Anda di halaman 1dari 70

PENGANGKATAN BUATAN DENGAN SRP

( SUCKER ROD PUMP )


Dewasa ini dikenal 3 macam SRP

1. Conventional (titik pusat putaran tuas di


tengah walking beam)
2. Mark II (titik pusat putaran tuas diujung
walking beam)
3. Air Balance (titik pusat putaran tuas diujung
walking beam)

HydraulicPumpingUnit(HPU)
Pada saat ini telah terdapat suatu hydraulic motor yang dipasang di
permukaan yang akan berfungsi sebagai pengganti motor dan peralatan
pompa angguk di permukaan dan dapat menjadi motor penggerak
untuk gerakan naik-turun sucker rod. Hydraulic motor tersebut disebut
Hydraulic Pumping Unit atau HPU. Dengan menggunakan HPU
maka panjang stroke s akan dapat lebih panjang dibandingkan
dengan menggunakan Beam Pump. Berikut disampaikan beberapa
gambar-gambar dari HPU.

HYDRAULIC PUMPING UNIT

BEAM PUMP DAN HPU

BEAM PUMP VERSUS HYDRAULIC PUMP

PENGANGKATAN BUATAN DENGAN JET PUMP


Jet Pump cukup baik untuk memproduksi minyak dengan
laju alir cukup besar karena biaya operasi rendah, tidak
mudah rusak karena tidak ada alat metal yang bergerak,
toleran terhadap pasir dan sedikit gas ( malah gas
tersebut membantu mengangkat minyak ke atas bila
GLR 400-500 SCF/STB ) mengimbangi kehilangan
effisiensi pompanya.
Laju produksinya 50 12,000 BLPD dan dapat
mengangkat minyak dari kedalaman > 8000 feet. Namun
terdapat kekurangan yaitu effisiensinya rendah hanya 25
35 % maksimum dan juga memerlukan tenaga pompa
yang cukup besar untuk mengirim fluida ke dalam
sumur,
terdapat
problem
kavitasi
dan
untuk
menghindarinya pompa perlu ditenggelam- kan cukup
dalam di dalam sumur. Disamping hal hal tersebut biaya
pemasangannya cukup tinggi sekitar US $ 250,000.

KOMPONEN PERALATAN SRP

Motor
Alat-alat di permukaan
Alat-alat bawah permukaan
Sucker Rod ( Stang )

MACAM-MACAM SRP

TIPE-TIPE SRP YANG LAIN

SKEMA PERALATAN SRP

ALAT-ALAT DI PERMUKAAN

API STANDARD UNTUK SRP


Contoh spesifikasi API : C-160 D-173-64 artinya:

= Conventional unit, kalau M= Mark II,


A= Air balance dan B = beam pump
D = Double reduction gear reducer
160 = peak torque rating dalam ribuan in-lb.
173 = Polished Rod Load rating, ratusan lb
64 = panjang langkah maksimum, in. (dalam
praktek bisa diubah ke 54" atau 48" )

ALAT-ALAT DI BAWAH PERMUKAAN

BEAM PUMP
Beam pump secara umum terdiri dari 5 bagian:
1.Prime mover (mesin penggerak) yang akan memberikan power kepada sistim.
2.Power tranmisi atau speed reducer
3.Peralatan pompa di permukaan yang merubah gerak berputar menjadi gerak
bolak-balik dari pompa..
4.Sucker rod string yang memindahkan gerakan yang dihasilkan di permukaan
dan juga powernya ke pompa di sub surface.
5.Sub surface sucker rod driven pump.
A.Surface Pumping Unit:

