Anda di halaman 1dari 33

BAHAN KULIAH EKOTOKSIKOLOGI

PERAIRAN

JOHANNES K. HARIANJA
110302068

MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2014

PENDAHULUAN
EKOTOKSIKOLOGI PERAIRAN
Silabus Materi Kuliah :
Memberi pemahaman tentang sumber-sumber, sifat-sifat, serta pengaruh bahan-bahan toksik
terhadap biota perairan melalui pendekatan absorpsi, distribusi, ekskresi, biotransformasi,
metabolisme, serta transformasi fisika dan kimia termasuk juga di dalamnya respon terhadap
bahan-bahan beracun atau toksikan.
Referensi :
1. Connel, D.W. dan G.J. Miller. 1995. Kimia dan Ekotoksikologi Pencemaran.
Terjemahan Koestoer, Y. dan Sahati, UI Press-Jakarta.
2. Darmono. 1995. Logam dalam Sistem Biologi Makhluk Hidup. UI Press-Jakarta.
3. L.U. TC. 1995. Toksikologi Dasar. UI Press-Jakarta.
4. Rompas, R.M. 2010. Toksikologi Kelautan. Wakaw Bengkulen-Jakarta Timur.
Visi :
-

Setelah mempelajari mata kuliah ini, mahasiswa akan dapat mengerti tentang sumber,

sifat, serta pengaruh bahan toksis terhadap biota perairan.


Setelah mempelajari mata kuliah ini, mahasiswa akan mengerti tentang proses
absorpsi (masuknya racun tersebut), disribusi, ekskresi, biotransformasi, metabolisme,
transformasi fisika dan kimia termasuk juga di dalamnya respon terhadap bahanbahan beracun atau toksikan.

Misi :
-

Mempelajari sumber-sumber dan sifat bahan toksik.


Pengaruh bahan toksik terhadap biota.
Mempelajari tentang absorpsi, transformasi atau keseluruhan metabolisme pada biota.
Mempelajari transformasi kimia dan fisika serta respon ekosistem terhadap toksikan.

Produk setelah mempelajari mata kuliah ini : Mahasiswa mampu memahami semua aspek
yang berhubungan dengan keracunan di perairan (Ekotoksikologi Perairan).

Materi Kuliah :
1. Pengertian dan Defenisi Ekotoksikologi

2. Prinsip Dasar Perilaku Pencemar


a. Peralihan Lingkungan
b. Proses Pengangkutan dan Perubahan Akuatik
c. Nasib (Fat) Zat Kimia Beracun di Lingkungan
3. Interaksi Bio dan Pencemar
a. Proses Pengambilan
b. Sistem Pengangkutan Khusus
c. Proses Bioakumulasi
d. Biomagnifikasi
e. Biotransformasi
4. Toksikologi Perairan
a. Kimia dan Biologi
b. Perilaku Racun dalam Makhluk Hidup
c. Aspek Metabolik dan Mekanisme Toksikan
d. Reaksi Toksikologi
e. Pengaruh Lethal dan Sub-Lethal
5. Prinsip Ekotoksikologi
a. Lingkungan Suatu Makhluk dan Keragamannya
b. Pengaruh Umum Pencemar
c. Ekologi Deoksigenasi dan Pengkayaan Makanan
6. Tanggapan Biotik
KULIAH 1
I.

Pengertian dan Defenisi (Terminologi)


Ekotoksikologi berasal dari dua kata yaitu eko dan toksikologi. Eko artinya
lingkungan dan toksikologi (Toxicology) artinya ilmu yang mempelajari tentang
racun-racun yang ada di perairan. Toksikologi berasal dari kata toksik atau toksis yang
artinya racun, toksikan adalah bahan-bahan beracun itu sendiri. Ekologi berasal dari
dua kata yaitu oikos yang artinya rumah tangga dan logos yang artinya ilmu. Jadi,
Pengertian Ekologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara
makhluk hidup dengan lingkungannya, sedangkan Pengertian Ekotoksikologi adalah
ilmu yang mempelajari tentang lingkungan racun yang ada di dalam suatu perairan
atau bisa dikatakan juga ilmu yang mempelajari tentang racun-racun di perairan.
Racun dihasilkan dari (sumber-sumber racun yaitu) : (1) Dari industri dalam suatu
perusahaan, (2) Dari bahan pertanian, (3) Dari industiy rumah tangga. Racun adalah
bahan kimia yang dalam relatif sedikit sudah berbahaya kepada makhluk hidup.
Toksik atau tidaknya suatu zat ditentukan oleh kuantitas zat tersebut, contoh Garam
dapur (NaCl) dalam jumlah banyak akan menjadi toksik bagi tubuh. Kuantitas juga
sangat menentukan yaitu jika dalam jumlah sedikit akan sangat berguna bagi tubuh
manusia untuk melakukan metabolisme. Ada istilah yang disebut dengan kontaminasi
yaitu masuk atau dimasukkannya zat pencemar ke dalam lingkungan yang masih

berada di bawah nilai ambang batas dan tidak membahayakan kepada peruntukkannya
(kepada siapa). Ada juga istilah yang disebut dengan Pencemaran atau keracunan
yaitu masuk atau dimasukkannya bahan atau zat pencemar ke dalam suatu perairan
yang melebihi nilai ambang batas. Chapman, L.H nomor 82 membagi kriteria nilai
ambang batas bahan kimia dalam suatu perairan (suatu zat kapan dikatakan sebagai
pencemar dan dapat mengganggu untuk peruntukannya). Contoh : Air bisa untuk
makhluk hidup yang ada di perairan begitu juga dengan manusia.
Ancaman Perairan
Ada beberapa faktor yang menjadi ancaman bagi suatu perairan yaitu :
1. Air menjadi kotor karena :
a. Adanya nutrien atau nutrisi berlebihan (kandungan N,P dan K berlebihan)
yang dapat membahayakan bagi perairan.
b. Banyak senyawa organik sintetis yang ikut masuk ke dalam perairan dan juga
sampah (plastik juga termasuk ke dalamnya). Plastik dan Ban merupakan
bahan organik, plastik mengandung senyawa polyetilen. Senyawa organik
adalah senyawa ikatan karbon-karbon, contoh : C5H8 (Polysterine). Logam
juga termasuk ke dalamnya mulai dari logam ringan sampai logam berat.
Logam berat (heavy metal) adalah logam yang memiliki densitas lebih besar
atau sama dengan lima sedangkan logam ringan (light metal) adalah logam
yang memiliki densitas lebih kecil atau sama dengan lima. Densitas (Density)
adalah massa jenis suatu benda dibagi dengan berat atom. Contoh senyawa
organik lainnya adalah senyawa hidrokarbon, minyak, lemak. Hidrokarbon
yang utama adalah polysiklik hidromatik (hidrokarbon yang beracun).
Nutrien yang berlebihan bisa dipandang menguntungkan dan bisa juga
merugikan. Sebagai Contoh Jika hara yang berlebihan masuk ke perairan
akibatnya akan terjadi blooming dan menghancurkan plankton tertentu. Tetapi
untuk tumbuhan air, hara yang berlebihan dapat menyebabkan tumbuhan air
bertambah banyak. Tumbuhan air ini merupakan makanan primer atau
makanan pokok bagi ikan-ikan berukuran kecil. Akibatnya akumulasi iakn
semakin meningkat atau semakin tinggi, tangkapan nelayan juga akan semakin
meningkat dan kesejahteraan nelayan juga akan semakin meningkat atau
semakin tinggi (dipandang dari satu segi). Jika dipandang dari segi Tim
Pengelolaan Air, badan air digunakan sebagai sumber air minum dan ada juga
ganggang tertentu yang pertumbuhannya pesat atau cepat sehingga
mengganggu Tim Pengelolaan Air Minum dan juga dapat menganggu

pengelolaan air minum tersebut. Jadi tidak selalu pencemaran tersebut


merugikan, ada juga keuntungannya (profit). Yang dipelajari secara
menyeluruh adalah :
Sumber Pencemar

Per airan

Fisik

Perubahan

Kimia

Air

Makhluk Perairan

Biologi
Peracunan

Manusia

Perubahan yang terjadi tersebut bisa disebabkan oleh adanya peracunan yang sumbernya
berasal dari industry baik industry rumah tangga maupun industry dalam suatu perusahaan.
Sebagai contoh Industri Tepung Tapioka tidak mengandung senyawa logam tetapi memiliki
DO yang cukup tinggi yaitu sekitar 45.000 miligram per liter. DO yang tinggi ini juga akan
mengancam biota atau organisme. yang ada di perairan. BOD yang tinggi juga akan
meningkatkan pencemaran di suatu perairan. BOD minimal dalah 1000 sampai 2000
miligram per liter. Perairan merupakan tumpuan dari pencemaran baik yang berasal dari
udara maupun dari darat. Oleh sebab itu, kita harus menjaga kelestarian wilayah perairan.

