Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

TRIAS ASFIKSIA

Pembimbing
Dr.dr. Ahmad Yudianto, Sp.F, M.Kes.,S.H.

Disusun Oleh :
Maulida Angraini
201410401011036
ILMU KEDOKTERAN FORENSIK
RS BHAYANGKARA PORONG
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2015

LEMBAR PENGESAHAN
MAKALAH
TRIAS ASFIKSIA

Makalah dengan judul Trias Asfiksia telah diperiksa dan disetujui sebagai salah satu
tugas dalam rangka menyelesaikan studi kepaniteraan Dokter Muda di bagian Ilmu
Kedokteran Forensik.

Surabaya, 22 Januari 2016


Pembimbing

Dr. dr. Ahmad Yudianto, Sp.F, M.Kes.,S.H.

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb.
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkat dan rahmat-Nya, penulis telah menyelesaikan penyusunan referat dan responsi
dengan topik Trias Asfiksia.
Penyusunan makalah ini bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat
kelulusan pada program pendidikan profesi dokter pada Fakultas Kedokteran
Universitas Muhammadiyah Malang yang dilaksanakan di RS Bhayangkara Porong.
Ucapan terima kasih kepada Dr. dr. Ahmad Yudianto, Sp.F, M.Kes.,S.H.
selaku dokter pembimbing terima kasih atas bimbingan, saran, petunjuk dan
waktunya serta semua pihak terkait yang telah membantu sehingga penulis dapat
menyelesaikan penyusunan makalah ini.
Penulis menyadari penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.
Dengan kerendahan hati, penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya dan
mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Semoga penyusunan makalah ini
dapat bermanfaat bagi semua pihak.
Wassalamualaikum Wr.Wb.

Surabaya, Januari 2016

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Proses kematian merupakan proses pada tubuh manusia menjadi mayat.
Hilangnya suplai oksigen mengakibatkan terjadinya perubahan yang signifikan dalam
beberapa jam. Dokter memiliki kewajiban membantu penyidik dan penyelidik saat
dibutuhkan. Hal ini mewajibkan dokter mengetahui sebab dancara kematian dengan
benar. Namun banyaknya tanda-tanda dan gejala yangbervariasi setelah kematian
menyebabkan saat kematian seseorang belumdapat ditunjukan secara tepat. Tanda
atau gejala yang ditunjukan dipengaruhioleh beberapa hal diantaranya, umur, kondisi
fisik pasien, penyakit sebelumnya, keadaan lingkungan mayat, sebelumnya makanan
maupun penyebab kematian itu sendiri.
Salah satu penyebab kematian adalah terjadinya gangguan pertukaran udara
pernafasan yang mengakibatkan suplai oksigen berkurang. Hal ini sering dikenal
dengan istilah asfiksia, Korban kematian akibat asfiksia termasuk yang sering
diperiksa oleh dokter, hal tersebut menempati urutan ketiga setelah kecelakaan lalu
lintas dan traumatik mekanik.
Pada berbagai kasus asfiksia, ditemukan tanda-tanda kematian yang berbeda.
Hal ini sangat tergantung dari penyebab kematian. Untuk itu kita perlu memahami
lebih lanjut tentang penyebab asfiksia tersebut.
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Tujuan Umum
Setelah membaca makalah ini diharapkan mahasiswa dapat memahami
apayang dimaksud dengan asfiksia, bagaimana klasifikasi dan cara mendiagnosis,
sertaberbagai hal lain yang berhubungan dengan asfiksia yang diharapkan dapat
bergunadalam menentukan sebab dan waktu pada suatu kasus kematian.

1.3.2

Tujuan khusus
1. Mengetahui definisi dari asfiksia
2. Mengetahui etiologi dari asfiksia
3. Mangetahui gejala dan tanda pada jenazah dengan sebab kematian
asfiksia
4. Mengetahui tipetipe asfiksia
5. Mengetahui klasifikasi asfiksia berdasarkan penyebabnya

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Asfiksia
Asfiksia merupakan istilah yang sering digunakan untuk menyatakan
berhentinya respirasi yang efektif (cessation of effective respiration) atau ketiadaan
kembang kempis (absence of pulsation). Menurut Dorland's Illustrated Medical
Dictionary, asfiksia (asphyxia; Gr. a stopping of the pulse) didefinisikan sebagai
suatu perubahan patologis yang disebabkan oleh karena kekurangan oksigen pada
udara respirasi, yang menimbulkan keadaan hipoksia dan hiperkapnea. Namun
pengertian

asfiksia

dan

anoksia

(atau

lebih

tepatnya

hipoksia)

sering

dicampuradukkan. Maka, sebelum membahas masalah asfiksia lebih lanjut, perlu


dipahami terlebih dulu tentang definisi anoksia. 1
Anoksia adalah suatu keadaan dimana tubuh sangat kekurangan oksigen.
Klasifikasi anoksia oleh Gordon dibagi menjadi 4 golongan berdasarkan penyebabnya
yaitu : 1
1.