1. Gerakan berputar dari crank arm dirubah menjadi gerakan bolak balik oleh
walking beam, pitman arm menghubungkan kedua alat tersebut.
2. Fungsi horse head dan bridle adalah untuk menjaga agar penarikan sucker
rod string bergerak secara vertical sehingga tidak ada moment bending.
3. Polished rod dan stuffing box berfungsi untuk menjaga fluid seal di
permukaan.
4. Panjang stroke dapat diantara 12 240 inch. Pada sebuah unit pompa,
panjang stroke dapat dirubah menjadi beberapa macam dengan merubah
posisi pitman pada crank arm.
5. Rating dari rod dan strukturalnya digambarkan oleh maksimum polished rod
load yang dapat berkisar dari 3,000 42,000 lb.
B. Sucker Rod String
1. Pemilihan macam sucker rod tergantung pada kedalaman sumur dan kondisi
operasi. Untuk sumur yang kedalamannya > 3500 feet biasa dipakai rod
string yang berbeda ukuran panjang dan diameternya. Rod ukuran terkecil
dipasang di bagian bawah sumur dimana load stringnya minimum dan rod
ukuran besar dipasang di bagian atas sumur dimana load stringnya
maksimum.
2. Maximum Stress pada puncak dari rod string adalah Peak Polished Rod
Load yang disingkat PPRL dibagi dengan luas penampang dari rod paling
atas : max = PPRL / A Tr

3. Minimum stress pada puncak rod string adalah Minimum


Polished Rod Load atau MPRL dibagi oleh luas penampang
dari Top rod : min = MPRL / A Tr.
4.Hubungan max. Stress dan min. Stress adalah:

max = (T/4 + 0.5625 min ) SF


Dimana:
T Min. Tensile Strength dari rod, 90,000 psi untuk API Grade C dan
115,000 psi untuk API Grade D.
SF Service Factor, tergantung pada tipe dari rod dan kondisi
operasi ( lihat tabel di bawah)
Service

API Grade C

API Grade D

Non Corrosive

1.0

1.0

Air Asin

0.65

0.90

H2S

0.50

0.70

5. Max. Stress yang diperbolehkan haruslah di antara min dan max.


dan harus lebih kecil dari a yaitu max. Allowable stress untuk steel (baja)
yang berkisar dari 30,000 40,000 psi.
6. Dari rumus-rumus diatas maka besaran PPRL dapat ditulis menjadi:
PPRL = T/4 .SF. A Tr + 0.5625 min. .SF. A Tr

c. Sub Surface Pump


Terdiri dari 4 bagian penting:
1. Working barrel
2. Plunger
3. Intake (Standing) valve
4. Exhaust (Travelling) valve

Terdapat 3 macam pompa:


a.Tubing Pump
b.Insert (Rod) Pump
c.Casing Pump
Perbedaan antara Tubing Pump dan Insert Pump adalah
pada cara bagaimana working barrel dipasang. Pada
Tubing Pump working barrel disambung pada tubing paling
bawah dan merupakan bagian integral dari tubing
sedangkan pada Insert Pump working barrel adalah bagian
dari sub surface pump assembly dan dipasang sebagai
suatu unit di dalam tubing atau casing. Casing Pump
adalah Insert Pump yang dipasang di dalam casing.

SKEMA ALAT-ALAT DI BAWAH PERMUKAAN

PUMP DISPLACEMENT
Jumlah ( banyaknya ) cairan yang dipindahkan atau
dipompakan pada gerakan keatas atau gerakan kebawah
dapat dicari dengan rumus berikut :
V = 0.1484 Ap x Sp x N

di mana :

V
= theoretical pump displacement ( BBL / day )
Ap = luas penampang plunger dari pompa, inch 2
Sp = effective plunger stroke, inch
N = pump speed, spm ( stroke per menit )
Apabila besaran 0.1484 Ap kita beri tanda = k maka
rumus di atas menjadi :
V = k x Sp x N
Effective plunger stroke diperkirakan 80% dari stroke di
permukaan.
V = 0.8 k x Sp x N

Effective plunger stroke diperkirakan 80% dari stroke di permukaan.