KULIAH 2
Prinsip Dasar Perilaku Pencemar
Jalur yang dilewati pengaruh dari bahan pencemar yaitu :
Pencemar (Sifat Fisik, Kimia)
Sumber
Jalur-jalur dan fluktuasi biogeokimia

Transpor/Transformasi
Tingkat Lingkungan

Udara

Air

Tanah/Sedimen

Distribusi
Respon Makhluk Hidup
Makhluk Hidup
Sifat Fisik Polutan

Toksisitas/Kondisi Sub lethal-Lethal

Sifat Biokimia Polutan

Biotransformasi, Bioakumulasi,
Perpindahan rantai makanan

Populasi, Komunitas,
dan Ekosistem
Dinamika Populasi
[Berkembang biak, Imigrasi, Mortalitas]
Perubahan dan Fungsi Ekosistem
[ Diversitas Spesies, Hubungan dengan Pemangsa]
Perubahan Ekosistem
[Fotosintesis, Sirkulasi Hara]
Gambar 1.1. Gambaran diagramatik dampak pencemaran pada komponen dan fungsi
ekosistem almaih (Beberapa sebab kekhasan atau berubah oleh, perubahan, dicirikan
dalam tanda kurung)
Peralihan Lingkungan
Perilaku Pencemar ada hubungannya dengan dinamika lingkungan termasuk air, udara, tanah
dan sedimen (kompartemen-kompartemen udara, air, tanah dan biota). Sifat bahan pencemar
dan bagaimana penyebarannya perlu untuk diketahui begitu juga dengan laju perpindahan zat
kimia dan energi dari kompartemen tersebut. Peralihan Lingkungan dapat diartikan sebagai
bertemunya kompartemen-kompartemen tersebut dan berinteraksi melewati batas umum,
contoh udara ada batasnya dengan air, air ada batasnya dengan tanah dan seterusnya. Bahan
pencemar tersebut melewati/melalui batas peralihan antar kompartemen dan pada akhirnya
tercapailah suatu keseimbangan. Zat kimia akan menerobos batas peralihan antar
kompartemen tersebut kemudian terjadilah perpindahan panas dan perpindahan massa
melewati batas daerah peralihan lingkungan yang dapat dinyatakan sebagai suatu keadaan

keseimbangan/dapat mencapai suatu keseimbangan. Keseimbangan kimia maupun panas


keduanya dianggap hanya dapat terjadi pada daerah batas peralihan.

Proses Pengangkutan
Pengangkutan dan perubahan bentuk pencemar di lingkungan dihubungkan dengan beberapa
hal yaitu (1) sifat-sifat fisika-kimia pencemar, (2) proses pengangkutan di dalam lingkungan,
dan (3) proses perubahan bentuk pencemar. Masuknya suatu zat kimia ke dalam lingkungan
akan menyebabkan perpindahan antar kompartemen untuk membentuk keseimbangan yang
bergantung pada sifat fisika dan kimia zat tersebut. Dengan demikian juga akan merubah sifat
fisika-kimia lingkungan termasuk perairannya. Sebagai contoh, dalam pergerakan suatu zat
kimia yang melewati batas peralihan air tanah, sifat-sifat seperti kelarutan, koefisien partisi
dan panas larutan merupakan faktor-faktor yang nyata. Dinamika dari perpindahan zat kimia
beracun akan dapat menetukan sejauh mana dia bergerak, apakah dia dalam bentuk larutan,
dalam bentuk partikel atau bentuk lain (bentuk DAS). Akhirnya diketahui bahwa terjadi
perubahan bentuk bahan pencemar (bisa berubah secara masing-masing dan bisa juga
berubah secara serentak) yang merubah suatu ekosistem untuk mendegradasi atau
menguraikan. Bahan yang terus tersuspensi di dalam air (sifat fisik tersebut) menentukan
beberapa hal yaitu : (1) Makin tinggi kadar tersuspensi maka makin banyak sinar matahari
yang akan diserap, (2) Air yang banyak mengandung bahan-bahan tersuspensi, dia tidak
homogen seperti air murni tetapi akan membentuk strata-starata. Air yang tersuspensi tinggi

akan mengurangi kadar oksigen (O2). Kadar Oksigen di dalam air tidak bisa melebihi batas
yang sudah ditentukan. Kadar Oksisgen terlarut maksimum adalah 12-14 % dan Luas
permukaan dari bahan tersuspensi bergantung kepada ukuran partikel. Partikel ukuran kecil
lebih luas daripada partikel yang berukuran besar. Keragaman pengaruh permukaan, kation
dan anion, dan senyawa organik dapat diserap pada permukaan partikulet yang kuat terutama
beberapa jenis pestisida dan logam berat. Dengan demikian, pengaruh biologisnya akan
berubah. Dapat diketahui mengapa hewan yang hidup di dasar perairan memiliki logam berat
yang lebih tinggi dibandingkan dengan hewan yang bermigrasi ke permukaan? Dalam
penelitian tentang pertanyaan di atas, kurang dijadikan indikator sebagai bahan pencemar di
sustu perairan. Karena bahan pencenar jatuh ke bawah dan mengendap di bawah sehingga
organisme yang ada di dasar perairan menyerap bahan pencemar tersebut. Bahan yang
tersuspensi menghalangi cahaya untuk masuk ke dalam suatu perairan.

Air Biasa atau


Air Murni

A1

Strata-strata
(menyerap cahaya
yang akan
mengganggu
proses fotosintesis)

A2
A3

NASIB (FAT) Zat Kimia di Lingkungan


Nasib maksudnya disini adalah bahan kimia yang masuk ke dalam lingkungan akan menjadi
seperti apa? Terdapat sejumlah proses lingkungan yang menentukan nasib zat kimia di
lingkungan perairan, atmosfer dan daratan. Perairan merupakan tumpuan bahan pencemar
yang berasal dari udara dan daratan yang akhirnya (ujung-ujungnya) akan masuk kembali ke
perairan. Proses pengangkutan dan perubahan bahan pencemar yaitu :

Yang sangat kompleks terjadi adalah dalam proses metabolisme di dalam tubuh organisme
atau biota yang dapat merusak enzim sehingga merusak biologi.
enzim
Contoh : A + B

C (Normal)

enzim + logam berat


A+ B

Benda-benda asing (senyawa yang aneh-aneh)

Senyawa

ini merupakan senyawa yang berbahaya yang dapat merubah sel-sel tubuh menjadi sel-sel
yang bersifat kanker. Di dalam sel tidak terjadi pembakaran secara langsung dengan oksigen.
Contoh : A + [H]

A [H]

reduksi
A [H]

Proses/ Reaksi ini yang terjadi


A + [H]

di dalam sel.

oksidasi
Perubahan Bentuk dapat digambarkan secara sederhana sebagai berikut :
Tabel 2.1. Kompartemen Lingkungan dan Prosesnya
Kompartemen
Udara

Perpindahan
Perpindahan meteorologis

Perubahan Bentuk
Fotolisis

Difusi dan Dispersi

Oksidasi

Presipitasi/Jatuhan

Air

Tanah

Penyerapan

Fotolisis

Penguapan

Hidrolisis

Pengambilan Biologis

Oksidasi

Penyerapan dan Sedimen

Metabolisme/Biodegradasi
Hidrolisis

Aliran

Oksidasi

Penguapan

Fotolisis

Pencucian

Reduksi

Pengambilan Biologis
Metabolisme/Biodegradasi
Sumber : Mill (1980). Dicetak ulang dengan izin dari Ann Arbor Science Publishers,Inc.

