Anda di halaman 1dari 12

Karakteristik Saham Preferen dan

Saham Biasa
Saham Preferen

Saham Preferen memiliki karakteristik sebagai berikut:

Memiliki berbagai tingkat, dapat diterbitkan dengan


karakteristik yang berbeda

Tagihan terhadap aktiva dan pendapatan, memiliki prioritas


lebih tinggi dari saham biasa dalam hal pembagian dividen

dividen kumulatif, bila belum dibayarkan dari periode


sebelumnya maka dapat dibayarkan pada periode berjalan dan lebih
dahulu dari saham biasa

Konvertibilitas, dapat ditukar menjadi saham biasa, bila


kesepakatan antara pemegang saham dan organisasi penerbit
terbentuk

Saham Biasa
Memiliki karakteristik:

Hak suara pemegang saham, dapat memillih dewan komisaris

Hak didahulukan, bila organisasi penerbit menerbitkan saham


baru

Tanggung jawab terbatas, pada jumlah yang diberikan saja

Saham Biasa
Saham biasa merupakan pemilik sebenarnya dari perusahaan. Mereka menanggung
risiko dan mendapatkan keuntungan. Pada saat kondisi perusahaan jelek, mereka tidak
menerima dividen. Dan sebaliknya, pada saat kondisi perusahaan baik, mereka dapat
memperoleh dividen yang lebih besar bahkan saham bonus. Pemegang saham biasa
ini memiliki hak suara dalam RUPS (rapat umum pemegang saham) dan ikut
menentukan kebijakan perusahaan. Jika perusahaan dilikuidasi, pemegang saham
biasa akan membagi sisa aset perusahaan setelah dikurangi bagian pemegang saham
preferen.
Karakteristik Saham biasa adalah sebagai berikut:
Hak suara pemegang saham, dapat memillih dewan komisaris
Hak didahulukan, bila organisasi penerbit menerbitkan saham baru

Tanggung jawab terbatas, pada jumlah yang diberikan saja

Saham Preferen
Selain saham biasa kita juga mengenal adanya saham preferen. Sesuai namanya,
saham preferen ini mendapatkan hak istimewa dalam pembayaran dividen dibanding
saham biasa.
Karakteristik Saham Preferen adalah sebagai berikut:
Memiliki berbagai tingkat, dapat diterbitkan dengan karakteristik yang berbeda
Tagihan terhadap aktiva dan pendapatan, memiliki prioritas lebih tinggi dari

saham biasa dalam hal pembagian dividen


dividen kumulatif, bila belum dibayarkan dari periode sebelumnya maka dapat

dibayarkan pada periode berjalan dan lebih dahulu dari saham biasa
Konvertibilitas, dapat ditukar menjadi saham biasa, bila kesepakatan antara
pemegang saham dan organisasi penerbit terbentuk

Read more: Pengertian Saham dan Jenis Saham | Ilmu Akuntansi


Kredit Sindikasi
Kredit sindikasi (Bahasa Inggris: syndicated loan) adalah pinjaman atau kredit yang diberikan
secara bersama oleh lebih dari satu bank kepada debitur tertentu. Kredit yang diberikan secara
sindikasi dapat berupa kredit investasi ataupun kredit modal kerja.
Kredit sindikasi diberikan secara bersama dengan alasan :
Jumlahnya besar, sehingga tidak sanggup kalau hanya dibiayai oleh satu bank.
Menghindari BMPK.
Memperkecil risiko bagi bank.
Manajemen dan pengawasan dapat dilakukan secara bersamaan, ada sharing pengalaman
dalam menangani debitur besar.
Dokumentasi kredit menggunakan akta otentik (dengan akta notaris).

MEMAHAMI KREDIT SINDIKASI


Posted on May 29, 2012 by Al Farisi Fadjari, S.H., M.Hum.