Anoksia anoksik (anoxic anoxia), merupakan keadaan anoksia yang

disebabkan karena oksigen tidak dapat mencapai darah sebagai akibat kurangnya
oksigen yang masuk paru-paru, misalnya: hanging, pencekikan, suffocation kematian.
2.
Anoksia Anemik (anemic anoxia), merupakan keadaan anoksia karena darah
kurang mampu menyerap oksigen. Misalnya: anemia, keracunan karbon monoksida,
klorat, nitrat.
3.
Anoksia Stagnan (stagnant anoxia), sering juga disebut sebagai circulatoir
anoxia, merupakan keadaan anoksia yang disebabkan karena darah tidak mampu
membawa oksigen ke jaringan, misalnya: heart failure, embolism, syok, stroke.
4.
Anoksia Histotoksik (histotoxic anoxia), yaitu keadaan anoksia yang
disebabkan karena jaringan tidak mampu menyerap oksigen, misalnya pada kasus
keracunan sianida.
Dengan melihat keempat jenis anoksia di atas, ketiga jenis anoksia yang
terakhir (yaitu anoksia anemik, stagnan dan histotoksik) disebabkan oleh penyakit

atau keracunan, sedang anoksia yang pertama (yaitu anoksia anoksik) disebabkan
kekurangan oksigen atau obstruksi mekanik jalan nafas.
Asfiksia sebenarnya adalah anoksia anoksik, atau sering juga disebut asfiksia
mekanik (mechnical asphixia).
2.2 Etiologi Asfiksia
Dari segi etiologi, asfiksia dapat disebabkan oleh hal berikut: 2
a. Penyebab alamiah, misalnya penyakit yang menyumbat saluran pernapasan
seperti laringitis difteri atau menimbulkan gangguan pergerakan paru seperti
fibrosis paru.
b. Trauma mekanik yang menyebabkan asfiksia mekanik, misalnya trauma yang
mengakibatkan emboli udara vena, emboli lemak, pneumotoraks bilateral;
sumbatan atau halangan pada saluran napas, penekanan leher atau dada, dan
sebagainya.
c. Keracunan bahan kimiawi yang menimbulkan depresi pusat pernapasan,
misalnya karbon monoksida (CO) dan sianida (CN) yang bekerja pada tingkat
molekuler dan seluler dengan menghalangi penghantaran oksigen ke jaringan.
2.3 Patofisiologi Asfiksia
Dari pandangan patologi, kematian akibat asfiksia dapat dibagi dalam 2 golongan,
yaitu: 2
1. Primer (akibat langsung dari asfiksia)
Kekurangan oksigen ditemukan di seluruh tubuh, tidak tergantung
pada tipe dari asfiksia. Sel-sel otak sangat sensitif terhadap kekurangan
oksigen. Bagian-bagian otak tertentu membutuhkan lebih banyak oksigen,
dengan demikian bagian tersebut lebih rentan terhadap kekurangan oksigen.
Perubahan yang karakteristik terlihat pada sel-sel serebrum, serebellum, dan
basal ganglia.
Di sini sel-sel otak yang mati akan digantikan oleh jaringan glial,
sedangkan pada organ tubuh yang lain yakni jantung, paru-paru, hati, ginjal

dan yang lainnya perubahan akibat kekurangan oksigen langsung atau primer
tidak jelas.
2. Sekunder (berhubungan dengan penyebab dan usaha kompensasi dari tubuh)
Jantung berusaha mengkompensasi keadaan tekanan oksigen yang
rendah dengan mempertinggi outputnya, akibatnya tekanan arteri dan vena
meninggi. Karena oksigen dalam darah berkurang terus dan tidak cukup untuk
kerja jantung, maka terjadi gagal jantung dan kematian berlangsung dengan
cepat. Keadaan ini didapati pada:

Penutupan mulut dan hidung (pembekapan).

Obstruksi jalan napas seperti pada mati gantung, penjeratan, pencekikan


dan korpus alienum dalam saluran napas atau pada tenggelam karena
cairan menghalangi udara masuk ke paru-paru.

Gangguan gerakan pernafasan karena terhimpit atau berdesakan


(Traumatic asphyxia).

Penghentian primer dari pernafasan akibat kegagalan pada pusat


pernafasan, misalnya pada luka listrik dan beberapa bentuk keracunan.

2.4 Trias Asfiksia


Jenazah yang meninggal karena proses asfiksia dapat dikenali melalui tanda
umum asfiksia.