Tabel 2.2. Proses di Lingkungan dan Sifat-sifatnya


Proses

Sifat-sifat

Perpindahan Fisik
Perpindahan Meteorologis

Kecepatan angin

Pengambilan Biologis
Penyerapan

Biomassa
Kandungan organik tanah atau sedimen,

Volatilisasi

kandungan massa sistem perairan


Gerakan perputaran, laju penguapan,
koefisien aerasi kembali kandungan organik

Aliran
Pencucian
Jatuhan
Kimiawi
Fotolisis

tanah
Laju Presipitasi
Koefisien penyerapan (adsorpsi)
Kepekatan partikulat, kecepatan angin

Oksidasi
Hidrolisis

Penyinaran matahari, transmisivitas air atau


udara
Kepekatan oksidan dan penghambat
pH, kebasaan atau keasaman tanah atau

Reduksi

sedimen
Kepekatan oksigen, kepekatan ion besi dan
keadaan pengompleksan

Biologis
Biotransformasi

Populasi

mikroorganisme

dan

tingkat

aklimasi
Sumber : Mill (1980). Dicetak ulang dengan izin dari Ann Arbor Science Publishers,Inc.

KULIAH 3
Daya Tahan Bahan Pencemar di Lingkungan
Bahan Pencemar pada suatu kompartemen akan mengalami pencemaran pada saat setengah
bagian dari lingkungan tersebut hilang atau yang dinyatakan dengan waktu paruh dan waktu
paruh tersebut mencirikan daya tahan suatu pencemar di lingkungan dan bila terjadi
penambahan yang berkesinambungan ke suatu kompartemen, misalnya ke tempat
pembuangan limbah ke sungai. Waktu Paruh adalah waktu yang dibutuhkan untuk
menghilangkan setengah dari lingkungan tersebut yang dilambangkan dengan T atau T/2.
Dalam hal itu, daya tahan tersebut diukur sebagai kepekatan keseimbangan proses pemasukan
dan pengeluaran.
Pengaruh Penyerapan Bahan Kimia
Sifat bahan kimia di lingkungan mencakup beberapa mekanisme, misalnya penyerapan dapat
balik baik pada sedimen tanah maupun partikulet yang lain. Laju pengurangan suatu senyawa
merupakan pengaruh bersih laju penyerapan suatu kompartemen, bila kepekatan yang tinggi
maka penyerapan akan lebih lama. Untuk mengetahui perilaku pencemar, kita perlu
mengetahui pengertian dari kelarutan. Kelarutan didefenisikan sebagai sampai batas mana
suatu zat kimia bercampur dengan suatu cairan membentuk satu sistem yang homogen.
Kelarutan air adalah suatu sifat yang hakiki untuk suatu pencemar dan merupakan faktor
penentu dalam pengangkutan zat pencemar di lingkungan perairan. Komponen zat kimia
yang padat memiliki kelarutan yang rendah dibandingkan dengan zat kimia yang cair.
Senyawa yang berbentuk padat pengaruhnya lebih lama dari pada yang berbentuk cair.
Senyawa kelarutan benzene memiliki berat molekul 78 dan daya kelarutan 1780 mg/liter.
Senyawa lain seperti DDT (Dichloro Diphenyl Trichlorethan) memiliki berat molekul 355
dan daya kelarutan 0,0012 mg/liter. Contoh Senyawa lain yaitu Merkuri (Hg) memiliki berat
molekul 201 dan daya kelarutan 3 x 10-2 mg/liter.
Bagaimana Proses Pengangkutannya?
Penyebaran pencemar di lingkungan perairan sangat dipengaruhi oleh proses pengangkutan
maupun proses lingkungan yang aktif dan interaktif, contoh pencucian, presipitasi dan

penguapan. Resiko dari adanya penguapan adalah menurunkan kepekatan sedangkan resiko
dari adanya pencucian dan aliran adalah meningkatkan kepekatan. Yang menguap adalah zat
pencemar tersebut bukan air yang ada di sungai, danau maupun laut. Penguapan untuk
benzene adalah 4,81, penguapan untuk DDT adalah 73,9 sedangkan penguapan untuk
merkuri adalah 7,53 yang diperhitungkan berdasarkan waktu paruh pada kedalaman air satu
meter. Penguapan dari air ke atmosfer terjadi pada bahan pencemar dengan kelarutan yang
rendah. Penguapan biasanya diperlakukan sebagai suatu sistem keseimbangan dan akan
menuju kepada keseimbangan. Namun demikian, hilangnya suatu zat kompartemen dalam
lingkungan akan menghilangkan kontak permukaan. Laju penguapan zat kimia sebanding
dengan aerasi Oksigen (O2) dari larutan yang sama dan lingkungan yang sama.
Proses Perubahan Bentuk
Ada beberapa kegiatan dalam proses perubahan bentuk yaitu Hidrolisis; Fotolisis; Degradasi
terutama dilakukan oleh mikrobiologi seperti bakteri, virus dan jamur; dan Oksidasi (Proses
Perubahan Bentuk). Hidrolisis adalah masuknya gugusan hidroksil ke dalam suatu bahan
kimia. Contoh Hidroksil adalah RX + H2O

R(OH) + HX. (X) merupakan kelompok

senyawa-senyawa yang tergolong bahan kimia. Dan untuk beberapa senyawa, laju hidrolisis
berbeda-beda kecepatannya mulai dari yang paling cepat yaitu 23 detik dan yang paling
lambat adalah 7000 tahun (menghidrolisis 1 ppm membutuhkan waktu 1000 tahun). Contoh
Karbon Tetraklorida (CCl4) ditentukan oleh suhu dan pH. Beberapa senyawa organofosfat di
dalam larutan air akan secara cepat menurun dengan meningkatnya suhu pada nilai pH yang
ekstrim (dekat dengan angka 1 dan 2 atau 13 sampai 14). Struktur molekul dari senyawa
penyusun memiliki suatu pengaruh penting terhadap laju hidrolisis dalam golongan pencemar
tertentu, contoh : golongan karbamat (bahan yang sangat beracun dan persisten terhadap
bahan pencemar). Golongan karbamat ini memiliki pengaruh yang sangat luas (broad
spectrum). Contoh produk yang memiliki bahan aktif karbamat yaitu baygon. Fotolisis di
lingkungan bergantung kepada energi penyinaran matahari, spektrum penyerapan molekul
dan adanya fotosensitisasi dalam lingkungan. Sinar-sinar yang dikatakan sebagai sinar
tampak (visible light) dengan panjang gelombang 240-700 nm bisa memutuskan ikatan kimia
racun. Perubahan fotokimiawi yang dirangsang oleh cahaya matahari meliputi tiga tahapan
yaitu : (1) penyerapan radiasi dengan panjang gelombang tertentu dan terjadinya suatu
keadaan yang disebut dengan tereksistasi yaitu bebasnya elektron dari suatu ikatan kimia
yang berenergi. Jika elektron yang tereksistasi kembali ke tempatnya semula disebut dengan
elektron deeksistasi. (2) Proses awal fotokimia yang mencakup perubahan bentuk keadaan

tereksistasi secara elektronik dan deeksistasinya serta (3) reaksi sekunder dari berbagai jenis
senyawa kimia yang mungkin dihasilkan oleh proses awal fotokimiawi. Penyerapan dalam
daerah ungu dengan panjang gelombang 300 mikro meter dan daerah merah dengan panjang
gelombang sekitar 700 mikro meter selalu dihubungkan dengan adanya ketidakjenuhan
cincin-cincin aromatik. Umumnya senyawa=senyawa beracun mengandung ikatan yang
berbentuk siklis dan mengandung ikatan tidak jenuh, contoh : senyawa DDT.
Cahaya Matahari
H+

H+

H2O

OH
OH-

e-

H yang kehilangan 1 elektron

e-

Elektron yang tereksistasi

memiliki energi yang tinggi dan segera ditangkap oleh senyawa lain.

e-

biasanya pindah

dari satu senyawa ke senyawa yang lain, tujuannya adalah untuk menghimpun energi.

