Anda di halaman 1dari 9

Hukum Kepler

Oleh : Dr. Chatief Kunjaya


Hukum-hukum Kepler yang nampak begitu sederhana, ternyata tidak dihasilkan dengan mudah
bahkan melalui kerja puluhan tahun. Prosesnya diawali dengan perancangan dan pembangunan
fasilitas pengukuran koordinat benda langit raksasa yang disebut quadrant oleh Tycho Brahe.
Dengan alat itu Tycho Brahe dapat melakukan pengukuran posisi benda langit dengan
kecermatan melebihi alat lain di zamannya. Johannes Kepler (1571 1630) dapat menyusun
hukumnya berdasarkan tumpukan data catatan hasil pengamatan Tycho Brahe yang memiliki
kecermatan yang tinggi. Selama 25 tahun data dikumpulkan oleh Tycho Brahe yaitu data tinggi
dan azimuth enam planet dari Merkurius hingga Saturnus. Data yang dikumpulkan oleh Tycho
kemudian diolah, dianalisis dan diinterpretasikan oleh asistennya seorang ahli matematika
Jerman yaitu Kepler setelah ia meninggal.
Hasil analisis Kepler terhadap data Tycho Brahe menunjukkan adanya perbedaan kecil tapi jelas
dan mengandung keteraturan tertentu antara posisi planet yang diamati dengan yang dihitung
dengan teori Ptolemeus atau Copernicus. Mengapa perbedaan ini tidak diketahui pada
pengamatan sebelum zaman Tycho Brahe? Karena pengukuran sebelumnya tidak menggunakan
alat yang akurat, sedangkan Tycho Brahe menggunakan quadrant alat ukur koordinat benda
langit yang paling teliti saat itu. Sebelumnya, untuk mensinkronkan agar hasil pengamatan itu
bisa cocok dengan teori heliosentris Copernicus, diperlukan epicycle yaitu lingkaran-lingkaran
kecil yang merupakan komponen kedua lintasan orbit planet selain orbit utamanya yang
berupa lingkaran yang berpusat di Matahari. Mengapa planet bisa bergerak dalam lingkaran kecil
epicycle ? Tidak ada penjelasan.

Kepler menemukan kenyataan bahwa data posisi planet-planet yang dikumpulkan oleh Tycho
Brahe itu lebih cocok jika orbit planet diperkenankan berbentuk elips dengan Matahari sebagai
pusatnya. Dengan cara demikian, gerak planet-planet dapat dipahami dengan lebih sederhana,
tidak diperlukan lagi epicycle-epicycle. Temuan ini kemudian diformulasikan oleh Kepler
sebagai :
Planet-planet mengelilingi Matahari dalam orbit elips, dengan Matahari berada pada salah
satu titik apinya.
Pernyataan ini kemudian terkenal sebagai Hukum Kepler I. Analisis lebih lanjut menunjukkan
bahwa kecepatan anguler sebuah planet mengelilingi matahari juga berubah menurut waktu.
Pada saat planet lebih jauh dari Matahari gerak orbitnya lebih lambat, dan pada saat planet lebih
dekat kecepatannya lebih tinggi. Hal ini kemudian dirumuskan dalam bentuk lebih kuantitatatif
sebagai Hukum Kepler II yaitu :
Garis hubung Matahari Planet menyapu daerah yang sama untuk selang waktu yang
sama.
Luas seluruh elips adalah ab, yang ditempuh dalam waktu P, sehingga luas daerah yang disapu
persatuan waktu adalah
L = ab/P
dengan a setengah sumbu panjang, b setengah sumbu pendek dan P periode. Sumbu a dan b
berhubungan dengan eksentrisitas sebagai berikut :
b2 = a2(1-e2)