Pengertian

Kredit Sindikasi merupakan pinjaman yang diberikan oleh beberapa kreditur baik
berbentuk bank ataupun lembaga keuangan lainnya, kepada debitur untuk membiayai
satu atau beberapa proyek milik debitur. Para Kreditur tersebut kemudian membentuk
sindikasi untuk mengucurkan kredit. Kredit sindikasi ini biasanya diberikaan karena
jumlah uang yang dibutuhkan oleh kreditur sangat besar. Kredit sindikasi sendiri ada
dua macam yaitu yang berbentuk onshore loan yaitu pinjaman yang dananya berasal
dari dalam negeri debitur sendiri. Bentuk yang lainya adalah offshore loan yaitu
pinjaman yang dananya berasal dari luar negeri, atau bahkan campuran. Khusus untuk
offshore loan, maka wajib dilaporkan kepada Bank Indonesia, tentang sumber dana
pinjaman dan rencana penggunaan dana pinjaman tersebut.
Proses Pembentukan
Pembentukan sindikasi diawali dari adanya lembaga keuangan (bank biasanya) yang
menjadi arranger yang jumlahnya bisa lebih dari satu bank. Kemudian salah satu bank
yang menjadi arranger tersebut akan menjadi lead manager yang bertugas untuk
membentuk sindikasi dan juga untuk menciptakan bentuk kerjasama diantara kreditur
sindikasi. Tugas lead manager tidaklah mudah, karena itu sering kali lead manager
terdiri dari beberapa bank yang membentuk management group atau bidding
group yang akan bersama-sama menjadi arrangers membentuk sindikasi. Dan biasanya
setelah sindikasi terbentuk lead manager ini akan menerima fee dari kreditur yang
disebut praecipium fee.
Sebelum arranger ataupun arrangers memulai untuk membentuk sindikasi maka
arranger tersebut harus mengusahakan untuk mendapatkan mandate atau semacam
penunjukan dan/atau surat tugas dari calon penerima kredit (debitur). Debitur ini bisa
perusahaan multinasional (multinational corporations) ataupun negara-negara
(sovereign states). Mandat ini biasanya diawali dengan adanya term sheet atau offer
document yang berupa penawaran dari lead manager kepada calon debitur, jika offer
tersebut diterima, maka debitur akan menerbitkan mandat tersebut. Setelah itu lead
manager akan menyiapkan beberapa dokument yaitu information memorandum yang
memuat rincian mengenai pinjaman yang dimaksud, informasi mengenai financial
condition dan bussines profile dari calon debitur. Dokumen ini biasanya diterbitkan jika
calon debitur adalah pendatang baru dalam pasar sindikasi. Dokument kedua
adalah syndication loan agreement yang merupakan perjanjian natar para peserta
sindikasi dengan debitur yang biasanya dibuat oleh external lawyer. Kedua dokument

ini dibuat dalam bentuk konsep (in draft form). Untuk International syndicated
loan para pihak biasanya terlebih dahulu bersepakat untuk menetukan hukum dan
pengadilan mana yang akan menjadi rujukan apabila terjadi sengketa dikemudian hari.
Setelah perjanjian kredit ditanda tangani biasanya dalam acara khusus loan signing
ceremony, maka peserta sindikasi akan mentransfer uang sejumlah yang telah
disetujuinya ke suatu rekening khusus milik agent bank yaitu kuasa dari bank-bank
anggota atau peserta sindikasi yang mengurusi masalah administrasi maupun
melakukan pemantauan penggunaan fasilitas kredit oleh debitur selama jangka waktu
kredit berlangsung. Setelah kredit tersebut ditanda tangani biasanya akan dilakukan
publisitas
atas
terbentuknya
kredit
sindikasi
tersebut.
Perjanjian Kredit Sindikasi.
Syndicated loan agreement merupakan dokumen paling penting diantara dokumendokumen lain yang menyangkut pemberian kredit sindikasi, karena merupakan rujukan
para pihak jika terjadi sengketa dikemudian hari. Perjanjian kredit sindikasi ini
mengatur segala hak dan kewajiban dari masing-masing pihak, kewenangan agent
bank maupun tata cara penyelesaian sengketa. Perjanjian kredit sindikasi sendiri harus
mengandung suatu keseimbangan hak dan kewajiban dari semua pihak yang terlibat
didalamnya. Suatu perjanjian kredit sindikasi menurut Tennekoon tidak menciptakan
mauapun mengakui adanya hutang. Perjanjian tersebut berisi suatu janji oleh sindikasi
untuk memberikan sejumlah dana dan suatu janji oleh penerima kredit untuk
membayar kembali dana tersebut pada tanggal tertentu. Perjanjian kredit sindikasi
tidak menciptakan hutang, hutang akan tercipta karena dilakukanya penarikan atas
dana tersebut (disbursement),perjanjian tersebut juga tidak mengakui adanya hutang,
oleh karena itu saat perjanjian lahir belum ada hutang yang diakui. Perjanjian kredit
sindikasi biasanya berisi hal-hal sebagi berikut :
1.

