Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN
Dunia kedokteran saat ini sangat maju dengan pesat terutama dengan
pekembangan dan aplikasi komputer bidang kedokteran sehingga ilmu radiologi
turut berkembang pesat mulai dari pencitraan organ sampai ke pencitraan selular
atau molekular. Di Indonesia perkembangan kedokteran terutama dalam bidang
radiologi masih banyak dilakukan serta perlu dukungan pemerintah.
Dalam dunia kedokteran imaging adalah hal umum dengan berbagai
tehnik digunakan untuk menghasilkan gambaran dari tulang dan organ tubuh
manusia. Pencitraan atau imaging digunakan untuk membantu para praktisi
kesehatan dalam mencari penyebab penyakit hingga terapi pada beberapa
penyakit.
Seiring semakin berkembangnya ilmu radiologi , maka pemeriksaan
radiologi pada traktus urinarius juga semakin berkembang. Saat ini menurut
beberapa jurnal mengatakan bahwa terjadi peningkatan prevalensi gangguan pada
traktus urinarius seperti nefrolitiasis yang meningkat sekitar 5 % - 12 % dari tahun
2000 hingga 2010.
Gangguan pada traktus urinarius atau saluran kemih dapat disebabkan oleh
beberapa hal seperti infeksi, trauma, batu maupun kelainan lainnya. Gangguan
pada salurah kemih dapat dikenali melalui gejala klinis. Gangguan pada saluran
kemih atas (ginjal, sistem pelviokalises dan ureter) harus dibedakan dari gangguan
saluran kemih bawah (kandung kemih dan uretra), yang sangat umum dan tidak
memerlukan investigasi radiologi. Gangguan pada saluran kemih berpotensi
menjadi serius jika ada obstruksi. Tujuan dari pencitraan adalah untuk
menghilangkan komplikasi, yang utama adalah obstruksi yang memerlukan
intervensi mendesak.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. ANATOMI TRAKTUS URINARIUS
Traktus Urinarius atau sistem perkemihan terdiri dari: a) dua ginjal
(ren) yang menghasilkan urin, b) dua ureter yang membawa urin dari
ginjal ke vesika urinaria (kandung kemih), c) satu vesika urinaria
(VU), tempat urin dikumpulkan, dan d) satu urethra, urin dikeluarkan
dari vesika urinaria.1

Gambar
1.Anatomi Traktus Urinarius 1
a) Saluran Kemih Atas
1. Ginjal (Ren)
Ginjal adalah sepasang organ saluran kemih yang terletak di rongga
retroperitoneal bagian atas. Ginjal terletak pada dinding posterior abdomen
di belakang peritoneum parietal , yang berada diantara vertebra thorakalis
ke 12 sampai vertebra lumbalis ke-3. Ginjal kanan sedikit lebih rendah dari
ginjal kiri, karena adanya lobus hepatis dexter yang besar..Bentuknya
menyerupai kacang dengan sisi cekungnya menghadap ke medial.
Cekungan ini disebut sebagai hilus renalis, yang di dalamnya terdapat
apeks pelvis renalis dan struktur lain yang merawat ginjal, yakni pembuluh
2

darah, sistem limfatik, dan sistem saraf.1

Ginjal mempunyai lapisan luar, korteks yang berisi glomeruli,


tubulus kontortus proksimal-distal dan duktus kolektivus, serta di lapisan
dalam, medulla, yang mengandung bagian-bagian tubulus yang lurus,
lengkung (ansa) henle, vasa rekta dan duktus koligens terminal.
Setiap ginjal mengandung sekitar satu juta nefron ) yang
merupakan unit fungsional ginjal. Nefron terdiri dari : Glomerulus, tubulus
proximal, ansa henle, tubulus distal dan tubulus urinarius. Pada manusia,
pembentukan nefron telah selesai pada janin 35 minggu, tetapi maturasi
fungsional belum terjadi sampai di kemudian hari. Perkembangan paling
cepat terjadi pada 5 tahun pertama setelah lahir. Karena tidak ada nefron
baru yang dapat dibentuk sesudah lahir, hilangnya nefron secara progresif
karena proses infeksi saluran kemih atau refluks dapat menyebabkan
gangguan ginjal

Gambar 2.Ginjal 3

Gambar 3. Potongan membujur ginjal dan jaringan ginjal satu tubulus 3


Fungsi ginjal adalah ;
a) Memegang peranan penting dalam pengeluaran zat-zat toksin
atau racun
b) Mempertahankan suasana keseimbangan cairan
c) Mempertahankan keseimbangan kadar asam dan basa dari
cairan tubuh
d) Mengeluarkan sisa-sisa metabolisme akhir dari protein ureum,
kreatinin dan amoniak.