Berdasarkan pengamatan bahwa semakin jauh planet dari Matahari periode orbitnya semakin
panjang, dan didukung dengan data pengamatan yang sangat banyak, diperolehlah hubungan
antara sumbu panjang orbit planet dan periodenya sebagai berikut :
Setengah sumbu panjang orbit pangkat tiga berbanding lurus dengan periode pangkat dua
a3 = kT2
Pernyataan ini terkenal dengan sebutan hukum Kepler III
Harga k ini, pada awalnya belum diketahui tapi nilainya sama untuk keenam planet yang diamati.
Hukum-hukum Kepler ini diperoleh secara empirik dari sifat keteraturan data posisi planet.
Dapat dibayangkan sulitnya memperoleh kesimpulan seperti itu dengan cara coba-coba dari data.
Tetapi menurunkan rumus hukum-hukum ini menjadi mudah setelah Newton menemukan
hukum atau teori tentang gerak, gravitasi dan kalkulus jauh setelah Kepler meninggal dunia.
Bahkan kemudian konstanta-konstanta yang ada pada hukum Kepler dapat diperjelas sebagai
berikut :
Luas daerah yang disapu oleh garis hubung matahari-planet tiap satuan waktu :
r2 d dt ( GMo a(1-e)), Mo adalah massa Matahari
Dengan r dan d /dt berturut-turut adalah jarak Matahari-Planet dan kecepatan sudut orbit pada
suatu saat tertentu. Harga k pada hukum Kepler di atas adalah :
k = G Mo / 4 2

Kuadrat waktu yang diperlukan oleh planet untuk menyelesaikan satu kali orbit sebanding
dengan pangkat tiga jarak rata-rata planet-planet tersebut dari matahari.
Jika T1 dan T2 menyatakan periode dua planet, dan r1 dan r2 menyatakan jarak rata-rata mereka
dari matahari, maka

Newton juga menunjukkan bahwa Hukum III Kepler juga bisa diturunkan secara matematis dari
Hukum Gravitasi Universal dan Hukum Newton tentang gerak dan gerak melingkar. Sekarang
mari kita tinjau Hukum III Kepler menggunakan pendekatan eyang Newton.
Terlebih dahulu kita tinjau kasus khusus orbit lingkaran, yang merupakan kasus khusus dari orbit
elips. Semoga dirimu belum melupakan Hukum Newton dan pelajaran Gerak Melingkar
Kita tulis kembali persamaan Hukum II Newton :

Pada kasus gerak melingkar beraturan, hanya terdapat percepatan sentripetal, yang besarnya
adalah :

Kita tulis kembali persamaan Hukum Gravitasi Newton :

Sekarang kita masukan persamaan Hukum Gravitasi Newton dan percepatan sentripetal ke dalam
persamaan Hukum II Newton :

m1 adalah massa planet, mM adalah massa matahari, r1 adalah jarak rata-rata planet dari matahari,
v1 merupakan laju rata-rata planet pada orbitnya.
Waktu yang diperlukan sebuah planet untuk menyelesaikan satu orbit adalah T1, di mana jarak
tempuhnya sama dengan keliling lingkaran,2phir1. Dengan demikian, besar v1 adalah :

Kita masukan persamaan v1 ke dalam persamaan di atas :

Misalnya persamaan 1 kita turunkan untuk planet venus (planet 1). Penurunan persamaan yang
sama dapar digunakan untuk planet bumi (planet kedua).

T2 dan r2 adalah periode dan jari-jari orbit planet kedua. Sekarang coba anda perhatikan
persamaan 1 dan persamaan 2. Perhatikan bahwa ruas kanan kedua persamaan memiliki nilai
yang sama. Dengan demikian, jika kedua persamaan ini digabungkan, akan kita peroleh :