Jumlah kredit dan self financing penerima kredit.

2.

Jangka waktu kredit

3.

Mata uang dari kredit dan angsuranya

4.

Tujuan penggunaan kredit

5.

Penarikan kredit (draw down)

6.

Tingkat bunga

7.

Angsuran oleh penerima kredit

8.

Pelunasan kredit sebelum jangka waktunya (prepayment)

9.

Tugas-tugas agent bank

10.

Jaminan (indemnity)

11.

Condition precedent

12.

Representation and Warranties

13.

Covenants

14.

Sharing clause

15.

Default and cross default

16.

Choice of law and jurisdiction

1. Jumlah Kredit dan Self Financing


Jumlah kredit yang diberikan biasanya tergantung pada kebutuhan biaya untuk proyek
serta self financing debitur. Self financing merupakan biaya yang harus untuk
dikeluarkan oleh debitur sendiri untuk membiayai proyeknya. Self financing ini
biasanya berkisar 25% dari project cost keseluruhan. Jadi jumlah kredit yang diberikan
adalah jumlah project cost setelah dikurangi self financing debitur.
2. Jangka waktu kredit.
Sebagaiman lazimnya perjanjian yang lainnya, perjanjian kredit sindikasi tentunya
mempunyai jangka waktu, baik itu berupa jangka waktu berakhirnya perjanjian ataupun
waktu jadwal angsuran kredit. Sehingga bisa saja seorang debitur dinyatakan default,
jika tidak memenuhi jangka waktu angsuran yang telah ditentukan.
3. Mata Uang dari Kredit dan Angsuranya.
Mata uang yang paling banyak digunakan adalah mata uang Dollar Amerika. Akan
tetapi ada juga perjanjian yang menggunakan multicurrency loans, yaitu menggunakan
mata uang ganda, misal US$ dollar dengan Yen Jepang. Ini untuk menghindari
fluktuasi mata uang Dollar, sehingga debitur punya alternatif lain untuk membayar
hutangnya.
4. Tujuan Penggunaan Kredit
Klausula ini untuk memastikan bahwa kredit yang diberikan digunakan oleh debitur
untuk tujuan-tujuan yang legal dan sesuai dengan bidang usaha debitur.
5. Draw Down.

Penarikan kredit kredit ini biasanya dilakukan dalam waktu berjangka, dan dilakukan
melalui agent bank yang telah ditunjuk dan diberi kuasa oleh para peserta sindikasi,
melalui rekening khusus yang telah diusahakn oleh agent bank tersebut. Akan tetapi jika
kemudian debitur default, debitur mempunyai ikatan langsung dengan peserta sindikasi
tidak hanya dengan agent bank saja. Dalam perjanjian kredit biasanya ditetapkan :
1.

Suatu jangka waktu yang pasti dalam masa mana penerima kredit diizinkan untuk
menggunakan kredit.