Tanda-tanda umum asfiksia dapat dilihat melalui: gejala klinis

asfiksia dan tanda pada jenazah asfiksia. Pada umumnya manusia yang telah
meninggal berada dalam posisi lebam dan kaku, diikuti tanda pada jenazah asfiksia
secara umum yaitu: 3
a. Tardieus spot (Petechial hemorrages)
Tardieus spot terjadi karena peningkatan tekanan vena secara akut
yang menyebabkan overdistensi dan rupturnya dinding perifer vena,
terutama pada jaringan longgar, seperti kelopak mata, dibawah kulit
dahi, kulit dibagian belakang telinga, circumoral skin, konjungtiva dan
sklera mata. Selain itu juga bisa terdapat dipermukaan jantung, paru
dan otak. Bisa juga terdapat pada lapisan viseral dari pleura,
perikardium, peritoneum, timus, mukosa laring dan faring, jarang pada
mesentrium dan intestinum.
b. Kongesti dan Oedema
Ini merupakan tanda yang lebih tidak spesifik dibandingkan dengan
ptekie. Kongesti adalah terbendungnya pembuluh darah, sehingga
terjadi akumulasi darah dalam organ yang diakibatkan adanya
gangguan sirkulasi pada pembuluh darah. Pada kondisi vena yang
terbendung, terjadi peningkatan tekanan hidrostatik intravaskular
(tekanan yang mendorong darah mengalir di dalam vaskular oleh kerja
pompa jantung) menimbulkan perembesan cairan plasma ke dalam
ruang interstitium. Cairan plasma ini akan mengisi pada sela-sela
jaringan ikat longgar dan rongga badan (terjadi oedema).
c. Sianosis
Merupakan warna kebiru-biruan yang terdapat pada kulit dan selaput
lendir yang terjadi akibat peningkatan jumlah absolut Hb tereduksi
(Hb yangtidak berikatan dengan O2). Ini tidak dapat dinyatakan

sebagai anemia, harus ada minimal 5 gram hemoglobin per 100 ml


darah yang berkurang sebelum sianosis menjadi bukti, terlepas dari
jumlah total hemoglobin. Pada kebanyakan kasus forensik dengan
konstriksi leher, sianosis hampir selalu diikuti dengan kongesti pada
wajah, seperti darah vena yang kandungan hemoglobinnya berkurang
setelah perfusi kepala dan leher dibendung kembali dan menjadi lebih
biru karena akumulasi darah.
Pada orang yang mengalami asfiksia akan timbul gejala klinis yang dapat
dibedakan dalam 4 fase, yaitu: 4
1. Fase dispnea
Penurunan kadar oksigen sel darah merah dan penimbunan CO2 dalam plasma
akan merangsang pusat pernapasan di medula oblongata, sehingga amplitudo dan
frekuensi pernapasan akan meningkat, nadi cepat, tekanan darah meninggi dan
mulai tampak tanda-tanda sianosis terutama pada muka dan tangan. Gejala-gejala
tersebut terjadi akibat rangsangan pusat pernapasan di medulla oleh kurangnya
oksigen pada sel-sel darah merah disertai penumpukan kadar CO2
2. Fase konvulsi
Akibat kadar CO2 yang naik maka akan timbul rangsangan terhadap susunan saraf
pusat

sehingga terjadi konvulsi, dimulai dengan kejang klonik, kemudian

menjadi kejang tonik dan akhirnya timbul spasme opistotonik. Pupil dilatasi,
denyut jantung menurun, tekanan darah juga turun. Hal ini disebabkan adanya
paralisis pada pusat syaraf yang letaknya lebih tinggi.
3. Fase apnea
Depresi pusat pernapasan menjadi lebih hebat, pernapasan melemah dan dapat
berhenti .Kesadaran menurun

dan akibat relaksasi sfingter dapat terjadi

pengeluaran cairan sperma, urin dan tinja.


4. Fase akhir (terminal stage)
Terjadi paralisis pusat pernapasan yang lengkap dari pusat pernapasan. Sebelum
pernapasan berhenti sama sekali dapat terlihat gerakan napas oleh otot-otot
pernapasan sekunder.

10

2.5 Klasifikasi Asfiksia


Asfiksia dibagi menjadi 3 jenis: 5
1. Asfiksia Mekanis (karena kekerasan)
Asfiksia mekanis terbagi lagi berdasarkan daerah di tubuh:
a. di daerah hidung/mulut, disebabkan oleh:

smothering (pembekapan)

gagging (penyumpalan di orofaring)

chocking (penyumpalan di laringofaring)