Fungsi ginjal adalah mengatur komposisi dan volume cairan


ekstrasel. Secara spesifik fungsi ginjal mempertahankan cairan
ekstrasel dengan cara mempertahankan keseimbangan air seluruh
tubuh dengan mempertahankan volume plasma yang tepat melalui
pengaturan eksresi garam dan air yang berdampak pada pengaturan
tekanan darah jangka panjang dan membuang hasil akhir dari
proses metabolisme seperti ureum, kreatinin, dan asam urat yang
bila kadarnya meningkat di dalam tubuh dapat bersifat toksik.
4

Ginjal memerankan berbagai fungsi tubuh yang sangat penting bagi


kehidupan, yakni menyaring (filtrasi) sisa hasil metabolisme dan toksin darah,
serta mempertahankan homeostasis cairan dan elektrolit tubuh, yang kemudian
dibuang melalui air kemih.Fungsi tersebut diantaranya: (1) mengontrol sekresi
hormon aldosteron dan ADH (anti diuretic hormone) yang berperan dalam
mengatur jumlah cairan tubuh; (2) mengatur metabolisme ion kalsium dan
vitamin D; serta (3) menghasilkan beberapa hormon,antara lain: eritropoietin
yang berperan dalam pembentukan sel darah merah,renin yang berperan dalam
mengatur tekanan darah,serta hormon prostaglandin yang berguna dalam berbagai
mekanisme tubuh.
2. Ureter
Ureter adalah organ berbentuk saluran kecil yang berfungsi mengalirkan
air kemih dari pielum (pelvis) ginjal ke dalam buli-buli. Pada orang dewasa
panjangnya lebih kurang 25-30 cm, dan diameternya 3-4 mm. Dindingnya terdiri
atas: (1) mukosa yang dilapisi oleh sel transisional, (2) otot polos sirkuler, dan (3)
otot polos longitudinal. Kontraksi dan relaksasi kedua otot polos itulah yang
memungkinkan terjadinya gerakan peristaltik ureter guna mengalirkan air kemih
ke dalam buli-buli. Jika karena suatu sebab terdapat sumbatan pada lubang ureter
sehingga menyumbat aliran air kemih, otot polos ureter akan berkontraksi secara
berlebihan, yang bertujuan untuk mendorong atau mengeluarkan sumbatan itu
dari saluran kemih. Kontraksi itu dirasakan sebagai nyeri kolik yang datang secara
berkala, sesuai dengan irama peristaltik ureter.1,2

Gambar 4.Ureter 1
5

b) Saluran Kemih Bawah


1. Vesika Urinaria
Buli-buli atau vesika urinaria adalah organ berongga yang terdiri atas 3 lapis
otot detrusor yang saling beranyaman, yakni (1) terletak paling dalam adalah otot
longitudinal, (2) ditengah merupakan otot sirkuler, dan (3) paling luar merupakan otot
longitudinal. Mukosa buli-buli terdiri atas sel transisional yang sama seperti pada
mukosa pelvis renalis, ureter, dan uretra posterior. Buli-buli berfungsi menampung air
kemih dari ureter dan kemudian mengeluarkannya melalui uretra dalam mekanisme
miksi (berkemih). Dalam menampung air kemih, buli-buli mempunyai kapasitas
maksimal, yang volumenya untuk orang dewasa lebih kurang adalah 300-450 ml.

Gambar 5.Vesika Urinaria 3


2. Urethra
Urethra merupakan saluran yang menyalurkan air kemih ke luar dari buli-buli
melalui proses miksi. Secara anatomis urethra dibagi menjadi dua bagian, yaitu urethra
posterior dan urethra anterior. Pada pria, organ ini berfungsi juga dalam menyalurkan
cairan mani. Urethra dilengkapi dengan katup urethra interna yang terletak pada
perbatasan buli-buli dan urehtra,serta katup uretra eksterna yang terletak pada perbatasan
uretra anterior dan posterior.
Mukosa urethra yang meliputi dari glans penis dibentuk oleh lapisan skuamos
epithelium. Dinding urethra terdiri dari 3 lapisan yaitu lapisan otot polos yang merupakan
6

kelanjutan otot polos dari vesika urinaria mengandung jaringan elastis dan otot polos
sehingga sphincter urethra menjaga agar urethra tetap tertutup , lapisan submukosa
merupakan lapisan longgar mengandung pembuluh darah dan saraf dan lapisan mukosa.
Pada bagian proksimalnya dibentuk oleh tipe lapisan transisional.
Katup urethra interna terdiri atas otot polos yang dipersarafi oleh sistem simpatik
sehingga pada saat buli-buli penuh, katup ini terbuka.Katup urethra eksterna terdiri atas
otot bergaris yang dipersarafi oleh sistem somatik.Aktivitas katup urethra eksterna ini
dapat diperintah sesuai dengan keinginan seseorang.Pada saat berkemih katup ini terbuka
dan tetap terutup pada saat menahan rasa ingin berkemih.Panjang uretra wanita kurang
lebih 3-5 cm, sedangkan uretra pria dewasa kurang lebih 23-25 cm .
Pada laki-laki urethra terdiri dari:
1. Urethra pars Prostatica
2. Urethra pars membranosa ( terdapat spinchter urethra externa)
3. Urethra pars spongiosa.

