Anda di halaman 1dari 8

ETIKA PROFESI DAN TATA KELOLA KORPORAT

STUDI KASUS
WORLDCOM

Disusun Oleh :

1. Muhammad Hasanuddin Tuasamu


2. Richard Sibarani
3. Sulaiman

16.19.0231
16.19.0234
16.19.0237

PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI


SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI INDONESIA
SURABAYA
2016

Kata Pengantar

Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Esa, akhirnya kami dapat menyelesaikan
makalah studi kasus ini. Dalam makalah ini, kami membahas tentang seluk beluk kasus
WorldCom dan hubungannya dengan Etika Profesi. Makalah ini bertujuan untuk
memenuhi tugas perkuliahan dalam mata kuliah Etika Profesi dan Tata kelola korporat
serta menjadi bahan bacaan dan renungan dalam mempersiapkan diri menjadi seorang
akuntan profesioanl
Kami menyadari bahwa makalah ini tidak lepas dari kekurangan. Untuk itu kritik
dan saran yang membangun dari dosen dan mahasiswa sangat kami butuhkan sebagai
bahan masukan dalam pembuatan makalah makalah lain kedepannya.
Semoga makalah ini menjadi salah satu andil dalam mencerdaskan kehidupan
bangsa dan dapat membantu membangun moral kami sehingga bias menjadi professional
yang menjunjung etika dan moral. Amin.

TIM PENYUSUN

KASUS WORLDCOM

1. DESKRIPSI PERUSAHAAN
Worldcom pada awalnya merupakan perusahaan penyedia layanan telpon jarak
jauh. Selama tahun 90an perusahaan ini melakukan beberapa akuisisi terhadap
perusahaan telekomunikasi lain yang kemudian meningkatkan pendapatnnya dari $152
juta pada tahun 1990 menjadi $392 milyar pada 2001, yang pada akhirnya menempatkan
worldcom pada posisi ke 42 dari 500 perusahan lainnya menurut versi majah fortune.

Akuisisi yang besar telah terjadi pada tahun 1998 pada saat worlcom mengambil
alih perusahaan MCI yaitu peruahaan kedua terbesar di Amerika yang bergerak pada
bidang telekomunikasi jarak jauh. Dan pada tahun yang sama Worldcom membeli
perusahaan UUNet, Compuserve, dan jaringan data AOL (american Online) yang
mengukuhkan posisi Worldcom menjadi operator no 1 dalam infrastruktur internet.
2. GAMBARAN UMUM KASUS
Pada tahun 1990 terjadi masalah fundamental ekonomi pada WorldCom yaitu
terlalu besarnya kapasitas telekomunikasi. Masalah ini terjadi karena pada tahun 1998
Amerika mengalami resesi ekonomi sehingga permintaan terhadap infrastruktur internet
berkurang drastis. Hal ini berimbas pada pendapatan WorldCom yang menurun drastis
sehingga pendapatan ini jauh dari yang diharapkan.
Nilai pasar saham perusahaan Worldcom turun dari sekitar 150 milyar dollar
(januari 2000) menjadi hanya sekitar $150 juta (1 juli 2002). Keadaan ini mebuatan pihak
manajemen berusaha melakukan praktek-praktek akuntansi untuk menghindari berita
buruk tersebut.
3. PRAKTIK AKUNTANSI TIDAK SEHAT
Dalam laporannya pada 25 Juni Worldcom mengakui bahwa perusahan
mengklasifikasikan lebih dari $ 3,8 milyar untuk beban jaringan sebagai
pengeluaran modal. Beban jaringan adalah beban yang dibayar oleh Worldcom kepda
perusahaan lain untuk jaringan telekomunikasi, seperti biaya akses dan biaya pengiriman
pesan bagi Worldcom. Dilaporkan sekitar $ 3,005 milyar telah salah diklasifiksi pada
tahun 2001, sementara sisanya sekitar $ 797 juta pada triwulan pertama tahun
2002.berdasarkan data Worldcom $14,7 milyar pad tahun 2001 disajikan sebagai biaya.