2.

Tempat dimana dana dari kredit tersebut disediakan.

6. Tingkat Bunga
Ada beberapa jenis bunga yang biasanya diperjanjikan yaitu :
1.

Bunga Pokok menyangkut pokok pinjaman. Untuk menentukan besarnya bunga,


biasanya peserta sindikasi bersepakat tentang besarnya bunga, mengingat tiap Bank
tentunya mempunyai tingkat suku bunga yang berbeda. Untuk Offshore loans biasanya
digunakan LIBOR (London inter-bank oofered rate, atau SIBOR (Singapore inter-bank
offered rate). Bunga yang dibenbankan bisa bunga tetap (fixed rate) atau floating rate.

2.

Bunga Tunggakan yaitu bunga yang dibebankan jika debitur ternyata tidak dapat
melunasi angsuran hutangnya setelah waktu yang telah ditentukan.

3.

Bunga berganda, yaitu apabila bunga tunggakan tersebut belum terbayar pada
perhitungan bunga bulan berikutnya maka akan dibebani bunga lagi, hal ini yang biasanya
dikenal dengan bunga berbunga[1].

7. Angsuran Oleh Penerima Kredit.


Semua angsuran yang dilakukan oleh debitur harus berdasarkan ketentuan yang ada
dalam perjanjian kredit, lewat agent bank. Kemudian agent bank tersebut akan
membagikannya secara prorata kepada peserta sindikasi sesuai dengan hak mereka.
8. Prepayment.
Untuk pembayaran prepayment oleh debitur, maka biasanya Ia akan dikenakan
premium atau penalty. Penalty ini dikenakan untuk menutupi kerugian yang diderita
bank karena hutang dibayar sebelum jangka waktunya.
9. Tugas-tugas Agent Bank.

Tugas agent bank adalah biasanya tapi tidak terbatas melakukan pemantauan kondisi
keuangan debitur, dan memperingatkan kepada semua peserta sindikasi tentang
kemungkinan terjadinya default. Dalam perjanjian juga ada condition precedent yaitu
syarat-syarat yang harus dipenuhi lebih dahulu oleh debitur sebelum debitur berhak
untuk melakukan penarikan pertama kali. Dan tugas agent banklah untuk memastikan
bahwa klausula condition precedent tersebut telah dipenuhi. Ada dua jenis agent bank
yang biasanya ada dalam setiap perjanjian kredit sindikasi yaitu facility agent yang
bertugas melakukan administrasi selama kredit sindikasi berlangsung dan security
agentyang mengurusi masalah dokumentasi jaminan termasuk pengikatan jaminan
tersebut.
10. Jaminan
Klausula jaminan dalam perjanjian kredit sindikasi disamping tentang jaminan untuk
kredit, biasanya berisi pula ketentuan-ketentuan yang memberikan jaminan kepada
agent bank untuk membebankan biaya yang timbul sehubungan dengan tugas-tugas
yang dijalankanya sebagi agent bank.
11. Conditions Precedent.
Isi klausula ini mengenai hal-hal yang harus dilakukan debitur sebelum menerima
kredit, seperti memberikan dokumen-dokumen perusahaan yang diperlukan. Adanya
klausula ini bertujuan untuk memastikan bahwa perjanjian kredit yang telah dibuat sah
dan dapat dipaksakan apabila terjadi sengketa dan debitur mempunyai otoritas dan
kekuasaan untuk mengadakan perjanjian tersebut. Isi klausula ini harus jelas dan
jangan sampai isi klausula menimbulkan penafsiran yang berbeda yang akan
menyulitkan dikemudian hari jika terjadi sengketa.
12.Representation and warranties.
Klausula ini merupakan dasar bagi kewajiban bank-bank sindikasi utnuk menyediakan
fasilitas kredit kepada debitur. Klausula representation and warranties adalah klausula
yang berisi pernyataan-pernyataan mengenai fakta-fakta tentang (calon) debitur yang
telah dipakai sebagi asumsi-asumsi yang menjadi dasr bagi kreditur untuk mengambil
keputusan dalam memberikan kredit atau untuk ikut dalam sindikasi tersebut. Klausula
tersebut biasaanya berisi pernyataan-pernyataan debitur tentang status yuridisnya,
keadaan keuangannya maupun keadaan perusahaan.