Gambar 6.Urethra 3

B. PEMERIKSAAN RADIOLOGI TRAKTUS URINARIUS


Pencitraan (imaging) trakrus urinarius merupakan pemeriksaan yang essential dalam proses
diagnosa dan terapi penyakit urologi. Dengan pemeriksaan ini didapatkan informasi tentang
anatomi, fungsi dan fisiologi traktus urinarius.
Pencitraan traktus urinarius yang konvensional meliput foto

polos

abdomen,

urography

intravena, sistografi, loopography dan urethrograpy retrograde. Pemeriksaan imaging yang


mutakhir meliputi ultrasonography, computed tomography, magnetic resonance imaging,
nuclear scintigraphy dan positron emission tomography.

PENCITRAAN UROLOGI KONVENSIONAL


Walaupun untuk pencitraan urologi mengalami kemajuan dan perkembangan yang sangat
pesat, cara pemeriksaan yang konvensional, yang lama, tetap mempunyai peranan yang
penting.
1. Foto polos abdomen
Pemeriksaan ini masih menjadi standart pada pada pemeriksaan radiologi traktus urinarius,
yang merupakan survey primer untuk penilaian awal adanya proses

patologi

di

traktus

urinarius atau dalam abdomen. Pemeriksaan ini juga merupakan foto awal dari suatu
urography dengan kontras. Foto polos abdomen sering pula disebut sebagai KUB, BNO, dan
BOF yang masing-masing merupakan singkatan dari Kidney Ureter and Bladder, Blaas Nier
Overzicht, Buik Overzicht Foto.4,5,6
Pada foto polos abdomen terdapat beberapa densitas radiography yang berbeda

- Udara berwarna hitam


- Kalsifikasi berwarna putih
- Jaringan lunak berwarna abu-abu

Dengan memperhatikan densitas radiography tersebut, struktur intraabdomen dapat


dibedakan. Kalsifikasi atau bayangan radioopak dapat merupakan bayangan dari batu di
sepanjang traktus urinarius, kalsifikasi divaskular yang disebut phlebolith. Densitas yang
meningkat dari struktur tulang dapat disebabkan oleh proses osteoblastik pada metastase
karsinoma prostat. Batu asam urat yang bersifat radiolusen dan batu radiopak yang super
impose dengan struktur tulang sulit dilihat dengan foto polos abdomen.Pada prinsipnya foto
polos digunakan dalam menentukan assessment adanya batu dalam traktus urinarius , yang
memiliki akurasi 50 %.

Gambar 7.Penyebab gangguan tersering yang ditemukan pada KUB 4


Cara pembacaan foto ini secara sistematis mengikuti 4S, yaitu :

Side
:
- Batas sisi kiri dan kanan harus mencakup seluruh abdomen.
- Batas atas harus mencakup outline kedua ginjal.
- Batas bawah (caudal) harus mencakup batas bawah tulang panggul jika perlu dengan 2 foto

Skeleton
: Seluruh struktur tulang harus diperihatikan secara sistematis
Soft
tissue : Diperhatikan kontur dari kedua ginjal, garis muskulus psoas dan kontur dari

buli-buli.
Stone

: Memperhatikan adanya bayangan opak pada sistem traktus urinarius mulai

dari ginjal sampai buli-buli.


Kelebihan dan kekurangan foto polos abdomen:

- Peranan foto

polos abdomen belakangan menjadi berkurang karena keberadaan

ultrasonography dan teknik imaging lain yang lebih kompleks.


- Foto polos abdomen memang bukan sarana yang ideal untuk diagnosa. Tetapi walaupun
begitu pemeriksaan ini merupakan sarana yang ekonomis untuk follow up batu saluran kemih
opak, untuk mendeteksi benda asing yang opak dan untuk melihat posisi dari stent dan drain.

Gambar 8. Foto Polos Abdomen4


PENCITRAAN UROLOGI DENGAN KONTRAS
Bahan kontras:
Setelah sinar X diketemukan maka langkah berikutnya adalah berusaha mendapatkan
visualisasi dari traktus urinarius.
Pada tahun1905 Voelcher dan Von Lichtenberg dari

Jerman

membuat

sistogram

dengan menggunakan larutan koloid perak, dan tahun berikutnya mencoba melakukan
retrograde pyelography dengan bahan kontras yang sama. Kekurangan dari bahan kontra
larutan Silver ini ialah sulit pembuatannya dan traumatis untuk ginjal.
Pada tahun 1923 Osborne dan kawan-kawan melaporkan pemeriksaan intravena
urography menggunakan larutan sodium iodide 10% sebanyak sekitar 20 gram garam

10

yodium, visualisasi dari kandung kemih cukup baik tetapi opasitas dari traktus urinarius
bagian atas tidak cukup jelas.
Kemajuan yang cukup berarti terjadi pada sekitar tahun 1950-an dimana berhasil
dibuat larutan kontras berjodium derivat dari 2,4-6 triiodinated dengan gugusan karboksil
pada rantai 1, dengan menghilangkan gugus karboksil dan menambahkan gugus hidroksil
diperoleh suatu kontras dengan osmolaritas rendah sehingga kurang
Reaksi karena kontras media dapat berupa

nephrotoksik.

alergi, gangguan vaskular dan nephrotoksik.

