Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PRAKTIKUM

FISIOLOGI HEWAN II
RESPIRASI SERANGGA

OLEH :
NAMA
NIM
KELOMPOK
ASISTEN

:
:
:
:

WAHDANIATI RAHMAH
08041181320037
VIII (DELAPAN)
DEVI FITRI YANTI

LABORATORIUM FISIOLOGI HEWAN


JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2016

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Respirasi adalah serangkaian reaksi biokimiawi yang memerlukan oksigen
untuk mengoksidasi atau membakar zat-zat makanan guna menghasilkan energi
yang diperlukan oleh makhluk hidup dengan hasil samping berupa CO2 dan air.
Walaupun respirasi dan bernapas saling berhubungan , respirasi memiliki arti yang
lebih dalam, respirasi merupakan proses menghasilkan energi, sedangkan
bernapas merupakan cara makhluk hidup melakukan pertukaran gas dengan
lingkungannya. Dari respirasi akan dihasilkan energi kimia ATP untuk melakukan
aktivitas kehidupan, seperti sintesis, gerak, pertumbuhan, dan bereproduksi
(Jeremy, 2008).
Oksigen yamg diperoleh dari proses bernapas digunakan dalam proses
respirasi, sedangkan CO2 yang dihasilkan dari proses respirasi dikeluarkan melalui
proses bernapas. Respirasi berkaitan erat dengan laju metabolisme karena laju
metabolisme merupakan jumlah total energi yang diproduksi dan dipakai oleh
tubuh persatuan waktu. Beberapa faktor mempengaruhi laju konsumsi oksigen
antara lain spesies makhluk hidup, temperatur, aktivitas dan ukuran makhluk
hidup (Guyton, 2009).
Sel-sel tubuh terus menerus menggunakan oksigen untuk reaksi metabolisme
yang melepaskan energi dari molekul nutrien dan menghasilkan ATP. Pada waktu
yang sama, reaksi ini juga melepaskan karbon dioksida. Konsumsi oksigen dan
produksi CO2 terjadi di dalam mitokondria sesuai terjadinya respirasi seluler. Dua
sistem yang memasok oksigen dan membuang karbon dioksida adalah sistem
kardioksikular dan sistem respirasitori. Sistem respirasi memberikan pertukaran
gas, mengambil oksigen dan membuang karbon dioksida, sedangkan sistem
kardioksikular mengangkut gas dalam darah antara paru-paru dan sel-sel tubuh
(Isnaeni, 2006).
Serangga mempunyai alat pernapasan khusus berupa sistem trakea yang
berfungsi untuk mengangkut dan mengedarkan O2 ke seluruh tubuh serta
mengangkut dan mengeluarkan CO2 dari tubuh. Trakea memanjang dan

Universitas Sriwijaya

bercabang-cabang menjadi saluran halus atau trakeolus yang masuk ke seluruh


jaringan tubuh. Oleh karena itu, pengangkutan O2 dan CO2 dalam sistem ini tidak
membutuhkan bantuan sistem transportasi atau darah. Udara masuk dan keluar
melalui stigma, yaitu lubang kecil yang terdapat di kanan-kiri tubuh serangga.
Selanjutnya dari stigma, udara masuk ke pembuluh trakea yang memanjang dan
sebagian ke kantung udara (Goenarso, 2006).
Pembuluh trakea bermuara pada lubang kecil yang ada di kerangka luar
(eksoskeleton) yang disebut spirakel. Spirakel berbentuk pembuluh silindris yang
berlapis zat kitin, dan terletak berpasangan pada setiap segmen tubuh. Spirakel
mempunyai katup yang dikontrol oleh otot sehingga membuka dan menutupnya
spirakel terjadi secara teratur. Pada umumnya spirakel terbuka selama serangga
terbang, dan tertutup saat serangga beristirahat (Isnaeni, 2006).
Oksigen dari luar, masuk melewati spirakel. Kemudian udara dari spirakel
menuju pembuluh-pembuluh trakea dan selanjutnya pembuluh trakea bercabang
lagi menjadi cabang halus yang disebut trakeolus sehingga dapat mencapai
seluruh jaringan dan alat tubuh bagian dalam. Trakeolus tidak berlapis kitin, berisi
cairan, dan dibentuk oleh sel yang disebut trakeoblas. Pertukaran gas terjadi antara
trakeolus dengan sel-sel tubuh. Trakeolus ini mempunyai fungsi yang sama
dengan kapiler pada sistem pengangkutan (transportasi) pada vertebrata
(Goenarso, 2006).
Sistem pernafasan pada serangga mengenal dua sistem, yaitu sistem terbuka
dan sistem tertutup. Dalam sistem ini gunakan organ yang disebut spirakulum
(spiracle), juga tabung-tabung trakea dan trakeola. Tekanan total dari udara
sebenarnya merupakan jumlah tekanan gas N2, O2, CO2 dan gas-gas lain. O2
sendiri masuk ke dalam jaringan dengan satu proses tunggal yaitu adanya tekanan
udara dalam jaringan. Tekanan O2 dengan demikian harus lebih besar daripada
tekanan udara dalam jaringan, begitu juga sebaliknya (Isnaeni, 2006).
1.2. Tujuan Praktikum
Praktikum ini bertujuan untuk mengukur penggunaan oksigen oleh serangga
dalam selang waktu tertentu dengan respirometer.