Dengan memindahkan akun beban kepada akun modal, Worldcom mampu


menaikkan pendapatan atau laba. Worldcom mampu menaikan laba karena akun beban
dicatat lebih rendah, sedangkan akun aset dicatat lebih tinggi karena beban kapitalisasi
disajikan sebagai beban investasi. Kalau hal itu tidak terdeteksi praktek ini akan berakibat
pendapatan bersih yang lebih rendah dalam tahun-tahun brikutnya. Karena beban
kapitalisasi jaringan tersebut akan didepresiasikan.secara esensi beban kapitalisasi
jaringan akan memungkinkan perusahaan untuk mengalokasikan biyanya dalam beberapa
tahun dimasa depan, mungkin antara 10 tahun bahkan lebih.
Secara umum, pelanggaran-pelanggaran dan perilaku tidak etis yang dilakukan
WorldCom antara lain :
Penggelembungan tersebut terjadi karena adanya praktik akuntansi yang
keliru dan manipulasi laporan keuangan oleh pihak manajemen puncak
perusahaan;
b. Praktik akuntansi yang keliru ini dapat terealisasi karena dibantu oleh
eksternal Arthur Andersen dan staf akuntansi perusahaan tersebut;
c. Selain praktik akuntansi yang keliru, CEO WorldCom juga menggunakan
uang pereusahaan untuk kepentingan pribadi.
a.

Dari poin pelanggaraan diatas, diketahui bahwa WorldCom melakukan


penggelembungan angka pada periode berjalan. Cara manajemen WorldCom melakukan
penggelembungan yaitu :

Biaya jaringan yang telah dibayarkan pihak worldcom kepada pihak ketiga
dipertanggungjawabkan dengan tidak benar. Dimana biaya jaringan yang
seharusnya dibebankan dalam laporan laba rugi, oleh perusahaan dibebankan
ke rekening modal. Hal ini mengakibatkan laba periode berjalan menjadi lebih
besar dari laba yang sebenarnya didapat oleh perusahaan. Dengan cara ini
worldcom mampu meningkatkan keuntungannya hingga $ 3.85 M
b. Dana cadangan untuk beberapa biaya operasional dinaikkan oleh perusahaan.
Dana cadangan yang sudah terbentuk, nantinya akan dikurangi secara tidak
benar oleh perusahaan untuk memanipulasi jumlah keuntungan yang diperoleh
perusahaan pada periode berjalan. Dengan praktik ini, Worldcom berhasil
memanipulasi keuntungannya sebesar $ 2 M.
a.

Berdasarkan poin tersebut, penyajian beban jaringan sebagai pengeluaran modal


ditemukan oleh auditor Cynthia Cooper. Mei 2002 Auditor Cynthia Cooper
mendiskusikan masalah tersebut kepada kepala keuangan Worldcom Scott D. Sullivan

dan controller perusahaan saat itu David F. Myers. Cooper melaporkan masalah tersebut
pada kepala komite audit Max Bobbitt, sekitar 12 Juni. Yang kemudian Max Bobbitt
meminta kepada KPMG selaku eksternal auditor saat itu untuk melakukan investigasi.
Kepala keuangan worldcom diminta untuk mengkoreksi salah saji/salah
pengklasifikasiannya. Setelah berdiskusi lebih lanjut Scott D. Sullivan dipecat pada saat
Worldcom mengadakan pengumuman. Pada hari yang sama David F. Myers
mengundurkan diri. Dilaporkan bahwa Sullivan tidak pernah mengkonsultasikan
penyajian tersebut kepada Artuhr Anderson selaku auditor eksernal pada tahun 2001. dan
Arthur Anderson pun menyatakan bahwa Sullivan tidak pernah berkonsultasi dengan nya.
Pada tanggal 15 Juli,Tauzi yang merupakan House Energy and Commerce
Committee mengatakan bahwa berdasarkan dokumen-dokumen internal dan email
Worldcom mengindikasikan bahwa sebenarnya pihak eksekutif sudah mengetahui salah
saji tersebut sejak awal.
Internal auditor adalah pertahanan awal terhadap kesalahan paktek-praktek
akuntansi dan kecurangan akuntansi. Satu pertanyaan kepada Internal Auditor Worldcom
adalah kenapa butuh waktu lama (1 tahun) untuk mengungkap salah saji ini. Padahal
mengingat nilai kapitalisasi yang begitu besar dan pengaruhnya terhadap nilai pendapatan
bersih dan total aktiva harusnnya bisa diungkap lebih cepat.
4. DAMPAK KASUS WORLDCOM
Dampak akibat kasus WorldCom sangat besar dan multidimensional. Secara ringkas
dampaknya antara lain :
a. Nilam saham WorldCom anjlok dari US$ 64.5 per lembar saham, menjadi
US$ 2 per lembar saham, kemudian anjlok lagi hingga mencapai kurang dari 1
sen per lembar saham.
b. Para pegawai mengalamai kerugian dana pensiun. Pada akhir tahun 2000,
sekitar 32 % atau US$642.3 juta dana pensiun pegawai berupa saham.
c. Adanya PHK missal terhadap karyawan WorldCom yakni sekitar 17.000
karyawan diberhentikan dari total 85.000 karyawan.
d. Worldcom akhirnya mengalami kebangkrutan. Kebangkrutan ini merupakan
salah satu kebangkrutan paling besar di Amerika Serikat.
e. Bernie Ebbers dan Scott Sulivan didakwa dengan hukuman penjara 25 tahun.