Angka kejadian reaksi kontras mencapai 12% dan 3% bila menggunakan non ionik kontras
media.Sebagian reaksi kontras bersifat ringan saja berupa nausea, vomiting, urtikaria dan
edema daerah muka. Reaksi ini biasanya teratasi dengan pemberian antihistamin. Bila terjadi
bronkospasme diberikan adrenergic agonist atau epineprine. Reaksi yang berat dapat
menimbulkan shock dan memerlukan rawat inap. Bahan kontras dapat menyebabkan
gangguan fungsi ginjal akut dan disebut sebagai Contrast Induced Nepropathy (CIN). Resiko
CIN meningkat bila terdapat preexisting renal insufficiency lebih lagi bila terdapat faktor
dehidrasi sewaktu dilakukan pemeriksaan. Penggunaan non ionic kontras juga mengurangi
CIN. Bila fungsi ginjal normal kejadian CIN kurang dari 1%.

1. INTRAVENOUS PYELOGRAPHY (IVP)


Intravenous Pyelography ( IVP ) adalah visualisasi traktus urinarius dengan menyuntikkan
kontras intravena. Indikasi IVP sangat banyak misalnya, untuk mengetahui keadaan parenkim
ginjal, sistem pyelokaliks, ureter dan kandung seni. Pemeriksaan ini digunakan untuk follow
up hematuria dan urolithiasis. Belakangan peranan IVP menurun sejalan makin seringnya
dilakukan pemeriksaan CT Scan.
Persiapan penderita :
Bila perlu dilakukan test kehamilan, persiapan usus walaupun tidak mutlak perlu dilakukan
untuk memperjelas visualisasi pelviokaliks sistem. Makanan cair mulai dilakukan sejak 24
jam sebelum pemeriksaan kemudian diberikan laxan atau enema. Persiapan usus mutlak
dilakukan pada pasien dengan obstipasi kronis atau gangguan neurologis usus. Dehidrasi
memperbaiki visualisasi kontras tetapi meningkatkan resiko CIN. Penghentian intake cairan
6-8 jam sebelum pemeriksaan cukup untuk visualisasi yang optimal.
Tehnik : Setelah pemeriksaan termasuk test alergi terhadap iodium, sebelum kontras
disuntikkan dibuat foto polos abdomen dalam posisi telentang (supine). Setelah hasil foto
11

dinilai memenuhi syarat dilanjutkan dengan penyuntikan kontras sebanyak 50-100ml melalui
jarum 18G secara bolus atau drip. Segera setelah itu dibuat foto, ini untuk melihat
nephrogram, kalau perlu dilakukan tomography 5 menit setelah injeksi kontras dibuat foto
untuk melihat opasitas dari pelviokalik sistem. Kompresi abdomen dapat memperjelas
visualisasi system kaliks. Selanjutnya dibuat foto 15 menit dan 30 menit. Foto 30 menit
dibuat dengan film besar untuk menilai seluruh ureter dan kandung kemih berdasarkan
sistography. Bila perlu dibuat sistography dalam posisi oblik. Setelah itu dibuat lagi foto
miksi. Foto-foto yang lain tergantung masing-masing kasus. Bila terdapat indikasi bersaing
antara pencitraan traktus urinarius dan traktus

digestivus maka IVP dikerjakan lebih

dulu.

12

Gambar 9.Foto Post Kontras BNO IVP.(A) Setelah disuntikkan kontras, (B) 5 menit, (C) 15
menit, (D) Kontras mengisi buli-buli, (E) Post miksi 4

2. RETROGRADE PYELOGRAPHY (RPG)

13

RPG adalah visualisasi imagine dari ureter dan pelviokaliks sistem secara retrogade,
melalui sistoskopi yang dimasukkan melalui ureter kateter kedalam muara ureter hingga
pelviokaliks dan diikuti penyuntikan kontras. Indikasi Retrograde pyelography dilakukan bila
dengan pemeriksaan lain yang kurang invasive misalnya IVP informasi tentang ureter belum
cukup. Selain itu RPG seringkali dilakukan sebagai bagian awal dari ureteroskopi dan
perkutaneus nephrolitotripsi.

Gambar 10.Retrograde Pyelogram


14

3. ANTEGRADE PYELOGRAPHY (APG)


APG adalah pencitraan pelviokalises dan ureter dengan memasukkan kontras melalui kateter
nephrostomy. Pemeriksaan ini dilakukan apabila retrograde pyelography tidak dapat
dilakukan , misalkan dikarenakan ureter yang sempit.