CH

Ikatan tidak jenuh


bukan ikatan rangkap

CH

CH

CH

CH

C 6H 6

CH

CH2

Ikatan jenuh

CH2

CH2

C6H12 (Benzen)
CH2

CH2
CH2

C yang belum terisi bisa diisi oleh gugusan yang lain (Ikatan tidak jenuh). Yang berbentuk
siklis ada dua macam yaitu benzene dan pirol. Racun sama dengan perangsang, contohnya
pada obat-obatan tetapi dalam konsentrasi yang rendah.
pirol ring
(cincin pirol)
Fotolisis langsung zat kimia dalam air bisa terjadi di atmosfer atau bisa terjadi di atas
permukaan tanah. Oksidasi juga terdapat di alam (dalam air) dan hal yang berlawanan dengan
itu disebut dengan reduksi.
Sistem Redoks
Bentuk kimiawi dari banyak pencemar lingkungan diubah oleh (1) ciri-ciri oksidasireduksinya dan (2) kemampuan mengoksidasi dan mereduksi lingkungannya. Keadaan redoks
suatu daerah dirumuskan sebagai kecenderungan untuk memberikan atau menerima elektron.
Keadaan redoks juga sangat mempengaruhi beberapa proses degradasi senyawa organik.
Proses Biodegradasi
Proses biodegradasi adalah proses penguraian yang dilakukan secara biologis oleh makhluk
hidup terutama oleh mikroorganisme seperti ganggang, bakteri, virus, jamur, alga dan
protozoa. Reaksi-reaksi itu banyak mencakup reaksi reduksi, reaksi oksidasi dan reaksi
hidrolisis. Kegiatan reduksi dan oksidasi banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti bentuk
rumus bangun molekul, kepekatan pencemar terhadap lingkungan, sifat alamiah
mikroorganisme dan keadaan lingkungan itu sendiri yang dipengaruhi oleh suhu. Proses
biodegradasi juga merupakan proses pemutusan ikatan karbon-karbon pada senyawa itu
sendiri. Di dalam sel, banyak yang disebut sebagai makromolekul yaitu molekul-molekul

dengan rantai C yang panjang. Makromolekul ini kemudian akan dipecahkan/dipatahkan dan
pematahan rantai karbon (C) inilah yang menghasilkan energi.
Cahaya Matahari
CO2 + H2O

disinilah tempat energi tersebut

C--C--C--C--C--C

e5

e4 e3 e2 e1

Putus oleh mikroba


Perilaku Pencemar di atmosfer
Tekanan uap suatu pencemar merupakan suatu parameter yang berguna untuk mengetahui
sejauh mana zat-zat tersebut akan diangkut ke atmosfer. Tekanan uap dapat dipandang
sebagai kelarutan zat di udara. Tekanan uap dapat menjelaskan pengangkutan potensial zatzat kimia ke atmosfer melalui penguapan. Adanya penyerapan di permukaan air dan tanah
akan mengurangi hilangnya uap ke udara. Pengangkutan gas ke atmosfer bisa terjadi secara
basah dan bisa juga terjadi secara kering. Pengangkutan gas ke atmosfer ini dipengaruhi oleh
banyak faktor yaitu bentuk fisik pencemarnya (misalnya aerosol, padatan terserap atau
aerosol cair). Contoh aerosol cair adalah baygon.

Proses Perubahan bentuk


Proses perubahan bentuk yang terjadi pada atmosfer adalah sangat rumit dan umumnya
diinduksi oleh pengaruh sinar matahari di atmosfer terutama fotolisis. Proses perubahan
bentuk dapat dibagi menjadi 2 kategori utama yaitu (1) fotolisis dan (2) reaksi zat kimia
dengan spesies lainnya. Fotolisis bertangungjawab terhadap degradasi bahan kimia beracun
yang menyerap radiasi sinar ultraungu-tampak. Banyak spesies molekul-molekul yang
mempunyai energi ikatan kira-kira sama dengan energi sinar matahari pada kedalaman laut
dimana sinar matahari tersebut masih dapat menembus atau menerobos. Makin besar energi
matahari yang menimpa maka kegiatan reaksi fotolisis akan semakin tinggi dan banyak
dalam keadaan tereksistasi. Reaksi dengan zat-zat kimia lain menyangkut reaksi zat-zat kimia
di lingkungan dengan radikal hidroksil (OH) dan Ozon (O3). Secara keseluruhan, reaksi
dengan zat-zat kimia ini juga akan mengatur laju redoks tersebut.

Referensi :
Jenelov, A; A. Beijer and L. Soderlund. 1978. General Aspect of Toxicology. Swedish Water
and Air Poll. Stockholm, Sweden.
Soegiarto, A. 1985. Pencemaran Laut dan Pengaruhnya terhadap kehidupan hayati. LONLIPI, Jakarta.
Burbridge; Koesoebiono. 1988. Proceeding Symposium on Environmental Research Coastal
Zone Mangement in Strait of Malaces. School for Research and Environmental
Studies. Dalhouse, Canada.
Munn, R.E. 1973. Global Environment Monitoring System. Toronto, Canada.

KULIAH 4
Interaksi Tanah, Sedimen dan Pencemar
Tanah dan Sedimen merupakan satu kesatuan yang berperan dalam pengangkutan dan
penghilangan bahan pencemar lingkungan dan pada umumnya berfungsi sebagai penyedia
permukaan penyerapan (daerah absorpsi hara terdapat di permukaan sedimen), sebagai
pencuci pencemar (bahan-bahan kimia/pencemar akan diabsorpsi oleh daerah sedimen),
sebagai sistem penahan atau penyangga (buffer). Contoh : Di Laut terdapat pertumbuhan
barrier reef yang besar sebagai penyangga dari ombak laut. Di kota Manado terdapat berbagai
jenis terumbu karang (coral reef) yang sangat indah dan menarik perhatian.
Proses penyerapan oleh sedimen-sedimen ditentukan oleh beberapa hal yaitu :
a. Ciri struktur zat kimia
b. Kandungan bahan organik tanah
Semakin tinggi kandungan bahan organik dalam tanah maka proses penyerapan unsur
hara akan semakin cepat meningkat dan semakin rendah kandungan bahan organik
maka proses penyerapan unsur hara akan semakin menurun.
c. pH media
d. Ukuran partikel
e. Kapasitas Pertukaran Elektron
Semakin tinggi kapasitas elektron maka semakin mudah zat kimia terserap, semakin
rendah kapasitas elektron maka semakin sulit zat kimia terserap.
f. Suhu
Suhu bersifat tidak general (tidak umum) dan bergantung kepada bahan pencemar.
Penyerapan zat kimia/zat hara dalam tanah sangat berhubungan dengan perbandingan karbon
organik yang ada. Contoh karbon tidak organik yaitu CO 2 (Karbon dioksida), Karbon

tetraklorida (CCl4) dan Karbon monoksida (CO). Yang menentukan proses penyerapan zat
kimia dalam tanah adalah sifat zat kimia dan sifat zat penyerapnya.
Pencucian (Leaching)
Zat kimia dalam tanah mengalami pergerakan/bergerak, ada yang dikatakan sebagai difusi
zat-zat kimia dan ada juga dengan pengangkutan massa. Difusi adalah Pergerakan/
bergeraknya zat-zat kimia dari konsentrasi yang tinggi ke konsentrasi yang rendah.
Pergerakan massa adalah kation-kation air yang dibawa secara bersama-sama dengan massa
air. Pencucian akan mengurangi kepekatan, dengan pencucian juga akan meningkatkan
pencemaran di perairan bebas. Pergerakan yang nyata menyebabkan pencucian dapat
mengurangi kepekatan pencemar dalam tanah dan sedimen dan juga dapat menyebabkan
masalah pencemaran air tanah; sebagai contoh pencucian ion-ion dan senyawa organik dari
tempat pembuangan tanah. Koefisien penyerapan suatu zat kimia menunujukkan kemampuan
penyerapan. Pada umumnya, jenis polar lebih mudah bergerak di dalam tanah.
Penguapan
Penguapan adalah perubahan wujud dari cair ke gas atau dari padat ke gas. Laju penguapan
suatu pencemar dari permukaan tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :
a. Penguapan dari air itu sendiri
b. Keadaan atmosfer, hal-hal yang mempengaruhi adalah :
1. Suhu
2. Kecerahan atmosfer
Keadaan berawan suhunya akan semakin tinggi.
3. Kelembaban Relatif (RH)
RH tinggi, penguapan tinggi, kandungan air tinggi dan suhu rendah sedangkan RH
rendah, penguapan rendah, kandungan air rendah dan suhu tinggi.
c. Interaksi antara zat kimia dengan tanah
d. Kepadatan tanah
Perubahan bentuk zat kimia dan sedimen melalui degradasi oleh mikroba dipengaruhi oleh
beberapa faktor yaitu :
1. Kepekatan Zat Kimia (normalitas merupakan alat pengukur kepekatan)
2. Suhu
Aktivitas mikroba juga dipengaruhi oleh suhu, setiap mikroba memiliki suhu
optimum dan minimum.
3. Kelembapan
4. Kedaan anaerob
Dalam keadaan anaerob akan mudah untuk didegradasi.
5. Kandungan zat organik dalam tanah.