V = 0.8 . k . S . N
Pumping cycle :

1. Gambar (a) menunjukkan plunger bergerak ke bawah mendekati titik


dasar, fluida bergerak ke atas melalui traveling valve yang terbuka dan
berat fluida ditahan oleh standing valve yang tertutup.
Nind menemukan bahwa maksimum akselerasi pada gerakan ke bawah
(yang berarti menambah load pada sucker rod) terjadi pada gerakan rod
mendekati titik dasar dan besarnya: 1 = SN2 ( 1 + c/p)
70,500
dimana tanda : (+) untuk tipe konvensional, tanda (-) untuk Mark II unit,
dan c/p adalah ratio crank per pitman.

Pada saat akselerasi maksimum hal tersebut akan menghasilkan Peak


Polished Rod Load .
PPRL = Berat dari fluid column + Berat Plunger + Berat Rod + Load karena
akselerasi + Load karena friction Gaya keatas dari bawah plunger. Berat
Plunger dan Friction Load dapat diabaikan, sedangkan Gaya keatas sama
dengan tekanan dari bawah (P3) dikalikan Luas penampang Plunger.
Tekanan P3 adalah pump intake pressure.
PPRL = 62.4 f Dp (Ap Ar) + Wr + 1.Wr P3.Ap
144
= 62.4 f Dp Ap - 62.4 f Dp Ar + Wr + 1.Wr P3.Ap
144
144
Fluid load = Wf

Buoyancy Force Fb

Fb = ( 62.4 f ) ( Dp Ar steel ) = 62.4 f .Wr = 0.1273 f Wr


( steel )
( 144 )
490
steel adalah densitas dari baja = 490 lb/ft3
Buoyancy Force adalah komponen pengurang dalam rumus tersebut, jadi
untuk mendapatkan PPRL yang terbesar maka Fb haruslah dicari yang paling
rendah, misalkan crude dengan API 50, SG nya 0.78 maka akan didapatkan:
Fb = 0.1273. 0.78 .Wr = 0.1 Wr
PPRL = Wf + 0.9Wr+ 1.Wr P3.Ap

Plunger Bergerak Keatas:


Menurut Nind max. akselerasi pada gerakan keatas terjadi pada dekat top
stroke, dan hal ini akan mengurangi beban pada sucker rod.
2 = SN2 ( 1 + c/p) adalah untuk Mark II unit dan
70,500
2 = SN2 ( 1 - c/p) adalah untuk Conventional unit
70,500
Besaran MPRL = (Berat dari rod) + (Berat plunger) (Friction Load)
(Gaya karena Akselerasi) (Gaya buoyancy).
(Berat
plunger) dan (Friction Load) dapat diabaikan sedangkan besaran (Gaya
buoyancy) sudah dihitung sama dengan Fb = 0.1.Wr.
Dengan demikian besaran MPRL = Wr 2Wr- 0.1 Wr = Wr (0.9- 2)
sedangkan MPRL = min. A Tr. sehingga: min = 1/ A Tr. (0.9Wr - 2Wr)

Pump Intake Curve:


1.Memompa hanya liquid:
Besaran PPRL = Wf + 0.9Wr+ 1.Wr P3.Ap dapat ditulis secara lain menjadi:
P3.Ap = = Wf + 0.9Wr+ 1.Wr - PPRL sehingga :
P3 = 1/Ap ( Wf + 0.9Wr + 1.Wr - PPRL )
Masukan harga: PPRL = T/4 .SF. A Tr + 0.5625 min. .SF. A Tr

min = 1/ A Tr. (0.9Wr - 2 Wr ) dan


2 = SN2 ( 1

c/p)

70,500
Sehingga didapatkan besaran:
PPRL = T/4 .SF. A Tr + 0.5063 SF. Wr 0.5625. SF. Wr. SN2 ( 1-/+ c/p)
70,500

Masukan besaran PPRL diatas ke dalam rumus P3 berikut:


P3 = 1/Ap ( Wf + 0.9Wr + 1.Wr - PPRL ) sehingga didapatkan:
P3 = 1/Ap [ Wf + (0.9 0.5063. SF).Wr - + T/4 .SF. A Tr ] +
Wr. SN2
[ 1 + 0.5625 .SF + ( 1- 0.5625 . SF).c/p] ......... (*)
70,500.Ap
Modifikasi persamaan P3 (*)
Pada persamaan diatas kita lakukan modifikasi berikut:
SN2 ditulis menjadi (0.8KSN).N / 0.8K mengingat besaran V = 0.8KSN yaitu volume
fluid yang diproduksikan. Dengan demikian SN2 = V.N / 0.8K
Dengan demikian persamaan (*) dapat dibentuk menjadi:
P3 = 1/Ap [ Wf + (0.9 0.5063. SF).Wr - + T/4 .SF. A Tr ] +

Wr. N
56,400 K Ap

(a)
[ 1 + 0.5625 .SF + ( 1- 0.5625 . SF).c/p] . V

(b)
P3 = a + b V

Modifikasi ke 2 persamaan P3 :
SN2 ditulis menjadi (0.8KSN)2 / S.(0.8K)2 = V2 / ( 0.8 K)2 .S
Sehingga persamaan P3 menjadi : P3 = a + c V2
Dimana besaran C =

Wr
[ 1 + 0.5625 .SF + ( 1- 0.5625 . SF).c/p]
45,120.K2Ap.S

AnalisaPersamaanP3 = a + b V
a = 1/Ap [ Wf + (0.9 0.5063. SF).Wr - + T/4 .SF. A Tr ]
Kalau dilihat dari komponen-komponennya maka besaran a adalah konstan.
b=

Wr. N
[ 1 + 0.5625 .SF + ( 1- 0.5625 . SF).c/p]
56,400 K Ap

Apabila harga N tertentu maka besaran b akan konstan, sehingga


persamaan . P3 = a + b V akan merupakan persamaan linear. Kita ketahui
bahwa V = 0.8 K S N sehingga untuk besaran N yang konstan maka P3 adalah

AnalisaPersamaan P3 = a + c V2
C =
Wr
[ 1 + 0.5625 .SF + ( 1- 0.5625 . SF).c/p]
45,120.K2Ap.S
Apabila harga S tertentu maka besaran C akan konstan sehingga P3 akan
merupakan fungsi kwadrat dari N.
Minimum allowable dari P3 atau max. allowable production rate dapat
ditentukan dari kondisi bahwa :

max = PPRL / Atr < a

PPRL <

a A Tr

Kita subsitusikan harga PPRL:


[T/4 .SF. A Tr + 0.5063 SF. Wr 0.5625. SF. Wr. SN2 ( 1 + c/p)] < a A Tr

70,500
Atau SN2

>

70,500 [(T/4 .SF a ) A Tr + 0.5063 .SF.Wr]


0.5625.SF.Wr. ( 1 + c/p)

Tanda (-) untuk conventional unit, tanda (+) untuk Mark II unit.
Dengan didapatnya harga min. SN2 yang diperbolehkan maka akan

MULUR & MENGKERUTNYA TUBING DAN ROD


Pada gerakan pompa ke atas di mana travelling
valve menutup akan terjadi beban maksimum pada
polished rod dan hal tersebut akan menyebabkan
rod mulur.
Pada gerakan ke bawah di mana standing valve
menutup beban telah pindah dari rod ke tubing
sehingga pada saat tersebut tubing akan mulur dan
kebalikannya rod akan mengkerut.
Pada gerakan ke atas yang menyebabkab rod
mulur, pada saat tersebut akan terjadi tubing
mengkerut, karena beban yang tadinya ditanggung
oleh tubing telah pindah ke rangkaian rod.