b. di daerah leher

manual strangulation/throttling

strangulation by ligature

hanging

c. di daerah dada dan perut

Traumatik asfiksia/crush asphyxia

2. Asfiksia Non Mekanis/Sufokasi


3. Asfiksia Tenggelam
2.6 Tanda Khusus Asfiksia
Didapati sesuai dengan jenis asfiksia, yaitu: 3
a. Pada pembekapan, kelainan terdapat disekitar lobang hidung dan
mulut. Dapat berupa luka memar atau lecet. Perhatikan bagian di
belakang bibir luka akibat penekanan pada gigi, begitu pula di
belakang kepala atau tengkuk akibat penekanan. Biasanya korban
anak-anak atau orang yang tidak berdaya. Bila dilakukan dengan
bahan halus, kadang-kadang sulit mendapatkan tanda-tanda kekerasan.
b. Mati tergantung. Kematian terjadi akibat tekanan di leher oleh
pengaruh berat badan sendiri. Kesannya leher sedikit memanjang,
dengan bekas jeratan di leher. Ada garis ludah di pinggir salah satu
sudut mulut. Bila korban cukup lama tergantung, maka lebam mayat

11

didapati di kedua kaki dan tangan. Namun bila segera diturunkan,


maka lebam mayat akan didapati pada bagian terendah tubuh. Muka
korban lebih sering pucat, karena peristiwa kematian berlangsung
cepat, tidak sempat terjadi proses pembendungan. Pada pembukaan
kulit di daerah leher, didapati resapan darah setentang jeratan,
demikian juga di pangkal tenggorokan dan oesophagus. Tanda-tanda
pembendungan seperti pada keadaan asfiksia yang lain juga didapati.
Yang khas disini adalah adanya perdarahan berupa garis yang letaknya
melintang pada tunika intima dari arteri karotis interna, setentang
dengan tekanan tali pada leher.
Tanda-tanda diatas tidak didapati pada korban yang digantung setelah
mati, kecuali bila dibunuh dengan cara asfiksia. Namun tanda-tanda di
leher tetap menjadi petunjuk yang baik.

12

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Asfiksia adalah istilah yang sering digunakan untuk menyatakan berhentinya
respirasi yang efektif (cessation of effective respiration)atau ketiadaan kembang
kempis (absence of pulsation).
Asfiksia sering dirancukan dengan Anoksia/Hipoksia, namun yang disebut
Asfiksia adalah Anoksia Anoksik yaitu keadaan Anoksia yang disebabkan oleh
kekurangan oksigen yang memasuki paruparu ataupun obstruksi mekanik pada jalan
napas.
Asfiksia menjadi salah satu cara kematian baik dalam kejadian kecelakaan,
bunuh diri, ataupun pembunuhan. Bunuh diri ataupun pembunuhan dengan teknik
-teknik asfiksia cukup banyak dilakukan karena dapat dilakukan dengan alatalat
yang sederhana, kematian berlangsung secara cepat, dan meninggalkan bekas luka
(ataupun ceceran darah) yang minimal.
Penyebab-Penyebab kematian yang tergolong dalam asfiksia antara lain
Gantung (hanging), Jeratan dengan tali (Striangulation by Ligature), Cekikan
(Manual Striangulation), Sufokasi, Pembekapan (Smothering), Penyumpalan
(Choking / Gaging), Crush Asphyxia, dan Tenggelam, sedangkan cara kematian pada
kejadian asfiksia dapat terjadi akibat kecelakaan, bunuh diri, ataupun pembunuhan.3,6,7
Kematian akibat asfiksia dapat dikenali dari tandatanda umum pada jenazah
yang meninggal akibat asfiksia, antara lain Cyanosis (darah menjadi lebih encer dan
gelap karena kekurangan oksigen, warna kulit, mukosa, dan lebam mayat menjadi
lebih gelap, kecuali pada kematian akibat keracunan CO), Kongesti Vena (kongesti
khas pada asfiksia yaitu kongesti sistemik yang yang terjadi pada kulit dan organ lain,
kongesti vena juga berdampak menjadi petechial haemorraghes), dan Edema (akibat
kerusakan dari pembuluh darah kapiler).

13

DAFTAR PUSTAKA
1. Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.
Tanya Jawab Ilmu Kedokteran Forensik, Edisi Kedua. Jakarta : 2010
2. Iedris M, dr., Tjiptomartono A.L, dr., Asfiksia., Penerapan Ilmu Kedokteran
Forensik dalam Proses Penyidikan., Sagung Seto., Jakarta: 2008.
3. Amir A, Rangkaian Ilmu Kedokteran Forensik, ed 2, Bagian Ilmu Kedokteran
Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara,
Medan, 2007.
4. Darmono, Farmasi Forensik Dan Toksikologi, Penerapannya Dalam Penyidik
Kasus Tindak Pidana Kejahatan, Universitas Indonesia Press, Jakarta, 2009.
5. Bionity
Team.
Asphyxia.
2009.
Tersedia
di:
http://www.bionity.com/en/encyclopedia/Asphyxia.html.

Diakses

Pada

Tanggal 05 Januari 2012.

14