbu panjang tegak lurus bidang oklusal

bagian tepi insisal dan bagian servikal sama jaraknya

tepi insisal 1-2 mm diatas bidang oklusal

dilihat dari bidang oklusal tepi insisal terletak diatas lingir rahang

servikalnya lebih ke labial dari I1

Gigi C bawah
-

sumbu panjangnya miring/paling condong garis luar distalnya tegak lurus bidang
oklusal

Gigi condong kelingual/bagian servikal menonjol

dilihat dari bidang oklusal ujung cusp terletak diatas lingir rahang

bagian kontak distal berhimpit dengan garis lingir posterior

17) Penyusunan Gigi Posterior


Pedoman: garis Pound = garis yang ditarik dari mesial kaninus RB ke tengah-tengah
retromolar pad dan merupakan pedoman posisi
-

Central grooves P1 dan P2

Central fossa M1

Mesial pit M2

Konsep:

1. Tinggi posterior RB adalah - 2/3 retromolar pad. Kalau lebih rendah gigi
lebih rendah dari lidah susah tergigit
2. Batas distal gigi terakhir minimal 5mm di depan ramus. Jika kurang akan
menyebabkan iritasi dan anterior terungkit
3. Menciptakan bilateral balanced occlusion dimana pada saat posisi oklusi sentris
dan eksentris = semua gigi berkontak pasien mengunyah dengan stabil
Jadi tahapan penyusunan gigi posterior:
4. Buat garis pound pada galangan gigit RB
5. Bagian bukal garis tersebut dipotong
6. Pindahkan garis pound tsb ke RA sebagai acuan tempat cusp palatal gigi P1 P2
atas, cusp mesiopalatal M1 M2 atas
Teknik Penyusunan Pergigi
Gigi P-1 atas
-

sumbu gigi tegak lurus bidang oklusal

ujung cusp bukal menyentuh bidang oklusal, cusp palatal 1mm diatas bidang
oklusi

dilihat dari bidang oklusi serta dilihat dari bidang oklusal, groove
developmental sentral terletak diatas lingir rahang.

Gigi P-2 atas


-

sumbu gigi tegak lurus bidang oklusal

ujung cusp bukal menyentuh bidang oklusal

ujung cusp palatal menyentuh bidang oklusal dan terletak pada garis pedoman
rahang atas

dilihat dari bidang oklusal development groove sentralnya terletak diatas


lingir rahang

Gigi M-1 atas


-

poros condong ke distal

cusp-cuspnya terletak pada bidang oblique dari kurva antero-posterior yaitu:


o cusp mesio-palatal terletak pada bidang oklusi
o cusp mesio-bukal dan disto-palatal sama tinggi kira-kira 1mm diatas
bidang oklusi
o cusp disto-bukal kira-kira 2 mm di atas bidang oklusi

dilihat dari bidang oklusal cusp-cuspnya terletak pada kurva lateral.

Gigi M-2 atas

porosnya condong kedistal

cusp-cuspnya terletak pada bidang oblique dari kurva antero-posterior


o cusp mesiopalatal = cusp distopalatal M1
o cusp mesiobukal = cusp distobukal M1 (di atas bidang oklusal 1 mm)
o ujung cusp distobukal paling tinggi (1,5 mm)

dilihat dari bidang oklusal permukaan bukal gigi M-2 atas terletak pada kurva
lateral

Gigi M-1 bawah


-

cusp mesio-bukal gigi M-1 atas berada digroove mesio-bukal gigi M-1 bawah

cusp bukal gigi M-1 atas ada di bukal groove M1 bawah

berkontak dengan P2 dan M1 atas

cusp mesiopalatal M1 atas ada di sentral fossa gigi M1 bawah

terlihat adanya overbite dan overjet

dilihat dari bidang oklusal cusp bukal gigi geraham bawah berada diatas ridge
rahang

cusp bukal lebih tinggi dari palatal

Gigi M-2 bawah


-

berkontak dengan gigi M1 dan M2 atas

cusp distopalatal M1 atas dan cusp mesiopalatal M2 atas ada di central fossa
M2 bawah

centrol groove ada di garis pedoman

cusp bukalnya berada diatas lingir rahang

cusp bukal lebih tinggi dari palatal

Gigi P-2 bawah


-

oklusi dengan gigi P1 dan P2 atas

central groove ada di garis pedoman rahang bawah

central groove berkontak dengan cusp palatal RA

porosnya tegak lurus bidang oklusal

Gigi P-1 bawah


-

oklusi dengan C dan P1 atas

central groove ada di garis pedoman rahang bawah

central groove berkontak dengan cusp palatal RA

porosnya tegak lurus bidang oklusal

cusp bukalnya berada diatas lingir rahang.