Masuknya suatu pencemar ke dalam ekosfer akan menyebabkan gangguan terhadap


kompartemen lingkungan (keadaan kompartemen menjadi tidak menentu). Untuk sistem
biologis, hal ini bisa terjadi pada berbagai tingkat organisasi dan antara sederetan
kompartemen yang berbeda, misalnya terhadap air, ikan, darah, jaringan lemak, mikrosom
dan sitosol. Sitosol adalah sitoplasma sel/sel sitoplasmik( benda yang tidak terdeteksi yang
ada di dalam sel, misalnya lisosom). Lisosom adalah organel-organel dalam sel yang
berfungsi sebagai pencerna (yang menghancurkan bagian-bagian sel yang tidak berguna).
Organel-organel dalam sel (sub-seluler) dan kerja dalam satu sel tersebut sangat terorganisasi
(terjadi secara bersama-sama). Sebelum zat pencemar masuk ke dalam tubuh makhluk hidup,
dia harus melewati suatu membran sel yang merupakan bagian sitoplasma yang paling luar
(ectoplast atau disebut juga plasmolemma, membran plasma, cytoplasmic membran).
Membran sel merupakan organel yang mengatur keluar masuknya zat dalam sel sehingga
membran sel sangat penting. Membran biologis sangat tipis dengan tebal sekitar 100
Angstrom. Membran sel dalam teori-teori terdiri atas dua komponen yang disebut sebagai
protein dan lipid (lemak). Asam amino mengandung NH2, yang tidak mengandung NH2 yaitu
Cystein dan Methionin (mengandung sulfur).
Protein

Lipid
100

A
N
G
S
T
R
O
M

Double Layers
Lipid

Protein
Masuknya zat melalui membran dipengaruhi oleh ketebalan membran, koefisien difusi dan
permeabilitas membran. Ada beberapa hal yang berhubungan dengan itu yaitu Difusi. Difusi
terjadi melalui protein pembawa (protein carrier). Ada beberapa jenis difusi yaitu : Difusi
aktif, difusi pasif dan difusi sederhana. Difusi aktif (active diffusion) merupakan mekanisme
pengambilan dengan menggunakan energi ATP, difusi pasif (passive diffusion) merupakan
mekanisme pengambilan yang penting untuk zat-zat kimia, sedangkan difusi sederhana
(simple diffusion) adalah difusi yang terjadi melalui celah-celah antara protein dan lemak.
Daerah Donor

Channel Protein
Protein

Daerah Reseptor

Celah

Protein Pembawa

Simple Difusion (Difusi Sederhana)


Pengangkutan melalui Filtrasi
Mekanisme pengangkutan melalui membran berpori akibat aliran air karena berbedanya
potensial air. Jumlah kerja yang diperlukan untuk memindahkan satu molekul air dari satu
titik ke titik yang lain berlawanan dengan air murni. Potensial air diartikan secara luas

sebagai kandungan air, dengan kata lain air akan berpindah dari potensial tinggi ke potensial
rendah. Contoh peristiwa Osmose. Peristiwa Osmosis dijelaskan dengan dua cara yaitu (1)
Tekanan Osmosis yaitu tekanan yang ada di dalam cairan tersebut oleh zat-zat terlarut dan
ion-ion yang terdapat di dalamnya. Senyawa yang memiliki tekanan osmosis yang tinggi
mempunyai potensial listrik yang tinggi dan akan dapat menarik senyawa dengan potensial
listrik yang rendah. (2) Dengan potensial air. Air akan berpindah dari potensial yang tinggi ke
potensial yang lebih rendah, sama dengan volume air (semakin banyak air maka semakin
tinggi potensialnya). Berbeda dengan tekanan turgor (teori-teori ini sangat penting dikuasai).

Selaput Semi Permeabel

2,5 % Gula

5,0 % Gula

97,5 % Air

95 % Air

KULIAH 5
Sistem Pengangkutan Khusus
Ada kalanya zat kimia sulit larut dalam lemak, dengan sendirinya juga akan sulit melewati
membran, apalagi melalui difusi pasif (tidak bisa berjalan). Untuk itu ada suatu pengangkutan
khusus yang disebut pengangkutan aktif (menggunakan energi ATP). Contoh pengangkutan
aktif yaitu melalui suatu perantara (carrier=pembawa) atau carrier protein (protein pembawa).

Suatu sistem pengangkutan aktif memiliki ciri-ciri sebagai berikut : (1) zat-zat kimia bergerak
melawan elektrokimiawi; (2) pada kepekatan substrat yang tinggi, sistem pengangkutan
dijenuhkan dan terjadi pengangkutan yang maksimum; (3) sistem pengangkutan bersifat
selektif, termasuk hambatan persaingan, dan (4) sistem memerlukan pemakaian energi
sehingga penghambat metabolik menghentikan proses pengangkutan tersebut. Pada
umumnya transport aktif menggunakan energi dari ATP. Contoh : Gula. Diduga di carrier
(pembawa) tersebut, ada zat pembawa yang mempu menembus atau melewati membran
tetapi pada prinsipnya adalah energi yang digunakan untuk menembus membran tersebut.

ATP
Gula

Tidak aktif

ADP
Gula (P)

Aktif

ATP
AC
Luar Membran

FOSFOKINASE

CIC p
IC
Senyawa/ion
kimia

FOSFATASE
P

Membran Sel
IC

MITOKONDRIA

SI
TO
PL
AS
M
A

: Inactive Carrier

ACP (Active Carrier Phosphate)

: Ikatan Berenergi

Potensial Listrik lebih tinggi

: Fosfat Organik

Berenergi tinggi

CIC (Complex Ion Carrier)


P
Pi

: Fosfat Anorganik

Mitokondria

: sebagai penghasil energi.

Berenergi rendah

Proses Bioakumulasi
Makhluk hidup mempunyai kemampuan untuk menyimpan pencemar tetapi pencemar akan
merusak makhluk hidup itu sendiri. Pencemar tersebut berada pada satu rantai makanan
ilmiah. Dengan adanya rantai makanan tersebut, racun atau pencemar akan berpindah kepada
tingkatan trofik yang lebih tinggi. Retensi atau ketahanan suatu pencemar tergantung kepada
waktu paruh biologisnya. Jadi, suatu pencemar harus menunjukkan daya tahan yang relatif
tinggi terhadap penghancuran atau pembuangan oleh makhluk hidup untuk memungkinkan
waktu pengambilan yang cukup agar tercapai kepekatan yang tinggi. Ada tiga cara yang
diterapkan dalam proses bioakumulasi ini yaitu : (1) Bioakumulasi adalah pengambilan dan
retensi pencemar oleh makhluk hidup dari lingkungan melalui suatu mekanisme atau lintasan
tertentu; (2) Biokonsentrasi adalah pengambilan dan retensi pencemar langsung dari massa
air oleh makhluk hidup melalui molekul jaringan seperti insang atau jaringan epitel; (3)
Biomagnifikasi adalah proses dimana pencemar bergerak dari satu tingkat trofik ke tingkat
trofik lainnya dan menunjukkan peningkatan kepekatan dalam makhluk hidup sesuai dengan
keadaan trofik makhluk hidup tersebut. Dalam tubuh makhluk hidup juga terjadi proses
pengambilan dan pengurangan pencemaran yang persisten. Proses bioakumulasi dapat dilihat
dari suatu keseimbangan antara dua proses kinetika yaitu pengambilan dan depurasi
(pelepasan/pembuangan/pengurangan konsentrasi). Contoh pada gambar di bawah ini :