BAB 2

Universitas Sriwijaya

TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pengertian Respirasi
Respirasi adalah suatu proses pengambilan O2 untuk memecah senyawasenyawa organik menjadi CO2, H2O dan energi. Namun demikian respirasi
pada hakikatnya adalah reaksi redoks, dimana substrat dioksidasi menjadi CO 2
sedangkan O2 yang diserap sebagai oksidator mengalami reduksi menjadi
H2O. Oksigen adalah unsur yang paling melimpah ketiga dialam semesta.
Oksigen yaitu unsur penting bagi kelangsungan hidup organisme. Oksigen
diperlukan untuk proses oksidasi bahan-bahan makanan di dalam tubuh hewan
agar dihasilkan energi untuk aktivitas hidupnya (Goenarso, 2006).
2.2. Proses Respirasi
Respirasi berarti suatu proses pembakaran senyawa organik di dalam sel guna
memperoleh energi. Pada hewan tingkat tinggi alat proses pernafasan, yakni
berupa paru-paru, insang atau trakea, sementara pada hewan tingkat rendah proses
pertukaran udara dilakukan dengan difusi melalui permukaan sel-sel tubuhnya
(Campbell, 2002).
Proses respirasi pada umumnya meliputi empat bagian yaitu keluar masuknya
udara antara dua organ pernapasan (alveole paru-paru) yang disebut ventilasi
polmonum, difusi O2 dan CO2 antara udara dan alveole dan dalam darah, dan
Transport O2 dan CO2 dalam darah atau cairan tubuh ke dan dari sel serta
pengaturan ventilasi dan segi-segi respirasi lainnya (Primadani, 2006)
Pertukaran gas antara atmosfer, darah, sel-sel disebut respirasi. Tiga proses
dasar terlibat dalam respirasi yaitu, pertama ventilasi paru atau bernapas, adalah
inspirasi (aliran masuk) dan ekspirasi (aliran keluar) udara antara atmosfer dengan
paru-paru. Proses kedua dan ketigaa melibatkan pertukaran gas di dalam tubuh.
Respirasi eksternal dan respirasi paru adalah pertukaran gas antar paru-paru
dan darah. Respirasi saringan adalah pertukaran gas antara darah dan sel-sel tubuh
(Harahap, 2004).
Didalam paru-paru terjadi proses pertukaran antara gas oksigen dan
karbondioksida. Setelah membebaskan oksigen, sel-sel darah merah menangkap
karbondioksida sebagai hasil metabolisme tubuh yang akan dibawa ke paru-paru.
Di paru-paru karbondioksida dan uap air dilepaskan dan dikeluarkan dari
paru-paru melalui hidung. Metabolisme adalah keseluruhan proses-proses

Universitas Sriwijaya

kimiawi yang terjadi di dalam tubuh makhluk hidup. Proses metabolisme disebut
juga reaksi enzimatis. Berdasarkan prosesnya metabolisme dibagi menjadi dua,
yaitu anabolisme dan katabolisme (Harahap, 2004).
Sistem respirasi memiliki fungsi utama untuk memasok oksigen ke dalam
tubuh serta membuang CO2 dari dalam tubuh. Respirasi ekternal sama dengan
bernafas, sedangkan respirasi internal seluler ialah proses penggunaan oksigen
oleh sel tubuh dan pembuangan zat sisa metabolisme sel yang berupa CO 2,
penyelenggaraan respirasi harus didukung oleh alat pernafasan yang sesuai yaitu,
alat yang dapat digunakan oleh hewan untuk melakukan pertukaran gas dengan
lingkungannya, alat yang dimaksud dapat berupa alat pernafasan khusus ataupun
tidak (Isnaeni, 2006).
Metabolit respirasi adalah intermediat-intermediat yang terbentuk dalam
reaksi-reaksi respirasi. Respirasi sebagai proses pembebasan energi yang
tersimpan dalam zat sumber energi melalui proses kimia dengan menggunakan
oksigen. Dari respirasi akan dihasilkan energi kimia ATP untuk kegiatan
kehidupan, seperti sintesis (anabolisme), gerak, pertumbuhan. Respirasi dapat
dibedakan menjadi respirasi aerob yaitu respirasi yang menggunakan oksigen
bebas untuk mendapatkan energi dan respirasi anaerob atau biasa disebut dengan
proses fermentasi yaitu respirasi yang tidak menggunakan oksigen namun bahan
bukunya adalah seperti karbohidrat, asam lemak, asam amino sehingga hasil
respirasi