18) Try in
Try in adalah percobaan insersi GT malam pada pasien untuk memeriksa kecekatan,
estetik, dan hubungan rahang. Prosedur
1. Evaluasi perluasan tepi GT
2. Evaluasi DV dan RS
3. Evaluasi oklusi artikulasi
4. Evaluasi retensi
5. Evaluasi kestabilan GT
6. Evaluasi estetik
Evaluasi dukungan bibir dan pipi
-

1/3 gigi anterior atas harus terlihat saat bibir atas dalam keadaan istirahat

gigi anterior atas terlihat saat pasien tersenyum

Ketebalan sayap labial/bukal mensuport wajah

Evaluasi bidang oklusal


-

Bidang oklusal posterior RB = - 2/3 retromolar pad

Bidang oklusal anterior RA sejajar garis interpupil

Bidang oklusal posterior RA sejajar garis camfer

Lidah bersandar pada bagian lingual gigi anterior RB

Evaluasi DV dan CR
-

Periksa kembali DV

Cek dengan metode CSS (closest speaking space) dari Silverman

Periksa fonetik
1. Huruf labiodental (F, V,W): tepi insisal RA ke bibir bawah. Jika
disusun terlalu ke atas f terdengar seperti v
2. Huruf BPM (bilabial): bila dukungan bibir kurang terganggu
3. Huruf linguoalveolar (TDSZ): lidah menyentuh anterior palatum.
Dipengaruhi ketebalan basis GT.

Penentuan Posterior Palatal Seal


Menggunakan pinsil tinta, pasien diminta mengucapkan AH: dan dipindahkan ke
basis gigitiruan
Posterior palatal seal = daerah jar lunak sepanjang batas pertemuan palatum molle dan
durum, dimana dapat diberi tekanan dalam batas fisiologis untuk menambah retensi
GT. Posterior palatal seal terletak pada jaringan lunak, berguna mencegah masuknya
udara antara basis GT dan palatum lunak. Juga merupakan daerah antara vibrating

line (garis imajiner melalui bagian posterior palatum, memisahkan jaringan bergerak
dan tidak bergerak pada palatum lunak, terletak 2 mm di depan fovea palatina)
anterior dan posterior.
-

Vibrating line anterior: pasien diminta mengucapkan AH dengan kuat dan


cepat

Vibrating line posterior: pasien diminta mengucapkan AH dengan cepat


namun tidak bersemangat/normal

Fungsi posterior palatal seal:


-

Membantu retensi

Mengurangi kecenderungan gag refleks

Mencegah akumulasi makanan

Kompensasi shrinkage polimerisasi

Jadi post dam = penutupan pd tepi posterior suatu GT


Pembuatan:
1) Gambar di model: midline, fovea palatina, hamular notch, pterygomaxillary notch,
vibrating line (1-2 mm di belakang fovea palatina dan melalui kedua hamular
notch), buat titik A dan B yaitu batas posterior, C= titik tengah dari jarak midline
ke tepi medial prosesus alveolaris dan berjarak 3-5mm dari garis batas posterior,
D1= midline dan berjarak 0-1 dari garis batas post
2) Dikerok dari posterior ke anterior, landai di anterior, dalamnya 1,5mm

19) Gum Cuff


Gumcuff= bentuk lekuk di basis GT untuk membentuk gingiva tiruan
Bagian yg harus terbentuk: gingival margin, interdenal papilla, root prominence
Cara pembuatan:
1) Tebalkan basis di bukal/labial dengan diteteskan malam cair 2mm hingga -1/3
servikoinsisial gigi
2) Buat garis pedoman tonjolan akar (segitiga) dengan panjang +- jarak dari
servikal gigi ke tepi basis gigi tiruan
a. RA: c paling panjang, I2 lebih pendek sedikit, I1 diantaranya, 4-7
memendek ke posterior
b. RB: C paling panjang, I2 lebih pendek sedikit, I1 lebih pendek sedikit lagi,
4-7 memendek ke posterior
3) Di palatal/lingual merata minimal 3mm mengikuti bentuk anatomis yg ada

4) Gingival margin dibentuk di servikal gigi membentuk sudut 45 derajat thd bidang
horisontal
a. RA: I2 lebih rendah dari I1, C lebih tinggi dari I1, 4-7 makin kebelakang
makin ke bidang oklusal
5) Interdental papila: disesuaikan dgn garis gingiva
6) Berihkan, haluskan kilatkan

