Anda di halaman 1dari 10

MASYARAKAT

MARITIM
Disusun Oleh:
Arjunadiastra Pallungan
Fajriani Samrin
Muhammad Rahimahullah
Vico Febrian Tiansi

PENGERTIAN MASYARAKAT
MARITIM
Masyarakat maritim, yang terdiri dari dua buah kata yang memiliki makna
tersendiri. Maritim yang merupakan segala aktivitas pelayaran dan
perniagaan/perdagangan yang berhubungan dengan kelautan atau disebut
pelayaran niaga. Sedangkan masyarakat adalah sekumpulan manusia yang
secara relatif mandiri, cukup lama hidup bersama, mendiami suatu
wilayah tertentu, memiliki kebudayaan yang sama, dan melakukan
sebagian besar kegiatannya di dalam kelompok tersebut ( Horton et.
Al,1991).
Masyarakat, menurut Koentjaraningrat (1980), ialah kesatuan hidup
manusia yang beinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang
bersifat kontinyu dan yang terikat oleh suatu rasa identitas bersama
Menurut Ralph Linton (1956), dalam Sitorus et.al. (1998) mengartikan
masyarakat sebagai kelompok manusia yang telah hidup dan bekerja sama
cukup lama sehingga mereka dapat mengatur dan menganggap diri
mereka sebagai suatu kesatuan sosial dengan batas-batas tertentu.

UNSUR-UNSUR
MASYARAKAT

1. Manusia yang hidup bersama


2. Bercampur dalam waktu yang lama
3. Sadar sebagai suatu kesatuan
4. Sadar sebagai suatu sistem hidup bersama

KARAKTERISTIK SOSIAL
MASYARAKAT MARITIM
Masyarakat pesisir adalah sekumpulan masyarakat yang hidup
bersamasama mendiami wilayah pesisir membentuk dan memiliki
kebudayaan yang khas yang terkait dengan ketergantungannya pada
pemanfaatan sumberdaya pesisir . Tentu masyarakat pesisir tidak
saja nelayan, melainkan juga pembudidaya ikan, pengolah ikan
bahkan pedagang ikan. Masyarakat pesisir pada umumnya sebagian
besar penduduknya bermatapencaharian di sektor pemanfaatan
sumberdaya kelautan (marine resource based), seperti nelayan,
pembudidaya ikan, penambangan pasir dan transportasi laut.
Masyarakat pesisir pada umumnya telah menjadi bagian dari
masyarakat yang pluraristik tapi masih memiliki jiwa kebersamaan.

MASYARKAT MARITIM
PEDALAMAN

Masyarakat maritim yang mendiami pulau-pulau kecil dan


pantai-pantai terpencil hampirtidak dikenal oleh sebagian
besar oleh orang di Nusantara ini, hal tersebut telah
menyebabkanmereka termarjinalkan dari berbagai bidang
pembangunan kebangsaan, karena itu perlu ada upaya
mengenali kebudayaannya. Kebudayaan adalah sesuatu
kumpulan pedoman atau pegangan yang kegunaannya
operasional dalam hal manusia mengadaptasi diri dengan
menghadapi lingkungan tertentu (lingkungan fisik/alam,
sosial dan kebudayaan) untuk dapat melangsungkan
kehidupannya, yaitu memenuhi kebutuhan-kebutuhannya
dan untuk dapat hidup secara lebih baik lagi.

MAKASSAR SEBAGAI KOTA


MARITIM
Munculnya Makassar salah satu etnis maritim dalam percaturan politik
ekonomi Nusantara tidak terpisahkan dari usaha kerajaan Gowa
membangun diri sebagai kerajaan maritim utama di Indonesia Timur.
Usaha-usaha itu antara lain adalah menguasai daerah-daerah pedalamam
Bugis penghasil beras dan hasil hutannya. Itulah sebabnya terjadi perang
penaklukkan atas kerajaan-kerajaan Bugis di pedalaman sejak awal abad
16. Gowa sebagai simbol kerajaan Gowa yang berdaulat juga menguasai
jalur pelayaran dan perdagangan di Indonesia Timur dengan
menempatkan Somba Opu sebagai pelabuhan transito utama bagi
perdagangan rempah dari Maluku. Dalam memperkuat posisinya itu
Kerajaan Gowa berusaha menjalin kerjasama dan hubungan diplomatik
dengan kerajaan-kerajaan luar dan menjadikan Somba Opu sebagai
benua Maritim dengan menempatkan Kerajaan Tallo sebagai pusat
teknologi perkapalan. Untuk mewujudkan sebagai kerajaan maritim
yang kuat maka

dibangun angkatan perang yang kuat dengan sistem birokrasi


yang modern. Untuk meningkatkan ekonomi maka kerajaan
Gowa juga memperdagangkan Budak. Perdagangan budak ini
dianggap penting karena dapat memberi penghasilan yang tinggi
pada kerajaan tanpa perlu bekrja keras, karena komoditas budak
diperoleh sejalan dengan perang penaklukan dari berbagai
wilayah di Indonesia Timur.

DINAMIKA STRUKTURAL
MASYARAKAT MARITIM
Di Sulawesi Selatan, tempat kediaman dan asal usul komunitas-komunitas nelayan
Bugis, Bajo, dan Makassar di berbagai tempat di Nusantara ini, dikenal kelompok
kerjasama nelayan yang dikenal dengan istilah Po(u)nggawa-Sawi(P-Sawi) yang
menurut keterangan dari setiap desa telah ada dan bertahan sejak ratusan tahun
silam. Meskipun kelompok P-Sawi juga digunakan dalam kegiatan pertanian,
perdagangan di darat, dan pengelolaan tambak, namun kelompok ini lebih eksis dan
menyolok peranannya dalam aktivitas pelayaran dan perikanan rakyat Bugis,
Makassar, dan Bajo di Sulawesi Selatan dan tempat-tempat lainnya di Indonesia.
Struktur inti/elementer dari kelompok organisasi ini ialah P.Laut atau juragan dan
Sawi. P.laut berstatus pemimpin pelayaran dan aktivitas produksi dan sebagai
pemilik alat-alat produksi. Para P.Laut memiliki pengetahuan kelautan, pengetahuan
dan keterampilan manajerial, sementara para sawi hanya memiliki pengetahuan
kelautan dan keterampilan kerja/prodiksi semata.

Pola hubungan (struktur sosial) yang menandai hubungan dalam


kelompok P.Sawi baik dalam bentuknya yang elementer
(P.Laut/Juragan-Sawi) maupun bentuk lebih kompleks
(P.Darat/P.Lompo-P.Laut/Juragan-Sawi) ialah hubungan patronclient. Hubungan patron-client memolakan dari atas bersifat
memberi servis ekonomi, perlindungan, pendidikan informal,
sedangkan dibawah mengandung muatan moral dan sikap
ketaatan dan kepatuhan, kerja keras, disiplin, kejujuran,
loyalitas, tanggung jawab, pengakuan, dan lain-lain (dapat
dipahami sebagai modal sosial).

TERIMA KASIH