Laju perubahan pencemar dalam kompartemen ditentukan oleh tetapan laju dan volume
relatif pada dua kompartemen. Kejadian proses bioakumulasinya yaitu suatu senyawa masuk
ke dalam makhluk hidup, individu atau populasi kemudian terbawa oleh metabolik-metabolik
abnormal seperti lemak, protein dan zat-zat alamiah lain yang ikut dalam reaksi-reaksi
metabolisme dalam sel. Zat tersebut secara kimiawi berperan sebagai perantara dan mengalir
melalui suatu sistem dimana zat tersebut nantinya akan disimpan. Zat pencemar berupa
pestisida seperti DDT akan bercampur dengan lemak atau dengan suatu logam misalnya
stronsium dan juga bersatu dengan kalsium, dan zat-zat tersebut juga akan berakumulasi
dalam jaringan. Masuknya zat pencemar ke dalam makhluk hidup terjadi melalui dua fase
yang berbatasan yaitu melalui makhluk hidup dan melalui air, dan semua makhluk hidup
terdiri dari fase-fase ganda, ada yang dikatakan sebagai hidrophobik (tidak suka air) termasuk
ke dalamnya lemak yang aktivitasnya relatif rendah.
Biomagnifikasi
Biomagnifikasi jumlahnya diperbanyak dalam makhluk hidup itu sendiri. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa elang memiliki bahan pencemar DDT yang tinggi padahal elang tidak
memiliki kontak langsung dengan DDT. Pencemar DDT rentan terhadap degradasi dan tetap
berada dalam makanan, akibatnya bahan makanan tersebut akan terganggu respirasinya untuk

menghasilkan energi. Kandungan energi pada setiap tingkatan trofik mendekati 90 % lebih
kecil dari tingkat di bawahnya. Kepekatan pencemar itu akan mendekati kelipatan sepuluh
pada setiap tingkatan trofik yang dilalui oleh pencemar, akibatnya terjadi peningkatan
kepekatan yang bertahap dalam makhluk hidup berhubungan dengan keadaan trofiknya. Pada
tingkat trofik yang rendah, fitoplankton mengambil pencemar yang seimbang dengan air. Saat
fitoplankton dimakan oleh suatu herbivor dapat terjadi hal sebagai berikut : (1) fitoplankton
merupakan satu-satunya sumber pencemar, (2) pencemar tersebut belum termodifikasi secara
kimiawi, (3) diperlukan waktu yang cukup untuk mencapai keseimbangan. Pada makhluk
hidup, keseimbangan terjadi antara lambung dan lingkungan luarnya. Jadi, suatu peningkatan
kepekatan yang berurutan dapat diharapkan terjadi dalam rantai makanan pada tingkat trofik
yang lebih tinggi. Bioakumulasi dapat memperlihatkan keragaman yang besar di antara
makhluk-makhluk hidup. Dalam lingkungan alamiah, derajat biomagnifikasi merupakan
suatu fungsi yang rumit dipandang dari : (1) jumlah mata rantai dalam rantai makanan
tersebut, (2) jenis-jenis makhluk hidup dalam rantai makanan, (3) keadaan alamiah senyawa
yang diakumulasikan, (4) dosis zat pada setiap tingkat rantai makanan, dan (5) lamanya
berhubungan atau kontak dengan pencemar. Keseluruhan biomagnifikasi di dalam sistem
alamiah tidak menentu. Dalam sistem perairan, pengambilan langsung dari air dan sedimen
merupakan proses yang menonjol untuk pencemar yang persisten. Retensi pencemar oleh
makhluk hidup berbeda-beda yang ditentukan oleh laju metabolisme dan pengeluaran dalam
jaring makanan. Pada jaring makanan yang tidak tersusun tetapi terarah ganda terdapat
hubungan pemangsaan mengatur kepekatan yang berbeda pada bahan pencemar di dalam
makhluk hidup anggota.

Bahan pencemar semakin sedikit

TA

TB
Terarah ganda

T1

Yang paling tinggi

Biotransformasi
Beberapa makhluk hidup, khususnya hewan bertulang belakang memiliki jalur metabolik
yang dapat mengaktifkan dan menon-aktifkan bahan pencemar terutama untuk beberapa
senyawa yang dikenal sebagai senyawa xenobiotik. Senyawa xenobiotik yaitu senyawa kimia
dalam tubuh organisme yang jumlahnya tidak normal dan dalam konsentrasi tinggi. Beberapa
senyawa xenobiotik terdiri dari dua fase yaitu : (1) Pembentukan metabolisme biasa dengan
oksidasi dan berfungsi campuran, (2) Perubahan bentuk menjadi konjugat (conjugate) yang
kurang toksis tetapi lebih bersifat hidrofilik (menyukai air). Oksidasi senyawa asing termasuk
pencemar dianggap sebagai reaksi utama yang paling penting. Metabolisme oksidasi dari
senyawa xenobiotik dilakukan oleh sebuah sitokrom (cytocrome). Sitokrom merupakan suatu
senyawa yang hampir mirip dengan tumbuhan (klorofil) tetapi pada intinya adalah Fe
meningkat, yang fungsinya di dalam sel adalah sebagai penerima elektron.
H+
H2O

H+ + OH-

OH-

ini harus ditangkap oleh senyawa-senyawa yang


lain supaya tidak terjadi peningkatan energi listrik.

Sitokrom dikenal sebagai P-450 (Pigmen 450) yang ada pada endoplasmic reticulum.
Retikulum Endoplasma adalah organel dalam sel yang di dalamnya terdapat ribosom dan ada
juga yang tidak terdapat ribosom. Ringkasnya, reaksi biologis dengan pencemar adalah
sebagai berikut : oksidasi yang terikat pada NADH (Nicotinamide Adenin Tineculaticadi
Hidrogen) menjadi perantara untuk pemasukan O2 ke dalam zat-zat organik. Sebagai Contoh
adalah ikatan-ikatan aromatik dengan sistem perpindahan elektron dimana terdapat sitokrom
P-450 membentuk suatu senyawa dengan substrat dan molekul O2.

Dalam tubuh makhluk hidup, metabolit tertentu secara kimiawi akan berinteraksi dengan
makromolekul. Contoh RNA dan DNA atau dengan substrat genetik, dan dilibatkan sebagai
karsinogen utama yang dapat menyebabkan terjadinya mutagen (mutasi karena gen) dan
xitotoksin (toksin-toksin yang dihasilkan oleh sitoplasma sel). Bahayanya adalah kepada sifat
menurun. Sistem hewan dapat membentuk (1) asam glukoronat dan konjugat karbohidrat
yang berhubungan, (2) konjugat ester sufat, (3) glutationin dan konjugat asam merkapturat
yang berhubungan, (4) hasil-hasil metilasi, (5) hasil-hasil asilasi, (6) asam-asam amino dan
konjugat-konjugat yang berhubungan, serta (7) sedikit konjugat-konjugat lainnya. Tumbuhtumbuhan juga dapat membentuk konjugat dengan protein. Pada hewan, konjugat pada
umumnya lebih hidrofilik dan lebih siap untuk disekresikan atau diekskresikan daripada
senyawa induknya. Sel Pembawa hidrogen terdiri dari dua yaitu NADH dan NADPH.

NADH

Nicotinamide Adenin Dinucleotida Hidrogen


oksidasi

NADPH

tidak membawa hidrogen sehingga berubah menjadi keadaan yang reduksi.

reduksi
NADP
Toksikologi Perairan

a.
b.
c.
d.

Kimia dan Biologi


Perilaku Racun dalam makhluk hidup
Reaksi Toksikologi
Pengaruh lethal dan sub-lethal

KULIAH 6
Kimia dan Biologi Pencemaran
Perairan merupakan suatu ekosistem yang dinamis dan merupakan ekosistem yang stabil,
dengan kata lain tanpa adanya campur tangan manusia. Suatu ekosistem dikatakan stabil
apabila energi keluar dan energi masuk seimbang. Dengan demikian flora dan faunanya
dalam keadaan stedy state. Hidup dicirikan oleh metabolisme dan steady state; yang termasuk
ke dalam metabolisme adalah pengambilan hara, sintesis dan respirasi. Steady state
merupakan penjaga keseimbangan, termasuk ke dalamnya reproduksi, adaptasi dan kontrol.
Dengan masuknya bahan pencemar ke dalam suatu sistem perairan, sistem ekologinya mulai
terganggu. Pada keadaan pencemar yang masih sedikit, ekosistem perairan secara alamiah
akan berusaha untuk menormalkannya, istilah ini disebut dengan homeostasi. Namun apabila
pencemaran sudah melewati NAB (Nilai Ambang Batas), maka perairan tersebut akan mulai
terancam, apalagi bila senyawa zat kimia itu xenobiotik maka akan terjadi asimilasi dalam
makhluk pada tingkatan sub-lethal dan lethal. Sub-lethal dan lethal dapat menginduksi
serangkaian pengaruh biologis, akibatnya terjadilah gangguan molekuler (senyawa-senyawa
yang bersifat makromolekul) dengan mekanisme biokimia yang berinteraksi dengan organel
misalnya DNA, RNA melalui perubahan patologis pada tingkat sub-seluler. Pada tingkat
seluler, jaringan dan organ tersebut akan memberikan tanggapan perilaku yang dialami oleh
tingkatan makhluk hidup apakah dia bolak-balik atau tidak (apakah dia dapat kembali
normal). Sangat perlu dipelajari dengan mendalam tentang pengaruh racun terhadap tingkat
organisasi sampai kepada populasi, komunitas dan ekosistem. Racun memberikan rangsangan
untuk tanggapan terhadap reaksi-reaksi kimia, geologi sel, biosel, sitogenetik, farmakologis,
yang menyebabkan timbulnya perubahan patologi akibat adanya interaksi antara organelorganel (sub-seluler) dan enzim. Masalah yang penting dalam toksikologi lingkungan adalah
suatu tugas yang rumit karena dalam kenyataannya pengaruh yang dipelajari banyak dalam
suasana laboratorium, kenyataannya di lingkungan ada pengaruh yang muncul sedangkan di
laboratorium tidak diperoleh adanya pengaruh yang muncul. Untuk itu, perlu dipelajari lebih
luas hubungan timbal balik, struktural dan fungsional yang ada pada masing-masing
tingkatan organisasi biologis. Dengan demikian, juga akan dapat diketahui hubungan antar

