Anda di halaman 1dari 7

PROPOSAL

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK SOSIALISASI


SESI III: KEMAMPUAN KLIEN BERCAKAP-CAKAP
Tugas ini disusun sebagai salah satu syarat kelulusan dalam Program Profesi Ners Stase
Keperawatan Jiwa

Disususun Oleh:
Gerry Wina Sartika Butar-Butar, S. Kep

PROGRAM PROFESI NERS


JURUSAN ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PELITA HARAPAN
2015

PROPOSAL TERAPI AKTIFITAS KELOMPOK SOSIALISASI


SESI III: KEMAMPUAN KLIEN BERCAKAP-CAKAP
Latar Belakang
Kelompok adalah kemampuan individu yang memiliki hubungan satu dengan
yang lain, saling bergantung dan memiliki norma yang sama (Struart & Laraira, 2001).
Menurut Struart dan Laraira, anggota kelompok datang dari berbagai latar belakang yang
harus ditangani sesuai dengan keadaannya, seperti agresif, takut, kebencian, kompetitif,
kesamaan, ketidaksamaan, ketidaksamaan, kesukaan, dan menarik. Semua kondisi ini
akan memengaruhi dinamika kelompok, ketika anggota kelompok member dan
menerima umpan balik yang berarti dalam berbagai interaksi yang terjadi dalam
kelompok. Kelompok sama dengan individu, mempunyai kapasitas untuk tumbuh dan
berkembang.
Tujuan dari sebuah kelompok adalah membantu anggotanya berhubungan dengan
orang lain serta mengubah perilaku yang destruktif dan maladaptif. adapun fungsi dari
kelompok adalah sebagai tempat berbagi pengalaman dan salaing membantu satu sama
lain, untuk menemukan cara menyelesaikan masalah. Kelompok merupakan tempat
untuk

mencoba

dan

menemukan

hubungan

interpersonal

yang

baik,

serta

mengembangkan perilaku yang adaptif.


Beberapa ahli membedakan kegiatan kelompok sebagai tindakan keperawatan
pada kelompok dan terapi kelompok. Menurut Rawlins, William, dan Beck (1993) dalam
buku Keliat dan Akemat (2004), terpai kelompok terdiri dari tiga yaitu terpai kelompok,
kelompok terapeutik, dan terapi aktifitas kelompok.
Terapi aktivitas kelompok (TAK) merupakan salah satu terapi modalitas yang
dilakukan perawat kepada sekelompok klien yang mempunyai masalah keperawatan
yang sama. Aktivitas digunakan sebagai terapi, dan kelompok digunakan sebagai target
asuhan. Di dalam kelompok terjadi dinamika interaksi yang saling bergantung, saling
membutuhkan, dan menjadi laboratorium tempat klien berlatih perilaku baru yang
adaptif untuk memperbaiki perilaku lama yang maladaptif.
Menurut Keliat dan Akemat (2004), terapi kelompok dibagi menjadi 4, yaitu
TAK stimulasi kognitif/persepsi, TAK stimulasi sensori, TAK stimulasi realita, dan TAK
sosialisasi. Secara khusus penulis akan membhan tentang TAK stimulasi persepsi.
TAK stimulasi persepsi adalah terapi yang menggunakan aktivitas sebagai
stimulus dan terkait dengan pengalaman dan/ atau kehidupan untuk didiskusikan dalam