12. Covenants
Yang dimaksud dengan covenants adalah suatu persetujuan atau janji dari debitur
untuk melakukan sesuatu (affimative covenants) atau untuk tidak melakukan sesuatu
(negative covenants). Tujuan adanya klausula ini adalah untuk melindungi kepentingan
kreditur agar debitur tetap credithworthy, membantu bank mengumpulkan informasi
tentang keadaan debitur ataupun menjadi dasar dari bank untuk menyatakan default
debitur.
13. Sharing Clause
Klausula ini menentukan bahwa semua pembayaran bunga dan pokok oleh penerima
kredit harus dibayarkan hanya kepada agent bank dan bukan kepada masing-masing
anggota sindikasi. Bunga tersebut harus dibagikan secara pro rata kepada para peserta
sindikasi.
14. Default dan Cross Default.
Klausula ini berisi hal-hal yang dapat menyebabkan debitur dapat dinyatakan default
oleh kreditur. Pernyataan ini dapat dikeluarkan melalui agent bank dengan persetujuan
mayoritas kreditur.
15. Choice of Law and Juridsiction.
Pilihan hukum mana dan forum apa yang akan dipakai jika terjadi sengketa merupakan
klausula yang sangat penting, terutama pada kredit sindikasi yang bersifat off shore
loan. Apakah memakai hukum dari agent bank, atau hukum dari debitur (Borrower)
ataukah hukum kreditur (lenders). Hal ini ditentukan oleh para pihak sendiri sebelum
perjanjian ditanda tangani.

[1] Dalam KUHPerdata sebenarnya bunga berbunga dilarang, hal ini merujuk pada
pasal 1251 KUHPerdata yang menyatakan bahwa bunga yang dapat dibebani bunga
harus merupakan bunga yang dari uang pinjaman pokok, bunga harus yang harus

dibayar untuk satu tahun, dan harus diperjanjikan lebih dahulu, jika tidak hanya boleh
lewat putusan pengadilan.

Obligasi internasional atau dikenal juga dengan nama sovereign


bond adalah suatu obligasi yang diterbitkan
olehpemerintah suatu negara dalam denominasi mata uang asing.
Apa perbedaan pembiayaan executing dan channeling?
Executing : Bank memberikan pembiayaan kepada perusahaan mitra dimana
kemudian perusahaan mitra meneruskan kepada nasabah sebagai end
user,sehingga perusahaan mitra tercatat sebagai debitor bank sedangkan
pembiayaan kepada end user tercatat sebagai eksposur pembiayaan
perusahaan mitra.
Channeling : pinjaman yang diberikan oleh bank kepada nasabah melalui
multifinance

yang

bertindak

sebagai

agent

dan

tidak

mempunyai

kewenangan memutus kredit kecuali mendapat surat kuasa dari bank. bank
memberikan pembiayaan secara langsung kepada nasabah sebagai and user
melalui perusahaan mitra yang bertindak sebagai agen,pembiayaan kepada
end user adalah eksposur pembiayaan bank. Saat customer tidak melakukan
pembayaran, maka multifinance akan tetap membayar kepada bank.
Apa keuntungan pembiayaan channeling dan executing?
Bila melihat pengertiannya seperti yang tadi saya sebutkan bisa diketahui
kalau perbedaan utama antara pembiayaan executing dan channeling
sebenarnya terletak pada tanggung jawab pembayarannya.
Pada pembiayaan channeling, ada satu lembaga baik dalam bentuk
perusahaan atau koperasi yang melakukan dan mengoordinir memberikan
pembiayaan terhadap UKM atau end user. Lembaga tersebut bisa dikatakan
sebagai broker dan mendapatkan fee dari bank. Dengan proses seperti itu,