Gambar 11. Antegrade pyelography, Ureter mengalami dilatasi4

4. SISTOURETHROGRAPHY
Sistourethrography adalah pencitraan dengan kontras untuk evaluasi traktus urinarius bagian
bawah. Sistourethrography terdiri dari 3 macam pemeriksaan:
a. Sistographystatic.
b. Sistography voiding
c. Urethrography retrograde

Sistographystatic
Indikasi : Untuk mengetahui apakah terdapat ;

15

- Rupture buli-buli
- Fistel dari buli
- Lesi didalam buli-buli (space occupying lesion )
- Evaluasi anastomose vesikourethra
Tehnik :
Dimulai dengan membuat foto polos abdomen,

kemudian

melaui

kateter

dimasukkan

sebanyak 200-400 ml kontras dan dibuat foto posisi AP dan oblique. Sebaiknya pengisian
kontras dimonitor dengan fluoroskopi. Setelah itu dibuat foto post drainage.
b. Sistography voiding
Sering pula disebut sebagai voiding cystourethrography ( VCUG ) atau mictie
cystourethrograpy (MCUG)
Indikasi

Untuk melakukan evaluasi vesiko urethra secara anatomi dan fungsional.Ini biasanya
dilakukan pada anak-anak dengan ISK berulang untuk mencari causa primernya seperti: VUR
value (klep) urethra dan ureterocele.
Tehnik :

Dibuat foto polos abdomen


Kontras dimasukkan melalui kateter atau feeding tube ch 8
Jumlah kontras: { usia (tahun ) + 2 } x 30ml.
Setelah itu dibuat foto pada saat pasien miksi, foto oblique penting untuk deteksi
refluks grade 1

c. Urethrography Retrogade
Indikasi

: untuk evaluasi urethra, misalnya untuk evaluasi urethra striktur atau rupture
urethra

Tehnik

: Foley catheter ch 8 dimasukkan dan balon dikembangkan di fossa

navicularis kemudian sebanyak 50ml kontras dimasukkan pelan-pelan. Foto dibuat dalam
posisi oblique dengan

penis

diregangkan

secukupnya

sehingga

sudut

penoskrotal

hilang,dapat pula dikerjakan dengan bantuan klem Broadney.

16

5. LOOPOGRAPHY
Loopography adalah pencitraan dengan kontras pada pasien dengan urinary conduit. Kontras
melalui kateter dimasukkan kedalam loop/stoma urine.
Indikasi untuk melakukan evaluasi terhadap conduit urine khususnya bila ada masalah.

Gambar 12. Loopogram 4

6. ULTRASONOGRAPHY (USG)
USG yaitu pencitraan dengan menggunakan gelombang frekuensi tinggi USG traktus
urogenital sangat sering digunakan dalam proses diagnosa dan terapi penyakit urologi.
Beberapa kelebihan dari pemeriksaan ini adalah tidak invasive, tidak bergantung pada faal
ginjal, tidak dijumpai efek samping, tanpa kontras, tidak menimbulkan nyeri, tanpa radiasi,
memberikan gambaran anatomik yang cukup akurat, relatif cepat dan biaya pemeriksaaan
relatif murah.USG dapat memberikan keterangan tentang ukuran, bentuk, letak dan struktur
anatomi dalam ginjal.6
Kekurangan dari pemeriksaan USG adalah operator dan alat dependent, tidak memberi
informasi fungsi ginjal, tidak bisa untuk deteksi non delated ureter, memerlukan acoustic
window. Tranducer yang biasa digunakan adalah berbentuk convex dengan frekuensi antara
3,5-5 MHz. Untuk pencitraan organ yang superfisial misalnya testis/intrascrotal diperlukan
frekuensi yang lebih tinggi. Tranduser menghasilkan gelombang suara ultra dan
17

ditransmisikan ke dalam tubuh, oleh tubuh tergantung jaringannya, gelombang mengalami


refleksi, refraksi maupun absorbsi.4,6
Udara akan merefleksi seluruh gelombang, artinya tidak bisa menghantarkan gelombang.
Tulang mengabsorpsi seluruh gelombang. Gelombang echo ditangkap lagi oleh receiver
dalam tranducer dan dikirimkan ke alat USG untuk diolah jadi gambar.
a. USG Ginjal :
USG memberikan data yang amat baik atas keadaan parenkim ginjal , dapat membedakan
massa yang solid atau kistik dan juga untuk evaluasi dan menentukan derajat hidroneprosis.
Selain itu USG berguna untuk evaluasi allograft dan batu ginjal. Batu ginjal ditandai dengan
area hyperechoic dengan acoustic shadow, fat perirenal, kortek dan medulla ginjal dapat
dibedakan dengan jelas pada gambar USG. Pemeriksaan dengan Doppler (color) dapat
dipakai untuk menilai vaskularisasi dan aliran darah ginjal.

Gambar 13. Gambaran normal ginjal hipoechoic pada korteks , dan hiperechoic pada medulla

b. USG Buli-buli :
Pemeriksaan USG buli-buli biasanya dikerjakan bersama dengan USG Ginjal dan disebut
USG Urologi. Indikasi dari

pemeriksaan ini adanya lesi intravesika, misalnya tumor buli-

buli, batu buli-buli, ureterocele, pembesaran prostat, khususnya yang intravesika, batu
diuereter ostia atau bladder neck, bekuan darah intravesika, pengukuran sisa urin, kapasitas
18

buli dan lain-lain. Tranduser atau probe untuk pemeriksaan buli-buli ada beberapa macam
yaitu : tranasabdominal, tranurethral, transvagina, dan transrectal. Pemeriksaan USG Bulibuli sebaiknya dikerjakan pada saat kandung kemih berisi optimal, tidak kososng dan tidak
terlalu penuh.