kelompok. Hasil diskusi kelompok dapat berupa kesepakatan persepsi atau alternatif
penyelesaian masalah.
Pada TAK stimulasi persepsi ini klien di harapkan mampu mengenal stimulasi
maladaptive yang pernah dialami. Kemampuan persepsi klien dievaluasi dan
ditingkatkan. . Dengan proses ini diharapkan respon klien mampu mengenali stimulus
maladaptife yang mengganggunya mulai dari isi halusinasi, waktu terjadi halusinasi,
situasi terjadi halusinasi dan perasaan saat halusinasi.
Landasan teori
Perubahan persepsi sensori : halusinasi adalah satu gejala gangguan jiwa dimana klien
mengalami perubahan persepsi sensori, seperti merasakan sensasi palsu berupa suara,
penglihatan, pengecapan, perabaan atau penghiduan. Klien merasakan stimulus yang
sebetulnya tidak ada (Cook & Fontaine, 1987).
Ada 2 teori yang menjelaskan tentang halusinasi yaitu : teori biokimia dan teori
psikoanalisis. Teori biokimia : halusinasi terjadi sebagai respons metabolisme terhadap
stress yang mengakibatkan terlepasnya zat halusinogenik neurotic. Teori Psikoanalisis :
merupakan respons pertahanan ego untuk melawan rangsangan dari luar yang
mengancam dan ditekan untuk muncul dalam alam sadar.
Jenis-jenis halusinasi : halusinasi dengar, halusinasi penglihatan, halusinasi
penciuman, halusinasi pengecapan dan halusinasi perabaan.
1. Tujuan
a. Tujuan Umum (TUM)
Tujuan umum untuk TAK halusinasi sesi 1 ini adalah klien mampu mengenali
halusinasinya.
b. Tujuan Khusus (TUK)
Menurut Keliat dan Akemat (2004), tujuan khusus TAK halusinasi untuk sesi 1,
yaitu:

a.

1.
Klien dapat mengenal halusinasinya
2.
Klien mengenal waktu terjadinya halusinasi
3.
Klien mengenal situasi terjadinya halusinasi
4.
Klien mengenal perasaannya pada saat terjadi halusinasi
2. Pengorganisasian
a. Struktur organisasi dalam TAK sesi 1 ini antara lain:
1.
Leader
: Benedictus Paskalis Dasit
2.
Co-leader
: Cecilia Ratriani
3.
Fasilitator
: perawat ruangan
4.
Observer
: perawat ruangan dan Benedictus Paskalis Dasit
3. Tugas dan Peran
Leader:
b. Menyusun rencana terapi aktivitas kelompok
c. Mengarahkan kelompok sesuai tujuan

d. Memimpin jalannya terapi aktivitas kelompok dengan tertib


e. Memotivasi anggota untuk aktif selama kegiatan terapi aktivitas kelompok
f. Menetralisir masalah yang mungkn timbul pada saat pelaksanaan
b. Co-leader:
a. Membantu leader mengoraganisasikan kelompok
b. Menyampaikan informasi dari fasilitator ke leader atau sebaliknya
c. Mengingatkan leader jika kegiatan menyimpang
c. Fasilitator :
a. Memfasilitasi media dalam kegiatan terapi aktivitas kelompok
b. Mengatur jalannya aktivitas kelompok
c. Membantu kelompok berperan aktif
d. Berperan sebagai role model bagi klien selama proses aktivitas kelompok
e. Mengantisipasi masalah yang akan terjadi
d. Observer :
a. Mengobservasi respon klien
b. Mencatat perilaku klien selama dinamika kelompok
c. Mencatat semua proses yang terjadi dan melaporkannya
4. Karakteristik Klien
Adapun karakteristik klien yang mengikuti TAK sesi 1 ini antara lain meliputi:
1. Klien dengan halusinasi atau riwayat halusinasi
2. Klien yang sudah mulai kooperatif
3. Klien yang mampu berbicara
4. Jumlah klien 5 orang
5. Metode
Metode yang akan digunakan dalam TAK sesi 1 ini adalah:
1. Diskusi kelompok
2. Bermain peran atau stimulasi
6. Rincian Kegiatan
Adapun rincian kegiatan TAK sesi 1 ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Waktu pelaksanaan
: Pukul 09:00 09.30 WIB
b. Hari / Tanggal
: Kamis, 26 Maret 2015
c. Alokasi Waktu
- Fase Orientasi
: 5 menit
- Fase Kerja
: 20 menit
- Fase Terminasi
: 5 menit
d. Tempat
: Ruang Srikandi
e. Jumlah Klien
: 5 orang
7. Langkah-langkah Kegiatan
1. Persiapan
a. Memilih klien sesuai dengan indikasi yaitu klien dengan perubahan sensori
persepsi : Halusinasi
b. Membuat kontrak dengan klien
c. Mempersiapkan alat dan tempat pertemuan
2. Orientasi
a. Salam terapeutik
1. Salam dari terapis kepada klien
2. Perkenalkan nama dan panggilan terapis (pakai papan nama )
3. Menanyakan nama dan panggiloan semua klien.
b. Evaluasi/ Validasi