maka institusi akan merasa ribetnya sama, tapi kok tidak mendapatkan feenya. Kalaupun ada nilainya sangat terbatas.
Sementara pembiayaan executing lebih memberikan room atau space
kepada institusi untuk mendapatkan keuntungan secara optimal. Karena
pada dasarnya yang mendapatkan pembiayaan adalah institusi itu sendiri.
Baik itu Bank Perkreditan Rakyat (BPR) , multifinance, ataupun koperasi
karyawan. Dengan sistem pembiayaan executing, institusi bisa mengambil
untung sesuai dengan permintaan.
Apa persyaratan yang harus di penuhi untuk mendapatkan
pembiayaan pada sistem ini?
Tentunya bank akan mengenakan berbagai persyaratan bagi yang hendak
mempergunakan skema tersebut. Misalkan saja adalah dana tersebut harus
dipergunakan untuk membiayai usaha yang memenuhi persyaratan.
Persyaratan lainnya untuk UMKM adalah pembiayaan tersebut harus
dipergunakan untuk hal-hal produktif Apakah kegiatan usahanya ada,
seberapa lama menjalakan bisnis tersebut. Berapa besar cash /iou-nya,
besar income dibandingkan angsuran yang didapat. Kemudian seberapa
bagus sumber bahanbaku market-nya itu.
Modal adalah hak atau bagian yang dimiliki oleh pemilik perusahaan dalam pos modal (modal
saham), keuntungan atau laba yang ditahan atau kelebihan aktiva yang dimiliki perusahaan
terhadap seluruh utangnya (Munawir,2001).
Modal pada dasarnya terbagi atas dua bagian yaitu modal Aktif (Debet) dan modal Pasif
(Kredit).
Struktur Modal adalah perimbangan atau perbandingan antara modal asing dan modal sendiri.
Modal asing diartikan dalam hal ini adalah hutang baik jangka panjang maupun dalam jangka
pendek. Sedangkan modal sendiri bisa terbagi atas laba ditahan dan bisa juga dengan
penyertaan kepemilikan perusahaan.
Struktur Modal Sasaran
Struktur modal sasaran adalah kombinasi antara utang saham preferen, dan saham ekuitas
yang digunakan perusahaan untuk merencanakan mendapatkan modal.
Kebijakan struktur modal melibatkan adanya suatu pertukaran antara risiko dan pengembalian.
Risiko yang lebih tinggi cenderung akan menurunkan harga saham, tetapi ekspektasi tingkat

pengembalian yang lebih tinggi akan menaikkannya. Karena itu, struktur modal yang optimal
harus mencapai suatu keseimbangan antara risiko dan pengembalian sehingga dapat
memaksimalkan harga saham perusahaan.
Empat faktor utama yang memengaruhi keputusan struktur modal adalah :
1. Risiko bisnis,
2. Posisi perpajakan,
3. Fleksibilitas keuangan,
4. Konservatisme atau keagresifan manajemen.