SKEMA MULUR & MENGKERUTNYA


TUBING DAN ROD

Effective plunger stroke yang besarnya + 80 % dari panjang stroke di


permukaan disebabkan disamping oleh adanya faktor mulur dan
mengkerutnya rod dan tubing juga oleh adanya faktor Overtravel dari
plunger pompa. Kalau effek mulur dan mengkerutnya tubing dan rod adalah
mengurangi panjang stroke maka overtravel adalah menambah panjang
stroke dari plunger namun hasil akhir penjumlahan adalah tetap mengurangi
panjang dari effective plunger stroke.

Pengertian Overtravel dari plunger pompa.


Sebagai akibat adanya Effek dinamis; Inertia dan Elastisitas dari rangkaian
sucker rod pada gerakan naik dan turun plunger maka telah terjadi
tambahan panjang dari rod. Tambahan panjang tersebut adalah fungsi dari
panjang rangkaian rod, panjang dari polished rod stroke dan kecepatan
pompa. Tambahan panjang tersebut akan menyebabkan bertambahnya
panjang stroke dalam pompa, effek ini disebut Overtravel dan panjangnya
overtravel tersebut dapat dihitung dengan rumus berikut:
Overtravel = 1.55 (L /1000)2 x S1 x SPM2
70,500
Dimana : L Panjang rangkaian sucker rod; S1 = Polished Rod stroke, inch
dan SPM besaran stroke per menit dari plunger.

MACAM POMPA SRP

KEUNGGULAN POMPA SRP


Tidak mudah rusak
Relatif simple disain
Unit dapat mudah dipindah-pindahkan ke sumur lain
dengan biaya minimum
Fleksibel terhadap laju produksi, jenis fluida dan
kecepatan bisa diganti.
Kinerja sumur dapat dianalisa dengan bantuan
dynagraph.
Orang-orang lapangan sudah cukup mengenal
operasi dan perawatannya.
Dari jauh dapat dilihat apakah pompa sedang jalan
atau dalam keadaan mati.
Harganya relatif murah dibandingkan dengan metode
pengang- katan buatan yang lain.

KEKURANGAN POMPA SRP


Sensitif terhadap minyak yang mengandung
paraffin.
Berat dan memerlukan tempat luas.
Tidak cocok untuk sumur miring atau lepas
pantai.
Memerlukan unit yang besar sekali untuk laju
produksi yang besar dan sumur yang dalam.
Untuk sumur berpasir akan banyak masalah.
Tidak cocok untuk dipasang di daerah yang
padat penduduk.

DYNAMOMETER
Dynamometer adalah alat yang dapat mencatat
(merecord) beban pada polished rod selama gerakan
rod ke atas maupun ke bawah. Lihat gambar 25 yang
menunjukkan bentuk alat tersebut. Gambar 26 yang
menggambarkan prinsip kerja dynamometer dan
gambar 27 contoh dari dynamograph. Dari gambar
dynamograph dapat dibaca performance kerja dari
pompa.

DYNAMOMETER
( SKEMA GAMBAR ALAT )

DYNAMOMETER
( SKEMA CARA KERJA ALAT )

DYNAMOMETER
( CONTOH DYNAMOGRAPH )

DIAGRAM CRANK COUNTERBALANCE

AIR BALANCED PUMPING UNIT

CONTOH SOAL SRP


MEMOMPA HANYA LIQUID DARI SUMUR NO 1.
1.Diasumsikan bahwa pompa akan diset di dasar sumur.
Dipilih Conventional Unit.
2.Tujuan kita adalah untuk memaksimumkan produksi sumur, maka ukuran
plunger terbesar akan dipilih.
3.Dipilih insert pump, thin wall barrel type RW dengan ukuran plunger 2.
4.Ap = /4 (2)2= 3.1416 inch2.
5.K = (0.1484)(3.1416) = 0.4662.
6.Dari tabel rod dan pompa didapatkan : Rod no 86 dengan plunger 2,
ukuran rod adalah sbb: 32.8% - 1 (2.9 lb/ft) ; 33.2% - 7/8 (2.22 lb/ft) dan
34% - (1.63 lb/ft).
7.Perhitungan berat rod:
Wr = 8,000 ft (0.328 x 2.9 lb/ft + 0.332 x 2.22 lb/ft + 0.34 x 1.63 lb/ft)
= 17,940 lb