Menanyakan perasaan klien saat ini ?


c. Kontrak
1. Terapis menjelaskan tujuan kegiatan yang akan dilaksanakan yaitu mengenal
suara-suara yang di dengar
2. Terapis menjelaskan aturan main berikut :
- Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harus minta izin kepada
terapis
- Lama kegiatan 30 menit
- setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai
3. Tahap kerja
a. Terapis menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan yaitu mengenal suara-suara
yang didengar (halusinasi) tentang isinya, waktu terjadi, situasi terjadinya dan
perasaan klien pada saat terjadi
b. Terapis meminta klien menceritakan isi halusinasi, kapan terjadinya, situasi yang
membuat terjadi, dan perasaan klien pada saat terjadi halusinasi. Mulai dari
klien sebelah kanan, secara berurutan sampai semua klien mendapat giliran.
Hasilnya di tulis di kertas.
c. Berikan pujian kepada klien yang melakukannya dengan baik
d. Simpulkan isi, waktu terjadi, situasi terjadi dan perasaan klien dari suara yang
bisa di dengar
4. Tahap terminasi
a. Evaluasi
1. terapis menanyakan perasaan klien setelah mengikuti TAK
2. terapis memberikan pujian atas keberhasilan kelompok
b. Tindak lanjut
Terapis meminta klien untuk melaporkan isi, waktu, situasi, dan perasaannya
jika terjadi halusinasi kepada perawat
c.Kontrak yang akan datang : Menyepakati untuk melaoprkan apabila muncul
halusinasi dan memberitahukan kepada klien untuk mengikuti TAk lainnya yang
di lakukan oleh perawat ruangan.
8. Evaluasi dan Dokumentasi
a. Evaluasi
Evaluasi dilakukan pada saat TAK berlangsung, khususnya pada tahap kerja.
Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuan TAK. Secara
khusus untuk TAK Halusinasi sesi 1, kemampuan yang diharapkan adalah mengenal
halusinasi, waktu terjadinya halusinasi, situasi terjadinya halusinasi, dan perasaan
saat terjadi halusinasi. Adapun formulir evaluasi sebagai berikut:

Sesi 1: TAK

Stimulasi Persepsi : Halusinasi


Kemampuan mengenal halusinasi
No

1
2
3
4
5

Nama Klien

Yani
Sumi
Iyud
Melva
Sutiarsi

Menyebut isi

Menyebut

Menyebut

Menyebut

halusinasi

waktu terjadi

situasi terjadi

perasaan

halusinasi

halusinasi

saat

halusinasi

Petunjuk:
1. Tulis nama panggilan klien yang ikut TAK pada kolom nama klien
2. Untuk tiap klien, beri penilaian kemampuan mengenal halusinasi: isi,l waktu,
situasi, dan perasaan. Beri tanda jika mampu dan tanda X jika klien tidak
mampu.
b. Dokumentasi.
Dokumentasikan kemampuan yang dimiliki klien saat TAK pada catatan
keperawatan tiap klien. Contoh: klien mengikuti TAK stimulasi persepsi halusinasi
sesi 1. Klien mampu menyebutkan isi halusinasi ( menyuruh memukul), waktu ( pukul
09.00 malam), situasi (jika sedang sendriri), perasaan (kesel dan geram). Anjurkan
klien mengidentifikasi halusinasi yang timbul dan menyampaikan kepada perawat.

Daftar Pustaka
Fitria, N. ( 2010). Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan dan Strategi
Pelaksanaan Tindakan Keperawatan.
Keliat, B.A. dan Akemat. (2004). Keperawatan Jiwa: Terapi Aktifitas Kelompok. Jakarta :
EGC

Struart, G.W., dan Laraia, M.T. (2001). Principles and Practice of Paychiatric Nursing (7th
ed). St. Louis: Mosby Year Book