Struktur modal perusahaan merupakan salah satu faktor fundamental dalam


operasi perusahaan. Struktur modal suatu perusahaan ditentukan oleh kebijakan
pembelanjaan (financing policy) dari manajer keuangan yang senantiasa dihadapkan
pada pertimbangan baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif yang mencakup tiga
unsur penting, yaitu keharusan untuk membayar balas jasa atas penggunaan modal
kepada pihak yang menyediakan dana tersebut, atau sifat keharusan untuk
pembayaran biaya modal; sampai seberapa jauh kewenangan dan campur tangan
pihak penyedia dana itu dalam mengelola perusahaan; resiko yang dihadapi
perusahaan.
Fungsi keuangan merupakan salah satu fungsi penting bagi perusahaan dalam
kegiatan perusahaan. Dalam mengelola fungsi keuangan salah satu unsur yang perlu
diperhatikan adalah seberapa besar perusahaan mampu memenuhi kebutuhan dana
yang akan digunakan untuk beroperasi dan mengembangkan usahanya. Pemenuhan
dana ini bisa bersumber dari dana sendiri, modal saham maupun dengan hutang, baik
hutang jangka pendek maupun hutang jangka panjang.
Keputusan pendanaan keuangan perusahaan akan sangat menentukan
kemampuan perusahaan dalam melakukan aktivitas operasinya dan juga akan
berpengaruh terhadap resiko perusahaan itu sendiri. Jika perusahaan meningkatkan
leverage maka perusahaan ini dengan sendirinya akan meningkatkan resiko keuangan
perusahaan. Dan sebaliknya perusahaan harus memperhatikan masalah pajak, karena
sebagian ahli berpendapat bahwa penggunaan modal yang berlebihan akan
menurunkan tingkat profitabilitas. Untuk itu sebagian manajer tidak sepenuhnya
mendanai perusahaannya dengan modal tetapi juga disertai penggunaan dana melalui
hutang baik itu hutang jangka pendek maupun hutang jangka panjang karena terkait
dengan sifat penggunaan dari hutang tersebut yaitu bersifat mengurangi pajak.

Struktur modal optimal sebuah perusahaan adalah kombinasi hutang dan ekuitas
yang akan memaksimalkan harga saham. Disetiap waktu, manajemen akan memiliki
satu struktur modal sasaran yang spesifik dalam pikirannya yang diasumsikan sebagai
sasaran yang optimal, meskipun hal ini dapat berubah dari waktuke waktu.
Beberapa faktor dapat mempengaruhi struktur modal sebuah perusahaan. Faktor
tersebut adalah 1) risiko bisnis atau seberapa berisiko saham perusahaan jika
perusahaan tidak menggunakan hutang, 2) risiko keuangan yang merupakan tambahan
risiko yang dikenakan pada pemegang saham biasa sebagai akibat dari keputusan
perusahaan untuk mempergunakan hutang, 3) posisi perpajakan, 4) kebutuhan akan
fleksibelitas keuangan dan 5) konservatisme atau agresivitas manajemen perusahaan.
Sebagaimana suatu industri yang mempunyai struktur fixed cost yang tinggi,
rumah

sakit

menghadapi

program. Masalah ini

terjadi

problem

dalam

apabila

sumber

investasi
daya

dan

pengembangan

subsidi

pemilik/pemodal

berkurang,sementara misi rumahsakit menuntut agar dalam memberikan pelayanan,


rumah sakit harus melayani masyarakat tanpa membedakan status ekonominya. Akan
tetapi, disisi lain kemampuan untuk melakukan pelayanan kesehatan kepada
masyarakat

ekonomi

lemah

terkadang

terhalang

oleh

sistem

birokrasi

dan

sistem reimbursement dari pemerintah yang kurang cepat. Akibatnya, terjadi berbagai
isu ekonomi yang berkaitan dengan tarif rumah sakit, baik pemerintah maupun
swasta.Pada prinsipnya tarif yang ada, cost-recovery-nya tidak memungkinkan rumah
sakit pemerintah untuk berkembang.
Kebutuhan untuk berkembang ini semakin tinggi karena persaingan antar rumah
sakit semakin besar. Fenomena yang menarik, yaitu adanya rumah sakit yang tidak
mampu mengembangkan diri, ibarat seseorang yang masuk lumpur pasir, semakin
berusaha akansemakin terpuruk. Jika suatu rumah sakit secara ekonomis tidak menarik
bagi stafnya, mutu pelayanan akan semakin turun. Hal ini berakibat menurunnya jumlah
pasien atau melayani pasien yang terbatas kemampuan membayar dan tuntutannya.