tingkatan makromolekul dengan seluler. Perlu didalami juga studi mengenai mekanisme yang
mendasar dengan senyawa apa zat-zat racun tersebut dapat merusak makhluk hidup.

Perilaku racun dalam makhluk hidup


Perilaku racun dalam makhluk hidup merupakan studi hubungan antara struktur kimia dan
senyawa biologis yang memungkinkan terbentuknya mekanisme yang menjelaskan interaksi
struktur kimia tertentu dengan proses selular yang spesifik. Dengan metode ini,
memungkinkan bagi kita untuk memperoleh estimasi (hubungan) antara struktur dan tindak
peracunan. Konsep umum toksisitas dinyatakan dalam kerangka dasar toksikologi yang
mencakup suatu fase penggantian dan pengambilan atau dikatakan juga absorpsi racun,
tanggapan fisiologis serta perilaku makhluk hidup yang terkena.
Pada fase dinamik, zat kimia racun dekat dengan target penerima (akan mempengaruhi
enzim, lemak, membran, asam nukleat dan sebagainya). Dalam reaksi-reaksi berikutnya, akan
bisa terdapat radikal-radikal bebas (pelepasan ion yang reaktif misalnya ion peroksida atau
hidroksil). Ada beberapa hipotesis yang menjelaskan mekanisme toksisitas dengan senyawa
asal (senyawa-senyawa yang ada di dalam sel), atau dalam istilah asing disebut juga dengan
pre-cursor. Setiap hipotesis mengenai mekanisme toksisitas perlu mengenali kegiatan
senyawa asal dan metabolitnya. Mekanisme (A) : Senyawa asal zat racun merusak jaringan
hati dan bukan jaringan hati atau senyawa asal yang berada dalam darah. Metabolisme yang
berlangsung menjadikan senyawa asal zat beracun bergabung dengan senyawa metabolik
yang tidak aktif dan akan terjadi suatu akumulasi dalam makhluk, aksi racun sangat spesifik
dan non spesifik. Mekanisme (B) : Toksisitas diinduksi oleh metabolit aktif dan tidak oleh
senyawa asal. Metabolit aktif dapat dilepaskan insitu dalam sel dan jaringan hepatitik dan non
hepatitik (dalam jaringan hati dan bukan jaringan hati). Ada dua jalur Mekanisme B yaitu
Jalur B1 dan jalur B2. Jalur B1 : Metabolisme racun dibentuk insitu dalam jaringan hati, Jalur
B2 : dibentuk dalam hati dan diedarkan ke jaringan bukan hati.
Tabel 3.1. Rangkuman Beberapa pengaruh Bioimia dan Fisiologis Penting Zat Beracun
1. Membran Sel

Fungsi
Tanggapan Toksik
Mengatur laju dan derajat Perusakan
atau
modifikasi
perpindahan zat ke dalam permeabilitas
dan ke luar sel.

membran,

Pengacauan sistem perpindahan


dan bercampurnya pembawa dan
produksi ATP.

2. Enzim

Reaksi yang sangat spesifik, Akan terjadi hambatan dapat balik


tidak ikut dalam reaksi kimia (inhibisi) atau tidak dapat balik
tetapi

melancarkan

reaksi dalam sistem enzim itu sendiri

kimia.

(Pengaruh

ko-enzim,

substrat,

logam-logam pengaktif) oleh zat


3. Metabolisme
Lemak

Penyusun

dalam

kimia.
struktur Kekacauan

membran sel.

yang

metabolisme

dapat

lemak

menyebabkan

kegagalan fungsi hati, kemampuan


lemak
4. Biosintesis
Protein

untuk

mensisntesis

kolesterol bisa gagal.


Racun akan menggagalkan Terjadinya penekanan
proses

transkripsi

translasi

dan yang ada di endoplasmik retikulum

yang

membentuk
Transkripsi

ribosom

akan dalam pembentukan protein.


protein.

adalah

proses

pembentukan DNA dengan


5. Sistem

menggunakan cetakan.
Enzim Bagian-bagian
mikrosom- Pergantian dalam fungsi enzim

Mikrosomal

mikrosom yang ada dalam yang ada pada enzim mikrosomalhati akan dipengaruhi oleh rangsangan

atau

hambatan

metabolismenya dan akan (inhibition).


terjadi

pengaruh

yang

dinamakan biotransformasi.
6. Pengaturan dan Akan berubah metabolik dan Kegiatan enzim pengatur dapat
Pertumbuhan

laju

biosintesis

dan diubah oleh sintesis, penyimpanan,

katabolisme yang ada pada pelepasan, pengasingan juga dapat


komponen sel diatur oleh digagalkan oleh zat beracun tadi.
hormon-hormon dan sistem
7. Metabolisme
Karbohidrat

pengatur lainnya.
Glikolisis yang terjadi di Blokir terhadap peristiwa glikolisis
dalam sitoplasma sel, Siklus karena
kreb

yang

mitikondria
respirasi

yang

terjadi
dan

adanya

di pengganggu

zat-zat
dan

kegagalan

rantai pembentukan karbohidrat.

terjadi

di

kimia

8. Pernapasan
(Respirasi)

mitokondria.
Peristiwa respirasi terjadi di Penghambatan atau penggagalan
mitokondria
sebagai

yang

rantai

dikenal pembentukan

karena

pernapasan terhalangnya rantai pengangkutan

dalam pembentukan energi electron


ATP.

ATP

(terputusnya

rantai

elektron).

Biotransformasi adalah Perubahan sel-sel normal tubuh menjadi sel-sel yang bersifat kanker.
Contoh hambatan yang dapat balik maupun yang tidak dapat balik dalam sistem enzim adalah
Kalium yang dapat mengaktifkan permeabilitas membran dan kalsium yang dapat
menonaktifkan permeabilitas membran (kalium yang tidak dapat mengaktifkan permeabilitas
membran). in vivo : dalam keadaan alamiah melakukan penelitian sedangkan in vitro : dalam
keadaan laboratorium melakukan penelitian.
Reaksi Toksikologi
Dalam reaksi toksikologi, yang lebih mendalam dipelajari adalah pada tingkat biokimia,
biologi seluler, sitogenetik, farmakologi dan juga dipelajari kemampuan keracunan individu
atau kelompok organisme. Sejumlah penelitian secara in-vitro, telah dipelajari interaksi
antara biokimia dengan organel, biokimia dengan RNA dan RNA dengan enzim-enzim pada
individu. Namun demikian, perlu dipelajari secara utuh bagaimana pengaruh reaksi biokimia
secara mendalam. Sesungguhnya reaksi-reaksi racun sangat berpengaruh kepada flora dan
fauna di perairan. Ada dua macam dasar reaksi racun yang mencakup senyawa awal atau
suatu metabolit sebagai zat aktif yaitu : (1) Kerugian kimiawi yang disebabkan oleh ikatan
kovalen tidak dapat balik antara zat kimia dan substrat biologis atau penerima, termasuk ke
dalamnya gugusan SH (gugusan riol), ikatan HCN dan H2S, logam-logam lain seperti
Kadmium, Merkuri, Prumbum yang menyebabkan reaksi yang disebut dengan reaksi
karsinogenik dan metagenik (reaksi yang melibatkan DNA). (2) Reaksi dapat balik, dengan
kata lain penerima hanya mengalami perubahan sementara sampai tidak mempengaruhi
produk-produk dari terminal reaksi. Pembentukan produk sangat berkaitan sekali dengan
DNA (melibatkan DNA). Pelepasan radikal bebas merusak membran biologis yang
menyebabkan terbentuknya peroksida dann asam lemak tidak jenuh yang sangat beracun
yang dapat berakumulasi di dalam jaringan dan seterusnya yang dapat merusak senyawa
penyusun sel yang lainnya.