MAGNITUDO BINTANG
Magnitudo tampak (m) dari suatu bintang, planet atau benda langit lainnya adalah pengukuran
dari kecerahan atau kecerlangan yang tampak; yaitu banyaknya cahaya yang diterima dari objek
itu.
Istilah magnitudo sebagai skala kecerahan bintang muncul lebih dari 2000 tahun yang lampau.
Sejarah dimulai ketika Hipparchus, astronom Yunani, pada tahun 120-an SM berhasil menyusun
katalog-bintang pertama. Katalog tersebut memuat 1080 bintang yang diamatinya (tanpa
teleskop!). Bintang paling terang disebut bermagnitudo 1; yang terang kedua disebut
bermagnitudo 2; dan seterusnya, yang paling redup dikatakan bermagnitudo 6. Penamaan ini
diadopsi oleh Cladius Ptolemy dalam menyusun katalog yang dinamainya Almagest.
Sejak ditemukannya teleskop, rentang magnitudo yang terbatas hanya 1-6 menjadi lebih lebar.
Galileo menemukan bintang-bintang yang lebih redup dari bintang magnitudo 6-nya Ptolemy.
Seiring dengan perkembangan teleskop, semakin lebarlah rentang tersebut. Bintang-bintang yang
semula redup sekali atau bahkan tidak tampak dengan mata biasa, dengan piranti optik ini
bintang-bintang tersebut bisa nampang di depan mata.
Pada tahun 1850-an diyakini kepekaan indera manusia dalam menangkap rangsangan bersifat
logaritmik. Bintang yang bermagnitudo 1 ternyata 100 kali lebih terang daripada bintang
bermagnitudo 6. Katalog tersebut memuat 1080 bintang yang diamatinya (tanpa teleskop!).
Bintang paling terang disebut bermagnitudo 1; yang terang kedua disebut bermagnitudo 2; dan

seterusnya, yang paling redup dikatakan bermagnitudo 6. Penamaan ini diadopsi oleh Cladius
Ptolemy dalam menyusun katalog yang dinamainya Almagest.
Pada tahun 180-an, Claudius Ptolemaeus memperluas pekerjaan Hipparchus, dan sejak saat itu
sistem magnitudo menjadi bagian dari tradisi astronomi.
Pada 1856, Norman Robert Pogson meng-konfirmasi penemuan terdahulu John Herschel bahwa
bintang bermagnitudo 1 menghasilkan kira-kira 100 kali fluks cahaya daripada bintang
bermagnitudo 6.
Sistem magnitudo dibuat dengan mendasarkan diri pada mata manusia yang memiliki respon
tidak linear terhadap cahaya. Mata dirancang untuk menahan perbedaan dalam kecerlangan. Ini
adalah keistimewaan mata yang membuatnya dapat berpindah dari ruang gelap ke tempat yang
terang tanpa mengalami kerusakan. Kamera elektronik, yang memiliki respon linear, tidak dapat
melakukan hal itu tanpa langkah-langkah pencegahan terlebih dahulu. Ciri-ciri yang sama juga
yang membuat mata merupakan pemilah yang buruk bagi perbedaan kecil kecerlangan sementara
sebaliknya kamera elektronik (CCD) adalah pemilah yang baik.
Pogson memutuskan untuk mendefinisikan kembali skala magnitudo sehingga perbedaan lima
magnitudo merupakan faktor yang tepat 100 dalam fluks cahaya. Jadi rasio fluks cahaya untuk
perbedaan satu magnitudo adalah 1001/5 atau 102/5 atau 2,512. Berdasarkan hal ini, Norman R.
Pogson, seorang astronom Oxford, menelurkan skala magnitudo. Selisih satu magnitudo berarti
perbedaan kecerlangannya sebesar akar-pangkat-dua dari 100, atau sekitar 2,512. Bilangan ini
dikenal dengan rasio Pogson.
Rasio fluks untuk perbedaan 2 magnitudo adalah (102/5)2, perbedaan 3 magnitudo adalah (102/5)3
dan seterusnya. Definisi ini sering disebut sebagai skala Pogson.
Karena banyaknya cahaya yang diterima bergantung pada ketebalan dari atmosfer pada garis
pengamatan ke objek, maka magnitudo nampak adalah nilai yang sudah dinormalkan pada nilai
yang akan dimiliki di luar atmosfer. Semakin redup suatu objek, semakin tinggi magnitudo
tampaknya. Perlu diingat bahwa kecerahan yang tampak tidaklah sama dengan kecerahan
sebenarnya suatu objek yang sangat cerah dapat terlihat cukup redup jika objek ini cukup
jauh.
Magnitudo absolut, M, dari suatu benda, adalah magnitudo tampak yang dimiliki apabila benda
itu berada 10 parsec jauhnya.
Skala magnitudo tampak
Magnitudo tampak