berupa

karbondioksida,

air

dan

energi

dalam

bentuk

ATP

(Goenarso, 2006).
2.3. Pemenuhan Kebutuhan Oksigen
Pemenuhan kebutuhan oksigenasi didalam tubuh tergantung pada sistem
organ yang berperan, diantaranya sistem pernafasan bagian atas, yang terdiri dari
hidung, faring, laring dan epiglottis. Sistem pernafasan bagian bawah yang terdiri
dari trachea dan paru-paru dan dilengkapi dengan bronchus, bronchioles, alveolus,
jaringan kapiler paru dan membran pleura dan paru-paru (John E. Hall, 2009).
Oksigen yang masuk melalui alat pernafasan masih harus di angkut oleh
darah atau cairan tubuh ke seluruh sel tubuh yang membutuhkan. Selanjutnya
oksigen tersebut akan dimanfaatkan untuk oksidasi di dalam sel guna
menghasilkan energi. Alat respirasi merupakan alat atau bagian tubuh tempat
oksigen dapat berdifusi masuk dan karbondioksida dapat berdifusi keluar.

Universitas Sriwijaya

Alat respirasi pada hewan bermacam-macam, ada yang berupa insang, paru-paru,
kulit, paru-paru buku, trakea (Campbell, 2002).
2.4. Respirasi Pada Serangga
Pada serangga, udara keluar dan masuk tidak melalui mulut melainkan
melalui

lubang-lubang

sepanjang

kedua

sisi

tubuhnya.

Lubang-lubang

pernafasan tersebut dinamakan stigma atau spirakel. Pada masing-masing ruas


tubuh terdapat sepasang stigma, sebuah di sebelah kiri dan sebuah lagi
disebelah kanan. Stigma selalu terbuka dan merupakan lubang menuju ke
pembuluh trakea. Trakea bercabang-cabang sampai ke pembuluh halus yang
mencapai seluruh bagian tubuh. Udara masuk melalui stigma, kemudian
menyebar mengikuti trakea dengan cabang-cabangnya. Dengan demikian cairan
tubuh serangga (darah serangga) tidak berfungsi mengangkut udara pernafasan
tetapi

hanya

berfungsi

mengedarkan

sari-sari

makanan

dan

hormon

(Campbell, 2002).
Pernafasan pada serangga dilakukan dengan menggunakan sistem trakea.
Proses pernafasan serangga terjadi karena otot-otot yang bergerak secara teratur.
Kontraksi otot-otot tubuh mengakibatkan pembuluh trakea mengembang dan
mengempis, sehingga udara keluar dan masuk melalui stigma. Pada saat trakea
mengembang, udara masuk melalui stigma, selanjutnya masuk ke dalam trakea,
lalu ke dalam trakeolus dan akhirnya masuk ke dalam sel-sel tubuh. O 2 berdifusi
ke dalam sel-sel tubuh. CO2 hasil pernafaasan dikeluarkan melalui sistem trakea
yang akhirnya dikeluarkan melalui stigma pada waktu trakea mengempis. Jadi,
oksigen diedarkan tidak melalui darah melainkan langsung dari pembuluh trakea
ke sel-sel yang ada disekitarnya (Campbell, 2002).

BAB 3
METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 16 Februari 2016 pukul
13.00 sampai dengan 15.00 WIB. Bertempat di Laboratorium Fisiologi Hewan

Universitas Sriwijaya

Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas


Sriwijaya Indralaya.
3.2. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah pipet tetes, respirometer,
suntikan dan water bath . Sedangkan bahan yang dibutuhkan adalah kapas, kain
kasa, KOH 20%, larutan metilen blue, vaselin, Valanga sp dan Gryllus sp.

3.3. Cara Kerja


Dimasukkan segumpal kapas kecil ke lubang tabung spesimen (kira-kira 2
cm), diteteskan larutan KOH 20% dengan menggunakan pipet tetes hingga jenuh.
Diletakan guntingan kasa plasstik (2x1 cm) diatas kapas dengan jarak kira-kira 5
cm. Ini dilakukan agar hewan percobaan tidak bersentuhan langsung dengan
KOH. Dimasukkan hewan percobaan yang telah diketahui beratnya kedalam
tabung spesimen, disambungkan pada pipa berkala respirometer. Dioleskan
vaselin disekitar mulut tabung spesimen agar oksigen tidak keluar. Dimasukkan
larutan metilen blue menggunakan suntikan pada ujung tabung berkala sehingga
terbentuk tetesan metilen blue yang pamjang sekitar 1 cm kedalam tabung kapiler
tersebut. Diamati dan dicatat perubahan terjadi pada metilen blue. Diukur jarak
tempuholeh metilen blue dalam selang waktu 15 menit. Dilakukan pada hewan
percobaan lainnya.

Universitas Sriwijaya