Gambar 14. Gambaran normal buli-buli pada potongan transversal dan sagittal 4
c. USG Prostat:
USG Prostat paling baik dikerjakan dengan menggunakan probe transrectal. Dengan
pemeriksaan ini volume dapat diukur dengan mengkalkulasikan panjang, lebar dan tinggi.
Alat USG generasi terakhir dapat menghitung volume prostat secara langsung. Bila terdapat
area hipoechoic sangat dicurigai adanya Ca Prostat. Ektensi dari

Ca Prostat juga dapat

diketahui dengan pemeriksaan USG ini.


d. USG Scrotum :
Pemeriksaan ini merupakan procedure of choise dalam mendiagnosa patologi intrascrotal.
Organ intrascrotal lokasinya superfisial karena itu probe yang digunakan adalah yang high
frequency (7,5-10 MHz). Pemeriksaan dengan Color Doppler Ultrasound dapat menilai flow
(aliran) darah intrascrotal misalnya refluks dan kongesti pada varicocele dan tidak adanya
flow pada testis yang mengalami torsio.
e. USG Urethra
USG pada urethra pria dapat untuk menilai panjangnya stiktur dan luasnya jaringan fibrosa.

19

7. COMPUTED TOMOGRAPHY SCAN (CT Scan)


Belakangan ini peranan CT Scan dalam pemeriksaan traktus urogenital makin luas, makin
penting dan makin sering digunakan. Pemeriksaan ini sangat berguna untuk pencitraan
adrenal ginjal dan evaluasi urolithiasis. Dibandingkan IVP hasil pemeriksaan CT Scan
memberikan visualisasi yang lebih baik parenkim ginjal dan organ sekitarnya.Teknologi alat
CT Scan juga mengalami perkembangan dan perbaikan yang kontinyu, dimulai dari alat yang
konvensioanl kemudian helical/spiral CT dan terakhir adalah Multislices CT Scan.
Pemeriksaan CT Scan dapat dikerjakan tanpa kontras ataupun dengan kontras. Kontras dapat
diberikan peroral untuk memberikan opasitas pada organ cerna sehingga mudah dibedakan
dengan traktus urinarius tetapi mempersulit evaluasi urolithiasis. Kontras intravena seperti
pada pemeriksaan IVP.
a. CT Scan Ginjal

Pencitraan ginjal dengan CT Scan terdiri dari beberapa fase, yaitu fase pra kontras, fase
kortio medular, fase nephrogenic dan fase pyelographik. Pada fase

pra kontras dapat

diketahui adanya urolithiasis, keadaan parenkim, kalsifikasi vascular dan kontur dari
ginjal.Fase kortikomedular, 30 detik setelah injeksi kontras dapat dilihat kortak dan medulla
seratus detik setelah kontras dimasukkan , masuk ke fase nephrographik dimana nephrogram
menjadi sangat jelas. Pada fase ini sangat baik menilai suatu massa didalam ginjal. Bila
kontras telah memasuki pyelum disebut sebagai fase pyelographik. Pada foto CT Scan akan
tampak ginjal dikelilingi lemak peri renal yang berwarna gelap. Kapsul ginjal tidak bias
dibedakan dengan parenkim. Parenkim ginjal yang normal adalah homogen pada tiap fase.
Vena renalis kiri berjalan di anterior aorta dan berada di posteroinferior (caudal) dari arteri
mesenterica superior. Vena renalis kanan berada di posterolateral dari vena kava inferior dan
arteri renalis kiri lebih kecil dan berada di posterior dari vena renalis. Struktur yang berada
disekitar ginjal kanan adalah hepar, duodenum, colon ascenden, kandung empedu, dan caput
pancreas. Ginjal kiri berada dekat kauda pancreas, lien dan colon descenden.

20

Gambar 15. Gambaran CT-Scan Non Kontras dan Kontras pada ginjal dan ureter 4
b. CT Scan Adrenal

Lesi di kelenjar adrenal seringkali terdeteksi secara insidental sehingga sering disebut
insidentaloma. Keadaan patologi yang dapat mengenai adrenal adalah keganasan baik primer
maupun metastase dan fungsional adenoma seperti pheokromositoma. Bila densitas massa
adrenal kurang dari 0 Hounsfield Unit (HU) pada fase pra kontras dicurigai adenoma. Bila
densitas lebih dari 20 HU mungkin suatu metastase.
gambar lebih baik dari

Pencitraan

dengan

MRI

memberi

CT Scan.