8. Karena terdapat air asin di dalam sumur maka diambil Service Factor
(SF) = 0.9.
Perhitungan parameter b dan c:
b=

Wr. N [ 1 + 0.5625 .SF + ( 1- 0.5625 . SF).c/p]


56,400 K Ap

b = 17,940 N [1 + (0.5625)(0.9) + (1 0.5625.0.9)(0.33)] = 0.3625 N


(56,400)(0.4662)(3.1416)
c=
c =

Wr
[ 1 + 0.5625 .SF + ( 1- 0.5625 . SF).c/p]
45,120.K2Ap.S
17,940 [ 1 + 0.5625.0.9 + (1-0.5625.0.9)(0.33) = 0.972 /S
(45,120) (0.4662)2 . (3.1416).S

9. Karena rod 1 berada di rangkaian paling atas maka besaran:


Atr = D2 = 3.1416 x (1 inch)2 = 0.7854 inch2.
4
4
10. Perhitungan besaran parameter a:
a = 1/Ap [ Wf + (0.9 0.5063. SF).Wr - / + T/4 .SF. A Tr ]
a = 1/(3.1416) [ Wf + (0.9 0.5063 x 0.9) ( 17,940) (11.5 x 104)/4 x 0.9 x 0.7854]
a = 1/(3.1416) (Wf 12.351)
11. IPR dapat dilihat seperti terlampir.
12.osc =

141.5 / ( 131.5 + 35 ) = 0.8498


fsc = (0.5)(1.074) + (0.5) (0.8498) = 0.9619

13. Wf = (0.433)(0.9619)(8000)(3.1416) = 10,468 lb.


a = 1/3.1416 ( 10,468 12,351 ) = - 600 psi.
14. P3 = a + b V = a + b qsc = - 600 + (0.3625 N).qsc
15. P3 = a + c V2 = a + c q2sc = -600 + (0.972 /S) q2sc
16. Kita plot kedua persamaan tersebut dan didapatkan gambar seperti berikut ( kita
asumsikan N= 30, 25, 20 dst dan S= 40, 80, 120 dst.

17. Pemeriksaan keamanan pemilihan besaran S dan N :


Persyaratan: Besaran SN2 > 70,500 [(T/4 .SF a ) A Tr + 0.5063 .SF.Wr]
0.5625.SF.Wr. ( 1 + c/p)
Apabila diasumsikan T = 115,000 psi dan a = 35,000 psi maka didapatkan:
= 70,500[ 115,000/4. 0.9 - 35,000) 0.7854 + 0.5063 .0.9 . 17,940] = 11,678
0.5625. 0.9 . 17,940 ( 1 0.33)
Dengan demikian besaran SN2 harus lebih besar atau sama dengan
11,678.
18.Perhitungan besaran P3 minimum:
P3 = 1/Ap [ Wf + (0.9 0.5063. SF).Wr - + T/4 .SF. A Tr ] +
Wr. SN2 [ 1 + 0.5625 .SF + ( 1- 0.5625 . SF).c/p]
70,500. Ap
Dengan memasukkan besaran SN2 =11,678 maka akan didapatkan P3
minimum
P3 = - 600 + 17,940.11,678 [ 1 + 0.5625. 0.9 + (1 0.5625.0.9).0.33 = 979 psi
70,500. 3.1416
P3 > 979 psi.

19. V = 0.8 K S N
Dari perpotongan curva pump intake dan curva IPR di atas dapat dicari
besarnya laju alir pemompaan untuk masing-masing besaran N atau S.
Sebagai contoh untuk N= 30 spm maka dari titik potong didapatkan q =
228 BOPD, dengan rumus di atas dapat dicari besaran S = 228/ (0.8.0.4662.30) =
20.38 inch.
20.Kita hitung panjang stroke S untuk besaran N yang lain.