Benda langit

26.8

Matahari

12.6

Bulan purnama

4.4

Kecerahan maksimum Venus

2.8

Kecerahan maksimum Mars

1.5

Bintang tercerah: Sirius

0.7

Bintang tercerah kedua: Canopus

Titik nol berdasarkan definisi: Vega

+3.0

Bintang teredup yang terlihat di daerah perkotaan

+6.0

Bintang teredup yang terlihat dengan mata telanjang

+12.6

Kuasar tercerah

+30

Objek teredup yang dapat diamati oleh


Teleskop Hubble

Oke, sekarang tampaknya magnitudo bintang sudah terskala dengan pasti. Datang lagi masalah
baru. Beberapa bintang magnitudo 1 tampak jauh lebih terang daripada bintang bermagnitudo
satu lainnya. Jadi, sebenarnya manakah bintang yang bermagnitudo satu, atau dengan kata lain,
kalau menurut definisi Hipparchus adalah bintang yang paling terang? Tidak ada pilihan cara lain
selain melebarkan rentang skala magnitudo sampai bilangan 0 (nol), kemudian bilangan negatif.
Bintang bermagnitudo 0 (nol), seperti Vega misalnya, berarti 2,5 kali lebih terang daripada
bintang beramgnitudo 1; bintang bermagnitudo -1 lebih terang 2,5 kali daripada bintang
bermagnitudo 0, dst.
Magnitudo yang dibahas di atas adalah magnitudo semu (ditulis m), cerlangnya bintang kalau
diamati dari Bumi. Bintang-bintang yang terang itu bisa jadi karena memang dekat jaraknya
dengan kita atau sebenarnya lumayan jauh tapi jauh lebih terang. Sebagai bandingan, bayangkan,
Matahari pastilah tidak akan secerlang siang ini kalau dilihat dari planet Jupiter.

Magnitudo Mutlak (M)

Magnitudo mutlak (M) bintang menunjukkan seberapa terang bintang bila diletakkan sejauh 10
pc dari pengamat (1 pc = 3,26 tahun cahaya. Tahun cahaya (light year) bukan satuan waktu
melainkan satuan jarak. 1 tahun cahaya artinya jarak yang ditempuh cahaya selama 1 tahun).
Pada jarak tersebut Matahari (Matahari juga termasuk bintang) yang bermagnitudo (semu)
sebesar -26,7, menjadi bermagnitudo 4,8. Cerlangnya berkurang sekitar 4 trilyun kali.

Ilmuwan John Herschel mendapatkan bahwa kepekaan mata dalam menilai terang bintang
bersifat logaritmik. Bintang yang bermagnitudo 1 ternyata 100 kali lebih terang dibandingkan
bintang yang bermagnitudo 6. Berdasarkan fakta ini, Pogson merumuskan skala magnitudo
secara kuantitatif. Hal ini menyebabkan sistem magnitudo semakin banyak digunakan hingga
saat
ini.
Skala Pogson untuk magnitudo (semu):
m1 - m2 = -2,5 log(E1/E2)
dengan :
m1 : magnitudo (semu) bintang 1
m2 : magnitudo (semu) bintang 2
E1 : Fluks pancaran yang diterima pengamat dari bintang 1
E2 : Fluks pancaran yang diterima pengamat dari bintang 2