c. CT Scan Kandung Seni


Hasil Scanning kandung seni sangat tergantung pada volume pengembangan kandung seni.
Kandung seni yang kosong tidak banyak memberi informasi karena kolaps.
CT Scan Prostat dan Vesikula seminalis :
CT Scan jarang digunakan untuk pencitraan kelenjar prostat dan vesikula seminalis.
d. CT Scan IVP :
CT Scan dengan kontras merupakan alternative dari IVP. Setelah fase pyelogram CT Scan
IVP ini dapat memberikan gambaran yang jelas dari ureter.
Indikasi yang kuat untuk menggunakan CT Scan IVP adalah untuk mengevaluasi hematuria.
e. CT Scan Angiography:
CT Scan Angiography merupakan cara non invasive untuk melakukan pencitraan vascular
ginjal, tanpa harus mengakses langsung arteri renalis. Kontras disuntikkan dengan cepat dan

21

dibuat scan pada fase arterial. Dengan helical/spiral atau MS Scan bayangan tulang dan soft
tissue dapat dieliminisasi sehingga hanya tampak vaskuler ginjal.
Indikasi CT Angiography adalah persiapan donor nephrektomi, pemeriksaan anomaly
vascular penyebab UPJ stenosis dan hipertensi renal.

8. MAGNETIC RESONANCE IMAGING ( MRI )


MRI adalah pencitraan tomographic berdasarkan perubahan atau perbedaan gelombang
magnet. Pemeriksaan dengan alat ini tidak perlu radiasi,tidak perlu kontras sehingga aman
untuk penderita insufisiensi fungsi ginjal dan yang memiliki reaksi terhadap kontras. MRI
digunakan untuk pencitraan jaringan lunak (soft tissue). Gambar yang dihasilkan jauh lebih
baik dibanding CT Scan.
Beberapa kelebihan MRI dibanding CT Scan adalah :6
1.
2.
3.
4.

Tidak menggunakan sinar-X.


Tidak terhalang oleh fungsi ginjal.
Memberikan gambar yang lebih baik untuk jaringan lunak.
Potongan yang dihasilkanndapat 3 dimensi (aksial,koronal dan sagital) dan banyak
potongan dapat dibuat hanya dalam satu waktu ( dapat membuat lebih dari 8
potongan).

Kekurangan dari MRI adalah :6


1. Alat mahal.
2. Tidak dapat dilaksanakan bila pasien dengan pacemaker,atau adanya metal lain dari
tubuhnya.
3. Biaya pemeriksaan mahal.
4. Waktu pemeriksaan cukup lama.
Istilah yang digunakan pada MRI yaitu waktu relaxasi T1 dan T2 , yang merupakan
waktu dimana kembalinya proton yang bergetar dalam medan magnet keposisi semula. Ada 3
macam intensitas yaitu hipointens, isointens, dan hiperintens. Contoh air: hipointens pada T1
dan menjadi hiperintens pada T2 , lemak atau darah: hiperintens pada T1 dan T2 , kalsifikasi :
hipointens pada T1 dan T2.6
Setiap jaringan mempunyai karakteristik yang khas pada T1 dan T2, sehingga bila ada
perbedaan intensitas dari jaringan normal, akan mudah diketahui bahwa hal tersebut
merupakan kelainan.6

22

Ginjal dapat dengan jelas diketahui dengan MRI. Jaringan korteks dan parenkim ginjal
dapat dibedakan pada gambar T1. Beberapa kelainan yang sering ditemukan antara lain
sumbatan ureter diketahui dengan adanya pielum yang melebar dan ureter yang melebar yang
mempunyai gambaran hipointens pada T1 dan hiper intens T2 karena banyak mengandung
urin, fibrolipomatosis , infeksi , kista ginjal, dan tumor.6
MRI seperti CT dan USG dapat membedakan jaringan padat dengan kista. Akan tetapi
MR dapat membedakan stadium tumor ganas lebih baik daripada CT , serta keuntungan
lainnya pada MR ialah dapat mengenal dengan baik penjalaran tumor ke vena renalis dan

vena kava.6
Gambar 16. Gambaran normal ginjal pada MRI 4
9. SCINTIGRAPHY DENGAN NUKLIR
Kedokteran nuklir adalah bidang kedokteran yang memanfaatkan materi radioaktif
untuk menegakkan diagnosis dan mengobati penderita serta mempelajari penyakit
manusia.Pencitraan dengan radionuklir dapat digunakan untuk mengetahui fungsi fisiologi
dan anatomi dari ginjal. Penggunaan Sinar X pada pemeriksaan ini jauh lebih minimal bila
dibandingkan dengan pencitraan lain yang menggunakan sinar X.6
23

Untuk menilai keadaan tubuh, maka organ tersebut dijadikan sumber radiasi.Untuk itu
diperlukan suatu senyawa yang mengandung radioaktif yang dapat ditangkap oleh organ
tubuh secara selektif. Senyawa tersebut adalah radiofarmaka yang diberi batasan sebagai
suatu senyawa aktif yang dimasukkan kedalam tubuh penderita , ditelan atau disuntikkan
pada penderita akan dideteksi dan dihitung oleh gamma kamera dan diolah oleh complex
digital workstation sehingga dapat diinterpretasikan. Banyak cara penempatan radiofarmaka
dalam organ tubuh yang belum dapat dijelaskan mekanismenya, beberapa cara penempatan
radiofarmaka yang sudah diketahui mekanismenya anatara lain proses fagositosis, transport
aktif, penghalang kapiler, pertukaran difus, komparmental, pengasingan sel. Ada beberapa
bahan radionuklir yang digunakan untuk pemeriksaan ini :6
1. I 131
I 131 yaitu orthoiodohippurate.Ini merupakan bahan yang pertama kali digunakan dan efektif
untuk mengetahui renal plasma flow, ekskresi dan obstruksi. Half lifenya 8 hari karena itu
digantikan oleh Techmetium 99 m.
2. Techmetium 99 m
Techmetium memiliki half life 6 jam dan memberikan gambar yang lebih bagus.
Techmentium 99 m ini dikombinasikan dengan senyawa protein, yaitu :
a. Diethylene Triamine Pentacitic Acid ( DPTA )