N (spm)

qp (BOPD)

S (inch)

25

272

29.17

20

338

45.31

15

448

80.07

10
8

665
818

178.28
274.13

21. Dari tabel di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa panjang stroke (S)
dan kecepatan pompa (N) adalah tidak praktis untuk laju alir yang
tinggi. Kita batasi S = 180 inch dengan laju alir 668 BBL/day. Dari
tabel didapatkan untuk S = 180 inch maka c/p = 0.22
Perhitungan parameter pompa lainnya:
N = 668 / (0.8) (0.4662) (180) = 10 spm
1 = SN2 ( 1 + c/p) = (180) (10)2 (1+ 0.22) = 0.3115 ft /sec.2
70,500

70,500

2 = SN2 ( 1 - c/p) = (180) (10)2 (1- 0.22) = 0.1569 ft /sec.2


70,500

70,500

P3 = 1/Ap [ Wf + (0.9 0.5063. SF).Wr - + T/4 .SF. A Tr ] +


Wr. SN2 [ 1 + 0.5625 .SF + ( 1- 0.5625 . SF).c/p]
70,500. Ap
= - 600 + 17,940.180.(10)2 [ 1 + 0.5625. 0.9 + (1 0.5625.0.9).0.22
70,500. 3.1416

PPRL = T/4 .SF. A Tr + 0.5063 SF. Wr 0.5625. SF. Wr. SN2 ( 1 - c/p)
= T/4 .SF. A Tr + Wr.SF [0.5063 0.5625 SN2

70,500
( 1 - c/p)]

70,500
= (115,000/4)(0.9)(0.7854) + 17,940 .0.9 [0.5063 0.5625 (18000)(1- 0.22) ] =
70,500
= 20,322 + 16146 (0.5063 0.112) = 20,322 + 6366 = 26,688 lb
Besaran PPRL juga dapat dicari dengan rumus lain:
PPRL = Wf + 0.9.Wr + 1.Wr P3. Ap
= 10,468 + 0.9.17,940 + 0.3115.17,940 1754.(3.1416) = 26,692 lb.

max = PPRL / Atr

haruslah <

allowable

= 26,692/0.7854 = 33,985psi dan besaran 33,985 psi tersebut < a


yang besarnya diasumsikan sebesar 35,000 psi.
MPRL = Wr (0.9- 2) = 17,940 (0.9 0.1569) = 13,331 lb
min = MPRL / A Tr. = 13,331 lb / 0.7854 = 16,974 psi.

. Pemeriksaan keamanan pemilihan besaran S dan N untuk c/p = 0.22 :


Persyaratan: Besaran SN2 > 70,500 [(T/4 .SF a ) A Tr + 0.5063 .SF.Wr]
0.5625.SF.Wr. ( 1 + c/p)
Apabila diasumsikan T = 115,000 psi dan a = 35,000 psi maka didapatkan:
= 70,500[ 115,000/4. 0.9 - 35,000) 0.7854 + 0.5063 .0.9 . 17,940] = 10,031
0.5625. 0.9 . 17,940 ( 1 0.22)
Dengan demikian besaran SN2 harus lebih besar atau sama dengan 10,031
Cek besaran SN2 = 180 x 102 = 18,000 dan besaran tersebut > 10,031 yang
merupakan besaran persyaratan dari hasil perhitungan diatas.
Dengan demikian pemilihan besaran N dan S memenuhi semua persyaratan.

HydraulicPumpingUnit(HPU)
Pada saat ini telah terdapat suatu hydraulic motor yang dipasang di
permukaan yang akan berfungsi sebagai pengganti motor dan peralatan
pompa angguk di permukaan dan dapat menjadi motor penggerak
untuk gerakan naik-turun sucker rod. Hydraulic motor tersebut disebut
Hydraulic Pumping Unit atau HPU. Dengan menggunakan HPU
maka panjang stroke s akan dapat lebih panjang dibandingkan
dengan menggunakan Beam Pump. Berikut disampaikan beberapa
gambar-gambar dari HPU.