20) Flasking
Tahapan-Tahapan flasking di antaranya :
- Gigi tiruan malam yang telah selesai disusun dicekatkan pada model kerja lalu
dilepaskan dari artikulator.
- Sebelum prosedur flasking dilakukan seluruh bagian dalam cuvet diulasi selapis tipis
vaselin, demikian pula dengan tepi dan dasar model kerja.
- Adonan gips diaduk kemudian dituangkan ke dalam cuvet bawah lalu model kerja
ditanam dalam cuvet tersebut dan dirapikan.
-Setelah gips mengeras kemudian permukaan gips pada cuvet bawah tersebut diberi
selapis tipis vaselin.
-Kemudian cuvet atas dipasangkan, dan diisi dengan gips sampai pada batas
permukaan cuvet kemudian ditutup dan diletakan dibawah press.
Boiling Out
Boiling out dilakukan untuk mendapatkan mold space. Tahapan kerja boiling out :
- Cuvet dipindahkan dari press meja ke press tangan
- Masukkan cuvet ke dalam air mendidih selama + 2 menit
- Setelah 2 menit cuvet dikeluarkan, cuvet atas dan cuvet bawah dipisahkan perlan
lahan.
- Seluruh elemen gigi sudah berada di cuvet atas, air mendidih yang bersih disiramkan
ke mold, bagian tepi yang tajam pada mold dirapikan dengan menggunakan lecron
- Mold space yang mash hangat diolesi cold mould seal ( CMS ) supaya tidak
melekat pada model juga untuk mencegah agar cairan resin tidak melekat pada model.
Diulas merata pada seluruh permukaan, tapi tidak boleh mengenai elemen
gigi.gunakan lecron.
Packing

Sebelum dilakukan packing daerah model kerja pada bagian palatum dari cekungan
bekas karet diberikan tinfoil agar setelah jadi acrylic tidak menekan jaringan lunak
dari pasien.
Pada tahap packing metode yang digunakan yaitu wet method dimana polimer dan
monomer dicampur di dalam mixing jar, bila sudah mencapai dough stage baru
dimasukan ke dalam mold space. Masukkan polimer dan monomer ke dalam mixing
jar sambil digetarkan. Tunggu sampai dough stage. Setelah itu adonan diambil 2
bagian, diletakan di atas gigi-gigi yang berada di cuvet dan ditutup terlebih dahulu
dengan plastik celophan sebagai separating medium atau pemisah di antaranya
kemudian dilakukan press pertama dengan alat press meja tunggu + 3 menit. Setelah
press pertama dilakukan, cuvet dikeluarkan dari press meja, cuvet atas dan cuvet
bawah dipisahkan kemudian kelebihan acrylic dibuang. Lakukan hal yang sama
hinggal kelebihan acrylic tidak ada
Curing
Cuvet dipindahkan dari press meja ke press tangan untuk selanjutnya dilakukan
proses curing. Cuvet dimasukan kedalam panci, yang dimulai dari suhu kamar sampai
mendidih selama + 2 jam, dengan perincian waktu dari suhu kamar + 700 C selama
30 menit dengan api yang disesuaikan kemudian suhu dinaikan 1000 C selama + 1
jam, kemudian air dibiarkan sampai mendidih, setelah 2 jam cuvet diangkat dan
dibiarkan hingga dingin sampai kembali mencapai suhu kamar.
Deflasking
Setelah cuvet dibiarkan dingin hingga mencapai suhu kamar, kemudian cuvet dibuka.
Ini merupakan tindakan untuk melepaskan gigi-gigi tiruan resin acrylic dari cuvet dan
bahan tanamnya
21) Insersi & Instruksi Pascainsersi
INSERSI
Periksa kembali yg dicek saat try in: kecekatan, estetik, hubungan rahang
Cek sebelum pemasangan:
o cek tepi: tidak tajam, halus membulat
o basis dan sayap: tidak ada nodul, terpoles halus, mengkilat, tidak porus
o permukaan halus, tidak ada gores, tidak tajam
o permukaan yang menghadap jaringan tidak cacat
o mukosa jaringan pendukung sehat
cek GT saat dipakai:

1) basis GT yang menghadap mukosa


o oleskan PIP pada basis yang menghadap mukosa sebelum dipasang untuk
melihat apakah kontak di basis sudah merata (jangan dioklusikan dulu)
o jika ada undercut tertinggal di mukosa saat GT dilepas
o hilangkan undercut dengan pengasahan untuk mencegah terkelupasnya
jaringan lunak yang terbuka
o jika sudah merata di RA dan RB, baru oklusikan
o cek lagi basisnya
2) perluasan tepi GT: apakah sesuai dengan ruangan yang tersedia di vestibulum,
sesuaikan dengan daerah frenulum, hamular notch
o cek menggunakan disclosing wax pada tepi GT
o instruksikan pasien membuka mulut lebar (menguap), mendorong
mandibula ke depan, ke kiri dan kanan hingga perluasan sayap terlihat,
terseyum, tertawa, menelan
o bila disclosing wax terhapus ada bagian yang berlebih hilangkan
dengan pengasahan dan dipoles
3) oklusi artikulasi
o menggunakan articulating paper
o minta pasien oklusi dan artikulasi ke kanan, kiri, depan
o cek jejas di gigi tiruan ada yang berlebih pengasahan selektif
o biasanya di insersi cek oklusi dulu, artikulasi pas kontrol [Prof Linda]
4) DV & RS
5) Retensi
6) Kestabilan GT saat bicara dan menelan
7) dukungan bibir, pipi
a. 1/3 gigi anterior atas terlihat saat bibir atas dalam keadaan istirahat
b. gigi anterior atas terlihat saat senyum
c. Ketebalan sayap bukal mensupport wajah
8) Bidang oklusal
a. Posterior RA= 1/3-1/2 RA
b. Bidang insisial RA anterior sejajar interpupil
c. Bidang oklusal RA posterior sejajar garis camfer
d. Lidah bersandar di bagian lingual anterior RB
9) Evaluasi fonetik:

a. Huruf labiodental (F, V,W): tepi insisal ke bibir bawah


b. Huruf BPM (bilabial): bila dukungan bibir kurang terganggu
c. Huruf linguoalveolar: lidah menyentuh anterior palatum
Cek gt saat berfungsi:
1) Retensi: basis dan sayap kontak nyata pada mukosa, didapat dari peripheral seal
dari cetakan fungsional
2) Stabilisasi: oklusi dan artikulasi seimbang, cek dengan articulating paper

Sasaran insersi:
Tidak sakit
Gigi berkontak baik
GT tetap pada tempatnya ketika dimasukan/saat berfungsi buka mulut normal
Pasien paham cara menjaga dan membersihkan GT

Instruksi:
1) Ajarkan cara pasang dan lepas GTP
2) Kalau sangat retentif: pasien mengucap Ah / meniup dgn mulut tertutup
3) Perhatikan arah pemasangan bila ada undercut
4) Pembersihan GT: kimia (rendam), mekanik(disikat)
5) 1x24 jam GTP tidak boleh dipakai makan ingin diobservasi hasil adaptasi
mukosa thd GT (kalau makan akan bias)
6) Hindari pemakaian saat tidur agar mukosa ist, suplai darah tidak terhambat, agar
tidak menyumbat napas
7) Instruksi kontrol 24 jam setelah inseri, 1 minggu, dan 3-6 bulan

22) Kontrol
Pemeriksaan pertama dijadwalkan 1 sampai 3 hari pasca pemasangan gigitiruan dan
pemeriksaan kedua dijadwalkan satu minggu setelah pemeriksaan pertama. Dokter
gigi harus menanyakan keluhan pasien terhadap gigitiruan meliputi fungsi bicara,
mastikasi, estetik maupun kenyamanan pemakaian gigitiruan. Setelah itu dilakukan
pemeriksaan terhadap oklusi gigitiruan dan mukosa di dalam rongga mulut. Seluruh
rongga mulut diperiksa secara visual dan palpasi sehingga dapat ditentukan lokasi
apabila terdapat iritasi jaringan lunak. Perawatan yang dilakukan meliputi
1. Pengobatan terhadap iritasi pada jaringan lunak.

2. Koreksi terhadap ketidaksesuaian oklusal.


3. Perbaikan terhadap basis gigitiruan yang terlalu panjang dan tepi gigitiruan yang
tajam
Kontrol berkala bagi pasien pemakai gigitiruan sebaiknya dilakukan dalam interval
waktu 12 bulan, sedangkan bagi pasien dengan problem kesehatan tertentu,
dianjurkan untuk melakukan kontrol berkala dengan interval waktu 3-4 bulan.
Cek artikulasi saat kontrol
Sasaran: bilateral balanced occlusion = seluruh gigi berkontak saat gerakan sentris
dan eksentris (protrusif & lateral) di working dan non working sides
Keuntungannta = mendistribusikan tekanan kunyah secara merata pada rahang
meningkatkan stabilitas GT saat gerak sentris, eksentris, dan parafungsi

Supporting cusp = cusp / incisal edge pada gigi yang berkontak dengan antagonis dan
mendukung maximum intercuspation (mempertahankan DV). Biasanya cusp bukal
gigi posterior mandibula, cusp palatal makssla, dan incisal edge gigi anterior
mandibula.
Non supporting cusp = cusp yang tidak berkontak dengan gigi antagonis. Yaitu cusp
lingual gigi mandibula, cusp bukal gigi maksila.