baik untuk mengevaluasi fungsi ginjal

dan obstruksi.
b. Mercaptoacetyltriglycine ( MAG 3)
TcMAG3 bahan ini baik untuk mengetahui :
- Renalplasma flow
- Renal Function
- Diuretic scintigraphy
c. Dimercatosuccinic Acid ( DMSA ) bahan ini terikat dengan parenkim ginjal karena itu,
baik untuk pemeriksaan scan kortek ginjal, misalnya mengetahui scarring pada pyolephritis
kronis.
Keterbatasan pada pemeriksaan ini adalah tidak spesifik , karena pada gangguan parenkim
ginjal yang difus atau kelainan arteri renalis tidak akan tampak citra ginjal.
Renogram
24

Banyak senyawa yang diekskresi dari badan oleh atau lewat ginjal. Dengan menandai
salah satu senyawa itu dengan isotope radioaktif dan mengikuti tingkah laku radioaktif
tersebut didaerah ginjal , memungkinkan untuk melakukan evaluasi semikuantitatf fungsi
ginjal. Untuk kepentingan tersebut, orthoiodohippurate yang terutama disekresi oleh sel-sel
tubulus yang juga difiltrasi oleh glomerulus dapat menilai setiap tingkat fungsi ginjal.6
Indikasi : untuk menilai kelainan unilateral ginjal, misalnya hipertensi renal, utuhnya
pencangkokan arteri renalis, dan lain-lain. Juga untuk mengevaluasi penderita abstruksi
uropati, nekrosis tubular, pielonefritis, glomerulonephritis , dan untuk penderita yang
sensitive terhadap media kontras dalam radiologi. 6
Persiapan : Tingkat dehidrasi penderita normal, tidak mendapat diuretic. Untuk melindungi
tiroid, kepada penderita diberikan larutan lugol sebelum pemeriksaan.Pencatatan yang
dimulai mencatat 30 detik sebelum disuntikkan, beri tanda pada kertas pencatat pada waktu
penyuntikkan dimulai.Teruskan pencatatan sampai 30 menit setelah suntikkan atau sampai
aktivitas tinggal 50% di ginjal. 6
Pemeriksaaan renogram ini dapat menilai fungsi ginjal secara kualitatif , penilaian terhadap
kurva renogram berdasarkan bentuk kecuraman kurva tiap fase dan waktu yang dibutuhkan
oleh fase tersebut.Kurva renogram terdiri dari 3 fase yaitu (1) Fase Vaskuler, (2) Fase Sekresi,
(3).Fase Ekskresi. 6

Scanning Ginjal
Indikasi : untuk memberikan informasi tentang besar, bentuk dan letak ginjal , menilai fungsi
ginjal secara semi kuantitatif , untuk evaluasi tumor ginjal, trauma dan kista , untuk penderita
yang sensitif terhadap media kontras radiologi serta dalam keadaan ureum darah yang tinggi.
6

Tc-99m-DTPA dan Tc-99m-Iron-Ascorbic acid complex dan 99mTc-DMSA dapat diikat


diginjal sehingga dapat dipakai sebagai radiofarmaka pembuat scanning ginjal. 6
25

Persiapan : Tidak diperlukan.


Cara pemeriksaan : Scanning dibuat 1-2 jam setelah suntikan intravena radiofarmaka.Scan
dilakukan dari belakang dengan penderita tengkurap. 6

Gambar 17. Renogram dan Scintigraphy Ginjal4

DAFTAR PUSTAKA
1. Gunstream Stanley E.Anatomy and Physiology with integrated study guide. Third
Edition. McGraw-Hill. New York ; 2006; p 330-48.
2. Purnomo B. Dasar-Dasar Urologi. Edisi Ketiga. Sagung Seto. Jakarta : 2003.
3. www.google.com

26

4. Sutton D. Textbook of Radiology And Imaging Volume 2. Seventh edition.


Churchill Livingstone. 2003;p 885-1037.
5. Tanagho EA, McAninch JW. Smiths General Urology.17th Edition. McGrawHill LANGE. USA. 2008;p58-102.
6. Rasad S. Radiologi Diagnostik.Edisi Kedua. Balai Penerbit FK UI. Jakarta : 2010.
7. Palmer P.E.S . Panduan Pemeriksaan Diagnostik USG.EGC.Jakarta : 2002.

27