5. ANALISIS KASUS

5.1.

Alasan terjadinya adanya pelanggaran


Dari hasil analisis kasus, adanya pelanggaran etika bisnis pada perusahaan
WorldCom terjadi karena beberapa faktor, antara lain :

Faktor Uang: Adanya iming-iming uang dan bonus yang besar bagi para
akuntan jika mereka mau bekerja sama dengan pihak manajemen untuk
memanipulasi laporan keuangan.

Fak;tor Tekanan: Adanya tekanan dari atasan untuk memanipulasi laporan


kaunagan. Yangmana jika tidak dituruti akan mengakibatkan para akuntan
dipecat.

Faktor Budaya Perusahaan: Budaya perusahaan, yang menghalalkan segala


cara untuk dapat memperoleh penghasilan, agar perusahaan tetap terlihat baik
dimata publik dan harga saham perusahaan tidak turun drastis.

Faktor Pengendalian Internal: Lemahnya pengendalian internal perusahaan,


sehingga tindakan manipulasi dan kecurangan dapat terjadi dalam perusahaan.

Faktor Kesempatan : Adanya kesempatan untuk memanipulasi LK worldcom,


dimana dalam hal ini semua pihak dari manajemen puncak hingga staf
akuntansi dapat diajak bekerja sama untuk memanipulasi LK perusahaan.

Faktor Etika : Kurangnya etika profesi akuntansi, para akuntan yang bekerja
di worldcom tidak berpegang teguh pada etika profesi akuntansi ataupun
GAAP, sehingga mereka bersedia untuk melakukan tindakan yang melanggar
kegiatan kode etik profesi akuntansi.

Faktor- factor diatas adalah factor yang paling sering mempengaruhi para
akuntan dalam melakukan kecurangan dan perilaku-perilaku tidak etis dalam
pekerjaan mereka. Untuk itu, alangkah baiknya setiap manajemen dari perusahaan
manapun di dunia, bias meminimalisir peluang adanya factor-faktor tersebut agar
tidak terjadi lagi kasus seperti Enron dan WorldCom.

5.2.

Pelanggaran WorldCom dilihat dari Etika Profesi


Tuntutan profesional sangat erat hubungannya dengan suatu kode etik untuk
masing-masing profesi. Kode etik itu berkaitan dengan prinsip etika tertentu yang
berlaku untuk suatu profesi. WorldCom yang melakukan kecurangan telah
melanggar prinsip-prinsip etika profesi, antara lain.
a. Prinsip Tanggung Jawab
Prinsip ini menekankan bahwa seorang professional haruslah bertanggung
jawab dalam melakukan pekerjaannya. Dari kasus WorldCom, bisa dilihat
bahwa beberapa oknum staf akuntansi di perusahaan melakukan praktik tidak
bertanggung jawab dengan melakukan praktik akuntansi yang sesuai dengan
kaidah.
b. Prinsip Integritas Moral
Prinsip ini menekankan bahwa setiap profesioanl haruslah memiliki integritas
yang tinggi dan moral yang luhur. Dari kasus Worlcom, bias dilihat bahwa
CEO perusahaan yang seharusnya berintegitas dan menjadi contoh bagi
bawahannya, malah menggunakan uang perusahaan untuk kepentingan pribadi
yang jelas jelas melanggar prisip integritas moral.

KESIMPULAN

Profesi akuntan adalah profesi yang sangat penting dan beresiko. Akuntan bisa
mengakibatkan dampak yang begitu besar jika tergoda melakukan praktik praktik
akuntansi yang tidak jujur. Seperti kasus WorldCom diatas, setiap professional khususnya
akuntan, harus menyadari bahwa mereka adalah seorang professional yang harusnya
bekerja dengan tetap berpedoman pada kode etik dan prinsip-prinsip etika profesi. Kasus
WorldCom menjadi pelajaran bahwa sebagai seorang professional, kita harus bekerja
secara professional juga agar tidak mengakibatkan kerugian bagi orang lain.