KULIAH 7
Pengaruh Lethal dan Sub-Lethal
Pengaruh lethal merupakan respon yang terjadi atau tanggapan yang terjadi pada saat zat-zat
yang ditinjau dari segi fisika dan kimianya mengganggu proses sub-seluler (organel-organel
dalam sel) dan sel. Sub-seluler pada makhluk hidup hanya sampai batas kematian langsung,
sulit bernafas atau tidak bernafas, dan tidak dapat lagi bergerak. Pengaruh sub-lethal
merupakan pengaruh yang merusak kegiatan fisiologis atau merusak perilaku tetapi tidak
mematikan dan biasanya ditandai dengan adanya gangguan proses makan, gangguan
pertumbuhan, gangguan perilaku (dari lincah menjadi tidak lincah), kurangnya kemampuan
mengkoloni atau sebab-sebab lain yang tidak langsung. Pengaruh lethal dan sub-lethal dapat
dialami oleh individu, populasi, komunitas, bahkan sampai tingkat ekosistem. Beberapa
pengaruh sub-lethal dikenal dari hal-hal sebagai berikut : (1) terjadi stress akibat pencemaran
pada suatu tingkatan organisasi; (2) dikenal melalui kenampakan atas bentuk atau fungsi yang
berubah pada tahapan berikutnya dalam perkembangan, dan (3) kenyataan seluruhnya
berbentuk potensi ketahanan hidup yang rendah pada suatu tahapan lanjut dari
perkembangan. Respon sub-lethal pada makhluk hidup dapat dibagi menjadi sejumlah
kategori yaitu : (1) fisiologis, (2) struktur biokimia dari sel tersebut akan berubah, (3)
perilakunya berubah, (4) reproduksi atau perkembangbiakan dan banyak lagi yang
mempengaruhinya terutama reaksi-reaksi kimia. Pengkajian pengaruh sub-lethal bergantung
pada dua faktor penting yaitu : (1) pemilihan parameter fisiologis dan perilaku yang menduga
respons ekologis yang nyata; dan (2) pengukuran dengan percobaan terhadap respons
sublethal. Faktor-faktor ini harus mencakup pengenalan pengaruh penting yang terjadi pada
tahapan kehidupan yang berbeda.
Hubungan antara sub-lethal dan lethal
Pengukuran kematian dengan menggunakan LC50 atau LD50 bertujuan untuk mengetahui
tingkat aman suatu racun yang biasanya digunakan orang untuk kriteria kualitas air atau suatu
racun tertentu yang dapat ditentukan Nilai Ambang Batasnya (NAB). Pengaruh sub-lethal
merupakan sesuatu yang sulit untuk diuji karena adanya faktor penghambat diantaranya yaitu
kondisi percobaan, keadaan makhluk yang diuji secara alamiah. Hubuangan lethal dan sublethal dapat digambarkan sebagai berikut:
Respon Populasi ada dua macam yaitu respon linier (hubungannya atau korelasinya positif)
dan respon non linier (hubungannya atau korelasinya negatif). Respon terukur dan sub-lethal

ada ambang batasnya (memiliki ambang batas). Baik kurva liner dan kuadratik
menggambarkan perubahan respons sub-lethal dan lethal. Bila dosis yang digunakan
cenderung menyatakan kematian, pengukuran dapat dilakukan insitu atau bisa langsung diuji
di lapangan yang kemudian dilanjutkan dengan uji laboratorium (bioassay). Alat yang
digunakan biasanya bermacam-macam, salah satunya adalah AAS (Auto Absorption
Spectrophotometry) yang digunakan untuk menghitung kation-kation yang ada di dalam
lingkungan. Gas Chromatography adalah alat yang digunakan untuk menghitung anion-anion
yang ada di dalam lingkungan. Alat lama yang digunakan untuk menghitung anion-anion
yang ada dalam lingkungan adalah TLC (Thin Layer Chromatography). Respon Makhluk
Hidup yang diuji dapat dikategorikan sebagai berikut : (1) Pengaruh Akut (Acute) yaitu
respons makhluk hidup terhadap suatu keadaan yang cukup parah sehingga menyebabkan
suatu respons yang cepat, biasanya diukur dalam waktu 96 jam. (2) Pengaruh Sub-Akut (SubAcute) yang merupakan respons makhluk hidup terhadap suatu kondisi yang kurang parah
dan terjadi dalam waktu yang lebih lama (lebih dari 96 jam). (3) Pengaruh kronis merupakan
respons terhadap suatu kondisi yang berkesinambungan, diperkirakan hanya 10 % dari waktu
hidup makhluk tersebut (harapan hidup hanya 10 %).
Prinsip Ekotoksikologi Pencemaran Perairan
Ada tiga hal yang akan dibahas yaitu :
1. Lingkungan Makhluk Hidup dan keragamannya
2. Pengaruh Umum Pencemar
3. Pengkayaan Hara (Eutrofikasi), Deoksigenasi (lepasnya O2 dari suatu senyawa).
Lingkungan Makhluk Hidup dan keragamannya
Sepintas dilihat, makhluk hidup di perairan terbatas ragamnya dan terbatas jumlahnya namun
bila kita pelajari lebih mendalam, dikatakan bahwa ragam yang sangat luar biasa misalnya :
tumbuhan. Tumbuhan dari tingkat rendah ke tingkat tinggi ada di dalam sistem perairan,
hewan dari sederhana sampai tingkat besar juga ada di dalam sistem perairan. Semua
Makhluk Hidup tersebut, perkembangannya diatur oleh faktor fisika kimia. Flora dan fauna
yang ada di sistem perairan sebagian besar beradaptasi secara alamiah yang terjadi sepanjang
musim atau sepanjang tahun terutama di daerah-daerah yang mengenal empat musim, flora
dan faunanya berfungsi secara alamiah. Beberapa zat pencemar dapat mengubah kondisi hara
menjadi terlalu tinggi atau bisa juga menjadi terlalu rendah , sehingga makhluk hidup tersebut
harus beradaptasi. Dengan perubahan hara, akan terjadi pergeseran makhluk hidup menuju
optimum tertentu. Dalam sistem perairan yang terbatas, kadar hara yang tinggi di perairan

akan merubah sistem keseimbangan. Hubungan antara populasi makhluk hidup dengan
konsentrasi dapat dilihat pada gambar di bawah ini :
Semua kejadian atau peristiwa di alam ini mengarah ke kurva normal (seuai dengan kurva
normal). Ujung kurva paling kiri yang paling kecil dan ujung kurva paling kanan yang paling
besar. Pada keadaan seperti itu (kurva a) dan kurva b, sudah berbeda makhluknya atau
organismenya atau dapat dikatakan juga bahwa kurva a disukai oleh makhluk a sedangkan
kurva b disukai oleh makhluk b. Perubahan kandungan pencemar akan menghasilkan
pengaruh yang berkaitan satu dengan yang lainnya (masuknya tingkatan trofik yang lain).
Dalam keadaan sistem tercemar, makhluk hidup beradaptasi secara genetik dalam jangka
waktu terbatas dan bisa muncul populasi baru yang tahan terhadap pencemaran yang tinggi,
hewan semakin resisten terhadap pencemaran (bahan pencemar). Adaptasi makhluk hidup
terhadap lingkngan terutama terhadap suhu, kandungan oksigen, hara dan juga zat
pencemarnya itu sendiri yang juga akan dapat merubah sistem jaringan makanan atau pada
tingkatan trofik tertentu.
Pengaruh umum pencemaran
Ada 5 macam pengaruh umum pencemaran yaitu : (1) terdapat penurunan adaptasi, (2)
dampak buruk pada spesies tertentu, (3) Perubahan pada struktur komunitas dan pengurangan
jumlah spesies, (4) berubahnya pola aliran energi, misalnya dapat muncul (ditemukan)
spesies kebetulan yang belum pernah ditemukan selama ini yang siklus hidupnya pendek
(kehidupannya tidak lama), dan (5) terdapatnya fluktuasi populasi.