HYDRAULIC PUMPING UNIT

BEAM PUMP DAN HPU

BEAM PUMP VERSUS HYDRAULIC PUMP

PENGANGKATAN BUATAN DENGAN JET PUMP


Jet Pump cukup baik untuk memproduksi minyak dengan
laju alir cukup besar karena biaya operasi rendah, tidak
mudah rusak karena tidak ada alat metal yang bergerak,
toleran terhadap pasir dan sedikit gas ( malah gas
tersebut membantu mengangkat minyak ke atas bila
GLR 400-500 SCF/STB ) mengimbangi kehilangan
effisiensi pompanya.
Laju produksinya 50 12,000 BLPD dan dapat
mengangkat minyak dari kedalaman > 8000 feet. Namun
terdapat kekurangan yaitu effisiensinya rendah hanya 25
35 % maksimum dan juga memerlukan tenaga pompa
yang cukup besar untuk mengirim fluida ke dalam
sumur,
terdapat
problem
kavitasi
dan
untuk
menghindarinya pompa perlu ditenggelam- kan cukup
dalam di dalam sumur. Disamping hal hal tersebut biaya
pemasangannya cukup tinggi sekitar US $ 250,000.

GAMBAR SKEMA JET PUMP

GAMBAR SKEMA NOZZLE DAN


DIFUSSER

JET PUMP DENGAN 2 TUBING

CURVA PERFORMANCE JET PUMP

KEUNGGULAN JET PUMP


Dapat mengangkat dari sumur yang dalam ( contoh :
produksi 500 BLPD dari kedalaman 15000 feet ).
Minimal problem untuk penggunaan di sumur miring.
Flexible untuk penggantian pompa berkaitan dengan
penurunan ( decline ) produksi sumur.
Dapat dipasang pada sumur-sumur lepas pantai.
Mencampurkan power fluid (oil) ke minyak formasi yang
mengandung wax atau ke minyak kental dapat
menurunkan kekentalan minyak produksi.

KEKURANGAN JET PUMP


Kalau minyak digunakan sebagai power fluid maka
akan merupakan fire hazard.
Penggunaan minyak dalam jumlah yang besar
sebagai power fluid akan mengurangi keuntungan.
Adanya kandungan padatan yang tinggi (pasir) akan
menimbulkan masalah.
Biaya operasi kadang-kadang relatif lebih tinggi
dibanding kan metode lain.
Untuk orang lapangan sulit untuk troubleshooting
problem.
Problem safety untuk beroperasi dengan tekanan
tinggi di permukaan.

RINGKASAN JET PUMP


1.Prinsip kerja dari jet pump adalah mendasarkan pada
transfer momentum atau energi antara dua aliran
fluida yaitu dari power fluid ke fluida produksi.
2.Power fluid dialirkan ke dalam power tubing yang
diujungnya dipasang nozzle sehingga terjadi
perubahan energi dari energi potensial menjadi
energi kinetis pada saat fluida keluar dari nozzle.
Dengan demikian terbentuk area bertekanan rendah
di mulut keluar nozzle sehingga fluida formasi dapat
mengalir ke tempat tersebut.
3. Fluida formasi akan bergabung dengan power fluid di
dalam throat dan terjadilah transfer momentum
atau energi dari power fluid ke fluida produksi.

RINGKASAN JET PUMP ( LANJUTAN )


4. Gabungan fluida akan dialirkan ke dalam
diffuser dimana perubahan energi akan
terjadi lagi tetapi dari energi kinetis ke energi
tekanan sehingga sewaktu fluida keluar dari
diffuser maka akan mempunyai tekanan
yang tinggi sehingga mampu mengalir ke
permukaan.
5. Jet Pump adalah satu-satunya metode
pengangkatan untuk sumur dalam ( >
10.000 ft ).